Overparenting Jadi Tren Ortu Zaman Modern: Pakar Usul Buku Saku Parenting dan Digital Detox

Pakar Pendidikan UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES) JATIMTIMES – Gelombang modernisasi yang membawa kemudahan ekonomi, teknologi digital, dan pola hidup serba praktis ternyata memunculkan problem baru dalam dunia pengasuhan. Banyak orang tua masa kini dinilai terjebak dalam pola overparenting, yakni kasih sayang berlebihan yang justru membuat anak kurang tangguh, miskin inisiatif, dan lemah mengambil keputusan. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menilai fenomena tersebut semakin nyata di tengah keluarga urban maupun kelas menengah yang ingin memberi kenyamanan total kepada anak. Baca Juga : Long Weekend Bawa Berkah, Hunian Hotel Malang Tembus Angka Tinggi Menurutnya, niat baik orang tua memberi perlindungan penuh sering kali berubah menjadi pola asuh yang terlalu mengontrol setiap langkah anak. Akibatnya, anak tumbuh patuh tetapi kurang memiliki keberanian menentukan pilihan. “Kadang anak sedikit-sedikit bertanya ke ibunya, ‘Mi, aku harus gimana?’ Semua harus konfirmasi. Bagus karena hormat kepada orang tua, tetapi sisi inisiatif dan pengambilan keputusannya menjadi kurang terasah,” ujar Dr. Arina, Minggu, (3/5/2026). Ia mengaku melihat langsung fenomena itu, termasuk dari pengamatan di lingkungan sekolah dasar. Bahkan, menurutnya, sebagian orang tua saat ini cenderung lebih memanjakan anak dibanding generasi sebelumnya. Padahal, karakter tangguh justru lahir dari pengalaman kecil sehari-hari, seperti menyelesaikan masalah sendiri, bermain di luar rumah, hingga menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. Dr. Arina menyoroti kecenderungan orang tua modern yang terlalu khawatir terhadap aktivitas fisik anak. Kehujanan dilarang, bermain tanah dianggap kotor, dan beraktivitas luar ruang dibatasi karena takut sakit. Padahal, menurutnya, anak membutuhkan stimulasi alami untuk membangun daya tahan tubuh dan kecerdasan motorik. “Hujan itu tidak selalu buruk. Anak-anak kalau diajak kehujanan justru senang. Dulu kita hujan-hujanan happy sekali. Sekarang sedikit kena hujan langsung dianggap bahaya,” katanya. Ia menjelaskan, anak-anak generasi lama banyak berinteraksi dengan lingkungan alam. Bermain tanah, bergerak aktif, berlari, berkeringat, hingga terkena cuaca alami justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang sehat. “Tanah itu bisa menjadi terapi sensorik untuk menstimulasi psikomotorik anak. Kalau ada anak pendiam, kurang aktif, coba banyak diajak gerak. Itu bisa membantu nafsu makan, perkembangan motorik, bahkan mencegah stunting,” jelasnya. Menurut Dr. Arina, terlalu sterilnya lingkungan anak masa kini membuat paparan mikroba baik berkurang. Imunitas menjadi tidak terlatih, sehingga tubuh lebih rentan terhadap perubahan cuaca maupun lingkungan. Karena itu, ia mendorong orang tua kembali memberi ruang eksplorasi sehat. Anak yang terlihat kurang aktif, sulit makan, atau kurang berkembang secara fisik sebaiknya lebih sering diajak beraktivitas luar ruang dan terkena sinar matahari pagi. “Outdoor activity itu penting. Kena sinar matahari, bergerak, bermain, itu booster alami bagi tumbuh kembang anak,” tegasnya. Selain overparenting, Dr. Arina menilai tantangan terbesar keluarga modern saat ini adalah screen dependency atau ketergantungan layar. Teknologi digital memang memiliki sisi positif, namun tanpa kontrol justru dapat melemahkan kualitas generasi muda. Ia menegaskan, konten edukatif seperti video pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jepang, sains, atau kreativitas digital tetap bermanfaat jika digunakan proporsional. “Kalau anak menonton materi belajar, kartun berbahasa Inggris, itu malah bagus. Teknologi bisa jadi alat akselerasi belajar,” ujarnya. Namun persoalan muncul ketika anak terlalu lama bermain gim digital seperti Roblox atau larut dalam tontonan video tanpa batas waktu. Menurutnya, beberapa gim memang melatih ketelitian, logika, dan respons cepat. Tetapi jika durasinya berlebihan, anak menjadi kehilangan kontrol waktu, tidak responsif terhadap panggilan orang tua, dan minim interaksi sosial. “Dipanggil orang tua saja tidak dengar karena fokus bermain. Ini tanda bahwa manajemen penggunaan teknologi di rumah belum berjalan,” katanya. Baca Juga : Rakerda Golkar Situbondo: Ali Mufthi Tekankan Sinergi Partai dan Pemerintah Daerah Dr. Arina juga mengingatkan paparan gawai berlebihan pada usia dini dapat memicu keterlambatan bicara, malas berkomunikasi, kurang sosialisasi, dan tumpulnya kreativitas. “Anak hanya menerima stimulus. Dia menikmati tontonan, menerima instruksi, tetapi tidak tumbuh inisiatif. Ini berbahaya untuk masa depan,” ujarnya. Ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anak yang sangat cerdas secara individual, tetapi tertutup secara sosial. Dalam beberapa kasus, anak menjadi introvert ekstrem, merasa cukup dengan dunianya sendiri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan. “Kadang ada anak yang cepat paham, berpikir kritis, bahkan genius. Tetapi sisi sosialnya lemah. Dia merasa sudah tahu, jadi tidak mau mendengar guru atau orang lain,” katanya. Fenomena itu, lanjutnya, harus dijawab dengan kebijakan yang lebih progresif. Ia mendorong pemerintah tidak hanya membenahi kurikulum sekolah formal, tetapi juga menyiapkan kurikulum parenting nasional bagi keluarga Indonesia. Dr. Arina melanjutkan, bahwa rumah adalah ekosistem pendidikan pertama. Sekolah yang bagus tidak cukup jika atmosfer rumah tidak mendukung. “Ibu adalah madrasah pendidikan di rumah. Kalau sekolah sudah bagus, maka di rumah tinggal distimulus. Harus selaras,” tegasnya. Salah satu langkah konkret yang ia usulkan ialah menghadirkan buku saku parenting untuk orang tua. Isinya berupa panduan sederhana namun aplikatif tentang pola asuh modern, batas penggunaan gawai, komunikasi keluarga, nutrisi anak, stimulasi tumbuh kembang, hingga penguatan karakter. “Walaupun sekarang ada YouTube dan teknologi, buku saku untuk orang tua itu keren. Tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk ayah,” ujarnya. Ia menilai peran ayah selama ini belum maksimal dalam sistem pengasuhan. Padahal keterlibatan ayah, terutama terhadap anak perempuan, berdampak besar pada pembentukan rasa percaya diri. “Anak perempuan yang dekat dengan ayah biasanya punya self confidence tinggi. Dia tidak mudah insecure dan keberaniannya berbeda,” katanya. Dr. Arina juga mengusulkan penerapan digital detox keluarga, yakni hari tanpa gawai di rumah, khususnya setiap akhir pekan. “Kalau bisa hari Minggu full anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh. Dari situ bonding keluarga tumbuh dan nasihat akan lebih mudah diterima,” ucapnya. Menurutnya, keluarga Indonesia dulu memang dikenal lebih sederhana, bahkan kadang otoriter. Namun ada nilai positif yang tidak boleh hilang, yakni kedisiplinan, kebersamaan, penghormatan pada orang tua, serta rutinitas spiritual dan sosial yang kuat. Kini, tantangannya adalah meramu nilai lama dengan pendekatan baru yang lebih sehat, demokratis, dan adaptif terhadap zaman. “Ini investasi jangka panjang. Kalau rumah tertata, komunikasi tertata, kelembutan tertata, maka kepribadian anak juga akan tertata,” pungkasnya. Ia menegaskan, generasi emas Indonesia tidak cukup dibangun lewat gedung sekolah dan kurikulum negara. Fondasi utamanya tetap berada di ruang keluarga, ketika orang tua mampu menjadi navigator, bukan sekadar penyedia fasilitas.

Hardiknas 2026, Rektor UMM Tegaskan Posisi Kampus sebagai Pusat Layanan Unggul

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi memberikan amanat pada Hardiknas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Transformasi budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) menjadi tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan Kampus Putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka refleksi arah pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai aktor kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar, sapaan akrabnya, menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan dalam pola status quo. Pidato rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana. (Faqih/AS)

Rektor UMM: Hardiknas harus jadi `solution center excellence`

By :  Sigit Kurniawan Update: 2026-05-02 16:10 GMT Sumber foto: AH Sugiha Transformasi budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) merupakan tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. “Tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik saat memberikan sambutan pada upacara Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026) di Lapangan Helipad UMM yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Lebih lanjut, dikatakan Nazaruddin, pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi penting pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Sabtu (2/5). Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. “Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Pidato Rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana,” tandas Nazaruddin.

Unggul di Sektor Industri dan Riset Berdampak, UMM Sabet Top 15 Nasional THE Asia University Rankings 2026

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan yang mempertegas kualitasnya di kancah pendidikan internasional. Berdasarkan rilis resmi lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 pada 23 April 2026 lalu, Kampus Putih sukses mengamankan posisi yang sangat kompetitif. Keberhasilan UMM dalam meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030 Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menegaskan bahwa pencapaian ini murni merupakan wujud pengakuan pemeringkatan internasional. “Tahun lalu kita di peringkat 1501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia. Prestasi di tingkat nasional pun tak kalah gemilang, di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kukuh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE pada tahun ini,” jelasnya di sela peringatan Hardiknas pada tim Humas UMM. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui 5 indikator utama, yakni Teaching, Research Environment, Research Quality, Industry, dan International Outlook. Keunggulan paling mencolok dari UMM terletak pada sektor Industry Income. Rina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tingginya poin di sektor ini didukung oleh atmosfer kampus yang baik berkat keberadaan unit bisnis, seperti rumah sakit. Fasilitas tersebut dinilai tidak sekadar mendatangkan pendapatan bagi institusi, tetapi juga berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus. Selain itu, melalui pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. Selain itu, UMM dinilai unggul berkat kualitas risetnya yang berfokus pada impact. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah artikel yang dipublikasikan dosen, melainkan pada tingginya angka sitasi dari peneliti lain. Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong perkembangannya. Terakhir, ia menerangkan bahwa pemeringkatan ini adalah bentuk nyata rekognisi internasional atas dedikasi kinerja akademik UMM. Diharapkan, momentum kebanggaan ini tidak sekadar menjadi selebrasi, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pada kelima indikator aktivitas akademik kampus putih di masa mendatang.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas, UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional

Gemuruh suara teriakan dan dentuman langkah kaki di atas matras memenuhi atmosfer kemegahan Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 02 Mei 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Kampus Putih secara resmi menggelar perhelatan bergengsi bertajuk “Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan signifikansi penyelenggaraan acara ini yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, olahraga bela diri adalah elemen penting dalam memajukan kualitas manusia di masa depan. “Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan pendidikan. Semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini akan lahir bibit-bibit talenta baru yang nantinya tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional, tetapi juga di panggung internasional,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pengurus Besar (PB) FORKI yang telah memberikan restu atas terselenggaranya ajang ini. UMM berkomitmen menjadikan Rektor Cup Karate Championship sebagai agenda tahunan yang dinanti oleh para atlet Karate-Do di seluruh Indonesia. “Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” tambahnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan menjadi panggung pembuktian bagi ratusan atlet muda untuk menunjukkan hasil latihan keras mereka. Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kejuaraan ini dirancang sebagai sistem pembinaan yang berkesinambungan. “Tujuan utama kami adalah menciptakan tolak ukur pembinaan karate yang terstruktur. Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan tidak hanya kecerdasan fisik, tetapi juga intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia,” ujarnya. Antusiasme peserta pada edisi kali ini tergolong luar biasa. Tercatat sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen turut berpartisipasi. Mereka memperebutkan medali di 974 kelas pertandingan yang terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga kategori senior. Tak hanya dari Jawa Timur, para peserta berasal dari lintas provinsi, meliputi Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, yang mewakili dojo, klub, hingga pengurus cabang FORKI. Melalui perhelatan akbar ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Kejuaraan Karate Piala Rektor 2026 diharapkan mampu menjadi kawah candradimuka yang melahirkan atlet-atlet profesional bermental juara. Pada akhirnya, tempaan fisik dan mental di atas matras ini akan menjadi bekal berharga bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan, baik di kancah nasional maupun global.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Rektor UMM di Hardiknas 2026, Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Solution Center Excellence

Transformasi budaya dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) merupakan tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka arah refleksi pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai pemeran kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar sapaan akrabnya menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Pidato Rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana.(Vin/Faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gandeng PT Charoen Pokphand, UMM Gelar Campus Hiring yang Dipadati Ribuan Pelamar

Memasuki era persaingan kerja yang semakin kompetitif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membuktikan komitmennya dalam menjembatani karier para lulusannya. Langkah konkret tersebut salah satunya diwujudkan melalui program Campus Hiring di Aula BAU Kampus Putih pada Kamis (30/04/2026). Acara ini menjadi peluang emas bagi mahasiswa maupun alumni untuk langsung unjuk gigi di hadapan industri, sekaligus mempercepat dan mengarahkan mereka untuk segera terserap di dunia kerja. Kegiatan ini menghadirkan perusahaan besar yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, yang sedang membuka rekrutmen besar-besaran. Sebanyak 1.700 pelamar tercatat mendaftar, baik dari UMM maupun luar kampus. Dari jumlah tersebut, sekitar 460 kandidat diundang untuk mengikuti tahapan seleksi yang diprioritaskan bagi lulusan UMM, baik fresh graduate maupun yang telah berpengalaman. Human Capital Strategic PT Charoen Pokphand Indonesia, Dian Eko Wicaksono, hadir langsung memantau jalannya rekrutmen. Menurutnya, UMM bukan sekadar tempat pelaksanaan seleksi, melainkan mitra strategis perusahaan dalam berburu sumber daya manusia (SDM) unggul. Terlebih, rekam jejak alumni UMM yang banyak mengisi posisi strategis di perusahaannya membuat sinergi ini semakin kokoh. “Campus hiring di Universitas Muhammadiyah Malang adalah tujuannya untuk menjaring talenta-talenta terbaik,” tegasnya. Terpilihnya UMM sebagai titik rekrutmen tentu bukan tanpa alasan. Reputasi kampus yang besar, fasilitas mumpuni, serta jejaring kerja sama yang luas. Mulai dari program beasiswa, kolaborasi rumah sakit, hingga pusat riset menjadikan daya tarik tersendiri. Hal ini membuktikan bahwa UMM tidak hanya fokus mencetak sarjana di ruang kelas, tetapi juga mematangkan kesiapan karier mereka di lapangan. Mengenai tahapan seleksi, pihak perusahaan menerapkan standar kualifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap posisi. “Kriteria utama tentu jurusan, karena beberapa posisi memang membutuhkan latar belakang tertentu,” jelas Dian. Walau begitu, ia menekankan bahwa kompetensi personal atau soft skills seperti daya juang, inisiatif, kreativitas, dan empati tetap menjadi parameter penilaian yang krusial. Guna mengoptimalkan proses seleksi dan menyesuaikan kapasitas ruangan, pihak penyelenggara membaginya ke dalam beberapa kloter. Para peserta langsung menjalani rangkaian psikotes hingga wawancara dalam satu hari. Menariknya, sejumlah hasil seleksi diumumkan secara langsung di hari yang sama, membuat proses rekrutmen berjalan sangat efisien dan transparan. Abdul Gafur, salah satu alumni prodi Informatika UMM, menjadi peserta yang antusias mengikuti program ini. Ia membidik posisi Production Control Analyst dan telah melakukan persiapan matang, mulai dari mendalami profil perusahaan hingga berlatih psikotes. “Salah satunya karena proses rekrutmennya dilaksanakan langsung di kampus, sehingga lebih mudah dijangkau, dan juga karena perusahaan yang membuka lowongan merupakan perusahaan besar dengan reputasi yang sudah dikenal luas, sehingga menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan,” ungkap Abdul saat ditanya alasannya melamar. Abdul menyambut positif langkah kampus dan berharap kegiatan Campus Hiring dapat terus ditingkatkan frekuensinya agar semakin banyak mahasiswa dan alumni merasakan manfaat akses langsung ke peluang karier. Harapan tersebut menjadi cerminan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap program yang mampu menjembatani dunia akademik dan realitas industri. Melalui gelaran ini, UMM semakin mengukuhkan diri sebagai kampus unggul yang proaktif mengawal lulusannya menembus gerbang dunia profesional, membuktikan bahwa mereka siap unjuk gigi dan menjawab tantangan zaman.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman    

Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya 29 April lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Retno Marsudi Hadir di Wisuda UMM, Sebut Inovasi Air Kampus Putih Berdampak Besar bagi Dunia

SOROTAN: Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Radar Malang – MALANG – Di tengah bayang-bayang krisis air yang mengancam dunia, Sejarah baru tercipta bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencetak tonggak pencapaian monumental. Kampus Putih resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Tak main-main, pengakuan prestisius level dunia ini diapresiasi langsung oleh Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Hal itu sekaligus menahbiskan UMM sebagai garda terdepan dari Indonesia dalam menjaga nadi kehidupan ekosistem perairan global. Momen bersejarah ini menjadi sorotan utama dalam prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4). Hadir secara khusus untuk memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi sapaan akrabnya yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 juga memberikan apresiasi tinggi atas rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan UMM. KOMITMEN: Retno dalam Wisuda ke-121 UMM. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno disambut gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan dan orang tua yang memadati arena. Dalam orasinya, diplomat senior ini membongkar realitas mengerikan terkait kondisi air global yang makin terancam oleh perubahan iklim, termasuk lenyapnya 600 gigaton gletser dunia di tahun 2023. Secara garis besar, dunia kini dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Di tahun 2024 saja, bencana ini mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS. Ancaman kekeringan juga diproyeksikan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di tahun 2050. Serta tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit mematikan akibat sanitasi yang buruk. Krisis ini, lanjut Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan secara langsung untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, melalui mandat UNESCO Chair ini, ia menaruh harapan besar agar UMM terus menjadi penggerak inovasi dalam riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin (cooling system) hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa arah pengembangan kampus tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat. Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk melalui pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. “Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Terakhir, ia menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat, mengingat mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah amanah besar. Beliau mendorong para lulusan UMM untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban, serta mampu menjadi sumber kebaikan di mana pun mereka berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia. Editor : A. Nugroho