AIESEC in UMM: Wujudkan Pendidikan Inklusif, Perlu Kolaborasi dan Tanggung Jawab Bersama

GOOD NEWS FORM INDONESIA – AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan Impact Circle 11.0: “Inclusive Education, Shared Responsibility: Empowering Change Through Collaboration” pada 29 November 2025 di Aula Teknik GKB III Lantai 6 Kampus UMM. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen AIESEC in UMM dalam mendukung Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4: Quality Education dan SDG 8: Decent Work and Economic Growth, melalui penguatan kapasitas pemuda dalam memahami isu pendidikan inklusif serta pentingnya literasi finansial untuk keberlanjutan pendidikan. Kota Malang dipilih sebagai pusat penyelenggaraan acara mengingat posisinya sebagai kota pendidikan sekaligus daerah yang memiliki ekosistem layanan inklusi yang berkembang pesat. Impact Circle 11.0 menghadirkan dua narasumber utama: Ibu Ganis Anjani, SE, MM dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, serta Firmansyah Shidiq Wardhana, BBA, MBA, SCL, seorang konsultan Islamic digital economy dan praktisi literasi keuangan yang telah berpengalaman lebih dari sebelas tahun di sektor keuangan, fintech syariah, ESG, dan pengembangan kapasitas generasi muda. Kehadiran keduanya memberikan perspektif lintas sektor tentang bagaimana pendidikan inklusif dan kesiapan ekonomi saling berkelindan dalam membentuk kualitas sumber daya manusia masa depan. Pada sesi pertama bertajuk “Equal Chance to Learn”, Ibu Ganis menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya idealisme, tetapi mandat hukum yang tertuang dalam UUD 1945, UU Sisdiknas 2003, hingga Peraturan Daerah tentang sistem penyelenggaraan pendidikan. Sejak 2012, seluruh sekolah di Kota Malang diwajibkan untuk menerima Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK), didukung oleh berbagai layanan komprehensif melalui UPT Layanan Pendidikan ABK, mulai dari Unit Intervensi Terpadu, Pendidikan Transisi, Layanan Vokasional, hingga Terapi Okupasi. Ibu Ganis menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan lagi pilihan, tetapi kewajiban bersama. Upaya pemerintah meliputi program kesetaraan, peningkatan kualitas guru, perluasan fasilitas, hingga pemberian beasiswa daerah dan pelatihan kompetensi digital bagi pelajar dan pemuda. “Pendidikan inklusif hanya bisa terwujud jika semua pihak pemerintah, sekolah, orang tua, komunitas, dan pemuda bergerak bersama. Kami membuka ruang kolaborasi untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang,” ujar Ibu Ganis. Ibu Ganis juga memaparkan bahwa Kota Malang saat ini menangani 74 anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui unit layanan resmi, dengan dukungan terapis perilaku, terapis okupasi, tenaga pendidik, hingga program Safari Inklusi yang mengedepankan pendekatan edukatif berbasis keluarga dan komunitas. Selain itu, Pemerintah Kota Malang terus memperkuat pemerataan akses melalui program seragam gratis bagi siswa baru SD dan SMP serta berbagai skema beasiswa daerah bagi pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu. Inovasi lain seperti Musrenbang Tematik Anak, Pemuda, Disabilitas, Perempuan, dan Lansia memungkinkan kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang terwakili untuk ikut menentukan arah kebijakan pendidikan. Lebih jauh, sesi ini menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berbicara soal fasilitas fisik, tetapi juga soal bagaimana sekolah menyediakan lingkungan yang fleksibel, responsif, dan non-diskriminatif. Ibu Ganis menjelaskan bahwa seluruh anak dapat belajar, dan sistem pendidikan harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan mereka, bukan sebaliknya. Peserta diajak memahami bahwa inklusi adalah perjalanan bersama yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, pemuda, dan masyarakat. Memperkuat diskusi mengenai akses pendidikan, sesi kedua bertajuk “Financially Fit to Learn” yang dibawakan oleh Firmansyah Shidiq mengajak peserta melihat isu keberlanjutan pendidikan dari sudut pandang literasi finansial. Ia menyoroti tantangan gaya hidup mahasiswa saat ini, mulai dari FOMO, fast fashion, hedonisme, impulsive buying, hingga pemakaian PayLater dan pinjol yang kian marak. Menurutnya, kebiasaan finansial yang tidak terkendali berakibat langsung pada fokus akademik, kesehatan mental, fisik, dan bahkan masa depan karier. “Ketika anak muda mampu mengelola keuangan dengan bijak, mereka bukan hanya mempertahankan keberlanjutan pendidikan mereka, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” jelas Pak Firmansyah. Pak Firmansyah membahas secara mendalam perbedaan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) serta memberikan strategi praktis pengelolaan keuangan seperti mencatat pengeluaran, mengevaluasi rutinitas finansial, hingga menggunakan aplikasi anggaran. Ia juga memperkenalkan aturan 60/30/10. 60% untuk kebutuhan dasar, 30% untuk investasi dan dana darurat, dan 10% untuk donasi sebagai pola yang dapat membantu mahasiswa menjaga stabilitas keuangan. Bagi Beliau, literasi keuangan bukan hanya keterampilan ekonomi, tetapi life skill yang menentukan kesiapan kerja dan ketahanan hidup jangka panjang. Tidak hanya itu, peserta diajak memahami pentingnya upskilling dan reskilling, seperti pengembangan digital skills, project management, entrepreneurship, hingga soft skills seperti leadership, komunikasi, dan resiliensi. Dalam perspektif SDGs, literasi finansial dan pengembangan keterampilan merupakan jembatan yang menghubungkan SDG 4 dengan SDG 8, karena keberlanjutan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kesiapan pemuda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Impact Circle 11.0 tidak hanya menghadirkan sesi penyampaian materi, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk terlibat dalam Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi kelompok, peserta merumuskan gagasan dan solusi konkrit terkait pemerataan akses belajar, penguatan layanan inklusi, strategi pengelolaan keuangan bagi pelajar, hingga peran pemuda dalam memperluas dampak sosial di komunitasnya. FGD ini dirancang untuk mendorong peserta mengubah wawasan menjadi aksi nyata di lingkungan mereka. Penyelenggaraan Impact Circle 11.0 menegaskan komitmen AIESEC in UMM untuk terus menghadirkan ruang edukatif dan kolaboratif bagi generasi muda. Sebagai organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang kepemimpinan global. AIESEC in UMM percaya bahwa pendidikan inklusif dan literasi finansial adalah dua fondasi utama yang membentuk masa depan Indonesia yang adil dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan pemuda, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Terhubung tapi Terasing: Fenomena Fomo di Era Digital

RADAR MOJOKERTO – MANUSIA pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa relasi dengan sesamanya. Sejak lahir, manusia membentuk identitas diri melalui interaksi sosial, memahami norma, serta memaknai kehidupan dalam kebersamaan. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam kajian sosiologi dan antropologi. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, cara manusia membangun relasi sosial mengalami pergeseran yang signifikan. Salah satu gejala paling nyata dari perubahan tersebut adalah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO). FOMO bukan sekadar rasa takut tertinggal tren, melainkan bentuk kecemasan sosial yang berakar pada kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima dalam kelompoknya. Media sosial kini berfungsi sebagai ruang sosial baru yang membentuk standar pergaulan, gaya hidup, dan keberhasilan. Dalam perspektif sosiologi, media sosial dapat dipahami sebagai fakta sosial yang bekerja secara halus, tetapi kuat, dalam membentuk cara individu berpikir dan bertindak. Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Di era digital, norma tersebut tidak lagi hanya hadir dalam interaksi tatap muka, tetapi juga dalam linimasa media sosial. Unggahan tentang pencapaian, hiburan, dan gaya hidup menciptakan tekanan sosial tersendiri. Ketika individu merasa tidak ikut serta dalam arus tersebut, muncul perasaan tertinggal, tidak relevan, bahkan terasing secara sosial. Fenomena FOMO dapat dengan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak individu merasa perlu menghadiri acara populer, mengunjungi tempat nongkrong yang sedang viral, atau membeli produk tertentu karena ramai diperbincangkan di media sosial. Unggahan tentang konser, coffee shop terkenal, atau gaya hidup influencer mendorong individu untuk ikut terlibat agar tetap dianggap ”ada” dalam lingkaran sosialnya. Ketika tidak ikut serta, individu sering kali merasa kurang gaul atau takut tersisih dari pergaulan. Di kalangan mahasiswa dan generasi muda, FOMO juga tampak dalam aktivitas akademik dan organisasi. Mengikuti seminar, pelatihan, atau tren produktivitas tertentu kerap dilakukan bukan karena kebutuhan pengembangan diri, melainkan karena takut dianggap pasif atau tidak aktif. Media sosial kemudian menjadi ruang pembanding sosial yang memperkuat tekanan tersebut, sehingga nilai diri sering kali diukur dari seberapa sibuk dan terlihat produktif di ruang digital. Dari sudut pandang antropologi, FOMO merupakan bagian dari budaya masyarakat digital yang menekankan kehadiran, partisipasi, dan visibilitas. Budaya ini mendorong individu untuk selalu ”hadir” di ruang virtual, meskipun kehadiran tersebut sering bersifat simbolik. Interaksi sosial tetap terjadi, tetapi kehilangan kedalaman makna karena lebih berorientasi pada citra dan pengakuan sosial, bukan pada kedekatan emosional dan solidaritas nyata. Dalam kajian ilmu komunikasi, FOMO menunjukkan pergeseran fungsi komunikasi sosial. Komunikasi digital tidak lagi sekadar menjadi sarana pertukaran pesan dan pemahaman, tetapi juga alat legitimasi sosial. Likes, views, dan engagement menjadi indikator penerimaan sosial. Akibatnya, manusia sebagai makhluk sosial justru terjebak dalam paradoks: semakin sering berkomunikasi, tetapi semakin merasa tertekan dan kesepian. Fenomena ini menandakan adanya krisis makna dalam kehidupan bermasyarakat. Relasi sosial yang seharusnya memberi rasa aman, dukungan, dan kebersamaan berubah menjadi sumber tekanan psikologis. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali merefleksikan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Media digital seharusnya digunakan untuk memperkuat relasi sosial, bukan menggantikannya. Pada akhirnya, manusia tidak hidup dari seberapa sering ia terlihat di layar, melainkan dari seberapa bermakna hubungan sosial yang ia bangun dalam kehidupan nyata. (*) Editor: Fendy Hermansyah Sumber: Jawa Pos Radar Mojokerto Tags
Peran Keluarga dan Lembaga Sosial Penting dalam Membentuk Perilaku Sosial Anak

maduraindepth.com — Keluarga dan berbagai lembaga sosial memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku sosial anak sejak usia dini. Lingkungan terdekat anak menjadi fondasi utama dalam menanamkan nilai, norma, serta sikap sosial yang akan terbawa hingga dewasa. Keluarga merupakan tempat pertama anak belajar bersosialisasi. Di lingkungan inilah anak mulai mengenal cara berbicara, bersikap, serta berinteraksi dengan orang lain. Pola asuh orang tua, komunikasi di dalam rumah, hingga cara menyelesaikan masalah menjadi contoh nyata yang membentuk karakter sosial anak. “Keluarga menjadi tempat awal anak belajar nilai, norma, dan perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari,” tulis Ayra Selvia Rahmadini dalam artikelnya. Kebiasaan sederhana seperti makan bersama, berdiskusi, serta penerapan aturan di rumah membantu anak memahami tanggung jawab, sopan santun, dan sikap saling menghargai. Selain keluarga, sekolah berperan sebagai ruang sosial yang lebih luas bagi anak. Di sekolah, anak berinteraksi dengan teman sebaya dari latar belakang yang beragam, sekaligus belajar bekerja sama, disiplin, dan menghormati perbedaan. “Sekolah tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga melatih anak untuk bersosialisasi dan berperilaku disiplin,” lanjutnya. Peraturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta keteladanan guru menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku sosial positif anak. Peran lembaga keagamaan juga tidak kalah penting. Melalui kegiatan ibadah dan aktivitas sosial, anak diperkenalkan pada nilai moral, etika, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai keagamaan menjadi pedoman bagi anak dalam mengendalikan diri dan bersikap di tengah masyarakat. Baca juga: Masjid Jamik Satu-satunya Cagar Budaya di Sumenep yang Diakui Kemendikbud “Nilai keagamaan membantu anak memiliki kontrol diri dan pedoman dalam bersikap di lingkungan sosial,” tulis Ayra. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan baru. Media sosial dapat memberikan manfaat positif, seperti menambah pengetahuan dan kreativitas anak. Namun, tanpa pengawasan yang tepat, media sosial juga berpotensi memengaruhi perilaku anak secara negatif. “Media sosial dapat menjadi sarana belajar, tetapi juga bisa memengaruhi perilaku anak jika digunakan tanpa pengawasan,” jelasnya. Karena itu, peran orang tua dalam membimbing dan mengawasi penggunaan teknologi menjadi sangat penting agar anak mampu menggunakan media digital secara bijak. Untuk membentuk perilaku sosial anak yang baik, dibutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan lingkungan masyarakat. Keselarasan nilai yang diajarkan akan membantu anak tumbuh tanpa kebingungan dalam bersikap. “Kerja sama antara keluarga dan lembaga sosial membantu anak tumbuh dengan perilaku sosial yang positif,” tutup Ayra. Dengan kolaborasi yang baik antarberbagai pihak, anak diharapkan dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki perilaku sosial positif serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (*/Aj)
UMM Jadi Kampus Paling Berkelanjutan di Malang Raya dan PTMA Nasional

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Isu air dan energi kerap dibahas di forum global, namun di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), keberlanjutan dijalankan sebagai praktik harian. Mulai dari danau konservasi air hingga transportasi listrik kampus, prinsip ramah lingkungan diterapkan secara sistematis. Pendekatan inilah yang mengantarkan UMM kembali menguatkan posisinya dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2025. Pada pemeringkatan tahun ini, UMM menempati peringkat 19 nasional, naik satu tingkat dibanding 2024, serta berada di posisi 102 dunia. Capaian tersebut menegaskan konsistensi UMM dalam membangun kampus berkelanjutan melalui proses panjang dan terukur sejak pertama kali mengikuti UI GreenMetric. Di tingkat regional, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan di Malang Raya, sekaligus mengukuhkan diri sebagai perguruan tinggi paling berkelanjutan di lingkungan PTMA secara nasional. Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini menjadi energi tambahan untuk terus menjadikan UMM bukan hanya kampus hijau dan asri, tetapi juga elemen bangsa yang aktif menjaga kelestarian bumi. “Harapannya, ini menumbuhkan kepedulian menjaga keberlangsungan bumi, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya hingga menanam pohon secara berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menegaskan bahwa capaian ini bukan hasil kerja instan atau sekadar mengejar peringkat. UI GreenMetric menilai enam indikator utama—Setting & Infrastructure, Energy & Climate Change, Waste, Water, Transportation, serta Education & Research—yang seluruhnya dibangun UMM secara terintegrasi dan berkelanjutan. “Nilai kami menonjol pada aspek Water berkat danau konservasi kampus, serta Education and Research yang terus diperkuat secara sistemik,” jelasnya. Keunggulan UMM tidak berhenti pada infrastruktur. Integrasi nilai akademik, praktik langsung, dan budaya keberlanjutan menjadi fondasi utama. Kampanye Go Green dan Go Healthy, mata kuliah wajib Wawasan Berkelanjutan, hingga penggunaan transportasi kampus ramah lingkungan dijalankan secara konsisten. Seluruh sivitas akademika dilibatkan aktif melalui riset, kegiatan ekstrakurikuler, serta kampanye sadar lingkungan yang berkelanjutan. UMM juga mengembangkan berbagai program unggulan seperti mobil listrik kampus, sistem transportasi internal ramah lingkungan, pengelolaan limbah terpadu menuju zero waste, pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS dan PLTMH, serta integrasi isu keberlanjutan ke dalam kurikulum. Program-program ini berdampak langsung pada indikator penilaian UI GreenMetric dan manfaat nyata bagi lingkungan kampus. Capaian tersebut selaras dengan visi UMM sebagai kampus unggul berwawasan lingkungan. Ke depan, UMM menargetkan 15 besar nasional dengan memperkuat inovasi, kualitas data, dan dampak program. “Keberlanjutan harus menjadi budaya kampus, bukan sekadar tuntutan penilaian. Di situlah kekuatan UMM yang sesungguhnya,” pungkas Sandi. (raf)
UMM Teken Kerja Sama Program 1000 Sarjana, Dukung SDM Kota Batu

MALANGRAYA.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tunjukkan komitmen strategisnya dalam percepatan pembangunan sumber daya manusia di Kota Batu melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) guna pelaksanaan Program 1000 Sarjana. Kerja sama ini ditandatangani di GOR Gajah Mada, Kota Batu, pada (9/12/2025) lalu. Program 1000 Sarjana merupakan inisiatif Pemerintah Kota Batu guna memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda setempat, khususnya pada bidang yang mendukung potensi lokal seperti pertanian dan pariwisata. Terkait hal ini UMM ditunjuk sebagai mitra strategis dalam implementasi program ini. Nurochman, Wali Kota Batu, menegaskan komitmennya dalam mendanai pendidikan. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan SDM yang lebih kompetitif,” katanya, pada Kamis (18/12/2025). Menanggapi hal ini, Kepala Bagian Kerja Sama UMM Bidang IV, Muhammad Fath Mashuri, menyatakan bahwa UMM tak hanya andalkan anggaran dari pemerintah daerah. Menurutnya, Universitas juga akan memberikan subsidi tambahan berupa potongan biaya studi bagi mahasiswa asal Kota Batu. “UMM tidak semata mengandalkan anggaran dari Pemerintah Kota Batu, tetapi juga memberikan subsidi tambahan,” jelas Fath. Penerima beasiswa dipilih dari mahasiswa aktif berkartu tanda penduduk (KTP) Kota Batu dengan sejumlah kriteria ketat, seperti batas minimal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan batas masa studi. “Untuk mekanisme program melibatkan proses seleksi bersama antara UMM dan Pemerintah Kota Batu,” imbuhnya. Baca Juga: Profesor UIN Malang Jadi Penguji Disertasi Doktor di Universitas Belanda, Prestasi Internasional..! Di samping dukungan finansial, UMM juga integrasikan pengembangan soft skill dan karakter mahasiswa melalui Program Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) serta pembekalan keterampilan teknis seperti bimbingan bahasa pemrograman Python. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya mumpuni secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi kepemimpinan dan digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. “Kita akan mengajak generasi muda Kota Batu untuk memanfaatkan peluang ini dengan kesungguhan belajar dan berproses di perguruan tinggi,” pungkasnya. Dengan adanya program ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan siap berkontribusi langsung dalam program unggulan daerah, di sektor pertanian dan ketahanan pangan.(gus)***
Bahas Pemanfaatan AI, Maba FH UMM Raih Juara LKTI Nasional

pwmu.co –Gelombang digitalisasi dan isu pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang kian menguat di ranah global direspons tuntas oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Holista Ana Maria, mahasiswi Fakultas Hukum (FH) angkatan 2025, bersama timnya, berhasil meraih Juara II dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Biometrik yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret pada September lalu. Prestasi ini menegaskan peran aktif UMM dalam mendorong generasi muda untuk menjadi solusi berbasis teknologi. Holista sapaannya, menulis karya bersama Gina dan Febri dikenal sebagai tim BRIGITA. Menjelaskan bahwa latar belakang keikutsertaan mereka didorong oleh kesadaran akan urgensi isu teknologi dan digitalisasi di Indonesia. Di bawah bimbingan dosen Diah Budiarti, S.Pd., M.Pd., mereka memutuskan memanfaatkan waktu luang pasca-PESMABA untuk menuangkan gagasan inovatif mereka ke dalam LKTI. Fokus utama tulisan mereka adalah bagaimana generasi muda Indonesia memanfaatkan teknologi AI sebagai wujud inovasi dan kreativitas di era tren #KaburAjaDulu. Arah pemikiran ini selaras dengan tema besar dari panitia, yakni Tren #KaburAjaDulu yang menekankan potensi generasi muda dalam memaksimalkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Tim BRIGITA meyakini bahwa topik AI ini sangat relevan dibahas karena AI tidak hanya menunjukkan kesiapan generasi muda menghadapi tantangan global. Tetapi juga mencerminkan kebutuhan akan kecepatan dan efisiensi di zaman modern. “Pembahasan pemanfaatan AI menjadi keunggulan utama kami. Karena hampir setiap orang mulai mengandalkan AI untuk menyelesaikan berbagai masalah, dan kami hadir untuk memaksimalkan potensi itu secara lebih efektif dan inovatif,” jelasnya. Dalam karya ilmiahnya, tim BRIGITA tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan solusi nyata. Mereka mengusulkan tiga langkah strategis. Bagi konten kreator, AI harus dioptimalkan untuk mengembangkan ide kreatif. Untuk generasi muda, AI menjadi sarana konstruktif untuk menyalurkan ide dan aspirasi. Terakhir bagi pemerintah, perlu adanya dukungan berupa pelatihan dan kebijakan untuk ekosistem AI. Konsep inilah yang menjadikan gagasan mereka unggul dalam kompetisi. Holista berharap, pengalaman ini dapat memotivasi mahasiswa UMM lainnya untuk tidak takut mencoba kompetisi ilmiah. “Mengikuti suatu lomba bukan hanya karena menang dan kalah saja, tetapi dapat menambahkan pengalaman baru, apalagi saat kita sudah masuk di era perkuliahan,” pesannya. Melalui karya ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya berwawasan hukum, tetapi juga inovatif dan tanggap terhadap perkembangan teknologi global.(*) *) Penulis : Faqih *) Editor : Zahrah Khairani Karim
PSIB UMM dan FKAUB Malang Raya Perkuat Dialog Lintas Iman

MALANG, Suara Muhammadiyah – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang bersama Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya menggelar kegiatan dialog dan refleksi bersama melalui acara bedah buku yang mengangkat tema “Perjuangan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama FKAUB Malang Raya dalam Mewujudkan Moderasi Beragama”. Acara yang diselenggarakan pada Selasa, 6 Desember 2025 ini bertempat di Auditorium Masjid Lantai 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., selaku Wakil Rektor V UMM yang membidangi pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dan pengembangan SUmberd Daya Manusia (SDM). Dalam sambutannya, Prof. Tri menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif dan konsistensi FKAUB Malang Raya dalam merawat kerukunan. Ia juga menegaskan komitmen panjang Muhammadiyah dalam menjunjung nilai-nilai inklusivitas dan moderasi beragama. “Muhammadiyah, sejak kelahirannya, telah menanamkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, inklusif, dan menjunjung tinggi kehidupan berbangsa yang harmonis. Kegiatan seperti ini adalah bentuk nyata dari implementasi nilai-nilai tersebut, sekaligus wadah untuk memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa,” ujar Prof. Tri. Bedah buku tersebut menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu Pdt. David Tobing, ST., S.Th., M.Pd. dan Prof. Gonda Yumitro, S.IP., MA., Ph.D. Keduanya mengupas tuntas peran, tantangan, dan capaian FKAUB Malang Raya sebagai salah satu forum dialog lintas iman yang aktif di wilayah Malang Raya. Buku yang dibedah menjadi dokumentasi penting sekaligus refleksi kritis atas perjalanan kolektif dalam mewujudkan moderasi beragama di tingkat akar rumput. Dalam penyampaiannya David Tobing Selaku Sekretaris Jendral FKAUB memaparkan bahwa FKAUB lahir pada era reformasi, dimana FKAUB Malang Raya menjadi cikal bakal lahirnya FKAUB di seluruh Indonesia. “Selama ini FKAUB telah banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan kesatuan antar umat beragama, kami berharap kedepannya banyak karya yang dilahirkan oleh FKAUB,” ujarnya. David Tobing menambahkan bahwa bedah buku ini merupakan kali kedua yang dilaksanakan, selain itu David juga mengucapkan apresiasi kepada Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM yang telah bersedia memfasiltasi bedah buku ini. “Kedepannya PSIB UMM dan FKAUB bisa melakukan kolaborasi terutama dalam aspek riset kerukunan antar umat beragama di Malang Raya,” tuturnya. Sementara kepala Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM Prof. Gonda Yumitro, S.IP., MA., Ph.D memaparkan bahwa banyak perspektif yang bisa kita lihat dalam buku tersebut, terutama toleransi antar umat beragama dalam berbagai pandangan agama. “saya mengapresiasi tulisan buku ini, lebih khusus bagaimana perjuangan FKAUB dalam membangun sikap toleransi di Malang Raya,” tuturnya. Gonda juga menyoriti kurangnya pandangan agama Islam dalam buku tersebut, “dalam buku pandangan toleransi sangat kompleks, akan tetapi ada satu hal yang masih kurang. Yaitu, tidak adanya pandangan Islam yang mendalam mengenai sikap tolerani. Seharusnya dalam buku ini bisa mencerikan sikap toleransi Nabi Muhammad, seperti lahirnya piagam madina yang memberi ruang yang setara bagi umat Yahudi dan warga Madinah lainnya, selain itu Nabi Muhammad Juga sangat menghargai menghormati jenazah umat lain. Nabi Muhammad tetap memandangnya sebagai manusia,” ujarnya. Gonda berharap kekurangan tersebut bisa diperbaiki kedepannya, “kekurangan ini kedepannya harus diperbaiki, hal ini dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan pandangan dalam kehidupan bertoleransi. “Muhammadiyah seperti yang dijelaskan oleh Wakil Rektor Lima sebelumnya telah menerapkan sikap toleransi sejak lahir, dalam hal social Muhammadiyah tidak memandang agama tertentu. Akan tetapi sikap toleransi Muhammadiyah kepada agama lain terletak pada aspek ibadah mahdhah yang tidak bisa diganggu gugat”, tutupnya. Acara yang di moderator langsung oleh sekretaris PSIB UMM Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP dihadiri oleh berbagai elemen, terutama umat dari berbagai agama yang ada di Malang Raya. Selain dihadiri oleh umat lintas agama kegiatan tersebut juga dihadiri oleh mahasiwa UMM dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah, Diki Wahyudi diakhir sesi menutup dengan memaparkan kirpah toleransi Muhammadiyah di Indonesia. “Muhammadiyah seperti yang telah disampaikan sebelumnya sudah menerapkan toleransi yang cukup tinggi, bahkan ada istilah bagi teman-teman Kristen yang memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah disebut KrisMu (Kristen Muhammadiyah), istilah ini tidak asing bagi teman-teman Kristen yang memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah terutama teman-teman yang mengenyam Pendidikan di kampus-kampus Muhammadiyah, seperti di Papua, NTT dan lainnya. Jadi kita tidak perlu lagi mempertanyakan sikap toleransi Muhammadiyah,” tutupnya.
Website Karya Praktikum Komunikasi UMM Pukau Praktisi Media Online

SUARA MUHAMMADIYAH, Surabaya – Empat website karya Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil memukau praktisi media online. Portal-portal tersebut merupakan hasil praktikum Creative Journalism Production di Lab Komunikasi. Empat website dan kelompok yang berhasil menyelesaikan portal adalah soravista.id (Sahwahita), zheltymedia.id/ (sraddhasatya), clickbites.id (Prabharasa) dan natera.id (Narativa Force). Menandai berakhirnya praktikum, karya mahasiswa dipresentasikan di depan praktisi media online. Mereka berkunjung ke kantor redaksi Tribun Jatim dan Jawa Pos di Surabaya, Kamis (18/12). Pemimpin redaksi tribunjatim.com Trimulyono menyambut baik karya-karya mahasiswa ini. “Bagus sekali mahasiswa langsung diajarkan tidak hanya menjadi jurnalis tapi juga publisher,” ujar Ono, sapaan akrab Trimulyono. Lebih jauh, pengembang konten kreatif dan digital Tribun Jatim Adrianus Ardi menekankan pentingnya memahami ideologi platform media. Media online, katanya, harus nyaman dibaca versi desktop maupun mobile. “Sesuaikan saja formatnya. Jangan nulis terlalu panjang untuk versi mobile, tapi perbanyak unsur visual,” saran Ardi. Sementara kunjungan di Jawa Pos diisi dengan diakusi dan observasi newsroom di Graha Pena Surabaya. Dalam sesi diskusi dengan Wapemred Firzan Syahroni. Berbeda dengan media online, koran Jawa Pos memiliki kesempatan lebih besar menjaga kepercayaan publik karena memiliki banyak waktu untuk mengecek berita. “Saat berita online makin banyak, publik justru akan menyandarkan trust nya pada media cetak,” ungkap Wapred yang biasa disapa Oni ini. Itulah sebabnya Oni optimis media cetak akan terus ada. Kunjungan media diikuti 30 mahasiswa didampingi kepala lab Komunikasi Widya Yutanti dan dosen pengampu Nasrullah. “Banyak input positif dari media visit kali ini, semoga bisa menambah pengalaman dan pengetahuan mahasiswa jurnalistik,” harap Widya yang optimis lulusan Komunikasi lebih siap bekerja di dunia media massa maupun media sosial karena bekal di praktikum cukup kuat. Nasrullah menambahkan dalam.praktikum mahasiswa dilatih untuk memproduksi berita dengan cepat tapintetap.akurat. Cara ini mengacu pada kinerja media online yang harus cepat. “Makanya saya melibatkan praktisi untuk memberi penilaian karya mahasiswa agar lebih obyektif. Selain itu mahasiswa juga memperoleh banyak masukan dari ahlinya,” pungkas Nasrullah. (nas)
Website Karya Praktikum Komunikasi UMM Pukau Praktisi Media Online

pwmu.co – Empat website karya Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil memukau praktisi media online. Portal- portal tersebut merupakan hasil praktikum Creative Journalism Production di Lab Komunikasi.Empat kelompok dan website yang berhasil dipresentasikan adalah portal soravista.id oleh kelompok Sahwahita, zheltymedia.id oleh Sraddhasatya, clickbites.id oleh Prabharasa dan natera.id oleh Narativa Force. Untuk menguji kelayakan website ini, pengajar mata kuliah praktikum Nasrullah, mengajak mahasiswa berkunjung ke dua kantor media Tribun Jatim dan koran Jawa Pos di Surabaya, Kamis (18/12/2025). Tak hanya berkunjung, mahasiswa juga ditantang mempresentasikan hasil karyanya di depan Pemimpin Redaksi Tribun Jatim, Tri Mulyono. Ikut mereview karya mahasiswa, pengembang konten kreative dan digital Adrianus Ardi. Trimulyono menyambut baik karya-karya mahasiswa ini. “Bagus sekali mahasiswa langsung diajarkan tidak hanya menjadi jurnalis tapi juga publisher,” ujar Ono, sapaan akrab Trimulyono. Diminta mereview portal berita karya mahasiswa, Ono memberi apresiasi dan berbagai kritik. Salah satunya terhadap pencantuman narasumber. “Bedanya karya jurnalistik dengan konten kreatif ya pada kekayaan informasi dari sumber yang terpercaya,” kritiknya. Ono menyarankan agar mahasiswa lebih berani menulis dengan kutipan-kutipan yang akurat. Pengalaman menemui narasumber, katanya, akan menjadi bekal menjalin jejaring yang bermanfaat di suatu hari nanti. “Jurnalis itu punya privilege, bisa menemui siapapun,” tutur Ono. Lebih jauh, Adri menekankan pentingnya memahami ideologi platform media. Media online, katanya, harus nyaman dibaca versi desktop maupun mobile. “Sesuaikan saja formatnya. Jangan nulis terlalu panjang untuk versi mobile, tapi perbanyak unsur visual,” saran Ardi. Diskusi berlangsung seru karena antusias mahasiwa memamerkan karya sekaligus mendapatkan insight dari praktisi. Rika, salah satu mahasiswa, ingin melanjutkan pengembangan websitenya walau sudah selesai praktikum nanti. Dia minta saran bagaimana agar media online bisa bertahan. “Semakin segmented semakin baik. Tidak perlu terlalu bernafsu pada page view, yang penting punya segmen loyal,” kata Ono. Dia menyontohkan website Total Politik yang sangat spesifik pada isu politik dan kuat. Sementara itu kunjungan di Jawa Pos diisi dengan diakusi dan observasi newsroom di Graha Pena Surabaya. Sesi diskusi berlangsung dengan Wapemred Firzan Syahroni. Berbeda dengan media online, koran Jawa Pos memiliki kesempatan lebih besar menjaga kepercayaan publik karena memiliki banyak waktu untuk mengecek berita. Oleh karenanya, media cetak dinilainya lebih mudah menjaga kredibilitas berita. “Saat berita online makin banyak, publik justru akan menyandarkan trust nya pada media cetak,” ungkap Wapemred yang biasa disapa Oni ini. Itulah sebabnya Oni optimis media cetak akan terus ada. Kunjungan media diikuti 30 mahasiswa. Selain didampingi dosen pengampu, hadir juga kepala lab Komunikasi Widya Yutanti. “Banyak input positif dari media visit kali ini, semoga makin bisa menambah pengalaman dan pengetahuan mahasiswa jurnalistik,” harap Widya yang optimis lulusan Komunikasi lebih siap bekerja di dunia media massa maupun media sosial karena bekal di praktikum cukup kuat. Nasrullah menambahkan dalam.praktikum mahasiswa dilatih untuk memproduksi berita dengan cepat tapintetap.akurat. Cara ini mengacu pada kinerja media online yang harus cepat. “Makanya saya melibatkan praktisi untuk memberi penilaian karya mahasiswa agar lebih obyektif. Selain itu mahasiswa juga memperoleh banyak masukan dari ahlinya,” pungkas Nasrullah. (*) *) Penulis : Humas UMM *) Editor : Azrohal Hasan
LSO Mekatronik UMM Sabet Juara 2 KMHE Nasional 2025

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik Fakultas Teknik UMM berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Jember pada 23–26 Oktober 2025. Kompetisi ini diikuti puluhan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Manajer Tim Mekatronik UMM, Farelian Izzata Anantara, menjelaskan bahwa partisipasi UMM dalam KMHE merupakan bagian dari komitmen tim untuk terus mengembangkan riset dan inovasi di bidang teknologi transportasi ramah lingkungan. Menurutnya, kompetisi nasional menjadi ruang pembelajaran strategis bagi mahasiswa sekaligus kontribusi nyata terhadap isu efisiensi energi. Kategori lomba yang diikuti adalah mobil hemat energi, yang menuntut ketelitian tinggi dalam perancangan sistem kendaraan. Mulai dari desain bodi, sistem pembakaran, hingga manajemen energi harus dirancang seefisien mungkin. Tantangan tersebut menjadikan KMHE sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga sarat nilai inovasi dan keberlanjutan. Dalam proses persiapan, tim Mekatronik UMM menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama pada stabilitas prototipe berbahan bakar etanol, integrasi sistem, serta pengujian performa kendaraan. “Kami menghadapi tantangan pada stabilitas prototipe etanol, integrasi sistem, dan manajemen waktu. Namun hal itu dapat diatasi melalui pembagian tugas yang terstruktur, pengujian berkala, serta koordinasi intensif antara tim dan dosen pembina,” ujar Farel. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan penuh pihak kampus, mulai dari pendanaan, fasilitas penunjang, hingga dukungan moral. Dukungan tersebut dinilai mampu menciptakan ekosistem prestasi yang berkelanjutan bagi mahasiswa. Pembina LSO Mekatronik UMM, Andi Nusa, menilai capaian Juara 2 KMHE 2025 sebagai hasil yang patut diapresiasi, namun tetap menyisakan ruang evaluasi. Ia menegaskan bahwa prestasi ini harus menjadi pijakan awal untuk riset yang lebih mendalam dalam pengembangan kendaraan hemat energi. Ia juga mendorong tim untuk terus melakukan penelitian di luar musim lomba. Mengingat KMHE umumnya berlangsung pada Oktober hingga Desember, periode di luar itu dinilai krusial untuk memperkuat riset teknis, meningkatkan efisiensi energi, serta memaksimalkan performa kendaraan. “Capaian ini jangan membuat cepat berpuas diri. Keseimbangan antara peningkatan kemampuan teknis dan pembinaan sumber daya manusia menjadi kunci agar tim Mekatronik UMM bisa terus konsisten berprestasi dan bersaing di level yang lebih tinggi,” pungkasnya. (raf)