UMM Terjunkan Tim Medis dan Relawan ke Lokasi Banjir Sumbar

Kota Malang, BhirawaUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai “Kampus Berdampak” dengan merespons cepat bencana banjir yang melanda Sumatera Barat. Sepanjang Desember ini, Kampus Putih menerjunkan puluhan relawan lintas disiplin untuk melakukan aksi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak. Tim yang dikirim terdiri dari kolaborasi apik antara Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga profesional dari RS UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Gerakan ini dilaksanakan melalui sinergi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., mengungkapkan bahwa kehadiran UMM di Sumatera Barat bukan sekadar aksi formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan akademik. “UMM tidak ingin menjadi menara gading yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Kami hadir untuk memastikan ilmu pengetahuan dan riset yang kami miliki benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga yang sedang berduka,” tegas Salis saat ditemui di sela kegiatannya. Tim UMM memusatkan operasinya di Kabupaten Agam, khususnya di tiga titik terparah yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Di sana, mereka tidak hanya memberikan layanan kesehatan gratis, tetapi juga melakukan pendampingan psikososial bagi warga yang trauma. Selain layanan medis, UMM juga mendistribusikan ratusan hygiene kit dan ribuan obat-obatan ke puskesmas setempat. Salah satu langkah krusial yang dilakukan adalah instalasi filter air bersih untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir tetap terpenuhi dengan standar kesehatan yang baik. Berita Terkait :  BIG Group Segera Buka 99 Titik Tambang di 17 Konsesi Tambang Edukasi dan Empati Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelibatan mahasiswa dalam jumlah besar bertujuan untuk membentuk karakter generasi masa depan yang memiliki kepekaan sosial tinggi. Menurutnya, pengalaman di lapangan adalah laboratorium terbaik bagi mahasiswa. “Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki empati. Mahasiswa harus punya pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan yang kuat,” imbuhnya. Ia berharap, aksi kemanusiaan ini bisa bertransformasi menjadi data riset yang kuat untuk memperkuat kajian mitigasi bencana di masa depan. “Pengalaman ini akan kami bawa pulang untuk memperkuat riset di bidang lingkungan dan kesehatan. Jadi, kontribusi UMM tidak hanya pada penanganan saat bencana, tapi juga pada upaya pencegahan di masa mendatang,” pungkas Salis. [mut.wwn]

UMM Kembali Terjunkan Relawan Nakes ke Sumatera

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera. Fokus utamanya pada layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin. Mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. “Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak,” katanya. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya.(imm/lim)

Student Day Fakultas Psikologi UMM 2025 Resmi Ditutup, Mengawali Langkah dan Perjuangan Mahasiswa Baru

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (FAPSI UMM) secara resmi menutup rangkaian kegiatan Student Day 2025 pada Sabtu, 20/11/2025. Penutupan ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan yang melibatkan mahasiswa aktif Fakultas Psikologi dan telah berlangsung sejak pertengahan November 2025. Kegiatan penutupan Student Day dilaksanakan di lingkungan Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang dan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, senat fakultas, panitia pelaksana, serta mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif mahasiswa selama rangkaian kegiatan berlangsung. Student Day FAPSI UMM 2025 diselenggarakan sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan kerja sama tim, serta mengembangkan keterampilan interpersonal dan kepemimpinan sejak awal masa perkuliahan. Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UMM dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan Student Day 2025. “Student Day bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skill, tanggung jawab, dan kolaborasi. Pengalaman selama mengikuti Student Day 2025 diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa baru ke depannya,” ujarnya. Pelaksanaan Student Day FAPSI UMM 2025 dilakukan melalui serangkaian kegiatan terstruktur yang mencakup pemberian materi di kelas-kelas peminatan seperti Leadership, Public Speaking, Kepenulisan Ilmiah, Influencer, Interpersonal Communication, dan Kelas PKM. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan outbound untuk melatih kerja sama dan kepemimpinan, serta pertunjukan seni sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Setiap kelas peminatan menetapkan satu mahasiswa baru terbaik berdasarkan keaktifan, kreativitas, dan capaian selama mengikuti rangkaian kegiatan. Dengan berakhirnya Student Day FAPSI UMM 2025, fakultas berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya sebagai sarana pembinaan mahasiswa baru yang berkelanjutan serta berorientasi pada penguatan karakter dan kompetensi mahasiswa. (raf)

Kampus Berdampak, UMM Kirim Puluhan Relawan ke Sumatera Barat

Agroredaksi.com-Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya. Ia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. “Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya.(Sfl/hms)

Bukti Komitmen Jadi Kampus Berdampak, UMM Kirim Puluhan Relawan ke Sumatera Barat

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya. Ia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. “Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya. (faq)   Penulis; Ahmad Faqih Wafir Rahman

Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan UMM

pwmu.co –Menatap tantangan tahun 2026 yang semakin kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menyiapkan langkah strategis guna menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah.Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., hadir sebagai narasumber utama. Dalam arahannya pada Jumat (26/12/2025), ia menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak dalam zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian. Muhadjir mengibaratkan pengembangan institusi layaknya industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pembaruan sistem secara berkala dinilai menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama. “Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah teratasi, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang solid. Keberhasilan perguruan tinggi, menurutnya, tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung, di mana setiap individu menjadi bagian penting dari ekosistem kampus. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir mendorong seluruh civitas akademika untuk berperan aktif dalam proses rekrutmen secara bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai krusial di tengah persaingan antarkampus yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Untuk itu, UMM dituntut berani melakukan investasi yang lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik. Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa setiap pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi. Muhadjir berharap tahun 2026 menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, serta menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukan tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Wildan Nanda Rahmatullah | Editor : Agus Wahyudi

Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Cegah Bullying dari Rumah

BIN, PANGKALPINANG — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak. Ia menekankan pentingnya peran ibu dalam menjaga lisan, terutama saat berkomunikasi dengan anggota keluarga. Menurutnya, kata-kata yang diucapkan orang tua, baik kepada suami maupun anak, memiliki dampak psikologis yang besar. “Saya sudah melakukan semacam kuesioner, hasilnya 80% dari ibu-ibu di Pangkalpinang ini tanpa ia sadari berkata-kata yang telah menyakiti hati atau perasaan anaknya,” ungkap Rokayah. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya dari kekerasan verbal yang tidak terkontrol. Rokayah mencontohkan sebuah kasus yang baru-baru ini terjadi di Medan, di mana seorang anak tega membunuh ibunya karena tidak tahan melihat sang ibu kerap memarahi ayahnya. Founder Khoiru Ummah Bangka Belitung itu juga menegaskan bahwa bullying tidak hanya terjadi di media sosial, sekolah, atau lingkungan luar rumah, tetapi sering kali justru bermula dari dalam keluarga tanpa disadari oleh orang tua. “Bullying paling awal sering terjadi bukan di sekolah tapi di rumah. Kadang tanpa sadar, melalui ucapan yang merendahkan, gertakan, membanding-bandingjan dengan anak lain dan julukan yang dianggap bercanda, padahal lisan orang tua bisa menjadi doa tapi juga bisa menjadi luka,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, Rokayah berharap para ibu semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan bernilai islami dalam keluarga. “Ini sebagai langkah awal mencegah perundungan sejak dari rumah,” tukasnya. (*)

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Alumnus Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Nanda Risydianto, turut berperan dalam keberhasilan Tim Nasional Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu SEA Games 2025 yang digelar di Thailand. Indonesia memastikan naik podium setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 62–55 pada laga perebutan tempat ketiga yang berlangsung Jumat (19/12/2025). Dalam ajang tersebut, Nanda bertugas sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Sejak 2021, Nanda telah dipercaya mendampingi tim nasional basket putri. Perannya berfokus pada menjaga kebugaran atlet, pencegahan cedera, serta pemulihan fisik selama masa persiapan hingga pertandingan berlangsung. Menurut Nanda, tantangan utama sebagai fisioterapis tim nasional adalah memahami kondisi fisik dan karakter setiap atlet. Hal ini menjadi penting karena kebutuhan penanganan atlet tidak bisa disamaratakan. “Setiap atlet memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Terutama atlet perempuan, yang penanganannya memerlukan perhatian khusus terhadap faktor fisiologis yang dapat memengaruhi performa dan risiko cedera,” ujarnya. Pengalaman Nanda di dunia olahraga nasional dan internasional ditopang oleh latar belakang pendidikan dan sertifikasi profesional. Ia merupakan lulusan Fisioterapi UMM dan Magister Olahraga, serta mengantongi sejumlah sertifikasi di bidang fisioterapi olahraga, di antaranya AIFO, CDNP, dan COMT. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda telah berpengalaman mendampingi berbagai tim olahraga. Ia pernah terlibat dalam Prapon Futsal Jawa Timur 2019 serta menjadi fisioterapis Basket Putri Fever Surabaya sejak 2021 hingga saat ini. Keterlibatan Nanda dalam ajang SEA Games 2025 menunjukkan peran penting tenaga pendukung dalam olahraga prestasi, khususnya fisioterapis, yang berkontribusi langsung terhadap kesiapan dan performa atlet di kompetisi internasional. (raf)

Tinggalkan Kampus, Dosen Akuakultur UMM Pimpin Posko Kemanusiaan di Agam

AGAM, JATIMSATUNEWS.COM — Selama hampir satu bulan, aktivitas perkuliahan ditinggalkan demi tugas kemanusiaan. Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., dosen Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), terjun langsung ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sepanjang Desember 2025. Ia menjadi bagian dari misi kemanusiaan UMM yang melibatkan dokter muda Fakultas Kedokteran, tenaga medis RS UMM, apoteker, perawat, serta Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Penugasan ini merupakan bentuk kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam memperkuat peran perguruan tinggi pada respons kebencanaan. Di lapangan, Indra Ferry dipercaya sebagai Ketua Pos Koordinasi. Perannya krusial dalam menghubungkan kerja lintas klaster, sekaligus memastikan kebutuhan logistik dapat terpenuhi sejak tahap perencanaan hingga distribusi bantuan kepada penyintas. “Tugas utama saya memastikan koordinasi antar-klaster berjalan dan kebutuhan logistik, baik internal maupun eksternal, bisa terkelola dengan baik,” ungkapnya saat ditemui tim Humas UMM, 25 Desember lalu. Wilayah kerja relawan difokuskan pada sejumlah titik terdampak di Kabupaten Agam, seperti Malalak, Maninjau, dan Palembayan. Medan berat menjadi tantangan utama. Di Malalak, relawan harus berhadapan dengan jembatan putus yang memaksa mereka menyeberangi sungai, dengan risiko meningkat saat debit air naik. “Kalau air sungai sudah tinggi, kami tidak bisa menyeberang karena sangat berbahaya,” jelasnya. Sementara di Maninjau, ancaman longsor susulan menjadi perhatian serius. Material batuan dari kawasan pegunungan berpotensi kembali bergerak saat hujan turun dalam waktu lama. Kondisi ini membuat relawan harus menghentikan aktivitas ketika hujan berlangsung lebih dari dua jam. Untuk memaksimalkan penanganan, tim relawan dibagi ke dalam empat klaster utama. Klaster medis fokus pada pelayanan kesehatan di puskesmas serta kunjungan langsung ke rumah penyintas. Klaster psikososial memberikan pendampingan mental kepada anak-anak, lansia, ibu rumah tangga, hingga remaja guna membantu pemulihan trauma pascabencana. Sementara itu, klaster logistik bertugas menyalurkan bantuan berupa obat-obatan, bahan pangan, perlengkapan dapur umum, hingga alat kesehatan seperti kursi roda. Klaster WASH memastikan ketersediaan air bersih melalui pemasangan unit filtrasi di fasilitas umum dan hunian sementara. Kehadiran Indra Ferry dan tim relawan menjadi bagian dari komitmen UMM untuk hadir di tengah masyarakat saat krisis terjadi. Kampus tidak hanya berkontribusi melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Menutup pengabdiannya, Indra Ferry menyampaikan pesan penguatan kepada para penyintas agar tetap bertahan dan tidak kehilangan harapan. Ia juga mengapresiasi sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut. “Jangan merasa sendirian. Banyak pihak yang peduli dan terus berupaya membantu pemulihan saudara-saudara di sini,” ujarnya.

Cegah Bullying dari Rumah, Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Bersama DPD Al Hidayah Pangkalpinang dan Ketua TP PKK

 NEGERI LASKAR PELANGI – PANGKALPINANG, LASPELA — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak. Ia menekankan pentingnya peran ibu dalam menjaga lisan, terutama saat berkomunikasi dengan anggota keluarga. Menurutnya, kata-kata yang diucapkan orang tua, baik kepada suami maupun anak, memiliki dampak psikologis yang besar. “Saya sudah melakukan semacam kuesioner, hasilnya 80% dari ibu-ibu di Pangkalpinang ini tanpa ia sadari berkata-kata yang telah menyakiti hati atau perasaan anaknya,” ungkap Rokayah. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya dari kekerasan verbal yang tidak terkontrol. Rokayah mencontohkan sebuah kasus yang baru-baru ini terjadi di Medan, di mana seorang anak tega membunuh ibunya karena tidak tahan melihat sang ibu kerap memarahi ayahnya. Founder Khoiru Ummah Bangka Belitung itu juga menegaskan bahwa bullying tidak hanya terjadi di media sosial, sekolah, atau lingkungan luar rumah, tetapi sering kali justru bermula dari dalam keluarga tanpa disadari oleh orang tua. “Bullying paling awal sering terjadi bukan di sekolah tapi di rumah. Kadang tanpa sadar, melalui ucapan yang merendahkan, gertakan, membanding-bandingjan dengan anak lain dan julukan yang dianggap bercanda, padahal lisan orang tua bisa menjadi doa tapi juga bisa menjadi luka,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, Rokayah berharap para ibu semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan bernilai islami dalam keluarga. “Ini sebagai langkah awal mencegah perundungan sejak dari rumah,” tukasnya. (*/rel)