UMM Gelar Kuliah Tamu Nasional Bahas Transformasi Pelayanan Sosial dan Urgensi Pekerja Sosial Medis
Malang, (afederasi.com) – Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Kuliah Tamu Nasional dengan tema “Transformasi Pelayanan Sosial: Inovasi, Kolaborasi dan Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial”. Acara yang berlangsung di Aula BAU Kampus III UMM pada Rabu, 10 Desember 2025 ini dihadiri oleh 300 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan mitra lapangan. Dalam sambutannya, Hutri Agustino, Ph.D, Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, menegaskan bahwa inovasi adalah kunci menjawab tantangan pelayanan sosial di era modern. “Perubahan sosial yang cepat menuntut pendekatan pelayanan yang adaptif, inklusif, dan berbasis bukti. Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan agar transformasi ini efektif, termasuk dalam layanan multi-profesi di rumah sakit dimana Pekerja Sosial Medis menjadi sebuah keniscayaan,” tegas Hutri. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor I UMM ini menghadirkan dua pembicara kunci yang membahas aspek strategis pelayanan sosial di bidang kesehatan. Sesi pertama diisi oleh dr. Yuniar, Sp.KJ., MMRS, Direktur Utama RS dr. Radjiman Wediodiningrat. Ia memaparkan praktik terbaik model pelayanan multi-profesi yang telah diterapkan di rumah sakitnya. “Pelayanan kesehatan masa kini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antara dokter, perawat, pekerja sosial medis, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya sangat mempengaruhi hasil akhir,” ujar dr. Yuniar. Ia menjelaskan bahwa koordinasi terstruktur dalam tim dapat mempercepat diagnosis, meminimalkan kesalahan komunikasi, dan meningkatkan kepuasan pasien beserta keluarga. Sesi kedua dibawakan oleh Dr. Rinikso Kartono, M.Si., akademisi dan pakar kesejahteraan sosial. Ia mengulas mendalam tentang peluang dan tantangan praktik Pekerja Sosial Medis di Indonesia. Dr. Rinikso menyoroti peran krusial pekerja sosial medis sebagai jembatan antara aspek medis dan sosial pasien, mencakup manajemen kasus, pendampingan keluarga, hingga perencanaan layanan pasca-rumah sakit. “Kebutuhan akan profesi ini semakin tinggi seiring kompleksitas masalah kesehatan masyarakat. Namun, tantangannya masih besar, mulai dari regulasi profesi yang belum optimal, jumlah SDM terlatih yang terbatas, hingga kurangnya pemahaman lintas profesi akan kontribusi mereka,” paparnya. Ia menekankan perlunya penguatan kompetensi, advokasi kebijakan, dan peningkatan sinergi antar-profesi untuk mewujudkan layanan kesehatan yang lebih holistik. Kuliah Tamu Nasional ini menjadi bukti komitmen Prodi Kesejahteraan Sosial UMM untuk terus berkontribusi dalam pembangunan sosial, sekaligus menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap menjawab tantangan global di bidang kesejahteraan sosial. (san)
Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu untuk Bantu Atasi Insomnia
KLIKMU.CO – Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari praktikum mata pelajaran IPA. Guru IPA mendorong para siswa untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu tersebut. Ahmad, sapaan akrabnya, menilai bahwa produk ini sangat sesuai dengan kebutuhan banyak orang, termasuk para santri PPI AMF yang kerap mengalami kesulitan tidur. “Efeknya sangat terasa, kualitas tidurnya terasa lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas,” ujar santri asal Bali itu, Selasa (9/12/2025). Pemilihan tanaman putri malu dilakukan karena tanaman ini mudah ditemukan namun sering diabaikan. Ketersediaannya yang melimpah membuatnya efisien dijadikan bahan inovasi para santri. Untuk membuat teh herbal tersebut, para santri menggunakan daun putri malu yang dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk mendapatkan sari teh terbaik. Dari segi tampilan, teh ini berwarna cokelat seperti teh pada umumnya. Rasanya cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk ini telah diuji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapat respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” tuturnya. Guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum, turut membimbing seluruh proses pembuatan produk ini. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mengarahkan siswa mulai dari tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firda dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan yang menarik. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur yang lebih berkualitas,” tuturnya. (Faqih/AS)
Tekanan Akademik Berujung Tragedi: Dosen UMM Ungkap Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem
MALANG (SurabayaPost.id) – Peristiwa memilikan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang beberapa waktu lalu kembali menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental di dunia akademik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis, termasuk penyusunan skripsi. Menurut Uun, ada tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan ekstrem tersebut, yaitu faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun, Selasa (9/12/2025). Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Uun menekankan bahwa tindakan ekstrem bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun dan mendorong mahasiswa untuk menerapkan strategi pengelolaan stres. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Uun menyarankan mahasiswa untuk menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah, serta Emotional Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan mood ekstrem. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat. (lil).
KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 Ditutup Meriah di UMM: Inovasi Mengakhiri Laga, Solidaritas Menguatkan Bangsa
MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup giat Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 dalam sebuah acara akbar yang digelar meriah di Hall Dome UMM pada Sabtu, 6 Desember 2025. Gelaran yang untuk pertama kalinya disatukan dalam satu panggung ini bukan hanya menjadi penanda berakhirnya kompetisi inovasi maritim dan pengabdian masyarakat, tetapi juga momen refleksi dan solidaritas kebangsaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memuji kompetensi yang dimiliki para peserta KKI dan Abdidaya Ormawa, menyebut mereka sebagai kelompok terpilih dari jutaan mahasiswa Indonesia. “Saudara adalah representasi dari jutaan mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri, jadikan kompetisi ini sebagai latihan mental dan intelektual. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli,” katanya. Fauzan juga menegaskan bahwa penutupan KKI dan Abdidaya Ormawa ini bukanlah titik akhir, melainkan pemantik perjalanan kehidupan selanjutnya. “Ini adalah modal untuk melakukan transformasi kehidupan yang lebih baik,” tambahnya. Acara penutupan ini juga diwarnai dengan momen kemanusiaan, di mana seluruh hadirin diajak menggalang dana dan berdoa bersama sebagai wujud solidaritas terhadap korban bencana banjir di Pulau Sumatera. Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., Penasihat Khusus Presiden RI untuk Urusan Haji sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UMM, menyampaikan motivasi yang membangkitkan semangat para mahasiswa agar terus berjuang dan tidak cepat merasa puas. “Jangan segera puas, dan yang menang juga tidak boleh jumawa (angkuh),” tegasnya. Sementara Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045. “Semoga ini semua menjadi energi baru dan semangat baru kita untuk terus mengabdi kepada bangsa,” tutupnya. (**).
Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu, Inovasi Herbal untuk Bantu Atasi Insomnia
Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Kreativitas santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali mencuri perhatian. Sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil mengembangkan teh herbal dari daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia dan meningkatkan kualitas tidur. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri penggagas inovasi, menceritakan bahwa ide tersebut lahir dari praktikum mata pelajaran IPA. Melalui tugas membuat produk kreatif, para santri mulai mengeksplorasi bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar mereka. “Efeknya sangat terasa. Tidur kami jadi lebih nyenyak, bangun pun lebih segar dan tidak mengantuk saat pelajaran,” ujar santri asal Bali itu. Daun putri malu dipilih karena tumbuhan ini mudah dijumpai namun jarang dimanfaatkan secara optimal. Ketersediaannya yang melimpah menjadikannya bahan tepat untuk eksperimen para santri. Dalam proses pembuatannya, daun putri malu dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk menghasilkan sari teh herbal yang maksimal. Secara tampilan, teh ini menyerupai teh biasa berwarna cokelat. Cita rasanya cenderung manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk hasil percobaan ini sudah dicicipi oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapatkan respons positif. “Ada teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” ungkapnya. Proses pembuatan produk ini dibimbing langsung oleh guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum. Ia mendampingi siswa mulai dari tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak sesuai prosedur praktikum. “Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya. Ke depan, Firda dan para santri berencana mengembangkan teh herbal tersebut ke tahap produksi massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan agar produknya lebih menarik dan layak dipasarkan. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar tidurnya lebih berkualitas,” pungkasnya.
Santri PPI AMF Kembangkan Teh Herbal dari Daun Putri Malu, Ini Khasiatnya
Tagar.co – Sejumlah santri kelas 7 SMP Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Kabupaten Malang menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim membantu mencegah insomnia alias sulit tidur. Inovasi ini lahir dari praktikum mata pelajaran IPA yang mendorong siswa menghasilkan produk kreatif. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan, “Guru IPA kami mendorong kami untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu ini. Efeknya sangat terasa, kualitas tidur kami lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas.” Tanaman putri malu (Mimosa pudica) dikenal karena daunnya yang menutup saat disentuh. Selain sifatnya yang unik, tanaman ini mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin yang dipercaya menenangkan, sehingga sering digunakan dalam ramuan herbal untuk membantu mengatasi gangguan tidur. Pemilihan tanaman ini juga praktis karena mudah ditemukan dan sering diabaikan. Para santri mengombinasikan daun putri malu dengan madu, jahe, kayu manis, dan air, kemudian merebusnya dua hingga tiga jam agar sari teh maksimal. Dari sisi tampilan, teh ini serupa dengan teh pada umumnya, berwarna cokelat, dengan rasa cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Uji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad menunjukkan respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” imbuh Ahmad, dikutip dari siaran pers, Selasa (9/12/25). Proses pembuatan teh herbal ini dibimbing langsung oleh Zumrotin Firdaus, guru IPA sekaligus Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mendampingi para santri mulai dari pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firdaus dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal dengan kemasan menarik, sebagai alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur lebih berkualitas. (#)
Magang di PBH PERADI Malang, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang Praktik ke Akses Keadilan
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dalam upaya memperluas akses keadilan bagi masyarakat kurang mampu, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester 7 melaksanakan program magang mandiri di Pusat Bantuan Hukum (PBH) PERADI Malang langsung pendampingan hukum, penyusunan dokumen perkara, serta pengamatan berbagai proses persidangan. Salah satu kelompok mahasiswa FH UMM yang melaksanakan magang tersebut atas nama Verdina Putri Masruri (Koordinator Kelompok) serta tiga anggota Dian Novita Sari, Anggi Anggraini Herawati, dan Nazan Muhammad Akbar. Mereka dibimbing Dosen Pembimbing Mahasiswa (DPM) Dwi Ratna Indri Hapsari, SH, MH, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Raden Destayoma Anugrah Putra Armada, SH. Program magang tersebut dikembangkan Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Menurut Koordinator kelompok magang, Verdina Putri Masruri program magang dilaksanakan satu semester. Tujuannya membuka pemahaman mendalam mengenai mekanisme penegakan hukum sekaligus peran advokat dalam memberikan bantuan hukum gratis kepada warga yang tidak mampu. Selama magang kata Verdina mahasiswa arahan dari Dosen Pembimbing Lapangan tentang alur persidangan pidana dan perdata. Pada perkara perdata, proses pembuktian mengacu pada Pasal 164 HIR yang meliputi alat bukti surat, persangkaan, sumpah, keterangan saksi, dan pengakuan. Sementara untuk perkara pidana, mahasiswa mempelajari tahapan mulai dari dakwaan, eksepsi, tanggapan eksepsi, putusan sela, pembuktian, tuntutan, pembelaan, hingga putusan. Dijelaskan Verdina, dosen pembimbing lapangan menekankan prinsip equality before the law, bahwa setiap orang diperlakukan sama di hadapan hukum tanpa memandang status sosial maupun ekonomi. Pengamatan Persidangan dan Proses Mediasi Dalam praktiknya, mahasiswa turut mengikuti proses mediasi sesuai Peraturan Mahkamah Agung No 1 Tahun 2016. Pada salah satu perkara perdata yang dimediasi, mahasiswa melihat secara langsung bagaimana mediator bersikap netral dan memberikan ruang seimbang kepada para pihak untuk menyampaikan pendapat. Selain itu, mahasiswa ikut mengamati agenda pembuktian dalam perkara tindak pidana narkotika di Pengadilan Negeri Kota Malang. JPU menghadirkan saksi-saksi untuk menguatkan dakwaan, disusul pemeriksaan terdakwa guna menilai peran serta keterlibatannya dalam penyalahgunaan narkotika. Proses ini mengacu pada ketentuan KUHAP serta UU No 35/2009 tentang Narkotika. Di persidangan lainnya, mahasiswa juga mengikuti pembacaan tuntutan dalam perkara peredaran sabu dimana terdakwa dituntut 12 tahun penjara berdasarkan Pasal 114 ayat (2) jo. Pasal 132 ayat (1) UU Narkotika. Tahapan selanjutnya berupa penyampaian pleidoi oleh penasihat hukum. Keterlibatan dalam Penyusunan Dokumen Hukum Mahasiswa FH UMM ikut menyusun berbagai dokumen litigasi dan non-litigasi—mulai dari surat kuasa, jawaban pra-peradilan, resume perkara, hingga somasi. Dalam perkara pra-peradilan terkait dugaan penipuan Pasal 378 KUHP, mahasiswa membantu menyusun surat kuasa yang memberikan kewenangan kepada tim pembela untuk mendampingi klien dalam proses hukum di Pengadilan Negeri Kepanjen. Mereka juga berperan menyusun jawaban termohon sebagai tanggapan atas permohonan pra-peradilan, berbasis fakta hukum dan prinsip due process of law. Pada bidang non-litigasi, mahasiswa mempelajari mekanisme somasi yang menjadi instrumen peneguran dalam sengketa perdata. Di PBH PERADI, somasi disusun dengan format baku mulai dari kop surat, uraian peristiwa hukum, jangka waktu, hingga ancaman upaya hukum apabila debitur tidak menanggapi. Mahasiswa juga mempelajari perbedaan somasi, undangan klarifikasi, serta pihak yang berwenang mengeluarkannya. Pendampingan Klien Kurang Mampu Sebagai lembaga bantuan hukum, PBH PERADI Malang memberikan layanan gratis bagi masyarakat kurang mampu dengan syarat membawa KTP, permohonan tertulis, dan bukti ketidakmampuan seperti JKN-KIS atau SKTM. Selama magang, mahasiswa menerima dan mewawancarai sejumlah klien. Mahasiswa dilibatkan untuk menganalisis dokumen kepemilikan, menelusuri status tanah, serta mengidentifikasi adanya potensi pelanggaran hukum dalam proses sertifikasi. Pendampingan dilakukan dari aspek pidana maupun perdata guna memastikan hak klien terlindungi. Bedah Kasus dan Pemeriksaan Setempat Mahasiswa juga mengikuti kegiatan bedah kasus di PBH PERADI tentang gugatan pembatalan penetapan ahli waris yang melibatkan pasangan saudara kandung. Analisis dilakukan terhadap keabsahan hubungan pernikahan, dokumen penetapan ahli waris, serta implikasinya terhadap struktur kewarisan. Tim kemudian memetakan strategi litigasi dan dasar hukum untuk mengajukan gugatan pembatalan penetapan. Selain itu, mahasiswa turut hadir dalam Pemeriksaan Setempat (PS) pada perkara sengketa tanah yang lain. PS diperlukan untuk memastikan batas tanah secara faktual sebagai bagian dari pembuktian perdata. Panitera mencatat seluruh temuan lapangan untuk dituangkan dalam berita acara resmi. Pemahaman Kode Etik Advokat Selama magang, mahasiswa juga mendapatkan materi mengenai Kode Etik Advokat yang menjadi pedoman moral dan profesional seorang advokat. Pembahasan mencakup pengaturan honorarium, larangan success fee tertentu, kewajiban menjaga integritas, hingga sanksi atas pelanggaran kode etik yang diatur dalam UU No 18/2003 dan Kode Etik Advokat Indonesia. Peran Mahasiswa dalam Sistem Bantuan Hukum Magang di PBH PERADI Malang memberikan pengalaman menyeluruh kepada mahasiswa tentang mekanisme kerja organisasi bantuan hukum, mulai dari penerimaan klien, administrasi perkara, penunjukan advokat berdasarkan domisili, hingga tahapan pendampingan di kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Selain itu Mahasiswa juga mempelajari bahwa setiap perkara dilaporkan dan dipertanggungjawabkan oleh koordinator perkara hingga selesai. Praktik lapangan di PBH PERADI Malang tidak hanya memperkenalkan mahasiswa pada dunia advokasi, tetapi juga memperkuat pemahaman bahwa hukum harus berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Keterlibatan mahasiswa dalam proses persidangan, penyusunan dokumen hukum, serta pendampingan klien kurang mampu menjadi bagian dari komitmen PBH dalam memperluas akses keadilan di Kota Malang. (mahasiswa magang fh umm)
Perjuangan Tim Relawan Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang Bantu Warga yang Terisolasi Pascabanjir di Malalak, Kabupaten Agam
Harus Berjalan Dua Kilometer karena Akses Terputus SUARA sekop menyentuh batu bercampur lumpur menjadi bunyi yang paling sering terdengar di Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam sepekan terakhir. Warga berusaha menyingkirkan sisa banjir bandang. Sementara sebagian lain menatap kosong rumah mereka yang kini miring dan kehilangan bentuk aslinya. Malalak adalah satu dari tiga kecamatan terdampak banjir bandang. Dua wilayah lainnya adalah Maninjau dan Palembayan. Meski sudah lewat lebih dari sepekan, masih ada beberapa dusun yang terisolasi. Jalan terputus, jembatan rubuh, dan akses komunikasi yang putus membuat penyaluran logistik serta penanganan kesehatan berjalan tersendat. Dalam situasi krisis itu, tim dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan membantu warga. Ada tiga misi utama yang mereka bawa. Penanganan kesehatan, dukungan psikososial, dan penyediaan air bersih melalui alat filtrasi mandiri. radarmalang, Tim pertama dipimpin dr Aurick Yuda Nugraha SpEM. Mereka berangkat lebih awal untuk melakukan asesmen dan membangun koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat. Aurick dan dua rekannya tiba di Kabupaten Agam pada Sabtu (6/12). Setibanya di lokasi, mereka langsung bergerak menuju Kecamatan Lubuk Lesung, titik pertemuan terakhir sebelum memasuki tiga wilayah yang paling terdampak. Selepas Lubuk Lesung, sinyal telepon mulai menghilang. Di daerah yang lebih dalam, relawan harus mengandalkan komunikasi radio atau menumpang sinyal Starlink yang dibawa tim lain. Keesokan harinya, Minggu (7/12), Aurick dan kelompok kecilnya mulai meninjau sejumlah dusun di Kecamatan Malalak. Salah satunya adalah Nagari Malalak, yang aksesnya terputus total. Jembatan utama yang biasa digunakan warga runtuh tersapu banjir. Sebagai pengganti, warga membangun jembatan kayu darurat yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. Untuk sampai ke dusun itu, relawan harus berjalan kaki hampir dua kilometer melewati jalan tanah yang sebagian telah tergerus. Di tepi jalur itu tebing-tebing terlihat basah. Aurick dan tim beberapa kali berhenti, memastikan tanah tidak bergerak. ”Saya lihat dari tebing itu tanahnya mengeluarkan air. Sewaktu-waktu bisa longsor,” ujar Aurick. Karena itu, kegiatan lapangan dibatasi hanya hingga pukul 13.00. Hujan nyaris selalu turun pada siang hari dan risiko longsor meningkat drastis. Meski begitu, tim tetap melanjutkan misi mereka. Warga setempat yang memahami medan bertindak sebagai penunjuk jalan dan penjamin keselamatan. Aurick menyebut mereka sangat bergantung pada arahan warga. Begitu warga meminta berhenti atau menghindari jalur tertentu, relawan langsung mengikuti instruksinya. ”Kalau nanti disuruh lari, ya kami lari saja. Sejauh ini aman. Pernah kaki menginjak seng, untung pakai sepatu boots,” tuturnya. Kondisi di Malalak disebutnya masih lebih baik dibanding Maninjau. Untuk masuk ke Kecamatan Maninjau, akses darat tertutup sepenuhnya. Bahkan truk logistik sekalipun tidak bisa masuk. Maka satu-satunya jalan adalah menumpang perahu dan melintasi Danau Maninjau.
Dosen Psikologi UMM Beberkan “Akar Tekanan” yang Picu Keputusan Ekstrem Mahasiswa
Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Insiden memilukan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali menggugah dunia kampus untuk lebih serius membangun lingkungan akademik yang ramah kesehatan mental. Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bagi perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk memastikan mahasiswa memiliki ruang aman dalam mencari dukungan psikologis. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem, termasuk mengakhiri hidup, umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Ada tekanan berlapis yang menumpuk, terutama ketika mahasiswa berhadapan dengan beban akademik berat seperti pengerjaan skripsi. Ia menyebut ada tiga faktor yang saling berkelindan dan berpotensi mendorong tindakan impulsif: biologis, psikologis, dan sosial. Pada faktor biologis, kondisi seperti genetika serta ketidakseimbangan neurotransmitter dapat memengaruhi stabilitas emosi seseorang. Dari sisi psikologis, mahasiswa dengan kepribadian tertutup, riwayat trauma, atau sedang bergulat dengan masalah mental lebih rentan mengambil keputusan yang tidak biasa. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun. Sementara itu, tekanan sosial berupa isolasi, minim dukungan, hingga paparan isu negatif di media sosial turut memperparah kondisi. Merespons anggapan bahwa dosen pembimbing kerap menjadi pihak yang disalahkan, Uun menegaskan bahwa perilaku manusia tidak pernah dipengaruhi satu faktor saja. Menurutnya, dosen pembimbing memang idealnya menjadi support system yang aman bagi mahasiswa, namun dukungan tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Keluarga, teman, dan kekuatan mental diri sendiri turut memegang peran penting dalam menjaga kesehatan psikologis. Uun mendorong mahasiswa untuk mengelola stres secara lebih sehat. Ia menyarankan penggunaan Problem Focused Coping, yakni strategi menghadapi stres dengan menyelesaikan sumber masalahnya. Hal ini dapat dilakukan melalui penyusunan skala prioritas, manajemen diri yang teratur, hingga membuat pembagian waktu yang jelas antara belajar, bekerja, dan waktu pribadi. Sementara bagi mahasiswa yang lebih condong mengekspresikan stres melalui emosi, Emotional Focused Coping seperti bercerita kepada orang tepercaya, melakukan aktivitas menyenangkan, serta memperluas jaringan sosial dapat menjadi langkah efektif. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, terutama jika muncul tanda-tanda seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan berlebih, perubahan mood ekstrem, atau menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok, makan berlebihan, atau terus-menerus mengonsumsi berita negatif. Menurutnya, menjaga pola makan dan tidur, memperkuat jejaring sosial, serta menata prioritas hidup merupakan
UMM Borong Penghargaan Bergengsi di KKI: Bukti Keunggulan Inovasi Mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui Tim Mekatronik dalam ajang Kontes Kapal Indonesia (KKI) pada 04-06 Desember lalu. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga mampu bersaing dalam inovasi teknologi maritim di level nasional. Tim Mekatronik UMM berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Juara 3 race FERC, Juara 1 poster FERC, Best Speed FERC dan Tim Favorite. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus berdampak yang aktif melahirkan inovator muda di bidang teknologi perkapalan dan energi. Dewi Fatmawati selaku Manager Tim Mekatronik UMM mengaku bahwa menuju titik ini sangatlah tidak mudah. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan yang timnya lakukan, mulai dari latihan, riset, hingga trial and error yang selalu terjadi. “Berbahan bakar bensin menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, itu membuat perancangan mesinnya harus dilakukan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi demi menjaga stabilitas dan kecepatan kapal di lintasan air. Dalam proses persiapan, kami memulai seluruh tahapan dari nol, mulai dari penyusunan proposal, riset perhitungan, pembuatan bodi kapal, hingga produksi video presentasi yang kami unggah ke YouTube. Semua proses itu memakan waktu sekitar enam bulan penuh, sejak Juni hingga Desember.” Jelasnya Fatma sapaan akrabnya mengaku bahwa timnya sempat mengalami kendala serius, terutama pada aspek teknis mesin dan kestabilan kapal saat uji coba. Namun berkat kerja keras tim, evaluasi berulang, serta pendampingan dosen, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi hingga kapal dapat tampil optimal di arena perlombaan. Menariknya, mereka juga mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas pendukung, sistem pembinaan, hingga dukungan moral dan doa. Dukungan ini menjadi faktor penting yang menjaga semangat dan konsistensi tim selama proses panjang menuju kompetisi. UMM dinilai tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem prestasi mahasiswa. Terakhir, Fatma berpesan kepada mahasiswa UMM, khususnya generasi penerus Tim Mekatronik, agar tidak hanya berorientasi pada popularitas organisasi, tetapi juga fokus pada keseimbangan antara penguasaan teknis (how to build) dan pengembangan diri serta manajemen tim (how to grow). Ia menekankan bahwa keberhasilan tim hanya bisa terwujud jika seluruh aspek tersebut berjalan secara seimbang dan berkelanjutan. “Jangan hanya mengejar nama besar tim. Kuasailah teknisnya, kembangkan diri kalian, dan bangun manajemen tim yang solid. Semua itu harus berjalan bersama-sama kalau kalian ingin benar-benar berhasil.” Pesannya(*alg/faq) Penulis: Musthafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman