Pengajian Persyarikatan di UMM Soroti Krisis Moral, Ibadah Harus Berdampak Sosial

Orang pintar tanpa bertakwa kepada Allah SWT bisa menjadi bencana bagi dunia. Hal itu ditegaskan langsung oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 27 Februari 2026. Pria yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menekankan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. Baginya, Ramadhan adalah momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi menjadi karakter sosial. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Di situlah agama benar-benar hidup dalam realitas, bukan sekadar simbol. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Paradoks meningkatnya aktivitas ibadah yang tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi dipahaminya bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik. Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya. Dadang sapaan akrabnya mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merendahkan dan mencaci orang lain. Dari sinilah pentingnya integritas intelektual ditegaskan. Ilmu tanpa iman, menurutnya dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak dibimbing nilai takwa. Kalau intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi. Menautkan langsung dimensi spiritualitas dan intelektualitas dalam tema pengajian tersebut. “Dalam konteks peningkatan SDM, dapat ditekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah, harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial adalah napas Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadhan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa. Pengajian ini pun tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
KKN Berdampak UMM: Ribuan Mahasiswa Hadirkan Inovasi untuk Desa

MALANG, PENAJATIM.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata. Melalui program KKN Berdampak 2026, 450 mahasiswa UMM berhasil menghadirkan berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. Sebanyak 17 kelompok mempresentasikan hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujar Prof Salis, Rabu (26/2/2026). Mahasiswa UMM berhasil menghadirkan berbagai inovasi, seperti optimalisasi sistem irigasi, penguatan eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan, dan pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Apresiasi datang dari pemerintah daerah, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN UMM sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. UMM juga menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambah Prof. Salis. (Zai).
KKN UMM Dorong Transformasi Wisata Jodipan Lewat Inovasi dan Pemberdayaan Warga dan Penguatan Wisata

MALANG, PENAJATIM – Denyut Kampung Warna-Warni Jodipan tak lagi sekadar soal cat cerah di dinding rumah. Di balik lorong-lorong penuh mural itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong perubahan yang lebih mendasar: memperkuat kapasitas warga agar mampu menjadi pelaku utama dalam ekosistem wisata. Program KKN tematik yang dijalankan kali ini berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi kreatif. Bukan hanya mempercantik sudut kampung, mahasiswa berupaya menghadirkan strategi yang membuat Jodipan tetap relevan sebagai destinasi wisata edukatif dan berdaya saing. Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki, menjelaskan bahwa kampung wisata memerlukan pembaruan gagasan agar tidak stagnan. Menurutnya, daya tarik visual perlu diimbangi dengan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung. “Fokus kami bukan hanya tampilan, tetapi bagaimana warga semakin siap dan percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan,” ujarnya. Salah satu program yang dijalankan adalah Speaking Color, pelatihan komunikasi dasar bagi anak-anak. Program ini dirancang untuk membangun keberanian dan keterampilan berbahasa sederhana, sehingga generasi muda Jodipan lebih siap menyambut wisatawan, termasuk dari luar daerah maupun mancanegara. Di sektor ekonomi kreatif, mahasiswa menginisiasi Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay. Warga didampingi untuk mengemas produk minuman dan suvenir dengan sentuhan kreatif agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Upaya ini diharapkan memperkuat perputaran ekonomi lokal sekaligus memperluas ragam oleh-oleh khas kampung. Inovasi yang paling menyita perhatian hadir melalui program Warna Digital Jodipan. Mahasiswa memasang kode QR pada sejumlah mural. Setiap kode terhubung dengan narasi mengenai makna lukisan, sejarah kampung, hingga simbol budaya lokal Malang. “Dengan QR ini, pengunjung tidak hanya berfoto, tetapi juga memahami cerita di balik mural yang mereka lihat,” jelas Syahva. Digitalisasi tersebut memberi lapisan baru pada pengalaman wisata. Jodipan tidak lagi sekadar latar swafoto, melainkan ruang belajar terbuka tentang identitas dan perjalanan sosial masyarakatnya. Pendekatan yang digunakan mahasiswa bertumpu pada interaksi sosial. Mereka membangun kedekatan melalui diskusi santai, mendampingi anak-anak belajar, hingga membeli produk warga sebagai bentuk dukungan langsung. Cara ini dinilai efektif menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Perubahan mulai terlihat pada sikap warga dalam menyambut tamu. Kemampuan komunikasi yang semakin baik serta kesadaran membangun kesan positif menjadi modal penting bagi keberlanjutan kampung wisata tersebut. Dosen pembimbing Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program ini selaras dengan kebutuhan penguatan kawasan wisata berbasis masyarakat. Mahasiswa didorong menghadirkan solusi yang aplikatif dan dapat dilanjutkan secara mandiri oleh warga. Seluruh program yang telah dirintis kemudian diserahkan kepada masyarakat untuk dikelola berkelanjutan. Mahasiswa tetap membuka ruang komunikasi sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan sosial. Melalui KKN ini, UMM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan gagasan di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Di Jodipan, warna-warni dinding kini sejalan dengan tumbuhnya kepercayaan diri dan daya saing warganya.
Hadirkan Kaprodi PAI UMM, Siswa SMK Mutu Gondanglegi Minadzulumati Ilannur-Wujudkan Qolbun Salim

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Strong inside, shining outside merupakan topik pondok Ramadhan 1447 H di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (SMK Mutu) hari ke-empat (26/2) 2026 di lantai 7 Titanium Building. Melalui Waka Humas SMK Mutu Ahmad Muhtadi, S.Pd, pondok ramadhan kemarin menghadirkan akademisi sekaligus trainer serta menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (Kaprodi PAI UMM) yakni ustadz Zulfikar, S. PdI, M.Pd. Kata Ahmad Muhtdi, topik yang disampaikan ustadz Zulfikar, terkait issue yang sering relate dengan gen Z agar tidak mudah overthinking dalam hidup, menjadi pribadi yang kuat secara mental dan bisa bersinar dengan prestasi dan kesuksesan. Seperti apa materi dimaksud? Ustadz Zulfikar dengan gaya khasnya lebih fokus membahas materi untuk peserta dengan berbagai brainstorming dan uji fokus yang membuat peserta antusias. Dalam penyampaiannya menekankan pentingnya menjadi pribadi yang kuat secara mental, percaya diri, positif vibes dan senantiasa mengedepankan prasangka yang baik dalam kehidupan sehari-hari, karena itulah yang akan menjadikan seseorang itu lebih mudah diterima di lingkungan sosial maupun karir. Oleh karena itu, ustadz Zulfikar menekankan pentingnya memiliki hati dan jiwa yang bersih, dan kita perlu berusaha dan mengupayakan agar hati dan jiwa ini senantiasa terjaga dan bersih, sehingga aura positif akan terpancar dari dalam diri kita. Ketika seseorang ini memiliki hati yang berantakan, aura dirinya pun negatif. Mendengar motivasi dari ustadz Zulfikar, peserta tampak antusias pada saat sesi tanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang seringkali relate dengan keseharian mereka. Sekedar diketahui, selain materi kajian, siswa SMK Mutu di bulan Ramadhan ini, juga berlatih untuk menguatkan jiwa mereka dengan berusaha membersihkan hati dengan ibadah, istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah, tujuannya adalah bagaimana mereka menjadi pribadi yang tangguh dan kuat, lebih-lebih di era derasnya teknologi informasi hari ini. (norkus/panitia pondok Ramadhan/*)
KKN Berdampak UMM Malang, Atasi Persoalan Desa

timesindonesia, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menghadirkan pengabdian mahasiswa yang berdampak nyata. Sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak, yang menempatkan kolaborasi ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, serta solusi berkelanjutan sebagai bagian dari identitas pengembangan tridarma perguruan tinggi. Lewat KNN Berdampak mahasiswa UMM memberikan pengamdian yang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang melalui inovasi mahasiswa. Tidak lagi sekadar menjalankan aktivitas rutin di desa, mahasiswa didorong menghasilkan karya inovatif serta solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, pendidikan hingga pemberdayaan sosial lintas negara. Hal tersebut terlihat dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN pada 25 Februari lalu yang menjadi rangkaian akhir program pengabdian tahun ini. 450 mahasiswa yang terbagi dalam 17 kelompok mempresentasikan berbagai hasil program yang lahir dari proses pendampingan langsung bersama masyarakat, termasuk satu kelompok yang menjalankan pengabdian internasional di Malaysia. Berbagai inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat hadir melalui program KKN UMM, mulai dari optimalisasi sistem irigasi untuk membantu petani meningkatkan efisiensi distribusi air sekaligus menjaga produktivitas lahan melalui edukasi pengelolaan sumber daya air berbasis partisipasi warga. Di sektor pariwisata, mahasiswa turut menguatkan kembali eksistensi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan komunikasi bahasa asing dan pelayanan wisata bagi warga agar lebih siap menerima wisatawan mancanegara serta membuka peluang ekonomi baru. Pengabdian juga menjangkau tingkat internasional melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang, Malaysia. Dengan membantu akses belajar, penguatan literasi dasar, motivasi pendidikan, hingga pelaksanaan kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud solidaritas dan pengabdian lintas negara. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep KKN Berdampak menjadi arah utama pengabdian mahasiswa setelah kampus kembali menghidupkan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat pascapandemi. “Program KKN harus memberi kontribusi yang tidak mungkin ada kalau mahasiswa itu tidak hadir. Jadi bukan sekadar kegiatan rutin seperti mengajar atau menjadi panitia kegiatan masyarakat, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa didorong menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, baik melalui teknologi tepat guna, pengembangan metode pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dampak program juga harus terukur sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain berdampak, keberlanjutan menjadi prinsip utama pelaksanaan KKN UMM. Kampus mulai menyusun data dasar sebagai baseline pengembangan desa agar program mahasiswa tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai. “Minimal tiga sampai lima tahun ke depan kita ingin melihat perubahan nyata di lokasi KKN. Mahasiswa berikutnya tidak lagi memulai dari nol, tetapi melanjutkan solusi yang sudah dirintis sebelumnya,” tambahnya. Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut program KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai model pengabdian yang mampu menghadirkan inovasi berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program saja, tetapi memberikan berbagai inovasi yang positif dan solusi terhadap permasalahan di desa. Kami berharap kontribusi ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya. Ia juga berharap sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah semakin diperkuat agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. “Kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UMM ini sangat penting. Harapannya kerja sama ini terus terjalin sehingga inovasi mahasiswa benar-benar mampu memberikan sumbangsih nyata, tidak hanya bagi masyarakat desa, tetapi juga bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” pungkasnya. (*)
Ada Sosok ”KH Ahmad Dahlan” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Jadi Lebih Bermakna

KLIKMU.CO — Sosok “Ahmad Dahlan” tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian Taman Merjosari, Rabu (25/2/2026). Meski dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, “Siti Walidah”, sukses mencuri perhatian ratusan warga yang memadati kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial terasa hidup di tengah kegiatan tersebut. Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda. Tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif, hingga aksi berbagi yang menjadikan taman kota itu sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak memadati booth UMM untuk mengikuti permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca, perpustakaan keliling milik UMM, hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang dapat diakses gratis oleh pengunjung. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom mengatakan, NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Dia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, katanya, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian acara. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita bergambar. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya. (Faqih/AS)
Melampaui Batas Budaya, AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Global Village 4.0 dengan 24 Mitra Kolaborator

goodnews – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Global Village 4.0 “Want to Fly with a Carpet?: Let’s See a New World Taste Beyond Borders” pada Sabtu (14/02/2026) di Aula Teknik GKB III Lantai 6 Kampus UMM. Acara ini mengusung konsep Magic Carpet Journey yang dirancang sebagai simbol perjalanan lintas budaya. Mengajak peserta untuk secara imersif “menjelajahi” berbagai belahan dunia melalui eksplorasi cita rasa kuliner serta narasi budaya dari berbagai negara. Konsep ini tidak hanya menghadirkan pengalaman tematik yang menarik, tetapi juga membangun suasana interaktif yang merefleksikan semangat keterbukaan dan kolaborasi global. Global Village 4.0 memanfaatkan makanan sebagai bahasa universal guna mendorong terwujudnya pemahaman lintas budaya secara alami dan berkelanjutan. Melalui rangkaian engagement session serta penampilan Exchange Participants (EPs), acara tersebut dirancang untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, bebas batas, serta memperkuat koneksi antar peserta dalam suasana yang hangat dan menjunjung tinggi nilai persatuan global. Kegiatan tersebut diawali dengan opening session yang memperkenalkan Global Village 4.0, tema besar, serta konsepMagic Carpet Journey kepada seluruh delegasi. Suasana kemudian dibangun melalui cultural mini performance yang menghadirkan sentuhan seni dan budaya sebagai simbol dimulainya perjalanan lintas negara. Masuk sesi inti bertajuk “Carpet Ride Stories”, para delegasi bersama kelompoknya memperkenalkan budaya masing-masing serta berbagi cerita mengenai makanan tradisional favorit dari negara mereka. Sesi ini menjadi ruang interaksi yang personal dan reflektif, di mana peserta dapat memahami nilai, kebiasaan, serta identitas unik setiap bangsa secara langsung dari perwakilannya. Setelah sesi berbagi, delegasi melanjutkan perjalanan dalam Magic Carpet Food Trail, yaitu eksplorasi booth makanan internasional sambil berinteraksi dengan para Exchange Participants. Setiap delegasi dibekali Flavor Passport untuk mengumpulkan stempel dari berbagai negara yang mereka kunjungi, sehingga menciptakan pengalaman yang imersif sekaligus interaktif. Sebagai bentuk apresiasi, delegasi yang telah menyelesaikan perjalanan kuliner dapat menukarkan Flavor Passport mereka dengan badge eksklusif“World Taster”. Peserta juga berkesempatan mengabadikan momen di photobooth sebelum acara ditutup secara resmi dalam closing session yang merangkum keseluruhan perjalanan lintas budaya hari itu. Antusiasme yang tinggi terlihat dari padatnya booth dan interaksi aktif para pengunjung sepanjang acara. Menanggapi hal tersebut, Organizing Committee President (OCP) Global Village 4.0, Amelia Indah, menyampaikan rasa haru dan bangganya. “Melihat antusiasme pengunjung yang memadati booth hari ini, jujur saya merasa sangat terharu dan bangga. Visi yang kami susun dan diskusikan berbulan-bulan akhirnya bisa terlihat nyata di depan mata. Dari proses yang penuh revisi, koordinasi, sampai momen-momen lelah bersama tim, semuanya terasa terbayar ketika melihat booth ramai dan pengunjung menikmati setiap experience yang kami siapkan,” ujar Amelia Indah. Global Village 4.0 sendiri berhasil menarik sekitar 121 delegasi terdaftar dengan dukungan 24 mitra kolaborator, yang turut berkontribusi dalam menyukseskan rangkaian acara. Menurut Amel, terdapat beberapa faktor utama yang membuat kegiatan ini menarik perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan masyarakat Kota Malang. “Pertama, konsepnya yang interaktif, sehingga peserta bukan hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung budaya dari berbagai negara. Kedua, adanya kesempatan bagi pengunjung untuk berlatih berbicara dan menggunakan bahasa Inggris secara langsung dengan para volunteer maupun perwakilan budaya di setiap booth. Ketiga, makanan menjadi elemen yang benar-benar menyatukan berbagai negara. Lewat makanan khas, pengunjung bisa merasakan bahwa perbedaan justru bisa dinikmati bersama,”jelasnya. Lebih lanjut, Amelia Indah menegaskan bahwa Global Village 4.0 bukan sekadar ajang pameran makanan atau busana tradisional, melainkan sarana penyampaian pesan perdamaian dan toleransi. Melalui interaksi yang terbangun, acara ini berupaya menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan bahasa bukanlah sebuah pemisah, melainkan kekayaan yang memungkinkan setiap individu untuk saling memahami dan bekerja sama. Menurutnya, perdamaian dapat dipupuk melalui langkah sederhana, yakni kemauan untuk mendengar, belajar, dan menghargai. Sebagai penutup di akhir acara, Amelia menaruh harapan besar agar para pengunjung tidak hanya sekadar mengabadikan momen visual. Namun, juga membawa pulang perspektif baru mengenai luasnya nilai-nilai budaya di dunia yang bisa dipelajari. Tumbuhnya sikap keterbukaan, apresiasi terhadap perbedaan, hingga ketertarikan untuk terlibat dalam kegiatan internasional menjadi tolok ukur dampak positif yang sangat berarti dari perhelatan ini.
Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN UMM Angkat Kualitas Warga Jodipan di Sektor Wisata

indikatorindonesia, MALANG – Sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui program pengabdian. Spirit tersebut tercermin dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang implementasi gagasan kreatif, teknologi adaptif, dan pemberdayaan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, UMM mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu membaca potensi lokal sekaligus menguatkannya secara strategis. Kampus putih yang konsisten mengusung semangat inovasi dan kemandirian, mahasiswa KKN UMM kembali menghadirkan gagasan strategis untuk menghidupkan potensi wisata lokal. Melalui program di Kampung Warna-Warni Jodipan, tim KKN tidak hanya memperkuat aspek estetika kawasan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas warga sebagai pelaku utama pariwisata. Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki yang akrab disapa Syahva memimpin perumusan program berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kampung wisata membutuhkan sentuhan ide kreatif agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Program kerja yang dijalankan meliputi Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color difokuskan pada pembelajaran bahasa sederhana bagi anak-anak agar lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan. Program ini dinilai penting karena kemampuan komunikasi menjadi kunci utama dalam sektor pariwisata. “Program ini kami rancang untuk membantu memberdayakan warga, terutama agar mereka lebih siap dan percaya diri dalam menyambut serta berinteraksi dengan wisatawan,” ujar Syahva, 25 Februari 2026 Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN Sementara itu, Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi kreatif. Mahasiswa mendorong warga mengemas produk sederhana seperti minuman dan suvenir agar memiliki nilai tambah serta daya tarik baru bagi pengunjung. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal berbasis kreativitas warga. Program unggulan yang paling mencuri perhatian adalah Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menghadirkan kode QR pada mural-mural kampung. Setiap kode terhubung dengan cerita di balik lukisan, mulai dari tradisi lama masyarakat hingga simbol identitas lokal Malang. “Karena setiap lukisan memiliki QR tersendiri, pengunjung dapat langsung mengakses penjelasan, sehingga mereka tidak hanya menikmati visualnya, tetapi juga memahami arti di balik karya tersebut,” jelasnya. Digitalisasi narasi mural tersebut menghadirkan pengalaman wisata yang lebih edukatif. Pengunjung tidak sekadar berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM dalam memadukan kreativitas, teknologi, dan kearifan lokal secara adaptif. Sebuah cerminan karakter kampus yang mendorong integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan sosial menjadi fondasi utama pelaksanaan program. Mahasiswa membangun kedekatan dengan warga melalui dialog santai, membeli produk lokal, hingga mendampingi anak-anak belajar pada malam hari. Cara ini memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Menurut Syahva, perubahan paling nyata terlihat dari meningkatnya kesiapan warga dalam menyambut wisatawan secara lebih profesional. Ia mengamati adanya perkembangan dalam cara warga berkomunikasi, memberikan informasi, serta membangun kesan pertama yang positif bagi pengunjung. Hal tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Jodipan sebagai destinasi yang ramah dan edukatif. “Kini warga lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan, karena bahasa dan cara menyambut tamu adalah kunci utama bagi kampung wisata seperti Jodipan,” terangnya. Dosen pembimbing, Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan aktivasi kawasan wisata. Ia menyebut mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif, adaptif, dan berorientasi pada solusi nyata yang berkelanjutan, selaras dengan visi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang terukur. Program-program yang telah dirintis selanjutnya diserahkan kepada warga untuk dikelola secara mandiri. Tim KKN juga membuka ruang komunikasi lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Melalui KKN tematik ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak. Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa gagasan, membangun kolaborasi, serta meninggalkan fondasi pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Monitoring dan Evaluasi KKN untuk Penguatan Ekonomi Kreatif Desa Lebakharjo

kumparan – Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan bagian penting dalam rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengawasan administratif, tetapi juga sebagai sarana refleksi untuk menilai efektivitas, relevansi, dan keberlanjutan program yang telah dilaksanakan. Pelaksanaan monev KKN di Desa Lebakharjo menjadi momentum strategis untuk memastikan bahwa seluruh program kerja mahasiswa berjalan sesuai dengan perencanaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh dosen pembimbing lapangan, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta mahasiswa peserta KKN, dengan agenda utama meninjau capaian program sekaligus mendiskusikan berbagai temuan di lapangan. Dalam pelaksanaan KKN, mahasiswa memfokuskan program pada penguatan potensi unggulan desa yang berbasis budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Salah satu potensi utama yang dikembangkan adalah Batik Piren Sewu, sebagai representasi identitas kultural masyarakat setempat. Batik ini tidak sekadar produk kerajinan, melainkan simbol nilai filosofis dan kreativitas warga desa. Namun demikian, tantangan yang dihadapi pelaku usaha batik terletak pada keterbatasan pemasaran dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa melaksanakan pendampingan pemasaran digital, penyusunan katalog produk, optimalisasi media sosial, serta pelatihan pengemasan yang lebih modern dan kompetitif. Pendekatan ini dilakukan secara partisipatif agar pelaku UMKM tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga subjek yang aktif dalam proses transformasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pelaku usaha terhadap strategi promosi digital, meskipun keberlanjutan pendampingan tetap diperlukan agar dampaknya dapat berlangsung secara konsisten. Selain sektor budaya, potensi wisata alam desa juga menjadi perhatian dalam program KKN. Pantai Licin dikenal memiliki panorama yang masih alami dan daya tarik visual yang kuat. Potensi ini dinilai strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pariwisata. Mahasiswa berkontribusi melalui penataan informasi kawasan wisata, pembuatan papan informasi edukatif, serta promosi berbasis digital guna meningkatkan eksposur destinasi. Upaya tersebut dilandasi pemahaman bahwa akses informasi yang memadai merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata. Dalam sesi monitoring, tim penilai mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengemas potensi wisata menjadi lebih informatif dan komunikatif. Meski demikian, evaluasi juga menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan antara pemerintah desa dan masyarakat untuk menjaga kebersihan, tata kelola, serta kualitas pelayanan wisata. Di sisi lain, identitas Desa Lebakharjo sebagai Desa Pramuka turut menjadi landasan dalam perancangan program pembinaan generasi muda. Mahasiswa berkolaborasi dengan pembina dan anggota Pramuka desa untuk menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan, edukasi lingkungan, serta kegiatan sosial yang melibatkan anak-anak dan remaja. Program ini diarahkan untuk memperkuat karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Dalam perspektif pembangunan desa berkelanjutan, investasi pada pembinaan karakter generasi muda merupakan aspek fundamental yang berkontribusi pada ketahanan sosial masyarakat. Tim monev menilai bahwa kegiatan ini berjalan partisipatif dan mendapat respons positif dari peserta, serta direkomendasikan untuk terus dikembangkan sebagai program rutin desa. Secara keseluruhan, hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan bahwa pelaksanaan KKN di Desa Lebakharjo telah berjalan sesuai dengan rencana dan menyentuh aspek strategis pembangunan desa, mulai dari pemberdayaan ekonomi, penguatan budaya lokal, pengembangan pariwisata, hingga pembinaan karakter generasi muda. Evaluasi juga menegaskan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak semata diukur dari terlaksananya kegiatan, melainkan dari keberlanjutan dan dampak jangka panjangnya bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama antara pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi untuk menjaga kesinambungan program yang telah dirintis. Monitoring dan evaluasi dalam konteks ini bukan sekadar agenda formal, melainkan instrumen strategis untuk memastikan bahwa kehadiran mahasiswa melalui KKN benar-benar menghadirkan kontribusi yang terukur, relevan, dan berkelanjutan bagi pembangunan desa.
KH Ahmad Dahlan “Hadir” di Taman Merjosari, NgabubuRead UMM Bikin Suasana Jadi Edukatif

Sosok KH. Ahmad Dahlan tampak menyapa pengunjung di tengah keramaian di Taman Merjosari, Rabu (25/2/2026). Meski hanya dalam bentuk cosplay, kehadiran pendiri Muhammadiyah bersama istrinya, Siti Walidah, sukses mencuri perhatian ratusan warga yang memadati kegiatan serta memunculkan spirit perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam tradisi literasi, pendidikan, dan kepedulian sosial terasa hidup di tengah kegiatan NgabubuRead garapan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menunggu waktu berbuka puasa pun berubah menjadi pengalaman berbeda, tidak sekadar berburu takjil, tetapi diisi dengan aktivitas literasi, hiburan edukatif, hingga aksi berbagi yang menjadikan taman kota tersebut sebagai ruang belajar terbuka yang hangat dan penuh keceriaan. Kegiatan ini menghadirkan konsep ngabuburit produktif melalui musikalisasi puisi, mini game golf, serta berbagai aktivitas membaca bersama. Kehadiran cosplay Ahmad Dahlan dan Siti Walidah menjadi simbol penguatan nilai literasi sekaligus kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah gerakan Muhammadiyah. Antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Puluhan anak-anak tampak memadati booth UMM untuk mengikuti berbagai permainan edukatif dan membaca buku yang disediakan. Keseruan semakin terasa saat Mobil Kamis Membaca perpustakaan keliling milik UMM hadir membawa ratusan koleksi bacaan yang dapat diakses gratis oleh pengunjung. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom, mengatakan NgabubuRead dirancang sebagai ruang produktif bagi masyarakat untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum tepat untuk memperkuat kebiasaan membaca sekaligus membangun ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat. “NgabubuRead bukan sekadar aktivitas menunggu waktu berbuka, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menguatkan spirit literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa. Ramadan adalah waktu yang tepat memperkaya diri, baik secara spiritual maupun intelektual,” ujarnya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca di taman. Setelah acara utama selesai, peserta dan panitia melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan kepada masyarakat di jalan sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Maharina, aksi berbagi itu menjadi simbol penguatan spirit Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, yakni nilai keberagamaan yang diwujudkan melalui tindakan nyata membantu sesama. Literasi, kata dia, tidak hanya berhenti pada membaca buku, tetapi juga harus melahirkan empati sosial. “Melalui NgabubuRead, UMM ingin menanamkan pesan bahwa membaca, berbagi ilmu, dan menumbuhkan kepedulian sosial adalah satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan,” katanya. Di antara puluhan anak yang memadati area kegiatan, Naufal mengaku sangat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang disediakan. Ia datang bersama teman-temannya dan langsung tertarik melihat mobil perpustakaan keliling yang dipenuhi buku cerita bergambar. Baginya, membaca di taman sambil menunggu berbuka menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Menurut Naufal, mini game golf dan berbagai permainan di booth UMM membuat suasana semakin seru. Ia juga mengaku senang bisa melihat cosplay tokoh sejarah secara langsung karena sebelumnya hanya mengenalnya dari cerita di sekolah. “Rasanya seperti belajar tapi sambil bermain,” katanya dengan wajah antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada Ramadan berikutnya. Selain mendapat banyak teman baru, Naufal merasa kegiatan tersebut membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat dan bermanfaat. “Kalau ada lagi, saya mau ikut lagi. Soalnya seru dan bisa baca banyak buku,” ujarnya.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman