Kembali Targetkan Juara Umum, Surya Team UMM Siap Berlaga di KJI dan KBGI di Makassar

KOMPETISI Jembatan Indonesia (KJI) dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) akan diadakan di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Makassar akhir November ini. Tiga tim di bawah naungan LSO Surya Team dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil lolos menjadi finalis. Mereka adalah Tim Red Jaeger pada kategori Jembatan Canai Dingin, Tim Naraya pada Kategori Jembatan Busur dan Tim Kwangwung pada KBGI. Saat pelepasan para finalis Senin siang (11/19) Ir. Chairil Saleh, MT, Pembina LSO Surya Team menerangkan bahwa persiapan UMM sudah matang. “Hari ini kita adakan simulasi untuk lebih memaksimalkan persiapan kompetisi,” jelasnya. Keikutsertaan UMM untuk kesekian kalinya, sejak tahun 2002 Surya Team terbentuk di bawah jurusan Teknik Sipil. Namun ini adalah tahun kedua bagi Surya Team semenjak menjadi LSO di Fakultas Teknik. Di bawah bimbingan Chairil, para finalis tak hanya dibekali teknis membangun rancangan. Namun juga pelajaran tentang rasa tanggung jawab dan kekompakan. Bagi Chairil, sebuah kekompakan untuk meraih juara teramat amat penting. “Saya ingin setiap tim punya kekompakan yang baik. Jangan sampai saling menyalahkan. Namun bersedia menghadapi setiap rintangan bersama,” tukasnya. Chairil juga berharap agar UMM dapat mendulang suksesnya kembali tahun ini. Ketiga tim UMM dinyatakan sebagai finalis setelah proposalnya lolos tahap proposal yang diajukan sebelumnya. “Nantinya, yang menjadi penilaian bukan kecepatan dalam menyelesaikan setiap rancangan. Tetapi kesesuaian wujud yang dibangun dengan proposal yang sudah diajukan sebelumnya,” tutur Chairil. Penilaian juga dilihat dari ketepatan waktu. Bila terlalu jauh rentang waktu yang sudah dicanangkan dengan waktu penyelesaian, maka juga akan mempengaruhi nilai. Sebelumnya di tahun 2014, UMM telah lebih dulu menorehkan prestasi gemilang dalam KBGI di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. UMM berhasil menggondol Juara Umum, menggeser dominasi juara bertahan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan tim tuan rumah. Di tahun berikutnya (2015), UMM terpilih menjadi tuan rumah. Tahun ini (2018), UMM kembali targetkan gelar Juara Umum. Tahun 2015 merupakan penyelenggaraan KJI yang ke-10, sedangkan KBGI yang ke-6. Sejak pertama kali diselenggarakan keduanya selalu diadakan di kampus negeri. UMM menjadi tuan rumah pertama dari kalangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Bukan kali ini saja, UMM juga dipilih menjadi PTS pertama tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) tahun 2006 serta Kontes Robot Indonesia (KRI) tahun 2010. Perebutan Piala Reka Cipta Griya Indonesia dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI saat itu berjalan cukup kompetitif. UMM harus bersaing dengan 32 proposal yang masuk dan menjadi 10 finalis yang harus presentasi di Bandung. Mengandalkan bangunan miniatur bernama “Candra Surya”, UMM berhasil menyingkirkan dominasi kesembilan finalis dari berbagai kampus besar di Indonesia, seperti ITS, ITB, UB, dan Politeknik Bandung. (mir/can)

Kirim 2 Tim ke KMHE 2018, UMM Kembali Targetkan Tiga Besar

DUA TIM dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Tim Mekatronic dan Tim Srikandi siap melesat di Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 di Universitas Negeri Padang, 27 November hingga 1 Desember mendatang. Berkaca ke kontes yang diikuti tahun lalu, Shell Eco-Marathon Singapura, dua tim UMM semakin memantapkan mobilnya. Ajang bergengsi yang diselenggarakan Kemenristekdikti Republik Indonesia ini, tim Mekatronic mengandalkan kendaraan Genetro Suryo U.E.V 06 di kelas Mobil Listrik dan Tim Srikandi dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline. Tahun ini, kedua tim menargetkan posisi 3 besar. “Kalau dulu kita tidak mempertimbangkan angin sebagai faktor yang mempengaruhi. Tapi ternyata angin itu menghambat kecepatan cukup besar. Untuk kali ini kita merubah total body agar bisa melaju maksimal,” ujar Mohammad Jufri selaku pembina. Jufri mengaku sudah mempersiapkan ajang KMHE dengan optimal, baik secara administratif maupun teknis. “Sebenarnya kami itu penasaran, karena kemarin kami kira sudah mantap. Tapi ternyata kita tidak mempertimbangkan faktor angin,” jelas Jufri berkaca kepada Shell Eco-Marathon yang mampu bertengger di empat besar. “Dengan persiapan yang lebih matang, mudah-mudahan bisa lebih meningkat lagi, minimal masuk tiga besar lah,” lanjut Jufri. Sementara pengemudi mobil Genetro Surya U.E.V 06, Renggi Ahmad Rimeldi mengaku mengalami sedikit kesulitan dalam mengendarai mobilnya. “Kesulitannya itu menyetel rem agar tidak ada gesekan sama sekali,” jelas Renggi. Dengan bisa mengendalikan rem secara maksimal, Genetro Surya U.E.V 06 bisa melaju dengan maksimal. Meski begitu, jelang lomba yang tinggal menghitung hari ini, Renggi dan kawan satu timnya itu sudah menemukan pemecahannya. (usa/nis/can)

Ikhwan Marzuqi: Jalan Menuju Kesuksesan Itu Sederhana

“SUKSES itu relatif. Setiap orang mempunyai definisi suksesnya masing-masing. Jadi tidak ada definisi pakem tentang apa itu sukses,” tegas Ikhwan Marzuqi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammdiyah Malang (FK UMM) angkatan 2015. Ikhwan tengah mengulas cuplikan isi buku yang baru-baru ini diterbitkannya, 50 Things That Bring You to Success. Bagi Ikhwan, langkah mencapai kesuksesan dimulai dari menemukan definisi suksesnya sendiri. Barulah, beranjak mengejar arti kesuksesannya itu. Namun demikian, diulas lebih dalam di buku terbitan PT Elex Media Komputindo itu, ketika mengejar sukses tidak hanya harus bekerja keras, namun juga harus bekerja cerdas. Buku ini membahas 50 hal yang menjadi resep kesuksesan bagi setiap orang. Salah satu contoh kerja cerdas, sambung Ikhwan, yakni mengawali segala sesuatu dengan ketulusan dan doa. Bukan usaha dulu baru doa. Melainkan, sebut Ikhwan, sejak menjalani proses sedari awal, tengah, dan akhir harus diiringi doa dan ketulusan. Ia menilai, kebanyakan orang seringkali memposisikan doa di akhir setelah usaha. “Menurut saya itu kurang tepat, karena sudah memposisikan sang pencipta (Allah SWT, red.) nomor dua setelah usaha kita. Jadi harus selalu dalam kondisi berdoa agar kita tetap berjalan dalam bimbingannya,” lanjut pria yang pada tahun 2017 juga menerbitkan buku Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual. Sukses menurut definisi Ikhwan, yakni bisa menikmati hidup dengan kondisi yang kita punya. Bisa bahagia, bisa damai, dan tenang dengan apapun yang sudah kita miliki. Ia mengatakan bahwa definisi kesuksesannya tidaklah muluk-muluk, asal dia bisa menikmati hidup yang dia punya. Dalam buku setebal 200an halaman itu, ia juga menyatakan bahwa dalam usaha mencapai kesuksesan, orang harus membiasakan hidup dalam kesederhanaan. Biasanya, sambung Ikhwan, agar ketika seseorang sudah sukses nantinya, ia tidak mengalami keterlenaan dan melakukan hal yang tidak perlu. Seseorang juga kerap merasa tidak cukup atas pencapaiannya, lantaran ia tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. “Maka memiliki kesederhanaan agar bersyukur dengan setiap pencapainnya. Dan hanya menginginkan apa yang dibutuhkan. Rasa itu yang perlu dimiliki,” tandas Ikhwan. Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Abd. A’la saat mengomentari buku Ikhwan menyatakan, kepiawaian penulis mendialogkan nilai-nilai Islam substantif dan nilai-nilai kemanusiaan universal, menjadikan buku ini bukan hanya mampu menjelaskan dan menggapai kiat-kiat meraih kesuksesan. Tapi juga makna hakiki keberhasilan dan kebahagiaan. “Lebih dari itu, karya Ikhwan dengan telak menggugat keberagamaan kita, tanpa harus menyinggung kita. Dalam ungkapan lain, kita merasa gagal atau sedih. Karena kita beragama hanya sebatas, lahiriah semata, keberagamaan kita harus holistik-transformatif,” pungkas Abd. A’la. (usa/can)

Setelah UGM, UMM Jadi PT yang Mengawali Kukuhkan Insinyur

GELARAN yudisium profesi Insinyur yang diselenggarakan di Gedung Kuliah Bersama IV Universitas Muhammadiyah Malang (GKB IV UMM), Sabtu (17/11), mengukuhkan setidaknya 7 Insinyur baru. Pengukuhan dilakukan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. M. Bisri, MS. “Di Jawa Timur ini baru pertama kali ada yudisium pengambilan sumpah Insinyur. Kalau di Indonesia itu pertama UGM, kedua baru UMM,” kata Bisri. Peraturan Menristekdikti  Nomor 35 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Studi insinyur memberikan mandat kepada 40 Perguruan Tinggi se-Indonesia untuk membuka PSPPI termasuk UMM. Melalui proses perkuliahan, mahasiswa PSPPI berhak menyandang gelar Insinyur atau “Ir.”. Setelah mendapat gelar Ir., mereka dapat  mengisi portofolio dan ujian yang diselenggarakan PII Pusat untuk mendapatkan gelar insinyur profesional pratama, insinyur profesional madya, dan insinyur profesional utama. Setelah mendapatkan gelar tersebut mereka diharapkan dapat bersaing dengan tenaga asing. Menurut Bisri, di Indonesia gelar Insinyur sangat sedikit. Dari sekitar 20-an ribu anggota PII, hanya 4300 orang saja yang bergelar Insinyur. “Saya menginginkan agar program Insinyur ini harus dipercepat. Karena kalau di sarjana teknik, kalau mau jadi insinyur harus menunggu dua tahun. Maka tidak heran jika pesertanya sedikit,” ujar Bisri. Selain itu Bisri juga menginginkan untuk diadakannya desain besar untuk jaminan lapangan pekerjaan untuk para sarjana. Menurutnya, harus ada data statistik yang jelas terkait keterbutuhan sarjana dan insinyur di pemerintah dan perusahaan. Dengan maksud agar perguruan tinggi bisa menyiapkan. “Banyak sekali lulusan yang tidak tepat sasaran karena ketidakjelasan peluang. Kita ngoyo-ngoyo menyiapkan mahasiswa agar bisa membangun negeri di bidangnya, anak teknik ketika lulus malah jualan pakaian, ini kan sia-sia,” tandasnya. (usa/can)

Galang Donasi untuk Palu-Donggala, Prodi Matematika UMM Gelar Seminar Motivasi

BANTUAN kemanusiaan terus mengalir untuk korban gempa tsunami Palu-Donggala. Salah satunya yang dilakukan Program Studi Matematika semester 7 kelas C menggalang donasi melalui seminar motivasi, Sabtu (17/11), di Auditorium BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir sebagai pembicara, Huda Hermansyah; penulis buku “Bukan Senja Terakhir” dan Janice Omar Javier S.Psi; Manager of Psychology Service NOL Enterprise Indonesia. Seminar ini bertema “How to know love, life, and lie by handwriting analysis”. Seminar diikuti 240 peserta. Huda Hermansyah tidak hanya memberikan banyak motivasi mengenai pengalamannya menulis buku. Mahasiswa program studi (Prodi) Psikologi UMM ini juga membagikan pengalamannya sebagai relawan kesehatan di daerah bencana. “Saya banyak belajar dari ketegaran korban bencana. Mereka lebih kuat dan tabah, sedangkan kita di sini mudah saja mengeluh. Dari banyak cerita yang saya dapat, insya Allah kedepannya saya aka menulis mengenai pengalaman saya menjadi relawan,” kata Huda sekaligus menutup materinya. Selain itu, Omar yang juga alumni prodi Psikologi UMM memberikan pemahaman bagaimana cara menganalisis karakter seseorang melalui tulisan tangan. Materi ini disampaikan secara menarik dengan interaksi langsung oleh peserta. Peserta diminta untuk menulis dan menganalisa kepribadian bersama-sama dengan pemateri. Menurut Ketua pelaksana, Ion Firdaus, dari seminar motivasi ini diharapkan bisa mengumpulkan donasi untuk korban gempa tsunami Palu-Donggala. Donasi ini diserahkan kepada perwakilan mahasiswa Palu yang ada di UMM. “Ini merupakan seminar amal sebagai bentuk kepedulian kami kepada teman-teman yang terkena musibah gempa tsunami di Palu-Donggala. Kami berharap dengan adanya seminar ini bisa sedikit mengelap peluh yang dirasakan masyarakat Palu-Donggala,” kata Ion. (bel/can)

Juarai Peksiminas Kemenristekdikti, Mahasiswa Hukum UMM: Dangdut Ada Dalam Jiwa Ini

MAHASISWA Fakultas Hukum UMM, Mochammad Abdul Wahid baru-baru ini diumumkan sebagai juara pertama pada tangkai lomba nyanyi tunggal dangdut dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) ke- 14 Oktober lalu. Acara yang digelar di Yogyakarta ini menjadi titik kebahagiaan pria yang akrab disapa Wahid tersebut. Bagaimana tidak, pada tahun sebelumnya, acara yang digelar Kemenristekdikti ini, ia harus puas pada posisi juara 2 nasional. Pria yang bercita-cita menjadi penegak hukum tersebut mengaku menseriusi karir menyanyinya sejak kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA). Wahid seringkali tampil di kontes Dangdut regional hingga nasional. Beberapa kali pula tampil di acara televisi, seperti I Can See Your Voice, Kilau Dangdut Mania Dadakan (DMD) dan Tarung Dangdut di JTV. Dalam Peksiminas 2018, Wahid bertemu dengan berbagai perwakilan perguruan tinggi negeri dan swasta yang mewakili provinsinya masing-masing. Wahid saat diwawancara Kamis (15/11), mengaku penampilan dari masing-masing regional teramat baik. Setiap sesinya, kata Wahid, jadi momen sangat mendebarkan bagi dirinya. Wahid menyiapkan diri dengan matang jauh hari sebelum kompetisi yang ia ikuti. Baginya, latihan bukan hanya ketika akan mengikuti kompetisi. Latihan adalah sebuah kegiatan rutin untuk terus mengasah kemampuan. Pria asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku memfavoritkan aliran musik Pop, Rock, Metal dan Sholawat. Ketika ditanya mengapa dangdut tak masuk dalam daftar aliran musik yang disenangi, ia menjawab, “Dangdut tidak perlu ditanyakan, ia sudah ada dalam jiwa ini,” disusul gelak tawa. Wahid berbagi tips agar selalu prima dalam setiap performance. “Kuasai materi sebaik mungkin. Bila bernyanyi maka maksimalkan latihan lagu tersebut dan ulik sedalam mungkin,” ujar mahasiswa yang kini serius membesarkan Unit Kegiatan Mahasiswa Musabaqah Tilawatil Quran UMM. (Humas UMM)

Ilyas Masudin Jadi Dosen Pertama UMM yang Tersertifikasi ASEAN Engineer

ILYAS MASUDIN, ST., MLogSCM., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Industri (Prodi TI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi dosen pertama yang mendapat status sebagai ASEAN Engineer. Lisensi itu diterima Ilyas saat menghadiri konferensi ke-36 The ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 36) di Singapura,12-14 November 2018 lalu. CAFEO 36 mengukuhkan penghargaan kepada sejumlah insinyur Indonesia yang berasal dari dunia industri maupun institusi pendidikan. Lisensi itu diraih Ilyas setelah melewati beberapa seleksi oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Salah satu seleksi,  yakni keterlibatan calon delegasi pada beberapa proyek dalam kurun waktu dua tahun. “Pada ajang ini saya diseleksi beberapa hal dan yang paling utama adalah saya harus memiliki proyek yang sudah dikerjakan,” paparnya. Sementara itu, Ilyas yang juga alumnus TI UMM ini telah menjadi bagian dari tiga proyek besar yang berhubungan dengan konsentrasinya di TI. Yakni Optimasi Sistem Industri. Pria yang menyelesaikan pendidikan doktoral pada bidang Logistics di Royal Melbourne Institute of Technology University (RMIT University) ini, mengajukan tiga proposal penelitiannya. Yakni proyek Manajemen Mikrohidro, proyek pengabadian masyarakat, dan proyek Halal Logistik yang bekerjasama dengan salah satu institusi pendidikan di Australia. Sertifikasi ini dapat menjadi jalan dibukanya jalur kerjasama UMM, khususnya untuk Prodi Pendidikan Profesi Insinyur dengan berbagai pihak di ASEAN. Pengakuan ini sekaligus memperkuat legitimasi UMM untuk menjalankan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI). UMM sebagai salah satu perguruan tinggi yang memperoleh kepercayaan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 200 / KPT / I / 2017 Tentang Pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur. “PSPPI bertujuan mendukung program Pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja profesional keinsinyuran sesuai dengan amanat Undang – indang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran,” terang Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Wakil Rektor I UMM yang membidangi Akademik. UMM menyelenggarakan program studi PSPPI, sambung Syamsul, dalam rangka menghasilkan SDM yang profesional di bidang keinsinyuran dan berguna untuk mendukung lima pilar ekonomi ASEAN dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN / ASEAN Economi Community (MEA / AEC). (nis/can)

BEM FISIP Gelar Seminar untuk Tingkatkan Potensi Diri Mahasiswa

SETIAP perempuan merupakan pribadi unik yang dilahirkan dengan potensinya masing-masing. Tidak dipungkiri, semakin banyak perempuan yang merambah dan menancapkan eksistensinya di berbagai bidang kehidupan. Namun tak jarang pula perempuan yang masih bingung dengan hidupnya dan belum menyadari potensi dalam dirinya. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) bekerja sama dengan Wardah Beauty menggelar seminar dan inspiring talkshow “Wardah Bright Days”, Selasa (13/11). Acara ini  bertema “How To Be Bright and Be Ready With Your Own Personality”. Kegiatan yang dilaksanakan di Mini Theater Dome UMM ini, menghadirkan M. Salis Yuniardi,S. Psi,M. Psi,PhD., Dekan Fakultas Psikologi UMM; Lulu Elhasbu, Spokesperson Wardah Beauty; dan Chiki Fawzi, Spokesperson Wardah Beauty sebagai pembicara. Salis menjelaskan bagaimana pentingnya memaksimalkan potensi diri sebagai generasi muda. Ada tiga cara untuk memaksimalkan potensi diri. Yaitu kenali potensi, menerima diri sendiri dan dapat menghargai diri. “Untuk menjadi seseorang yang bersinar, kenali dirimu, kenali passionmu, enjoy terhadap yang kita lakukan dan jadilah dirimu seutuhnya. Maka tidak hanya bersinar yang akan kalian dapat, tapi juga sehat,” tutup Salis dalam matrinya. Selain itu, Lulu dan Chiki memberikan banyak motivasi bagaimana membangun mindset positif, mengenal diri sendiri dan membagikan ceritanya bagaimana perjalanan mereka mengembangkan potensinya. Untuk mencapai titik kesuksesannya, diceritakan Chiki, tidaklah mudah. Banyak sekali perjalanan yang mereka lalui. Mulai dari susahnya mengikuti kemauan lingkungan, hingga dapat menjalankan apa yang diinginkan diri sendiri. “Profesional bukan berarti kita mengikuti apa yang diinginkan orang lain, akan tetapibagaimana cara kita berkomitmen dengan etika yang baik,” ujar Lulu Elhasbu disela talkshow. Setelah sesi seminar dan talkshow, peserta dapat mengikuti pengecekkan kulit dan kegiatan beauty class tentang cara make-up natural, dipandu pihak Wardah. Tidak hanya itu, dalam acara ini juga diadakan audisi presenter TV Mu yang dapat diikuti oleh seluruh peserta dan mahasiswa UMM. (bel/can)

Redaktur Senior Jawa Pos Beri Tips Menulis Esai Populer ke Dosen dan Karyawan UMM

BANYAK akademisi terbiasa menulis ilmiah, kesulitan saat menungkannya ke dalam bentuk populer. Meski telah banyak menulis jurnal dan karya ilmiah lain, tentu format menulis esai populer berbeda. Berangkat dari hal itu, Doan Widhiandono, redaktur senior opini-budaya harian Jawa Pos memberi tips kepada puluhan dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (13/11). Disampaikan Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si bahwa civitas akademika, terkhusus dosen, kerap kesulitan meramu gagasan dalam bentuk tulisan esai populer semisal opini dan artikel. Demikian, diundangnya redaktur senior Jawa Pos ini dalam rangka mendorong sekaligus memberi arahan bagaimana agar naskah tulisan bisa lolos meja redaksi. Dengan mengutip salah satu tokoh panutannya, Malcolm F. Mallete, Doan memberi penekanan bahwa yang dibutuhkan untuk menciptakan tulisan yang bagus yakni detail. “Dalam konteks penulisan esai popular atau opini, detail fakta, ide, alur, kalimat dan lainnya menjadi penting dan wajib diperhatikan. Bagaimana kita menyusunnya secara cermat,” ungkap Doan yang telah menjadi redaktur Jawa Pos selama 16 tahun ini. Doan mengelompokkan setidaknya 3 kendala yang dihadapi penulis, mengapa tulisannya ditolak redaksi. Diantaranya kendala materi, kendala teknis, dan kendala administratif. “Tulisan sebaik apapun, jika tidak mengindahkan kelengkapan-kelengkapan ini, bakal ditolak media yang kita sasar. Menulis di media berarti menyelaraskan tulisan dengan media tersebut,” terangnya. Kendala pertama yakni soal materi. Yang perlu diperhatikan para penulis esai popular, setidaknya jenis tulisan ini memuat sejumlah nilai, di antaranya: untuk mendidik (to educate), untuk menginformasikan (to inform), untuk menghibur (to entertain) dan, untuk mempengaruhi (to influence). Hal ini sejalan dengan fungsi media yang terjelaskan dalam Undang-Undang Pers No. 40/1999: Pasal 3 (1) Pers Nasional. Kendala lainnya yang kerap ditemui ketika menulis esai populer, sambung Doan, yakni kendala teknis. Kendala teknis di antaranya penulisan judul, lead atau teras berita, serta mengindahkan prinsip kebahasaan. “Dalam menulis judul, harus mencerminkan isi tulisan, tidak banyak kata, mengacu pada nilai, serta menjual. Karena kerap para akademisi sering terjebak pada penulisan judul gaya jurnal,” ungkapnya. Terkahir, disebut Doan, kendala yang sering dihadapi penulis dan sering tidak diperhatikan yakni kendala administratif. “Terkhusus di Jawa Pos, beberapa kelengkapan yang mesti dipenuh di antaranya nama, curriculum vitae singkat, kartu identitas, NPWP, juga nomor rekening. Tulisan sebagus apapun, kalau kelengkapan ini tidak dipenuhi, sampai kapanpun tulisannya tidak akan dimuat,” tandasnya. (*can)

UMM Dukung Malang sebagai Kota Wisata Halal

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (Disbudpar) menggelar bazar halal di pelataran lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Kampus III UMM. Dilaksanakan sejak Senin (12/11) pagi, mahasiswa dan masyarakat umum antusias memilih bermacam produk yang dipamerkan. Acara dibuka ditandai dengan pemotongan pita oleh Walikota Malang, Sutiaji. Segala produk halal, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga makanan ikut meramaikan bazar yang digelar sehari ini. Dalam kesempatan ini, Wali Kota Malang, Sutiaji didampingi Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd membuka secara resmi Bazar Halal 2018. “Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Perguruan Tinggi siap mendukung program Malang sebagai Kota Wisata Halal,” kata Fauzan dalam sambutannya. Selain diikuti UMKM yang bersertifikasi halal, bazar ini juga diikuti dosen dan mahasiswa yang memiliki produk dengan brand bersertifikasi halal. Berkali-kali Walikota Malang Sutiaji, memuji beragam produk halal yang diproduksi mahasiswa dan dosen UMM. Sutiaji sangat mengapresiasi langkah UMM yang telah sejalan dengan visi Kota Wisata Halal. Terlebih, atas diperolehnya  UMKM Binaan Halal Center UMM sebagai penampil terbaik dalam pameran Hari Santri Nasional. Gelaran ini juga dilakukan kerjasama antara Disbudpar dan Pendampingan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), Sertifikasi Halal dan Bimbingan Teknologi Kehalalan. “Kerjasama ini tak lain karena inisiasi UMM mendirikan Halal Center,” terang Sutiaji. Selain itu, Sutiaji juga menyebut, keseriusan Pemerintah menggarap proyek ini juga diwujudkan dengan disiapkannya konsep Pasar Halal yang rencananya bakal dibangun di Klojen dalam waktu dekat. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., ketua Halal Center UMM menjelaskan bahwa inisiasi Halal Center UMM telah dimulai sejak 2008. Pada 2016 kemudian berganti nama menjadi Halal Center UMM. Halal Center UMM membantu UMKM lewat mengajukan pengabdian pada Kemenristekdikti. Sejak 2015, Halal Center UMM mengurusi persiapan banyak bidang seperti kosmetik dan jenis produk lainnya untuk memperoleh sertifikasi halal. Selain berupa bazar halal, diselenggarakan pula bimbingan teknis (bimtek) bagi para pelaku usaha yang hendak mengajukan sertifikasi halal. Digelar di Auditorium UMM, Bimtek memberi bimbingan lanjutan bagi para pengusaha yang untuk mendapat sertifikasi halal. Hadir sebagai pembicara, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dan Tim Percepatan Wisata Halal Kementrian Pariwisata RI. (Humas UMM)