Berawal dari Membukukan Skripsi, Dosen Komunikasi UMM Nurudin Konsisten Menulis dan Terbitkan 24 Buku

KETIK, BATU – Berawal dari keinginan membukukan skripsi semasa kuliah pada 1996, Nurudin kini menjelma menjadi penulis produktif dengan puluhan karya buku bertema komunikasi, media sosial, hingga budaya populer. Konsistensinya menulis juga turut menginspirasi mahasiswa untuk berkarya melalui buku. Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu telah menghasilkan puluhan buku dan ratusan artikel yang dipublikasikan di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Selain aktif mengajar, Nurudin juga dikenal sebagai editor buku serta trainer kepenulisan. Ketertarikan terhadap dunia menulis ternyata telah tumbuh sejak masih menjadi mahasiswa. Ia mengaku mulai serius menulis ketika menyusun skripsi pada tahun 1996. “Sejak zaman mahasiswa saya sudah tertarik menulis buku. Saat membuat skripsi tahun 1996, saya punya keinginan membukukannya. Namun baru bisa terwujud setelah menjadi dosen. Skripsi itu menjadi karya pertama yang diterbitkan dari program studi saya di Universitas Sebelas Maret Surakarta,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026. Semangat menulis tersebut terus ia pertahankan hingga sekarang. Menurut Dosen yang sudah bergelar Doktor ini, karya tulis bukan sekadar bentuk aktualisasi diri, tetapi juga sarana memberikan manfaat kepada masyarakat luas. “Saya ingin tulisan bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bahkan dalam proses mengajar, saya juga mendorong mahasiswa agar menghasilkan karya tulis. Luaran mata kuliah yang saya ampu sering kali berupa buku kumpulan tulisan mahasiswa,” katanya. Tidak hanya produktif secara individu, Nurudin juga dikenal aktif memelopori penerbitan buku mahasiswa sebagai hasil akhir pembelajaran di kampus. Hingga kini, sudah sekitar 54 judul buku kelas berhasil diterbitkan bersama mahasiswa. Dari puluhan buku yang telah diterbitkan, Nurudin menyebut salah satu buku yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup dan kariernya adalah buku berjudul Think and Grow Rich karya Napoleon Hill. Sementara itu, tantangan terbesar yang ia hadapi sebagai penulis justru terletak pada manajemen waktu di tengah kesibukannya sebagai dosen. “Soal manajemen waktu memang menjadi tantangan terbesar. Sebab pekerjaan dosen banyak berkaitan dengan urusan teknis dan administratif,” jelas Pak Nur, sapaan akrab para mahasiswanya. Dalam mencari ide tulisan, Pak Nur mengaku lebih banyak memperoleh inspirasi dari pengalaman pribadi, hasil membaca, hingga pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari. “Pengalaman adalah sumber gagasan yang sangat penting. Selain itu, membaca apa saja juga akan sangat berguna bagi penulis. Calon penulis tidak boleh membatasi diri hanya membaca satu tema tertentu saja,” ungkapnya. Ia menilai kebiasaan membaca menjadi modal penting untuk menjaga produktivitas menulis. Menurutnya, semakin banyak seseorang membaca, maka semakin mudah pula menemukan ide dan sudut pandang baru. “Calon penulis harus yakin bahwa apa yang dibaca suatu saat akan berguna. Cepat atau lambat, semua bacaan akan membantu proses menulis,” tambah Dosen yang gemar bulutangkis ini. Selain membaca, pengamatan terhadap lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dalam membangun ide tulisan. “Mengamati kejadian di sekitar kita sangat dianjurkan bagi calon penulis. Akan lebih baik lagi jika hasil pengamatan itu dicatat atau ditulis,” katanya. Meski memiliki kesibukan tinggi, Nurudin tetap memasang target minimal menerbitkan satu buku setiap tahun. “Minimal satu buku dalam satu tahun. Memang tidak mudah, tapi saya merasa harus punya target,” ujarnya. Konsistensi, menurut Pak Nur, menjadi kunci utama bagi siapa saja yang ingin berkembang di dunia kepenulisan. Ia mengingatkan penulis pemula agar tidak cepat merasa puas terhadap kemampuan yang dimiliki. “Penulis yang baik tidak boleh cepat puas. Harus terus membaca dan terus melatih kemampuan menulis. Dunia sangat dinamis, sehingga kita juga harus terus berkembang,” tegasnya. Daftar buku individu karya Nurudin yang telah dipublikasikan antara lain: 1. Free Writing, Menulis Dulu Salah Belakangan (Selaksa Media, terbit Juni 2026) 2. Agama itu Bernama K-Pop, Kesetiaan, Euforia dan Imperialisme Budaya Populer (Selaksa Media, 2026) 3. Behind the Glamour, Identitas Baru K-Popers (UMM Press, 2025) 4. Andai Pemerintah Mau (Inteligensia Media, 2021) 5. Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus (Prenada, Jakarta, 2020) 6. Agama Saya adalah Uang (Intrans, Malang, 2020) 7. Media Sosial, Agama Baru Masyarakat Milenial (Intrans, Jakarta, 2019) 8. Perkembangan Teknologi Komunikasi (Rajawali, Jakarta, 2017) 9. Ilmu Komunikasi, Ilmiah Populer (Rajawali, Jakarta, 2016). 10. Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Proses Komunikasi, Buku Litera, Yogyakarta 2012) 11. Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital (Aditya Media Publishing, Yogyakarta, 2012) 12. Jurus Jitu Nulis Artikel yang Baik dan Benar (Ghalia, Jakarta 2011) 13. Citizen Journalism Sebagai Katarsis Baru Masyarakat (Buku Litera, Yogyakarta 2010) 14. Jurnalisme Kemanusiaan, Membedah Pemikiran Jakob Oetama tentang Pers dan Jurnalisme (UMM Press, Malang 2010) 15. Dasar-Dasar Penulisan (UMM Press, Malang 2010) 16. Jurnalisme Masa Kini (Rajawali Pers, Jakarta 2009) 17. Kiat Meresensi Buku di Media Cetak (Murai Kencana, Jakarta 2009) 18. Hubungan Media, Konsep dan Aplikasi (Rajawali Pers, Jakarta 2008) 19. Pengantar Komunikasi Massa (Rajawali Pers, Jakarta 2007) 20. Sistem Komunikasi Indonesia (Rajawali Pers, Jakarta 2004) 21. Pers Dalam Lipatan Kekuasaan (Tragedi Pers Tiga Zaman) (UMM Press, Malang 2003)
Inovasi Clove Separator Mahasiswa UMM, Tingkatkan Produtivitas Petani Cengkeh

Di tengah tuntutan efisiensi biaya pertanian dan ancaman tingginya inflasi bahan pokok yang membayangi kesejahteraan petani lokal, inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci kelangsungan usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkeh semi-otomatis bernama Clove Separator EVO. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi petani cengkeh di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya tenaga kerja dan lambatnya proses panen secara manual. Mesin ini merupakan karya inovatif Risqi Andy Sulbi Sasmita dan timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Sebelumnya, proses pemisahan bunga dan tangkai cengkeh secara tradisional memakan waktu sangat lama, di mana tenaga manusia hanya sanggup menghasilkan maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi petani hingga puluhan kali lipat namun dengan harga beli yang ramah di kantong. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan melonjak drastis hingga 50 kilogram per jam dengan hanya membutuhkan satu hingga dua operator. Mesin ini beroperasi secara sistematis; bunga cengkeh yang masuk ke dalam corong akan melewati rotor penggilingan, lalu disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM ini juga memastikan rancangan alat tersebut tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna berkat arahan langsung dari para dosen pembimbing. Alat yang lahir dari proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga menawarkan kemudahan perawatan harian. Rencananya, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan secara langsung saat masa panen raya. Ia berharap karya mahasiswa dari Kampus Putih UMM ini bisa memantik semangat sivitas akademika lain untuk terus berkreasi memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar wacana akademis. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus terbukti mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Harapannya, inovasi ini segera mendapatkan dukungan untuk diproduksi secara massal agar kesejahteraan petani cengkeh di berbagai pelosok Nusantara dapat terus melesat.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Pojok Papua – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Edukasi, komponen pendanaan utama di kampus swasta ini menggunakan sistem Biaya Studi Semester (BSS). Sistem BSS tersebut mencakup beberapa elemen pengeluaran. Komponen di dalamnya meliputi biaya daftar ulang, SPP, DPP, serta biaya layanan teknologi informasi dan perpustakaan. Manajemen kampus memberikan keringanan berupa skema pembayaran secara bertahap. BSS dapat diangsur sebanyak tiga kali dalam satu semester, yakni saat pengisian KRS, menjelang UTS, dan menjelang UAS. Calon mahasiswa baru yang masuk melalui jalur reguler gelombang II akan dikenai penyesuaian tarif. Terdapat kenaikan komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi saat her-registrasi. Pihak kampus memisahkan beberapa pengeluaran akademik lain di luar paket BSS. Biaya untuk pelaksanaan KKN, penyusunan skripsi, pelaksanaan yudisium, hingga prosesi wisuda akan ditagihkan secara tersendiri. Besaran tarif BSS semester pertama dibedakan berdasarkan jalur gelombang masuk. Sementara untuk semester berikutnya, skema tarif disesuaikan dengan tahapan studi program masing-masing jurusan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Kedokteran mencatatkan nilai BSS tertinggi. Pada semester 1 reguler I, biayanya mencapai Rp 103.350.000, sedangkan jalur reguler II sebesar Rp 123.350.000. Memasuki semester 2-3, tarifnya menjadi Rp 101,7 juta dan turun menjadi Rp 27,3 juta pada semester 4-8. Untuk Program Studi Farmasi, tarif semester 1 reguler I ditetapkan Rp 31,1 juta dan reguler II Rp 34,6 juta. Biaya semester 2-3 sebesar Rp 29,1 juta, kemudian menjadi Rp 16,5 juta pada semester 4-8. Program Studi Ilmu Keperawatan menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 17,350 juta dan reguler II Rp 19,6 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 16,050 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 12,3 juta. Program Studi Fisioterapi memiliki rincian semester 1 reguler I Rp 15,7 juta dan reguler II Rp 17,7 juta. Untuk semester 2-7 dikenai Rp 14,4 juta, serta semester 8 sebesar Rp 11,1 juta. Fakultas Teknik dan Informatika Program Studi Informatika menetapkan tarif semester 1 reguler I sebesar Rp 10,5 juta dan reguler II Rp 14 juta. Biaya untuk semester 2-7 adalah Rp 11,1 juta, sedangkan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Rumpun Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Industri memiliki besaran yang seragam. Semester 1 reguler I sebesar Rp 9,450 juta, reguler II Rp 11,3 juta, semester 2-7 sebesar Rp 10,050 juta, dan semester 8 Rp 5,850 juta. Program Studi Teknik Sipil memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 9,450 juta dan reguler II Rp 12,3 juta. Biaya semester 2-7 senilai Rp 10,050 juta, sementara semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen menetapkan biaya semester 1 reguler I Rp 11,55 juta dan reguler II Rp 14,7 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 12,150 juta, sedangkan semester 8 sebesar Rp 7,5 juta. Program Studi Akuntansi memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 9,6 juta dan reguler II Rp 11,9 juta. Biaya semester 2-7 dipatok Rp 10,2 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Program Studi Ekonomi Pembangunan memiliki rincian semester 1 reguler I Rp 8,7 juta dan reguler II Rp 11,3 juta. Untuk tarif semester 2-7 sebesar Rp 9,3 juta, serta semester 8 senilai Rp 5,850 juta. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Rumpun Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Psikologi, dan Hukum memiliki besaran biaya yang identik. Semester 1 reguler I dipatok Rp 10.050.000, sedangkan reguler II sebesar Rp 13,550 juta untuk Ilmu Komunikasi dan Hubungan Internasional, serta Rp 13,2 juta untuk Psikologi dan Hukum. Semester 2-7 dikenai Rp 10,650 juta, dan semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Program Studi Ilmu Pemerintahan menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 8,250 juta dan reguler II Rp 11,2 juta. Biaya untuk semester 2-7 adalah Rp 8,850 juta, lalu semester 8 sebesar Rp 5,850 juta. Program Studi Kesejahteraan Sosial dan Sosiologi memberlakukan biaya semester 1 reguler I Rp 7,2 juta dan reguler II Rp 8,7 juta. Tarif semester 2-7 sebesar Rp 7,8 juta, sedangkan semester 8 senilai Rp 5,550 juta. Fakultas Agama Islam dan Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 6,6 juta dan reguler II Rp 7,6 juta. Biaya semester 2-7 sebesar Rp 7,2 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Ekonomi Syariah dan Pendidikan Bahasa Arab memberlakukan tarif semester 1 reguler I Rp 6,950 juta dan reguler II Rp 7,950 juta. Semester 2-7 dikenai Rp 7,2 juta, serta semester 8 sebesar Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Kepelatihan Olahraga memiliki tarif semester 1 reguler I Rp 6,750 juta, reguler II Rp 8,250 juta, semester 2-7 Rp 7,350 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Biologi menetapkan tarif semester 1 reguler I Rp 6,750 juta dan reguler II Rp 8,750 juta. Biaya semester 2-7 sebesar Rp 7,350 juta, sedangkan semester 8 senilai Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mengumumkan tarif semester 1 reguler I Rp 7,050 juta dan reguler II Rp 9,550 juta. Semester 2-7 dipatok Rp 7,650 juta, dan semester 8 Rp 5,1 juta. Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan memiliki rincian terendah dengan tarif semester 1 reguler I Rp 6 juta dan reguler II Rp 8 juta. Untuk semester 2-7 dikenai Rp 6,6 juta, sementara semester 8 sebesar Rp 5,1 juta.
Akademisi UMM Nilai Dua Kandidat Ini Paling Layak Jadi Sekda Kota Batu

Akademisi UMM Prof. Wahyudi sebut ada 2 sosok kandidat kuat yang layak jabat Sekda Kota Batu. Foto: Dok Kota Batu, Tugumalang.id – Perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu memasuki babak krusial dengan menyisakan enam kandidat terbaik. Dari sejumlah nama yang mengikuti proses seleksi, akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai ada dua figur yang dinilai ideal untuk menduduki posisi strategis tersebut. Di tengah menguatnya dua nama itu, publik berharap sosok Sekda definitif Kota Batu nantinya tidak hanya memiliki kemampuan administratif yang baik, tetapi juga mampu menjadi penghubung yang solid antara birokrasi dan kepala daerah. Pengamat Sosial Politik UMM, Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, menegaskan bahwa integritas dan rekam jejak bersih menjadi syarat utama bagi calon pimpinan tertinggi ASN di lingkungan Pemkot Batu. Selain itu, figur Sekda juga harus mampu mengakselerasi visi dan misi kepala daerah. “Sekda yang ideal harus memiliki rekam jejak yang bersih, berpengalaman, serta mempunyai jiwa pengabdian yang tinggi. Komitmen, loyalitas, dan integritasnya tidak boleh diragukan lagi, baik dalam kedinasan maupun kehidupan pribadi,” kata Wahyudi, Minggu (17/5/2026). Dua Nama Dinilai Paling Berpeluang Jadi Sekda Kota Batu Menurut Wahyudi, dari enam kandidat yang masih bertahan, peta persaingan mulai mengerucut pada dua figur yang dinilai memiliki peluang besar berkat pengalaman dan kapasitas di bidang masing-masing. Figur pertama adalah Alfi Nurhidayat yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu. Ia dikenal sebagai ASN yang memiliki kemampuan lapangan dan dekat dengan masyarakat. Pengalamannya saat memimpin Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Batu juga menjadi nilai tambah tersendiri. “ Saya menilai sosok ini (Alfi, red) merupakan salah satu ASN dengan komitmen dan loyalitas tinggi terhadap pimpinan maupun lembaga,” ujarnya. Sementara itu, kandidat kedua adalah Mohammad Nur Adhim yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Batu. Adhim dinilai memiliki kekuatan pada penguasaan sektor pengelolaan pendapatan daerah, khususnya optimalisasi pajak dan retribusi daerah. “Meski dalam hal ini, keempat kandidat lainnya juga tidak kalah kompetitif dan punya kemampuan di ranah strategis masing-masing,” imbuhnya. Baca juga: 6 Kandidat Lolos Seleksi Sekda Kota Batu Tahap Pertama, Siapa Saja? Akademisi UMM Soroti Independensi Pansel Sekda Kota Batu Selain menyoroti kualitas kandidat, Prof. Wahyudi juga menekankan pentingnya independensi Panitia Seleksi (Pansel) dalam menentukan Sekda Kota Batu definitif. Menurutnya, menjaga objektivitas di wilayah seperti Malang Raya bukan perkara mudah karena potensi kedekatan personal maupun konflik kepentingan selalu ada. “Dalam tradisi di Indonesia, mencari personalia pansel yang benar-benar tidak memiliki hubungan dengan kandidat itu tidak mudah. Karena itu, semuanya kembali pada komitmen pribadi pansel dan pemegang kekuasaan,” jelasnya. Ia berharap seluruh pihak mampu menekan kepentingan pribadi demi melahirkan pemimpin birokrasi terbaik bagi Kota Batu. Sebelumnya, keenam kandidat telah menyelesaikan asesmen manajerial dan sosial kultural (mansoskul) di BKD Provinsi Jawa Timur pada Senin (11/5/2026). Dalam tahapan tersebut, para peserta menjalani analisis studi kasus, simulasi persoalan pemerintahan, hingga tes intelektual. Selanjutnya, para kandidat masih harus menjalani tahapan penting berupa pemaparan makalah dan wawancara akhir di hadapan Pansel yang dijadwalkan berlangsung di Balai Kota Among Tani pada Senin, 18 Mei 2026. Setelah itu, mereka juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani di RSUD Karsa Husada sebelum penetapan Sekda definitif Kota Batu pada Kamis, 21 Mei 2026.
Dua Mahasiswa Prodi HKI UMM Raih Runner-up LKTI VOSICO 2026 Tingkat Nasional

Foto bersama Ramzan dan Aysyiyah Fitri di ruangan Prodi HKI UMM pwmu.co –Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang dalam ajang nasional Volcano Scientific Competition (VOSICO) 2026 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang. Tim mahasiswa HKI UMM berhasil meraih posisi runner-up pada cabang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mahasiswa setelah bersaing dengan berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dua mahasiswa yang berhasil membawa pulang Juara II tersebut adalah Ramzan Rashiful Fikri dan Aysyiyah Fitri Ken Pandansari Sekar Pembayun, mahasiswa angkatan 2023 Prodi HKI UMM. Dalam kompetisi tersebut, panitia menetapkan lima finalis terbaik dari berbagai perguruan tinggi besar, yakni: Universitas Negeri Malang Universitas Diponegoro Institut Teknologi Bandung Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Brawijaya Setelah melalui proses presentasi dan penjurian yang ketat pada Sabtu (16/5/2026), tim HKI UMM berhasil menempati posisi kedua nasional. Sekretaris Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawwaiq Sayyaf, menyampaikan rasa bangga atas capaian kedua mahasiswa tersebut yang mampu bersaing di level nasional. “Prodi dan kampus sangat bangga dengan pencapaian ini. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi untuk terus berkarya, berprestasi, dan membawa nama baik Prodi HKI UMM ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya. Ia juga memberikan motivasi kepada mahasiswa HKI agar terus mengembangkan kemampuan akademik dan inovasi ilmiah. “Teruslah melangkah dan buktikan bahwa mahasiswa HKI mampu bersaing dalam dunia akademik dan inovasi ilmiah,” lanjutnya. Sementara itu, Aysyiyah Fitri mengaku tidak menyangka dapat meraih Juara II mengingat persaingan yang sangat ketat dari kampus-kampus besar lainnya. “Kami tidak menyangka bisa meraih Juara II karena presentasi dari kampus lain juga sangat bagus. Alhamdulillah, kami bersyukur atas hasil ini,” ungkapnya. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa HKI UMM mampu menunjukkan kualitas akademik, kreativitas, dan daya saing di tingkat nasional. Keberhasilan ini juga diharapkan menjadi motivasi lahirnya karya-karya ilmiah inspiratif dari generasi muda yang peduli terhadap masa depan bangsa dan kemanusiaan. *) Penulis : Khoen Eka
UMM Rilis Rincian Biaya Kuliah Semua Jurusan Tahun Akademik 2026/2027

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Babelinsight – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah merilis rincian biaya kuliah untuk seluruh program studi pada tahun akademik 2026/2027. Komponen pendanaan di kampus swasta ini menerapkan sistem BSS atau Biaya Studi Semester, seperti dilansir dari Edukasi. Bagi mahasiswa baru jalur reguler atau gelombang II, terdapat penyesuaian berupa kenaikan BSS pada komponen DPP sebesar kurang lebih 10 persen yang wajib dilunasi satu kali saat proses daftar ulang. Skema Biaya Studi Semester mencakup beberapa poin pengeluaran, yaitu dana daftar ulang, SPP, DPP, serta fasilitas layanan IT dan perpustakaan. Mahasiswa dapat mengangsur BSS sebanyak tiga kali dalam satu semester, dengan rincian pembayaran pada saat KRS, menjelang UTS, dan sebelum pelaksanaan UAS. Pembayaran untuk keperluan KKN, penyusunan skripsi, pelaksanaan yudisium, hingga prosesi wisuda diatur secara terpisah di luar komponen BSS utama tersebut. Berikut adalah rincian Biaya Studi Semester untuk semester 1 (reguler I dan II), semester 2-3, serta semester 4-8 di berbagai jurusan UMM: Daftar Biaya Studi Semester (BSS) Kampus UMM Tahun Akademik 2026/2027 Jurusan / Program Studi Semester 1 (Reguler I) Semester 1 (Reguler II) Semester 2-3 (per Semester) Semester 4-8 (per Semester) Rp 31,1 juta Rp 34,6 juta Rp 29,1 juta Rp 16,5 juta Rp 103.350.000 Rp 123.350.000 Rp 101,7 juta Rp 27,3 juta Rp 6,6 juta Rp 7,6 juta Rp 7,2 juta Rp 5,1 juta Rp 6,950 juta Rp 7,950 juta Rp 7,2 juta Rp 5,1 juta Rp 7,2 juta Rp 8,7 juta Rp 7,8 juta Rp 5,550 juta Rp 10.050.000 Rp 13,550 juta Rp 10,650 juta Rp 6,3 juta Rp 8,250 juta Rp 11,2 juta Rp 8,850 juta Rp 5,850 juta Rp 6,750 juta Rp 8,250 juta Rp 7,350 juta Rp 5,1 juta Rp 6 juta Rp 8` juta Rp 6,6 juta Rp 5,1 juta Rp 6,750 juta Rp 8,750 juta Rp 7,350 juta Rp 5,1 juta Rp 7,050 juta Rp 9,550 juta Rp 7,650 juta Rp 5,1 juta Rp 9,450 juta Rp 11,3 juta Rp 10,050 juta Rp 5,850 juta Rp 9,450 juta Rp 12,3 juta Rp 10,050 juta Rp 5,850 juta Rp 10,5 juta Rp 14 juta Rp 11,1 juta Rp 6,3 juta Rp 11,55 juta Rp 14,7 juta Rp 12,150 juta Rp 7,5 juta Untuk jurusan Akuntansi, BSS semester 1 kelompok reguler I ditetapkan senilai Rp 9,6 juta dan reguler II sebesar Rp 11,9 juta. Selanjutnya, beban studi Akuntansi pada semester 2 hingga 7 adalah Rp 10,2 juta, yang kemudian menurun menjadi Rp 5,850 juta pada semester akhir. Pada program studi Ekonomi Pembangunan, mahasiswa dikenakan biaya semester pertama sebesar Rp 8,7 juta untuk reguler I dan Rp 11,3 juta untuk reguler II. Biaya operasional semester 2 sampai 7 untuk Ekonomi Pembangunan mencapai Rp 9,3 juta, dan menyisakan Rp 5,850 juta pada semester 8. Sektor pendidikan di bidang Peternakan menetapkan tarif BSS semester awal senilai Rp 7,8 juta untuk reguler I serta Rp 9,2 juta bagi kelas reguler II. Also Read Rieke Diah Pitaloka Lunasi Biaya Pendidikan Anak-Anak Fanny Fadillah Fase studi semester 2 hingga 7 di jurusan Peternakan membutuhkan dana Rp 8,4 juta, sedangkan masa akhir semester 8 dipatok Rp 5,625 juta. Bagi peminat jurusan Psikologi dan Hukum, universitas menetapkan BSS semester 1 reguler I Rp 10.050.000 dan reguler II Rp 13,2 juta. Masa perkuliahan lanjutan semester 2 sampai 7 di kedua rumpun ilmu tersebut memerlukan Rp 10,650 juta, diikuti biaya semester 8 sebesar Rp 6,3 juta. Pada rumpun kesehatan, Ilmu Keperawatan memasang tarif semester 1 reguler I senilai Rp 17,350 juta dan kelas reguler II mencapai Rp 19,6 juta. BSS Keperawatan untuk masa semester 2 hingga 7 berada pada angka Rp 16,050 juta, dan menyusut menjadi Rp 12,3 juta di semester pamungkas. Terakhir, program studi Fisioterapi menentukan besaran biaya semester pertama sebesar Rp 15,7 juta untuk reguler I dan Rp 17,7 juta bagi reguler II.
Mengenang Jejak Malik Fadjar, Tokoh UMM Penggagas Hari Buku Nasional

IBTimes.ID – Di tengah derasnya arus informasi instan dan dominasi kecerdasan buatan (AI) yang kian memengaruhi pola berpikir masyarakat modern, peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei kembali mengingatkan publik pada sosok Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh pendidikan Muhammadiyah sekaligus mantan Menteri Pendidikan Nasional itu dikenal sebagai penggagas Hari Buku Nasional yang lahir pada 2002 silam. Bagi Malik Fadjar, buku bukan sekadar media bacaan, melainkan fondasi penting untuk menjaga daya kritis dan membangun peradaban bangsa. Pemikiran tersebut dinilai semakin relevan di tengah fenomena menurunnya budaya membaca dan melemahnya kemampuan berpikir kritis masyarakat di era digital. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa Malik Fadjar melihat persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga melemahnya tradisi berpikir masyarakat. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Menurut Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional merupakan langkah strategis untuk membangun kesadaran publik bahwa literasi adalah bagian penting dari pembangunan bangsa dan demokrasi. Baca Juga: Menghidupkan Obrolan Ndakik-Ndakik Literasi sebagai Benteng Akal Sehat Bangsa Faizin menambahkan, Malik Fadjar meyakini bahwa masyarakat yang memiliki tradisi membaca akan tumbuh menjadi pribadi yang rasional, toleran, dan kritis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran itulah yang kemudian mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang. Ia bahkan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya agar dapat diakses masyarakat luas sebagai bagian dari upaya menjaga budaya literasi tetap hidup di tengah perubahan zaman. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Kini, RBC A. Malik Fadjar Institute UMM terus melanjutkan warisan pemikiran tersebut melalui berbagai program literasi dan pendidikan publik, seperti Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Peringatan Hari Buku Nasional tahun ini pun menjadi momentum untuk kembali menghidupkan budaya membaca sebagai benteng menjaga akal sehat bangsa di tengah tantangan era post-truth dan banjir informasi digital. (NS)
Tekan Emisi Gas Rumah Kaca, Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam laboratorium Karbon
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

Abdul Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional (Suara ‘Aisyiyah.id) Malang, Suara ‘Aisyiyah – Di tengah gempuran Artificial Intelligence (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Memperingati Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2026 ini, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut. Dialah Abdul Malik Fadjar. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional. Dia bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Faizin, menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir, di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar peringatan. Ini adalah alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Literasi adalah Pilar Bangsa Faizin menambahkan, bahwa mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM itu menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional, serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar.
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional pwmu.co –Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) dan banjir informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan serius bangsa Indonesia. Momentum Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei pun menjadi pengingat penting akan sosok pencetusnya, Abdul Malik Fadjar. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dikenal sebagai visioner literasi yang menjadikan buku sebagai alat pembebasan berpikir dan fondasi kemajuan bangsa. Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir akibat buku yang hanya dianggap pelengkap pendidikan formal. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Menurut Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 bukanlah langkah seremonial biasa. Gagasan tersebut merupakan rekayasa budaya untuk membangun kesadaran nasional bahwa literasi adalah pilar utama kehidupan berbangsa. “Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelasnya. Tokoh Muhammadiyah itu juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembangunan ekosistem literasi. Salah satu bentuk nyatanya ialah pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat. Kecintaan Malik Fadjar terhadap dunia literasi tidak berhenti pada gagasan. Ia bahkan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya demi menjaga semangat membaca tetap hidup di tengah masyarakat. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin. Kini, RBC A. Malik Fadjar Institute berkembang menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat pembentukan nalar publik melalui berbagai program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan hidup Malik Fadjar meninggalkan pesan kuat bahwa membaca bukan sekadar hobi, tetapi benteng terakhir menjaga akal sehat bangsa di era post-truth dan banjir informasi digital. Peringatan Hari Buku Nasional pun sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk terus merawat budaya ilmu, memperkuat tradisi membaca, dan menjaga daya kritis generasi muda Indonesia. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria