Perkuat Jejaring, 311 Alumni FK UMM Hadiri Reuni Perak 25 Tahun
Gelar SAMAKARYA 2026, Ikom UMM Pamerkan Ratusan Karya Praktikum Mahasiswa

Di tengah tuntutan industri kreatif yang kini lebih mengutamakan portofolio profesional dibandingkan sekadar nilai akademik di atas kertas, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan jawaban nyata. Ratusan karya hasil pembelajaran kelas sukses dipamerkan memenuhi area Dome Utara UMM dalam gelaran SAMAKARYA pada 29–30 Juni 2026. Mengusung tema “Beragam Akar, Tumbuh Bersama”, pameran ini membuktikan kesiapan mahasiswa dalam membangun kompetensi profesional mereka bahkan sebelum lulus. SAMAKARYA menjadi ruang lebur bagi seluruh peminatan Ilmu Komunikasi UMM. Berbagai karya terbaik dari disiplin Audio Visual, Public Relations, Jurnalistik, Fotografi, Komunikasi Grafis, hingga Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC) disajikan dalam satu area pamer yang terintegrasi. Tak sebatas apresiasi visual, pengunjung juga dilibatkan dalam ekosistem kreatif melalui berbagai kegiatan interaktif, mulai dari gelar wicara inspiratif, workshop podcast bersama Amazing Malang, kelas event organizer dengan Radar Malang, hingga Bioskop Keliling yang menayangkan film-film terbaik karya mahasiswa pada malam penutupan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa pameran ini adalah bukti nyata keberhasilan implementasi kurikulum Outcome Based Education (OBE) di lingkungan kampus. Mahasiswa secara langsung dituntut agar tidak hanya terpaku pada teori tekstual, melainkan wajib merancang produk nyata yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik sebagai indikator mutlak capaian pembelajaran. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil perkuliahan maupun praktikum dalam rangka OBE. Karena kurikulum kami menuntut setiap mata kuliah menghasilkan karya, maka karya-karya itulah yang kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi sekaligus menjadi gambaran bagi calon mahasiswa mengenai proses pembelajaran di Ilmu Komunikasi UMM,” urai Novin. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pameran yang diselenggarakan setiap akhir semester ini ke depannya ditargetkan akan merambah area eksternal kampus guna memperluas jangkauan apresiasi audiens, sekaligus menjadi sarana edukasi langsung bagi masyarakat. “Ini bukan kegiatan tahunan, tetapi setiap semester. Untuk penyelenggaraan kali ini kami masih fokus di lingkungan kampus agar mahasiswa UMM lebih mengenalnya terlebih dahulu. Ke depan, kami ingin mengeksplorasi penyelenggaraan di ruang publik Kota Malang agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya. Antusiasme pengunjung pameran menjadi bukti keberhasilan konsep acara. Salah seorang pengunjung yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Fahra Anissa Putri Murtado, menilai stan pameran tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga menyajikan interaksi edukatif yang memacu cara berpikir kreatif pengunjung. “Kesannya seru, banyak tantangan, terus membuat otak semangat. Semoga ke depannya acaranya semakin ramai, semakin bagus, semakin meriah, dan makin banyak kegiatannya,” pungkasnya. Menurutnya, kehadiran berbagai booth interaktif membuat SAMAKARYA tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya, tetapi juga ruang kolaborasi yang menghubungkan mahasiswa, calon mahasiswa, serta masyarakat untuk melihat secara langsung kualitas pembelajaran kreatif di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
PPKn UMM Dorong Revitalisasi Nilai Pancasila Lewat Budaya

Perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk merawat dan merevitalisasi kearifan lokal demi menjaga identitas bangsa dari gempuran globalisasi. Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Gema Pancasila bertajuk “Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila dalam Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Acara ini digagas oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Auditorium GKB V, Kamis (25/6). Selain menjadi ruang dialektika akademik, agenda ini juga menjadi momen perayaan atas diraihnya akreditasi Unggul oleh Prodi PPKn UMM. Rangkaian acara turut diisi dengan peluncuran jurnal resmi Civic Hukum serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kelembagaan dan penelitian antara FPSH UMM dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Terkait penguatan nilai luhur bangsa, Dr. Mariatul Kiptiah, M.Pd. selaku pemateri menegaskan bahwa keberagaman Indonesia yang mencakup sekitar 1.340 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah harus dipandang sebagai kekuatan dan modal sosial, bukan ancaman pemecah belah bangsa. “Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Namun, keragaman ini justru menjadi modal utama, bukan ancaman. Kita harus bangga dengan Pancasila dan tidak boleh menjadi pihak yang justru melemahkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” ujarnya. Lebih lanjut, Mariatul menjelaskan bahwa Pancasila harus dipraktikkan secara nyata melalui kearifan lokal, seperti gotong royong maupun musyawarah adat. Nilai-nilai yang aplikatif dan holistik ini adalah fondasi peradaban masa depan bangsa dalam menjawab krisis ekologi hingga kohesi sosial yang melanda dunia. “Kearifan lokal bukan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan fondasi masa depan yang harus dirawat. Ketika dunia mencari solusi atas krisis identitas, krisis ekologi, dan kohesi sosial, Indonesia sesungguhnya telah memiliki jawabannya melalui kearifan ribuan komunitas adat,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.M., menilai bahwa lestarinya kearifan lokal memiliki ikatan yang tidak terpisahkan dengan eksistensi Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, pendidikan tinggi melalui Prodi PPKn punya tanggung jawab besar untuk mewariskan keragaman tersebut kepada generasi muda di tengah perubahan zaman yang serba cepat. “Saya tidak ingin Indonesia kehilangan keindonesiaannya. Jika Bhinneka Tunggal Ika hilang, maka hilang pula Indonesia. Karena itu, kearifan lokal harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya. Pada akhirnya, melestarikan kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila bukanlah tugas yang bisa dilakukan sendirian atau sekadar menjadi teori di ruang kelas. Transformasi kurikulum pendidikan, digitalisasi kebudayaan, serta kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Langkah strategis ini menjadi pesan penting agar identitas keindonesiaan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan terus hidup dan relevan sebagai karakter generasi penerus di masa depan.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Isi Liburan Edukatif, ELED UMM Gelar Kids English Camp Berbasis Digital

Momen liburan sekolah kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk menemukan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai edukasi bagi buah hati. Menjawab kebutuhan krusial tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (English Language Education Department -ELED) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara nyata menghadirkan solusi edukatif melalui kegiatan bertajuk School Holiday Program: Kids English Camp. Berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin (29/06/2026) sampai Kamis (02/07/2026) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 dan area Perpustakaan Pusat UMM, agenda ini sukses menarik antusiasme lebih dari 110 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD). Kegiatan ini hadir untuk memberikan wadah eksplorasi anak-anak agar tetap produktif dan gembira selama liburan. Dosen ELED sekaligus penyelenggara kegiatan, Khoiriyah, S.Pd., MA., memaparkan bahwa program ini dirancang sebagai pengayaan bahasa asing yang materinya disesuaikan dengan tingkatan kelas. Menariknya, pelaksanaan camp ini terintegrasi langsung dengan kelas profesional Center of Excellence (CoE) English for Young Learners. Lewat ekosistem ini, mahasiswa UMM mendapatkan kesempatan emas untuk terjun langsung mempraktikkan keterampilan mengajarnya kepada anak-anak. Selama kegiatan, peserta disuguhi berbagai aktivitas interaktif. Mereka diajak bereksplorasi melalui pembelajaran berbasis gim (Fun English with digital game-based learning), perpaduan bahasa dan sains (English and Science), ragam aktivitas luar ruangan, hingga puncak acara yang mempertemukan mereka dengan salah satu warga negara asing pada sesi Be global – Learn English with foreigner. “Program ini merupakan adaptasi budaya summer camp luar negeri yang kami padukan dengan nilai keislaman khas English for Muslim Kids, sehingga anak-anak bisa merasakan atmosfer belajar secara langsung di dalam lingkungan kampus,” urainya. Lebih jauh, kehadiran program liburan ini turut membawa misi strategis dalam menyokong arah kebijakan pendidikan nasional. Khoiriyah menjelaskan bahwa UMM siap memposisikan diri sebagai pilar pendukung bagi rencana pemerintah yang akan kembali menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD pada 2027 mendatang. Dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium bahasa yang modern serta mendatangkan mahasiswa internasional pada acara penutupan, anak-anak didorong untuk berani mempraktikkan kemampuan komunikasi mereka secara natural. “Kami bertujuan meruntuhkan anggapan bahwa bahasa asing itu sulit, serta membuktikan bahwa belajar bahasa Inggris sangatlah menyenangkan ketika dikemas dengan permainan digital, nyanyian, dan pembuatan karya seni yang kreatif,” tegasnya. Di sisi lain, terobosan metode pembelajaran yang ditawarkan oleh UMM ini menuai apresiasi tinggi dari para wali murid. Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya program kampus yang memfasilitasi pengembangan kognitif anak secara interaktif. Iin Nur Aini, salah satu orang tua peserta, menilai bahwa Kids English Camp ini adalah wadah yang sangat ideal untuk memaksimalkan potensi sang anak di luar rutinitas sekolah formal. Ia merasa bahwa pendekatan belajar sambil bermain sukses membuat anak-anak tetap antusias dan tidak mudah bosan mengikuti rangkaian acara. “Kami mendaftarkan anak-anak ke acara UMM ini agar waktu liburan mereka terisi dengan kegiatan yang bermanfaat, dan pastinya kami berharap kemampuan sekaligus kecintaan mereka pada bahasa Inggris terus meningkat,” pungkasnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Sabet Anugerah Kampus Unggulan LLDIKTI VII 2026 Lewat Capaian Hibah Riset Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Penghargaan bergengsi ini diraih untuk kategori Penerima Program Hibah Penelitian dengan Pendanaan dan Judul Terbanyak 2026 (Bentuk Universitas/Institut), yang diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) pada 22 Juni 2026 lalu. Capaian ini secara langsung mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai institusi pendidikan dengan ekosistem riset terkuat yang adaptif terhadap tantangan global. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak diperoleh secara instan. Menurutnya, keberhasilan UMM merupakan hasil dari sistem dukungan yang dibangun secara komprehensif oleh universitas, mulai dari aspek pendanaan hingga pendampingan bagi dosen dalam menyusun proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” ujarnya. Selain dukungan pendanaan, UMM juga dinilai memiliki ekosistem riset yang kuat dan terstruktur. Berbagai unit pendukung seperti Lembaga Pengembangan Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Bursa Intelektual, KPI, hingga pusat-pusat studi menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya akademik yang produktif. Keberadaan struktur organisasi tersebut memungkinkan dosen memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian maupun pengabdian. Lebih lanjut, Salahudin sapaan akrabnya menegaskan bahwa strategi utama untuk meningkatkan produktivitas dosen adalah membangun kesadaran bahwa penelitian dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tridarma perguruan tinggi. Oleh karena itu, universitas terus menghadirkan berbagai skema pendukung agar para dosen dapat menjalankan kewajiban akademiknya secara optimal. “Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya. Menurutnya, kuantitas penelitian harus berjalan beriringan dengan kualitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Untuk memastikan riset yang dilakukan benar-benar berdampak, UMM telah membentuk klaster penelitian dan pengabdian unggulan serta melakukan pemetaan wilayah sasaran berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial yang ada di lapangan. “Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelas Salahudin. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi perhatian penting dalam setiap program hibah di UMM, Salahudin menyebut bahwa universitas memiliki kebijakan yang mewajibkan setiap kegiatan penelitian dan pengabdian melibatkan mahasiswa. Keterlibatan tersebut mencakup proses penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi, poster ilmiah, maupun bentuk luaran akademik lainnya. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus meningkatkan capaian riset dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Mulai dari dosen muda hingga dosen senior akan terus didorong untuk aktif meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Karena prestasi riset tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga kualitas serta sejauh mana penelitian tersebut mampu memberikan perubahan sosial bagi masyarakat.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahmab
Siapkan Jurnalis Profesional, Komunikasi UMM Bekali Mahasiswa Keterampilan Manajemen Media dan Analitik

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan empat media digital baru dalam ajang Communication Journalism Exhibition and Talkshow (Komjest 2026). Pameran karya dan peluncuran portal berita yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Jumat (26/6) ini menjadi wujud nyata komitmen UMM sebagai Kampus Berdampak yang konsisten mencetak jurnalis profesional di era modern. Empat portal media digital yang diluncurkan memiliki fokus dan segmentasi yang spesifik. Keempatnya meliputi natera.id yang secara khusus menyoroti isu lingkungan, soravista.id yang berfokus pada ulasan dan rekomendasi destinasi wisata alam, zheltymedia.id dengan sajian edukasi kesehatan digital, serta clickbites.id yang merangkum informasi menarik di ranah kuliner. Kehadiran portal-portal ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak sebatas belajar memproduksi teks berita, tetapi telah mampu membangun identitas media dengan target pembaca dan nilai editorial yang terarah. Selain peluncuran media, Komjest 2026 turut menyajikan forum bincang bersama para Pimpinan Redaksi (Pimred) dari setiap media garapan mahasiswa. Masing-masing Pimred membedah secara langsung karakter media mereka, mulai dari strategi segmentasi audiens, optimalisasi konten, hingga isu strategis redaksional. Wawasan mahasiswa juga makin diperkaya melalui sesi talkshow bertema “Transformasi Media & Jurnalisme: Dari Media Konvensional ke Media Modern” untuk menganalisis pergeseran pola konsumsi informasi dan strategi distribusi konten silang platform. Menanggapi pameran karya ini, Dosen Praktikum Jurnalisme Data dan Dokumenter (JR) 3 UMM, Dr. Nurudin, M.Si., menjelaskan bahwa dinamika perkembangan industri media digital menuntut mahasiswa memiliki kompetensi ganda yang melampaui kemampuan dasar menulis berita semata. “Praktikum JR 3 ini fokus pada optimasi media digital. Mahasiswa memanfaatkan Instagram, konten audio visual, hingga perangkat analitik seperti Google Analytic untuk melihat jangkauannya terhadap masyarakat, sehingga mereka tahu cara mengevaluasi efektivitas informasinya,” tegasnya. Apresiasi tinggi juga diberikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. Ia menyebut bahwa terselenggaranya pameran ini merupakan indikator keberhasilan dari capaian pembelajaran berbasis luaran (outcome-based education) yang diadopsi dalam kurikulum praktikum jurnalistik. “Saya bangga karena ini momentum penting mahasiswa mampu memamerkan karya dan menyelenggarakan acara ini dengan baik. Semoga kegiatan ini bisa diteruskan setiap semester hingga mampu melahirkan media baru yang dikelola secara profesional,” ungkapnya. Melalui rangkaian Komjest 2026, UMM membuktikan perannya sebagai institusi pendidikan yang proaktif memberikan dampak. Pengalaman mengelola media massa secara utuh dari pemetaan isu, peliputan, eksekusi redaksional, hingga analisis metrik menjadi modal berharga bagi lulusan. Pesan utamanya jelas: jurnalis masa depan bukan lagi sekadar pelapor fakta, melainkan kreator informasi yang adaptif, melek data, serta mampu membawa perubahan positif dan mengedukasi masyarakat luas melalui jurnalisme berkualitas.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dosen Psikologi UMM, Kupas Tuntas Persoalan Quarter Life Crisis bagi Anak Muda

Tekanan sosial untuk mapan secara finansial, memiliki pekerjaan tetap, hingga tuntutan menikah di usia 25 tahun kerap memicu Quarter Life Crisis (QLC) pada generasi muda. Standar kesuksesan semu yang diamplifikasi oleh media sosial ini nyatanya menjadi beban tak kasatmata yang merusak mental. Menjawab keresahan tersebut, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Irine Putri Shaliha, M.Sc., membongkar ilusi waktu yang kerap menyesatkan dan memberikan panduan konkret untuk menjaga kesehatan mental anak muda. Irine menjelaskan, QLC sangat berbeda dengan stres biasa. Jika stres umumnya dipicu oleh beban tugas atau konflik sesaat, QLC merupakan krisis identitas mendalam yang menyangkut arah hidup, karier, hingga ketakutan ekstrem akan masa depan. Di era modern, tantangan anak muda jauh lebih kompleks. Pilihan hidup yang kian beragam, persaingan kerja yang makin ketat, serta masifnya penggunaan media sosial memicu kecenderungan generasi muda untuk terus membandingkan pencapaian pribadinya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. “Setiap individu memiliki garis waktu kehidupannya masing-masing. Oleh karena itu, kita perlu sesekali beristirahat dari media sosial agar tidak terjebak dalam ilusi yang membuat kita merasa tertinggal dari orang lain,” tegasnya 26 Juni lalu pada Humas UMM. Menurut ahli psikologi ini, patokan usia ideal untuk meraih kemapanan atau menikah murni merupakan konstruksi sosial lingkungan. Desakan berupa pertanyaan-pertanyaan sensitif seputar pencapaian di usia tertentu sangat berisiko. Alih-alih menjadi motivasi, tekanan tersebut rentan memicu kecemasan berlebih, penurunan harga diri, sikap terlalu mengkritik diri sendiri (self-criticism), yang pada akhirnya bermuara pada depresi. Ia menyarankan anak muda lebih fokus membangun kesiapan mental secara bertahap. Sebab, kesuksesan sejati dalam psikologi tidak selalu diukur dari kemewahan materi, melainkan dari kesejahteraan fisik, ketenangan mental, dan kualitas relasi. “Tidak ada batasan usia yang baku dalam hal kemapanan maupun pernikahan. Kesiapan psikologis seseorang jauh lebih esensial dan penting dibandingkan sekadar mengikuti aturan atau tuntutan sosial semata,” urainya. Irine menyarankan langkah taktis dalam menghadapi QLC, yakni menghindari pengambilan keputusan penting saat emosi sedang negatif atau intens. Ia mengajak generasi muda untuk lebih berwelas asih pada diri sendiri, menerima segala ketidaksempurnaan, dan tetap berani melangkah. Baginya, kegagalan di usia muda bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase pembelajaran krusial yang membentuk kematangan berpikir secara utuh. “Usia dua puluhan adalah masa untuk eksplorasi dan belajar. Di mana, melakukan kesalahan atau gagal itu sangat wajar. Karena kadang kala, kegagalan itulah yang justru akan membawa kita menuju kesuksesan yang sebenarnya,” paparnya. Sebagai pesan penutup, krisis seperempat abad ini sejatinya adalah fase transisi alami yang tidak perlu ditakuti, melainkan dihadapi dengan kesadaran penuh. Anak muda dihimbau untuk berhenti menggunakan stopwatch orang lain untuk mengukur lari mereka sendiri. Fokuslah pada pengembangan kapasitas diri, batasi konsumsi informasi yang memicu rasa rendah diri, dan jadikan usia dua puluhan sebagai ruang aman untuk terus berproses menjadi versi terbaik dari diri sendiri.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Potret Nyata Toleransi UMM Lewat Kiprah Pemimpin Mahasiswa Buddhis Indonesia

Adalah Chandra Aditya Nugraha, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028. Capaian ini menegaskan bahwa kampus berlatar belakang Islam mampu mencetak pemimpin nasional yang berdaya saing tinggi tanpa memandang latar belakang agama dan keyakinan. Chandra sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pencapaian puncaknya saat ini merupakan buah dari proses panjang yang ia rintis sejak pertama kali bergabung dengan HIKMAHBUDHI dan Asosiasi Kesejahteraan Sosial Jawa Timur pada tahun 2015. “Organisasi itu prosesnya panjang. Saya memulai dari anggota, kemudian menjadi pengurus cabang, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Cabang. Setelah lulus dari UMM pada tahun 2020, saya mengabdikan diri sebagai pengurus pusat di Jakarta sambil melanjutkan studi,” ungkapnya 26 Juni pada Humas UMM. Dalam perjalanannya menuju kursi kepemimpinan tertinggi pada pencalonan tahun 2024 lalu, ia dihadapkan pada dinamika yang menguji kedewasaan kepemimpinannya, terutama dalam mengelola konflik internal agar tidak memecah belah anggota. “Saat proses pemilihan, itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ saya belajar memanajemen konflik agar organisasi tetap solid,” jelasnya. Sebagai mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di institusi Islam, ia menilai Kampus Putih UMM telah memberikannya ruang belajar nyata tentang esensi kebhinekaan yang memberikan hak setara bagi seluruh sivitas akademika. “Saya bangga dengan UMM. Kampus ini menerapkan nilai keberagaman secara nyata. UMM tidak mengharuskan mahasiswanya beragama Islam atau berasal dari Muhammadiyah. Semua orang bisa belajar dan berkembang bersama,” tuturnya. Bagi Chandra, UMM adalah miniatur Indonesia yang sukses mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di kampus ini, mahasiswa dari berbagai daerah, etnis, dan keyakinan dapat berbaur dan mendapatkan fasilitas serta hak pendidikan yang sama. Kebebasan dan toleransi inilah yang turut mendewasakan perspektif kepemimpinannya untuk berkiprah di tingkat nasional. Terkait tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Chandra menyadari bahwa rasa khawatir dan overthinking mengenai masa depan adalah fase wajar, namun ia mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko demi memperjuangkan tujuan hidup. “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Jadi jangan takut tentang besok akan menjadi apa. Fokuslah pada apa yang teman-teman minati dan cintai hari ini. Dari situlah jalan akan terbuka,” tegasnya. Kisah perjalanan Chandra menjadi bukti konkret bahwa lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, dipadukan dengan keberanian untuk terus berproses, mampu mencetak pemimpin yang tangguh. Nilai-nilai inklusivitas yang dibawa dari Kampus Putih diharapkan tidak hanya memajukan organisasinya, tetapi juga menjadi pesan kuat bagi mahasiswa lain untuk tidak takut bermimpi besar, terus berkarya, dan berani mengambil langkah nyata bagi masa depan bangsa.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lawatan Strategis ke Jepang, UMM Buka Peluang Karir Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengukuhkan posisi tawarnya di kancah global. Pada 17-23 Juni lalu, Kampus Putih melangsungkan lawatan strategis ke Jepang, tepatnya ke Shimonoseki City University, Miyazaki University, serta salah satu mitra industri kehutanan Nosuta Kabushi. Kunjungan ini difokuskan pada realisasi kerja sama akademik, pertukaran mahasiswa, riset tingkat lanjut, hingga ekspansi bisnis institusi. Kehadiran delegasi UMM di Shimonoseki City University merupakan undangan kehormatan dalam rangka perayaan ulang tahun ke-70 kampus tersebut. Kunjungan ini sekaligus mematangkan kerja sama resmi yang telah dirintis sejak sepuluh tahun lalu. Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. menjelaskan bahwa kemitraan ini membuahkan hasil nyata bagi mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), berupa program transfer kredit dan beasiswa pendidikan. “Kita sudah ada slot dua belas mahasiswa yang dipersiapkan, nanti lulus mereka akan kuliah S2 di Shimonoseki di bawah beasiswa mereka,” ungkapnya. Selain mengirimkan delegasi, UMM juga akan menerima kunjungan balasan dari pihak Shimonoseki pada bulan September mendatang untuk pengembangan riset dan bisnis. Salis sapaan akrabnya menuturkan bahwa kolaborasi ini turut merambah pada pengembangan sektor bisnis komersial seperti perikanan salmon, serta komoditas stroberi dan kopi. “Nanti September empat orang mahasiswa bersama dua orang profesor, serta ada lima belasan orang yang ke mari akan kerja sama dengan kita untuk pengembangan riset, kajian, dan juga peluang usaha kopi di Jepang,” tambahnya. Sebagai fasilitas penunjang, UMM dan Shimonoseki telah mendirikan Japan Corner yang dilengkapi dengan pengajar penutur asli (native speaker) dari Jepang guna membekali kemampuan bahasa mahasiswa. Ia memaparkan bahwa fasilitas tersebut diprioritaskan bagi mahasiswa yang akan berangkat studi ke Jepang, meski tidak menutup kesempatan bagi mahasiswa lain secara umum. “Nanti belajar bahasa Jepangnya di situ, tapi Japan Corner juga membuka untuk mahasiswa yang lain yang mau belajar Jepang boleh datang ke situ,” jelasnya. Sementara itu, kunjungan ke Miyazaki University berfokus pada perluasan jangkauan institusi. Mengingat empat dosen UMM merupakan alumni dari kampus tersebut, penjajakan skema riset bersama dan pertukaran pelajar menjadi lebih terarah. Dalam rangkaian lawatan yang sama, UMM turut memperkuat hubungan dengan mitra industri kehutanan Jepang, Nosuta Kabushi. Kemitraan yang telah meluluskan program magang batch pertama ini akan diakselerasi dengan pembangunan Forestry Japan Training Center di kawasan Pujon Hill. Pria itu menerangkan bahwa pihak industri Jepang bersedia berinvestasi dalam penyediaan sarana, kurikulum, hingga tenaga ahli untuk mempersiapkan kuota magang yang lebih masif. “Mereka akan invest tenaga, kurikulum, perlengkapan untuk Forestry Japan Training Center di Pujon Hill, sehingga membuka peluang dari teman-teman kehutanan untuk berkarir internasional,” terangnya. Langkah UMM di negeri sakura ini sepenuhnya sejalan dengan visi internationalisasi. Ke depan, rangkaian kolaborasi strategis dengan Jepang diharapkan mampu meroketkan kualitas riset universitas agar lebih mutakhir, sekaligus mencetak lulusan dengan daya saing tinggi. Tidak hanya sekadar transfer ilmu, jejaring internasional ini diproyeksikan mampu memberikan keuntungan ganda bagi institusi, salah satunya berupa kesempatan kerja eksklusif bagi alumni.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Raih Penghargaan Pemprov Jatim sebagai PTS Pemberi Beasiswa Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai Kampus Berdampak yang peduli pada pendidikan inklusif. Hal ini dibuktikan melalui raihan apresiasi bergengsi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan alokasi beasiswa penuh dan potongan biaya pendidikan terbanyak. Penghargaan prestisius tersebut diserahkan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur pada Jumat (19/6) di Gedung Grahadi, Surabaya, sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi Kampus Putih dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya. Penghargaan tingkat provinsi ini menjadi bukti nyata konsistensi UMM dalam menjawab tantangan kesenjangan kesempatan belajar yang kerap dialami masyarakat akibat keterbatasan ekonomi. Melalui puluhan skema beasiswa yang terus dikembangkan, UMM berupaya keras memastikan lebih banyak generasi muda potensial dari berbagai pelosok daerah tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menuturkan bahwa sumber pendanaan beasiswa di kampus ini didesain sangat beragam, mencakup kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), hingga pendanaan mandiri dari universitas. “Kriteria pertama itu UMM memberikan banyak sekali skema beasiswa, baik yang berasal dari negara maupun dari UMM sendiri. Karena itu, kami diundang oleh Ibu Gubernur untuk mendapatkan apresiasi sebagai salah satu perguruan tinggi yang memberikan banyak beasiswa,” paparnya. Lebih lanjut, Tatag merinci secara spesifik bahwa saat ini UMM telah mengelola sekitar 15 hingga 20 skema bantuan pendidikan yang aktif berjalan. Tidak hanya bergantung pada mitra eksternal, UMM secara mandiri merumuskan sejumlah program beasiswa unggulan dari internal kampus. Beberapa di antaranya meliputi beasiswa prestasi akademik dan non-akademik, beasiswa Pendidikan Ulama Tarjih (PUT), hingga beasiswa khusus bagi putra-putri alumni. Pilihan skema yang bervariasi ini menegaskan prinsip keadilan sosial yang dianut UMM, di mana permasalahan finansial tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi calon mahasiswa untuk meraih pendidikan yang berkualitas. “Program ini pasti akan terus berlanjut atau sustainable. Selain sebagai perguruan tinggi, UMM juga berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang memiliki komitmen kuat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, program beasiswa akan terus dilestarikan dan jumlahnya juga akan terus ditingkatkan ke depannya,” tegasnya. Kehadiran berbagai program beasiswa ini mempertegas identitas UMM yang tidak hanya hadir sebagai institusi akademik pencetak sarjana, melainkan juga sebagai motor penggerak perubahan sosial. Melalui pemerataan akses pendidikan ini, UMM menaruh harapan besar agar para penerima beasiswa kelak mampu bertransformasi menjadi pemimpin masa depan dan generasi unggul. Mereka diharapkan dapat kembali ke masyarakat untuk memberikan solusi nyata, berbakti pada nusa, serta membawa kemajuan yang signifikan bagi bangsa dan negara.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman