Merawat Luka Psikologis Pascabencana, Maharesigana UMM Hadirkan Ruang Aman bagi Anak-anak Langkat

Hari-hari yang semula dipenuhi ketakutan dan kecemasan kini perlahan berganti dengan tawa ceria. Senyum anak-anak kembali merekah di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Pada Jumat, 19 Desember lalu, tim Maharesigana UMM melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

FISIP UMM Ungkap Problematika Reformasi Polri di Tengah Dinamika Sosial

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Diskusi Akhir Tahun bertema Reformasi Polri dalam Perspektif Kajian Sosial pada Selasa (23/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB IV UMM ini menghadirkan akademisi serta pegiat masyarakat sipil untuk mengkaji secara kritis tantangan dan arah reformasi kepolisian di tengah dinamika sosial dan demokrasi Indonesia yang terus berkembang. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai relasi antara kepolisian dan masyarakat, sekaligus upaya memperkuat peran institusi penegak hukum agar lebih responsif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik. Acara diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peserta dari berbagai latar belakang yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu reformasi Polri. Dr. Rinikso Kartono, dosen Kesejahteraan Sosial UMM, mengulas rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap kepolisian. Ia menyoroti berbagai kasus yang mencederai citra Polri, mulai dari keterlibatan oknum dalam praktik perjudian dan narkoba, percaloan SIM, hingga pelanggaran hak asasi manusia. “Data menunjukkan 66,2 persen masyarakat pernah memiliki pengalaman buruk saat berinteraksi dengan kepolisian. Ini menandakan adanya persoalan struktural yang serius,” ungkapnya. Ia juga menyinggung adanya subkultur menyimpang di tubuh kepolisian seperti korupsi, kolusi, kekerasan, hingga budaya pamer kekayaan atau flexing yang dinormalisasi. Menurutnya, reformasi Polri mutlak diperlukan agar institusi kepolisian dapat menjadi lebih transparan, bersih, adil, serta kembali harmonis dengan masyarakat. Sementara itu, Prof. Jimly Asshiddiqie, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus Ketua Tim Percepatan Reformasi Polri, yang disampaikan secara daring. Dalam pemaparannya, Prof. Jimly menyoroti masih tersumbatnya aspirasi masyarakat serta lemahnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan yang memiliki kesadaran hukum dan kepekaan sosial. “Polisi harus dipandang sebagai institusi hukum yang humanis dan mengayomi masyarakat. Mahasiswa, khususnya dari FISIP, memiliki posisi strategis untuk menyuarakan aspirasi publik sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial,” ujar Prof. Jimly. Ia juga menegaskan bahwa menuju Indonesia Emas, generasi muda perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang tidak terduga dengan memperkuat literasi hukum, politik, dan sosial. Lebih lanjut, Prof. Jimly menjelaskan bahwa reformasi Polri merupakan proses evaluasi dan penataan ulang institusi kepolisian pascareformasi. Proses ini bertujuan membangun hubungan yang lebih sehat antara Polri dan masyarakat dengan berlandaskan etika moral, profesionalisme, serta prinsip pengayoman dan keadilan. Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM ini diharapkan menjadi ruang refleksi kritis sekaligus pemantik gagasan bagi civitas akademika dalam mendorong reformasi kepolisian yang lebih berkeadilan dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Melalui perspektif kajian sosial, FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskursus akademik yang relevan dengan persoalan publik serta mendorong mahasiswa agar aktif berperan sebagai agen perubahan dalam mengawal demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

FISIP UMM Ungkap Problematika Reformasi Polri di Tengah Dinamika Sosial

Kegiatan Seminar FISIP UMM. Foto: Hassan/PWMU.CO pwmu.co –Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Diskusi Akhir Tahun bertema Reformasi Polri dalam Perspektif Kajian Sosial pada Selasa (23/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB IV UMM ini menghadirkan akademisi serta pegiat masyarakat sipil untuk mengkaji secara kritis tantangan dan arah reformasi kepolisian di tengah dinamika sosial dan demokrasi Indonesia yang terus berkembang.Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai relasi antara kepolisian dan masyarakat, sekaligus upaya memperkuat peran institusi penegak hukum agar semakin responsif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik. Kegiatan tersebut diikuti dosen, mahasiswa, serta peserta dari berbagai latar belakang dengan antusiasme tinggi terhadap isu reformasi Polri. Salah satu pemateri, Dr. Rinikso Kartono, dosen Kesejahteraan Sosial UMM, mengulas rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Ia menyoroti berbagai kasus yang mencederai citra Polri, mulai dari keterlibatan oknum dalam praktik perjudian dan narkoba, percaloan SIM, hingga pelanggaran hak asasi manusia. “Data menunjukkan 66,2 persen masyarakat pernah memiliki pengalaman buruk saat berinteraksi dengan kepolisian. Ini menandakan adanya persoalan struktural yang serius,” ungkapnya. Ia juga menyinggung keberadaan subkultur menyimpang di tubuh kepolisian, seperti praktik korupsi, kolusi, kekerasan, hingga budaya pamer kekayaan (flexing) yang kerap dinormalisasi. Menurutnya, reformasi Polri menjadi keniscayaan agar institusi kepolisian dapat tampil lebih transparan, bersih, adil, serta kembali harmonis dengan masyarakat. Sementara itu, Prof. Jimly Asshiddiqie, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus Ketua Tim Percepatan Reformasi Polri, yang hadir secara daring, menyoroti masih tersumbatnya aspirasi masyarakat serta lemahnya kepercayaan publik terhadap kepolisian. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang memiliki kesadaran hukum dan kepekaan sosial. “Polisi harus dipandang sebagai institusi hukum yang humanis dan mengayomi masyarakat. Mahasiswa, khususnya dari FISIP, memiliki posisi strategis untuk menyuarakan aspirasi publik sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial,” ujarnya. Prof. Jimly juga menegaskan bahwa menuju Indonesia Emas, generasi muda perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang tidak terduga dengan memperkuat literasi hukum, politik, dan sosial. Menurutnya, reformasi Polri merupakan proses evaluasi dan penataan ulang institusi kepolisian pascareformasi untuk membangun hubungan yang lebih sehat antara Polri dan masyarakat, berlandaskan etika moral, profesionalisme, serta prinsip pengayoman dan keadilan. Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM ini diharapkan menjadi ruang refleksi kritis sekaligus pemantik gagasan bagi civitas akademika dalam mendorong reformasi kepolisian yang lebih berkeadilan dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Melalui perspektif kajian sosial, FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskursus akademik yang relevan dengan persoalan publik serta mendorong mahasiswa aktif berperan sebagai pengawal demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

Undang Pakar Internasional, Ilmu Pemerintahan UMM Kupas Pemerintahan Digital Berbasis AI

Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital kini menjadi faktor kunci dalam membentuk arah pemerintahan masa depan. Merespons dinamika tersebut, Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecture bertajuk “Innovation and Digital Transformation for Future Government” pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 GKB V UMM ini menghadirkan dua narasumber internasional dari Pakistan dan Turki. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola pemerintahan. Diawal, Mr. Muhammad Younus dari Department of Product Research and Software Development TPL Logistics Pvt Ltd, Karachi, Pakistan, menyampaikan topik Power and Progress of Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi alat yang sangat kuat dalam mengidentifikasi pola data, mengoptimalkan proses, serta mendukung pengambilan keputusan. “Artificial intelligence mampu mengotomatisasi sekitar 64 hingga 69 persen waktu yang sebelumnya digunakan untuk pengumpulan dan pemrosesan data,” ungkapnya, merujuk pada temuan McKinsey. Namun demikian, ia menekankan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan serius, terutama terkait konsumsi energi dan dampak lingkungan akibat meningkatnya kebutuhan komputasi dan pusat data. Younus sapaan akrabnya memaparkan bahwa pusat data AI membutuhkan energi, sistem pendingin, serta sumber daya air yang besar. Ia mencontohkan bahwa menghasilkan satu gambar AI dapat mengonsumsi energi sekitar 2,2 kWh dan hampir 4 liter air. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya optimalisasi model AI, penggunaan perangkat keras yang efisien, serta pemanfaatan energi terbarukan. “Masa depan AI sangat bergantung pada bagaimana kita menyeimbangkan manfaatnya dengan tuntutan sumber daya yang digunakan,” tegasnya. Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Onur Kulac dari Department of Political Science and Public Administration Pamukkale University, Turkey, membahas Transformation of the Role of Government. Ia menekankan bahwa peran pemerintah saat ini tidak lagi sebatas regulator dan penyedia layanan, tetapi juga sebagai fasilitator dan platform kolaborasi bagi masyarakat. “Inovasi di sektor publik bukan tentang keuntungan, melainkan tentang menciptakan nilai publik dan memperkuat legitimasi pemerintah,” jelasnya. Menurutnya, inovasi dan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak karena kompleksitas persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan birokrasi konvensional. Dr. Onur juga menyoroti pentingnya digital transformation yang tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga mencakup perubahan organisasi dan budaya kerja pemerintahan. Ia mencontohkan praktik e-Government Gateway di Turki yang berhasil memangkas birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan publik melalui sistem digital terintegrasi. Menutup pemaparannya, Dr. Onur menegaskan bahwa masa depan pemerintahan ditentukan oleh kemampuan memadukan inovasi, akuntabilitas, serta pendekatan yang berpusat pada warga negara. Ia mendorong mahasiswa untuk merefleksikan pembelajaran ini dalam konteks pemerintahan Indonesia. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa memperoleh perspektif global mengenai tantangan dan peluang inovasi serta transformasi digital dalam mewujudkan pemerintahan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Komitmen Cerdaskan Bangsa, UMM Buka Beragam Jalur Beasiswa Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui penyediaan beragam program beasiswa bagi mahasiswa baru. Skema beasiswa ini ditujukan untuk menjaring calon mahasiswa berprestasi, mahasiswa dari keluarga kurang mampu, kader dan keluarga besar Muhammadiyah, hingga aktivis organisasi dan mubaligh. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi UMM dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus menjalankan misi sosial-keagamaan persyarikatan. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa kebijakan beasiswa merupakan bentuk nyata kepedulian UMM terhadap problematika pendidikan di Indonesia, khususnya persoalan akses dan pembiayaan. Menurutnya, masih banyak anak bangsa yang memiliki potensi besar namun terkendala secara ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “UMM berkomitmen untuk tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Melalui berbagai skema beasiswa, kami ingin membuka peluang seluas-luasnya bagi calon mahasiswa untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya. Ia menjelaskan, UMM menyediakan Beasiswa Jalur Prestasi bagi calon mahasiswa dengan capaian akademik maupun nonakademik, berupa potongan Biaya Sumbangan Studi (BSS) sebesar 75 persen atau 50 persen pada semester pertama. Selain itu, terdapat Beasiswa Indonesia Emas yang memberikan potongan BSS sebesar 50 persen pada semester pertama untuk sejumlah program studi tertentu. UMM juga menghadirkan Beasiswa Saudara Kandung bagi mahasiswa yang memiliki saudara aktif kuliah di UMM, serta Beasiswa Anak Kandung Alumni UMM sebagai bentuk apresiasi kepada keluarga besar alumni. Bagi lulusan SMA/SMK/MA Muhammadiyah, UMM memberikan Beasiswa Alumni Sekolah Muhammadiyah berupa potongan 100 persen BSS pada semester pertama untuk seluruh program studi. Selain itu, UMM memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan melalui Beasiswa Yatim dan Yatim Piatu, serta mendukung kaderisasi persyarikatan melalui Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang membebaskan biaya studi dan menyediakan fasilitas pemondokan. Tersedia pula Beasiswa KATAMM bagi mubaligh dan mubalighat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Beasiswa Golden Ticket bagi aktivis organisasi kesiswaan, serta beasiswa bagi kader dan anak pengurus Persyarikatan Muhammadiyah. Ahmad Juanda menambahkan, pengelolaan beasiswa UMM juga melibatkan berbagai mitra strategis untuk memastikan keberlanjutan program. “Kolaborasi dengan mitra menjadi bagian dari ikhtiar kami agar skema beasiswa semakin kuat dan berdampak luas. Ini adalah wujud dakwah Muhammadiyah melalui pendidikan,” ungkapnya. Melalui berbagai program beasiswa tersebut, UMM menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada keberlanjutan, sekaligus konsisten menjalankan peran pendidikan sebagai sarana transformasi sosial dan kemajuan bangsa. (faq)   Penulis:  Faqih Ahmad Wafir Rahman

Wujudkan Desa Tangguh: BEM UMM Bekali Warga Kedungdalem Kesiapan Mental dan Ketahanan Ekonomi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi nyata dalam penguatan kapasitas masyarakat pesisir di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo pada 24 September lalu. Melalui pendekatan holistik, para mahasiswa ini membekali warga dengan dua pilar utama menghadapi krisis: Pertolongan Psikologis Awal (PFA) dan Manajemen Risiko Usaha Tangguh Bencana. Desa Kedungdalem yang terletak di wilayah pesisir dikenal rentan terhadap ancaman banjir rob dan angin kencang. Menyadari risiko tersebut, BEM UMM menilai bahwa ketangguhan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kesiapan mental dan stabilitas ekonomi warganya. Dalam sesi pertama, peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan diajarkan teknik Psychological First Aid (PFA). Tujuannya agar warga mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami trauma pada menit-menit awal pasca-bencana. Fasilitator kegiatan, M. ‘Ainurridho ‘Allaamsyah, menekankan bahwa kehadiran yang empatik jauh lebih berharga daripada penjelasan medis yang rumit. “Sering kali, yang dibutuhkan korban bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan,” ujarnya. Warga diajarkan teknik pernapasan untuk menstabilkan emosi serta cara berkomunikasi yang tepat guna mencegah perburukan kondisi psikologis korban di lapangan. Tak hanya mental, aspek ekonomi juga menjadi sorotan. BEM UMM memberikan edukasi mengenai keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM setempat. Mengingat banjir sering melumpuhkan aktivitas ekonomi, warga dibekali strategi business continuity plan dalam skala rumahan. Narasumber kegiatan, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., mengungkapkan bahwa banyak usaha kecil gulung tikar bukan karena kerusakan fisik semata, melainkan absennya perencanaan darurat. Peserta diajak menyusun prioritas pemulihan usaha dan pengelolaan aset agar tetap bisa bertahan di fase awal pascabencana. “Selama ini kalau bencana ya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah agar usaha tetap bisa jalan,” ungkap salah seorang peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai manajemen risiko. Melalui integrasi kesiapan mental dan ekonomi ini, BEM UMM berharap warga Kedungdalem tidak lagi sekadar menjadi objek terdampak, melainkan subjek yang aktif dan tangguh. Program ini rencananya akan diperluas ke wilayah rawan bencana lainnya di Probolinggo hingga akhir tahun mendatang. Dengan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta komunitas pesisir yang adaptif dan mampu bangkit lebih cepat dari setiap krisis yang melanda. (rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha  | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman

Cegah Bullying dari Rumah, Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Bersama DPD Al Hidayah dan PKK Pangkalpinang

PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Baca Juga  Yuk Hadiri Workshop Bersama Kak Tere: Cegah Bullying, Bangun Jiwa Kepemimpinan pada Anak Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak.

Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan PTMA

MALANG, Suara Muhammadiyah – Menatap tantangan tahun 2026 yang semakin kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menyiapkan langkah strategis menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Dalam arahannya pada Jumat, 26 Desember 2025, ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian. Muhadjir mengibaratkan pengembangan institusi seperti industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi. Karena itu, pembaruan sistem secara berkala dinilai menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama. “Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah selesai, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” tegasnya. Ia juga menegaskan perlunya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang kuat. Menurutnya, keberhasilan kampus tidak bergantung pada satu figur. Melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung, di mana setiap individu berperan sebagai bagian penting dari keseluruhan ekosistem kampus. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir meminta seluruh civitas akademika berperan aktif dalam proses rekrutmen bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai penting di tengah persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Oleh karena itu, UMM dituntut berani berinvestasi lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik. Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi.  Muhadjir berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukanlah tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya. (diko) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan PTMA, https://suaramuhammadiyah.id/read/hadapi-2026-yang-kompetitif-muhadjir-effendy-tegaskan-arah-pembaruan-ptma

Refleksi Akhir Tahun, UMM Pertegas Jati Diri sebagai Kampus Islami

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan eksistensinya dalam dunia pendidikan tinggi nasional. Momentum Milad Muhammadiyah ke-113 yang dirangkaikan dengan kegiatan Refleksi Akhir Tahun, yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu (27/12/2025). Kegiatan ini menjadi penanda penting bagi kampus putih. Dalam kesempatan tersebut, UMM secara resmi meluncurkan identitas barunya sebagai Kampus Islami. Peluncuran ini sekaligus menjadi penegasan arah strategis UMM setelah berhasil menempati peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi UMM dalam menginternalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ke dalam sistem tata kelola dan aktivitas akademik. UMM dinilai mampu menjadi contoh perguruan tinggi modern yang tetap berpijak kuat pada nilai spiritual serta ideologi persyarikatan. Rangkaian prestasi UMM semakin lengkap dengan diraihnya Cabang Ranting Award. Hal itu merupakan sebuah penghargaan atas kepedulian universitas dalam pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah serta kemakmuran masjid. Sinergi yang terbangun antara kampus dan struktur organisasi inilah yang semakin mengokohkan posisi UMM di tengah masyarakat. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., menyampaikan refleksi mendalam mengenai daya tahan Muhammadiyah hingga memasuki usia 113 tahun. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid PP Muhammadiyah sampaikan tiga pilar utama persyarikatan (Ist) Tiga Pilar Utama Persyarikatan Ia menekankan adanya tiga pilar utama yang menjaga keberlangsungan persyarikatan. Antara lain keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, serta kepatuhan terhadap sistem organisasi yang tertata dengan baik. “Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad karena tidak bertumpu pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkan bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Prestasi sebagai PTMA terbaik harus sejalan dengan kebermanfaatan bagi cabang dan ranting Muhammadiyah sebagai ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa identitas UMM sebagai Kampus Islami harus tercermin nyata dalam sikap serta perilaku seluruh sivitas akademika, mulai dari mahasiswa hingga jajaran pimpinan. Menurutnya, Islam yang dikembangkan UMM merupakan Islam berkemajuan yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa tanpa meninggalkan jati diri Muhammadiyah. “Melalui konsep Kampus Islami, kita diajak menghidupkan kembali fungsi masjid seperti pada masa KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, laboratorium sosial, hingga pusat pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., menyampaikan bahwa stabilitas dan berbagai capaian yang diraih universitas merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan profesionalisme dalam pengelolaan manajemen. “Prestasi ini menjadi kado akhir tahun yang patut disyukuri. Namun refleksi hari ini juga mengingatkan kami bahwa mempertahankan posisi terbaik jauh lebih menantang. Karena itu, pengelolaan keuangan yang sehat dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk memperkuat dakwah Muhammadiyah hingga ke tingkat cabang dan ranting,” pungkasnya. (Djoko W)

UMM Matangkan Strategi Hadapi 2026, Muhadjir Effendy Tekankan Adaptasi dan Kerja Tim

MALANG, JATIMSATUNEWS — Persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat menuntut perguruan tinggi bergerak lebih lincah dan adaptif. Menyikapi hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian bagi seluruh dosen serta tenaga kependidikan sebagai bagian dari konsolidasi internal menjelang 2026. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa tantangan ke depan tidak bisa dihadapi dengan pola lama. Ia mengingatkan agar seluruh elemen kampus tidak terjebak dalam rasa aman akibat capaian yang telah diraih, melainkan terus menyiapkan pembaruan secara berkelanjutan. Dalam arahannya pada Jumat, (26/12/25), Muhadjir menekankan pentingnya membangun mental tangguh dan kesiapan menghadapi perubahan. Menurutnya, kemajuan institusi selalu sejalan dengan meningkatnya tingkat kesulitan yang harus dihadapi. Ia mengibaratkan proses pengembangan universitas layaknya aktivitas pertambangan. Semakin dalam penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus ditanggung. Karena itu, pembaruan sistem dinilai menjadi keharusan agar kampus tidak berulang kali terjebak pada persoalan yang sama. “Setiap masalah harus diselesaikan dengan tuntas. Setelah itu, kita harus siap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus naik kelas,” tegasnya. Muhadjir juga mengingatkan pentingnya meninggalkan pola kerja one man show. Ia menilai keberhasilan universitas tidak ditentukan oleh satu sosok, melainkan oleh kekuatan sistem dan soliditas tim yang saling menguatkan. Perhatian khusus juga diarahkan pada sistem penerimaan mahasiswa baru. Ia mendorong seluruh civitas akademika untuk terlibat aktif dalam proses rekrutmen sejak tahap awal. Langkah ini dipandang krusial di tengah persaingan antar perguruan tinggi yang semakin ketat, sekaligus adanya perubahan minat calon mahasiswa terhadap bidang studi tertentu. UMM, lanjutnya, perlu berani melakukan investasi strategis, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan mutu layanan akademik, agar tetap kompetitif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Selain aspek manajerial, Muhadjir menegaskan bahwa ruh akademik tidak boleh tergerus. Profesionalitas, integritas keilmuan, serta tanggung jawab sosial harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah pembaruan institusi. Menatap 2026, ia berharap UMM dapat menjadikan momentum ini sebagai titik penguatan talenta dan sistem kerja di berbagai lini. Seluruh civitas akademika diajak untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai etika dalam menjalankan peran masing-masing. “Capaian hari ini bukan garis finis. Ini adalah modal untuk melangkah lebih jauh dan meraih target yang lebih besar ke depan,” pungkasnya. (raf)