Kolaborasi UMM dan Martha Tilaar, Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Dunia Kosmetik

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kolaborasi strategis dengan Martha Tilaar Group guna mendorong mahasiswa menjadi inovator tangguh di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen ini diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6). Kegiatan ini berlangsung antusias dan diikuti ratusan mahasiswa UMM yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, seperti Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (Fapsi), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Farmasi, hingga Fisioterapi. Sinergi ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan industri kecantikan sekaligus merangsang generasi Z agar bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pengusaha (beautypreneurs). Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman inspiratifnya saat merintis bisnis perawatan kulit organik asli Nusantara dari sebuah eksperimen di dapur kos-kosan. Ia menyadari banyak produk lokal masih bergantung pada bahan kimia, sehingga peluang untuk mengembangkan produk berbahan organik sangat terbuka lebar. Ia menekankan kepada para mahasiswa bahwa untuk membangun merek yang adaptif, pengusaha muda harus berani memperbaiki desain kemasan agar lebih eksklusif dan gencar memanfaatkan media sosial sebagai medium edukasi konsumen. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. Disisi lain, CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, memaparkan bahwa industri kecantikan Tanah Air terbukti solid dan mampu bertahan di tengah berbagai krisis ekonomi. Ia menceritakan rekam jejak perusahaannya yang bermula dari salon kecil berukuran empat kali enam meter hingga sukses menjadi raksasa kosmetik nasional berkat kegesitan membaca tren pasar di era digital. Di hadapan ratusan mahasiswa tersebut, Kilala mengingatkan bahwa tantangan terberat industri lokal saat ini adalah tingginya ketergantungan impor bahan baku kosmetik yang mencapai 85 persen, padahal Indonesia sangat kaya akan bahan alam nusantara. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., menyampaikan bahwa Kampus Putih telah merancang ekosistem pembelajaran aplikatif untuk mencetak lulusan unggul yang siap terjun ke dunia wirausaha. Hal ini direalisasikan melalui program Center of Excellence (CoE) yang berfungsi menjembatani kesenjangan teori akademik dengan praktik riil di industri, sekaligus memberikan akses inkubasi bisnis yang relevan dengan berbagai disiplin ilmu. “Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki. Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan praktisi industri ini membawa angin segar bagi masa depan ekonomi kreatif di Indonesia. Keterlibatan ratusan mahasiswa dari keilmuan teknik, sosial, hingga kesehatan diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin untuk memodernisasi warisan kecantikan lokal. Ke depannya, langkah strategis ini diproyeksikan tidak hanya menekan angka impor bahan baku, tetapi juga mencetak generasi tangkas yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan membawa merek kosmetik nasional bersaing secara global.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

PGSD UMM Hadirkan Bocah Petualang di Kampus Putih, Ajak Ratusan Siswa Olah Sampah dan Lestarikan Permainan Tradisional

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar program liburan edukatif bertajuk “Bocah Petualang di Kampus Putih”. Digelar dalam dua gelombang, yakni pada tanggal 23 dan 24 Juni 2026, kegiatan perdana ini membludak dan berhasil menarik antusiasme ratusan siswa tingkat TK dan SD dari berbagai wilayah di Malang Raya. Berbeda dengan program liburan pada umumnya, inisiatif ini mengajak peserta merasakan pengalaman belajar langsung di lingkungan perguruan tinggi. Rangkaian kegiatan dirancang secara komprehensif dan tidak membosankan dari pagi hingga siang hari. Setelah senam ceria, anak-anak mendapatkan sesi literasi seru dan edukasi pengolahan sampah untuk melatih kepedulian lingkungan. Selain itu, peserta juga diajak bermain permainan tradisional yang melatih kekompakan, menjelajah berbagai sudut menarik kampus, hingga menyelesaikan tantangan kreasi budaya secara berkelompok. Ketua Program Studi PGSD UMM sekaligus penanggung jawab acara, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini lahir dari komitmen prodi untuk menghadirkan ruang belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar. “Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak agar mengenal lingkungan kampus sejak dini melalui aktivitas eksploratif, edukatif, kreatif, dan menyenangkan,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti memaparkan bahwa pendekatan experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung ini sangat sejalan dengan karakter pembelajaran di PGSD UMM. Antusiasme masyarakat terhadap metode ini juga terbukti sangat tinggi, menilik dari lonjakan peserta dalam waktu singkat. “Alhamdulillah, program Bocah Petualang di Kampus Putih mendapat sambutan baik dari masyarakat. Hanya dalam dua hari setelah pendaftaran dibuka, sudah ada seratus anak yang mendaftar,” ungkapnya. Respons positif turut datang dari para wali murid yang mendampingi. Indria, salah satu orang tua siswa, sangat mengapresiasi dan merasa terbantu karena program ini mampu menjadi alternatif kegiatan positif yang edukatif untuk mengisi waktu luang di masa libur sekolah. “Anak-anak sangat senang dan bahkan menantikan kegiatan seperti ini lagi. Kami berharap program berikutnya dapat dikembangkan dengan konsep yang lebih variatif sehingga pengalaman belajar anak semakin beragam,” jelas Indria. Antusiasme yang tinggi ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap ruang liburan yang memiliki nilai edukasi yang kuat. Ke depannya, “Bocah Petualang di Kampus Putih” diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang membawa manfaat luas. Pada akhirnya, program ini menjadi jembatan strategis untuk menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak, mengasah kreativitas, serta membangun mimpi mereka agar kelak semangat menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.(rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Maharesigana UMM Cetak Generasi Siaga Bencana di SD Muhammadiyah 08 Dau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Maharesigana secara nyata terus membuktikan diri sebagai kampus yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kali ini, UMM membekali lebih dari 100 warga SD Muhammadiyah 08 Dau, Kabupaten Malang, dengan program pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada Jumat (19/6). Langkah strategis ini difokuskan untuk membangun kapasitas sekolah sekaligus menanamkan budaya sadar bencana sejak usia dini. Pemilihan jenjang sekolah dasar dinilai sangat krusial karena pembentukan karakter mitigasi bencana jauh lebih efektif ditanamkan pada usia anak-anak. Melibatkan jajaran siswa, guru, hingga tenaga kependidikan, para relawan Maharesigana memberikan pelatihan intensif untuk menghadapi situasi darurat, khususnya ancaman gempa bumi. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, peserta diajak langsung melakukan simulasi. Anak-anak diajarkan cara berlindung yang benar saat gempa, teknik membaca jalur evakuasi secara cepat, hingga langkah taktis untuk mengelola kepanikan agar tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitar. Ketua Umum Maharesigana UMM, Indra Fery, menjelaskan bahwa pendampingan SPAB ini tidak sekadar berfokus pada transfer pengetahuan teoritis semata, melainkan dirancang khusus untuk menanamkan nilai kepedulian dan kesiapsiagaan permanen sebagai bagian integral dari karakter generasi masa depan. “Pendampingan SPAB yang kami lakukan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program SPAB. Regulasi tersebut menegaskan bahwa sekolah wajib membangun sistem penanggulangan terintegrasi. Edukasi dan simulasi sejak usia dini ini menjadi langkah penting untuk mencetak generasi tangguh yang siap merespons berbagai potensi risiko bencana di lingkungannya,” tegas Indra. Indra juga menambahkan bahwa keterlibatan para mahasiswa dalam program kemanusiaan ini pada dasarnya adalah sarana pembelajaran empiris untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai sosiologis dan kemanusiaan yang selama ini mereka peroleh selama proses perkuliahan. “Mahasiswa tidak hanya dituntut belajar di dalam ruang kelas. Mereka diwajibkan hadir langsung di tengah masyarakat, peka mengidentifikasi kebutuhan warga, merumuskan solusi komunikasi yang tepat, dan berkontribusi aktif dalam agenda pengurangan risiko bencana. Inilah esensi dan bentuk nyata dari sistem pembelajaran yang berdampak,” tambahnya. Antusiasme yang tinggi terlihat jelas selama pelaksanaan acara. Salah seorang guru SD Muhammadiyah 08 Dau mengakui bahwa kegiatan simulasi kebencanaan dari UMM tersebut sukses memberikan pengalaman baru sekaligus pemahaman esensial bagi siswa mengenai prosedur evakuasi diri. “Anak-anak luar biasa antusias mengikuti setiap tahapan simulasi. Mereka tidak hanya pasif mendengar penjelasan fasilitator, tetapi juga proaktif mempraktikkan secara langsung prosedur penyelamatan saat terjadi gempa bumi. Ilmu ini tentu sangat penting untuk membangun kesiapan fisik dan mental mereka apabila bencana darurat benar-benar terjadi,” ungkapnya. Di tengah tingginya ancaman dan potensi bencana di wilayah Indonesia, investasi pada sektor edukasi mitigasi sejak dini merupakan sebuah keharusan mutlak. Kiprah Maharesigana dalam program SPAB ini menegaskan kembali komitmen berkelanjutan UMM untuk mencetak lulusan sekaligus agen perubahan yang tak hanya unggul secara akademis, namun sigap menghadirkan kontribusi humanis dan solusi konkret demi menjaga keselamatan masyarakat luas.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Kuliah Tamu, EP UMM Kupas Tuntas Ekosistem Fintech Syariah dan Bahaya Pinjol Ilegal

Kemudahan akses teknologi di sektor perbankan tak selamanya membawa keuntungan jika tidak dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan yang baik. Merespons maraknya korban jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) di masyarakat, Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mengambil langkah strategis. Berkolaborasi langsung dengan pakar dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, EP UMM menggelar kuliah tamu bertajuk “Transformasi Perbankan dan Fintech Syariah di Era Revolusi Industri 4.0”. Acara yang berlangsung di Aula BAU UMM pada Senin (22/6) ini bertujuan untuk mengupas tuntas perubahan sistem perbankan sekaligus menjadi wadah edukasi untuk membentengi generasi muda dari kejahatan finansial siber. Pakar Ekonomi UMM, Prof. Dr. Idah Zuhroh, MM, menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia perbankan syariah akibat arus digitalisasi. Ia menjelaskan bahwa bank syariah saat ini sudah meninggalkan cara lama yang berpusat pada perluasan kantor cabang fisik, dan kini lebih fokus membangun jaringan bisnis digital yang terintegrasi. Kehadiran inovasi teknologi keuangan (fintech) dinilai sangat mempermudah masyarakat. Namun, di sisi lain, kepraktisan ini memunculkan risiko baru yang rentan. Risiko tersebut berkaitan erat dengan bagaimana data nasabah dikelola, aturan hukum yang berlaku, hingga ancaman dari pihak tertentu yang memonopoli data digital. “Arsitektur keuangan syariah saat ini telah bergeser drastis dari sekadar membuka cabang fisik menjadi ekosistem data yang saling terhubung luas. Teknologi digital ini sejatinya bisa membawa manfaat besar (maslahah) untuk memperkuat layanan perbankan. Namun, hal ini bisa berbalik membawa kerusakan (mafsadah) jika sistem kelolanya buruk. Oleh karena itu, keamanan data dan perlindungan konsumen mutlak menjadi prioritas utama,” tegasnya. Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Asisten Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 1 Kantor OJK Malang, Retno Heruwati, memaparkan betapa pentingnya peran negara dalam mengawasi arus keuangan digital. Retno menekankan bahwa pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia wajib diimbangi dengan pengetahuan masyarakat terkait literasi finansial. Publik dituntut cerdas dalam membedakan mana layanan pendanaan daring yang berizin dan mana yang sekadar jebakan utang. Hal ini sangat penting mengingat OJK mencatat saat ini hanya ada sepuluh aplikasi pinjol syariah yang berstatus legal dan berada di bawah pengawasan ketat negara. “Masyarakat luas, khususnya generasi muda dan kalangan mahasiswa, harus tampil sangat cerdas serta rasional dalam menggunakan fasilitas kemudahan akses keuangan digital. Lewat forum ini saya mengingatkan dengan keras, terus tingkatkan pengetahuan kalian dan selalu waspada. Jangan sampai kalian atau keluarga terjerat tipu daya pinjaman online ilegal, iming-iming investasi bodong, apalagi terjerumus bahaya judi online yang semakin merusak tatanan ekonomi masyarakat,” ujar Retno memperingatkan. Pada akhirnya, pesatnya kemajuan transformasi perbankan dan fintech syariah di era digital bukan semata-mata soal seberapa canggih teknologi yang diaplikasikan, melainkan tentang seberapa kuat benteng literasi masyarakatnya. Kemudahan mendapat kucuran dana di era internet ini harus selalu dibarengi dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Lewat kegiatan strategis ini, mahasiswa EP UMM diharapkan tidak hanya cerdas menjadi penikmat layanan aplikasi perbankan. Lebih dari itu, mereka ditargetkan mampu menjadi agen edukasi yang aktif melindungi masyarakat awam di sekitarnya dari ancaman bahaya kejahatan finansial yang kian marak mengintai.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ciptakan Lingkungan Inklusif, Mahasiswa PPG UMM Dilatih Tangkal Perundungan dan Kekerasan Seksual

Maraknya kasus perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan pendidikan menegaskan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Dampaknya sangat fatal, tidak hanya merusak prestasi akademik, tetapi juga mengancam kesehatan mental siswa hingga memicu depresi dan tindakan bunuh diri. Menjawab kondisi darurat ini, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak tegas dengan membekali para mahasiswa calon guru melalui “Seminar Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Perundungan, dan Sikap Anti-Intoleransi” di Hotel Rayz UMM, Senin (22/6). Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PPG calon guru semester 1 tahun akademik 2026 ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, S.T., M.T., Ph.D., sebagai pemateri utama. Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang makin kompleks akibat teknologi digital dan penetrasi gawai yang mengubah pola pikir, interaksi, serta perilaku siswa. Alfi mengingatkan, karena pendidik adalah figur teladan yang perilakunya akan ditiru, penyelesaian masalah intoleransi dan perundungan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, melainkan menuntut kolaborasi komprehensif antara guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. “Ketika guru mengajar dengan cinta, kebahagiaan, dan ketulusan, maka anak-anak akan merasa aman dan nyaman di sekolah. Sekolah yang aman itu bukan dicari, tetapi diciptakan bersama,” tegas Alfi. Melengkapi pandangan tersebut, Dosen Psikologi UMM, Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., menekankan vitalnya peran guru sebagai active bystander atau sosok yang aktif mencegah dan sigap merespons berbagai bentuk kekerasan di sekolah. Ia menyoroti fakta bahwa korban sering kali memilih bungkam dan memendam traumanya cukup lama. Yudi juga mengingatkan bahwa sepuluh menit pertama ketika seorang siswa melapor merupakan momen sangat krusial; guru dituntut untuk mampu mendengarkan secara utuh, memvalidasi perasaan korban, serta menjamin kerahasiaan agar siswa tersebut bersedia menceritakan kejadian sepenuhnya. “Kasus yang tercatat sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Banyak korban tidak melapor karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan perlindungan,” jelas Yudi. Melihat tingginya urgensi pencegahan kekerasan tersebut, Ketua Program Studi PPG UMM sekaligus Koordinator PPG Nasional, Prof. Dr. Trisakti Handayani, F.M., mewajibkan setiap calon lulusan untuk memiliki pemahaman pencegahan yang terpadu. Ia menyoroti bahwa kewajiban utama guru masa kini bukan sekadar mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga harus mampu secara aktif menjamin terpenuhinya hak peserta didik untuk belajar tanpa adanya ancaman kekerasan. “Jadilah guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Ketika nanti terjun ke dunia pendidikan, jadilah garda terdepan dalam menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik,” ujar Trisakti. Langkah konkret PPG UMM melalui seminar ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia pendidikan nasional. Calon pendidik masa depan tidak boleh hanya pandai berteori, namun dituntut terjun membela siswa dan mempraktikkan pencegahan kekerasan secara nyata di lapangan. Kolaborasi antarpemangku kepentingan, kepekaan sosial guru, dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama untuk mengembalikan muruah sekolah sebagai ruang belajar yang benar-benar aman, inklusif, serta senantiasa menghargai keberagaman.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Hadirkan Pakar Dari Inggris, PSIB UMM Bekali Mahasiswa Agar Tidak Mudah Terbawa Narasi Provoakatif

Dominasi peradaban Barat dalam produksi ilmu pengetahuan terus menjadi ancaman serius bagi kemandirian akademisi di negara-negara berkembang. Menjawab krisis epistemik tersebut, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) berkolaborasi dengan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah taktis melalui Kajian Islam Multidisipliner. Menghadirkan Dr. Mohammad Ilyas, pakar dari University of Derby, Inggris, forum bertajuk Producing Knowledge from the Global South: Challenges for Muslim Scholars ini digelar secara luring di Aula Masjid A.R. Fachruddin UMM pada Senin (22/06). Acara ini membedah tegas bagaimana semestinya cendekiawan muslim bersikap di tengah kepungan hegemoni Barat. Dalam forum tersebut, pria itu secara tajam membongkar realitas dominasi Global North (Barat) yang memicu suburnya fenomena captive mind atau pemikiran tertawan di kalangan intelektual. Ia menjelaskan, hegemoni kultural dan akademik ini secara tidak sadar membuat cendekiawan lokal terbelenggu oleh teori-teori impor. Akibatnya, mereka kesulitan melahirkan inovasi dan memproduksi pengetahuan yang benar-benar relevan dengan realitas sosio-kultural bangsanya sendiri. Pembebasan dari jerat pemikiran ini dinilai sebagai syarat mutlak untuk membangun kemajuan. “Kita harus menyadari bahwa selama ini kita terbiasa melihat dunia menggunakan kacamata buatan Barat. Pola pikir yang terjajah inilah yang harus segera kita dekonstruksi dengan memperbanyak literatur dari pemikir lokal kita,” urainya. Di samping itu, pria yang akrab disapa Elias ini juga menyoroti fenomena ironis akademisi di negara berkembang. Banyak dari mereka berlomba-lomba mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional berbahasa Inggris demi pengakuan, namun secara perlahan mulai abai pada bahasa ibu. Menurutnya, peminggiran terhadap publikasi berbahasa lokal sangat berbahaya karena berpotensi memicu pemusnahan epistemik secara sistematis dan menghilangkan fungsi bahasa asli sebagai pengantar keilmuan. “Mempublikasikan karya dalam bahasa Inggris memang bagus untuk standar global, tetapi jika kita mengabaikan jurnal berbahasa lokal, kualitas akademik di negeri sendiri tidak akan berkembang karena sekadar mereproduksi budaya kolonialisme,” tegasnya. Lebih jauh, upaya dekonstruksi pemikiran rancu dari Barat juga ditekankan Elias saat memandang isu terorisme, yang selama ini selalu distereotipkan secara sepihak dengan ajaran Islam. Ia membantah keras narasi provokatif tersebut dan menegaskan bahwa fenomena kekerasan sejatinya berakar dari ketimpangan struktural, kemiskinan ekstrem, serta eskalasi konflik politik. Simbol agama, menurutnya, sering kali hanya dieksploitasi oleh segelintir oknum sebagai alat legitimasi demi menggalang simpati massa. “Terorisme tidak disebabkan oleh agama apa pun. Pelaku kekerasan hanya meminjam bahasa agama untuk mencari simpati, sementara akar konflik sebenarnya adalah murni persoalan ketidakadilan sosial di masyarakat,” paparnya di hadapan ratusan audiens yang hadir. Kolaborasi strategis lewat kajian keilmuan ini menjadi bukti nyata komitmen Kampus Putih UMM dalam membekali mahasiswa agar tangguh menghadapi arus hegemoni global. Melalui diskursus yang mencerahkan ini, sivitas akademika didorong untuk tidak sekadar duduk manis menjadi konsumen pasif dari teori-teori asing. Pesan utamanya jelas: ke depan, generasi muda UMM dituntut berani memegang estafet sebagai cendekiawan muslim yang proaktif memproduksi pengetahuan autentik, memecahkan persoalan ketimpangan di masyarakat, serta memberi kontribusi nyata bagi kebangkitan peradaban bangsa yang mandiri.(ali/faq)   Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Angkat Potensi Lokal di MV “Hatchu!!”, Prialangga Buktikan Kualitas Lulusan UMM di Indstri Kreatif

Sineas kebanggaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali menorehkan prestasi gemilang di industri kreatif nasional. Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses membawa wajah Kota Malang memuncaki trending satu YouTube lewat karya terbarunya sebagai sutradara music video (MV) “Hatchu!!” milik penyanyi Salma Salsabil. Keberhasilan karya yang telah menembus lebih dari 1,7 juta penonton ini semakin mengukuhkan eksistensinya setelah sebelumnya menuai sukses besar lewat MV “Bahasa Kalbu” milik Raisa. Lebih dari sekadar pencapaian komersial, Prialangga menjadikan proyek kolosal ini sebagai panggung apresiasi bagi daerah asalnya. Ia menyulap berbagai sudut ikonik Kota Malang menjadi latar visual yang dinamis. Tak hanya itu, sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini turut menggandeng puluhan talenta lokal lintas generasi, mulai dari musisi seperti Sambadha (Coldiac) dan Onedink (SATCF), hingga kreator konten seperti Rizky Boncell dan Canda Cendol. Menurut Prialangga, pelibatan talenta lokal ini merupakan wujud dedikasinya untuk mengenalkan potensi besar Malang ke audiens luas, sembari menyampaikan pesan mendalam tentang realita para pekerja keras. “Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ungkapnya. Reputasi Prialangga sebagai sutradara andalan musisi papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48 tentu tidak dibangun dalam semalam. Mengawali karier dari skena musik independen Malang, ia menyadari bahwa ritme industri yang kompetitif menuntut kesiapan mental dan keterampilan teknis yang mumpuni. Ia mengakui, kemampuan adaptasinya di dunia profesional yang dinamis ini sangat dipengaruhi oleh sistem pembelajaran aplikatif selama menempuh pendidikan di Kampus Putih. “Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” ujarnya. Di luar keterampilan teknis, pria itu menyebut jejaring sebagai modal yang tak kalah berharga. Sejak menjadi mahasiswa, alih-alih pasif, ia proaktif memproduksi film pendek dan membangun relasi lintas kampus. Ia menekankan bahwa kualitas karya yang baik harus senantiasa diimbangi dengan ekosistem kepercayaan antar pekerja kreatif agar mampu bertahan di ketatnya persaingan ibu kota. “Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” paparnya. Kiprah panjang Prialangga menjadi bukti nyata bahwa putra daerah mampu mendobrak dan bersaing di level tertinggi industri kreatif nasional. Sebagai penutup, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa dan generasi muda untuk tidak pernah ragu memulai dan pantang berhenti berkarya. Berbekal konsistensi, kesabaran, dan kemauan keras untuk terus berproses, setiap dedikasi pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri menuju puncak kesuksesan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Faqih Ahmad Wafir Rahman

PLN Terapkan Manajemen Beban Listrik Terbatas di Sejumlah Wilayah

DOK. Humas PLN beritajejakfakta – PT PLN (Persero) menerapkan kebijakan manajemen beban listrik secara terbatas di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Solo Raya pada Juni 2026 akibat adanya kendala teknis operasional pada dua unit pembangkit besar. Langkah tersebut memicu terjadinya pemadaman listrik bergilir dengan estimasi durasi berkisar antara satu hingga tiga jam demi menjaga keandalan pasokan sistem kelistrikan Jawa. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini sebenarnya beroperasi dan terkendali dengan baik oleh perusahaan. “Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” kata Gregorius Adi Trianto di Jakarta, Jumat (19/6/2026). Pihak PLN terus mengoptimalkan percepatan pemulihan serta mengatur operasi sistem kelistrikan untuk meminimalkan dampak buruk yang dirasakan langsung oleh para pelanggan. “PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan,” katanya. Kebijakan pemadaman berkala ini memicu keluhan masyarakat di media sosial, terutama para pelaku UMKM di Solo Raya yang mengalami kerugian finansial akibat terganggunya aktivitas ekonomi. Menanggapi keluhan tersebut, PLN ULP Karanganyar menyediakan saluran WhatsApp resmi untuk membagikan informasi jadwal pemadaman, sementara pelanggan luas dapat menggunakan aplikasi PLN Mobile atau situs resmi www.pln.co.id guna memantau peta pemadaman melalui fitur Cek Padam Sekitar Saya. Selain memantau jaringan, Guru Besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang Machmud Effendy mengimbau warga untuk segera mencabut kabel peralatan elektronik dari stop kontak saat listrik padam mendadak. “Kalau listrik mulai menyala, sering kali disertai dengan lonjakan tegangan (voltage surge) yang tinggi dan mendadak. Jadi berbahaya kalau tegangan masuk ke barang elektronik,” katanya saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (14/6/2026). Masyarakat juga disarankan untuk menunda mencolokkan kembali perangkat elektronik selama beberapa menit setelah aliran listrik kembali normal demi menghindari kerusakan mesin di dalam perangkat tersebut. “Sebab kalau langsung dinyalakan ketika listrik baru nyala, berpotensi merusak mesin di dalamnya,” tutupnya.

Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional

Magang di Mahkamah Agung RI, Mahasiswa FH UMM Dapatkan Pengalaman Praktik Hukum Nasional (Foto: Dokumen Pribadi) RRI.CO.ID, Malang: Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Hendrico Noval Ramadhani, Satria Ananta Agung Nugraha, dan Arjuna Galih Taruna, berhasil memperoleh kesempatan untuk menjalani program magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI). Melalui penempatan di Biro Hukum dan Humas, Bagian Peraturan Perundang-Undangan (PUU), ketiganya mengikuti program magang selama kurang lebih lima bulan yang dimulai sejak 23 Februari 2026. Program magang ini merupakan bagian dari kegiatan Laboratorium Fakultas Hukum UMM yang dirancang untuk memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa dalam memahami proses kerja lembaga hukum negara secara langsung. Selama menjalani magang, para mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan regulasi dan pengelolaan informasi hukum di lingkungan Mahkamah Agung. Salah satu agenda yang diikuti adalah pembahasan rancangan kebijakan Mahkamah Agung. Melalui keterlibatan dalam proses tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengamati secara langsung mekanisme penyusunan kebijakan yang melibatkan hakim dan pejabat di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Berbagai pembahasan yang berlangsung memberikan pemahaman mengenai bagaimana suatu kebijakan dirumuskan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kebutuhan praktik peradilan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pembentukan regulasi tidak hanya berfokus pada perumusan norma, tetapi juga pada bagaimana norma tersebut dapat diterapkan secara efektif dalam penyelenggaraan peradilan. Selain itu, para mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai proses penafsiran hukum yang dilakukan dalam pembahasan regulasi. Berbagai isu yang muncul dalam praktik peradilan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan ketentuan yang akan digunakan sebagai pedoman bagi badan peradilan. Tak hanya terlibat dalam pembahasan kebijakan, mahasiswa juga berpartisipasi dalam kegiatan validasi produk hukum Mahkamah Agung melalui sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Mahkamah Agung. Kegiatan ini dilakukan dengan memeriksa kesesuaian data sebelum dipublikasikan kepada masyarakat, meliputi pengecekan nomor, identitas, nama pengadilan negeri, serta kelengkapan dokumen dalam sistem. Keterlibatan dalam proses validasi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya akurasi data dalam mendukung keterbukaan informasi di lingkungan peradilan. Melalui sistem JDIH, Mahkamah Agung menyediakan akses terhadap berbagai produk hukum dan putusan pengadilan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, akademisi, maupun praktisi hukum. Hendrico Noval Ramadhani mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Fakultas Hukum UMM dan Mahkamah Agung RI. Menurutnya, pengalaman selama magang menjadi bekal berharga untuk masa depan. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya sangat bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang sangat baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang telah memberikan ilmu yang semoga berguna di masa yang akan datang,” ujarnya kepada RRI, Jumat (19/6/2026). Senada dengan Hendrico, Satria Ananta Agung Nugraha juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperolehnya. “Selama melaksanakan kegiatan magang yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, saya merasa sangat beruntung dan bersyukur karena banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kegiatan magang selama kurang lebih lima bulan ini memberikan kesan yang baik dan banyak ilmu yang dapat saya ambil. Saya berterima kasih kepada Fakultas Hukum dan Mahkamah Agung Republik Indonesia atas ilmu yang diberikan dan semoga dapat berguna di masa yang akan datang,” tuturnya. Sementara itu, Arjuna Galih Taruna menilai program magang ini menjadi pengalaman luar biasa yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar hukum secara praktik. “Bagi saya, kesempatan ini sangat luar biasa. Kami berkesempatan magang di Mahkamah Agung Republik Indonesia guna menimba ilmu secara praktik. Semoga program magang yang dirancang oleh Laboratorium Fakultas Hukum UMM ini dapat terus berlanjut dan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjadi calon-calon sarjana hukum yang kompeten,” ungkapnya. Program magang di Mahkamah Agung RI ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran berbasis praktik yang dikembangkan oleh Fakultas Hukum UMM. Melalui pengalaman langsung di lembaga peradilan tertinggi di Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat pemahaman terhadap sistem hukum nasional serta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai praktik hukum di tingkat nasional.

Board Game Edukasi UMM Jadi Inovasi Pembelajaran Interaktif untuk Generasi Muda

Sejumlah mahasiswa prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengujicobakan board game edukasi bersama Lets Play dan RBC Institute. Foto: dok.UMM MALUMAT – Inovasi pendidikan terus lahir dari kampus. Kali ini, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 menghadirkan sembilan purwarupa board game edukasi. Game ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif sekaligus sarana memperkuat literasi dan ketangguhan mental generasi muda. Menariknya, board game edukasi UMM ini hasil kolaborasi dengan Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute. Seluruh karya itu resmi diujicobakan di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6/2026). Inovasi ini menjadi bagian dari upaya merawat warisan pemikiran dan semangat literasi almarhum Abdul Malik Fadjar, sebagai Guru Bangsa. Melalui pendekatan dengan generasi muda, nilai-nilai pendidikan dan literasi dikemas dalam bentuk permainan edukatif . Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan board game edukasi UMM dilakukan secara intensif selama tiga bulan. Menurutnya, media pembelajaran tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. “Kami berharap game-game inovatif ini tidak hanya digunakan di lingkungan PPI AMF, tetapi juga dapat didistribusikan secara nasional untuk meningkatkan kapasitas pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya. Baca Juga  Belajar Meracik Jahe dan Jamu: Cerita Ibu-Ibu Desa Wonoasri Bersama Mahasiswa UMM Tidak sekadar menjadi sarana bermain, sembilan board game edukasi tersebut juga memiliki landasan akademik yang kuat. Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi pembelajaran yang terintegrasi dengan delapan pertemuan kelas. Menurutnya, board game ini dirancang sebagai instrumen untuk mengukur ketangguhan psikologis atau psychological capital melalui metode pretest dan posttest. “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” jelas Ahmad. Dukungan juga datang dari industri permainan edukatif. CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, mengapresiasi kreativitas mahasiswa UMM yang berhasil menerjemahkan konsep akademik ke dalam bentuk permainan yang menarik. Dalam sesi uji coba, ia meminta para pengembang fokus menerima masukan terkait mekanisme permainan agar kualitas board game edukasi UMM semakin optimal. “Presentasikan karya kalian dan terbukalah terhadap evaluasi. Pengembangan berikutnya sebaiknya lebih difokuskan pada penguatan alur permainan atau gameplay tanpa perlu mengubah desain visual yang sudah sangat baik,” katanya. Uji coba yang melibatkan santri jenjang SMP dan SMA ini menjadi tahapan penting untuk melihat efektivitas permainan sebagai media pembelajaran. Berbagai masukan dari peserta akan menjadi bahan penyempurnaan sebelum produk dikembangkan lebih lanjut. Baca Juga  Menenun Masa Depan Ekonomi Indonesia-Jepang Lewat Kampus Lahirnya sembilan board game edukasi UMM menunjukkan bahwa luaran akademik perguruan tinggi tidak harus berhenti sebagai laporan penelitian atau tugas perkuliahan. Inovasi tersebut dapat ditransformasikan menjadi instrumen pendidikan yang aplikatif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Lebih jauh, board game edukasi ini diharapkan menjadi jembatan untuk meneruskan semangat literasi Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. Dengan pendekatan yang menyenangkan, nilai-nilai pendidikan, kecerdasan kognitif, serta ketangguhan mental dapat ditanamkan sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.