Arak-Arakan dan Nyadran Empu Topeng Malang, Puncak Sakral Festival Kampung Budaya Polowijen #9

KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut. Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) kliktimes, Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual. Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival. Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang. Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya, “Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.

Ramadan Momentum Bangun Peradaban Unggul

TVRINEWS, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menekankan pentingnya transformasi karakter intelektual melalui momentum Ramadan 1447 Hijriah untuk mencetak generasi Ulul Albab. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa bulan suci Ramadan harus dimaknai sebagai titik balik kebangkitan peradaban bagi kaum intelektual, melampaui sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin pada Selasa 17 Februari 2026, Prof. Nazaruddin menyerukan agar nilai-nilai ibadah diintegrasikan ke dalam karakter penggerak kemajuan sosial. Menurutnya, esensi dari puasa, shalat, dan zakat seharusnya menjadi kekuatan internal (indigenous forces) yang mendorong inovasi tanpa pamrih. “Apabila dimensi ibadah telah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, maka akan muncul dorongan kuat untuk menciptakan kemajuan baru, alih-alih melakukan pengrusakan,” ujar Prof. Nazaruddin. Pendidikan sebagai Instrumen Reformasi Bangsa Sebagai pimpinan di institusi yang dikenal dengan julukan “Kampus Putih”, Prof. Nazaruddin memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi karakter bangsa. Ia mendorong civitas akademika untuk menjadi golongan Ulul Albab, yakni para pemikir yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kepekaan spiritual terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan. Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan sosial kontemporer seperti ketidaktertiban di ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Dalam perspektifnya, perilaku koruptif tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga mencakup ketidakmampuan individu dalam mengendalikan ego sektoral di ranah sosial. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan yang mampu mencegah karakter korup. Perilaku korup dalam makna luas adalah ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Etos Kerja sebagai Jihad Modern Dalam kerangka berpikir yang lebih luas, Prof. Nazaruddin mereformulasi makna jihad dalam konteks profesionalisme modern. Ia mendefinisikan jihad sebagai badzlul juhdi, atau ikhtiar maksimal dalam berkarya dan bekerja. Ia menekankan bahwa umat Islam harus bertransformasi dari sekadar konsumen peradaban menjadi produsen kebudayaan yang inovatif dan solutif. Bangsa yang unggul, menurutnya, adalah bangsa yang konsisten melakukan perubahan demi kemaslahatan bersama. “Marilah kita mewujudkan the society of Ulul Albab, sebuah masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk selalu memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungannya,” pungkasnya menutup ceramah tersebut. Melalui pesan ini, UMM berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama dalam pengembangan Center of Excellence, guna melahirkan insan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga unggul secara sosial dan intelektual bagi kemajuan bangsa.

Berbeda dengan Pemerintah? Pakar Ilmu Falak UMM Jelaskan Dasar Ilmiah Penetapan 1 Ramadan 1447 H

pwmu.co – Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu (18/2/2026) oleh Muhammadiyah kembali memicu diskusi publik. Potensi perbedaan awal puasa dengan keputusan pemerintah ramai dibicarakan, terutama di media sosial.Menanggapi hal itu, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. M. Sarif, M.Ag., memaparkan penjelasan dari perspektif astronomi dan fikih. Ia menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadan merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam. Menurutnya, persoalan tersebut bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang metode yang digunakan dalam menetapkan awal bulan hijriah. Sarif menjelaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Penetapan tersebut menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni kalender Islam berbasis perhitungan astronomis (hisab) yang berlaku secara internasional. KHGT, lanjutnya, dirancang sebagai upaya menghadirkan kalender Islam yang lebih terintegrasi, memiliki kepastian jauh hari, dan dapat digunakan lintas negara. Sistem ini dibangun atas Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP), dengan ketentuan antara lain tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, yang terpenuhi di mana pun di permukaan bumi. Untuk Ramadan tahun ini, parameter tersebut telah tercapai di Alaska, Amerika Serikat. Dalam kerangka KHGT, apabila hilal telah memenuhi kriteria secara definitif di satu wilayah di bumi, maka awal bulan berlaku secara global tanpa dibatasi batas negara. Secara astronomis, ijtimak terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Peristiwa ini menandai berakhirnya bulan sebelumnya sekaligus menjadi titik awal terbentuknya hilal. Setelah matahari terbenam, posisi hilal di wilayah tertentu telah memenuhi parameter KHGT, sehingga keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan. Namun, situasi di Indonesia berbeda. Pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Artinya, belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia. Karena itu, secara astronomis pemerintah berpotensi menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat dilaksanakan. Sarif menekankan bahwa kedua pendekatan tersebut memiliki landasan ilmiah masing-masing. Muhammadiyah menggunakan metode hisab global yang bersifat definitif, sedangkan pemerintah memadukan hisab dan verifikasi rukyat dengan cakupan teritorial Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa perbedaan ini tidak menyentuh aspek akidah maupun substansi ibadah, melainkan sebatas perbedaan teknis dalam metodologi falak dan ruang lingkup penerapannya. Dari sisi fikih, penerapan KHGT berpijak pada konsep ittihad al-mathali’ atau kesatuan matlak global. Konsep ini memandang bahwa apabila hilal telah terbukti secara ilmiah di satu tempat, maka umat Islam dapat menetapkannya secara bersama. Sebagai akademisi, ia mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan tersebut secara arif. Menjaga ukhuwah, menghormati otoritas masing-masing, serta tetap memprioritaskan kualitas ibadah Ramadan dinilai jauh lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan metode.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Nyadran Makam Empu Topeng, Puncak Acara Kampung Budaya Polowijen#9

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut. Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (Foto:rri/mey) Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen. Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual. Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi. Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival. Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang. Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya, “Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. (Mey)

Tradisi Bertemu Teknologi, KBP Digital Resmi Mengudara di Festival KBP #9

JATIMTIMES  – Upaya pelestarian budaya Malangan kini memasuki babak baru. Di tengah gelaran Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9, Minggu (15/2/2026), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang resmi meluncurkan KBP Digital, platform dokumentasi budaya berbasis daring yang digagas mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026. Peluncuran dilakukan langsung oleh Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, dalam suasana khidmat prosesi Megengan dan Wilujengan. Kehadiran platform ini menjadi penanda transformasi Kampung Budaya Polowijen dari ruang budaya berbasis tradisi lisan menuju bank data digital yang bisa diakses lintas generasi. KBP Digital dirancang sebagai pusat arsip budaya yang memuat e-book serta dokumentasi beragam kekayaan lokal, mulai dari Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga kuliner khas Malang. Seluruh konten dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke Linktree, memudahkan masyarakat menjelajahi informasi secara praktis. Prof. Sutawi menegaskan, digitalisasi bukanlah bentuk pengaburan tradisi, melainkan strategi menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman. “Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan. Modernisasi itu perlu, dan digitalisasi menjadi salah satu cara agar budaya tetap hidup dan dikenal luas,” ujarnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warisan budaya tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga tersimpan secara ilmiah dan terdigitalisasi. Peluncuran ini turut disaksikan Kepala Lembaga Kebudayaan UMM Dr. Daroe Wahyutiningsih selaku dosen pendamping lapangan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Rendra Fatrisna Kurniawan, serta Camat Blimbing I Ketut Widi Eka Wirawan. Sementara itu, Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen menyebut KBP Digital lahir melalui proses panjang pembelajaran dalam program Sinau Budaya. Para mahasiswa tidak hanya melakukan dokumentasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik kebudayaan, mulai dari membatik, mengolah kuliner tradisional, hingga produksi konten budaya. “Mereka belajar langsung di lapangan. Ini bukan sekadar proyek digital, tetapi bagian dari laku budaya bersama,” ungkapnya. Festival KBP #9 sendiri berlangsung sejak pagi dengan berbagai agenda. Kegiatan diawali Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan. Dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang yang mengangkat praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng. Memasuki siang hingga sore, panggung seni menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, hingga tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai budaya. Puncak acara ditandai dengan prosesi Megengan, peluncuran KBP Digital, wilujengan, serta ditutup Nyadran dan arak-arakan topeng sebagai simbol penghormatan leluhur. Hadirnya KBP Digital mempertegas bahwa pelestarian budaya tidak harus berseberangan dengan teknologi. Justru melalui pendekatan digital, Kampung Budaya Polowijen menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi, terdokumentasi, dan menjangkau khalayak yang lebih luas, tanpa kehilangan akar nilai lokalnya.

Kolaborasi UMM-Undana Berbagi Teknologi Pupuk Hayati di TTS, Dorong Produktivitas Lahan Kering

TTS, MataTimor.com|| Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbagi teknologi pupuk hayati kepada para petani di Desa Nobi-Nobi, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (16/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari riset dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan produksi pertanian di lahan kering. Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM, Henik Sukorini bersama Erny Ishartati menjelaskan bahwa teknologi yang dibagikan kepada petani telah melalui proses penelitian yang matang. “Bagian dari penelitian kami itu, sebelum ke petani, kami buktikan dulu kalau bagus baru kami bagikan. Karena temuan kami ini baru pertama kali dicoba di lahan kering di luar Jawa. Selama ini kami uji di lahan kering di Pulau Jawa yang masih relatif subur,” jelas Henik kepada MataTimor.com di sela-sela kegiatan. Menurutnya, tahun ini UMM bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dalam pelaksanaan penelitian di TTS. Penelitian tersebut dipimpin oleh Ir. I N Prijo Soetedjo, MS, PhD, bersama mahasiswa. Henik menyebutkan, terdapat empat produk yang dikembangkan, yakni dua jenis pupuk hayati dan dua jenis bakteri. Salah satunya adalah bakteri Mikoriza, yang merupakan temuan tim UMM. “Miogorisa ini kami kombinasikan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman, terutama dalam kondisi kekeringan dan cekaman air. Hasilnya sangat bagus dan perbedaannya sangat jauh. Di lahan uji coba di Nobi-Nobi ada yang diberi pupuk hayati dan ada yang tidak. Tongkol jagung yang diberi pupuk jauh lebih besar dibanding yang tidak diberi,” ungkapnya. Dengan hasil tersebut, UMM merasa yakin untuk memperkenalkan dan membagikan teknologi tersebut kepada petani secara lebih luas. Henik menegaskan, pemilihan Nusa Tenggara Timur sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. UMM memiliki prioritas untuk mendukung ketahanan pangan di daerah yang rentan kekurangan pangan. “Di kampus Muhammadiyah Malang ada tujuan membantu ketahanan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan. Dari prioritas itu dipilih NTT. Di NTT bisa Soe, bisa TTU, intinya di wilayah yang mengalami kekeringan. Karena bakteri yang kami temukan khusus untuk mengatasi kekeringan, maka kami minta Undana memilih daerah yang tanahnya kering. Dipilihlah TTS karena musim hujannya lambat datang,” jelasnya. Desa Nobi-Nobi menjadi lokasi pertama penelitian dan uji coba di TTS. Selain melakukan uji lapangan, tim UMM dan Undana juga mengajarkan secara langsung cara pembuatan pupuk hayati kepada masyarakat. “Bahan untuk membuat pupuk ini sangat banyak di TTS. Jangan bergantung kepada kami. Kami sudah kasih tahu caranya supaya mandiri dan bisa buat sendiri. Tetapi untuk bakteri itu bagian dari teknologi, jadi petani tidak sembarangan membuatnya. Untuk yang masih ragu, silakan buktikan sendiri di lahannya,” tegas Henik.

Aspikom Lantik Pengurus Baru

jaim.times, MALANG – Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Jawa Timur secara resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025-2029 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2/2026). Ketua ASPIKOM Korwil Jatim resmi disandang oleh akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. yang menggantikan kepengurusan sebelumnya. Tak hanya pelantikan, acara ini juga dibarengi dengan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Daerah guna merumuskan program strategis ilmu komunikasi di Jawa Timur. Mengusung tema “Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Dikti Saintek yang Berdampak untuk Pembangunan di Jawa Timur”, momentum pelantikan ini penting untuk menyatukan visi 41 perguruan tinggi se-Jawa Timur. Awang Dharmawan, menyoroti potensi besar sumber daya manusia (SDM) komunikasi di wilayahnya. Menurutnya, terdapat lebih dari 16.000 mahasiswa dari sekitar 40 program studi rumpun ilmu komunikasi di Jawa Timur. Rencananya kedepan, kerja sama dengan industri dan pemerintah, seperti Dinas Kominfo Jawa Timur. “Kita perluas supaya ASPIKOM dapat memberikan dampak nyata pada masyarakat, ini juga bukan sekedar kuantitas, tetapi melahirkan peradaban baru,” ujarnya. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., juga menyambut hangat ASPIKOM. Ia pun menegaskan bahwa saat ini harus sinergi tingkat tinggi, bukan persaingan individual. “Paradigma “hebat sendirian” dinilai tak lagi relevan di era kolaborasi,” tegasnya dalam sambutan. Prof. Tri menegaskan kemajuan hanya dapat dicapai melalui sinergi, sebagaimana terlihat dari keterlibatan berbagai asosiasi seperti Perhumas dalam forum tersebut. Ia juga menekankan pentingnya laboratorium komunikasi di setiap kampus sebagai pusat pengembangan keilmuan untuk meraih akreditasi unggul. Dosen didorong melanjutkan studi hingga S3 dan meraih gelar Guru Besar guna memperkuat mutu pendidikan. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum ASPIKOM Pusat Prof. Dr. Anang Sujoko dan Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, sebagai bentuk komitmen mewujudkan pendidikan komunikasi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri. (*)

Inilah Keutamaan Sholat Tarawih dari Malam Pertama Hingga Malam ke 30

PORTAL SULUT – Berikut ini keutamaan sholat Tarawih dari malam 1 hingga ke 30. Shalat Tarawih adalah shalat malam atau Qiyamul Lail yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan hukum Shalat Tarawih di bulan Ramadhan adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Keutamaan Shalat Tarawih sangatlah besar dan sayang untuk dilewatkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah Muharram, dan seutama-utama shalat setelah Shalat Fardhu adalah salat lail. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seorang laki-laki dari Qudho’ah lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau andaikata saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan engkau Rasul Allah, saya shalat lima waktu, saya puasa di bulan Ramadhan, saya mengerjakan Qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat?, Maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang meninggal di atas hal ini maka ia termasuk dari para shodiqin dan orang-orang yang mati syahid. Shalat Tarawih memiliki banyak keutamaan dan atau Fadhilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa dan memberikan banyak imbalan kepada hambanya yang rajin dan ikhlas menjalankan Shalat Tarawih di setiap malam bulan Ramadhan. Melewatkan satu malam saja kita akan merasa sangat merugi. Lalu apa saja Fadhilah Shalat Tarawih di bulan Ramadhan itu? Dikutip Portal Sulut dari Channel YouTube Tadabbur Ilmi, dalam kitab Durratun Nashihin terdapat suatu hadits dari Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu, ia menyebutkan bahwa Fadhilah Shalat Tarawih pada bulan Ramadhan itu berbeda-beda setiap malamnya. Fadhilah pada malam pertama seorang mukmin akan keluar dari dosanya seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya. Pada malam kedua diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya beriman. Pada malam ketiga malaikat memanggil dari bahwa Arsy mulailah beramal tentu Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu. Pada malam ke-empat akan mendapatkan pahala seperti membaca Taurat, Zabur, Injil dan Al Furqon. Pada malam kelima Allah SWT memberikannya pahala seperti orang yang mengerjakan shalat di Masjidil Haram di Masjid Madinah dan di Masjid Aqsa. Pada malam ke-enam Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya pahala orang yang bertawaf di Baitullah makmur dan memohonkan ampun untuknya semua debu dan batu. Pada malam ketujuh seakan-akan dia telah berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam dan membelanya melawan Firaun dan Haman. Pada malam kedelapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya seperti apa yang diberikannya kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam. Pada malam kesembilan seakan-akan dia telah beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti ibadahnya nabi Muhammad Sallallahu Allaihi Wasallam. Pada malam kesepuluh Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Pada malam ke-11 dia akan keluar dari dunia seperti pada saat dia dilahirkan dari ibunya. Pada malam ke-12 dia akan datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan pada malam purnama. Pada malam ke-13 dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dan selamat dari segala keburukan. Pada malam ke-14 para Malaikat akan datang dan bersaksi untuknya bahwa dia benar-benar telah mengerjakan Shalat Tarawih dan Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat. Pada malam ke-15 semua malaikat pemikul Arsy dan pemikul kursi mendoakan kepadanya. Pada malam ke-16 Allah Subhanahu Wa Ta’ala menulis untuknya selamat dari masuk neraka dan diberi kebebasan untuk masuk ke dalam Surga. Pada malam ke-17 dia akan diberi pahala seperti pahalanya para nabi. Pada malam ke-18 Malaikat memanggilnya “Hai hamba Allah sesungguhnya Allah telah ridha kepadamu dan kedua orang tuamu. Pada malam ke-19 Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat derajatnya di surga firdaus. Pada malam ke-20 dia diberi pahala seperti pahala orang yang mati syahid dan para sholihin. Pada malam ke-21 Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah gedung dari Nur di Surga. Pada malam ke-22 dia akan datang di hari kiamat dengan aman dari segala macam kesusahan dan kesedihan. Pada malam ke-23 Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah kota di Surga. Pada malam ke-24 dia akan memiliki 24 doa yang dikabulkan Pada malam ke-25 Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghilangkan siksa kubur darinya. Pada malam ke-26 Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima pahalanya selama 40 tahun. Pada malam ke-27 dia akan lewat di atas sirod pada hari kiamat seperti kilat yang menyambar. Pada malam ke-28 Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat 1000 derajat baginya di Surga. Pada malam ke-29 Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya pahala 1000 kali ibadah haji yang diterima. Dan pada malam ke-30 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman “Hai hamba-ku makanlah dari buah-buahan surga, mandilah dari air sungai Salsabil, Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaku. Demikianlah Fadhilah jika kita melaksanakan Shalat Tarawih dari malam pertama sampai malam ke-30.***

Membuka Peluang dari Traktat Jakarta dan Hadapi Persepsi Ancaman

metrotvnews, Jakarta: Penandatanganan Treaty on Common Security atau Traktat Jakarta 2026 antara Indonesia dan Australia bukan sekadar kelanjutan dari kerja sama pertahanan rutin, ini adalah pertaruhan geopolitik paling signifikan di dekade ini. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mencoba merajut mekanisme konsultasi keamanan yang lebih terstruktur dengan tetangga selatannya. Namun, bagi para analis studi keamanan, traktat ini membawa satu pertanyaan eksistensial bagi politik luar negeri bebas-aktif: mampukah dua negara dengan memori sejarah dan persepsi ancaman yang berbeda berdiri di atas pijakan yang sama ketika menghadapi manuver militer Tiongkok di halaman belakang mereka? Titik pelik dari traktat ini bukanlah pada apa yang tertulis di atas kertas, melainkan pada apa yang terjadi di perairan. Isu persepsi ancaman menjadi gajah di dalam ruangan yang sulit diabaikan. Kita harus berkaca pada insiden Februari tahun lalu, ketika kapal perang Angkatan Laut Tiongkok (PLA-N) melakukan latihan perang dengan amunisi tajam (live fire drills) di perairan internasional Laut Tasmania. Bagi publik Australia, kehadiran militer Tiongkok yang merangsek jauh ke selatan dan bahkan jauh dari Laut China Selatan dan mendekati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Australia dianggap sebagai alarm bahaya tingkat tinggi. Kejadian ini tidak biasa dan sangat provokatif bagi Canberra, karena menunjukkan bahwa “benteng alami” Australia di Pasifik Selatan tidak lagi tak tersentuh. Di sinilah letak jurang persepsi yang mendalam. Indonesia, selama bertahun-tahun, cenderung mengadopsi respons yang jauh lebih lunak terhadap agresivitas Tiongkok. Di Laut China Selatan, misalnya, Indonesia merespons agresifitas PLA-N relatif lebihl lunak jika dibandingkan dengan Filipina atau Vietnam. Jakarta sering kali memilih jalur diplomasi sunyi untuk menghindari konfrontasi terbuka yang dapat mengganggu stabilitas investasi dan ekonomi. Sementara Australia melihat kehadiran PLA-N di Laut Tasmania sebagai ancaman keamanan nasional, Jakarta mungkin hanya melihatnya sebagai bagian dari dinamika “kebebasan navigasi” di perairan internasional. Perbedaan suhu dalam memandang Beijing inilah yang berpotensi menjadi kerikil tajam dalam implementasi Traktat Jakarta 2026. Dilema ALKI Masalah ini menjadi semakin teknis dan berbahaya ketika kita memasukkan variabel Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Secara geografis, ALKI adalah “jalan tol” maritim yang sah bagi kapal-kapal asing, termasuk kapal perang, untuk melintas dari utara ke selatan. Meski pada insiden tahun lalu kapal Tiongkok mungkin tidak menggunakan ALKI, skenario masa depan sangat mungkin berubah. Jika Tiongkok memutuskan untuk menggunakan ALKI sebagai jalur utama pengerahan kekuatan angkatan lautnya menuju perairan Australia untuk melakukan tekanan psikologis atau militer, Indonesia akan terjebak dalam dilema kedaulatan yang mustahil. Bayangkan jika tensi antara Canberra dan Beijing mencapai titik didih. Dalam kerangka Traktat Jakarta yang baru, Australia kemungkinan besar akan menuntut solidaritas dari Indonesia untuk membatasi atau bahkan menutup akses ALKI bagi armada tempur Tiongkok. Secara hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982, Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin hak lintas alur laut kepulauan. Meski demikian, dalam kondisi force majeure, Indonesia dibenarkan ketika terpaksa menutup sementara akses ALKI dengan alasan keamanan, keselamatan navigasi, atau pertahanan negara. Namun, jika Indonesia tetap membiarkan kapal-kapal Tiongkok melintas menuju teras rumah Australia, Canberra akan memandang Traktat Jakarta sebagai dokumen kosong yang tidak berguna saat mereka benar-benar membutuhkan perlindungan keamanan bersama. Di sisi lain, jika Indonesia mengikuti keinginan Australia, Jakarta akan dianggap telah meninggalkan prinsip bebas-aktif dan secara terbuka bergabung dalam kebijakan containment (pembendungan) terhadap Tiongkok, yang pastinya akan memicu balasan ekonomi dan politik dari Beijing. Ketidaksamaan persepsi ini kian diperparah oleh narasi yang berjalan paralel. Pemerintah Indonesia melalui Menlu Sugiono menekankan bahwa traktat ini hanyalah mekanisme konsultasi, bukan pakta pertahanan atau aliansi militer. Namun, narasi yang berkembang di media internasional dan Australia justru menangkap sinyal sebaliknya. Indonesia harus mampu meng-counter anggapan ini. Sejumlah laporan menyoroti bahwa di bawah Traktat Jakarta, kedua negara akan mempertimbangkan respons militer bersama jika salah satu pihak diserang. Adanya program embedded position bagi perwira senior TNI di Angkatan Bersenjata Australia (ADF) juga dibaca oleh publik internasional sebagai langkah menuju interoperabilitas penuh, sebuah ciri khas dari aliansi militer formal. Risiko persepsi ini adalah bahaya nyata bagi kedaulatan Indonesia. Jika pihak ketiga, dalam hal ini Tiongkok, membaca langkah Indonesia sebagai pergeseran menuju aliansi Barat, maka ruang manuver diplomasi Indonesia akan menyempit drastis. Indonesia tidak lagi dipandang sebagai mediator jujur di kawasan, melainkan sebagai bidak dalam papan catur persaingan kekuatan besar. Oleh karena itu, transparansi mengenai apa yang dimaksud dengan “beroperasi dari negara masing-masing” dalam teks traktat tersebut menjadi sangat krusial. Prosedur operasional standar (SOP) harus dibuat dengan sangat ketat untuk memastikan bahwa kerja sama ini tidak menjadi pintu belakang bagi pangkalan militer asing atau forward presence yang provokatif. Pentingnya Mutual Trust Agar Traktat Jakarta memberikan untung strategis, Indonesia harus memimpin desain implementasinya dengan prinsip “keamanan maritim bersama” yang inklusif, bukan konfrontatif. Indonesia harus memanfaatkan traktat ini untuk memperoleh peningkatan kapasitas yang konkret melalui Australia-Indonesia Defence Cooperation Agreement (DCA). Transfer pengetahuan dalam hal keamanan maritim, penanggulangan bencana, dan teknologi pertahanan harus menjadi prioritas utama. Dengan fokus pada bidang-bidang dengan risiko politik rendah namun manfaat publik tinggi, Indonesia dapat memperkuat otot pertahanannya tanpa harus terlibat dalam politik blok yang mematikan. Selain itu, Indonesia perlu memperjelas posisinya terhadap ekosistem keamanan Australia yang lain, seperti Five Power Defence Arrangements (FPDA) dan AUKUS. Meskipun Australia memiliki komitmen dengan negara-negara lain, Traktat Jakarta harus memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan dalam kerangka tersebut tidak mengganggu kepentingan nasional Indonesia. Mekanisme konsultasi rutin yang dijanjikan traktat ini harus dijadikan kanal resmi untuk klarifikasi dini dan deconfliction kebijakan, sehingga yang muncul adalah rasa aman bersama, bukan kecurigaan yang didorong oleh disinformasi. Pada akhirnya, kerja sama Indonesia–Australia hanya akan berhasil jika kedua negara berhenti berpura-pura bahwa mereka memiliki persepsi ancaman yang identik. Kejujuran diplomatik sangat diperlukan. Indonesia harus dengan tegas menyatakan batas-batas kedaulatannya, termasuk ketidakmampuan secara hukum untuk menutup ALKI hanya demi kepentingan politik satu pihak. Sebaliknya, Australia harus menghormati posisi bebas-aktif Indonesia sebagai aset stabilitas kawasan, bukan sebagai kelemahan. Sebagai dua negara tetangga yang secara geografis dikutuk untuk selalu berdampingan, namun hubungan keduanya ditentukan dengan mempraktikkan kehati-hatian strategis. Traktat Jakarta 2026 harus menjadi instrumen untuk memperkuat otonomi strategis Indonesia, bukan menjadi pintu masuk bagi komitmen yang melampaui kepentingan nasional. Jika dikelola dengan transparansi dan berjangkar pada kedaulatan, Indonesia dapat mengambil manfaat maksimal dari kemitraan ini tanpa harus kehilangan jati diri diplomasi di tengah badai kompetisi Indo-Pasifik yang kian tak menentu.

Hilal Tak Nampak, Satu Ramadan Kamis

Hasil Sidang Isbat Kemenag RI, Hormati Perbedaan MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hingga Selasa (17/2) sore kemarin, hilal belum tampak di seluruh Indonesia, termasuk melalui pengamatan di Pendopo Panji Kantor Bupati Malang, Jalan Panji, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Pengamatan dilaksanakan oleh BMKG Geofisika Malang bersama Kemenag Kabupaten Malang dan Pemkab Kabupaten Malang, serta ormas Islam se-Kabupaten Malang. “Berdasarkan hasil perhitungan, saat matahari terbenam, hilal masih negatif di seluruh Indonesia. Jadi, hilal bisa dikatakan tidak terlihat,” ujar Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri. Ia menjelaskan bahwa di seluruh Indonesia hilal di bawah ufuk atau tidak terihat hingga sore. Karena untuk tinggi hilal di Indonesia mulai minus 2,41  di Jayapura dan minus 0,93 di Sumatera Barat. Sebagai perlengkapan pengamatan hilal, lanjut Mamuri, pihaknya menyiapkan teropong di depan Pendopo Panji, Kabupaten Malang. “Sebagai seremoni kelengkapan pengamatan hilal, maka kami lakukan di bawah. Kalaupun kami di atas (Lantai 9 Gedung Kantor Bupati Malang. red) tetap tidak terlihat karena posisi hilal di bawah ufuk,” ujar Mamuri. “Kalau pasca maghrib (kemarin) dipastikan tidak terlihat, karena posisi bulan itu bergeraknya ke bawah. Jadi pasti tidak terlihat karena masih minus,” sambungnya. Mamuri menambahkan pihaknya akan tetap melakukan pengamatan secara mandiri Rabu (18/2) hari ini, tetapi melalui Kantor BMKG Stasiun Geofisika Malang, yang berada di Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. “Kalau pengamatan secara Kementerian Agama final karena sudah genap 30 hari bulan hijriah di bulan ini. Tapi nanti kami BMKG tetap akan melakukan pengamatan besok (hari ini), tapi di kantor kami,” tandasnya. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang, Sahid menyampaikan perbedaan awal Ramadan sebuah keniscayaan di tingkat negara bahkan, dunia. Seperti diketahui Muhammadiyah telah menentukan awal Ramadan pada Rabu (18/2). “Perbedaan adalah sebuah keniscayaan di tingkat negara bahkan, dunia. Terkait penentuan satu Ramadan 1447 hijriah, ini sejak awal diestimasi ada perbedaan. Karena memang metode yang digunakan antara satu dengan lainnya berbeda, ” ujar Sahid. Ia menambahkan bahwa perbedaan awal Ramadan sudah pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Maka dari itu yang terpenting menjalankan ibadah puasa secara khusuk. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis 19 Februari 2026, usai diputuskan melalui Sidang Isbat yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa. “Hasil Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada hari Kamis,” ujar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat memimpin konferensi pers keputusan hasil sidang Isbat. Keputusan ini berbeda dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan lebih cepat satu hari atau jatuh pada Rabu (18/2). Perbedaan metode menjadi dasar perbedaan penetapan awal Ramadhan. Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya menjelaskan posisi hilal di wilayah Indonesia saat rukyat berada pada kisaran minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. Sementara kriteria MABIMS (Menteri-Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) menetapkan tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat. Maka 1 Ramadhan ditetapkan pada Kamis. Dengan penetapan resmi pemerintah itu, maka pada Rabu (18/2) malam, umat Islam di Indonesia dapat melaksanakan Shalat Tarawih. Sidang isbat ini diikuti sejumlah perwakilan organisasi keagamaan, ahli astronomi, Komisi VIII DPR RI, hingga perwakilan negara sahabat.(den/ntr/jon)