PSIB UMM Petakan Implementasi Islam Berkemajuan, Mahasiswa dan Dosen Ikut Dilibatkan

Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan implementasi Risalah Islam Berkemajuan melibatkan mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas, hingga tenaga kependidikan sebagai upaya memperkuat pemahaman dan penerapan nilai Islam Berkemajuan secara lebih terukur dan berkelanjutan. (Abdus Salam/Klikmu.co) KLIKMU.CO — Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Implementasi Risalah Islam Berkemajuan Berbasis Kampus: Studi Kasus Universitas Muhammadiyah Malang.” Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, dosen, pimpinan fakultas, hingga tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya memetakan pemahaman serta menyusun model implementasi dan peta jalan (roadmap) Risalah Islam Berkemajuan (RIB) di lingkungan kampus. Kepala PSIB UMM Prof Gonda Yumitro PhD menegaskan bahwa penguatan Islam Berkemajuan tidak cukup hanya bersifat normatif, tetapi harus dipahami dan diimplementasikan oleh seluruh sivitas akademika. “FGD ini menjadi langkah strategis untuk memetakan sejauh mana pemahaman sivitas akademika terhadap Risalah Islam Berkemajuan. Temuan yang muncul akan menjadi dasar penyusunan model implementasi yang lebih sistematis, berkelanjutan, dan relevan dengan dinamika kampus,” ujarnya. Dia menambahkan, sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia, UMM memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan nilai Islam Berkemajuan tidak hanya dalam konsep, tetapi juga dalam budaya akademik, tata kelola, dan perilaku keseharian. Peneliti PSIB UMM Diki Wahyudi SSos MIP menilai pengukuran pemahaman internal terhadap RIB penting sebagai dasar penguatan dakwah Muhammadiyah di masyarakat. “Pemahaman yang kuat terhadap Risalah Islam Berkemajuan bukan hanya penting di kampus, tetapi juga menjadi modal dalam menjalankan pengabdian dan dakwah yang mencerahkan,” katanya. Dalam diskusi, sejumlah peserta menyoroti tantangan implementasi RIB di lingkungan kampus. Dr Fathoni menyebut banyak nilai Islam Berkemajuan sebenarnya telah dipraktikkan, namun belum disadari sebagai bagian dari RIB. Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi kerentanan jika tidak ditopang pemahaman konseptual yang kuat, sehingga diperlukan panduan perilaku Islam Berkemajuan dengan indikator yang jelas bagi seluruh civitas akademika. “Perlu sosialisasi yang lebih masif dengan bahasa sederhana. Media seperti buku saku, e-book, hingga podcast bisa menjadi sarana efektif,” ujarnya. Sementara itu, Hairi MAg menekankan pentingnya panduan implementasi sebagai rujukan bersama agar nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diamalkan secara konsisten. Masukan lain datang dari Munawir yang menilai program Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di UMM sudah berjalan baik, namun masih menghadapi tantangan pada aspek kesadaran dan partisipasi. Ia menyoroti masih adanya mahasiswa yang menganggap kegiatan AIK sebatas formalitas, serta sebagian tenaga kependidikan yang belum memahami struktur Muhammadiyah secara menyeluruh. “Karena itu, akses informasi perlu diperluas dan sosialisasi harus menjangkau semua level. Keteladanan juga sangat penting karena implementasi nilai tidak akan berhasil tanpa contoh nyata,” tegasnya. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM M Sri Wahyudi PhD menekankan pentingnya penguatan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan sosial mahasiswa agar selaras dengan dinamika pergaulan kampus. Sementara itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, Sofian, menilai sebagian program penguatan nilai keislaman masih dianggap formalitas. Ia mendorong pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda melalui media sosial serta kolaborasi organisasi kemahasiswaan dengan ortom Muhammadiyah. “Penguatan nilai Islam Berkemajuan harus dikemas lebih dekat dengan mahasiswa. Penguatan akhlak juga menjadi tanggung jawab bersama dosen, karyawan, dan mahasiswa,” ujarnya. Melalui FGD ini, PSIB UMM menargetkan lahirnya model implementasi Risalah Islam Berkemajuan yang tidak hanya normatif, tetapi juga operasional dan terukur. Hasil diskusi ini akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan strategi penguatan budaya kampus berbasis nilai Islam Berkemajuan. Langkah ini diharapkan semakin memperkokoh posisi UMM sebagai kampus unggul yang mampu mengintegrasikan kualitas akademik, inovasi, serta pengamalan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan perguruan tinggi. (Abdus Salam/AS)
Akademisi UMM Ungkap Alasan di Balik Aksi Pendukung MBG di Malang

Assoc. Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo, Akademisi sekaligus pakar kebijakan publik dan social governance Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). (Foto: Prof Rachmad for Ketik.com) Politik & Pemerintahan KETIK, MALANG – Munculnya aksi kelompok pro dan kontra terhadap sejumlah kebijakan pemerintah Presiden Prabowo Subianto di Kota Malang dalam sepekan terakhir mendapat perhatian dari akademisi. Tercatat terdapat beberapa aksi yang digelar oleh kelompok yang menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah pada 15 dan 17 Juni 2026. Sementara itu, aksi berbeda muncul dari kelompok pendukung program pemerintah, khususnya kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berlangsung di kawasan Balai Kota Malang, Sabtu, 20 Juni 2026. Dalam aksi dukungan tersebut, massa membawa sejumlah atribut, termasuk banner bertuliskan “Usir Mahasewa yang mengaku Mahasiswa dari Bumi Arema #GerakandukungPrabowo”. Aksi tersebut muncul sebagai respons atas adanya gerakan mahasiswa yang sebelumnya menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Akademisi sekaligus pakar kebijakan publik dan social governance Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Assoc. Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo, menilai fenomena tersebut merupakan hal yang lumrah dalam negara demokrasi, meskipun ia melihat sebagian gerakan yang muncul tidak lagi sepenuhnya didorong oleh idealisme, melainkan kepentingan pragmatis. Menurut Prof. Rachmad, keberadaan kelompok yang mendukung maupun menolak kebijakan pemerintah merupakan hal lumrah dalam negara demokrasi. Kedua kelompok, tambahnya, sama-sama memiliki alasan dan kepentingan yang melatarbelakangi sikap politik mereka. “Dalam sistem demokrasi, keberadaan kelompok pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah merupakan sesuatu yang biasa. Ada yang mendukung kebijakan Presiden Prabowo, ada pula yang mengkritisinya. Itu bagian dari dinamika demokrasi,” ujarnya, Senin, 22 Juni 2026. Namun demikian, ia menilai tidak semua gerakan yang muncul semata-mata didorong oleh idealisme untuk memperbaiki kondisi bangsa. Dalam praktiknya, terdapat kelompok-kelompok yang bergerak berdasarkan kepentingan ekonomi dan keberlangsungan hidup sehari-hari. Baca Juga: Khawatir Diadu Domba Spanduk Provokatif, Ketua BEM UMM Minta Massa Pro-Kontra MBG Jernih Ambil Tindakan “Kalau kita lihat lebih jauh, sebagian kelompok bergerak bukan semata-mata karena idealisme agar bangsa ini lebih maju atau terhindar dari kemerosotan. Ada juga yang berpikir secara pragmatis, yaitu bagaimana kebutuhan hidup mereka tetap terjamin,” papar Ketua Program Studi Magister Sosiologi ini. Ia menjelaskan bahwa sebagian masyarakat yang terlibat dalam program-program pemerintah memiliki ketergantungan ekonomi terhadap keberlangsungan kebijakan tersebut. Karena itu, muncul kekhawatiran apabila program yang sedang berjalan mengalami gangguan atau bahkan dihentikan akibat tekanan politik maupun aksi penolakan. “Mereka berpikir dalam jangka pendek karena yang menjadi perhatian utama adalah persoalan kehidupan sehari-hari. Urusan bangsa dan negara dianggap sebagai ranah para pengambil kebijakan, sementara mereka fokus pada bagaimana kebutuhan ekonomi keluarga tetap terpenuhi,” jelasnya. Prof. Rachmad mencontohkan program Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya merupakan desain kebijakan negara untuk menciptakan jejaring ekonomi baru di masyarakat. “Negara telah membangun berbagai program seperti MBG, Sekolah Rakyat, maupun Koperasi Desa Merah Putih. Ketika ada masyarakat yang memperoleh pekerjaan atau penghasilan dari program-program tersebut, tentu mereka memiliki kepentingan agar kebijakan itu tetap berjalan,” ujarnya. Menurutnya, kelompok masyarakat yang telah menjadi bagian dari ekosistem program pemerintah, termasuk pelaku usaha dan investor yang telah mengeluarkan modal besar, cenderung akan memberikan dukungan terhadap keberlangsungan program tersebut. “Misalnya ada pihak yang sudah berinvestasi miliaran rupiah untuk menyiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG. Mereka tentu khawatir jika muncul gerakan yang berpotensi memengaruhi kelanjutan program tersebut. Jika kebijakan dihentikan, ada konsekuensi ekonomi dan kerugian material yang harus mereka tanggung,” pungkasnya. (*)
Suntik Keberanian Hadapi Masa Depan, Sekolah Binaan UMM ini Buktikan Kualitas Lewat Peningkatan Siswa hingga 200 Persen

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hanya memberikan pendampingan akademik, tetapi juga hadir langsung memeriahkan pelepasan siswa sekolah binaannya. Dalam acara Wisuda SMA Muhammadiyah 3 (SMADIGA) Bungah Gresik pada Sabtu (20/7), Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd. yang merupakan salah satu tim pendamping sekolah tersebut dalam orasi ilmiahnya menegaskan mengenai pentingnya karakter yang responsif dalam melihat peluang. Tak sekadar membagikan ilmu, UMM juga turut menghadirkan Mobil Pintar guna meningkatkan literasi, sekaligus membagikan puluhan doorprize bagi para wisudawan. Dalam orasinya, Pria yang juga merupakan Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern UMM itu menjelaskan bahwa menjadi pribadi yang sukses di masa depan tidak melulu bergantung pada kecerdasan akademik semata. Seseorang harus memiliki keberanian untuk tampil di depan dan sigap mengambil kesempatan agar mampu menciptakan keberuntungannya sendiri. “Kalau kalian kurang pintar, maka kejarlah keberuntungan. Keberuntungan itu datang kepada mereka yang berani mengambil peluang dan kesempatan lebih dulu,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bekal utama untuk menghadapi dunia kerja maupun perguruan tinggi adalah kedisiplinan, rasa percaya diri, hingga murah senyum. Menurutnya, kemampuan akademik yang biasa saja akan bernilai tinggi jika dibarengi dengan etos kerja yang kuat dan bakti kepada orang tua. “Adab lebih tinggi daripada intelektual. Saya yakin lulusan SMADIGA hari ini adalah orang-orang yang beruntung dan memiliki adab yang baik untuk menjadi pemimpin di masa depan,” tambahnya. Untuk menyemarakkan momen kelulusan tersebut, kehadiran Mobil Pintar UMM langsung disambut antusias oleh para siswa dan tamu undangan. Fasilitas perpustakaan keliling ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam membumikan budaya literasi masyarakat. Suasana semakin hangat ketika perwakilan UMM membagikan berbagai doorprize menarik yang memantik tawa dan kegembiraan wisudawan sebelum mereka melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya. Di sisi lain, Kepala SMA Muhammadiyah 3 Gresik, Mufrikha, S.Pd., M.M., memaparkan bahwa sekolahnya mengalami kemajuan pesat sejak resmi menjadi binaan UMM pada awal 2024. Pendampingan tersebut terbukti komprehensif, mencakup penataan mutu akademik, perbaikan tata kelola, hingga perumusan strategi pemasaran sekolah yang berimbas pada kenaikan jumlah siswa baru hingga 200 persen. “Semua sistem dibantu oleh UMM. Kami jadi tahu apa saja yang harus dikerjakan. Bahkan sampai marketing pun diajari oleh UMM,” ungkapnya. Momen wisuda ini menjadi tonggak penting bagi kelanjutan kolaborasi antara UMM dan SMADIGA. Harapannya, lulusan yang dilepas tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang mumpuni, tetapi juga keberanian, wawasan literasi yang luas, serta adab yang mulia. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus mendampingi sekolah-sekolah binaan agar mampu menjadi institusi pendidikan yang unggul, adaptif, dan senantiasa dipercaya oleh masyarakat luas.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Nyalakan Spirit Malik Fadjar Masa Kini, Mahasiswa UMM Bikin Inovasi Literasi Lewat Board Game

Upaya merawat wawasan dan semangat literasi Guru Bangsa, almarhum Prof. A. Malik Fadjar, terus direalisasikan melalui langkah inovatif yang relevan dengan generasi kiwari. Salah satu terobosan nyata tersebut adalah pengembangan sembilan inovasi purwarupa board game edukasi karya mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025. Karya kolaboratif bersama Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute ini resmi diuji coba di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6). Direktur RBC Institute, Dr. Faizin, M.Pd., menegaskan bahwa media edukasi ini dirancang secara intensif selama tiga bulan sebagai langkah strategis memajukan pendidikan nasional, sekaligus mewariskan nilai-nilai intelektual ketokohan Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. “Kami sangat berharap game-game inovatif ini nantinya tidak hanya beredar eksklusif di lingkungan PPI AMF, tetapi dapat didistribusikan secara nasional untuk mendongkrak kapasitas, kualitas pendidikan, dan mutu sumber daya manusia kita,” tegasnya. Manajer Riset RBC Institute AMF, Ahmad Sulaiman, M.Ed., M.Ag., menjelaskan bahwa proyek hilirisasi ini merupakan hasil integrasi delapan pertemuan kelas yang dirancang khusus sebagai instrumen pengukur ketangguhan psikologis (psychological capital) melalui skema pretest dan posttest. Dan kedepan akan di daftarkan dalam Hak Kekayaan Intelektual. “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan ke dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” paparnya. Merespons lahirnya purwarupa inovatif tersebut, CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, sangat mengapresiasi kinerja mahasiswa dan mengarahkan agar evaluasi uji coba hari itu difokuskan murni pada fungsionalitas permainan oleh santri SMP dan SMA. “Bagi teman-teman pembuat game, presentasikan karya kalian dan terbukalah menerima masukan. Upayakan penyempurnaan ke depan lebih difokuskan pada penguatan alur mekanika permainan atau gameplay, tanpa perlu merombak desain visual yang sudah sangat baik ini,” pesannya. Lahirnya sembilan board game ini membuktikan bahwa luaran akademik perguruan tinggi mampu bertransformasi menjadi instrumen dakwah pendidikan yang interaktif. Lebih dari sekadar medium bermain yang menyenangkan, inovasi ini menjadi tongkat estafet untuk menjaga nyala api literasi Abdul Malik Fadjar, guna memastikan generasi penerus bangsa tumbuh dengan kecerdasan kognitif dan ketangguhan mental yang mumpuni dalam merespons tantangan zaman.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ciptakan Panel Peredam Suara dari Limbah, Santri PPI AMF Raih Juara di Kancah Internasional

Prestasi membanggakan di kancah internasional kembali ditorehkan oleh santri tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tim unggulan dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang yang digawangi oleh Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir sukses meraih medali perak lewat inovasi panel peredam suara bernama “Ecouiet” pada Kompetisi Bali International Science Fair (BISF) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) yang diikuti oleh berbagai delegasi pelajar dari Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, Kazakhstan, hingga Uzbekistan. Inovasi Ecouiet ini memanfaatkan limbah organik berupa ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas bekas untuk menekan polusi suara di lingkungan belajar. Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita, menjelaskan bahwa panel peredam ini memiliki ketebalan 2,5 sentimeter dengan tekstur akhir yang padat menyerupai semen, di mana strukturnya juga ditambahkan material khusus agar fungsinya optimal. “Juga ada campuran arang hitam pada proses pembuatannya agar struktur panel lebih padat dan menyerap suara dengan baik,” jelas siswa kelas 8 yang akrab disapa Abi tersebut pada Senin (15/6). Guna membuktikan efektivitas kinerjanya, tim melakukan serangkaian uji coba menggunakan kotak kardus yang bagian dalamnya telah direkatkan panel Ecouiet. Mereka menyetel musik bervolume tinggi dari dalam kotak dan mengukur tingkat kebisingan yang berhasil diredam menggunakan alat ukur suara digital berbasis aplikasi telepon pintar. “Dan alat pendeteksi suara yang kita pakai saat uji coba itu decibel meter. Aplikasinya sangat praktis karena bisa diunduh langsung di Playstore,” imbuhnya. Dalam proses perakitannya, tim pelajar ini tidak lepas dari sejumlah kendala teknis selama empat pekan masa pengerjaan. Anggota tim lainnya, Muhammad Mahir dan Faizul Umam, memaparkan bahwa waktu yang relatif singkat cukup menyulitkan mereka dari tahap ideasi hingga perakitan, terlebih saat mereka harus menyesuaikan komposisi bahan agar adonan merekat sempurna. “Waktu yang mepet membuat kami harus bekerja ekstra cepat, apalagi mencari tekstur panel yang pas dan sesuai keinginan itu terbukti cukup sulit,” ungkap Mahir. Pencapaian luar biasa di tingkat internasional ini diharapkan mampu menjadi teladan dan pemacu semangat berkarya. Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda, merasa sangat bersyukur dan bangga atas dedikasi serta capaian inovatif yang berhasil ditunjukkan oleh anak didiknya. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi yang membawa kebermanfaatan luas bagi masyarakat,” pungkas Nabila. Keberhasilan para santri PPI AMF ini menjadi bukti nyata bahwa usia belia bukanlah halangan untuk melahirkan produk ramah lingkungan yang berdaya guna tinggi. Ke depannya, inovasi Ecouiet diharapkan mendapat dukungan riset lanjutan agar dapat disempurnakan dan diproduksi secara massal, sehingga masalah kebisingan di ruang-ruang kelas maupun fasilitas umum dapat teratasi secara berkelanjutan dengan material hijau.(*)
Sering Ganti Pekerjaan Bukan Berarti Tak Loyal, Akademisi Manajemen UMM Beberkan Fakta Karier Gen Z

Fenomena kutu loncat atau kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan kerap dilekatkan pada Generasi Z (Gen Z), sehingga memunculkan stigma dari banyak perusahaan bahwa mereka kurang loyal dan mudah menyerah. Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kenny Roz S.Kom., M.M., menegaskan bahwa tingginya tingkat pengunduran diri pada Gen Z bukan semata-mata masalah krisis loyalitas, melainkan pergeseran mendasar terkait cara mereka memandang makna dan tujuan dari sebuah pekerjaan. Jika generasi sebelumnya menjadikan pekerjaan sebagai sumber stabilitas ekonomi jangka panjang, Gen Z justru melihat dunia kerja sebagai wadah untuk terus belajar, berkembang, dan mengaktualisasikan diri. Kenny saapn akrabnya menjelaskan bahwa tingginya perputaran karyawan muda ini sangat dipengaruhi oleh ekosistem digital yang serba cepat, di mana ketidakcocokan antara janji perusahaan dan kondisi asli di lapangan menjadi pemicu utama kepergian mereka. “Faktor utama yang membuat mereka lebih rentan resign adalah ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas kerja. Karena mereka terbiasa memperoleh informasi secara instan, ketika perusahaan tidak memberikan ruang berkembang atau visi misinya tidak sejalan, mereka tidak ragu mencari peluang lain yang dirasa lebih pas,” ujarnya 18 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih dari itu, kompensasi finansial atau gaji besar kini bukan lagi senjata pamungkas untuk mengikat loyalitas Gen Z. Talenta muda masa kini memiliki standar evaluasi yang lebih kompleks saat memilih tempat berkarier, yang mencakup fleksibilitas jam kerja, keseimbangan hidup (work-life balance), kesehatan mental yang terjaga, serta hubungan atasan-bawahan yang suportif. “Kini mereka tidak hanya bertanya soal besaran gaji, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memberikan kesempatan berkembang, memiliki makna, dan membuat mereka merasa dihargai sebagai individu seutuhnya. Bahkan, banyak yang bersedia menerima gaji lebih rendah jika lingkungan kerjanya sehat dan tidak toksik,” jelasnya. Menyikapi dinamika angkatan kerja baru ini, perusahaan dituntut untuk segera merombak strategi retensi karyawan agar tidak terus-menerus kehilangan talenta potensial. Langkah strategis yang krusial adalah menjembatani kesenjangan komunikasi antara pemimpin senior yang masih mendewakan hierarki dan senioritas, dengan Gen Z yang lebih menyukai transparansi, budaya kerja inklusif, dan kolaborasi aktif. “Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukanlah yang sekadar menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawannya secara proaktif. Perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang menghargai manusia sebagai aset utama melalui survei kepuasan maupun kanal dialog yang aman,” tegasnya. Pada akhirnya, fenomena Gen Z sebagai kutu loncat ini semestinya tidak lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan sinyal dan kritik konstruktif bagi dunia industri agar mau beradaptasi. Sinergi antara perusahaan yang responsif terhadap budaya kerja modern dan generasi muda yang terus mengasah kompetensinya akan bermuara pada terbentuknya ekosistem profesional yang jauh lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan di masa depan.(*)
Dosen Hukum UMM Tegaskan Relokasi PKL Jalan Veteran Tak Boleh Bunuh Ekonomi Rakyat Kecil

Rencana penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan pendidikan Jalan Veteran, Kota Malang, mendapat sorotan tajam dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pemerintah Kota Malang dituntut untuk tidak melakukan penggusuran sepihak dengan dalih estetika kota, melainkan wajib menggunakan pendekatan hukum progresif yang mengedepankan solusi relokasi manusiawi tanpa mematikan urat nadi mata pencaharian para pedagang kecil. Keberadaan deretan lapak PKL di sepanjang Jalan Veteran selama ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi kerakyatan yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar. Menanggapi polemik penertiban ini, Dosen Hukum UMM, Dr. Surya Anoraga, S.H., M.Hum., menilai penerapan aturan tata ruang kota tidak boleh dilakukan secara kaku atau mengabaikan hak-hak ekonomi warga. Menurutnya, pendekatan hukum progresif mengamanatkan agar pemerintah daerah tetap menjamin kelangsungan hidup serta memberikan perlindungan nyata bagi pelaku usaha kecil. “Prinsip utamanya, usaha kecil di kawasan manapun harus mendapatkan perlindungan komprehensif dari negara. Keadilan bagi usaha kecil juga berarti memberikan kemudahan dan kepastian akses ruang bagi mereka untuk tetap bisa berdagang serta bertahan hidup di tengah dinamika pembangunan kota,” jelasnya 17 Juni lalu pada Humas UMM. Upaya penataan tata ruang kota yang bersih dan tertib tidak semestinya direduksi maknanya menjadi sekadar ajang pemberantasan eksistensi PKL dari ruang publik. Surya memaparkan bahwa apabila letak lapak pedagang terbukti mengganggu fungsi utama jalan raya atau kelancaran arus lalu lintas, pemerintah daerah berkewajiban penuh untuk menyediakan opsi tempat pengganti yang menjanjikan secara hitungan ekonomi. “Jika penertiban dan pemindahan mutlak harus dilakukan, maka jalan keluarnya harus dilakukan relokasi. Lokasi baru tersebut wajib merupakan titik strategis yang sama sekali tidak jauh dari jangkauan konsumen lama mereka, sehingga roda perekonomian harian pedagang tidak sampai terhenti,” paparnya. Lebih dari sekadar memindahkan lokasi fisik dagangan, Surya juga menyoroti krusialnya proses penyusunan kebijakan ruang publik yang wajib dilandasi asas partisipatif dan musyawarah. Melibatkan tokoh masyarakat dan perwakilan pedagang sangat penting guna mencegah tindakan represif yang berpotensi memicu eskalasi konflik sosial di lapangan. “Tentu sangat perlu dilakukan musyawarah mufakat yang intensif, transparan, dan setara untuk menyelesaikan benturan kepentingan ini demi mencari solusi bersama. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dan keterbukaan ruang dialog sangat penting di sini, bukan sekadar pemberitahuan atau sosialisasi satu arah dari pihak penguasa,” jabarnya. Sebagai pesan penutup sekaligus refleksi bersama, Surya kembali memberikan peringatan keras bahwa memaksakan relokasi ke tempat yang terlampau jauh dari pusat aktivitas warga sama halnya dengan membunuh usaha para pedagang secara perlahan. Rencana penataan kawasan Jalan Veteran sudah sepatutnya dijadikan momentum bagi Pemerintah Kota Malang untuk melahirkan terobosan kebijakan tata kota yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial. Penertiban tata ruang yang ideal sejatinya bukan perihal memilih antara estetika kota atau kesejahteraan perut rakyat, melainkan pembuktian bagaimana pemerintah mampu merangkul keduanya agar bisa berjalan harmonis, beriringan, dan saling menghidupi. (rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Faqih Ahmad Wafir Rahman
Belasan Mahasiswa CoE BIPA UMM, Dipercaya Mengajar di Vietnam dan Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara agresif terus memperluas kiprah internasionalnya melalui program unggulan Center of Excellence (CoE). Kali ini, Kampus Putih menerbangkan 15 mahasiswa dari kelas CoE Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Belasan duta bahasa tersebut resmi ditugaskan menjadi tutor bahasa Indonesia selama dua bulan penuh di dua perguruan tinggi terkemuka ASEAN, yakni Open University di Vietnam dan Srinakharinwirot University di Thailand. Langkah taktis ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar global. Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa dan Sastra Indonesia Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., menjelaskan bahwa pemberangkatan belasan mahasiswa ini tidak dilakukan serentak, melainkan dibagi ke dalam dua gelombang menuju negara tujuan masing-masing. “Ada 15 orang yang berangkat. Sepuluh orang menuju Open University di Vietnam yang berangkat lebih dulu pada 18 Juni. Sementara lima orang lainnya akan berangkat ke Srinakharinwirot University di Thailand pada bulan Agustus,” ujarnya. Untuk menjamin kelancaran dan kenyamanan mahasiswa selama menjalankan tugas kebahasaan di mancanegara, pihak universitas memberikan dukungan material secara penuh. Isnaini menuturkan bahwa kampus menyalurkan subsidi yang secara spesifik dialokasikan untuk menjamin kebutuhan tempat tinggal dan beberapa persiapan teknis para tutor muda tersebut. “Dari kampus memfasilitasi untuk tempat tinggal mereka di sana, sama beberapa item persiapan kegiatannya itu. Nominalnya tidak dipukul rata, karena disesuaikan dengan studi kasus kebutuhan masing-masing di negara tujuan,” tambahnya. Terakhir, ia berharap agar program ini mampu membekali mahasiswa dengan keterampilan mengajar praktis, sekaligus meresmikan peran mereka sebagai ujung tombak promosi budaya dan bahasa Indonesia di kancah internasional. “Harapannya mereka bisa menjadi diplomat bahasa dan tutor bahasa Indonesia untuk penutur asing. Karena memang keunggulan utama dari Prodi Bahasa Indonesia UMM adalah mencetak diplomat bidang BIPA,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas keberanian, antusiasme, dan dedikasi para mahasiswa untuk mengambil peran strategis di level ASEAN. Ia secara khusus berpesan agar para mahasiswa senantiasa menjaga marwah almamater dan menampilkan karakter luhur bangsa Indonesia yang santun selama berinteraksi di lingkungan global. Ia meyakini, pengalaman mengajar di kampus mancanegara ini tidak hanya mengasah kompetensi pedagogik, tetapi juga mematangkan kedewasaan kultural mahasiswa, sekaligus semakin mengokohkan reputasi UMM sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional.
Tampil di ICCD Uzbekistan, UMM Pamerkan Inovasi untuk Berantas Stunting

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan solusi konkret untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting melalui optimalisasi potensi lokal masyarakat. Gagasan ini dipresentasikan langsung oleh Kepala Direktorat Sains dan Teknologi UMM, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., dalam ajang International Conference of Community Development (ICCD) ke-12 yang diselenggarakan oleh AMCA di Uzbekistan pada 18–22 Mei 2026. Ia memaparkan gagasan tersebut berdasarkan implementasi Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) UMM di Desa Bonleu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Desa Benpasi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Pendekatan program ini tidak sekadar mengejar kuantitas hasil panen, melainkan berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat guna memutus rantai kemiskinan dan stunting secara komprehensif. “Di kedua desa itu kita mendampingi bagaimana mereka memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan hasil produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga daya beli mereka meningkat dan pada akhirnya bisa menekan kemiskinan ekstrem serta stunting,” jelasnya. Pelaksanaan program di lapangan bertumpu pada penciptaan kemandirian para peternak dan petani setempat. Tim UMM mengajarkan warga memproduksi pakan silase untuk menjamin ketersediaan pakan sapi potong di musim kemarau, serta memproduksi pupuk organik dan pestisida nabati guna mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Bersama Universitas Timor (Unimor), UMM juga memberikan pendampingan pemasaran yang terbukti sukses menaikkan nilai jual produk sayuran lokal. “Ketika mereka menggunakan pupuk organik maupun pestisida nabati yang dibuat sendiri, produktivitas sayurnya meningkat dan kualitasnya lebih bagus. Itu membuat mereka bisa menjual hasil panennya dengan harga yang lebih baik,” tambahnya. Inovasi Biofarm yang dibawa UMM ini sejatinya telah menuai kesuksesan di berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Meski demikian, penerapannya di NTT menghadapi tantangan alam yang lebih berat serta kebiasaan budidaya petani yang masih bergantung pada musim. Oleh karena itu, pendampingan ditekankan pada transformasi pola pikir warga dalam memaksimalkan dan mengelola sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. “Harapan kami selama tiga tahun ke depan adalah terjadi perubahan yang signifikan, baik pada peningkatan pendapatan masyarakat maupun penurunan angka stunting. Karena stunting dan ekonomi itu saling berkaitan, maka penyelesaiannya juga harus dilakukan secara terpadu,” tegasnya. Ke depan, upaya pembangunan desa dan pengentasan masalah sosial di pelosok negeri menuntut sinergi yang lebih luas. Keterlibatan lintas disiplin, mulai dari pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur. Membuktikan bahwa kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat adalah kunci utama untuk mewujudkan pembangunan pedesaan yang berdampak dan berkelanjutan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Pertama di PTS Jatim, UMM Resmi Buka Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Berbasis Sport Science

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi meluncurkan Program Studi (Prodi) baru, yakni Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Gebrakan ini mencatatkan UMM sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama di Jawa Timur yang memiliki prodi tersebut. Peluncuran prodi ini merupakan langkah strategis Kampus Putih dalam merespons cepat dinamika dan kebutuhan industri olahraga modern. Fokus utamanya adalah melahirkan lulusan unggul yang siap menjadi pelatih profesional, guru olahraga, hingga wirausahawan yang berlandaskan pada keilmuan sport science. Pembentukan prodi PKO ini bukanlah langkah reaktif, melainkan telah melalui proses kajian dan pematangan yang komprehensif sejak tahun 2015. Kampus putih menyadari tingginya antusiasme masyarakat serta kebutuhan ekosistem olahraga nasional yang kini semakin bergantung pada pendekatan ilmiah dan data analitik. Ketua Program Studi PKO UMM, Frendy Aru Fantiro, M.Pd., menegaskan bahwa prodi ini dirancang untuk memberikan nilai tambah yang spesifik. Mahasiswa tidak hanya dibekali keahlian fisik, tetapi juga penguasaan sport science, teknologi analitik olahraga, serta penguatan karakter nilai-nilai keislaman. “Ekosistem pendidikan dan nama besar UMM menjadi poin plus. Sport science dan teknik kepelatihan olahraga merupakan fondasi utama kurikulum kami, sehingga mahasiswa mampu menganalisis proses ilmiah di balik performa seorang atlet juara,” jelas Frendy. Untuk mendukung iklim akademis dan praktik, UMM telah memiliki infrastruktur olahraga yang sangat mumpuni. Area stadion kampus secara aktif mewadahi kegiatan olahraga masyarakat, dan dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan multievent bergengsi berskala internasional, ASEAN University Games pada tahun 2025. Sebagai komitmen pengembangan, prodi PKO juga akan segera membangun laboratorium sport science khusus guna memenuhi standar kebutuhan industri olahraga kekinian. Nantinya, lulusan PKO tidak sekadar mengantongi ijazah strata satu (S1). Mereka dipastikan akan lulus dengan lisensi kepelatihan profesional pada masa akhir studi sesuai cabang olahraga fokusnya. Hal ini membuka prospek karier yang sangat luas, mulai dari guru pendidikan jasmani, dosen, analis performa atlet, pelatih fisik, personal trainer, hingga instruktur kebugaran. Peluang penyerapan tenaga kerja semakin terjamin karena UMM aktif merajut kolaborasi strategis dengan berbagai pihak. Prodi PKO menggandeng Sekolah Olahraga (SMANOR) Sidoarjo, KONI, hingga klub-klub profesional di cabang sepak bola, basket, pencak silat, dan bola voli. Inovasi lainnya adalah kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan prodi Teknik Informatika dan Elektro UMM untuk mengembangkan perangkat lunak penunjang performa olahraga. Selain itu, UMM turut menyiapkan jalur pendaftaran khusus bagi atlet agar mereka tetap bisa menempuh pendidikan tinggi dengan jadwal kuliah yang fleksibel tanpa mengorbankan karier olahraganya. Bagi calon mahasiswa yang berminat, pendaftaran telah dibuka melalui beberapa jalur. Jalur Reguler Periode 1 berlangsung pada 21 April–30 Juni 2026, disusul Periode 2 pada 1 Juli–31 Agustus 2026. Tersedia juga Jalur Prestasi yang dibuka mulai 21 April hingga 25 Juni 2026. Melihat besarnya peluang tersebut, Frendy mengajak para pelajar untuk tidak ragu memilih PKO UMM sebagai tempat mengasah keahlian. “Tidak perlu ragu, kuliahnya sangat fleksibel dan lebih banyak praktik. Peluang kerja di PKO sudah terpampang nyata, ditambah banyak beasiswa yang menunggu para calon mahasiswa berprestasi,” pesan Frendy. Hadirnya Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga di UMM ini diharapkan menjadi pionir dalam mendongkrak kualitas sumber daya manusia keolahragaan, baik di wilayah Jawa Timur maupun di tingkat nasional. Melalui fasilitas lengkap dan kurikulum terstruktur, Kampus Putih menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi juara yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas secara ilmiah dan tangguh.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman