Inovasi Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam sebagai Laboratorium Karbon, Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

Nugroho Tri Waskitho, dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM yang menghadirkan Inovasi Living Lab untuk menekan emisi gas rumah kaca./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memahami adanya anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang melanda dunia saat ini. Fenomena ini kemudian dinilai UMM sangat menuntut aksi nyata dari sektor akademisi, bukan sekadar teori di atas kertas. Merespons urgensi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan tersebut, UMM secara konsisten membuktikan komitmennya sebagai Kampus Inovasi yang berdampak bagi lingkungan. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Ia sukses menjadi penerima pendanaan bergengsi tingkat nasional, yakni Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026. Melalui gagasan solutifnya, proposal riset tersebut berhasil disetujui dengan perolehan dana hibah fantastis sebesar Rp450.000.000, yang kian mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai pusat pencetak solusi atas masalah lingkungan. Mengusung tajuk riset ‘Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang’, proyek lintas disiplin ini secara strategis dirancang untuk mereduksi emisi gas rumah kaca. Nugroho memaparkan bahwa daya tarik utama dari riset ini bukan terletak pada kajian literatur, melainkan pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup. Ia menjelaskan bahwa living lab adalah sebuah pendekatan eksperimental di mana penelitian tidak dikerjakan di dalam ruangan tertutup, melainkan langsung dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi di alam terbuka bersama elemen masyarakat dan pemerintah. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” ungkap Nugroho pada rilis UMM Sabtu (16/5). Guna mengeksekusi gagasan inovatif ini, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Langkah intervensi awal akan dimulai dengan memetakan potensi serapan karbon, yang kemudian dilanjutkan dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove. Nugroho menegaskan, pembekalan ini ditujukan untuk memicu efek domino; tidak hanya menyelamatkan kualitas ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” jelasnya. Keberhasilan menembus seleksi ketat program nasional ini tak lepas dari kerja keras enam akademisi lintas disiplin yang terus difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Ia berharap, inisiatif ini tidak mandek ketika masa program usai, melainkan diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen. Pakar kehutanan ini juga memberikan pesan khusus agar riset yang diproduksi oleh perguruan tinggi mampu memberikan manfaat konkret bagi persoalan yang sedang dihadapi publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesan Nugroho. *** Editor: YAN
Jangan Cuma Lihat Ukuran, Ini 5 Tips Pilih Hewan Kurban dari Ahlinya

Hewan kurban di Kabupaten Malang jelang Hari Raya Idul Adha 2024 (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S) Malang, Blok-a.com – Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai sibuk mencari hewan kurban. Tanpa ditemani oleh ahli yang berpengalaman, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dalam memilih hewan kurban. Tidak cepat tergiur oleh ukuran tubuh yang besar atau patokan harga yang mahal. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., menegaskan bahwa ukuran tubuh bukanlah satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat serta dagingnya aman untuk dikonsumsi. Tips Memilih Hewan Kurban Agar tidak salah pilih, berikut adalah lima tips mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana, langsung dari ahlinya. 1. Amati Postur dan Cara Berdiri Hewan Langkah awal yang paling mudah dilakukan adalah dengan melihat postur tubuh hewan kurban secara menyeluruh dari berbagai sudut posisi. Prof. Lili menyarankan pembeli untuk jeli melihat cara berdiri ternak tersebut. “Pertama kita lihat dulu (hewan) ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM pada Sabtu (16/5/2026). Seperti diketahui, menurut syariat, hewan yang mengalami cacat fisik tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban. Cacat fisik yang dimaksud, seperti pincang, kurus, atau ada bagian tubuhnya yang terpotong. 2. Cek Kejernihan Mata dan Kemulusan Kulit Kondisi mata dan kulit juga merupakan indikator yang akurat untuk mengecek kesehatan hewan, terutama untuk mendeteksi penyakit luar. Dalam syariat juga dikatakan bahwa hewan yang buta sebelah atau buta total, apalagi yang berpenyakit menular, dilarang untuk dikorbankan. Menurut Prof. Lili, gangguan penglihatan pada hewan sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Sementara pada bagian kulit, juga wajib diperiksa dari infeksi parasit seperti kudis. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” jelasnya. 3. Waspadai Tanda-Tanda PMK dan Antraks Penyakit menular akut seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks harus diwaspadai karena sangat berdampak pada kelayakan daging kurban. Gejala PMK pada hewan ditandai dengan lendir berlebih di mulut, luka pada gusi/lidah, serta radang di sela kuku. Sementara untuk antraks, gejala umumnya berupa kejang-kejang yang kadang disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. 4. Perhatikan Nafsu Makan dan Ketentuan Usia Hewan yang sehat akan makan dengan aktif dan rajin bergerak dengan bugar. Dan agar memperoleh kuantitas daging yang maksimal, pembeli disarankan memilih hewan yang berbadan gemuk. Di samping kondisi fisiknya, faktor umur juga tidak boleh luput dari perhatian. Usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. 5. Istirahatkan Hewan Sebelum Disembelih Faktor krusial yang kerap diabaikan oleh panitia kurban adalah manajemen stres pada hewan ternak. Ini kerap terjadi setelah proses pengiriman atau transportasi jarak jauh. Hewan yang kelelahan tidak boleh langsung disembelih karena bisa menurunkan mutu daging akibat sindrom Dark, Firm, Dry (DFD) yang membuat daging menjadi gelap, keras, dan kering. Di akhir penjelasannya, Prof. Lili berharap panduan fisik ini dapat membantu masyarakat agar bertindak lebih teliti. Pasalnya, selain ritual rutin tahunan, ibadah kurban juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. (ova)
Hari Buku Nasional Jadi Momentum Mengenang Malik Fadjar dan Semangat Literasi

Foto: Dok. Universitas Muhammadiyah Malang News.mediamu, MALANG — Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menjadi momentum untuk mengenang sosok Abdul Malik Fadjar sebagai pencetus Hari Buku Nasional sekaligus tokoh pendidikan Muhammadiyah yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap budaya literasi di Indonesia. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta derasnya arus informasi digital, Malik Fadjar memandang tradisi membaca sebagai fondasi penting untuk menjaga daya kritis masyarakat. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang itu dikenal tidak hanya sebagai mantan Menteri Pendidikan Nasional dan mantan Rektor UMM, tetapi juga figur yang konsisten mendorong penguatan budaya membaca dan tradisi berpikir di tengah masyarakat. Direktur Rumah Baca Cerdas A. Malik Fadjar Institute UMM, Faizin, mengatakan Malik Fadjar melihat persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga melemahnya tradisi berpikir masyarakat. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, mudah diprovokasi, dan lemah daya nalarnya,” ujarnya. Menurut Faizin, gagasan Hari Buku Nasional yang dicetuskan Malik Fadjar pada 2002 bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Hari Buku Nasional, kata dia, menjadi pengingat pentingnya budaya membaca sebagai bagian dari pembangunan bangsa. “Hari Buku Nasional yang beliau gagas merupakan upaya membangun kesadaran bahwa literasi adalah fondasi kemajuan bangsa,” katanya. Ia menjelaskan, Malik Fadjar memandang buku sebagai sarana membangun cara berpikir yang kritis, rasional, dan terbuka. Karena itu, tradisi membaca dinilai perlu terus dijaga di tengah perkembangan teknologi digital dan arus informasi instan. Komitmen Malik Fadjar terhadap literasi juga diwujudkan melalui pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Ia menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya agar dapat diakses masyarakat luas. “Agar budaya baca tidak hilang ditelan perkembangan zaman, beliau memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin. Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute terus melanjutkan semangat tersebut melalui berbagai program pengembangan literasi dan pendidikan. Program itu meliputi Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga layanan Perpustakaan Keliling Mobil Bakti untuk Bangsa. Melalui peringatan Hari Buku Nasional, semangat literasi yang diwariskan Malik Fadjar diharapkan dapat terus mendorong masyarakat menjaga budaya membaca dan tradisi ilmu pengetahuan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Hari Buku Nasional, Nurudin: Literasi Kunci Kemajuan Bangsa di Tengah Gempuran Konten Digital

Nurudin, Dosen Komunikasi UMM sekaligus Penulis Buku. (Foto: Nurudin for Ketik.com) KETIK, MALANG – Momentum Hari Buku Nasional dimaknai bukan sekadar peringatan tahunan oleh penulis sekaligus akademisi, Nurudin. Menurutnya, budaya membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas masyarakat sekaligus kemajuan sebuah bangsa. Ia menilai buku bukan hanya kumpulan tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman, gagasan, hingga refleksi kehidupan yang mampu membentuk pola pikir masyarakat menjadi lebih kritis. “Bagi saya, Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk kembali mengingat bahwa kemajuan bangsa selalu berkaitan erat dengan kualitas literasinya. Buku bukan hanya kumpulan halaman berisi tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman dan gagasan untuk kemajuan bangsa,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026. Budaya membaca, tambahnya, tidak akan tumbuh hanya melalui kampanye sesaat. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan pemerintah yang memberi akses luas terhadap buku dan ruang literasi. “Hari Buku Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan pikiran masyarakat melalui literasi yang kuat,” kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini. Ia menegaskan budaya membaca dan menulis memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat. Membaca dinilai mampu memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus menumbuhkan empati sosial. Sementara itu, menulis menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, merapikan pola pikir, hingga meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi berikutnya. “Masyarakat yang terbiasa membaca dan menulis biasanya lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Budaya literasi juga berpengaruh pada kreativitas, inovasi, bahkan kemajuan ekonomi,” jelasnya. Dalam pengamatannya, kondisi literasi masyarakat Indonesia saat ini berada pada situasi yang kompleks. Di satu sisi, perkembangan teknologi digital membuka akses informasi yang sangat luas, termasuk bagi generasi muda. Namun di sisi lain, budaya serba instan membuat sebagian masyarakat mulai kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam. “Banyak anak muda terbiasa mengonsumsi informasi singkat dan instan sehingga kesabaran membaca teks panjang mulai berkurang. Literasi hari ini bukan lagi sekadar bisa membaca atau tidak, tetapi kemampuan memahami, menyaring, dan mengkritisi informasi,” terangnya. Meski demikian, Nurudin melihat masih banyak ruang optimisme. Ia menilai munculnya komunitas baca, klub buku, hingga ruang diskusi kreatif di berbagai daerah menunjukkan minat literasi sebenarnya masih tumbuh di kalangan generasi muda. Menurutnya, media sosial dan konten digital juga dapat menjadi peluang besar apabila dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung budaya literasi. “Media sosial bisa menjadi ancaman sekaligus peluang. Jika hanya dipenuhi konten dangkal tentu akan melemahkan minat membaca mendalam. Tetapi di sisi lain, media digital juga membuka jalan baru bagi dunia literasi karena banyak buku dan diskusi kini dikenalkan melalui video singkat, podcast, maupun media sosial,” ungkapnya. Penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku ini menilai, tantangan terbesar saat ini bukan melawan perkembangan teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkan teknologi agar menjadi jembatan menuju budaya membaca yang lebih kuat. Nurudin juga menekankan bahwa generasi muda tidak bisa dipaksa mencintai buku hanya melalui nasihat. Menurutnya, minat membaca harus dibangun melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan anak muda. “Generasi muda perlu diperlihatkan bahwa membaca itu menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka. Buku tentang musik, olahraga, bisnis, kesehatan mental, atau kisah inspiratif bisa menjadi pintu masuk agar mereka tertarik membaca,” ujarnya. Selain menghadirkan buku sesuai minat pembaca muda, ia juga mendorong agar ruang literasi seperti diskusi buku, festival literasi, klub membaca, hingga konten digital bertema buku dikemas lebih kreatif dan akrab dengan gaya komunikasi generasi muda. “Ketika seseorang menemukan buku yang terasa berbicara tentang dirinya, biasanya minat membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkasnya.(*)
UMM Jadi Inkubator Cendekiawan Daerah Lewat Kolaborasi Pemda-Pemprov

UMM Jadi Inkubator Cendekiawan Daerah Lewat Kolaborasi Pemda-Pemprov pwmu.co –Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, ketimpangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) antarwilayah masih menjadi tantangan besar bagi bangsa. Merespons persoalan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang mengambil peran strategis sebagai fasilitator pendidikan unggul melalui kerja sama beasiswa dengan sejumlah pemerintah daerah (Pemda) dan pemerintah provinsi (Pemprov). Kolaborasi berkelanjutan tersebut diproyeksikan terus meluas hingga menjangkau seluruh provinsi di Indonesia guna memastikan putra-putri daerah memperoleh akses pendidikan berkualitas. Dalam skema kerja sama tersebut, UMM berperan sebagai inkubator akademik yang memfasilitasi proses pembelajaran sekaligus menjaga standar mutu pendidikan. Kepala Bagian Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni UMM, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kemitraan ini menjadi bentuk sinergi kampus dalam mendukung program unggulan pemerintah daerah, salah satunya program 1.000 sarjana. “Latar belakang utama dari kolaborasi ini adalah penyelarasan visi dengan pemerintah setempat, seperti menyukseskan program 1.000 sarjana yang digerakkan oleh Pemda,” ujarnya. Dalam program tersebut, biaya kuliah hingga kebutuhan hidup mahasiswa sepenuhnya menjadi kebijakan dan tanggung jawab pemerintah daerah. Menurut Novi, UMM tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan pengalaman sosial dan jejaring nasional bagi mahasiswa utusan daerah. Mahasiswa dari berbagai wilayah seperti Kalimantan Timur maupun Sulawesi Tengah mendapatkan kesempatan memperluas wawasan dan membangun relasi lintas daerah saat menempuh pendidikan di Pulau Jawa. “Kualitas diri mahasiswa akan meningkat karena mereka memiliki networking yang lebih luas dan pengalaman belajar dari luar wilayah asal mereka,” tegasnya. Melalui lingkungan akademik yang beragam, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi sumber daya manusia unggul yang siap kembali membangun daerah asalnya masing-masing. Untuk menjaga akuntabilitas program dan kualitas lulusan, UMM menerapkan sistem evaluasi yang komprehensif bagi penerima beasiswa. Universitas secara rutin memantau perkembangan akademik mahasiswa, termasuk memastikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 serta menghindari tumpang tindih penerimaan beasiswa dari instansi lain. “Dukungan ini membuka pintu bagi anak bangsa untuk meraih cita-cita dan kami berharap mereka lulus tepat waktu agar segera mengabdi di wilayah masing-masing,” pungkas Novi. Program kolaborasi strategis tersebut menjadi bukti bahwa sinergi lintas institusi merupakan kunci penting dalam pemerataan pendidikan nasional. Ke depan, UMM berkomitmen memperluas jangkauan kerja sama hingga menyentuh seluruh pelosok Indonesia. Harapannya, mahasiswa tidak hanya berhasil meraih gelar akademik, tetapi juga pulang membawa inovasi dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah asalnya. (*) *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
UMM Jawab Krisis Iklim Dunia, Riset Penyerapan Karbon Raih Hibah Rp450 Juta

Universitas Muhammadiyah Malang menjawab tantangan ancaman anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang semakin nyata melalui langkah inovatif berbasis riset.( Ist) Malangpariwara.com – Di tengah ancaman anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang semakin nyata dirasakan masyarakat dunia, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pusat teori, tetapi juga motor penggerak solusi nyata bagi lingkungan. Tantangan itulah yang dijawab serius oleh Universitas Muhammadiyah Malang melalui langkah inovatif berbasis riset yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Komitmen kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih tersebut kembali dibuktikan lewat keberhasilan Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM, yang sukses memperoleh pendanaan nasional Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) 2025–2026. Proposal penelitiannya berhasil lolos seleksi ketat dengan nilai hibah mencapai Rp450 juta. Riset bertajuk “Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang” itu hadir bukan sekadar sebagai kajian akademik di atas meja, melainkan dirancang menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, hingga kelompok tani hutan dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca. Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM.(Ist) Nugroho menjelaskan, pendekatan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep living lab atau laboratorium hidup. Melalui pendekatan tersebut, proses penelitian tidak berhenti pada pengumpulan data dan publikasi ilmiah, tetapi langsung diterapkan di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara nyata. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” jelasnya. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak lagi diposisikan hanya sebagai objek penelitian, melainkan menjadi bagian aktif dalam proses mitigasi perubahan iklim. Tim peneliti UMM pun menggandeng sejumlah mitra strategis seperti Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, serta Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Tahap awal program akan difokuskan pada pemetaan potensi serapan karbon di sejumlah kawasan Kabupaten Malang. Setelah itu, masyarakat akan mendapatkan edukasi dan pelatihan teknis mengenai pengelolaan lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri, rehabilitasi kawasan hijau, hingga penanaman vegetasi dengan daya serap karbon tinggi seperti mangrove. Langkah tersebut dinilai penting karena perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan nyata yang mulai berdampak pada sektor pertanian, sumber air, hingga stabilitas ekonomi masyarakat desa. Karena itu, penelitian ini juga dirancang agar mampu memberikan efek berantai terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Petani lokal, misalnya, diarahkan untuk mengelola lahan secara produktif namun tetap ramah lingkungan. Dengan pola agroforestri, lahan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang membantu mengurangi emisi penyebab pemanasan global. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” terangnya. Keberhasilan riset tersebut juga menjadi bukti penting bahwa dunia akademik memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan global melalui solusi berbasis sains dan teknologi. Di balik capaian itu, terdapat kolaborasi enam akademisi lintas disiplin yang mendapat dukungan penuh dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Lebih jauh, Nugroho berharap program ini tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek semata. Ia ingin hasil penelitian tersebut dapat diadopsi menjadi fondasi kebijakan pelestarian lingkungan daerah yang berkelanjutan dan memiliki dampak jangka panjang bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus mulai mengubah orientasi penelitian agar tidak hanya mengejar publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi persoalan publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesannya. Di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap perubahan iklim, langkah yang dilakukan UMM menjadi gambaran bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih besar sebagai pusat inovasi lingkungan. Dari Kabupaten Malang, sebuah gerakan kecil berbasis sains kini mulai diarahkan untuk memberi kontribusi terhadap penyelamatan bumi secara global.( Djoko W)
Mengenang Malik Fadjar, Tokoh UMM Penggagas Hari Buku Nasional

Tokoh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Menteri Pendidikan Nasional periode 2001-2004, Malik Fadjar. PARADIGMA.CO.ID – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Dalam peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Besaran biaya ini menjadi acuan penting bagi calon mahasiswa baru yang ingin melanjutkan pendidikan di kampus swasta tersebut. Dilansir dari Edukasi, mekanisme pendanaan di UMM menerapkan sistem Biaya Studi Semester (BSS). Komponen BSS ini mencakup beberapa hal, mulai dari biaya Daftar Ulang, SPP, DPP, Layanan IT, hingga Layanan Perpustakaan. Bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur reguler atau gelombang II, terdapat penyesuaian berupa kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen. Biaya penyesuaian ini wajib dibayarkan sekali pada saat proses Daftar Ulang atau Her-Registrasi. Pihak kampus memberikan kelonggaran dengan membagi pembayaran BSS sebanyak tiga kali dalam setiap semester. Angsuran pertama dibayarkan saat Kartu Rencana Studi (KRS), angsuran kedua menjelang UTS, dan angsuran ketiga sebelum UAS dilaksanakan. Khusus untuk mahasiswa semester pertama, BSS angsuran kesatu wajib dilunasi ketika melakukan Daftar Ulang. Sementara itu, keperluan lain seperti KKN, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda memiliki skema pembayaran tersendiri di luar BSS. Berikut adalah detail Biaya Studi Semester (BSS) untuk rumpun ilmu kesehatan di UMM: 1. Farmasi – BSS semester 1 reguler I: Rp 31,1 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 34,6 juta – BSS semester 2-3: Rp 29,1 juta – BSS semester 4-8: Rp 16,5 juta 2. Kedokteran – BSS semester 1 reguler I: Rp 103.350.000 – BSS semester 1 reguler II: Rp 123.350.000 – BSS semester 2-3: Rp 101,7 juta – BSS semester 4-8: Rp 27,3 juta 3. Ilmu Keperawatan – BSS semester 1 reguler I: Rp 17,350 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 19,6 juta – BSS semester 2-7: Rp 16,050 juta – BSS semester 8: Rp 12,3 juta 4. Fisioterapi – BSS semester 1 reguler I: Rp 15,7 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 17,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 14,4 juta – BSS semester 8: Rp 11,1 juta Rumpun Ekonomi, Bisnis, dan Teknik Berikut rincian biaya untuk fakultas ekonomi dan teknik: 1. Manajemen – BSS semester 1 reguler I: Rp 11,55 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 14,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 12,150 juta – BSS semester 8: Rp 7,5 juta Also Read ITB Tetapkan Iuran Pengembangan Institusi SSU 2026 Hingga Rp85 Juta 2. Akuntansi – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,9 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 3. Informatika – BSS semester 1 reguler I: Rp 10,5 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 14_000_000 – BSS semester 2-7: Rp 11,1 juta – BSS semester 8: Rp 6,3 juta 4. Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 5. Teknik Sipil – BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 12,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 6. Ekonomi Pembangunan – BSS semester 1 reguler I: Rp 8,7 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta – BSS semester 2-7: Rp 9,3 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta Rumpun Sosial, Hukum, dan Humaniora Berikut rincian biaya untuk jurusan sosial, hukum, dan keagamaan: 1. Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, Hukum – BSS semester 1 reguler I: Rp 10.050.000 – BSS semester 1 reguler II: Rp 13,2 juta hingga Rp 13,550 juta – BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta – BSS semester 8: Rp 6,3 juta 2. Ilmu Pemerintahan – BSS semester 1 reguler I: Rp 8,250 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 11,2 juta – BSS semester 2-7: Rp 8,850 juta – BSS semester 8: Rp 5,850 juta 3. Kesejahteraan Sosial, Sosiologi – BSS semester 1 reguler I: Rp 7,2 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8,7 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,8 juta – BSS semester 8: Rp 5,550 juta 4. Ekonomi Syariah, Pendidikan Bahasa Arab – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,950 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 7,950 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 5. Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 7,6 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta Rumpun Keguruan dan Ilmu Pendidikan Berikut rincian biaya untuk program studi keguruan: 1. Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Pendidikan Biologi – BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8,250 juta hingga Rp 8,750 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 2. Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar – BSS semester 1 reguler I: Rp 7,050 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 9,550 juta – BSS semester 2-7: Rp 7,650 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta 3. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan – BSS semester 1 reguler I: Rp 6 juta – BSS semester 1 reguler II: Rp 8 juta – BSS semester 2-7: Rp 6,6 juta – BSS semester 8: Rp 5,1 juta
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) MEDIA KOMPETEN – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Informasi mengenai besaran dana yang perlu dipersiapkan oleh calon mahasiswa baru ini dilansir dari Edukasi. Komponen utama pembiayaan di kampus swasta ini bertumpu pada Biaya Studi Semester (BSS). Dana BSS tersebut mencakup beberapa elemen penting, mulai dari biaya daftar ulang, SPP, DPP, hingga fasilitas penunjang seperti Layanan IT dan Layanan Perpustakaan. Pihak kampus menerapkan kebijakan khusus bagi calon mahasiswa baru jalur reguler atau gelombang II. Mereka akan dikenai kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi satu kali pada saat proses her-registrasi. Skema pembayaran BSS di UMM dirancang agar bisa diangsur sebanyak tiga kali dalam satu semester. Pembayaran angsuran pertama dilakukan saat pengisian KRS, angsuran kedua menjelang UTS, dan angsuran ketiga diselesaikan sebelum UAS. Bagi mahasiswa semester pertama, dana BSS angsuran kesatu wajib dibayarkan bersamaan dengan proses daftar ulang. Sementara itu, biaya untuk keperluan KKN, skripsi, yudisium, dan wisuda tidak termasuk dalam BSS dan ditagihkan secara terpisah. Besaran pembiayaan BSS bervariasi tergantung pada jurusan dan jalur gelombang yang dipilih oleh calon mahasiswa. Berikut adalah detail lengkap tarif BSS per semester untuk rumpun program studi kesehatan dan kedokteran. Pada program studi Farmasi, mahasiswa jalur reguler I dikenai BSS semester 1 sebesar Rp 31,1 juta, sedangkan reguler II sebesar Rp 34,6 juta. Memasuki semester 2-3 nilainya menjadi Rp 29,1 juta, lalu turun menjadi Rp 16,5 juta pada semester 4-8. Jurusan Kedokteran tercatat memiliki nominal tertinggi dengan BSS semester 1 reguler I senilai Rp 103.350.000 dan reguler II sebesar Rp 123.350.000. Untuk semester 2-3, biayanya sebesar Rp 101,7 juta, dan pada semester 4-8 ditetapkan Rp 27,3 juta. Program studi Ilmu Keperawatan menetapkan tarif semester 1 reguler I sebesar Rp 17,350 juta dan reguler II Rp 19,6 juta. Biaya semester 2-7 disesuaikan menjadi Rp 16,050 juta, kemudian pada semester 8 berkurang menjadi Rp 12,3 juta. Untuk jurusan Fisioterapi, beban biaya semester 1 bagi jalur reguler I adalah Rp 15,7 juta dan reguler II Rp 17,7 juta. Selanjutnya, perkuliahan semester 2-7 membutuhkan dana Rp 14,4 juta, serta semester 8 sebesar Rp 11,1 juta. Biaya Kuliah Rumpun Ilmu Sosial, Humaniora, dan Agama Rumpun program studi keagamaan dan sosial humaniora menawarkan struktur pembiayaan yang lebih terjangkau. Jurusan Pendidikan Agama Islam serta Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) menetapkan tarif seragam. Kedua jurusan keagamaan tersebut mematok BSS semester 1 reguler I sejumlah Rp 6,6 juta dan reguler II Rp 7,6 juta. Dana untuk semester 2-7 adalah Rp 7,2 juta, yang kemudian menyusut menjadi Rp 5,1 juta pada semester akhir. Skema serupa berlaku untuk Ekonomi Syariah dan Pendidikan Bahasa Arab. Mahasiswa reguler I membayar Rp 6,950 juta dan reguler II Rp 7,950 juta pada semester awal, dilanjutkan Rp 7,2 juta untuk semester 2-7, serta Rp 5,1 juta pada semester 8. Bagi peminat Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi, BSS awal berada pada angka Rp 7,2 juta (reguler I) dan Rp 8,7 juta (reguler II). Biaya semester berikutnya dipatok Rp 7,8 juta untuk semester 2-7 dan Rp 5,550 juta untuk semester 8. Program studi Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, serta Psikologi dan Hukum memiliki rincian biaya yang identik. Semester 1 reguler I dikenai Rp 10.050.000, reguler II Rp 13,2 juta hingga Rp 13,550 juta, semester 2-7 Rp 10,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Untuk Ilmu Pemerintahan, pihak UMM menetapkan tarif semester 1 reguler I senilai Rp 8,250 juta dan reguler II Rp 11,2 juta. Angsuran semester 2-7 dipatok Rp 8,850 juta, disusul semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Tarif Pembiayaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, serta Pendidikan Biologi memiliki kemiripan tarif. Biaya awal reguler I berkisar antara Rp 6,750 juta hingga Rp 6,750 juta, sedangkan reguler II berkisar Rp 8,250 juta sampai Rp 8,750 juta. Memasuki semester 2-7, mahasiswa keempat jurusan tersebut menyetor dana sebesar Rp 7,350 juta, dan ditutup dengan Rp 5,1 juta pada semester akhir. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki tarif lebih rendah, yakni reguler I Rp 6 juta dan reguler II Rp 8 juta. Sementara itu, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mematok BSS awal Rp 7,050 juta (reguler I) dan Rp 9,550 juta (reguler II). Biaya kelanjutan untuk semester 2-7 adalah Rp 7,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 5,1 juta. Anggaran Kuliah Fakultas Teknik dan Ekonomi Rumpun Teknik yang meliputi Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Industri menetapkan biaya semester 1 reguler I sebesar Rp 9,450 juta dan reguler II Rp 11,3 juta. Biaya semester 2-7 dipatok Rp 10,050 juta dan semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Jurusan Teknik Sipil mengikuti struktur yang hampir sama, namun jalur reguler II semester 1 sedikit lebih tinggi yaitu Rp 12,3 juta. Untuk program studi Informatika, BSS semester 1 reguler I mencapai Rp 10,5 juta dan reguler II sebesar Rp 14 juta. Fakultas Ekonomi menempatkan jurusan Manajemen dengan tarif semester 1 reguler I Rp 11,55 juta dan reguler II Rp 14,7 juta. Akuntansi menetapkan reguler I Rp 9,6 juta dan reguler II Rp 11,9 juta, sedangkan Ekonomi Pembangunan mematok reguler I Rp 8,7 juta dan reguler II Rp 11,3 juta.
Hari Buku Nasional dan Fenomena Membaca Masyarakat Saat Ini

Fathurrahim Syuhadi. (Istimewa/PWMU.CO) Oleh : Fathurrahim SyuhadiPenulis Buku, Redaksi PWMU.CO PWMU – Setiap tanggal 17 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Buku Nasional. Peringatan ini ditetapkan pada tahun 2002 oleh Prof Abdul Malik Fadjar, MSc Menteri Pendidikan dan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat itu sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat dan menumbuhkan budaya literasi di negeri ini. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980. Momentum ini sejatinya bukan hanya seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasi masyarakatnya. Di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, fenomena membaca masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang cukup kompleks. Di satu sisi, akses terhadap bahan bacaan semakin mudah. Buku elektronik, artikel digital, jurnal, hingga media sosial menyediakan informasi dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut justru menghadirkan tantangan baru berupa menurunnya budaya membaca secara mendalam. Saat ini masyarakat lebih banyak membaca secara singkat, cepat, dan instan. Judul berita sering kali dibaca tanpa memahami isi secara utuh. Potongan video pendek lebih menarik perhatian dibandingkan membaca buku berlembar-lembar. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan memahami persoalan secara mendalam perlahan mengalami penurunan. Budaya “scrolling” lebih dominan daripada budaya membaca serius. Fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda. Tidak sedikit pelajar yang lebih akrab dengan media sosial dibandingkan perpustakaan. Buku pelajaran sering dianggap beban, sedangkan gawai menjadi kebutuhan utama. Padahal membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan untuk memperluas wawasan, membangun karakter, dan menguatkan daya pikir seseorang. Ironisnya, Indonesia dikenal memiliki tingkat penggunaan media sosial yang tinggi, tetapi belum sebanding dengan budaya membaca buku. Banyak orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar telepon pintar, namun merasa berat membaca beberapa halaman buku. Ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan semata kurangnya akses, melainkan juga soal kebiasaan dan budaya. Hari Buku Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Membaca tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban sekolah, tetapi kebutuhan hidup. Bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang gemar membaca. Buku adalah jendela pengetahuan yang mampu membuka cakrawala berpikir manusia. Dari buku, seseorang dapat mengenal sejarah, ilmu pengetahuan, budaya, bahkan memahami kehidupan dengan lebih bijak. Karena itu, budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga. Anak-anak yang tumbuh di rumah yang akrab dengan buku akan memiliki kedekatan emosional dengan aktivitas membaca. Orang tua memiliki peran penting sebagai teladan. Sulit mengajak anak gemar membaca apabila orang tua sendiri lebih sibuk dengan gawai daripada buku. Sekolah juga harus menjadi ruang yang menyenangkan bagi tumbuhnya budaya literasi. Perpustakaan jangan hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi pusat pembelajaran yang hidup. Guru perlu menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif dan mendorong siswa mencintai bacaan. Gerakan literasi sekolah hendaknya tidak berhenti pada formalitas membaca lima belas menit sebelum pelajaran, tetapi benar-benar membangun kebiasaan berpikir melalui bacaan. Selain itu, perkembangan teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menguatkan budaya membaca. Platform digital bisa menjadi sarana memperluas literasi jika digunakan secara bijak. Buku digital, aplikasi perpustakaan daring, dan forum diskusi literasi dapat menjadi jembatan agar generasi muda lebih dekat dengan bacaan. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan konten yang mendidik di tengah banjir hiburan digital yang begitu masif. Peringatan Hari Buku Nasional juga mengingatkan pentingnya keberpihakan negara terhadap dunia literasi. Harga buku yang terjangkau, perpustakaan yang nyaman, distribusi buku hingga pelosok desa, dan dukungan terhadap penulis menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat pembaca. Literasi bukan hanya urusan individu, tetapi investasi peradaban bangsa. Slogan “Literasi Menguatkan Generasi” memiliki makna yang sangat mendalam. Generasi yang kuat bukan hanya generasi yang cakap teknologi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, bijak menyikapi informasi, dan memiliki keluasan wawasan. Semua itu tumbuh melalui budaya membaca. Pada akhirnya, Hari Buku Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan penuh spanduk dan slogan. Peringatan ini harus menjadi gerakan nyata untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap buku. Sebab di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh informasi, membaca tetap menjadi jalan penting untuk menjaga kejernihan berpikir dan kematangan peradaban. Buku mungkin terlihat sederhana, tetapi dari lembar-lembar itulah lahir pemikiran besar yang mampu mengubah dunia. (*) Editor : Alfain jalaluddin ramadlan