Ribuan Sivitas Akademika UMM Ikuti Fun Tahes Rector Cup 2026, Kampanyekan Gaya Hidup Sehat

Antusiasme para peserta dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026. Foto: Dok UMM MAKLUMAT — Keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu sangat penting bagi semua orang, tak terkecuali pada mahasiswa. Pesan itu disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazaruddin Malik dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026, Ahad (7/6/2025). “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” ujarnya dalam agenda yang diikuti oleh lebih dari 6.000 sivitas akademika UMM itu. Mengambil garis start di Helipad Kampus III UMM, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini digelar untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Berbagai hiburan turut meramaikan acara, mulai dari senam sehat hingga penampilan musik dari Band SemalamSuntuk. Prof Nazaruddin menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025,” ujarnya. Kemeriahan giat ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. Baca Juga Djazman English Scholarship Luluskan 26 Kader Terbaik IMM Komitmen Kampus Putih Wadahi Potensi Mahasiswa Ketua Panitia Rector Cup UMM 2026, Ir Ary Bakhtiar menegaskan bahwa UMM yang juga dikenal sebagai Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. Ia menjelaskan bahwa ajang Rector Cup ini dirancang secara khusus sebagai langkah strategis universitas dalam melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup,” jelas pria yang juga adalah Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM tersebut. “Kami ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi serta dibina secara berkelanjutan agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” imbuhnya. Pada kegiatan ini, deretan doorprize turut menambah antusiasme ribuan peserta, mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik yang siap dibawa pulang. Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. Baca Juga AgriFair UMM Tantang Siswa SMA Rancang Bisnis Ramah Lingkungan, Ini Para Juaranya! “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” ujarnya. *) Penulis: M Habib Muzaki
Fun Run 6.000 Peserta Semarakkan Pembukaan Rektor Cup 2026 UMM dan Penutupan Student Day

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., MALANG | PROKOTA.COM – Suasana semarak menyelimuti lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat ribuan peserta mengikuti kegiatan Fun Run yang digelar di kawasan kampus. Agenda tersebut menjadi pembuka pelaksanaan Rektor Cup 2026 sekaligus menandai berakhirnya rangkaian Student Day yang telah berlangsung selama satu semester. Sekitar 6.000 peserta ambil bagian dalam kegiatan lari santai yang menempuh rute mengelilingi area kampus. Peserta didominasi mahasiswa angkatan 2025, sementara sisanya terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, alumni, serta sejumlah elemen sivitas akademika lainnya yang turut memeriahkan kegiatan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Fun Run tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga bersama, melainkan juga bagian dari upaya kampus dalam membangun karakter mahasiswa. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan pola hidup sehat sekaligus memperkuat kemampuan sosial dan kolaboratif generasi muda. Ia menjelaskan, Student Day merupakan program pembinaan khas UMM yang diberikan kepada mahasiswa baru sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Selama satu semester, mahasiswa mendapatkan berbagai pengalaman dan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan kapasitas sosial, kepemimpinan, serta keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat. “Melalui Student Day, mahasiswa dipersiapkan untuk menghadapi realitas kehidupan sosial yang lebih luas. Mereka belajar berinteraksi, bekerja sama, dan memahami berbagai dinamika yang ada di tengah masyarakat,” ujar Prof. Nazaruddin. Minggu, (07/06/2026) pagi. Tingginya partisipasi peserta menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan yang tumbuh di lingkungan kampus. Selain menjadi sarana menjaga kebugaran, Fun Run juga menghadirkan ruang interaksi yang mempererat hubungan antar warga kampus dari berbagai latar belakang. Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka stan di sekitar lokasi kegiatan. Menariknya, sebagian besar pelaku UMKM tersebut merupakan mahasiswa yang tengah mengembangkan usaha mandiri, didukung oleh partisipasi masyarakat sekitar kampus. Kehadiran UMKM dinilai memberikan nilai tambah dalam penyelenggaraan kegiatan. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif, keberadaan mereka juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan produk sekaligus mengasah kemampuan berwirausaha secara langsung. Nazaruddin menuturkan, terdapat hal berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Untuk pertama kalinya, penutupan Student Day dan pembukaan Rektor Cup 2026 digelar dalam satu momentum besar yang melibatkan ribuan peserta secara bersamaan. Menurutnya, kolaborasi dua agenda tersebut menjadi simbol komitmen kampus dalam membangun budaya akademik yang sehat, aktif, dan produktif. Tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, kegiatan tersebut juga memperkuat tradisi pembinaan mahasiswa yang telah lama menjadi bagian dari identitas UMM. “Student Day dan Rektor Cup menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sosial serta memperluas jejaring di lingkungan kampus. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga ketika mereka terjun dan berkontribusi di tengah masyarakat,” katanya. Melalui penyelenggaraan Fun Run yang dipadukan dengan pembukaan Rektor Cup, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang sehat, adaptif, berjiwa sosial, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan. Rektor UMM menambahkan, tradisi penyelenggaraan Student Day maupun Rektor Cup telah berlangsung sejak masa kepemimpinan mantan Rektor UMM, Muhadjir Effendy. “Karena itu, kedua program tersebut telah menjadi bagian dari budaya akademik kampus yang terus dijaga dan dikembangkan hingga saat ini,” pungkasnya.
PSM Gita Surya UMM Tampil Memukau pada BTV Semesta Berpesta Malang

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau pada gelaran BTV Semesta Berpesta Malang, Sabtu 6 Juni 2026. (Beritasatu.com/Achmad Ali) Malang, Beritasatu.com – Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau saat membuka gelaran BTV Semesta Berpesta di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu (6/6/2026). Penampilan kelompok vokal mahasiswa tersebut sukses menyita perhatian penonton melalui aransemen musik yang khas dan penuh energi. Pada kesempatan itu, PSM Gita Surya membawakan tiga lagu yang mendapat sambutan meriah dari ribuan penonton yang hadir. Penampilan diawali dengan lagu daerah Banyuwangi berjudul Luk-luk Lumbu, dilanjutkan dengan lagu medley yang memadukan sejumlah lagu daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai penutup sekaligus pembuka resmi acara, PSM Gita Surya membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Hari ini kita bawain tiga lagu. Pertama, Luk-luk Lumbu dari daerah Banyuwangi. Terus yang kedua kami bawain lagu medley campuran dari lagu daerah yang ada di Indonesia. Ketiga, lagu kebangsaan Indonesia Raya, untuk membuka secara resmi acara ini,” jelas Bunga Nur Sahara, Ketua Umum PSM Gita Surya UMM, Sabtu (6/6/2026). Bunga mengaku bangga dan senang karena kembali dipercaya tampil dalam gelaran BTV Semesta Berpesta. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga, terutama bagi anggota baru yang baru pertama kali tampil di acara berskala besar. “Sangat senang karena diundang untuk kedua kalinya pada acara BTV Semesta Berpesta, karena sebelum-sebelumnya kami belum pernah ikut acara sebesar ini. Tentunya ini menjadi pengalaman baru bagi kami, terutama singers kami banyak yang baru,” kata Bunga. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Beritasatu dan BTV yang telah memberikan kesempatan kepada PSM Gita Surya untuk tampil dalam acara tersebut. “Kami ucapkan untuk Beritasatu ataupun BTV, semoga ke depannya sukses selalu,” ucapnya. PSM Gita Surya UMM dikenal sebagai salah satu paduan suara mahasiswa berprestasi di Indonesia. Kelompok ini telah menorehkan berbagai penghargaan serta memenangi lomba tingkat nasional.
Seminar Nasional UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan Inklusif

Seminar Nasional UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan Inklusif pwmu.co –Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5) tersebut menghadirkan akademisi, praktisi, serta pemerhati pendidikan untuk membahas penguatan pendidikan inklusif di tengah transformasi digital. Seminar ini digelar sebagai respons terhadap tantangan pemerataan akses teknologi dalam dunia pendidikan. Transformasi digital dinilai membawa peluang sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan inklusif karena belum seluruh peserta didik memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., yang diwakili oleh Ir. Moch. Abduh, M.S., Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis guna memperkuat sistem pendidikan inklusif yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan kita mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” tegas Abduh dalam sesi pemaparannya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara dan bebas dari diskriminasi. “Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkap Salis mewakili Rektor UMM. Berbagai isu terkait pendidikan inklusif juga dibahas oleh para narasumber. Assoc. Prof. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. dan Prof. Dr. Khozin, M.Si., mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur. Adapun Dr. Suharsiwi, S.Pd., M.Pd., menyoroti peran keluarga dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusi. Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari peran tenaga pendidik di sekolah. “Penerapan pendidikan inklusif nyatanya tidak bertumpu pada fasilitas sekolah semata, melainkan sangat membutuhkan keterlibatan aktif dan sinergi berkelanjutan dari orang tua di rumah,” urainya. Sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat implementasi pendidikan inklusif, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Direktorat Sains dan Teknologi UMM. Selain itu, Magister Psikologi UMM turut menjalin kerja sama dengan Penerbit Erlangga Cabang Malang. Kepala Cabang Erlangga Malang, Dodi Wahyudi, menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor penerbitan dalam mendukung penguatan literasi akademik. “Kami berkomitmen penuh membersamai perguruan tinggi guna menyediakan bahan literasi yang ramah dan berkualitas bagi seluruh elemen warga sekolah,” tuturnya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang membahas berbagai tantangan implementasi pendidikan inklusif di lapangan. Melalui kegiatan ini, UMM bersama berbagai pemangku kepentingan menunjukkan komitmen untuk mendorong terciptanya pendidikan yang lebih inklusif. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah, adaptif, dan berkemajuan di era digital. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Milad ke-109 Aisyiyah di UMM: Dari Sekolah Lansia Tangguh hingga Posbakum untuk Tekan Angka Perceraian Malang

MALANG POST – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang, merayakan Milad ke-109 dengan menggelar komitmen dakwah kemanusiaan di Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (6/6/2026) siang, yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Malang Hj. Lathifah Shohib serta ratusan kader untuk meneguhkan gerakan praksis sosial di akar rumput. Usianya sudah 109 tahun. Lebih dari satu abad. Tapi gerakan perempuan yang satu ini tidak pernah loyo. Justru makin bertenaga. Makin membumi. Itulah Aisyiyah. Sabtu (6/6/2026) hari ini, Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memutih. Ratusan ibu-ibu kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang berkumpul di sana. Mereka merayakan Milad Aisyiyah ke-109. Temanya tidak muluk-muluk, tapi berat di timbangan aksi: meneguhkan peran dalam dakwah kemanusiaan. Caranya? Memperbanyak praksis sosial yang menyentuh langsung urat nadi kehidupan masyarakat kecil. Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, hadir di tengah-tengah mereka. Atas nama Pemkab Malang, Nyai Lathifah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi. Beliau memuji dedikasi Aisyiyah yang selama ini selalu setia berkolaborasi membangun daerah. Nyai Lathifah bahkan menyempatkan diri keliling stan pameran. Menengok produk-produk hasil pemberdayaan ekonomi perempuan binaan Aisyiyah. Ada kain batik yang anggun, ada juga aneka makanan olahan kreatif. Bukan cuma produk konsumsi yang dipamerkan. Ibu-ibu pengurus PDA Kabupaten Malang juga dengan bangga mengenalkan stan Pos Bantuan Hukum. Disingkat Posbakum. Sebuah layanan hukum gratis yang belum lama ini diinisiasi serentak oleh Aisyiyah di berbagai daerah. Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd. (Foto: Istimewa) Ketua PP Aisyiyah, Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd., yang hadir siang itu memberikan wejangan penting. Bagi Siti, tugas utama kader Aisyiyah adalah memuliakan manusia. Mengangkat derajat mereka yang kurang beruntung. Karomah insaniah. “Sejak awal dulu, banyak yang tidak berpendidikan. Ini yang perlu diperhatikan. Dari sisi ekonomi yang kekurangan, ya perlu diberdayakan,” tutur Siti Aisyiyah. Prinsip fikih yang diyakini Aisyiyah sangat jelas: yang kaya harus punya perhatian, yang dhuafa harus diberdayakan agar lepas dari keterpurukan. Gayung bersambut. Di level lokal, Ketua PDA Kabupaten Malang, Dr. Mursyidah, M.Kes., menerjemahkan konsep besar itu ke dalam program-program yang sangat taktis. Mantan pejabat Pemkab Malang ini paham betul peta masalah perempuan di wilayahnya. Lewat pengajian Aisyiyah, pemberdayaan peradaban, pendidikan, dan ekonomi digenjot. Ada juga program TMAM—Tarbiyatul Mar’ah Aisyiyah. Sasaran edukasinya lengkap. Mulai dari anak-anak SMP dan SMA yang diajari tentang kesehatan reproduksi agar terhindar dari kekerasan. Lalu untuk kalangan ibu-ibu, mereka diajari cara mempersiapkan pendidikan anak. Bahkan, kaum lansia pun dibuatkan kurikulum khusus: bagaimana menjadi mertua atau kakek-nenek yang bijak di dalam keluarga. Urusan lansia ini bukan main-main. Jumlah perempuan lansia yang rentan di Kabupaten Malang makin banyak. Aisyiyah tanggap. Mereka mendirikan Sekolah Lansia Tangguh. Karena wilayah Kabupaten Malang ini sangat luas, sekolah ini dibagi per zona. Wilayah Malang utara sudah rutin berjalan. Kini giliran wilayah Malang barat dan Malang selatan yang mulai digarap serius. Lalu, bagaimana dengan Posbakum tadi? Mursyidah membuka data pahit. Masalah hukum yang dihadapi perempuan di Kabupaten Malang masih menumpuk. Kasus kekerasan terhadap wanita masih ada. Pernikahan dini masih intai anak-anak. Dan yang paling krusial: angka perceraian di Kabupaten Malang adalah salah satu yang tertinggi. Nomor satu. “Mata rantai itulah yang ingin kita putus lewat Posbakum,” tegas Mursyidah. Puncak milad ke-109 ini berlangsung sangat meriah namun tetap khidmat. Terlihat hadir jajaran pengurus PW Aisyiyah Jawa Timur, Ketua PDM Kabupaten Malang Dr. Nurul Humaidi, M.Ag., hingga Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Acara juga diselingi penampilan kreatif siswa-siswi sekolah Muhammadiyah yang berbakat. Rangkaian hari lahir ini akhirnya ditutup dengan sejuk melalui siraman rohani dari dai asli Kasembon, Ustadz Rifky Jakfar Thalib. Aisyiyah telah membuktikan, dakwah itu tidak melulu soal retorika di atas mimbar. Dakwah yang sejati adalah ketika tangan-tangan terampil perempuan bergerak menyelamatkan keluarga, memberi ruang bagi lansia, dan membela hak hukum kaum wanita di pelosok desa. (Ra Indrata)
Cegah Burnout Mahasiswa, Kuliah Subuh UMM Jadi Sarana Recharge Energi Spiritual

Cegah Burnout Mahasiswa, Kuliah Subuh UMM Jadi Sarana Recharge Energi Spiritual pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Kuliah Sabtu Subuh sebagai upaya membantu mahasiswa menghadapi burnout atau kelelahan mental yang semakin rentan dialami Generasi Z di tengah budaya hustle culture dan tingginya aktivitas akademik. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) tersebut berlangsung pada Sabtu (6/6) dan menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II. Program ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk melakukan recharge energi spiritual melalui aktivitas ibadah dan refleksi keislaman. Dalam kegiatan tersebut, UMM menghadirkan Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., yang menyampaikan materi bertajuk “Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa”. Sejak pukul 03.00 WIB, ratusan mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah. Setelah itu, peserta diajak merefleksikan makna ibadah di tengah dinamika kehidupan akademik yang semakin padat. Dalam pemaparannya, Syamsul mengibaratkan kondisi mahasiswa yang kerap mengalami stres, kelelahan, hingga overthinking seperti baterai gawai yang kehabisan daya. “Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” tegas Syamsul mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement. Menurutnya, kehidupan modern yang serba digital membuat manusia bergerak cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa memiliki ruang yang cukup untuk melakukan refleksi diri. Lebih lanjut, Syamsul menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh modal material, tetapi juga ditopang oleh modal spiritual dan sosial. Dalam perspektif Tarjih Muhammadiyah, ibadah menjadi sarana bertaqarrub kepada Allah sekaligus media relaksasi mental di tengah berbagai tekanan kehidupan. “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Syamsul. Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan mindfulness atau kesadaran penuh saat beribadah. Menurutnya, ibadah tidak boleh hanya menjadi rutinitas fisik semata tanpa keterlibatan hati dan pikiran. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” paparnya. Syamsul mengingatkan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak semata diukur dari tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) maupun posisi strategis dalam organisasi. Lebih dari itu, kesuksesan juga ditentukan oleh kemampuan menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai bagian dari ibadah. Ia menambahkan bahwa setiap aktivitas akademik perlu dijalani dengan landasan ikhlas sebagai niat karena Allah, ihsan dengan menghadirkan kebaikan, serta itqan yang mencerminkan kesungguhan dalam menjalankan amanah. Melalui penguatan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual tersebut, mahasiswa UMM diharapkan mampu berkembang menjadi pribadi yang tangguh, berilmu, serta berakhlak mulia dalam menghadapi tantangan era modern yang semakin kompleks. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Inovasi Visual Flora Fauna bagi Tunarungu Antarkan Mahasiswa UMM Juara Nasional

MALANG, SURYAKABAR.com – Akses pendidikan inklusif yang merata di era digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) khusus anak tunarungu. Gagasan bertajuk “Inovasi Media Pembelajaran IPA Berbasis AR dan VR untuk Pengenalan Flora dan Fauna” ini sukses mengantarkan mereka meraih Gold Medal sekaligus Juara 3 Nasional kategori Pendidikan dalam ajang Mandalika Essay Competition 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tim yang terdiri dari Reynald Dimas Saputra (Prodi Hukum) dan Devi Putri Susilo (Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia) ini sukses menyingkirkan ratusan pesaingnya. Baca Juga: Kalahkan Jutaan Peneliti, Profesor Teknik Industri UMM Tembus Top 5 Persen Ilmuwan Berpengaruh Dunia Dalam kompetisi yang diselenggarakan Universitas Mataram bersama Lembaga Nusantara Muda pada 16–18 Mei 2026 lalu, inovasi mereka masuk 100 besar dari 400 peserta se-Indonesia, hingga akhirnya menyabet gelar karya terbaik di subtema pendidikan dan menjuarai babak final. Inovasi ini lahir dari kepedulian mereka terhadap kesenjangan fasilitas belajar bagi anak berkebutuhan khusus yang dinilai masih minim mengakomodasi potensi visual. Reynald menjelaskan, anak tunarungu memiliki ketajaman visual yang sangat baik, sehingga teknologi AR dan VR adalah jawaban yang tepat untuk menggantikan metode konvensional. “Kami melihat masih banyak media pembelajaran yang belum cukup mengakomodasi kebutuhan anak tunarungu. Padahal mereka memiliki kemampuan visual yang sangat baik. Dari situ, kami mencoba menghadirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi AR dan VR sebagai media pembelajaran,” ungkap Reynald. Baca Juga: Bangun Sistem dan Peradaban, UMI Siapkan Kampus Digital Berbasis AI Gagasan tersebut dirancang secara spesifik untuk membedah mata pelajaran IPA dalam wujud tiga dimensi agar mudah dipahami. Guna memastikan ide ini tidak berhenti di atas kertas, ia menjelaskan, timnya telah menggandeng mahasiswa Teknik Informatika UMM guna merancang prototipe awal aplikasi agar siap diimplementasikan. “Harapan kami tentu inovasi ini bisa diwujudkan menjadi aplikasi nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak tunarungu di Indonesia,” ujarnya. Keberhasilan ini tak lepas dari peran Kepala Bagian Penalaran Kemahasiswaan UMM, Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc. Ia menilai capaian gemilang anak didiknya adalah buah dari proses riset, diskusi panjang, serta konsistensi mereka sejak awal penyusunan esai hingga tahap final. Baca Juga: Unesa Bagikan 35.000 Porsi Sarapan Gratis untuk Mahasiswa selama UAS “Prestasi ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Mereka telah mempersiapkan semuanya sejak awal, mulai dari pengembangan ide, diskusi, hingga penyempurnaan gagasan. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan selama mengikuti kompetisi ini,“ tegasnya. Pada akhirnya, raihan prestasi di tingkat nasional ini menjadi bukti nyata, kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemajuan teknologi mampu melahirkan solusi aplikatif. Semoga inovasi dari mahasiswa UMM ini dapat menjadi pionir dalam mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif yang lebih setara, serta memacu mahasiswa lain untuk terus berkarya meretas batas-batas keterbatasan. (abs)
Papua dan Ujian Reputasi Global Indonesia

Najamuddin Khairur Rijal, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur. (Dok. Pri) Oleh: Najamuddin Khairur Rijal* *) Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Suara Papua – Di sebuah kampung di Papua Selatan, hutan bukan sekadar deretan pohon. Tapi ia adalah dapur, apotek, sekolah, pasar, tempat bermain, ruang ingatan, sekaligus arsip hidup keluarga. Dari hutan, warga mengambil sagu, kayu, obat, cerita, lauk, dan martabat. Karena itu, ketika sebuah peta proyek datang dengan garis-garis tegas, yang berubah bukan hanya tata guna lahan melainkan juga adalah cara hidup manusia. Dari titik seperti inilah sebenarnya reputasi global Indonesia sedang diuji. Papua sesungguhnya bukan hanya ujian bagi kebijakan dalam negeri Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Papua juga menjadi ujian bagi reputasi global Indonesia, apakah Indonesia mampu tampil sebagai negara demokratis, pemimpin Global-South, pembela keadilan internasional, sekaligus negara yang sanggup mendengar suara warganya sendiri di wilayah paling timur negeri ini. Indonesia tentu memiliki dasar kuat untuk menegaskan Papua sebagai bagian sah dari Republik Indonesia. Dalam diplomasi internasional, prinsip kedaulatan dan integritas teritorial adalah hal yang substansial. Tidak ada negara yang akan dengan mudah membiarkan isu domestiknya dibawa ke forum global. Apalagi, isu Papua sering kali beririsan dengan politik separatisme, solidaritas Melanesia, advokasi HAM, serta kepentingan aktor internasional yang tidak selalu netral. Namun, dalam politik global abad ke-21, kedaulatan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama legitimasi. Karena itu, setiap kali isu Papua muncul dalam forum internasional, pertanyaan yang perlu diajukan bukan semata-mata mengapa dunia ikut bicara atas isu Papua, melainkan juga apa yang membuat isu Papua terus mendapat perhatian dunia. ads Harus diakui, perhatian internasional terhadap Papua datang dari banyak pintu. Bisa melalui isu hak asasi manusia, melalui hak masyarakat adat, melalui isu lingkungan dan perubahan iklim, melalui solidaritas kawasan Pasifik, dan pintu-pintu lainnya. Semua itu membuat Papua menjadi lebih dari sekadar isu lokal di dalam negeri, tapi menjadi simpul dari berbagai norma global yang hari ini makin menentukan reputasi suatu negara. Pada November 2025, misalnya, para ahli HAM PBB mendesak Indonesia mengakui masyarakat adat sebagai mitra pembangunan, perdamaian, dan keamanan. Mereka mengingatkan bahwa Indonesia memang mendukung Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, tetapi pengakuan formal terhadap kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai masyarakat adat masih menjadi persoalan. Suarapapua.com adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik. Sorotan itu menjadi semakin sensitif ketika dikaitkan dengan proyek pangan dan energi di Papua Selatan. Pembukaan hutan dalam skala besar untuk produksi bioetanol, beras, dan komoditas pangan lain di Papua membawa kekhawatiran terhadap masa depan masyarakat adat dan keanekaragaman hayati hutan Papua. Dalam konteks ini, reputasi Indonesia diuji bukan hanya dalam isu HAM, tetapi juga dalam isu lingkungan. Baca Juga: Pesta Babi: Argumentasi Hukum Sebagai Dasar Pembuktian Berdasarkan Fakta Lapangan Indonesia selama ini ingin tampil sebagai negara penting dalam agenda iklim, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan. Namun, ketika hutan Papua dibicarakan sebagai kawasan yang terancam oleh ekspansi proyek pangan dan energi, dunia melihat adanya ketegangan antara narasi “hijau” Indonesia di panggung global dan praktik pembangunan di lapangan. Di sinilah pertaruhan reputasi itu, karena adanya jarak antara klaim dan kenyataan. Selama ini, Indonesia ingin dikenal sebagai demokrasi besar, negara plural, pembela multilateralisme, dan suara penting dari Global-South. Tetapi, reputasi semacam itu menuntut konsistensi dan tidak mungkin Indonesia berbicara lantang tentang keadilan global, sementara isu keadilan internal terus menjadi pertanyaan. Ujian itu menjadi lebih besar karena pada 2026 ini, Indonesia memegang posisi penting sebagai Presiden Dewan HAM PBB. Posisi ini merupakan capaian diplomatik penting bagi Indonesia, tetapi sekaligus membawa konsekuensi reputasional. Indonesia akan semakin dilihat sebagai negara yang bukan hanya memimpin pembicaraan HAM global, tetapi juga dituntut menunjukkan kredibilitas HAM di dalam negeri. Dalam konteks itu, Papua adalah cermin. Ketika Indonesia bicara tentang Palestina, dunia Islam, perdamaian, demokrasi, dan keadilan global, posisi moral Indonesia cukup kuat. Tetapi ketika isu Papua muncul, apakah komitmen semacam itu juga berlaku untuk warga sendiri yang merasa belum cukup didengar? Tentu bukan bermaksud membandingkan Papua dengan Palestina, karena keduanya berbeda secara hukum, sejarah, dan politik. Namun, dalam politik reputasi, masyarakat global akan membaca konsistensi moral suatu negara dari caranya menyikapi penderitaan, ketidakadilan, dan suara kelompok rentan, baik di luar maupun di dalam negeri. Dimensi Pasifik juga tidak bisa diabaikan. Bagi banyak masyarakat Pasifik, Papua juga dibaca melalui bahasa identitas Melanesia, kedekatan rasial-kultural, dan solidaritas kawasan. Dalam kacamata konstruktivisme Hubungan Internasional, identitas dan norma sering kali sama pentingnya dengan kepentingan material. Artinya, Indonesia tidak cukup hanya menjelaskan status hukum Papua. Indonesia juga perlu membangun kepercayaan emosional, kultural, dan politik dengan masyarakat Pasifik. Karena itu, pendekatan Indonesia terhadap Papua perlu menunjukkan bahwa berbagai persoalan di Papua dikelola dengan keterbukaan, penghormatan terhadap masyarakat adat, perlindungan lingkungan, dan ruang dialog yang sehat. Papua sama sekali bukan beban diplomasi Indonesia. Justru Papua bisa menjadi ruang pembuktian bahwa Indonesia mampu membangun model kedaulatan yang tegas, tetapi mendengar; kuat, tetapi tidak alergi kritik; nasionalis, tetapi menghormati martabat lokal. Reputasi global Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering Indonesia berbicara di panggung dunia, tapi juga seberapa sungguh-sungguh Indonesia mendengar suara dari dalam rumahnya sendiri. Dan dalam soal itu, Papua adalah ujian yang tidak bisa terus dijawab hanya dengan pernyataan diplomatik, melainkan harus dijawab dengan komitmen moral dan keberanian untuk mendengar suara masyarakat Papua.
Fun Tahes Rector Cup 2026 Jadi Tradisi Unik UMM, Ribuan Sivitas Ramaikan Helipad Kampus

Foto: Pembukaan Rektor Cup oleh Rektor UMM MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Ribuan sivitas akademika memadati Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/6/2026), dalam gelaran Fun Tahes Rector Cup 2026. Tak sekadar ajang olahraga, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya kembali tradisi tahunan UMM melalui Rector Cup sekaligus penutupan Student Day yang telah berlangsung selama satu semester penuh. Sejak pagi, suasana Helipad UMM tampak semarak. Mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat umum hadir mengenakan kaos putih, mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan senam sehat bersama dipandu instruktur. Pengibaran bendera start oleh Rektor UMM Antusiasme peserta semakin terasa ketika Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., secara simbolis membuka kegiatan melalui pengibaran bendera start. Cuaca cerah turut mendukung kemeriahan acara yang dipenuhi semangat kebersamaan tersebut. Dalam wawancara usai kegiatan, Nazaruddin menyebut momentum ini tidak hanya menandai pembukaan Rector Cup 2026, melainkan juga menjadi akhir dari tradisi akademik lain di UMM, yakni Student Day. Nazaruddin Malik menjelaskan bahwa Student Day telah dijalankan selama satu semester sejak mahasiswa baru memasuki bangku perkuliahan. Program tersebut dirancang untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman sosial dan kemasyarakatan agar lebih mudah beradaptasi di tengah masyarakat. “Kegiatan hari ini menandai dimulainya Rector Cup 2026 sebagai salah satu tradisi di UMM untuk memberi ruang bagi minat dan bakat mahasiswa, baik di bidang seni, olahraga, maupun kreativitas lainnya,” ujarnya. Wawancara bersama Rektor UMM Menurutnya, sekitar 5.000 hingga hampir 6.250 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Mayoritas berasal dari mahasiswa angkatan 2025, disertai sivitas akademika lainnya, mulai dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni dari berbagai fakultas. Tak hanya menjadi ruang kompetisi mahasiswa, kegiatan ini juga menghadirkan pelaku usaha kecil dari lingkungan kampus. Sejumlah UMKM mahasiswa serta unit bisnis milik UMM tampak berpartisipasi memeriahkan acara. Sementara itu, Harina selaku Humas UMM menyebut Rector Cup telah menjadi tradisi khas kampus yang mempertemukan mahasiswa dalam berbagai kompetisi antarfakultas. Tradisi ini sekaligus menjadi ruang pengembangan potensi non-akademik mahasiswa. Bagi Nazaruddin, penyelenggaraan Fun Tahes Rector Cup tahun ini memiliki makna khusus karena menggabungkan semangat kebugaran, interaksi sosial, serta penguatan karakter mahasiswa dalam satu momentum besar. Ia menegaskan, Rector Cup dan Student Day merupakan tradisi akademik penting di UMM yang bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membangun relasi sosial, baik dengan sesama mahasiswa maupun sivitas akademika lain. Menariknya, Nazaruddin menyebut tradisi seperti ini tidak umum ditemukan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya. Menurutnya, Rector Cup dan Student Day telah berlangsung sejak masa kepemimpinan rektor terdahulu dan terus dipertahankan sebagai identitas khas UMM. “Ini tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Pak Muhadjir sebagai rektor. Jadi bukan hal baru, tetapi terus dijaga sebagai bagian penting dari pembentukan mahasiswa UMM,” tutupnya. (raf)
Piala Dunia 2026 Tak Seramai Edisi Sebelumnya, Dosen Sosiologi UMM Ungkap Sebabnya

Link copied! lihat foto Istimewa Tribun News – PIALA DUNIA 2026 – Liga Piala Dunia 2026. Piala Dunia 2026 tampak tak seramai edisi sebelumnya, dosen Sosiologi UMM memberi alasan penyebabnya. Menurutnya, minimnya pencapaian Indonesia di level dunia membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia. Seperti langkah Timnas Indonesia yang harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Padahal, saat itu, publik sangat berharap Jay Idzes dan kawan-kawan bisa menembus Piala Dunia 2026. “Mungkin ada semacam rasa kecewa karena tim nasional kita belum pernah sampai ke level itu. Akhirnya masyarakat merasa cukup mengikuti kompetisi yang lebih dekat dengan mereka, seperti liga lokal atau sepak bola Asia Tenggara,” ungkapnya. Luluk juga menyoroti kondisi ekonomi yang turut memengaruhi antusiasme masyarakat. Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan mengikuti ajang olahraga internasional. “Kenaikan dolar dan tuntutan ekonomi juga berpengaruh. Orang sekarang lebih fokus pada kebutuhan hidup dibandingkan mengikuti euforia olahraga internasional,” katanya. Tak hanya itu, faktor geopolitik dinilai ikut memengaruhi minat publik. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, yang kerap menjadi sorotan dalam isu politik global, disebut dapat memunculkan sikap apatis dari sebagian kelompok masyarakat. “Ada sebagian masyarakat yang melihat konteks geopolitik dan isu kemanusiaan. Itu juga bisa memengaruhi minat mereka untuk mengikuti Piala Dunia,” ujarnya. Untuk mengembalikan euforia sepak bola di tengah masyarakat, Luluk menilai diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi sehingga masyarakat melihat bahwa prestasi olahraga benar-benar dihargai. Selain itu, promosi sepak bola perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang dekat dengan generasi muda. “Karena sekarang eranya digital, promosi dan sosialisasi juga harus dilakukan melalui media yang digunakan masyarakat saat ini,” “Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan prestasi yang nyata sehingga publik memiliki kebanggaan dan alasan untuk kembali antusias,” tandasnya.