Dinobatkan BRIN Sebagai Kampus Paling Porgresif, UMM Mantap Melangkah Jadi Innovation University

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026), ia menyebut Kampus Putih sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak’, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” tegas Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurutnya, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced lab. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Lebih jauh, Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Merespons hal tersebut, ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama . Ia bahkan secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa Kampus Putih memang tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan matching dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena sangat didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia juga menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2% saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” pungkasnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN ini diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

​Pakar UMM Ingatkan Masyarakat, Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya 7 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmaad Wafir Rahman

​Kejar Visi Internasional, UMM Dorong Percepatan Karier Dosen Lewat Aturan Baru JAD

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memacu akselerasi untuk mewujudkan visinya sebagai kampus inovatif, mandiri, berdampak, dan terekognisi di kancah internasional pada tahun 2030 mendatang. Salah satu motor penggerak utama yang kini tengah digenjot adalah percepatan karier dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dosen melalui optimalisasi aturan baru Jabatan Akademik Dosen (JAD). ​Komitmen tersebut terlihat jelas saat UMM menjadi tuan rumah dalam agenda Sosialisasi Mekanisme Pengusulan Jabatan Akademik dan Perencanaan Karier Dosen bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Timur, yang digelar di Basement Dome UMM, Kamis (7/5/2026). ​Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa pihak kampus memandang kenaikan kepangkatan lebih dari sekadar pemenuhan syarat administratif. JAD merupakan fondasi utama dalam membangun profesionalisme dan ekosistem kampus yang unggul. ​”JAD ini adalah instrumen strategis. Perguruan tinggi di era sekarang tidak cukup hanya mencetak lulusan yang jago secara teori. Kita dituntut untuk mampu melahirkan inovasi-inovasi yang memberikan dampak dan solusi nyata bagi permasalahan di masyarakat,” tegasnya. ​Langkah strategis UMM ini sejalan dengan angin segar dari pemerintah yang resmi memangkas birokrasi pengusulan JAD. Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Diktiristek, Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., yang hadir sebagai narasumber utama, memaparkan bahwa perubahan regulasi melalui Permen 52 dan Kemen 39 ditujukan untuk mempercepat eskalasi karier dosen yang selama ini kerap stagnan. ​Kini, kementerian menyederhanakan mekanisme penilaian dengan menghapus syarat publikasi ilmiah untuk pengangkatan pertama Asisten Ahli, serta memangkas angka kredit pendukung yang dinilai tak lagi relevan. “Regulasi baru ini sengaja dirancang untuk ‘membangunkan’ dosen agar serius merencanakan kariernya sejak awal mengabdi. Kami ingin memastikan tidak ada lagi dosen yang berlama-lama tanpa jabatan akademik,” paparnya. ​Meski birokrasi telah dipermudah untuk mendukung percepatan tersebut, sivitas akademika tetap diwanti-wanti agar tidak tersandung masalah kelalaian. Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menyoroti banyaknya pengajuan JAD ke level Lektor Kepala hingga Profesor yang ditolak murni karena persoalan administratif, seperti ketidaklengkapan Beban Kerja Dosen (BKD) hingga data SISTER yang kedaluwarsa. ​Secara khusus, Dyah juga mengingatkan para dosen yang tengah mengejar eskalasi karier untuk menjaga integritas dan menjauhi godaan jalan pintas. ​”Penggunaan jurnal predator bisa berakibat sangat fatal. Dampaknya bukan sekadar pembatalan pengajuan, tetapi bisa berujung pada keharusan mengembalikan dana sertifikasi ke kas negara. Oleh karena itu, kami mendesak para dosen untuk lebih proaktif memahami aturan main dan tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pada operator kampus,” pungkasnya. ​Melalui sinergi antara regulasi kementerian yang kian mudah dan dorongan agresif dari internal kampus, UMM optimis target percepatan kepangkatan dosen dapat tercapai secara bersih dan berkualitas, membawa Kampus Putih melesat menuju panggung internasional di 2030.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bukan Sekadar Unit Bisnis, Bengkel Rinjani UMM Punya Program Diklat Otomotif Gratis hingga Salurkan Lulusan ke Jepang

Bengkel Rinjani yang bernaung di bawah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan diri bukan sekadar unit bisnis biasa. Melalui Rinjani Skills Development Center (RSDC), bengkel ini menginisiasi program pendidikan dan pelatihan otomotif gratis selama enam bulan bagi pemuda dari keluarga kurang mampu. Menariknya, program ini tidak hanya menyalurkan lulusannya ke jaringan perusahaan otomotif nasional, tetapi juga membuka peluang emas bagi mereka untuk bekerja di Jepang. Kepala RSDC, Eddy Prasetyawan Adisubroto, S.T., menjelaskan bahwa program sosial unggulan ini telah berjalan sejak tahun 2008. Sasarannya adalah para lulusan SMA, SMK, atau MA dari seluruh pelosok Indonesia, baik dari sekolah Muhammadiyah maupun sekolah negeri. Prioritas utama RSDC adalah merangkul para pemuda dengan latar belakang prasejahtera hingga yang berstatus yatim piatu. “Ini adalah murni program sosial. Anak-anak yang tinggal dan belajar di asrama kami, seluruh kebutuhan konsumsi hariannya kami tanggung sepenuhnya. Kami ingin membekali mereka dengan ilmu yang sungguh berguna bagi masa depan mereka nanti,” ungkapnya. Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa program diklat RSDC ini sangat berbeda dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin) reguler yang umumnya diikuti oleh siswa kelas 2 SMK. Jika siswa magang biasa lebih terfokus pada area mesin, peserta diklat RSDC mendapatkan kurikulum yang jauh lebih komprehensif. Selama enam bulan penuh, mereka tidak hanya mengupas mesin otomotif, tetapi juga dilatih secara intensif mengenai perawatan bodi, serta pemeliharaan detail interior dan eksterior mobil. Keseriusan RSDC dalam mengawal masa depan siswanya turut dibuktikan melalui luasnya jaringan kerja sama industri. Ratusan alumni kini telah terserap di berbagai perusahaan rekanan, seperti Denso, Astra Malang, hingga Wira Sejahtera Auto 2000 Jakarta. Penempatan kerja para alumni ini tersebar luas mulai dari wilayah Jabodetabek, Sumatera, Yogyakarta, hingga ke Papua. Tidak berhenti di tingkat nasional, RSDC juga memfasilitasi siswanya untuk meluaskan sayap karier ke kancah internasional. Menjelang akhir masa pendidikan, para siswa diajak mengunjungi Training Center (TC) Vokasi UMM untuk mengenal secara langsung dunia pelatihan kerja ke Jepang. “Kami tidak membatasi lingkup di Indonesia saja. Jika berminat, kami akan salurkan mereka untuk ikut tes. Saat ini, sudah ada sekitar enam anak yang berangkat dan bekerja di Jepang pada sektor yang lebih luas, seperti konstruksi, manufaktur, perikanan, hingga pertanian. Tiga orang lainnya kini masih dalam tahap pendidikan bahasa di TC vokasi,” papar Eddy. Melalui program pendidikan berkelanjutan ini, Eddy berharap kehadiran Bengkel Rinjani dan RSDC mampu menjadi jalan keluar bagi pemuda yang kurang beruntung. “Harapan saya, mereka bisa mengembangkan ilmunya, mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi individu yang sukses serta bernilai bagi masyarakat luas,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Para Pakar Isi Seminar Internasional PPG UMM, Bongkar Ketimpangan Pendidikan Global

Para pakar pendidikan mengisi Seminar Internasional PPG Universitas Muhammadiyah Malang (5/5). Mereka membongkar ketimpangan pendidikan global yang masih terjadi./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Seminar Internasional yang melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global diusung dalam seminar ini untuk menanggapi situasi dewasa ini. Yaitu, fragmentasi sosial global yang menguat sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan yang menempatkan pendidikan pada titik krusial. Melalui forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro. Nunuk Suryani menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” ungkap Nunuk. Ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia kemudian menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Maka, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Cara ini akan merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ucap Ebenhaezer. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar. Artinya, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Kemudian, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Sarkim menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Dilanjut dengan pernyataan Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM yang menegaskan, capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegas Handayani. Pendidikan inklusif yang transformatif disebutnya harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” imbuhnya. Pandangan pada standar profesi guru juga dijelaskan oleh Neneng Haryati, S.Si, M.M., yang memaparkan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Pada konteks ini, PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab tantangan global. *** Dokumentasi kegiatan (dok. UMM): *** Editor: YAN

UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026

UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026 pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi gemilang melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate. Bertanding di Hall Dome UMM, tim karate berhasil meraih gelar Juara Umum kategori Mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Kejuaraan yang berlangsung pada Sabtu (2/5/2026) ini menjadi bukti ketangguhan para atlet UMM. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Indonesia. Ketua Umum UKM Karate UMM, Fadil Inayatullah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa program studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan bahwa persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. “Gelar juara umum ini adalah bukti nyata bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” tegas Fadil. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan dominasi di berbagai nomor pertandingan, baik individu maupun beregu. Total 16 medali berhasil diraih, terdiri dari 3 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu. Prestasi ini semakin memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif mengembangkan potensi mahasiswa di bidang olahraga. Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A, menyoroti tantangan yang dihadapi para atlet dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkap Havidz. Ia juga menegaskan bahwa dukungan universitas menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini, mulai dari fasilitas hingga kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi yang ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Keberhasilan ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat belajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi wadah pembinaan atlet berprestasi di tingkat nasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Pohon Harapan Pendidikan UMM Ajang Kritik Penghapusan Program Studi

MALANG POST – Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru hadir sebagai ruang kritik yang terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium “Pohon Harapan Pendidikan”. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd.,menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, “Pohon Harapan Pendidikan” menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan. Melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rebut Juara Umum Kejurnas 2026

Tim UKM Karate UMM berfoto bersama usai meraih gelar juara umum dengan torehan 16 medali pada Kejurnas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Hall Dome menjadi saksi ketangguhan para atlet Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada kejuaraan yang digelar Sabtu (2/5/2026), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM tampil dominan dan berhasil meraih gelar Juara Umum kategori mahasiswa. Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Kampus Putih sebagai salah satu lumbung atlet bela diri berprestasi di Tanah Air, setelah sukses mendominasi kejuaraan karate tingkat nasional, Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Ketua Umum UKM Karate UMM Fadil Inayatullah menyebut keberhasilan ini merupakan hasil dari komitmen panjang seluruh anggota tim. Mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023 itu menjelaskan, persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. Menurutnya, suasana latihan yang suportif namun tetap disiplin menjadi kunci kekompakan tim sejak masa persiapan hingga hari pertandingan. “Gelar juara umum ini adalah bukti bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” ujarnya. Dalam kompetisi tersebut, kontingen UMM menunjukkan kekuatan merata di berbagai kelas, baik nomor perorangan maupun beregu. Mereka berhasil memboyong total 16 medali, terdiri atas 3 emas, 5 perak, dan 8 perunggu. Prestasi ini turut menegaskan komitmen UMM sebagai kampus inovatif dan mandiri dalam memfasilitasi pengembangan minat dan bakat mahasiswa secara inklusif. Di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar dalam menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa dan atlet. Hal ini disampaikan Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso MA. Menurutnya, para atlet dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkapnya. Dia menambahkan, dukungan universitas sangat berperan dalam menjaga motivasi atlet. Fasilitas yang memadai serta kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan progresif di lingkungan kampus. Ke depan, Havidz menegaskan bahwa regenerasi atlet akan terus diperkuat melalui seleksi yang ketat guna menjaga tradisi juara. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Kemenangan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi. UMM tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga kawah candradimuka bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi. (Faqih/AS)

UMM Raih Juara Umum Karate Championship 2026

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si Saat Membuka Ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. ( Foto: Dokumentasi Panitia). RRI.CO.ID, Malang- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara umum kategori mahasiswa dalam ajang Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 yang digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026. Sekretaris Panitia, Matronji, menyampaikan bahwa UMM tampil unggul dalam kategori antar mahasiswa hingga berhasil meraih gelar juara umum. “Untuk juara umum mahasiswa diraih oleh UMM Malang,” ujarnya kepada RRI, Selasa ( 5/5/2026). Ia juga memastikan pelaksanaan kejuaraan berlangsung dengan baik tanpa kendala berarti. “Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dan aman,” jelasnya. Matronji menambahkan, kejuaraan ini diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai daerah dengan jumlah peserta yang cukup besar. “Untuk total keseluruhan atlet 825, dengan kelas pertandingan sebanyak 982,” ungkapnya. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan atlet serta meningkatkan semangat sportivitas di kalangan mahasiswa dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional. (Meuthia)

Sisterpreneur: Inovasi Dosen UMM untuk Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas lewat Inovasi Pemasaran Digital

Dosen UMM saat melaksanakan Sisterpreneur bagi kader Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jatim (Suara ‘Aisyiyah.id) Surabaya, Suara ‘Aisyiyah – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan di Jawa Timur, mendorong tiga Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur”. Inovasi tersebut digagas sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital. Tiga dosen Ilmu Komunikasi UMM yakni Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti puluhan peserta dari Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah Se-Jawa Timur, Ahad, (26/4/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Dorong Optimalisasi Pemasaran di Sosial Media Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki UMKM perempuan di Nasyiatul Aisyiyah. Setelah dilakukan riset singkat, ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal, sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA harapannya mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Rumus PCBA dalam Menyusun Konten Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktik melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI. Bukan sekedar teori, dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku UMKM tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakannya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz)-Nely