UMM Perkuat Peran Mahasiswa dalam Inovasi Maritim dan Pengabdian Nasional

beritastu, MALANG, Bisnistoday – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi menutup rangkaian Kontes Kapal Indonesia (KKI) dan Abdidaya Ormawa 2025 yang berlangsung selama 4-6 Desember 2025. Dua agenda nasional tersebut menjadi wadah kolaborasi antara inovasi teknologi maritim dan pemberdayaan masyarakat yang digerakkan oleh organisasi kemahasiswaan dari seluruh Indonesia. Acara penutupan yang digelar di Hall Dome UMM pada Sabtu, (6/12/2025) menghadirkan seluruh delegasi perguruan tinggi, perwakilan kementerian, tim juri, dan ratusan mahasiswa peserta dari berbagai kategori lomba dan expo program. Pada kesempatan pembukaan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menekankan bahwa kontribusi mahasiswa dalam dua ajang ini menunjukkan kapasitas generasi muda dalam mengembangkan inovasi sekaligus menguatkan solidaritas sosial. Ia menyampaikan bahwa KKI & Abdidaya bukan hanya selebrasi kompetisi, tetapi ruang pembentukan karakter dan kecakapan abad 21. “Mahasiswa hari ini tidak cukup hanya pandai. Mereka harus mampu mengambil peran dalam menyelesaikan masalah bangsa. Ajang ini adalah buktinya,” kata Prof. Dr. Fauzan.

Kuliah Tamu FISIP UMM Bersama Kedubes Kosta Rika: Kaji Perdamaian Global

MALANG (SurabayaPost.id) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika pada 04 Desember lalu. Mengusung tema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience”, kegiatan ini menghadirkan perwakilan diplomatik Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge. Dalam sambutannya, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Holdridge juga mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika, menekankan bahwa perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya, dan mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Kebijakan ini terbukti membawa banyak capaian positif. Kualitas kesehatan meningkat signifikan, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan berkembang, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty,” jelasnya. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country, berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge membuka kesempatan bagi pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia. (**).

55 Relawan dari UB dan UMM Diberangkatkan ke Agam untuk Bantu Korban Bencana Banjir Sumatera

SURYAMALANG.COM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) melalui Emergency and Disaster Team (EDT) memberangkatkan sebanyak 55 relawan untuk membantu korban bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu (7/12/2025). Pemberangkatan tim relawan ini masuk ke dalam Program Pengabdian Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Sumatera, Kemendiktisaintek. Relawan yang diberangkatkan merupakan gabungan dari civitas akademika Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka membawa bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, logistik, sembako, peralatan dapur umum, alat edukasi, tenda darurat, hingga perangkat pengolahan air bersih. Kepala Tim Tanggap Bencana Sumatera, dr Aurick Yudha Nagara Sp EM KPEC mengatakan, total bantuan yang dikirim mencapai lebih dari Rp 1,5 miliar. “Total personel terdiri dari 16 dosen, 10 tenaga kependidikan, 2 mahasiswa spesialis, dan 14 mahasiswa.” “Selain personel, kami juga mengirimkan bantuan logistik dan teknologi tepat guna karya UB,” ujarnya. Setibanya di lokasi, para relawan akan fokus pada pelayanan kesehatan darurat bagi para pengungsi. Kemudian, fokus kepada penyediaan air bersih melalui mesin penjernih karya UB, serta layanan psikososial bagi korban terdampak di Kabupaten Agam. Keberangkatan tim dilakukan secara bertahap dalam tiga gelombang. Dua tim telah berangkat menuju lokasi bencana, yakni tim AJu diberangkatkan pada Sabtu (6/12/2025) untuk koordinasi awal dan tim logistik menyusul pada Minggu (7/12/2025). Sementara tim relawan inti diberangkatkan hari ini pada Senin (8/12/2025). Rektor Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Widodo SSi M Si PhD menyampaikan duka cita atas musibah yang terjadi di Sumatera. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting untuk hadir langsung membantu masyarakat. “Di tengah peringatan Dies Natalis ke-63 ini, kami mengajak seluruh civitas akademika untuk terus berempati dan mendoakan agar proses penanganan bencana berjalan lancar,” kata Prof Widodo.

Universitas Muhammadiyah Malang Raih Inovasi Terbaik Abdidaya Ormawa 2025

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih predikat terbaik Nasional pada Abdidaya Ormawa 2025. Inovasi terbaik yang mereka angkat dalam ajang ini berjudul “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard untuk Efisiensi Pengendalian Hama Tikus dan Burung pada Padi di Desa Ampeldento.” Tim UMM berhasil menoreh prestasi pada kategori Realisasi Kemitraan Terkuat serta Poster Paling Lengkap. Inovasi tersebut membuka arah baru bagi pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. Inovasi tersebut dibangun oleh mahasiswa lintas jurusan yakni Agribisnis,Teknik  Elektro, dan Teknik Informatika. Ketua tim Muhammad Hafizh Abdurrahman menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu mengusir hama melalui gelombang suara dan sensor pendeteksi termal. Menariknya alat tersebut menggabungkan panel surya, baterai, dan sistem IoT sehingga alat dapat bekerja 24 jam tanpa henti. Abdur menegaskan keunggulan lainnya. “Cara kerja alat ini dengan mengeluarkan frekuensi yang mengganggu pendengaran tikus, sehingga mereka pergi dari lahan. Kami juga menambahkan mikrofon khusus untuk mengusir burung. Alat kami juga bisa mendeteksi tikus menggunakan sensor termal dan image processing berbasis Raspberry pi 5. Kami memasukkan puluhan ribu data agar sensor mampu mengidentifikasi hama secara akurat. Ini pertama kali ada di Indonesia,” tuturnya. Pada proses penilaian, Abdur bersama dengan timnya menampilkan beragam elemen, mulai dari miniatur alat, booth kreatif, hingga permainan untuk audiens. Selain itu, dekorasi yang digunakan juga banyak menggunakan bahan bekas. Hal tersebut menjadi salah satu komitmen untuk mendukung semangat SDGs. Terakhir, ia berharap ke depan melalui inovasi yang timnya buat ini mampu untuk membantu petani secara keseluruhan dalam menghadapi hama. “Fokus kami saat ini adalah pengoptimalan alat untuk meningkatkan produktivitas petani, dan ke depan harapan kami bahwa alat ini bisa diproduksi secara masal” harapnya. Sementara itu Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BAK) UMM Dr. Tatag Muttaqin, M.Sc., menyampaikan apresiasi besar atas capaian tersebut. Ia juga menekankan bahwa UMM berkomitmen kuat mendukung potensi mahasiswa “Kami sangat bangga. Proses yang dilalui adik-adik ini sangat panjang dan penuh hambatan, tetapi mereka tidak menyerah hingga mencapai titik ini,” ungkapnya Ia melanjutkan bahwa UMM juga punya program percepatan prestasi, salah satunya dengan melibatkan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Abdidaya Ormawa 2025. Hal itu menjadi salah satu bukti bahwa UMM memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang. Tatag sapaan akrabnya juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak ragu mengikuti ajang prestasi. “Jangan malu-malu untuk menunjukkan minat dan bakat. Banyak sekali peluang apresiasi di UMM, dan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama. Kemahasiswaan mendukung penuh setiap minat dan bakat yang dimiliki,” pungkasnya.(imm/lim)

Belajar dari Kosta Rika, FISIP UMM Tegaskan Komitmen pada Pendidikan Perdamaian Global

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan perwakilan Kedutaan Besar Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge, dalam kuliah tamu internasional yang mengupas praktik pembangunan perdamaian global melalui pengalaman Kosta Rika sebagai negara tanpa militer. Acara yang digelar FISIP UMM pada 4 Desember itu memperdalam wawasan mahasiswa tentang model perdamaian yang berfokus pada kesejahteraan manusia, bukan kekuatan senjata. Diawal, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Selain itu, ia mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurutnya, kedua negara memiliki kesamaan dalam menjunjung persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya. Kebijakan ini menjadi titik balik pembangunan negara, mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Menurutnya Kebijakan tersebut terbukti membawa banyak capaian positif. Kualitas kesehatan meningkat signifikan, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan berkembang, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country, berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge juga membuka kesempatan bagi pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan dua poin utama yakni tentang kebijakan penghapusan militer, dan praktik keberhasilan pembangunan Kosta Rika yang berfokus pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia.(*)

Cegah Bunuh Diri, Dosen Psikologi UMM Ajak Mahasiswa Memanfaatkan Dukungan Psikologis

Indonesiandaily.com – Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengajak seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan dukungan psikologis. Hal ini menyingkapi kejadian bunuh diri mahasiswa yang ditengarai akibat tekanan akademik. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana MPsi menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun. Uun menyebut tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut, yakni faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” ungkapnya. Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Menanggapi anggapan bahwa dosen pembimbing menjadi pihak yang patut disalahkan. Uun menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Ia mengakui bahwa dosen pembimbing idealnya menjadi support system yang aman. “Tapi dukungan juga harus datang dari keluarga, teman, dan terutama kekuatan mental dari dalam diri mahasiswa sendiri,” ucapnya. Guna mengelola stres, Uun mendorong mahasiswa menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah. Langkah-langkahnya meliputi membuat skala prioritas, mengatur self-management, dan membangun time management yang jelas. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Sementara itu, bagi mahasiswa yang cenderung menggunakan Emotional Focused Coping, Uun menyarankan untuk bercerita kepada orang tepercaya, juga melakukan aktivitas yang menyenangkan. Serta membangun dukungan sosial agar tidak terjebak dalam isolasi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, perubahan mood ekstrem, atau penurunan fungsi sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan. Juga membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas. Serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat

Belajar dari Kosta Rika, UMM Gali Model Pembangunan Damai Tanpa Militer

KLIKMU.CO – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperluas wawasan global mahasiswa melalui Kuliah Tamu Internasional bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika pada Rabu (4/12/2025). Mengusung tema Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience, kegiatan ini menghadirkan perwakilan diplomatik Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge, yang memaparkan pengalaman negaranya dalam membangun perdamaian tanpa kekuatan militer. Dalam pembukaan, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi tentang isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Ia juga mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurutnya, kedua negara memiliki kesamaan dalam menjunjung persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya. Kebijakan ini menjadi titik balik pembangunan negara, mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Kebijakan tersebut terbukti membawa capaian signifikan. Kualitas kesehatan meningkat, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan meluas, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge juga membuka peluang bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan dua poin utama: kebijakan penghapusan militer dan keberhasilan pembangunan Kosta Rika yang berfokus pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, FISIP UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, serta pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia. (Faqih/AS)

Kuliah Tamu FISIP UMM Gandeng Kedubes Kosta Rika, Wujudkan Perdamaian Global

Malangpariwara.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan perspektif internasional bagi mahasiswanya melalui kuliah tamu bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika, Kamis (4/11/2025). Dengan tema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience,” acara ini menghadirkan diplomat Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge. Tujuannya untuk membagikan pengalaman negaranya dalam menumbuhkan budaya damai tanpa keberadaan militer. Mengawali sesi, Holdridge menyampaikan apresiasi kepada UMM yang telah membuka ruang diskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di UMM. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian. Terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Keberagaman Budaya Dua Negara Ia kemudian mengaitkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurut Holdridge, Indonesia dan Kosta Rika sama-sama hidup dalam keberagaman budaya dan etnis yang justru menjadi kekuatan dalam merawat persatuan. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal dunia setelah mengambil keputusan bersejarah, yakni menghapus militer pada tahun 1949. Langkah itu menjadi titik balik pembangunan nasional, membuat anggaran negara dialihkan ke pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Kebijakan tersebut terbukti membawa perubahan besar. Tingkat kesehatan melonjak, angka kematian dan anak menurun drastis. Juga akses pendidikan semakin luas hingga mampu melahirkan institusi akademik baru, termasuk Fakultas Kedokteran. Pada 1 Juli 2025, Bank Dunia mengakui Kosta Rika naik kelas menjadi high-income country. Peluang Pembelajaran Internasional Holdridge juga membuka peluang bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, untuk belajar langsung tentang praktik pembangunan damai di negaranya. Ia menegaskan dua gagasan utama, diantarana penghapusan militer sebagai pilihan politik jangka panjang, dan fokus pembangunan Kosta Rika yang bertumpu pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kuliah tamu ini, FISIP UMM berharap mahasiswa dapat melihat bahwa perdamaian global tidak selalu dibangun melalui kekuatan militer. Tetapi lewat pendidikan, kerja sama internasional, dan pembangunan yang berpihak pada manusia. (Djoko W/Yaya)

FISIP UMM dan Kedubes Kosta Rika Kaji Strategi Perdamaian Internasional

Agroredaksi.com-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika pada 04 Desember lalu. Mengusung tema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience”, kegiatan ini menghadirkan perwakilan diplomatik Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge, untuk memaparkan pengalaman negaranya dalam membangun perdamaian tanpa kekuatan militer. Diawal, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Selain itu, ia mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurutnya, kedua negara memiliki kesamaan dalam menjunjung persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya. Kebijakan ini menjadi titik balik pembangunan negara, mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Menurutnya Kebijakan tersebut terbukti membawa banyak capaian positif. Kualitas kesehatan meningkat signifikan, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan berkembang, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country, berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge juga membuka kesempatan bagi pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan dua poin utama yakni tentang kebijakan penghapusan militer, dan praktik keberhasilan pembangunan Kosta Rika yang berfokus pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia.(Sfl/hms)

Kuliah Tamu FISIP UMM Bersama Kedubes Kosta Rika, Kaji Perdamaian Global

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan Kuliah Tamu Internasional bersama Kedutaan Besar Republik Kosta Rika pada 04 Desember lalu. Mengusung tema “Realizing a Global Culture of Peace Through the Costa Rica Experience”, kegiatan ini menghadirkan perwakilan diplomatik Kosta Rika, H.E. Fransisco José Masís Holdridge, untuk memaparkan pengalaman negaranya dalam membangun perdamaian tanpa kekuatan militer. Diawal, Holdridge menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada UMM atas kesempatan berdiskusi mengenai isu perdamaian global. “Kami merasa terhormat dapat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Kampus merupakan ruang penting untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pendidikan perdamaian, terutama bagi mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujarnya. Selain itu, ia mengaitkan konsep Bhinneka Tunggal Ika dengan karakter masyarakat Kosta Rika. Menurutnya, kedua negara memiliki kesamaan dalam menjunjung persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia dan Kosta Rika sama-sama kaya dengan perbedaan budaya dan etnis. Perbedaan bukan pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian,” tuturnya. Kosta Rika dikenal sebagai negara kecil yang mengambil langkah besar dengan menghapus sistem militer pada tahun 1949 melalui konstitusinya. Kebijakan ini menjadi titik balik pembangunan negara, mengalihkan fokus anggaran dari pertahanan menuju pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan peningkatan kualitas manusia. “Perdamaian bagi kami bukan tentang kekuatan militer, melainkan bagaimana negara membuka peluang bagi warganya untuk hidup aman, sehat, dan terdidik,” jelasnya. Menurutnya Kebijakan tersebut terbukti membawa banyak capaian positif. Kualitas kesehatan meningkat signifikan, angka kematian anak menurun, dan akses pendidikan berkembang, melahirkan berbagai fasilitas akademik termasuk medical faculty. Kosta Rika kini diakui sebagai negara peace-oriented dan berhasil naik dari kategori upper-middle income menjadi high-income country, berdasarkan pengakuan World Bank pada 1 Juli 2025. Holdridge juga membuka kesempatan bagi pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, untuk mempelajari langsung praktik pembangunan damai di negaranya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan dua poin utama yakni tentang kebijakan penghapusan militer, dan praktik keberhasilan pembangunan Kosta Rika yang berfokus pada kesejahteraan manusia. “Kebijakan ini mampu membawa banyak kemajuan bagi masyarakat kami. Contohnya dalam sektor kesehatan dan pendidikan, dampaknya terlihat nyata pada peningkatan kualitas hidup warga,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa semakin memahami bahwa perdamaian global dapat diwujudkan tidak hanya melalui kekuatan militer, tetapi melalui pendidikan, kolaborasi, dan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan manusia.(*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman