Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sebuah kompetisi video Blog (VLOG) tingkat nasional. Selain merebutkan uang tunai, sertifikat dan juga trophy, kompetisi ini juga merebutkan piala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kompetisi ini diadakan untuk memberikan sebuah wadah bagi generasi milenial dalam mengembangkan potensi  yang terdapat dalam dirinya. Terutama dalam dunia pembuatan video menarik seperti vlog. Seperti yang kita tahu, saat ini video blog sedang banyak digemari oleh kaum milenial. Melihat fenomena ini, FKIP UMM mencoba untuk memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan kreativitas dalam pembuatan video blog yang kali ini bertemakan “Guruku Idolaku” Pemilihan tema “Guruku Idolaku” ini bukan tanpa alasan. Guruku Idolaku yang diadakan oleh FKIP UMM ini merupakan kampanye penumbuhan karakter dan gerakan menghargai jasa guru-guru Indonesia sebagai garda terdepan dalam mewujudkan peningkatan kualitas Pendidikan. Kegiatan ini sangat penting dilakukan mengingat akhir-akhir ini terjadi gejala dan perilaku yang mengarah pada tidak dihargainya guru, berwujud kekerasan terhadap guru dan bahkan sampai kekerasan yang menghilangkan nyawa. “Guruku Idolaku ini memiliki misi mengembalikan posisi Guru yang dalam filosofi Jawa berarti digugu lan ditiru. Seorang guru merupakan sosok yang harus ‘digugu’ artinya dipatuhi atau didengar dan ‘ditiru’ yang berarti patut dicontoh atau diteladani,” ungkap M. Yunus Prasetya selaku Sie Humas dan Publikasi. Guru, sambung Yunus, tidak hanya seorang yang luas ilmu pengetahuanya dan mengajar dalam ruang pembelajaran. Guru bisa diartikan sebagai orang yang mengajarkan segala sesuatu, meskipun itu hanya satu huruf. Pengalaman bermanfaat yang mampu mengajari diri kita menjadi lebih baik juga dapat disebut sebagai guru. “Profesi seorang guru, termasuk profesi yang dihormati. Guru seharusnya menduduki strata sosial yang tinggi, bahkan ketika telah pensiun. Ia dianggap sebagai sosok yang serba tahu dan menjadi tempat bertanya. Guru juga dinilai sebagai sosok yang berakhlak mulia dan berperan penting dalam mencerdaskan putra-putri bangsa ini. Tanpa guru, tak akan ada kemajuan bangsa,” kata Yunus. Kompetisi vlog nasional kali ini melombakan dua kategori yakni kategori pelajar (siswa SMA sederajat) dan juga kategori umum. Apabila ingin turut memeriahkan kompetisi berhadiah jutaan rupiah ini, calon pendaftar bisa mengakses bit.ly/pendaftaranpesertaNVC untuk mengisi formulir secara onine terlebih dahulu. Batas pengiriman karya sendiri masih cukup panjang yakni sampai tanggal 15 juli mendatang. “Ini merupakan momen yang pas untuk mengkespresikan ide kretifitas dalam mendokumentasikan peranan guru dalam dunia pendidikan di daerah melalui pembutan video blog dengan tema ”Guruku Idolaku” dalam ajang lomba National Vlog Competition (Piala Mendikbud) 2019,” pungkas Yunus. (*)

Lebaran Momentum Wujudkan Masa Depan Lebih Baik

Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (13/6), memadati Hall Dome UMM. Yakni silaturahmi seluruh elemen kampus ini dalam rangka Halal bi Halal. Ketua Badan Pembina Harian UMM Prof. Dr. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. menyebut, pasca Ramadhan merupakan momentum mengumpulkan energi baru  menatap kecemerlangan di masa depan. Malik berkeyakinan, pasca menghadapi puasa, secara fisik justru tubuh semakin fit, semakin sehat. Selain fisik, kita juga harus menjadi pribadi yang semakin jeli melihat masa depan. Saya berharap seluruh elemen terlibat dalam menggerakkan universitas ini sehingga menjadi besar, terpercaya, memegang amanah, serta bertanggung jawab,” sambung Malik. Malik juga mendorong para civitas akademika untuk memiliki nilai dan jiwa yang dianut para pemenang. Diantaranya menghindari untuk tidak bersyukur nikmat dan berpikir ngeres. Orang kecil itu adalah orang yang tidak syukur nikmat, dan orang yang berpikir ngeres-ngeres itu. Orang besar itu yang bisa menysukuri nikmatnya yang diberikan Tuhan kepada kita. Baca juga: Fasilitasi Kreativitas Milenial, FKIP UMM Gelar Kompetisi Vlog Nasional   “Insya Allah, jika kita mengembangkan (prinsip) itu, hidup ini akan barokah. Barokah itu tidak dihitung dengan seberapa banyak uang yang dimiliki,” kata Malik dengan bersehaja. Malik lantas menegaskan Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan, “Kalau ingin bisa menjadi orang pergerakan yang berkontribusi bagi umat dan bangsa, di sinilah tempatnya.” “Kita juga punya tanggungjawab strategis untuk menampilkan Muhammadiyah sebagai model pergerakan Islam modern dengan wajah yang ramah Islam Indonesia,” tegas Malik. Setelah Halal bi Halal ini, kita akan memasuki tahun ajaran baru/tahun akademik baru 2019-2020. Tentu kita akan menghadapai tantangannya besar dan perubahan besar. “Mari kita memberikan semaksimal mungkin. Dan itu hanya bisa kita lakukan dengan  bersama-sama. Semua kompak memberikan pelayanan terbaik baik universitas,” ujarnya. Idul Fitri menjadi momentum untuk menjaga kejernihan hati dan batin untuk meningkatkan produktifitas kita. Untuk meluruskan (niat) perjuangan kita. Ini bahagia dan kegembiraan. Disebut Rektor Fauzan, UMM tidak hanya memiliki tanggung jawab pendidikan, tapi juga sosial. Hal itu ditunjukan dengan bertambahnya jumlah keluarga civitas akademika UMM. “Telah banyak penduduk baru di civitas akademika UMM. Itu semua bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab sosial UMM. Juga keberlanjutan UMM ke depan,” sebutnya. Rektor lantas mengucapkan permohonan maaf, baik secara pribadi juga institusi kepada civitas akademika dan rekanan UMM. Ditutup doa dan dilanjutkan dengan ritual saling berjabat tangan. Dalam momen itu juga turut hadir jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diwakili Nur Cholis Huda. Ia juga menyampaikan pentingnya ritual Halal bi Halal. (can)

Cetak Guru Berwawasan Global Lewat Magang dan KKN Internasional

Terhitung sampai tahun 2019 ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah empat kali mengirimkan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan Magang 3 Internasional ke Thailand. Sejak tahun 2015, FKIP UMM menjalin kerjasama dan mengirimkan mahasiswa untuk mengajar di Thailand. Kunjungan 12 senator (anggota parlemen) Thailand yang dipimpin Jendral Dr.Tuang Antachai (mantan kepala staf Angkatan Darat/Gen.Udomchai Tammasarorat) pada tanggal 10 Agustus 2018 ke UMM meneguhkan kerjasama FKIP ini. Magang ke Thailand ini diselenggarakan pada setiap bulan Juni. Selama satu bulan penuh, mahasiswa melaksanakan kegiatan praktek mengajar di sekolah. Mahasiswa melaksanakan magang di sekolah yang tergabung dalam Muslim Education Development Association Thailand (MEDAT), suatu organisasi sekolah yang beranggotakan SD, SMP dan SMA di seluruh wilayah Thailand. “Berkat kerjasama yang harmonis, setiap tahunnya FKIP mengirimkan 45 hingga 55 mahasiswa dari enam program studi (Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, PGSD, Biologi, Matematika dan PPKN) ke empat provinsi di Thailand, yaitu Bangkok, Satun, Krabi dan Songklha,” ungkap Nur Widodo, Kepala Magang FKIP. Melalui Magang 3 ini, sambung Nur Widodo, mahasiswa melakukan kegiatan mengajar. Apapun latar belakang disiplin ilmunya, mereka akan mengajar Bahasa Inggris, budaya dan Bahasa Indonesia, kepanduan, dan pelajaran ekstra kurikuler lainnya. Mulai tahun 2018 kegiatan Magang 3 ini digabungkan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kependidikan. Oleh karena itu, durasi program bertambah satu bulan, sehingga magang dan KKN mahasiswa berakhir pada bulan Agustus. Dengan penggabungan magang dan KKN ini, maka mahasiswa semakin leluasa dalam merancang dan melaksanakan kegiatan kemasyarakatan. “Melalui program gabungan ini, mahasiswa mampu mengembangkan koperasi sekolah, mengenalkan berbagai budaya daerah di Indonesia, seperti kesenian wayang, angklung, batik jumput dan lain lainnya. Bahkan ada kelompok mahasiswa yang menggerakkan gemar membaca dan literasi melalui perpustakaan keliling,” ungkap Nur Widodo. Kegiatan Magang 3 dan KKN Internasional ini sekalipun berlingkup bilateral, memiliki makna penting bagi mahasiswa. Tidak hanya terkait dengan school exposer, tetapi lebih pada international atmosphere. Mahasiswa perlu memiliki wawasan internasional, terlebih dengan telah diberlakukannya pasar bebas ASEAN sejak tahun 2015. “Mau tidak mau, dunia pendidikan pasti terimbas oleh globalisasi, dan mahasiswa harus dipersiapkan untuk memenangi kompetisi global termasuk dalam dunia pendidikan ini,” katanya. Lebih jauh Nur Widodo menjelaskan, melalui magang internasional ini maka berbagai kualifikasi seperti yang dikehendaki oleh pembelajaran abad 21 antara lain kemahiran komunikasi, berfikir kreatif, bekerja sama dan bahkan kemandirian dapat dikuatkan pada mahasiswa peserta magang dan KKN Internasional ini. “Oleh karena itulah mahasiswa peserta Magang dan KKN Internasional ini mendapatkan pembekalan yang terkait dengan pemenuhan empat kualifikasi yang dipersyaratkan, penguatan spirit de corp, penguasaan bahasa dan budaya Thailand serta tidak kalah pentingnya adalah  penguasaan mapping dan traveling di Thailand,” pungkasnya. Pengalaman baik kegiatan Magang dan KKN Kependidikan tahun 2018 berhasil mendapatkan apresiasi oleh Kementerian Pendidikan Thailand dalam bentuk “Teacher of the Year”. Penghargaan tersebut diperoleh berkat kerja cerdas mahasiswa dalam mengajarkan dan mengembangkan koperasi sekolah. Mahasiswa peserta magang ini juga telah mendokumentasikan kegiatannya dalam bentuk buku. Dengan membaca buku catatan pengalaman mereka, maka pembaca dapat memetik good practice-nya. Buku karya mahasiswa alumni program magang ini diterbitkan untuk kalangan umum. Judul bukunya “Bangsaku Kawanmu” untuk edisi tahun 2016, dan “Catatan Kenangan Thailand” untuk tahun 2018. Pada tahun 2019 ini FKIP UMM kembali mengirimkan 46 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan magang dan kkn internasional. Mahasiswa tersebut merupakan hasil seleksi dari 100 peminat. Ke 46 mahasiswa yang terseleksi selanjutnya telah dipersiapkan dengan intensif selama bulan Mei. Disamping penguatan kualifikasi, pengembangan program individu, penguatan spirit de corp dan penguasaan wilayah dan budaya Thailand, untuk menajamkan kemandirian dan kepekaan sosialnya disentuh melalui program MOR, ICA dan NOLL. Dekan FKIP, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. memberikan catatan pada saat pembekalan, bahwa peserta tahun ini diharapkan tidak sekedar melaksanakan program yang telah dipersiapkannya. “Peserta saya harapkan untuk mampu memikat hati sekolah di Thailand dengan karakter keunggulannya sehingga mendapatkan kesempatan untuk direkrut sebagai guru di Thailand setelah lulus nantinya, sebagaimana kakak tingkatnya,” demikian motivasi yang diberikan untuk peserta tahun 2019 ini. “Menjadi guru di Thailand itu sangat menjanjikan, karena tidak mensyaratkan sertifikasi seperti di Indonesia dan gajinya lumayan jauh lebih tinggi,” demikian pungkasnya. Tidak ketinggalan pula Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang merasa bangga dengan program Magang dan KKN Iternasional ini. “Saya mengharapkan program ini dapat diperluas lagi di berbagai negara lain. Syukur-syukur bisa di Eropa maupun Amerika” demikian pintanya. (*)

Versi SINTA, Pendidikan Biologi FKIP UMM Terbaik se-Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Kali ini, prestasi membanggakan diperoleh Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM didaulat sebagai Prodi Pendidikan Biologi terbaik (nomor urut satu) dari 143 prodi yang sama di Indonesia, baik PTN maupun PTS, berdasarkan indikator publikasi ilmiah yang terdaftar di portal SINTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). SINTA (Science and Technology Index) merupakan portal yang berisi tentang pengukuran kinerja Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang meliputi antara lain kinerja peneliti, penulis, author, kinerja jurnal, dan kinerja institusi Iptek. SINTA dibuat guna mewadahi hasil penelitian yang sudah dipublikasikan secara online. Sehingga orang yang dapat berkontribusi di Portal SINTA adalah para peneliti dan dosen. Merujuk pada http://sinta2.ristekdikti.go.id/departments/afiliasi?kdprodi=84205&view=affiliation, terlihat jelas posisi Pendidikan Biologi UMM berada di urutan pertama. Score yang diperoleh adalah 91 (5 year Score) dan 365 (all year score). Score ini memiliki selisih yang cukup jauh dengan score yang diperoleh beberapa PTN, misalnya UM (59/191), UNM (57/193), UNESA (43/122), dan UPI (21/203). Peringkat di “5 Year Score” adalah berdasarkan skor 5 tahun terakhir, publikasi dihitung sejak tahun 2015 sampai publikasi (sekitar) akhir Mei 2019. Sedangkan untuk “All Year Score” dihitung seluruh tahun publikasi. Skor lima tahun terakhir ini (akan) dipakai untuk pemberian beragam kategori Penghargaan Sinta. Adanya skor ini, diharapkan perguruan tinggi, dosen/peneliti, dan pihak lainnya akan dapat lebih terpacu setelah melihat produktifitas dalam tiga tahun terakhir. Baca juga: Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran Menanggapi capaian prestasi ini, Dekan FKIP UMM Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. menegaskan bahwa hal tersebut sebenarnya bukan hal yang mengagetkan. Menurutnya, prestasi ini sangat wajar mengingat Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM terus melakukan inovasi-inovasi dalam hal publikasi. Semua dosen secara bersama-sama giat melakukan penelitian berkualitas, lalu mempublikasikan artikel ilmiah mereka di jurnal bereputasi internasional. Bahkan, budaya itu pun menular kepada mahasiswa. Mahasiswa semester akhir secara otomotis memformat skripsi mereka menjadi artikel ilmiah yang akan dipresentasikan di berbagai seminar nasional dan internasional, juga minimal di jurnal-jurnal terakreditasi. Dekan FKIP UMM  juga menjelaskan bahwa tradisi juara dan prestasi memang menjadi nafas prodi-prodi di lingkungan FKIP UMM. Secara khusus di Prodi yang diketuai ole Dr. Iin Hindun, M.Kes ini telah diperoleh rekognisi internasional berupa sertifikasi dari ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), yang merupakan prodi Pendidikan Biologi pertama di Indonesia. Prodi ini juga memperoleh Akreditasi A (2011-2021), Laboratorium Biologi Terakreditasi KAN dan ISO-17025, memiliki Jurnal terakreditasi Sinta 2 dan terindeks internasional (JPBI), dan program-program kerjasama internasional. (*)

Mahasiswi Ini Berbagi Tips Bagi Perantau yang Tak Mudik Lebaran

Tiap negara memiliki tradisinya masing-masing menjelang perayaan Idul Fitri. Seperti diketahui, lebaran di Indonesia selalu identik dengan mudik. Momentum ini bisa menjadi sangat spesial bagi seluruh umat Islam untuk kembali menjalin tali silaturahmi dengan kerabat, sanak famili, sahabat maupun handai taulan. Heni Pujiati, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Tarakan, Kalimantan Utara membagikan tips bagi sesama teman seperantauan yang tidak mudik untuk mengisi waktu libur Ramadhan dan bagaimana caranya merayakan lebaran di rantauan. Kota Malang ditempati oleh berbagai profesi, terutama mahasiswa. Tentu hari demi hari menjelang lebaran, suasana kamar para penghuni kost kian sepi.  “Karena itulah dengan beraktifitas kita bisa sedikit menghabiskan waktu dan menghilangkan kejenuhan,” ujarnya. Pertama, memperbanyak kegiatan positif. Seperti membantu teman yang butuh bantuan, ataupun mengantarkan barang belanjaan milik tetangga maupun teman. “Kalau saya, saat sore harinya, saya berjualan kue-kue di sekitar Taman Rekreasi Sengkaling,” beber Heni yang saat ini tengah menempuh semester enam. Kedua, untuk menambahkan kesan lebaran agar kian kental hal yang dapat dilakukan yakni dengan menghias kamar kost-an dengan pernak lebaran. “Membeli kue-kue khas lebaran. Juga membeli baju baru agar suasana lebarannya tetap dapet,” kata mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini. Tips yang terakhir ialah dengan berkumpul bersama teman-teman terdekat yang tidak mudik, sekaligus bersilaturahmi ataupun pergi ke rumah teman yang notabene asli penduduk setempat. Hal ini dimaksudkan agar suasana kekeluargaan di tanah rantau tetap terasa, walaupun sedang tidak berada di kampung. “Mungkin untuk kedepan di kampus bisa dibuat silaturrahmi akbar atau acara mudik gratis sebagai alternatif bagi mahasiswa perantau yang berhalangan mudi saat momen Idul Fitri,” pungkasnya. Ia beralasan tak mudik karena harus menuntaskan hajat yang penting. (riz/can)

Cerita Ocha Melawan Stigma Alumni Ikom yang Memilih Berbisnis Kuliner

Berwirausaha menjadi salah satu pilihan tepat bagi para fresh graduate. Begitulah yang dilakukan oleh Rahmania Santoso, perempuan  lulusan program studi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2018 silam yang meyakinkan dirinya untuk membuka usaha kuliner bernama Tape Deh. “Pertama kali dulu open pre order lalu dikirim ke pemesannya langsung,” ungkapnya. Jauh sebelum memberanikan diri open order, ia mencoba membikin kreasi panganan tradisional tape dengan sentuhan modern ini lewat tangan sendiri. Produknya lantas dicobakan kepada teman-teman terdekatnya. Responnya positif. Perempuan yang akrab disapa Ocha ini mengaku senang berwirausaha sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). “SD dulu pernah aku jualan gelang,” katanya. Kegemaran itu berlanjut hingga duduk dibangku perguruan tinggi. Saat di perguruan tinggi ia jual makanan ringan kiloan yang kemudian dikemasi sendiri. Lantas dijualnya dengan label dan kemasan lebih kecil. Perjalanan Tape Deh yang dikembangkan Ocha benar-benar mengalami perkembangan yang signifikan. Kini Tape Deh sudah memiliki outlet yang dapat dikunjungi oleh pelanggan secara langsung. Letaknya di pintu masuk Perumahan Bukit Cemara Tujuh. Meski baru mulai, perbulannya ia dapat mengantongi keuntungan bersih satu hingga dua juta sesudah dipotong uang sewa tempat, bahan, dan gaji karyawan. Walaupun demikian, Ocha beberapa kali pernah mengalami kegagalan dalam mengembangkan Tape Deh-nya. “Pernah bahan-bahannya rusak tidak dapat digunakan dan akhirnya terpaksa dibuang,” tuturnya. Selain itu ia juga pernah mengalami masa-masa dagangannya tidak laku. Menurutnya, semua hal tersebut adalah proses yang tentu saja akan dilalui seorang wirausaha. Dalam proses membangun Tape Deh, Ocha mengaku belajar banyak hal. Salah satunya mengelola sumber daya manusia yang turut mengelola usahanya. Termasuk menggaji dan mengelola penjadwalan shift. “Sejauh ini yang menjadi pelayan Tape Deh adalah mahasiswa, jadi mengatur jadwal jaganya disesuaikan dengan perannya sebagai mahasiswa,” jelasnya. Stigma lulusan Ilmu Komunikasi yang paling tidak berprofesi menjadi Wartawan atau bekerja di PR Agency sering kali hinggap ditelinganya. “Saya sudah biasa. Yang penting bermanfaat dan saya suka,” ungkap Ocha yang kini sebagai staf rektorat UMM. Tentang basik keilmuannya, Ocha juga menerapkannya di waktu lainnya. Seperti menjadi pembawa acara lepas. Ocha berharap kedepan usahanya dapat menginspirasi para mahasiswa maupun fresh graduate untuk berani berwirausaha. “Jangan takut mencoba! Karena kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba terlebih dahulu,” tekannya saat diwawancarai, Senin (3/6). (*)

Mahasiswa UMM Temukan Gel Anti Aging dari Kulit Semangka

Penuaan atau aging jadi proses menakutkan yang dihindari sebagian orang. Terlebih bagi kaum perempuan. Hal inilah yang melatari Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan formula berupa gel anti kusam dari kulit semangka (Citrullus lanatus). Adhea Fajarina Nugraheni bersama Vika Amelia Safitri dan Kiki Vergianti Ayuningtyas adalah penemunya. Penelitian didampingi Siti Rofida, S.Si., M.Farm., Apt. Temuan yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian (PKM-P) ini lolos pendanaan dari Ristekdikti sebesar Rp 12.500.000,-. Ardhea selaku koordinator kelompok mengungkapkan, seiring bertambahnya usia, kulit akan ikut menua. Salah satu solusi yang mungkin dilakukan yakni dengan melakukan tindakan pencegahan maupun memperlambat proses aging yang dinilai mengkhawatirkan. “Salah satu cara dalam melakukan tindakan anti aging adalah dengan menggunakan kosmetik dari bahan tanaman yang banyak mengandung senyawa likopen dan antosianin yang berfungsi peremajaan terhadap kulit,” sebut Ardhea. Selain terdapat senyawa likopen, lanjutnya, penggunaan kulit semangka dinilai mampu menutup pori-pori yang terbuka pada wajah dan menangkap radikal bebas yang disebabkan paparan sinar matahari dan polusi. “Kedua manfaat itu merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya penuaan dini,” kata Ardhea. “Biasanya semangka hanya dimanfaatkan dagingnya saja, sementara bagian kulitnya dibuang. Sehingga kita juga memanfaatkan limbah kulit tersebut sebagai bahan aktif kosmetika yang dapat mengatasi limbah dan meningkatkan nilai jual,” lanjut Ardhea. Dijelaskan pembimbing Siti Rofida, penelitian tiga mahasiswa program studi Farmasi ini dilakukan dalam jangka waktu lima bulan dengan tahapan yaitu, persiapan bahan uji ekstrasi kulit buah, pembuatan gel anti kusam, pengujian mutu fisik dan pengujian aktivitas antioksidan gel. “Kami berharap setalah adanya penelitian ini hasilnya dapat dipublikasikan dalam seminar nasional dan memiliki potensi untuk didaftrarkan hak paten. Selain itu juga dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk membuat penelitian lainnya,” harap Siti (2/6). (*)

Bakesbangpol di UMM: KPU Harus Kerja Ekstra Jaring Pemilih Pemula

PEMILIHAN Umum (Pemilu) serentak pertama di Indonesia akan diadakan pada 17 April mendatang. Momen ini menjadi tantangan baru. Bagaimana tidak, untuk menekan angka golput, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bekerja ekstra. Ditambah lagi, angka pemilih pemula meningkat pada tahun ini. Maka perlu beribu cara untuk menarik minat pemilih pemula. Sekaligus menepis anggapan bahwa antri di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak sekedar membuang-buang waktu. Demikian kata Heru Mulyono, S.IP. M.T., sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, Sabtu (2/2). Prodi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga menaruh perhatian lebih pada situasi ini. Heru didaulat sebagai pemateri dalam Workshop Pemberdayaan Masyarakat bagi mahasiswa tingkat akhir IP UMM . Hadir pula sebagai pemateri Dr. Oman Sukmana, M.Si, Kepala Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMM di sesi pertama. Pendampingan masyarakat dalam bidang partisipasi politik bukanlah pekerjaan sulit. Menurut Heru, bila sudah memiliki strategi yang matang dan mau turun lapang, tugas ini akan menjadi mudah karena jelas dipraktikkan. Data lainnya menjelaskan, separuh lebih pemilih di Indonesia adalah perempuan. “Dalam pendampingan, yang jadi tantangan adalah perempuan. Karena pemilih perempuan lebih tinggi jumlahnya daripada laki-laki,” jelas Heru. Kemudian ia menjelaskan undang-undang nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik. Salah satunya terdapat pada pasal 2 ayat 5, bahwa pendirian dan pembentukannya menyertakan paling rendah 30 persen keterwakilan perempuan. “Perempuan harus berpartisipasi dalam politik. Karena aturan minimal 30% harus melibatkan perempuan,” ungkapnya. Lebih lanjut, Heru mengarahkan para peserta workshop untuk bersungguh-sungguh dalam mendampingi masyarakat. Pemberdayaan, kata Oman, perlu dedikasi yang tinggi. “Sebagai seorang intelektual sosial, berdampingan dengan masyarakat adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dan sekali-sekali jangan mau main uang,” tutupnya. Sementara itu, Ketua Laboratorium IP UMM Yana S. Hijri, S.IP, M.IP. menyatakan workshop sehari ini diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan calon wisudawan untuk memahami kembali pentingnya pemberdayaan masyarakat. “Selain itu, melalui kegiatan workshop ini mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri sebagai fasilitator (pendamping) yang handal dan mumpuni untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan yang muncul di tengah masyarakat,” papar Yana. Di sesi kedua, workshop ini menghadirkan Dr. Rahmad K. Dwi Susilo, M.A., yang memberi materi pemberdayaan Bidang Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana. Serta, Yunan Syaifullah, S.E., M.Sc. di Bidang Ekonomi Pembangunan. (mir/can)

Fokus Bereksperimen Senyawa Pigmen, Dosen UMM Hasilkan Beras Analog untuk Balita

TINGGINYA jumlah penderita gizi buruk dan kurang gizi pada balita terus meningkat. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data dan Informasi (PDI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015, sebanyak 25% bayi hingga balita di Indonesia mengalami stunting dan gangguan kesehatan lainnya akibat rendahnya kualitas gizi. Selain itu, PDI juga menunjukkan angka 30% balita di Indonesia mengalami Kurang Kalori Protein (KKP). “Balita itu punya beberapa permasalahan pada masa pertumbuhan, salah satunya tentang KKP,” tutur Elfi Anis Saati  Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat diwawancarai, Kamis (22/11) terkait peluncuran produk terbarunya. Berangkat dari persoalan tersebut, Elfi berinovasi dengan beras analog tinggi protein. Ia berekspreimen dengan beras analog yang terbuat dari tepung tapioka, tepung kedelai, dan bayam hijau dan merah.  Diterangkan Elfi, beras analog yang ia buat kaya akan protein yang dihasilkan dari kacang-kacangan. Ia memilih kacang kedelai yang mudah dijumpai di sekitar. “Beras analog ini mengandung tepung kedelai yang  tinggi protein. Itu yang membuat beras ini tidak hanya mengandung karbohidrat,” papar Elfi. Menurut dosen yang aktif melakukan riset pada lingkup pigmen ini, beras analog yang diberi label Elviza ini memiliki keunggulan lain yaitu tingkat antioksidan yang tinggi. Antioksidan, dijelaskan Elfi, merupakan senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun dalam tubuh manusia. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi balita pada masa pertumbuhan. “Pigmen pada penelitian ini terbukti memiliki tingkat antioksidan yang sangat tinggi,” imbuhnya. Sementara itu, pada beras analog, Elfi memilih pigmen yang terkandung pada sayuran. Sayuran dipilih karena banyak balita yang cenderung kurang mengkonsumsi sayuran. Tak hanya itu, Elfi mengaku bahwa beras analog ini tak hanya mengandung karbohidrat dan protein, namun juga kandungan sehat lain yang ada pada sayur. “Saya memilih bayam sebagai tambahan komposisi untuk memanfaatkan pigmen yang ada pada bayam itu sendiri,” jelasnya. Tak hanya berinovasi pada beras analog, sebelumnya Elfi juga telah bereksperimen dengan minuman antioksidan yang memanfaatkan pigmen dari bunga mawar. Antosianin dari bunga mawar diketahui dapat mencegah penyakit ginjal dan juga hati. Hasil penelitian itu sudah dipublikasikan pada jurnal Internasional dan telah dipatenkan. Bermaksud untuk menyediakan pangan yang sehat bagi masyarakat dan mengurangi penggunaan pewarna non-pangan berbahaya, seperti Rhodamin B, Amaranth, dan Pauncou, Elfi melakukan hilirisasi produk minuman antioksidan, juga dengan nama merk Elviza. Selain Elviza, Elfi juga tengah mengembangkan produk pewarna alaminya dengan ragam warna yang diisolasi dari bahan alam Indonesia.  “Produk pewarna alami saya tengah dikembangkan untuk memenuhi permintaan pengusaha batik ekspor asal Medan yang memiliki usaha batik di Malang,” Elfi menambahkan. Dikatakan Elfi, saat ini pigmen dari bahan alam di Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai produk pada pangan, kosmetik, obat herbal, kerajinan, batik, bahkan menjadi sumber listrik. (nis/can)

Maharesigana UMM dan MDMC Cetak Relawan Tangguh Bencana

MAHASISWA Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah II sebagai salah satu agenda peringatan Milad Muhammadiyah 106. Acara berlangsung di Wisata Cuban Talun, Kota Batu, 17-18 November lalu. Indra Fery, mahasiswa pascasarja UMM, selaku ketua pelaksana Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan itu adalah untuk menjadikan para relawan kompeten terkait penanganan kebencanaan sehingga tidak kaget saat di lapangan. Selain itu, kegiatan diklat juga sebagai wadah silaturahmi antar relawan sari berbagai wilayah. Indra menjelaskan, sesungguhnya kegiatan itu hanya lingkup Malang Raya, namun peminatnya dari berbagai wilayah seperti Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Mojokerto, Cianjur, Pasuruan, Surabaya, Yogyakarta, Pacitan, Sidoarjo, Purwokerto, dan Lamongan dengan jumlah peserta 125 orang. “Kami berusaha menyambut seluruh peserta dengan baik dan kami ucapkan terimakasih atas semangat belajar peserta,” jelas relawan tim media PP MDMC tersebut. Selain itu, ia menjelaskan terkait materi yang diberikan merupakan materi dasar kerelawanan. Mengingat bahwa diklat lapang yang diadakan adalah diklat dasar sehingga pemenuhan masih bersifat dasar. Materi yang diberikan yaitu psikososial, fikih kebencanaan, search and rescue, medis, manajemen posko, dan jurnalistik kebencanaan. Tak tertinggal, Indra menjelaskan, kegiatan akhir dari materi yang diberikan adalah mempraktekan ilmu yang sudah diajarkan dengan cara melakukan simulasi kebencanaan. “Kita masih lakukan pengamatan kedepannya untuk melakukan diklat lanjut, tentunya dengan syarat peserta harus sudah pernah mengikuti diklat dasar. Kita lihat saja kedepannya,” jelasnya. Fanny Ramadan salah satu peserta menjelaskan bahwa ia sangat bersyukur dapat mengikuti Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah. Ia mengutarakan, meskipun ia memiliki kemungkinan kecil untuk dapat bertugas langsung di daerah bencana, setidaknya ia mendapatkan ilmu bagaimana dalam menyikapi bencana. Sehingga, ia mampu melindungi diri sendiri dan keluarga, atau bahkan secara luas melindungi masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggalnya. “Materinya sangat menarik dan rata-rata merupakan ilmu baru yang saya dapatkan hanya di Diklat Lapang Relawan Muhammadiyah ini,” jelas mahasiswa UMM tersebut. Acara dihadiri Arif Nur Kholis, Sekretaris Umum MDMC Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah; Zakarija Achmad, Koordinator Psikososial MDMC PP Muhammadiyah; Unang Endro Waluyo, Ketua MDMC Rayon II, dr. Rubi Anto Cahyono, Ketua MDMC Kota Blitar; Imam, Ketua MDMC Kabupaten Trenggalek; dan Rosi Hendrawan; Ketua MDMC Kabupaten Malang mewakili MDMC Malang Raya. (nat/can)