Rektor UMM: Ramadan Momentum Lahirkan Ulul Albab dan Peradaban Unggul

KLIKMU.CO – Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual. Hal ini ditegaskan dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2/2026). Rektor menyerukan agar bulan suci ini tidak hanya menjadi rutinitas ritual semata, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata. Berdasarkan pemahaman itu, Nazar mengajak jamaah merenung secara mendalam mengenai esensi ibadah di malam pertama Ramadan. Ia menekankan bahwa ritual seperti sholat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi pendorong kemajuan sosial (indigenous forces) tanpa pamrih. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa maju mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan yang berkelanjutan, sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam Islam. “Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar. Gagasan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter yang pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif. Ia pun mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi Ulul Albab, golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Lebih lanjut, Nazar menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Menurutnya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial. Puasa hadir sebagai mekanisme latihan disiplin untuk menahan ego sektoral maupun individual tersebut. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya. Dalam kerangka yang lebih luas, Nazar menguraikan makna jihad dalam perspektif modern dan profesional. Jihad tidak lagi dimaknai secara sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan penuh inovasi. Hal ini penting agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. “Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan, dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan dapat mengkristal menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, kampus tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan membawa kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya. (Faqih/AS)
KBP Digital Diluncurkan, Budaya Malangan Siap Go Digital

RRI.CO.ID, Malang – Momentum bersejarah tercipta dalam Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9 pada Minggu, 15 Februari 2026, dengan diluncurkannya KBP Digital, sebuah platform digital berbasis dokumentasi budaya Malangan. Peluncuran dilakukan secara resmi oleh Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai wujud sinergi antara dunia akademik dan komunitas budaya dalam menjaga warisan lokal di era transformasi digital. KBP Digital merupakan karya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 yang selama masa pengabdian mendokumentasikan, menyusun, dan mengemas kekayaan budaya Kampung Budaya Polowijen dalam bentuk e-book dan arsip digital. Platform ini dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke aplikasi Linktree, sehingga masyarakat luas dapat menjelajahi konten budaya secara praktis dan terbuka. Peluncuran didampingi oleh Dr. Daroe Wahyutiningsih, Kepala Lembaga Kebudayaan UMM sekaligus Dosen Pendamping Lapangan. Turut hadir dan menyaksikan Rendra Fatrisna Kurniawan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, serta I Ketut Widi Eka Wirawan, Camat Blimbing Kota Malang. Momentum tersebut berlangsung dalam suasana khidmat pada sesi Megengan dan Wilujengan KBP #9, yang juga dihadiri berbagai komunitas budaya Kota Malang. Adapun isi KBP Digital meliputi e-book dan dokumentasi Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, kerajinan anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga ragam makanan dan minuman tradisional khas Malang. Seluruh konten dirancang sebagai bank data budaya yang sistematis, edukatif, sekaligus promotif. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP menyampaikan rasa bangga dan haru atas kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya melalui pendekatan teknologi. “Perubahan budaya itu pasti, modernisasi budaya itu perlu, transformasi budaya itu wajib, dan adaptasi budaya itu keniscayaan. Melalui digitalisasi Kampung Budaya Polowijen ini, kita menjadikan teknologi sebagai strategi pelestarian. Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan agar dunia mengetahui betapa kaya dan beragamnya budaya kita, khususnya budaya Malangan,” tegasnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tradisi tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi secara ilmiah dan digital agar dapat diakses lintas generasi. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, turut mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN. Ia menjelaskan bahwa KBP Digital bukan lahir secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran intensif dalam program Sinau Budaya. Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai ilmu budaya, pariwisata, komunikasi, administrasi kesekretariatan, pengolahan makanan tradisional, kerajinan anyaman, pengelolaan lahan tanaman, pertukangan, hingga produksi konten budaya untuk media sosiall. “Semua ilmu itu kami bagikan kepada mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi praktik langsung di lapangan. KBP Digital adalah hasil dari proses laku budaya dan kerja kolektif,” ujarnya. Peluncuran KBP Digital menjadi bagian integral dari rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9 yang berlangsung sejak pagi hari. Kegiatan diawali dengan Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan dan kepedulian lingkungan. Selanjutnya digelar Workshop Busana Khas Malang untuk memperkuat identitas budaya daerah melalui praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng. Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP Kepala LPPM UMM di dampingi Dr. Daroe Iswatingsih, M.Pd Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat Lounching KBP Digital oleh Mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14 (foto:rri/mey) Memasuki siang hingga sore, festival menghadirkan Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai tradisi. Sore hari menjadi puncak acara melalui prosesi Megengan yang meliputi mocopatan, launching KBP Digital oleh Kepala LPPM UMM, serta wilujengan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci. Festival kemudian ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Dengan hadirnya KBP Digital, Kampung Budaya Polowijen menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi. Justru melalui digitalisasi, tradisi menemukan ruang baru untuk hidup, berkembang, dan dikenal dunia. Inisiatif ini diharapkan menjadi model pengembangan kampung budaya berbasis dokumentasi, edukasi, dan teknologi yang berkelanjutan di Kota Malang. (Mey)
Mantan Menhan Timor-Leste Sabet Gelar Doktor Sosiologi Militer di UMM

pwmu.co – Transformasi militer dari kekuatan perjuangan menjadi institusi pertahanan profesional menjadi pokok bahasan dalam Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto yang berlangsung di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 14 Februari 2026.Dalam disertasinya, ia mengkaji proses profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai fondasi penting bagi penguatan demokrasi serta stabilitas negara pascakonflik. Penelitian tersebut menyoroti perubahan struktural dan kultural dalam tubuh militer, sekaligus membedah relasi antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Kiprah akademik Julio memiliki sejarah panjang bersama UMM. Ia pernah menempuh studi di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998. Saat memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan, ia memilih kembali ke almamaternya. Ketertarikannya pada bidang Sosiologi Militer membawanya untuk berguru kepada Prof. Muhadjir Effendy, yang kemudian berkenan menjadi pembimbingnya. Sidang promosi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting Timor-Leste, di antaranya Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, Wakil Menteri Urusan Parlemen sekaligus mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay, Executive Director Human Capital Development Fund Julio Aparicio, serta Deputy Director Human Capital Development Fund Rogerio Lay. Kehadiran mereka mempertegas relevansi strategis riset ini bagi pembangunan nasional Timor-Leste. Dalam paparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer memandang militer bukan semata institusi pertahanan, melainkan juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan dinamika kekuasaan yang terus berkembang. Ia menelusuri perjalanan militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menuju tentara profesional dalam sistem negara demokratis. Pendekatan penelitian dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan sosiologi politik, sejarah sosial, studi organisasi, hingga antropologi. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakter berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi tersebut bukan berarti menghapus identitas lama, melainkan merekonstruksi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern. Julio menekankan bahwa profesionalisasi militer merupakan proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar pembenahan struktur. Di banyak negara pascakonflik, profesionalisme sering dipahami sebatas modernisasi alutsista dan sistem komando. Padahal, tantangan mendasar terletak pada pembentukan kultur organisasi, legitimasi publik, serta penguatan supremasi sipil dalam sistem demokrasi. Ia juga mengulas dinamika pascareferendum 1999 saat Timor-Leste membangun negara baru. Perdebatan muncul antara mempertahankan struktur lama atau membentuk militer profesional yang sepenuhnya baru. Pada akhirnya, dipilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional tanpa menghilangkan spirit historisnya. Krisis politik 2006 turut menjadi momentum penting dalam mempercepat pembentukan regulasi, peningkatan profesionalisme, dan peneguhan kontrol sipil. Temuan utama riset ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik tumbuh melalui interaksi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis internal, konflik, serta tekanan internasional berfungsi sebagai pendorong perubahan. Dalam konteks tersebut, militer tidak hanya berperan sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang terbentuk melalui sejarah panjang perjuangan. Salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi ini memberi kontribusi signifikan bagi pengembangan kajian sosiologi militer, khususnya di Asia Tenggara. Ia menyebut penelitian tersebut menghadirkan sudut pandang baru mengenai transformasi militer di negara pascakonflik yang berlangsung melalui proses sosial kompleks. Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi. Militer dapat tumbuh menjadi institusi profesional tanpa memutus akar sejarah perjuangannya. Justru, identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk memperkuat legitimasi, membangun kepercayaan publik, dan meneguhkan posisi militer dalam sistem negara demokratis.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
UMM Lahirkan Doktor Sosiologi Militer dari Timor Leste

POS-KUPANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melahirkan satu lagi doktor dalam bidang militer khusunya sosiologi militer. Doktor baru itu merupakan mantan Menteri Pertahanan Timor Leste yang kini lebih aktif sebagai akademisi dan pengajar di berbagai kampus. Julio Tomas Pinto, mantan menteri yang resmi menyandang gelar doktor sosiologi militer itu mempertahankan disertasinya tentang transformasi militer negara Timor Leste dari basis perjuangan menuju institusi profesional di Ruang sidang doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu 14 Februari 2026. Julio yang mengajar juga di Universitas Nasional Timor Leste itu membawa refleksi tentang masa depan pertahanan Timor Leste. Hampir empat tahun ia menempuh studi doktoral di Malang. “Saya sudah lama kuliah di sini, hampir empat tahun. Hari ini saya mempresentasikan riset tentang transformasi militer Timor Leste menuju profesionalisme, dan puji Tuhan dinyatakan lulus,” ujarnya. Dalam disertasi berjudul Transformasi Militer Timor Leste Dari Perjuangan Menuju Profesionalisme, Julio membedah proses profesionalisasi militer sebagai fondasi penting dalam konsolidasi demokrasi negara pascakonflik. Ia menyoroti perubahan struktur, budaya organisasi, hingga relasi antara militer dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil memiliki tantangan tersendiri. “Transformasi ini bukan menghapus identitas lama, melainkan menata ulang nilai dan tradisi gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” tegasnya. Ia menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, militer harus berdiri netral dan fokus pada fungsi pertahanan. Tidak terlibat politik, tidak masuk ke ranah bisnis, dan tidak melampaui mandat konstitusional. Timor Leste sendiri, kata dia, telah menetapkan dalam undang undang pertahanan bahwa militernya bersifat self defense force. “Tentara kami hanya untuk pertahanan, bukan ofensif. Sebagai negara kecil, diplomasi dan soft power harus dikedepankan,” jelasnya. Hubungan regional juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Julio menyebut Indonesia sebagai mitra strategis yang turut berkontribusi dalam profesionalisasi militer Timor Leste, bersama Australia dan sejumlah negara demokratis lain melalui kerja sama pertahanan dan pendidikan. Julio menambahkan, bahwa gelar doktor bukan garis akhir. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab moral untuk terus mengawal reformasi pertahanan di Timor Leste agar konsisten dengan prinsip demokrasi dan supremasi sipil. “Ini bagian dari kontribusi saya untuk memastikan militer kami profesional dan berorientasi pada perdamaian,” katanya. Sementara itu, keputusannya memilih UMM bukan tanpa alasan. Ia pernah menjadi alumni kampus tersebut dan memahami kultur akademiknya. “Saya tahu karakter akademik di sini. Karena itu saya kembali untuk memperdalam ilmu sosial,” katanya. Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik, SE MSi, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai topik yang diangkat sangat relevan bagi negara yang tengah membangun sistem kelembagaan modern. “Kami mengucapkan selamat kepada Dr. Julio Tomas Pinto dan pimpinan pascasarjana yang telah mengantarkan beliau meraih gelar doktor di bidang sosiologi. Tema yang diangkat sangat strategis karena berbicara tentang transformasi organisasi dalam konteks kebangsaan,” ujarnya.
UMM Gaungkan Ramadan Berkemajuan: Sinergi Spiritualitas dan Keilmuan di Tengah Dinamika Zaman

KLIKMU.CO — Di tengah derasnya arus digital, banjir informasi, dan gaya hidup serba cepat yang kerap membuat manusia kehilangan arah, Ramadan hadir sebagai ruang jeda untuk menata kembali makna hidup. Menjawab tantangan zaman tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaungkan semangat Ramadan Berkemajuan melalui kajian Tarhib Ramadan yang digelar Kamis (12/2/2026) di Masjid AR. Fachruddin. Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Rofiq Mudzakkir Lc MA PhD sebagai narasumber utama, sekaligus mengajak sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berilmu. Mengusung tema Ramadan Berkemajuan: Menyiapkan Diri Menjadi yang Bertaqwa dan Berilmu, Rofiq menyoroti realitas manusia modern yang kerap terjebak dalam distraksi dan pengalihan fokus. Kesibukan duniawi serta derasnya arus teknologi, menurutnya, sering kali menjauhkan manusia dari tujuan hakiki penciptaannya. Ramadan hadir sebagai momentum emas untuk melakukan reorientasi diri. “Momen Ramadan sebenarnya adalah momen untuk kembali kepada siapa diri kita yang sebenarnya, yaitu hamba Allah yang tugasnya mencari rida-Nya,” tegasnya. Ia juga mengajak jamaah lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam. Ibadah puasa, jelasnya, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi melatih manusia memahami ritme waktu dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bagian dari keteraturan kosmis ciptaan Allah. Kesadaran terhadap ritme ini akan melahirkan kedisiplinan sekaligus memperdalam ketundukan spiritual. Salah satu poin menarik yang disampaikan Rofiq adalah keindahan diksi Al-Qur’an dalam menempatkan urgensi aktivitas manusia. Ia menjelaskan, ketika berbicara tentang mencari rezeki, Al-Qur’an menggunakan kata famsyu (berjalanlah). Namun, saat menyeru manusia menuju ampunan dan perlindungan Allah, diksi yang digunakan meningkat menjadi fafirru (berlarilah). “Al-Qur’an membedakan urgensi dengan sangat indah. Untuk urusan dunia cukup berjalan biasa, namun saat menuju Allah gunakan fafirru atau berlarilah kencang, karena ini kondisi darurat untuk menyelamatkan jiwa kita,” ungkapnya. Lebih jauh, Rofiq mengingatkan agar interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan tidak dilakukan secara parsial. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian orang yang hanya mengejar target kuantitas bacaan (tilawah) tanpa memahami maknanya (tadabbur), atau sebaliknya terlalu fokus pada kajian tanpa membiasakan diri membaca secara rutin. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan agar ibadah mencapai kualitas yang optimal. “Jangan dipilih salah satu. Dua-duanya harus seimbang. Baca Al-Qur’an setiap hari minimal satu juz dan upayakan setiap hari ada ayat yang kita tadaburi agar meresap ke dalam hati,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof Akhsanul In’am PhD dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah melakukan refleksi menyeluruh sebelum memasuki Ramadan. Dengan pendekatan manajerial “4M” (Memahami, Merencanakan, Melaksanakan, dan Mengevaluasi), ia menekankan bahwa ibadah perlu dirancang secara sadar dan terukur agar menghasilkan perubahan nyata. “Mari kita mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam satu tahun terakhir, lalu implementasikan perbaikannya di bulan suci ini agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” tuturnya. Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berinovasi secara akademik, tetapi juga konsisten menghadirkan ruang penguatan spiritual. Sinergi antara keilmuan dan nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting dalam membentuk insan yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. (Faqih/AS)
Muhammadiyah Awali Salat Tarawih

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Muhammadiyah secara resmi menggelar salat tarawih malam pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah, Selasa (17/2) malam. Para jamaah mulai memadati masjid-masjid naungan Muhammadiyah di Kota Malang yang akan menjalankan puasa Ramadan sejak Rabu (18/2). Sementara, pemerintah memutuskan puasa Ramadan 1447 Hijriah dimulai Kamis (19/2), besok. Para jamaah Muhammadiyah berbondong-bondong memadati masjid menyemarakkan malam Ramadan 1447 Hijriah, seperti yang tampak di Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Masjid Manarul Islam Sawojajar Kota Malang. Meskipun, memulai Ramadan lebih dahulu, tidak menyurutkan semangat jamaah yang hadir mulai dari Jamaah Salat Isya, terlebih dahulu. Salah satu tokoh Muhammadiyah Kota Malang, KH Zubeir Suryadi Abdullah, Lc, mengatakan bahwa perbedaan waktu dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan di Indonesia adalah hal yang wajar. Sebagian masyarakat Indonesia seperti Muhammadiyah menganut sistem hisab hakiki dalam penghitungan kalender Hijriah. “Kemudian dalam metode lain ada yang namanya rukyat dan hisab, yang digunakan sebagian masyarakat Indonesia dan juga beberapa negara terkemuka lain, seperti Malaysia. Ini merupakan hal yang diperbolehkan, dan apabila berpegang pada keduanya semuanya tepat,” jelasnya. Sosok yang juga merupakan Pembina Yayasan Amal Shaleh Malang yang menaungi Masjid Manarul Islam. Dalam kesempatan memberikan pencerahan sebelum tarawih malam pertama Ramadan 1447 Hijriah dimulai, ia menekankan bahwa jangan sampai ada kesenjangan dalam kehidupan sosial muslim di Indonesia. “Kita bisa memulai puasa besok (18/2) dan ada yang memulai lusa, jangan sampai nanti bertemu saudara kita, ada hal tidak baik yang muncul dalam hati dan diri. Karena ini adalah sebuah hal wajar, dan beberapa kali juga disamakan,” bebernya. Ia berharap bagi umat muslim dari Muhammadiyah yang memulai puasa sejak Rabu (18/2) sekaligus memasuki 1 Ramadan 1447 Hijriah, untuk bisa saling menghormati. Puasa merupakan ibadah yang dimuliakan dan menjadi ibadah yang sangat baik, sehingga tidak boleh dicemari dengan pemikiran dan perasaan yang mengurangi esensi dan nilai dari puasa itu. “Mari kita ikhlaskan bersama, jangan muncul perasaan tidak enak dan tidak nyaman. Kalau Allah saja membolehkan kita berbeda, sehingga perlunya kita saling mengerti dan memahami, dan memperbanyak ibadah di Bulan Ramadan 1447 Hijriah, kali ini,” jelasnya. (rex/jon)
Aspikom Lantik Pengurus Baru, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

timesindonesia, MALANG – Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Jawa Timur secara resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025-2029 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2/2026). Ketua ASPIKOM Korwil Jatim resmi disandang oleh akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. yang menggantikan kepengurusan sebelumnya. Tak hanya pelantikan, acara ini juga dibarengi dengan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Daerah guna merumuskan program strategis ilmu komunikasi di Jawa Timur. Mengusung tema “Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Dikti Saintek yang Berdampak untuk Pembangunan di Jawa Timur”, momentum pelantikan ini penting untuk menyatukan visi 41 perguruan tinggi se-Jawa Timur. Awang Dharmawan, menyoroti potensi besar sumber daya manusia (SDM) komunikasi di wilayahnya. Menurutnya, terdapat lebih dari 16.000 mahasiswa dari sekitar 40 program studi rumpun ilmu komunikasi di Jawa Timur. Rencananya kedepan, kerja sama dengan industri dan pemerintah, seperti Dinas Kominfo Jawa Timur. “Kita perluas supaya ASPIKOM dapat memberikan dampak nyata pada masyarakat, ini juga bukan sekedar kuantitas, tetapi melahirkan peradaban baru,” ujarnya. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., juga menyambut hangat ASPIKOM. Ia pun menegaskan bahwa saat ini harus sinergi tingkat tinggi, bukan persaingan individual. “Paradigma “hebat sendirian” dinilai tak lagi relevan di era kolaborasi,” tegasnya dalam sambutan. Prof. Tri menegaskan kemajuan hanya dapat dicapai melalui sinergi, sebagaimana terlihat dari keterlibatan berbagai asosiasi seperti Perhumas dalam forum tersebut. Ia juga menekankan pentingnya laboratorium komunikasi di setiap kampus sebagai pusat pengembangan keilmuan untuk meraih akreditasi unggul. Dosen didorong melanjutkan studi hingga S3 dan meraih gelar Guru Besar guna memperkuat mutu pendidikan. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum ASPIKOM Pusat Prof. Dr. Anang Sujoko dan Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, sebagai bentuk komitmen mewujudkan pendidikan komunikasi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri. (*)
Krisis Air Ancam Petani, Mahasiswa KKN UMM Bangun Sistem Irigasi Kolaboratif di Desa Jambangan

KLIKMU.CO — Sebagai kampus inovasi dan mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Salah satunya terlihat dari langkah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 7 yang merespons ketimpangan distribusi air sawah di Desa Jambangan, Kabupaten Malang. Masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi berpotensi memicu konflik agraria antarpetani. Ketika sebagian lahan kebanjiran dan lainnya justru mengering, mahasiswa UMM membangun pintu irigasi baru pada Selasa (10/2/2026) sebagai instrumen pengatur distribusi air agar lebih adil dan terkontrol. Bagi warga Jambangan, pertanian adalah urat nadi ekonomi desa. Ketika distribusi air terganggu, yang terancam bukan hanya hasil panen, tetapi juga harmoni sosial. Dalam beberapa musim terakhir, ketidakseimbangan pasokan air menimbulkan keluhan dan potensi konflik horizontal. Koordinator program KKN Rifdah Nuur Fauziyyah menegaskan bahwa persoalan irigasi tidak bisa dipandang semata-mata sebagai isu teknis. “Distribusi air yang tidak terkontrol dapat memicu ketegangan antarpetani. Solusi yang kami tawarkan bukan hanya membangun fisik pintu air, tetapi juga membangun kesepahaman bersama,” ujarnya. Pembangunan ini berangkat dari kebutuhan riil warga. “Setelah observasi dan diskusi dengan petani, kami melihat persoalan utama ada pada pengaturan aliran air. Dari situ kami sepakat untuk fokus membangun pintu irigasi yang bisa digunakan bersama,” jelas Rifdah. Program ini diawali dengan observasi lapangan dan diskusi intensif bersama warga serta perangkat desa. Proses pembangunan dilakukan secara kolaboratif, dengan mahasiswa sebagai pelaksana utama dibantu tenaga tukang dan dukungan pemerintah desa. Meski dihadapkan keterbatasan anggaran dan sumber daya, sinergi tersebut mempercepat realisasi proyek. Fenomena krisis air irigasi sejatinya bukan persoalan lokal semata. Di berbagai wilayah Indonesia, distribusi air pertanian yang tidak merata kerap memicu perselisihan hingga sengketa lahan. Minimnya infrastruktur pengatur air sering memperparah keadaan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian musim. Salah satu petani setempat menuturkan kondisi sebelum adanya pintu irigasi baru. “Kadang sawah di hulu kebanyakan air sampai meluap, sementara yang di bawah kering dan retak. Kami sama-sama butuh air, tapi alirannya tidak teratur. Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan salah paham,” ujarnya. Keberadaan pintu irigasi baru memberi harapan agar pembagian air lebih adil dan transparan. “Sekarang alirannya bisa diatur. Kami jadi lebih tenang karena ada kesepakatan bersama. Harapannya ke depan tidak ada lagi perdebatan soal air,” tambahnya. Langkah mahasiswa KKN UMM di Desa Jambangan membuktikan bahwa intervensi sederhana berbasis kebutuhan lokal dapat menjadi strategi mitigasi konflik agraria yang efektif. Melalui kolaborasi, riset terapan, dan pengabdian yang berdampak, UMM terus meneguhkan perannya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang membangun kemandirian desa serta memperkuat ketahanan sosial di tengah krisis sumber daya. (Faqih/AS)
UMM Dampingi Petani Tlekung Kembangkan Kopi Endemik Srandil lewat Pelatihan dan Teknologi Solar Dryer

pwmu.co – Di tengah kawasan hutan Desa Tlekung, Kota Batu, sejumlah petani tampak antusias mengikuti pelatihan penyambungan pucuk tanaman kopi. Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut diisi dengan diskusi interaktif serta praktik langsung di lapangan. Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ahad (15/2/2026) dengan fokus pada pengembangan kopi endemik Srandil sebagai komoditas unggulan lokal. Tim pengabdian yang terdiri atas dosen dan mahasiswa memberikan pelatihan teknis kepada anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sumber Makmur Sembada. Materi yang disampaikan meliputi teknik grafting atau sambung pucuk serta perbanyakan tanaman melalui metode stek. Pelatihan ini bertujuan menghasilkan bibit kopi unggul yang lebih seragam dan adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan. Tidak hanya mempelajari teknik perbanyakan tanaman, para petani juga mendapatkan pelatihan pemangkasan cabang kopi yang tepat. Melalui praktik langsung di lapangan, peserta memahami bahwa pemangkasan yang benar mampu memperbaiki struktur tajuk tanaman, meningkatkan sirkulasi udara, serta mendorong produktivitas buah kopi. Kegiatan semakin menarik ketika peserta diperkenalkan dengan teknologi solar dryer, yakni alat pengering tenaga surya yang dilengkapi sistem otomatisasi berbasis suhu dan kelembapan. Inovasi ini memungkinkan proses pengeringan biji kopi berlangsung lebih stabil dan higienis, sehingga mutu kopi tetap terjaga meskipun kondisi cuaca tidak menentu. Ketua tim pengabdian, Zul Fahmi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas petani dari hulu hingga hilir. “Kami ingin para petani tidak hanya mampu menghasilkan bibit unggul, tetapi juga memahami teknik budidaya dan pascapanen yang tepat agar kopi Srandil memiliki kualitas yang mampu bersaing,” ujarnya. Program ini menjadi langkah strategis dalam mendorong kopi endemik Srandil sebagai identitas lokal sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Peningkatan keterampilan petani yang diiringi pemanfaatan teknologi tepat guna diharapkan mampu memperkuat tata kelola kopi di kawasan hutan Desa Tlekung agar lebih produktif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani. Pelatihan ini tidak sekadar membahas teknik bertani, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bahwa kopi lokal mampu menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (*)
Krisis Konstitusi Ancam Demokrasi, Pakar UMM Lahirkan Model Literasi Nasional Berbasis Karakter Indonesia

KLIKMU.CO – Kesadaran berkonstitusi menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan demokrasi yang sehat. Di tengah arus informasi yang kian deras, kemampuan memahami konstitusi tidak lagi cukup sebatas menghafal pasal-pasal, tetapi harus tumbuh menjadi kesadaran dalam sikap dan perilaku warga negara. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi dan mandiri melalui penelitian dosen Bidang Keahlian Pendidikan Konstitusi, Moh. Wahyu Kurniawan MPd. Sebagai kampus inovasi dan mandiri, UMM konsisten mendorong lahirnya riset-riset strategis yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan bangsa. Kemandirian tersebut tercermin dalam keberanian mengembangkan model keilmuan yang kontekstual, adaptif, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Dalam penelitiannya, Wahyu mengembangkan Model Literasi Konstitusi yang dirancang khusus untuk konteks Indonesia. Riset ini lahir dari realitas bahwa tingkat literasi konstitusi masyarakat masih tergolong rendah, padahal konstitusi merupakan rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Wahyu, pemahaman konstitusi tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata, tetapi harus tercermin dalam kesadaran bertindak sebagai warga negara yang demokratis. “Konstitusi adalah dasar hidup bersama, sehingga setiap warga negara wajib memahami dan menjadikannya pedoman dalam bersikap,” ujarnya (11/2/2026). Melalui kajian komparatif internasional, Wahyu menemukan bahwa sejumlah negara telah memiliki klasifikasi dan tingkatan literasi konstitusi yang terukur. Sementara itu, Indonesia dinilai belum memiliki model yang sesuai dengan karakter sosial, budaya, dan historisnya. Celah inilah yang kemudian dijawab melalui penelitian berbasis Research and Development (R&D) dengan pendekatan mixed method yang memadukan riset kualitatif deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian tersebut melahirkan Model Literasi Konstitusi versi Indonesia yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Model ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang kritis, reflektif, dan solutif. Mereka tidak hanya dilatih memahami konstitusi, tetapi juga mampu menilai kebijakan publik secara rasional serta memberikan masukan yang konstruktif. “Literasi konstitusi harus menumbuhkan keberanian berpikir kritis, bukan sekadar patuh tanpa pemahaman,” tegasnya. Keunggulan riset ini tidak berhenti pada ranah akademik. Temuan disertasi Wahyu telah ditindaklanjuti dalam bentuk policy brief yang memuat rekomendasi kebijakan pendidikan. Langkah ini menunjukkan komitmen UMM dalam mendorong riset yang berdampak langsung pada perumusan kebijakan dan praktik pendidikan nasional. Hal tersebut sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus mandiri yang tidak bergantung pada arus wacana global, melainkan mampu melahirkan gagasan autentik berbasis kebutuhan Indonesia. Wahyu menilai pendidikan konstitusi memiliki peran strategis dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Melalui model literasi yang dikembangkan, generasi muda diharapkan tidak tumbuh menjadi warga negara yang pasif, melainkan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara cerdas dan bertanggung jawab. Kesadaran berkonstitusi diposisikan sebagai modal utama untuk menjaga keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan dalam kehidupan bernegara. “Riset akademik tidak boleh berhenti di rak perpustakaan, tetapi harus hadir untuk menjawab persoalan masyarakat,” ungkapnya. Melalui penelitian ini, UMM kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kampus yang mengintegrasikan keilmuan, nilai, dan pengabdian. Sebagai kampus inovasi dan mandiri, UMM terus menghadirkan pembaruan yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga memberikan harapan baru bagi penguatan demokrasi Indonesia. Model Literasi Konstitusi yang dihasilkan menjadi bukti bahwa riset dosen UMM tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat fondasi demokrasi nasional. (Faqih/AS)