Tekanan Akademik Bukan Hal Remeh, Psikolog UMM: Jaga Kesehatan Mental Mahasiswa

MALANG POST – Kejadian memilukan yang baru-baru ini menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di lingkup dunia kampus. Peristiwa itu menjadi pengingat bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan institusi pendidikan tinggi lain untuk memperkuat edukasi, dukungan, serta jaring pengaman psikologis bagi mahasiswanya. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan. Bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup biasanya lahir dari tekanan yang berlapis. Meski begitu, ia menekankan bahwa tindakan tersebut bukan jalan keluar untuk persoalan akademik maupun hidup secara umum. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi keputusan tersebut: biologis, psikologis dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan keseimbangan neurotransmitter di otak. Faktor psikologis berkaitan dengan kepribadian, adanya masalah mental atau pengalaman traumatis yang memperbesar risiko bertindak impulsif. Faktor sosial meliputi isolasi, rasa kesepian, minimnya dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial. Uun menegaskan bahwa tidak adil menyalahkan dosen pembimbing sepenuhnya. “Perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor internal dan eksternal,” katanya. Dosen pembimbing seharusnya menjadi sumber dukungan yang aman. Namun dukungan tak bisa berujung hanya pada satu pihak. Keluarga, teman, dan terutama kekuatan mental dari dalam diri mahasiswa juga sangat penting. Untuk mengelola stres, Uun menyarankan pendekatan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah. Langkah praktisnya meliputi: Menetapkan skala prioritas; Mengatur self-management dan Membuat rencana time management yang jelas. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu antara bekerja, belajar dan waktu pribadi,” paparnya. Bagi mahasiswa yang cenderung menggunakan Emotional Focused Coping, Uun menyarankan: Bercerita kepada orang tepercaya; Melakukan aktivitas yang menyenangkan; Memperkuat dukungan sosial untuk mencegah isolasi Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional jika gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan sulit dikendalikan, perubahan mood ekstrem atau penurunan fungsi sosial muncul. Langkah pencegahan yang disarankan antara lain menghindari coping maladaptif. Seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi paparan berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat. Kita semua punya peran untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih manusiawi. Kampus yang tidak hanya mengejar capaian akademik. Tetapi juga memperhatikan kesejahteraan emosional para mahasiswanya. Jika ada gejala yang mengkhawatirkan diri sendiri maupun orang terdekat, jangan ragu mencari bantuan profesional dan dukungan dari komunitas sekitar. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Prestasi Gemilang di KKI dan Abdidya Ormawa 2025, Mahasiswa UMM Perkuat Identitas Kampus Berdampak

radarmalang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapatkan kepercayaan nasional dengan menjadi tuan rumah dua agenda besar sekaligus pada 4–6 Desember 2025 lalu, yakni Abdidaya Ormawa 2025 dan Kontes Kapal Indonesia (KKI) 2025. Kedua kegiatan yang diinisiasi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisantek RI) tersebut menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Kampus putih kembali menegaskan posisinya sebagai Kampus Berdampak melalui torehan prestasi gemilang yang menjadi bukti nyata kontribusi dan kualitasnya. Sebagai tuan rumah berbagai ajang bergengsi, UMM berhasil meraih Juara 3 kategori Prototipe Fuel Engine Remote Control (FERC) serta penghargaan Best Poster pada Kontes Kapal Indonesia, disusul kemenangan di kategori khusus Terfavorit dan Best Speed yang semakin mengukuhkan kapasitas inovatif mahasiswa. Tidak berhenti di bidang teknologi, UMM juga menunjukkan keunggulan dalam pengembangan organisasi kemahasiswaan melalui capaian di Abdidaya Ormawa 2025, seperti predikat Perguruan Tinggi dengan Dukungan Paling Komprehensif Terbaik III dan penghargaan Ormawa dengan Dukungan Riil Terlengkap Terbaik II untuk UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM. Ditambah dengan raihan sebagai Tim dengan Realisasi Kemitraan Terbaik IV, Poster Paling Lengkap Terbaik III, serta Stand Expo Terfavorit, deretan prestasi ini mempertegas bahwa UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak luas dalam inovasi, pemberdayaan, dan penguatan ekosistem kemahasiswaan. Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi kepada UMM atas konsistensinya membangun ekosistem inovasi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan terpadu KKI dan Abdidaya merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya riset, rekayasa teknologi, dan pengabdian masyarakat. “Bagi negara, kedua ajang ini bukan sekadar perlombaan tahunan, melainkan investasi strategis untuk mencetak generasi muda yang berani menghadapi ketidakpastian, piawai menciptakan solusi berbasis sains, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat”. Tegasnya Penyelenggaraan tahun ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya KKI dan Abdidaya digelar secara terpadu. Tercatat 93 perguruan tinggi berpartisipasi dengan 131 tim KKI dan 119 tim Abdidaya. Itu membuktikan adanya peningkatan signifikan yang menunjukkan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap inovasi maritim dan pemberdayaan masyarakat. KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 di kampus putih ini berlangsung meriah dengan perpaduan kompetisi, hiburan, dan rekreasi. Panggung Kreasi Seni menghadirkan musik, tari, dan karaoke yang mencairkan suasana, sementara stand UMKM menambah kenyamanan dengan sajian kuliner beragam. Keseruan semakin lengkap dengan venue di Taman Rekreasi Sengkaling yang memungkinkan peserta menikmati wahana seperti bebek air di sela kegiatan. Seluruh rangkaian ini menciptakan atmosfer hangat, kreatif, dan menyenangkan bagi para peserta, sebagaimana disampaikan Indah salah satu peserta, “Bisa lomba sambil rekreasi itu pengalaman yang jarang dan bikin makin semangat.” Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kolaborasi merupakan kunci lahirnya karya akademik dan pengabdian masyarakat yang mampu mempercepat terwujudnya Indonesia Maju 2045.

Workshop Know Yourself, Know Your Future Bersama UMM Bekali Siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu Rencanakan Karir Masa Depan

pwmu.co – SMA Muhammadiyah 3 Batu menggelar workshop bertajuk Know Yourself, Know Your Future bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin, (8/12/2025). Kegiatan ini dilaksanakan di Mushala SMA Muhammadiyah 3 Batu mulai pukul 07.30 hingga 10.30 WIB dan diikuti oleh siswa kelas X, XI, dan XII. Workshop ini merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan asesmen yang telah dilaksanakan pada 27 Oktober 2025. Pada kegiatan tersebut, siswa memperoleh materi edukasi mengenai pengenalan dan eksplorasi diri, orientasi studi lanjutan, serta perencanaan karier masa depan. Materi disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Psikologi UMM yang berperan sebagai fasilitator kegiatan. Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah pengenalan konsep Ikigai. Ikigai merupakan metode refleksi diri yang membantu individu menemukan tujuan hidup melalui pertemuan antara hal-hal yang disukai, kemampuan yang dimiliki, kebutuhan lingkungan sekitar, serta peluang profesi yang dapat dijalani di masa depan. Konsep ini diperkenalkan kepada siswa sebagai pendekatan untuk memahami diri secara lebih mendalam dan terarah. Setelah pemaparan materi, siswa diminta melakukan refleksi diri menggunakan metode Ikigai untuk menggali potensi, minat, bakat, dan cita-cita pribadi. Antusiasme Siswa Dalam sesi refleksi tersebut, beberapa siswa diberi kesempatan maju ke depan untuk menyampaikan hasil pemikirannya. Kegiatan berlangsung secara interaktif dan kondusif, dengan antusiasme siswa yang tinggi sejak awal hingga akhir kegiatan. Salah satu peserta, Nabil Giovani, siswa kelas XII, mengaku sangat senang mengikuti kegiatan tersebut. “Selama ini saya memang berminat di bidang wirausaha, dan melalui kegiatan ini saya jadi lebih mengenal diri sendiri. Sekarang saya semakin yakin dan termotivasi untuk menjadi pengusaha sukses di masa depan,” ujarnya. Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu, Aris Sahruli, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi peserta didik. “Pengenalan diri menjadi fondasi utama bagi siswa dalam menentukan pilihan studi dan karier. Melalui kegiatan seperti ini, siswa diharapkan lebih bersemangat belajar, memiliki tujuan yang jelas, serta mampu merencanakan masa depan sesuai potensi yang dimiliki,” tuturnya. (*)

Tekanan Akademik Berujung Tragedi: Dosen UMM Ungkap Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem

MALANG (SurabayaPost.id) – Peristiwa memilikan yang menimpa seorang mahasiswa di Malang beberapa waktu lalu kembali menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan mental di dunia akademik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis, termasuk penyusunan skripsi. Menurut Uun, ada tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan ekstrem tersebut, yaitu faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegas Uun, Selasa (9/12/2025). Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Uun menekankan bahwa tindakan ekstrem bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun dan mendorong mahasiswa untuk menerapkan strategi pengelolaan stres. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Uun menyarankan mahasiswa untuk menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah, serta Emotional Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan mood ekstrem. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat. (lil).

LSO Psychology Club UMM Peringati Hari Disabilitas Internasional di MCC, Ajak Publik Rayakan Dunia yang Inklusif

Malang | JATIMSATUNEWS.COM – LSO Psychology Club Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar peringatan Hari Disabilitas Internasional pada Minggu (7/12/2025) di Malang Creative Center (MCC). Kegiatan yang bekerja sama dengan Wisma Disabilitas Nusantara ini menjadi bentuk komitmen berkelanjutan organisasi dalam memperkuat budaya inklusif dan meningkatkan kepedulian terhadap hak penyandang disabilitas. Acara dihadiri 30 anak dari komunitas teman disabilitas serta 40 mahasiswa Fakultas Psikologi UMM. Interaksi yang terjalin sepanjang kegiatan menciptakan suasana hangat dan inklusif. Direktur LSO Psychology Club UMM dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesetaraan. “Semoga acara ini menjadi wadah kita untuk saling memahami satu sama lain bahwa kita itu setara,” ujarnya. Tahun ini, kegiatan mengusung jargon “Create a Beautiful World for Everyone”. Rangkaian acara mencakup sharing session, mewarnai kipas bersama, hingga penampilan bakat oleh teman-teman disabilitas seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan persembahan lagu. Setiap penampilan disambut antusias oleh para peserta dan menjadi momen apresiasi yang memperlihatkan keberagaman kemampuan yang dimiliki masing-masing individu. Steering Committee kegiatan, Diana Nur Holida, juga menekankan pentingnya ruang aman dan suportif bagi penyandang disabilitas. “Kami ingin menunjukkan bahwa kegiatan sederhana pun bisa menjadi jembatan untuk membangun empati. Inklusivitas bukan hanya konsep, tetapi perilaku sehari-hari yang harus kita biasakan,” ungkapnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi mahasiswa UMM untuk lebih terlibat dalam gerakan keberpihakan bagi kelompok rentan. Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata berupa kanvas berisi pesan motivasi dari berbagai pihak sebagai simbol dukungan kepada teman-teman disabilitas. Kegiatan terlaksana berkat dukungan sponsor dan media partner yang turut memperluas dampak acara. Melalui agenda tahunan ini, LSO Psychology Club UMM berharap gerakan menuju lingkungan yang ramah, setara, dan dapat diakses oleh semua dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak.

UMM Pertahankan Gelar Pojok Statistik Terbaik Tiga Tahun Beruntun

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi nasional yang membanggakan setelah Pojok Statistik UMM dinobatkan sebagai Pojok Statistik Terbaik 3 Nasional 2025. Penghargaan yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini melengkapi deretan penghargaan serupa yang telah diraih pada 2023 dan 2024. Prestasi ini menjadikan UMM satu-satunya kampus yang berhasil mempertahankan gelar selama tiga tahun berturut-turut. Pengumuman penghargaan ini diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional pada 3 Oktober lalu. Pojok Statistik UMM ini lahir dari kerja sama dengan BPS sejak 14 Desember 2022. Sejak itu, program ini menjadi pusat pembelajaran statistik yang menyediakan akses data, pendampingan riset, dan pelatihan literasi data bagi seluruh mahasiswa. Selain menjadi tempat konsultasi skripsi berbasis statistik, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari langsung cara menghasilkan dan mempublikasikan data sesuai standar lembaga statistik nasional. Menurut Kepala Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Hendra Kusuma, S.E., M.SE., keberhasilan meraih predikat terbaik tiga tahun berturut-turut berasal dari konsistensi inovasi, produktivitas mahasiswa, dan pemanfaatan maksimal kerja sama dengan BPS. Salah satu indikatornya adalah jumlah infografis berbasis data yang diproduksi mahasiswa UMM yang dinilai terbanyak di tingkat nasional. Selain itu, program joint research bersama BPS setiap tahun dan publikasi internasional di jurnal SINTA oleh mahasiswa juga menjadi faktor utama. “Yang membawa pojok statistik UMF bisa mendapatkan 3 tahun berturut-turut adalah konsistensi kami dari berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh BPS, publikasi di jurnal SINTA di international conference, infografis yang dihasilkan mahasiswa dari data-data yang ada, dan joint research bersama BPS,” ujarnya. UMM juga dinilai unggul berkat kontribusinya dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Tidak hanya aktif menjalankan program, Pojok Statistik UMM bahkan mengembangkan sistem informasi evaluasi kinerja pemerintah desa yang membantu desa mengolah data dan memanfaatkannya untuk penyusunan kebijakan. Inovasi ini menjadi salah satu nilai tambah yang diapresiasi oleh BPS Pusat. Penghargaan ini melui proses penilaian yang berlangsung selama satu tahun kerja, mulai bulan Agustus hingga bulan Juli. Menurut Henrda, indikator penilaian yang dilakukan oleh BPS mulai dari fasilitas, produk, hingga edukasi. “Penilai itu, pertama fasilitas yang kita sediakan, kedua produk yang dihasilkan seperti inovasi itu tadi, termasuk infografis, videografis, dan edukasi,” jelasnya. Prestasi beruntun ini semakin mengukuhkan Pojok Statistik UMM sebagai model pengelolaan layanan statistik kampus yang efektif, inovatif, dan berkelanjutan. UMM menargetkan program ini tidak hanya mempertahankan prestasi nasional, tetapi juga menjadi pusat rujukan literasi data di tingkat yang lebih luas. Hendra berharap prestasi ini semakin memperkuat posisi Pojok Statistik UMM sebagai fasilitas unggulan kampus. “Kita sudah membuktikan kualitas program ini secara nasional. Tinggal bagaimana mahasiswa semakin memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan kompetensi berbasis data,” ujarnya. (*rka/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Inovasi SolarSonic IoT Guard, UMM Berjaya di Abdidaya Ormawa 2025

MALANG, Suara Muhammadiyah – Di ajang Abdidaya Ormawa 2025, tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih predikat terbaik Nasional melalui inovasi “Integrasi Smart Farming 5.0 Berbasis SolarSonic IoT Guard untuk Efisiensi Pengendalian Hama Tikus dan Burung pada Padi di Desa Ampeldento.” Inovasi ini seolah membuka arah baru bagi pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. Inovasi tersebut datang dari mahasiswa lintas jurusan yakni Agribisnis, Teknik  Elektro, dan Teknik Informatika. Ketua tim, Muhammad Hafizh Abdurrahman menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan mampu mengusir hama melalui gelombang suara dan sensor pendeteksi termal. Menariknya alat tersebut menggabungkan panel surya, baterai, dan sistem IoT sehingga alat dapat bekerja 24 jam tanpa henti. Abdur menegaskan keunggulan lainnya. “Cara kerja alat ini dengan mengeluarkan frekuensi yang mengganggu pendengaran tikus, sehingga mereka pergi dari lahan. Kami juga menambahkan mikrofon khusus untuk mengusir burung. Alat kami juga bisa mendeteksi tikus menggunakan sensor termal dan image processing berbasis Raspberry pi 5. Kami memasukkan puluhan ribu data agar sensor mampu mengidentifikasi hama secara akurat. Ini pertama kali ada di Indonesia,” tuturnya. Pada proses penilaian, Abdur bersama dengan timnya menampilkan beragam elemen, mulai dari miniatur alat, booth kreatif, hingga permainan untuk audiens. Selain itu, dekorasi yang digunakan juga banyak menggunakan bahan bekas. Hal tersebut menjadi salah satu komitmen untuk mendukung semangat SDGs. Terakhir, ia berharap kedepan melalui inovasi yang timnya buat ini mampu untuk membantu petani secara keseluruhan dalam menghadapi hama. “Fokus kami saat ini adalah pengoptimalan alat untuk meningkatkan produktivitas petani, dan ke depan harpaan kami bahwa alat ini bisa diproduksi secara masal” harapnya. Sementara itu. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BAK) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, M.Sc., menyampaikan apresiasi besar atas capaian tersebut. . Ia juga menekankan bahwa UMM berkomitmen kuat mendukung potensi mahasiswa “Kami sangat bangga. Proses yang dilalui adik-adik ini sangat panjang dan penuh hambatan, tetapi mereka tidak menyerah hingga mencapai titik ini.” Ungkapnya. Ia melanjutkan bahwa UMM juga punya Program percepatan prestasi, salah satunya dengan melibatkan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Abdidaya Ormawa 2025. Hal itu menjadi salah satu bukti bahwa UMM memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang. Tatag sapaan akrabnya juga berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak ragu mengikuti ajang prestasi. “Jangan malu-malu untuk menunjukkan minat dan bakat. Banyak sekali peluang apresiasi di UMM, dan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama. Kemahasiswaan mendukung penuh setiap minat dan bakat yang dimiliki,” pesannya. (diko)

Kreatif! Santri PPI AMF Ciptakan Teh Putri Malu untuk Atasi Insomnia

Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) kembali menghadirkan inovasi bermanfaat bagi masyarakat. Kali ini, sejumlah santri kelas 7 SMP AMF berhasil menciptakan teh herbal berbahan dasar daun putri malu yang diklaim mampu membantu mencegah insomnia. Aqeela Ahmad Darun, salah satu santri pencetus ide, menjelaskan bahwa inovasi ini berawal dari praktikum mata pelajaran IPA. Guru IPA mereka mendorong para siswa untuk menghasilkan produk kreatif, sehingga lahirlah teh herbal berbahan putri malu tersebut. Ahmad sapaan akrabnya menilai, produk ini sangat sesuai dengan kebutuhan banyak orang, termasuk para santri PPI AMF yang kerap mengalami kesulitan tidur. “Efeknya sangat terasa, kualitas tidurnya terasa lebih baik. Kami bangun tetap segar dan tidak mengantuk di kelas,” ujar santri asal Bali itu. Pemilihan tanaman putri malu dilakukan karena tanaman ini mudah ditemukan namun sering diabaikan. Ketersediaannya yang melimpah membuatnya efisien sebagai bahan inovasi para santri. Untuk membuat teh herbal ini, para santri menggunakan daun putri malu yang dipadukan dengan madu, jahe, kayu manis, dan air. Seluruh bahan direbus selama dua hingga tiga jam untuk mendapatkan sari teh terbaik. Dari segi tampilan, teh ini tidak berbeda dengan teh pada umumnya, berwarna cokelat. Rasanya cukup manis sehingga mudah diterima anak-anak dan remaja. Produk ini telah diuji coba oleh teman-teman sekelas Ahmad dan mendapat respons positif. “Ada satu teman yang sering mengantuk di kelas. Setelah minum teh ini, dia jadi lebih segar,” tuturnya. Guru IPA SMP AMF, Zumrotin Firdaus, yang juga Wakil Kepala SMP–SMA AMF Bidang Kurikulum, turut membimbing proses pembuatan produk ini. “Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” ujarnya. Ia mengarahkan siswa sejak tahap pencarian tanaman, pemilihan daun, pencucian, hingga pembuatan ekstrak herbal sesuai prosedur praktikum. Ke depan, Firda dan para santri berencana memproduksi teh herbal ini secara massal. Saat ini mereka tengah menyiapkan konsep kemasan yang menarik. “Harapan kami, teh herbal ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami insomnia agar memperoleh tidur yang lebih berkualitas,” tuturnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ngalam Mbois: UB-UMM Kompak Kirim Relawan dan Logistik ke Sumatera

detikjatim, Malang – Universitas Brawijaya (UB) melalui Emergency and Disaster Team (EDT) memberangkatkan sebanyak 55 relawan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Relawan yang berangkat merupakan gabungan dari Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kepala Tim Tanggap Bencana Sumatera dr. Aurick Yudha Nagara menyatakan, tim yang berangkat terdiri dari 16 dosen, 10 tenaga kependidikan, 2 mahasiswa spesialis, 14 mahasiswa. Selain personel, tim ini juga mengirimkan bantuan berupa obat-obatan, logistik, sembako, peralatan dapur umum, peralatan edukasi serta kebutuhan darurat pengungsi seperti tenda darurat dan peralatan pengolahan air bersih senilai lebih dari Rp 1,5 miliar. “Total dana ini merupakan gabungan dari program Kampus UB dan yayasan UB,” kata Aurick kepada wartawan, Senin (8/12/2025). Di Agam, kata Aurick, para relawan akan memberikan pelayanan darurat kesehatan kepada pengungsi, penyediaan air bersih menggunakan mesin penjernih karya UB, dan layanan psikososial. Keberangkatan tim dibagi dalam tiga tahap, yaitu tim AJU pada Sabtu (6/12/2025), tim logistik di hari Minggu (7/12/2025) dan tim relawan pada Senin (8/12/2025). Sementara itu, Rektor UB Prof. Widodo menyampaikan bahwa UB turut berduka atas musibah yang terjadi di Sumatera. Widodo juga menegaskan pentingnya kehadiran universitas dalam membantu masyarakat. Rektor menyebut bahwa tim kemanusiaan berangkat dalam tiga gelombang, mulai dari Tim Aju yang diberangkatkan pada 6 Desember untuk koordinasi awal di Kabupaten Agam, Sumatera Baratm Kemudian pengiriman bantuan obat-obatan, teknologi tepat guna, serta logistik pada 7 December, hingga keberangkatan dosen dan mahasiswa pada 8 Desember 2025. “Di tengah kegiatan Dies Natalis ke-63 ini, kita harus berempati dan mendoakan atas bencana yang terjadi agar semua berjalan dengan baik,” kata Prof Widodo terpisah. UB menyematkan program DIES UB PEDULI SUMATERA untuk mengumpulkan donasi dari civitas akademika dan masyarakat, mendoakan korban terdampak melalui moment of silence untuk berdoa bersama, dan secara simbolik memasangkan rompi kepada relawan yang akan bertugas di Agam.

Dosen Psikologi UMM Jelaskan Faktor Pemicu Keputusan Ekstrem Akibat Tekanan Akademik

Peristiwa memilukan baru—baru ini yang menimpa seorang mahasiswa di Malang kembali memunculkan urgensi penguatan kesehatan mental di dunia akademik. Kejadian tersebut menyoroti dampak serius tekanan akademik termasuk penyusunan skripsi terhadap kesehatan psikologis mahasiswa dan menjadi peringatan bagi kampus, khususnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk memperkuat edukasi serta jaring pengaman psikologis. Dosen Fakultas Psikologi UMM, Uun Zulfiana, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan ekstrem seperti mengakhiri hidup kerap dipicu oleh tekanan berlapis. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi bagi persoalan akademik apa pun. Uun menyebut tiga faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut, yakni faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis meliputi genetika dan ketidakseimbangan neurotransmitter. Dari sisi psikologis, individu dengan kepribadian tertutup, memiliki masalah mental, atau pengalaman traumatis lebih rentan bertindak impulsif. “Orang-orang dengan kepribadian tertutup, problem mental, atau pengalaman traumatis sangat mungkin mengambil keputusan yang tidak biasa,” tegasnya. Faktor sosial seperti isolasi, kesepian, minim dukungan sosial, serta paparan isu negatif di media sosial turut memperbesar risiko. Menanggapi anggapan bahwa dosen pembimbing menjadi pihak yang patut disalahkan, Uun menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Ia mengakui bahwa dosen pembimbing idealnya menjadi support system yang aman, namun dukungan juga harus datang dari keluarga, teman, dan terutama kekuatan mental dari dalam diri mahasiswa sendiri. Untuk mengelola stres, Uun mendorong mahasiswa menerapkan Problem Focused Coping, yaitu strategi yang berfokus pada penyelesaian masalah. Langkah-langkahnya meliputi membuat skala prioritas, mengatur self-management, dan membangun time management yang jelas. “Bagaimana kita menentukan prioritas dan memisahkan waktu bekerja, belajar, serta waktu pribadi,” jelasnya. Sementara itu, bagi mahasiswa yang cenderung menggunakan Emotional Focused Coping, Uun menyarankan untuk bercerita kepada orang tepercaya, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta membangun dukungan sosial agar tidak terjebak dalam isolasi. Ia juga menekankan pentingnya bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, jika muncul gejala seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, perubahan mood ekstrem, atau penurunan fungsi sosial. Sebagai langkah pencegahan, Uun mengingatkan mahasiswa untuk menghindari coping maladaptif seperti merokok atau makan berlebihan, membatasi konsumsi berita negatif, memperkuat jejaring sosial, mengatur prioritas, serta menjaga pola makan dan tidur yang sehat.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman