Bukti Nyata Wujud Kampus Berdampak, UMM Terima Penghargaan dari Kemendukbangga

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menoreh penghargaan, kali ini dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga). Penghargaan tersebut diberikan pada 10 Desember lalu pada forum “GENTING COLLABORATION SUMMIT TAHUN 2025” dengan tema “Sinergi Untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting”. Kampus Putih mendapat penghargaan Gold Kategori Perguruan Tinggi berkat dedikasinya dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Sebagai Kampus Berdampak, UMM konsisten menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui riset terapan dan program pengabdian yang langsung menjawab persoalan di lapangan. Berbagai kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membawa perubahan yang dapat dirasakan. Penghargaan dari Kemendukbangga semakin meneguhkan komitmen UMM untuk terus hadir dan berkontribusi dalam memajukan bangsa. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. Mengatakan bahwa penghargaan tersebut diaraih tidak lain mengingat kontribusi UMM dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Salah satunya yang baru-baru ini dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini berupakan komitmen nyata bahwa riset itu sejatinya tidak boleh hanya secara konseptual, namun juga secara konkret dirasakan oleh masyarkat. “Beberapa waktu lalu, kami kirimkan lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Disana ada banyak persoalan masyarakat terkait dengan stunting, kemiskinan ekstrim, serta ada juga persoalan di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan” jelasnya. Banyak sekali program yang dilakukan tim dosen UMM saat di NTT, mulai dari Pelatihan Pengolahan Nutricorn yang secara inovatif memanfaatkan kekayaan bahan baku lokal NTT. Pendampingan pada komoditas hortikultura, padi, dan jagung. Pendampingan pakan ternak dan kesehatan hewan. Penataan kembali praktik budidaya dan manajemen perikanan, dan masih banyak lagi. “Semua itu awalnya hasil riset dari para akademisi di UMM, kami punya program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat. Harapannya itu semua mampu memberikan dampak positif langsung kepada masyarakat” ujarnya Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) UMM merupakan inisiatif strategis UMM untuk mendorong pembangunan daerah melalui pendampingan langsung oleh para profesor dan tenaga ahli. Program ini mengintegrasikan riset, inovasi, serta pengabdian masyarakat dengan fokus pada sektor-sektor prioritas seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah dan masyarakat, P3M UMM bertujuan meningkatkan produktivitas, pendapatan, serta kesejahteraan warga, sekaligus mengatasi persoalan mendesak seperti kemiskinan dan stunting di berbagai wilayah Indonesia. Terakhir, ia berharap melalui penghargaan ini mampu memberikan motivasi kepada seluruh akademisi UMM untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Salis menegaskan bahwa kampus itu harus berdampak menyelesaikan persoalan di masyarakat. Ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa kampus putih selalu siap sedia untuk hadir dalam memajukan bangsa. “tentu kami ucapkan terimakasih kepada Kemendukbangga karena telah memberikan penghargaan ini kepada kampus putih. Kami berkomitmen penuh untuk terus mengabdi dalam meningkatkan dan menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat.” Tutupnya (*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Borong Penghargaan Bergengsi di KKI: Bukti Keunggulan Inovasi Mahasiswa

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya. (diko)

UMM Soroti Peran Tersembunyi Pekerja Sosial Medis dalam Sistem Kesehatan Indonesia

Program Studi Kesejahteraan Sosial (Prodi Kesos) Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan forum akademik strategis melalui Kuliah Tamu Nasional bertajuk “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial”. Acara yang berlangsung pada Rabu (10/12/2025) di Aula BAU Kampus III UMM itu dihadiri ratusan peserta, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga mitra Prodi Kesos dari berbagai lembaga dan institusi praktik. Dalam pemaparannya, dr. Yuniar, Sp.KJ, MMRS selaku Direktur RS Radjiman Wedyodiningrat menjelaskan bahwa kontribusi pekerja sosial di rumah sakit masih sering tidak terlihat oleh masyarakat, padahal perannya sangat vital. Ia mencontohkan kasus pasien dengan gangguan jiwa yang kerap mengalami penolakan dari keluarga maupun lingkungan. Pada situasi seperti itu, pekerja sosial berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus. Yuniar menambahkan bahwa rumah sakit yang ia pimpin telah menerapkan model pelayanan multidisiplin, khususnya untuk menangani pasien dengan kebutuhan kompleks. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas profesi adalah kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pekerja sosial berkontribusi dalam edukasi masyarakat, asesmen kebutuhan, hingga advokasi akses layanan kesehatan. Sejak 2022, penguatan peran mereka dilakukan melalui berbagai kerja sama, termasuk dengan platform kitabisa dalam membantu pasien yang menghadapi kendala biaya. “Mulailah dari hal kecil, bangun portofolio, dan tunjukkan dampak kalian. Apapun pilihanmu, cintai bidang itu,” pesannya. Sementara itu, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, memaparkan peluang sekaligus tantangan praktik pekerja sosial medis di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kebutuhan terhadap profesi ini semakin meningkat seiring kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat. Pekerja sosial medis, lanjutnya, menjadi penghubung antara kebutuhan medis dan sosial pasien, mencakup manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga penyusunan rencana keberlanjutan layanan. “Masih banyak kendala yang muncul, seperti regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, minimnya tenaga terlatih, serta pemahaman antarprofesi yang belum merata mengenai kontribusinya,” jelasnya. Melihat kondisi tersebut, Rinikso mendorong adanya langkah strategis untuk memperkuat kompetensi pekerja sosial medis serta penguatan kebijakan agar perannya semakin diakui. Ia menilai peningkatan kapasitas, advokasi regulasi, dan kolaborasi lintas profesi merupakan kunci mewujudkan layanan kesehatan yang komprehensif. Kuliah tamu ini diharapkan dapat membuka wawasan mahasiswa, bukan hanya sebatas teori pelayanan sosial, tetapi juga peluang peran pekerja sosial dalam ranah medis dan layanan publik. Kolaborasi antarprofesi menjadi elemen penting untuk menghadirkan layanan sosial yang memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Gelar Kuliah Tamu Bahas Transformasi Pelayanan Sosial

Malang-harianjatim.com. Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian kegiatan Kuliah Tamu Nasional. Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial, menjadi tema dalam kegiatan yang diselenggarakan Rabu, 10 Desember 2025 di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara ini dihadiri oleh 300 orang peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa serta mitra Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dalam berbagai program pengabdian dan praktik lapangan, dan dibuka oleh Wakil Rektor I UMM. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Hutri Agustino., Ph.D menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan dalam pelayanan sosial. “Perubahan sosial yang cepat menuntut kita untuk menghadirkan pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti,” katanya. Dia berharap forum itu dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor agar transformasi pelayanan sosial dapat berjalan secara lebih efektif, termasuk dalam layanan multi profesi di rumah sakit. “Sehingga, profesi Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan dalam praktik multi profesi tersebut. Karena dengan pendekatan holistik, kolaboratif dan integratif—diharapkan lembaga kesejahteraan sosial dapat memberikan layanan sosial terbaik,” jelas dia. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan sosial, sekaligus mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan kuliah tamu nasional ini menghadirkan sesi pemaparan dan diskusi yang berfokus pada perspektif strategis mengenai praktik pekerja sosial medis dan kolaborasi multi profesi di rumah sakit. Sesi pertama disampaikan oleh dr. Yuniar., Sp.KJ. MMRS selaku Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, yang menyampaikan materi tentang “Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit.” Ia menjelaskan bagaimana model pelayanan multidisiplin telah diterapkan di RS dr. Radjiman Wediodiningrat untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat berpengaruh terhadap hasil pelayanan. Ia mencontohkan bagaimana koordinasi terstruktur dalam tim layanan dapat mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. “Kolaborasi multi profesi menjadi kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien,” terang dia. Sesi kedua disampaikan oleh Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang mengulas tentang “Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia.” Dalam paparannya, Dr. Rinikso menekankan bahwa kebutuhan akan pekerja sosial medis semakin meningkat seiring kompleksitas permasalahan kesehatan masyarakat. Ia memaparkan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran kunci dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien, terutama dalam manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan signifikan, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, keterbatasan jumlah SDM terlatih, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi mengenai kontribusi pekerja sosial dalam sistem kesehatan. Sehingga dibutuhkan penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antarprofesi agar pelayanan kesehatan lebih komprehensif.

Dosen UMM-MGMP Matematika Kabupaten Gresik FGD Media Pembelajaran Berbasis Lingkungan, Menggunakan FAVA Methods

TABLOIDMATAHATI.COM, GRESIK– Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd, hadir sebagai nara sumber utama dalam  Focus Group Discussion (FGD) Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk Pembuatan Media Pembelajaran Berbahan Plastik Ramah Lingkungan Menggunakan FAVA Methods untuk Pendidikan Berkelanjutan, (8/12) 2025 bersama (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP Matematika Kabupaten Gresik. Saat menjadi narasumber tersebut, Dyah – begitu Dyah Worowirastri Ekowati disapa- menjelaskan konsep integrasi berbasis isu lingkungan ke dalam pembelajaran matematika. Topik ini menjadi diskusi strategis para guru matematika SMA untuk memahami urgensi pemanfaatan sampah plastik sebagai media pembelajaran. Ketika opening diskusi Dyah bertanya kepada peserta MGMP  matematika tentang media pembelajaran berbasis lingkungan yang ternyata belum pernah digunakan oleh para guru matematika dalam mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi media ramah lingkungan dalam pembelajaran matematika masih minim. Persepsi umum tentang matematika SMA itu sudah dipandang abstrak jadi tidak perlu media. Dyah lantas menjelaskan dalam teori perkembangan kognitif Piaget, meskipun siswa SMA berada pada tahap berpikir abstrak, bukan berarti seluruh materi dapat diajarkan tanpa visualisasi. Ada beberapa konsep matematika yang jika tidak kuat diawal, terutama pada fase konkret maupun semi-konkret, anak-anak membutuhkan visualisasi untuk menjembatani menuju semi-abstrak hingga abstrak. Itu sebabnya diperlukan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat bermakna bagi siswa karena untuk membuat konsep matematika lebih konkret dan mudah dipahami. Sehingga media yang digunakan tidak hanya sebatas materi peluang, trigonometri tapi belum mengangkat isu lingkungan. Nah, dari FGD ini dilanjutkan Dr Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd, mulai memaparkan bagaimana memanfaatkan sampah plastik sebagai media pembelajaran Reduce yang edukatif, murah, relevan, dan berorientasi lingkungan. Konsep matematika dapat divisualisasikan dengan media dari limbah plastik seperti botol, tutup botol, gelas plastik, kemasan transparan, dan potongan plastik mika. Kalau menggunakan bahan ramah lingkungan seperti plastik. Contohnya seperti statistik yang bisa divisualisasikan melalui sampah plastik sebagai data konkret. Pembahasan berkembang ketika Dyah dan Agung mengajak peserta FGD menerapkan media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan. Peserta menyampaikan bahwa guru perlu menyiapkan materi, kondisi siswa, alokasi waktu, alat, bahan, langkah pembelajaran, hingga latar belakang siswa. Persiapan matang menjadi kunci media pembelajaran bisa dimanfaatkan sesuai tujuan pembelajaran, bukan sekadar proyek kreatif semata. Selain itu, Dyah menegaskan pentingnya penentuan strategi pembelajaran dan penyusunan tahapan kegiatan sebelum media digunakan. Pendekatan FAVA Methods (Find, Analyze, Visualize, Apply) menjadi metode efektif yang membantu guru menelusuri potensi sampah plastik, menganalisis kesesuaiannya dengan materi matematika, memvisualisasikannya dalam bentuk media konkret, kemudian menerapkannya dalam pembelajaran nyata di kelas. “Kami mengajak guru matematika memahami bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi dapat menjadi sarana edukatif bernilai tinggi. Media berbahan plastik bekas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti model bangun ruang dari botol plastik, spinner peluang dari tutup botol, papan trigonometri dari plastik mika, hingga alat peraga operasi bilangan. Dengan demikian, sampah plastik bukan hanya diolah kembali, tetapi diberi makna baru sebagai alat pembelajaran Reduce,” ujar Dyah dosen Prodi PGSD UMM ini. Dari tindaklanjut diskusi ini, Dyah mengumumkan lomba media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan tingkat SMA se-Kabupaten Gresik. Lomba ini akan diikuti 20 sekolah negeri maupun swasta, dengan tiga kategori penghargaan yaitu media terkreatif, terinovatif, dan terfavorit. Program ini diharapkan mendorong siswa sekaligus guru untuk terus bereksperimen dengan media berbasis sampah plastik. Sebagai closingnya Dyah berharap FGD ini dapat memperkaya wawasan guru mengenai konsep pembelajaran berkelanjutan, sekaligus menjadikan matematika dapat diajarkan dengan cara yang lebih konkret, aplikatif, dan memiliki nilai ekologis. Salah satu peserta FGD, Fitri Andriyani, M.Pd, dari SMA Muhammadiyah 10 Gresik, menjelaskan bahwa meskipun terdapat banyak materi abstrak, beberapa konsep tetap membutuhkan media konkret sebagai jembatan dari tahap konkret menuju abstrak. (rilis humas/don)

Kesenjangan Kompetensi Hambat Pekerja Disabilitas Masuk Industri

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, yang dikenal aktif berkolaborasi dengan Lingkar Sosial Indonesia dalam pendampingan penyandang disabilitas, mengungkapkan masih adanya kesenjangan besar antara semangat individu berkebutuhan khusus (IBK) untuk bekerja dan terbatasnya akses pelatihan yang mereka butuhkan. Hal ini disampaikan dalam wawancara di Fakultas Psikologi UMM, Rabu (10/12/2025). Menurut May Lia, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki career self-efficacy yang baik, artinya mereka meyakini kemampuan diri dan prospek kariernya, namun keyakinan itu belum diimbangi dengan kesempatan pengembangan kompetensi yang memadai. “Mereka punya keinginan kuat untuk berkembang. Banyak klien saya yang selalu bertanya ingin ikut kegiatan atau pelatihan. Namun keterbatasan dana membuat mereka tidak bisa mengakses training yang dibutuhkan,” jelasnya. Ia menambahkan, sejumlah perusahaan sebenarnya membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas, namun kualifikasi kompetensi yang dibutuhkan sering kali tidak dapat dipenuhi karena minimnya pendidikan vokasional. “Perusahaan ingin merekrut, tetapi sourcenya tidak ada,” tegasnya. Selama bekerja bersama Lingkar Sosial Indonesia dan komunitas disabilitas lainnya, May Lia melihat perlunya penguatan ekosistem pemberdayaan, mulai dari akademisi, praktisi, pemerintah, pelaku industri, hingga organisasi penyandang disabilitas. Menurutnya, OPDs (Organization People with Disabilities) memiliki peran penting menjaga keberlanjutan pendampingan. Ia juga menilai bahwa pemerintah perlu hadir lebih kuat, tidak hanya dalam bentuk bantuan material, tetapi juga membuka akses terhadap program riset, pengabdian, dan ruang kolaborasi lintas sektor. “Kita tidak bisa bergerak mudah ketika pemerintah kurang proaktif. Akses dari pemerintah dapat menjadi katalisator untuk mempelajari dan memberdayakan IBK secara lebih luas,” ujarnya.

UMM Dorong Penguatan Peran Pekerja Sosial Medis di Rumah Sakit

MAKLUMAT – Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berusaha mendorong penguatan peran pekerja sosial medis dalam layanan kesehatan. Sejumlah praktisi yang meliputi dosen, mahasiswa, hingga mitra strategis turut melakukan praktik lapangan Penguatan ini terlihat dalam Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu (10/12/2025). Kegiatan ini dihadiri 300 peserta, yang juga menyaksikan langsung bagaimana pentingnya kolaborasi lintas profesi di rumah sakit sebagai wajah baru pelayanan kesehatan modern. Tantangan Profesi di Era Instan Wakil Rektor I UMM membuka acara, disusul sambutan dari Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Dalam kesempatan itu, Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, Ph.D. Ia menegaskan bahwa layanan kesehatan masa kini menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif. “Perubahan sosial yang cepat mengharuskan pelayanan kesehatan bergerak ke arah yang lebih holistik dan kolaboratif. Di sinilah pekerja sosial medis mengambil peran penting,” ujarnya. Ia menekankan bahwa profesi tersebut semakin dibutuhkan, terutama dalam sistem pelayanan rumah sakit yang melibatkan multi profesi. Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, dr. Yuniar, Sp.KJ., MMRS mengisi sesi pertama. Melalui topik Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit, ia menegaskan bahwa pelayanan yang efektif tak lagi bisa berjalan secara sektoral. “Kolaborasi dokter, perawat, psikolog, dan pekerja sosial medis berdampak langsung pada kecepatan diagnosa, minimnya miskomunikasi, serta meningkatnya kepuasan pasien,” jelasnya. Ia mencontohkan bagaimana model layanan multidisiplin diterapkan dalam menangani pasien dengan kebutuhan kompleks. Para pekerja sosial medis berperan menjembatani aspek sosial pasien, membantu keluarga memahami kondisi, hingga merumuskan keberlanjutan layanan. “Inilah penguatan layanan kesehatan yang berorientasi pada pasien,” tegasnya. Sesi berikutnya menghadirkan akademisi UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si., yang mengupas Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan tenaga profesional di bidang ini terus meningkat seiring keragaman masalah kesehatan masyarakat. Pentingnya Kolaborasi Lintas Profesi Namun, tantangannya tak sedikit, mulai dari regulasi yang belum sepenuhnya mendukung, keterbatasan SDM terlatih, hingga minimnya pemahaman lintas profesi tentang kontribusi pekerja sosial dalam tim medis. “Peran pekerja sosial medis itu kunci. Mereka menjembatani sisi medis dan sosial pasien, sesuatu yang tak bisa dikerjakan profesi lain. Karena itu, penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan kolaborasi antarprofesi harus terus ditingkatkan,” ujarnya. Melalui forum ini, UMM menegaskan komitmennya untuk memperkuat pembangunan sosial dan mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan global. Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berharap pekerja sosial medis semakin diakui sebagai bagian penting dalam pelayanan kesehatan modern, sekaligus menjadi motor perubahan dalam sistem rumah sakit di Indonesia.

Tim Mekatronik UMM Sabet Sejumlah Gelar di Kontes Kapal Indonesia 2025

Malang | JATIMSATUNEWS.COM — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan taringnya di ajang teknologi maritim nasional. Tim Mekatronik kampus tersebut sukses memborong beberapa penghargaan pada Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025 yang berlangsung pada 4–6 Desember lalu. Dari kompetisi yang diikuti berbagai perguruan tinggi di Indonesia itu, Tim Mekatronik UMM membawa pulang Juara 3 Race FERC, Juara 1 Poster FERC, Best Speed FERC, serta predikat Tim Favorit. Capaian ini kian menegaskan kontribusi mahasiswa UMM dalam pengembangan inovasi perkapalan. Manager Tim Mekatronik UMM, Dewi Fatmawati, menyebut persiapan menuju kompetisi tahun ini terbilang berat. Seluruh tahapan—mulai perancangan mesin, riset sistem, hingga pembuatan bodi kapal—harus dilakukan dengan ketelitian tinggi lantaran kapal menggunakan bahan bakar bensin. “Presisi itu harga mati. Stabilitas dan kecepatan kapal sangat dipengaruhi detail kecil dari mesinnya. Kami memulai semuanya benar-benar dari nol, dari proposal sampai finishing video presentasi. Prosesnya sekitar enam bulan, dari Juni sampai Desember,” ujarnya. Fatma mengatakan timnya juga menghadapi berbagai kendala teknis, terutama terkait kestabilan kapal saat uji coba. Namun melalui evaluasi berulang dan dukungan dosen pembina, seluruh persoalan itu dapat diselesaikan hingga kapal siap turun ke arena. Ia menambahkan bahwa dukungan kampus turut menjadi faktor penting, baik dalam pendanaan, fasilitas, maupun pendampingan selama masa persiapan. Menutup keterangannya, Fatma berpesan agar generasi penerus Tim Mekatronik tetap menjaga keseimbangan antara kemampuan teknis dan kemampuan mengelola tim. “Jangan cuma mengejar nama besar tim. Kuasai teknis ‘how to build’, tapi juga kembangkan diri dan manajemen tim ‘how to grow’. Kalau mau berhasil, semuanya harus jalan bareng,” tegasnya. Prestasi ini memberikan sinyal bahwa persaingan inovasi teknologi di kalangan perguruan tinggi kian ketat, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa di daerah memiliki kapasitas yang tak kalah dengan kampus besar di pusat. (raf)

Inovasi, Kolaborasi, dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial

MALANG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan sesi ilmiah inspiratif dalam rangkaian kegiatan Kuliah Tamu Nasional bertema Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial pada Rabu, 10 Desember 2025 di Aula BAU Kampus III UMM. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat peran akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. Acara ini dihadiri oleh 300 orang peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa serta mitra Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dalam berbagai program pengabdian dan praktik lapangan. Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Rektor I UMM dan di awali oleh sambutan dari Ketua Program Studi dan Dekan FISIP. Dalam sambutannya, Hutri Agustino., Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan pentingnya inovasi sebagai motor penggerak perubahan dalam pelayanan sosial. Menurutnya bahwa perubahan sosial yang cepat menuntut kita untuk menghadirkan pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor agar transformasi pelayanan sosial dapat berjalan secara lebih efektif, termasuk dalam layanan multi profesi di rumah sakit. Sehingga, profesi Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan dalam praktik multi profesi tersebut. Karena dengan pendekatan holistik, kolaboratif dan integratif—diharapkan lembaga kesejahteraan sosial dapat memberikan layanan sosial terbaik. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan sosial, sekaligus mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan kuliah tamu nasional ini menghadirkan sesi pemaparan dan diskusi yang berfokus pada perspektif strategis mengenai praktik pekerja sosial medis dan kolaborasi multi profesi di rumah sakit. Sesi pertama disampaikan oleh dr. Yuniar., Sp.KJ. MMRS selaku Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat, yang menyampaikan materi tentang “Based Practice Pelayanan Multi Profesi di Rumah Sakit.” Ia menjelaskan bagaimana model pelayanan multidisiplin telah diterapkan di RS dr. Radjiman Wediodiningrat untuk meningkatkan efektivitas penanganan pasien, terutama pasien dengan kebutuhan kompleks. Menurutnya bahwa kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lain sangat berpengaruh terhadap hasil pelayanan. Ia mencontohkan bagaimana koordinasi terstruktur dalam tim layanan dapat mempercepat proses diagnosa, meminimalkan kesalahan komunikasi, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi multi profesi menjadi kunci keberhasilan layanan yang berorientasi pada pasien. Sesi kedua disampaikan oleh Dr Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial, yang mengulas tentang “Peluang dan Tantangan Praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia.” Dalam paparannya, Dr. Rinikso menekankan bahwa kebutuhan akan pekerja sosial medis semakin meningkat seiring kompleksitas permasalahan kesehatan masyarakat. Ia memaparkan bahwa pekerja sosial medis memiliki peran kunci dalam menjembatani aspek medis dan sosial pasien, terutama dalam manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan keberlanjutan layanan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan signifikan, mulai dari regulasi profesi yang belum sepenuhnya mengakomodasi peran pekerja sosial medis, keterbatasan jumlah SDM terlatih, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi mengenai kontribusi pekerja sosial dalam sistem kesehatan. Sehingga dibutuhkan penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, serta peningkatan kolaborasi antarprofesi agar pelayanan kesehatan lebih komprehensif.

Relawan UB-UMM Bantu Agam Pulihkan Diri dari Bencana

kabarpadang, Lubuk Basung – Pemerintah Kabupaten Agam menerima bantuan tenaga relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bantuan ini untuk mempercepat penanganan bencana alam yang melanda wilayah tersebut. Kedatangan tim relawan disambut di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Alam Kabupaten Agam, Balairong Rumah Dinas Bupati Agam, Rabu (10/12). Staf Ahli Bupati Agam, Dandi Pribadi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian para relawan. Ia mengatakan dukungan ini sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana. “Kabupaten Agam saat ini sangat membutuhkan dukungan tenaga relawan untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana,” kata Dandi. Dandi juga menjelaskan kondisi terkini bencana dan langkah-langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah daerah. Ketua Tim Relawan, Indra Feri, mengatakan 48 relawan diterjunkan dari UB dan UMM. Mereka akan fokus pada tenaga medis, psikososial, dan layanan WASH. Layanan WASH berupa penyaringan air bersih dengan 10 unit alat yang akan ditempatkan di titik-titik strategis. Dengan bantuan ini, diharapkan penanganan darurat dan pemulihan pascabencana di Agam dapat berjalan lebih cepat dan optimal.