Terapkan Go Green, UMM Salurkan 2.500 Paket Daging Qurban Tanpa Ciptakan Sampah Plastik

Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan kurang lebih 2.500 paket daging qurban. Dengan menerapkan konsep Go Green yang mengedepankan tanpa menciptakan sampah plastik sama sekali. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa pihaknya memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam. Ia pun menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa, melainkan juga menjadi wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kami senantiasa mengusung Go Green. Jadi, spirit qurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ungkap Yasin, Rabu (27/05). Klik di sini untuk ikuti kami di Instagram @lldikti7 Pada penyelenggaraan kurban tahun ini, panitia juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing. Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang. Hingga mereka sebarkan ke Sumbawa dalam bentuk Sapi hidup sebanyak enam ekor. Manajemen Penyembelihan Secara Presisi Guna memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi. Yakni dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. “Kami mengambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi sapi disembelih berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Panitia membagikan paket dengan takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 Kg daging murni yang mereka tambahkan dengan tulang dan jeroan. Sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan menghasilkan kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini. Dengan melibatlan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Sejalan dengan Misi Pelestarian Lingkungan Yasin merinci bahwa panitia mengawal seluruh proses pengemasan secara ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Kami menggunakan besek, mengalasi dengan daun, kemudian mengikat dengan tali serabut,” tambahnya. Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui qurban gGo Green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik. Hingga keberkahan qurban dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.
UMM Konsisten Terapkan Kurban Go Green, Salurkan 2.500 Paket Daging dengan Besek Bambu

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui pelaksanaan kurban berkonsep go green pada Iduladha 1447 Hijriah. Memasuki tahun keenam pelaksanaannya, UMM mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dilapisi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., mengatakan konsep tersebut diterapkan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, khususnya kantong kresek hitam yang berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan. Menurutnya, makna kurban tidak hanya sebatas meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menjaga kelestarian lingkungan dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tetapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” ujar Yasin, Rabu (27/5/2026). Pada pelaksanaan kurban tahun ini, jumlah hewan yang disembelih meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2025 sebanyak 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyembelih 20 ekor sapi serta 48 ekor kambing atau domba yang telah dipastikan dalam kondisi sehat dan bebas cacat. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I. Distribusi daging kurban tidak hanya menyasar sivitas akademika dan masyarakat sekitar kampus, tetapi juga diberikan kepada penghuni Lapas Perempuan dan Lapas Laki-Laki Malang. Selain itu, UMM juga menyalurkan enam ekor sapi hidup ke Sumbawa sebagai bagian dari program pemerataan manfaat kurban. Untuk menjamin pembagian yang adil dan merata, panitia menerapkan sistem pengelolaan berbasis data bobot hewan. Setiap sapi dipilih sesuai kebutuhan jumlah paket yang akan didistribusikan. “Kami memilih sapi berdasarkan bobotnya. Ketika membutuhkan 150 hingga 200 paket, kami menyesuaikannya dengan sapi berbobot sekitar 500 kilogram. Jadi penyembelihan dilakukan berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi,” jelasnya. Setiap paket daging kurban berisi antara 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Seluruh proses distribusi melibatkan 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, serta 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menambahkan, proses pengemasan dilakukan secara higienis dengan tetap mempertahankan prinsip ramah lingkungan melalui penggunaan bahan-bahan alami. “Pakai besek, dialasi daun, kemudian talinya menggunakan tali serabut,” katanya. Melalui program kurban go green ini, UMM ingin menunjukkan bahwa ibadah keagamaan dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi berbagai institusi dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sehingga manfaat kurban tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga lingkungan yang lebih bersih dan lestari.
Ribuan Jamaah Padati Helipad UMM, Khotbah Iduladha Sentil Isu Sampah Makanan dan Krisis Ekologi

Di tengah ancaman krisis iklim dan permasalahan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Iduladha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan tajam mengenai penyelamatan ekologis ini menggema kuat saat ribuan jamaah salat Iduladha 1447 Hijriah memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 27 Mei 2026. Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang terus merusak tatanan bumi. Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., mengingatkan bahwa setiap bentuk ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban mutlak menjaga kelestarian alam. Ia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang-buang makanan dan terjebak pada gaya hidup jangka pendek, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah, kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkorban yang ditanamkan harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Lebih jauh, Jainuri menguraikan bahwa kurban adalah simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan sebuah peradaban. Ia menilai umat Islam sesungguhnya mampu mengembalikan kejayaan masa lalu asalkan bersedia menyingkirkan egosentrisme yang selama ini menghalangi kepedulian manusia terhadap tatanan sosial maupun alam sekitar. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan untuk menciptakan kebaikan dan melestarikan keseimbangan tatanan kehidupan di alam ini dengan menyingkirkan rintangan serta kesulitan yang ada pada diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan napas perjuangan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengaitkan nilai pengorbanan dengan dedikasi di dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa mencetak generasi unggul membutuhkan kerja keras yang didasari ketauhidan berbalut kasih sayang, guna menolak praktik keberagamaan yang sekadar mengandalkan slogan tanpa memberikan kemanfaatan yang nyata bagi peradaban. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sangat sejalan dengan fungsi perguruan tinggi agar memberikan dampak langsung, kemanfaatan kepada masyarakat luas, yakni kampus UMM sebagai solution center of excellence,” ungkap Juanda. Pada akhirnya, perayaan Iduladha di Kampus Putih ini menitipkan pesan esensial bagi seluruh umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah permulaan, ujian sesungguhnya terletak pada bagaimana manusia secara konsisten memotong sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam keseharian. Melalui integrasi antara kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, masyarakat diharapkan mampu bergandengan tangan memelopori peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta, menjadikan setiap keringat perjuangan sebagai solusi konkret atas krisis zaman.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tinggalkan Kresek, UMM Konsisten Terapkan Go Green Dalam Penyaluran Ribuan Paket Kurban

Masalah tumpukan sampah plastik selalu menjadi bayang-bayang kelam di balik semaraknya perayaan Iduladha setiap tahunnya. Menjawab tantangan krisis lingkungan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah 6 tahun konsisten dalan mengambil langkah proaktif dengan menggelar kurban berkonsep go green pada perayaan Iduladha 1447 Hijriah. Meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, Kampus Putih ini mendistribusikan lebih dari 2.500 paket daging kurban menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat dengan tali serabut kelapa. Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Pihaknya menegaskan bahwa esensi berkurban bukan semata-mata untuk meraih derajat takwa di hadapan Tuhan, melainkan juga wujud nyata kepedulian manusia dalam menjaga kelestarian alam dan peradaban. ”Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegas 27 Mei kepada Humas UMM. Penyelenggaraan kurban tahun ini juga mencatatkan peningkatan jumlah hewan dari 18 ekor pada tahun sebelumnya menjadi 20 ekor sapi, beserta sejumlah kambing yang disiapkan tanpa cacat. Distribusi daging mencakup ranah internal kampus, warga sekitar, Lapas Perempuan dan Laki-laki Malang, hingga disebar ke Sumbawa dalam bentuk Sapi hidup sebanyak 6 ekor. Untuk memastikan pembagian yang adil dan merata, Yasin memaparkan bahwa manajemen penyembelihan dilakukan secara presisi dengan menghitung persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi, bukan sekadar menebak ukuran. ”Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Paket yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang ditambahkan dengan tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging dalam besek ramah lingkungan ini merupakan hasil sinergi dari pendanaan sukarela dosen dan karyawan, yang dieksekusi oleh 27 panitia inti, 70 anggota tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin merinci bahwa seluruh proses pengemasan dikawal ketat agar tetap higienis, natural, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. ”Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Momentum Iduladha di Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bagi masyarakat luas. Melalui kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Harapannya, inovasi penggunaan besek bambu ini dapat menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai, sehingga keberkahan kurban turut dirasakan oleh alam semesta melalui lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban dari Malang Raya Hingga Sumbawa

Mengusung semangat kepedulian sosial yang inklusif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif. Pendistribusian tahun ini difokuskan pada perluasan jangkauan, tidak hanya menyasar kantong-kantong persyarikatan dan wilayah pelosok, tetapi juga didistribusikan secara khusus bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) serta sekolah-sekolah mitra. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa pendistribusian puluhan ekor sapi dan kambing tahun ini menjangkau teritori yang sangat luas, membentang dari Malang Raya hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menambahkan bahwa penyaluran ini turut mengakomodasi berbagai permintaan dari elemen masyarakat, yayasan, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang selama ini menjadi penyumbang mahasiswa terbanyak bagi Kampus Putih. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkapnya 26 Mei kepada Humas UMM. Selain memastikan pemerataan distribusi, UMM juga sangat menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan yang disalurkan. Ali menegaskan bahwa seluruh hewan kurban, baik sapi maupun kambing dan domba, telah dipastikan lolos dalam pemeriksaan kesehatan hewan kurban secara ketat. Langkah preventif ini dilakukan guna menjamin bahwa hewan-hewan tersebut berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular, serta telah memenuhi standar syariat berkurban sebelum diserahkan kepada para penerima manfaat. Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa UMM memberikan perhatian khusus bagi warga binaan dengan menyesuaikan wujud pendistribusian berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Lapas khusus laki-laki mendapatkan hewan kurban hidup, sementara Lapas perempuan menerima paket daging siap olah guna menyiasati keterbatasan tenaga jagal. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk Lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegasnya. Di tengah masifnya proses distribusi tersebut, UMM tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan dengan menerapkan konsep kurban Go Green. Kampus Putih mengganti total penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan wadah organik yang ramah lingkungan sekaligus membawa dampak ekonomi bagi perajin lokal. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali. Dampak positif pendistribusian hewan kurban ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak, salah satunya adalah perwakilan institusi pendidikan yang selama ini menjalin sinergi erat dengan UMM. Guru SMA Negeri 1 Kota Batu, Eko, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas perhatian kampus putih yang telah menyalurkan hewan kurban ke sekolahnya. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” ujar Eko. *(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Hanya Dosen dan Mahasiswa, Tendik UMM Buktikan Diri Tembus 10 Besar Lomba Puisi Nasional

Panggung prestasi tak melulu menjadi milik dosen dan mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik) nyatanya juga mampu unjuk gigi dan mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Agung Prabowo, seorang tendik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses menembus 10 besar harapan dalam kompetisi bergengsi Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA). Kompetisi bergengsi yang digagas oleh komunitas Forum Lingkar Pena sejak tahun 2011 tersebut mengangkat tema besar “Indonesiaku”. Pada ajang tahun ini, peserta dari berbagai penjuru Nusantara bersaing ketat untuk memperebutkan posisi terbaik yang dinilai langsung oleh sastrawan kenamaan nasional, Helvy Tiana Rosa. Agung menjelaskan bahwa karyanya berhasil lolos kurasi dari ratusan naskah yang masuk untuk kemudian dibukukan bersama penulis-penulis hebat lainnya. “Pesertanya sekitar 120 orang, lalu dikurasi menjadi sekitar 70 karya untuk dibukukan oleh Helvy Tiana Rosa. Alhamdulillah, saat diumumkan pada 16 mei lalu, karya saya masuk 10 besar harapan,” ungkapnya. Prestasi ini diraih lewat karya puisinya yang bertajuk “Ironi di Negeriku”. Puisi tersebut menjadi medium kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah yang memicu ketimpangan, utamanya dalam menghargai perjuangan di dunia pendidikan formal. Ia menyoroti fenomena di mana gelar akademik seolah kehilangan nilainya di tengah dinamika program-program baru yang menuai pro dan kontra di masyarakat. “Puisi itu tentang ironi negeri ini. Ada program-program yang menurut saya terasa tidak adil bagi mereka yang sudah berjuang menempuh pendidikan sarjana bertahun-tahun,” tegasnya. Bagi pria yang kesehariannya bertugas di balik layar administrasi kampus ini, sastra adalah wadah elegan untuk menyampaikan kritik. Menariknya, rekam jejak Agung sebelumnya lebih banyak berkutat pada literatur nonfiksi, sehingga puisi menjadi medium baru untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa keuntungan terbesar dari ajang ini adalah kesempatan bersejarah bersanding dengan tokoh sastra Indonesia. “Sebelumnya saya banyak menulis buku nonfiksi. Tapi belakangan ini saya ingin mencoba tantangan baru lewat puisi,” paparnya. Lewat puisinya, Agung tidak sekadar menata kata, tetapi mengirimkan pesan kuat. Ia membuktikan bahwa semangat literasi, ketajaman berpikir kritis, dan prestasi gemilang dapat lahir dari siapa saja yang memiliki tekad, termasuk dari mereka yang selama ini sunyi bekerja menjaga denyut nadi universitas. (*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dua Mahasiswa UMM Sabet Juara Golf Nasional

Olahraga golf acap kali dipandang sekadar sebagai hobi eksklusif kalangan atas atau sekadar jalan santai. Padahal, olahraga ini sejatinya menuntut ketahanan fisik ekstra dan perhitungan presisi di atas padang rumput yang luas. Menepis anggapan miring tersebut sekaligus membuktikan kualitas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menaklukkan teriknya cuaca Surabaya dan sengitnya persaingan dengan memborong gelar juara. Prestasi membanggakan ini ditorehkan pada ajang bergengsi Pertandingan Golf Piala Wali Kota Surabaya yang digelar di Bukit Darmo Golf, 16–17 Mei 2026 lalu yang diikuti oleh 200 pegolf dari berbagai daerah. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM selalu mewadahi potensi mahasiswanya. Pada kompetisi yang diikuti oleh puluhan peserta unggulan dari berbagai rentang usia tersebut, kontingen Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Golf UMM sukses membawa pulang dua piala sekaligus. Muhammad Fikri Fakhruddin, mahasiswa Program Studi Agribisnis angkatan 2023, tampil apik dengan menyabet juara pada kategori Best Gross Class A+. Kesuksesan ini disempurnakan oleh delegasi lainnya, Aisya Allea, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024, yang mantap mengamankan predikat Runner Up Gross pada kategori Ladies. Pertandingan yang berjalan selama dua hari berturut-turut ini jelas bukan perkara mudah. Para peserta diwajibkan berjalan kaki menempuh 18 hole setiap harinya di bawah sengatan matahari dari siang hingga sore. Menghadapi tantangan berat tersebut, tim UKM Golf UMM telah mematangkan persiapan melalui pemusatan latihan intensif sejak dua minggu sebelum turnamen. Fikri menjelaskan bahwa kunci utama kemenangannya terletak pada kemampuan mengatur strategi manajemen lapangan dan ketepatan memilih alat untuk mencapai target sasaran. “Strateginya yaitu kita melakukan management course di lapangan dengan perhitungan jarak agar bisa menentukan penggunaan stik iron yang tepat untuk mencapai target,” jelas Fikri. Lebih lanjut, kompetisi ini tidak hanya memeras keringat, tetapi juga menjadi ajang melatih seni pengambilan keputusan di bawah tekanan. Akurasi pukulan sangat bergantung pada ketenangan pikiran, sedikit saja fokus goyah akibat rasa lelah, maka strategi yang telah disusun dapat berantakan. Menghadapi hal tersebut, mental juara Fikri tidak lepas dari fasilitas dan ekosistem kampus yang menunjang. Ia menuturkan bahwa dukungan pendanaan penuh dari pihak kampus, mulai dari pendaftaran hingga akomodasi, membuat para atlet bisa bertanding tanpa memikirkan beban biaya logistik yang terbilang sangat mahal dalam olahraga ini. “Atlet ini jika tidak mendapat dukungan kampus pasti benar-benar mengeluarkan banyak biaya karena pengeluaran di golf itu sangat besar, alhamdulillah masalah biaya dari kampus semuanya teratasi,” ungkap pemuda tersebut dengan rasa syukur. Prestasi bergengsi di ajang Piala Wali Kota Surabaya ini bukanlah titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan. Ke depannya, Fikri bertekad kuat untuk terus mengasah kemampuannya demi mewujudkan impian besar menjadi atlet golf profesional yang kelak menembus panggung internasional. Menutup perbincangan, ia menitipkan pesan pemantik semangat kepada rekan-rekan mahasiswa lain yang sedang merintis jalan di berbagai bidang minat dan bakat. “Kalau kalian memang memiliki niat, usahakan dengan sungguh-sungguh dan jangan setengah-setengah, agar semua yang dibangun bisa terbentuk secara maksimal,” pungkasnya. Menanggapi torehan gemilang ini, Kepala Bagian (Kabag) Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan pembinaan dan komitmen institusi dalam mengawal potensi mahasiswa. “UMM senantiasa berkomitmen untuk memfasilitasi dan mengembangkan minat bakat mahasiswa secara penuh, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Keberhasilan kontingen UKM Golf memborong juara ini sangat membanggakan. Kami berharap fasilitas dan ekosistem pendukung yang terus disiapkan kampus dapat melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang siap bersaing di level nasional hingga internasional,” tegasnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Selaraskan Kurikulum dengan DUDI
Aturan Masuk SD Usia 5,5 Tahun Dikritik, Pakar UMM Ingatkan Risiko Anak Stres dan Mogok Sekolah

Malang (beritajatim.com) – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun menuai sorotan dari kalangan akademisi. Aturan baru tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan psikologis pada anak apabila tidak diimbangi kesiapan guru dan manajemen sekolah. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., mendesak pemerintah segera melakukan peningkatan kompetensi pedagogi bagi guru kelas satu SD agar mampu menangani siswa usia dini dengan pendekatan yang tepat. Menurut Arina, selama ini kurikulum pendidikan guru lebih banyak disiapkan untuk menangani siswa usia 7 hingga 12 tahun, sehingga guru berpotensi kesulitan ketika menghadapi anak usia 5,5 tahun yang masih berada dalam fase transisi PAUD ke SD. “Pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD sudah menjadi agenda yang sangat mendesak,” tegas Arina kepada beritajatim.com, Senin (25/5/2026). Ia mengingatkan, tanpa pelatihan khusus, guru bisa memaksakan standar pembelajaran anak usia tujuh tahun kepada siswa yang secara emosional dan psikologis belum siap. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ujarnya. Arina juga meminta sekolah melakukan adaptasi serius dalam penerapan kebijakan baru tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan kelas transisi bagi siswa baru kelas satu SD. Menurutnya, ruang kelas perlu didesain lebih ramah anak dengan menyediakan area bermain dan suasana belajar yang tidak terlalu kaku. Selain itu, sekolah juga diminta menerapkan asesmen awal saat masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa, bukan sebagai alat seleksi masuk sekolah. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Dalam proses pembelajaran, Arina menyarankan guru menggunakan pendekatan singkat, aktif, dan menyenangkan karena rentang fokus anak usia 5,5 tahun masih terbatas. Ia menyebut guru dapat menerapkan pola belajar “15-5-15”, yakni 15 menit pembelajaran inti, lima menit aktivitas bergerak atau bernyanyi, kemudian dilanjutkan kembali dengan 15 menit kegiatan belajar. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” jelasnya. Sebagai penutup, Arina meminta pemerintah tidak menerapkan kebijakan tersebut secara seragam di seluruh daerah tanpa evaluasi berkala terkait dampaknya terhadap kondisi psikologis anak. “Pemerintah harusnya segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” pungkasnya. [dan/beq]
Pakar UMM Malang Ingatkan Dampak Psikologis Kebijakan Masuk SD Usia 5,5 Tahun

timesindonesia, MALANG –Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menetapkan kebijakan baru mengenai batas usia anak untuk dapat masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Jika biasanya anak bisa masuk SD ketika usia 7 tahun, kebijakan baru pemerintah tersebut melonggarkan batas usia menjadi minimal 5,5 tahun. Lantas, apakah kebijakan tersebut efektif terhadap proses pembelajaran anak? Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa keputusan tersebut dapat menjadi bom waktu apabila tidak dibarengi perbaikan sistem pembelajaran tingkat SD. Ia menilai, terutama kompetensi padegogi guru perlu ditingkatkan supaya dapat mencegah stress pada anak nantinya. “Kebijakan tersebut perlu dibarengi perbaikan sistem serta peningkatan padegogi guru supaya seimbang,” ujarnya. Arina menilai, kurikulum pendidikan bagi guru saat ini lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Apabila pendidik tidak dibuatkan masa transisi untuk adaptasi, dikhawatirkan mereka akan gagap saat menghadapi tantrum dan akan kesulitan mengelola emosi anak. Arina juga menekankan apabila hal tersebut tetap dipaksakan sejak awal, maka dapat berakibat fatal. Anak dapat merasa tertekan, stress, mogok sekolah, dan guru akan rentan melabeli mereka sebagai siswa yang lambat belajar. “Dikhawatirkan anak bisa stress hingga mogok sekolah, guru juga rentan melabeli mereka lambat belajar padahal itu normal di usia mereka,” tambahnya. Ia pun menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Ia pun menyarankan untuk mencegah hal tersebut terjadi, manajemen sekolah perlu melakukan tiga adaptasi krusial. Pertama, sekolah wajib mendesain Kelas satu Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. Lanjutnya, sekolah perlu memangkas waktu belajar 20-30 menit yang diselingi istirahat supaya anak tidak kaget dengan rutinitas baru mereka. Arina menambahkan, untuk anak rentang usia 5,5 tahun, pendekatan pembelajaran di kelas harus berpegang pada prinsip “Singkat – Bergerak – Bermain” dan maksimal 15 menit. Hal tersebut untuk mencegah anak tertekan pada minggu-minggu awal. “Guru dapat menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi,” tambahnya. Ia juga mengingatkan untuk guru menghindari memberikan lembar tugas dahulu dan menyarankan untuk memberikan keleluasaan bagi siswa serta apresiasi sekecil apapun keberanian siswa. Terakhir, ia juga menghimbau Pemerintah untuk tidak menerapkan kebijakan tersebut secara rata. Harus ada asesmen ketat terkait kesiapan psikologis anak. Pemerintah juga dituntut untuk segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. (*)