Sikapi Konflik AS-Iran, Pakar HI UMM Dorong Pemerintah Indonesia Lebih Berani Bersuara

Pakar HI UMM Prof Gonda menyampaikan pandangannya terkait posisi Indonesia di tengah konflik AS-Iran. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi serta keamanan global, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan terus bertahan dengan sikap normatif “cari aman”, atau mulai berani melangkah sebagai aktor utama dan juru damai dunia? Kegelisahan itu mengemuka dalam forum Ruang Gagasan bertajuk Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional UMM, yang digelar di RBC A. Malik Fadjar Institute, Kamis (23/4/2026). Forum ini tidak hanya membedah konflik, tetapi juga menyoroti kapasitas diplomasi Indonesia. Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Gonda Yumitro, menilai pemerintah Indonesia masih cenderung berlindung di balik payung hukum internasional. Sikap yang tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dinilai sebagai upaya menjaga peluang menjadi mediator. Namun, menurutnya, kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh norma, melainkan juga oleh ketahanan sumber daya. “Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual,” tegasnya. Dia juga menyoroti ketertinggalan Indonesia dibanding sejumlah negara Eropa dan ASEAN, terutama dalam hal kemandirian dari kekuatan eksternal. Dampak konflik juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia akibat konflik akan berimbas pada ekosistem ekonomi domestik. “Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia memang realistis, tetapi belum cukup untuk menjadikan kita aktor strategis,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Nazruddin Malik menyoroti dinamika ini melalui perspektif Islam Berkemajuan. Ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dan adaptif dalam merespons isu global, termasuk energi, konflik, dan relasi antarnegara. “Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya. Ia mendorong penguatan industri domestik serta peningkatan kapasitas negosiasi internasional agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif. Forum ini menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan hanya memahami konflik global, tetapi juga menentukan posisi yang tegas. Tanpa keberanian memperkuat implementasi kebijakan, Indonesia berisiko tetap menjadi penonton dalam dinamika geopolitik yang semakin kompetitif. (Faqih/AS)
Kursi Roda Bukan Penghalang, Akbar Tuntaskan Studi Psikologi di UMM

MALANG POST – Melalui penyediaan infrastruktur ramah disabilitas dan budaya akademik yang suportif, Kampus Putih sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa pengguna kursi roda dari Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan deretan prestasi gemilang. Pria yang akrab disapa Akbar ini, merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Dukungan tersebut ia rasakan sejak hari pertama berstatus sebagai mahasiswa. Keberadaan infrastruktur yang memadai, seperti akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4, hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas praktikum. Itu membuatnya leluasa bergerak. Baginya, kenyamanan aksesibilitas fisik adalah kunci utama yang melancarkan rutinitas perkuliahannya selama empat tahun terakhir. “Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung. Sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya. Menariknya, ia menegaskan bahwa kemudahan tersebut murni sebatas pada aspek fasilitas penunjang mobilitas. Dalam urusan akademik, Akbar tidak mendapatkan perlakuan khusus atau keistimewaan. Ia harus melewati standar evaluasi, beban tugas, dan ujian yang sama ketatnya dengan rekan sebaya. Prinsip kesetaraan inilah yang memacu semangatnya untuk bersaing secara sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif di dalam ruang kelas. Selain di bidang akademik, kapasitas kepemimpinan Akbar juga terasah tajam. Kampus memberikannya panggung yang sama untuk berkontribusi secara nyata. Akbar tercatat pernah mengemban amanah sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas periode 2023-2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024. Di bawah arahannya bersama tim, rangkaian acara tersebut sukses menyabet juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. “UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya. Kiprah Akbar rupanya tidak berhenti di lingkungan kampus saja. Ia juga mendedikasikan dirinya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Mengawali langkah sebagai staf Hubungan Masyarakat (Humas) pada periode 2022-2023, kinerjanya yang cemerlang mengantarkannya pada posisi Ketua Umum di periode berikutnya. Perjalanan memimpin organisasi diakuinya penuh dinamika dan lika-liku. Namun, pasang surut tersebut justru meneguhkan tekadnya untuk terus mencari pengalaman berharga. Di akhir masa studinya, Akbar memberikan pesan bagi seluruh pejuang mimpi, baik yang memiliki keterbatasan fisik maupun tidak. Ia percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil manis pada waktunya. “Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Dari Kursi Roda Menuju Panggung Prestasi: Kisah Lulusan Inklusif dari UMM yang Menginspirasi

Akhmad Ali Akbar, lulus dengan segudang prestasi—meski harus menjalani hari-hari perkuliahan menggunakan kursi roda.(Ist) Malangpariwara.com – Di tengah perjuangan mewujudkan pendidikan tinggi yang setara bagi semua, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan bukti nyata bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana.Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih ini mengantarkan salah satu mahasiswanya, Akhmad Ali Akbar, lulus dengan segudang prestasi—meski harus menjalani hari-hari perkuliahan menggunakan kursi roda. Bagi Akbar, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar sarjana, tetapi juga tentang menaklukkan batasan. Bagi Akbar, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang meraih gelar sarjana, tetapi juga tentang menaklukkan batasan.(Ist) Sejak awal menjejakkan kaki di kampus, ia merasakan dukungan yang tak setengah hati. Akses ramah disabilitas, mulai dari jalur khusus kursi roda hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas, menjadi pintu pembuka bagi kemandiriannya selama menempuh studi. Namun, di balik kemudahan fasilitas tersebut, tidak ada jalan pintas dalam urusan akademik. Akbar tetap menghadapi standar yang sama dengan mahasiswa lainnya—tugas yang menumpuk, ujian yang menantang, dan tuntutan berpikir kritis yang tak bisa ditawar. Justru dari situlah semangatnya tumbuh: membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi. “Dukungan kampus membuat saya tidak merasa sendiri dalam menjalani proses ini. Tapi untuk akademik, semuanya tetap sama. Itu yang membuat saya semakin termotivasi,” ungkapnya. Tak hanya bersinar di ruang kelas, Akbar juga aktif menempa diri di organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai bagian dari Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa, hingga akhirnya mengemban peran strategis sebagai Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi 2024. Di bawah kepemimpinannya, kegiatan tersebut berhasil meraih posisi tiga besar terbaik di tingkat universitas—sebuah capaian yang tak lepas dari kerja keras dan kolaborasi tim. Langkahnya melampaui batas kampus. Akbar turut berkiprah di komunitas sosial Turun Tangan Malang, dari staf humas hingga dipercaya menjadi ketua umum. Di sana, ia belajar tentang arti kepemimpinan, menghadapi dinamika, dan bertumbuh dari setiap tantangan. Kini, di penghujung masa studinya, Akbar tak hanya membawa ijazah, tetapi juga cerita tentang keteguhan dan harapan. Ia percaya bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya menuju keberhasilan. “Jangan berhenti bermimpi. Terus berdoa dan berusaha, karena mimpi itu punya caranya sendiri untuk menjadi nyata,” pesan lulusan Program Studi Psikologi ini. Kisah Akbar menjadi pengingat bahwa inklusivitas bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan tentang membuka ruang yang setara bagi setiap individu untuk tumbuh. Dan di sanalah, mimpi-mimpi menemukan jalannya—tanpa batas.(Djoko W)
Dari Penjual Hasil Bumi Hingga Menjadi Sekda, Kisah Inspiratif Akhmad Sugiharto Warnai Wisuda ke-121 UMM

radarmalang, MALANG – Kesuksesan tidak pernah diraih dalam semalam. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Akhmad Sugiharto, S.T., M.T., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, saat membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan ribuan lulusan pada pergelaran Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (23/4). Berawal dari anak rantau dengan keterbatasan ekonomi yang bahkan sempat berjualan hasil bumi, Akhmad kini sukses memegang jabatan birokrasi strategis berkat ketangguhan mental yang ia tempa di Kampus Putih. Masuk ke Fakultas Teknik Sipil UMM pada tahun 1991, Akhmad merantau ke Malang dengan bekal pas-pasan. Menyadari bangku kuliah bukan sekadar tempat mengejar transkrip nilai, ia aktif berorganisasi dan sengaja memilih tempat kos yang memungkinkannya membaur dengan warga lokal. Ujian sesungguhnya datang pasca-kelulusan pada 1997. Penolakan lamaran kerja yang datang berkali-kali sempat memaksanya memutar otak dengan berjualan hasil bumi. Namun, berkat etos kerja keras warisan keluarga, ketaatan, serta doa orang tua, ia berhasil lolos seleksi CPNS pada tahun 1998 dari titik nol. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Titik balik karier puncaknya terjadi pada tahun 2010. Mengawinkan keilmuan Teknik Sipil dari UMM dan kemampuan kolaborasi tim, ia mencetuskan inovasi pembangunan jalan beton (rigid pavement) di Demak. Inovasi yang terbukti jauh lebih awet dari aspal konvensional ini akhirnya sukses direplikasi oleh berbagai daerah di Jawa Tengah. “Pendidikan sejati di UMM adalah tentang belajar cara beradaptasi, bertahan di tengah kondisi yang sulit, serta membangun mentalitas pantang menyerah. Lulusan UMM harus memiliki ketahanan mental yang tangguh saat menghadapi realitas di lapangan. Jangan lupa untuk terus berinovasi, menjaga integritas, dan ingatlah bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain, bukan semata-mata dari tingginya jabatan,” tegasnya. Prosesi wisuda UMM Lahirnya alumni berdaya juang tinggi seperti Akhmad selaras dengan sistem pendidikan UMM yang terus bertransformasi. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Thohir Luth, M.A., menyoroti program Center of Excellence (CoE) UMM sebagai ekosistem penting yang mendidik mahasiswa menghadapi dunia nyata. “Kehadiran program CoE ini menjadi bukti nyata bahwa UMM telah melaju dan terus berkembang secara pesat. Inovasi ini tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa untuk memenangkan ketatnya persaingan di tingkat global, tetapi juga wujud nyata kontribusi Muhammadiyah dalam menghadirkan kebaikan bagi umat, bangsa, dan negara saat mereka terjun ditengah masyarakat,”ungkapnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan komitmen universitas untuk mencetak generasi Thrivers, sosok yang tidak sekadar mampu bertahan di bawah tekanan, tetapi berkembang menjadi pribadi utuh dan cerdas secara emosional. Rektor menuntut lulusan UMM untuk memiliki jiwa juang kompetitif dan bertransformasi menjadi new collar workers yang lincah dan melek teknologi. “Pegang teguh semboyan student today, leaders tomorrow. Jangan hanya mengandalkan kecerdasan di atas kertas. Jadilah pembelajar tangguh yang siap menciptakan lapangan kerja produktif. Anggaplah UMM sebagai ibu kandung kedua kalian, jaga terus ikatan batin ini. Dengan bekal ketahanan mental, kemampuan kolaboratif, dan landasan takwa kepada Allah SWT, melangkahlah dengan penuh percaya diri menyongsong masa depan,” pesannya.
Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Pakar HI UMM Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal

Di Antara Konflik AS-Iran: Mampukah Indonesia Berhenti Menjadi Sekadar “Penonton” Global? Di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi serta keamanan dunia, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, akankah Indonesia terus bertahan di zona nyaman dengan sikap normatif “cari aman”, atau berani mendobrak batasan untuk tampil sebagai aktor utama dan juru damai dunia? Kegelisahan inilah yang memantik diskusi tajam dalam forum Ruang Gagasan bertajuk “Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia”. Acara kolaborasi antara Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional UMM ini diselenggarakan di RBC A. Malik Fadjar Institute pada Kamis, 23 April 2026. Forum ini tidak sekadar membedah anatomi konflik, tetapi membongkar realitas kapasitas diplomasi Indonesia. Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyoroti kecenderungan Indonesia yang berlindung di balik payung hukum internasional. Keputusan untuk tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dinilai sebagai langkah menjaga peluang sebagai mediator. Namun, perang tidak dimenangkan oleh norma, melainkan oleh ketahanan sumber daya. “Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual,” tegas Prof. Gonda. Ia juga menggarisbawahi posisi Indonesia yang tertinggal dari negara-negara Eropa dan ASEAN, di mana ketergantungan terhadap kekuatan eksternal masih menjadi kelemahan mendasar. Realitas geopolitik ini juga berdampak langsung pada masyarakat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D., menjelaskan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik akan cepat merembet ke seluruh ekosistem ekonomi domestik. “Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia dinilai realistis, tetapi belum cukup menjadikan kita aktor strategis,” ujar Prof. Hikmahanto. Ambisi menjadi penengah berisiko menjadi wacana hampa tanpa diplomasi yang lebih tegas dan terbuka. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazruddin Malik, M.Si., membedah dinamika ini melalui gagasan “Islam Berkemajuan”. Ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dan adaptif. Isu energi, konflik, dan relasi antarnegara menuntut pemahaman komprehensif, dengan peningkatan kapasitas intelektual generasi muda sebagai kuncinya. “Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya. Ia mendesak penguatan industri domestik hingga kemampuan negosiasi internasional agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif. Forum ini menegaskan pesan yang jelas bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar memahami konflik global, melainkan menentukan posisi yang tegas. Bersandar pada sikap normatif tanpa kekuatan implementatif berisiko membuat Indonesia terpinggirkan. Tanpa perubahan arah kebijakan yang terukur, Indonesia berpotensi hanya menjadi penonton dalam arena geopolitik yang kian kompetitif.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Rayz UMM Hotel Malang Gelar Kartini Bloom, Wadah Potensi Kartini Masa Kini

MALANG, SJP — Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Rayz UMM Hotel Malang kembali menghadirkan pengalaman istimewa melalui gelaran bertajuk Kartini Bloom pada Sabtu, (18/4/2026). Bertempat di amfiteater luar ruangan (outdoor) yang menjadi salah satu daya tarik utama hotel, acara ini berlangsung meriah dan dipadati oleh tamu serta pengunjung dari berbagai kalangan. Mengusung konsep mekarnya potensi generasi muda, Kartini Bloom menjadi wujud komitmen Rayz UMM Hotel Malang dalam menghadirkan tidak hanya pengalaman menginap, tetapi juga ruang inspiratif bagi masyarakat. Beragam penampilan dari talenta anak-anak, mulai dari menyanyi, tarian tradisional, tari modern (modern dance), hingga pertunjukan bakat lainnya, sukses menciptakan suasana hangat, penuh semangat, dan menghibur. Salah satu sorotan (highlight) acara adalah lomba peragaan busana (fashion show) anak yang menampilkan pesona kebaya dalam berbagai interpretasi, mulai dari sentuhan tradisional hingga modern. Para peserta tampil percaya diri, merepresentasikan sosok Kartini masa kini yang kreatif, berani, dan penuh potensi. Tidak hanya menghadirkan hiburan, pengalaman tamu juga semakin lengkap dengan sajian spesial dari tim Food & Beverage Rayz UMM Hotel Malang. Beragam pilihan hidangan disuguhkan untuk menemani momen kebersamaan, sekaligus memperkuat posisi (positioning) hotel sebagai destinasi yang mengedepankan kualitas layanan dan pengalaman menyeluruh. Kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari kolaborasi bersama Key Entertainment yang mampu menghadirkan konsep acara yang segar, interaktif, dan penuh energi, sehingga berhasil menarik antusiasme tinggi dari para pengunjung. Gustam Duga Praseta, Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel Malang, menyampaikan, Kartini Bloom bukan sekadar perayaan, tetapi juga bentuk nyata dukungan kami terhadap tumbuh kembang generasi muda. “Kami ingin menghadirkan ruang di mana anak-anak dapat mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri, dan menjadi Kartini-Kartini masa kini yang siap bersinar,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Rayz UMM Hotel Malang semakin menegaskan posisinya sebagai hotel yang tidak hanya menawarkan kenyamanan akomodasi, tetapi juga aktif menghadirkan program-program kreatif, inspiratif, dan bernilai bagi masyarakat. Ke depan, Rayz UMM Hotel Malang akan terus menghadirkan berbagai acara menarik yang mampu menciptakan pengalaman berkesan bagi setiap tamu. Nice People, Nice Place, Rayz the Moments Hote bintang 4 di Malang ini memiliki 152 kamar dan 5 vila dengan kolam renang pribadi. Berkonsep city resort, Rayz UMM Hotel memiliki fasilitas lengkap seperti ballroom, ruang pertemuan (meeting room), restoran, pusat kebugaran (fitness center), sky lounge, dan kolam renang. Hotel milik Universitas Muhammadiyah Malang ini memiliki ciri khas dominasi warna hitam dan emas dengan lima tipe kamar, yaitu deluxe, super deluxe, executive, family, dan suite. Vila yang berada satu lokasi dengan hotel memiliki dua tipe, yaitu Vila Eureka atau Credo dengan 2 kamar dan Vila Ambasador dengan 3 kamar. (***)
Mahasiswi UMM lulus tanpa skripsi, Kiprah Riri Mengabdi untuk Masyarakat

pwmu.co – Prestasi membanggakan datang dari mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang. Nisrina Nabila Nasywa, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2022, berhasil meraih kelulusan tanpa skripsi melalui jalur ekuivalensi berkat inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.Mahasiswi asal Makassar yang akrab disapa Riri ini menciptakan inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah yang terbukti mampu membantu menekan angka stunting. Inovasi tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riri menginisiasi program bertajuk Stunting Free Zone with Gen Z yang berfokus pada pengentasan stunting di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia mengembangkan produk pangan kaya zat besi dari bahan alami untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan, dari yang awalnya 12 persen menjadi 6 persen,” ungkapnya. Tak berhenti di situ, Riri kembali menorehkan prestasi melalui program PKM berikutnya bertajuk Elder-Greens, Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity. Program ini berhasil menembus tingkat nasional dan berlanjut pada kerja sama dengan Pemerintah Kota Batu. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” tambahnya. Selain berprestasi di bidang akademik, Riri juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri di kampus. Ia terlibat dalam Humas sebagai reporter, aktif di BEM Fakultas, serta di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). “Sejak semester dua, aku sudah bergabung di Humas sebagai Reporter. Aku juga aktif di BEMFA juga IMM. Selain itu aku juga pernah meraih Juara 1 dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023,” ujarnya. Kepedulian sosialya juga terlihat dari keterlibatannya sebagai relawan pendidikan. Ia mengajar anak-anak dari kelompok marginal, seperti anak pemulung dan kaum duafa, melalui program Sekolah Relawan dengan metode pembelajaran interaktif seperti mendongeng. Pengalaman profesional pun tak luput ia jalani melalui program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada 2025. Selama empat bulan, ia terlibat dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Walaupun 4 bulan tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” ceritanya. Bagi Riri, seluruh pengalaman selama masa kuliah menjadi bekal penting untuk terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Ia pun membagikan pesan inspiratif bagi mahasiswa lainnya. “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang,” tutupnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Riri Wisudawan Berprestasi UMM, Intip Kiprahnya di Kampus Hingga Berdampak untuk Masyarakat

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Prestasi membanggakan diraih Nisrina Nabila Nasywa atau yang akrab disapa Riri, seorang mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Prestasi yang dicapai Riri adalah menghasilkan inovasi beras artifisial berbahan ekstrak daun bayam merah yang berhasil menjadi tiket emas untuk lulus sarjana tanpa harus menyusun skripsi. Selain lulus melalui jalur ekuivalensi, inovasi yang ia buat terbukti nyata mampu menekan angka stunting di masyarakat. Capaian gemilang mahasiswi asal Makassar ini berawal dari keaktifannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Riri menginisiasi proyek bertajuk Stunting Free Zone with Gen Z yang berfokus pada pengentasan stunting di Kelurahan Tlogomas. Bersama timnya, ia menciptakan inovasi pangan berupa beras yang diperkaya dengan ekstrak bayam merah serta berbagai bahan alami kaya zat besi. “Alhamdulillah, program kami tidak hanya sebatas riset di atas kertas, tapi membawa dampak yang sangat nyata. Dalam waktu empat bulan penerapan saja, angka stunting di wilayah tersebut berhasil menurun secara signifikan, dari yang awalnya 12 persen menjadi 6 persen,” bebernya. Seakan tak pernah puas berkarya, ia kembali menorehkan prestasi di ajang PKM pada tahun berikutnya. Kali ini, ia menggagas proyek bertajuk Elder-Greens, Partisipasi Gen Z dalam Degradasi Stres Lansia dengan Pendekatan Hydroponic Serenity. Luar biasanya, program ini sukses menembus tingkat nasional dan berujung pada kerja sama resmi dengan Pemerintah Kota Batu untuk diimplementasikan di lingkungan pondok lansia hingga hari ini. “Melalui keberhasilan dan keberlanjutan proyek Elder-Greens inilah, saya akhirnya mendapatkan ekuivalensi untuk lulus tanpa harus menulis skripsi. Rasanya sangat bangga bisa berkontribusi membantu menurunkan tingkat stres para lansia melalui kegiatan hidroponik,” ungkapnya. Di balik kesuksesan riset dan pengabdiannya, Riri mengaku selalu berusaha menyeimbangkan kehidupan akademis dengan berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri di kampus. “Sejak semester dua, aku sudah bergabung di Humas sebagai Reporter. Aku juga aktif di BEMFA juga IMM. Selain itu aku juga pernah meraih Juara 1 dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) 2023,” tuturnya. Kepedulian sosial Riri juga tersalurkan melalui perannya sebagai relawan pendidikan. Ia rutin mengajar anak-anak dari kelompok marjinal, seperti anak pemulung dan kaum duafa, melalui program Sekolah Relawan. Agar materi lebih mudah dicerna, ia kerap menggunakan metode pembelajaran yang interaktif, salah satunya melalui teknik mendongeng. Selain jago di lingkungan kampus dan sosial, Riri juga membekali diri dengan pengalaman profesional lewat program magang di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta pada tahun 2025. Selama empat bulan, ia terlibat aktif dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) perusahaan. “Walaupun 4 bulan tapi aku merasa banyak pengalaman yang berkesan. Di sini aku berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada karyawan BUMN dengan psikotes training yang aku berikan,” jelasnya. Bagi Riri, seluruh pengalaman yang ia kumpulkan selama masa kuliah menjadi bekal krusial untuk terus berkembang dan menebar manfaat bagi masyarakat luas. Ia pun membagikan pesan inspiratif bagi rekan-rekan mahasiswa agar lebih berani mengeksplorasi potensi diri. “Kalau ada kesempatan, langsung dijalankan saja asalkan konsisten dan percaya diri. Jangan ragu-ragu, kalau ada lomba atau kegiatan yang bisa menambah pengalaman ikutin aja, karena dari situ kita akan menemukan peluang,” tegasnya. ***
Biaya Politik Mahal dan Budaya ABS, Jadi Biang Kerok Korupsi di Daerah

Guru Besar Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Asep Nurjaman, mengungkapkan ada tiga faktor utama penyebab korupsi di daerah, yakni faktor sistemik, personal, dan kontrol sosial. Saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Rabu (22/4/2026), Prof. Asep menjelaskan, faktor sistemik dipicu oleh sistem yang justru “mendukung” terjadinya korupsi. “Biaya politik yang sangat mahal, maraknya kasus suap, lemahnya pengawasan di tingkat DPRD, hingga birokrasi yang buruk menjadi celah lebar terjadinya penyimpangan,” urainya. Sementara itu, dari faktor personal, korupsi dipicu oleh sifat serakah, gaya hidup mewah, hingga rendahnya integritas individu. Tak jarang, tekanan birokrasi untuk “mengembalikan modal” politik yang besar membuat pejabat mengambil jalan pintas. “Ada juga faktor kontrol sosial yang lemah. Budaya ‘sungkan’ untuk menegur atasan, sikap ABS dari bawahan, hingga sikap apatis masyarakat memperparah keadaan. Bahkan, intervensi terhadap kritik di media sosial membuat sistem korupsi semakin menggurita,” tambah Prof. Asep. Efek Jera yang Tak Kunjung Datang Senada dengan hal tersebut, Koordinator Dosen Pendidikan Anti Korupsi Universitas Widya Gama (UWG) Malang, Zulkarnain, menilai pola pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini masih salah sasaran. Menurutnya, penegakan hukum selama ini hanya menyentuh sisi simptomatik atau gejala, bukan kausanya (akar masalah). “Dalam kajian kriminologi, seberat apa pun hukuman tidak akan memberikan efek jera yang signifikan jika yang diobati hanya gejalanya saja. Ibarat menangani banjir, kita sibuk membangun gorong-gorong tapi membiarkan hutan dibabat dan sampah dibuang sembarangan,” tegas Zulkarnain. Ia juga menyoroti adanya tebang pilih dalam penegakan hukum. Ironisnya, kejahatan justru kerap terjadi atau bahkan dikendalikan dari balik jeruji besi. Zulkarnain memaparkan bahwa kepala daerah memiliki kewenangan luas (discretion) yang berpotensi disalahgunakan untuk memonopoli jabatan. Strategi ini digunakan untuk menempatkan orang-orang kepercayaan di posisi strategis agar sejalan dengan kepentingan tertentu, termasuk praktik korupsi.
UMM Raih Penghargaan Bergengsi, Bukti Keberhasilan sebagai Pelopor Edu-Sociopreneurship Hingga Kampus Mandiri

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih penghargaan bergengsi pada Selasa (21/4) di Ballroom Grand City, Surabaya. Penghargaan yang diraih UMM berasal dari Berita Jatim untuk Kategori Sektor Pendidikan dengan sub-kategori Pelopor Edu-Sociopreneurship dan Ekosistem Kampus Mandiri. Torehan ini menjadi bukti kemampuan UMM dalam memadukan inovasi pendidikan, kemandirian finansial, dan pengabdian masyarakat yang berbuah manis. Pengakuan dari media tersebut kemudian ditanggapi Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., yang menilainya selaras dengan UMM Values yang diusung Kampus Putih. “Pada dasarnya, keberadaan UMM harus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kami merancang program Tri Dharma Perguruan Tinggi yang pendekatannya adalah memanfaatkan inovasi yang kita hasilkan untuk kebermanfaatan umat,” ucap Indah pada rilis UMM, Rabu (22/4). Predikat Ekosistem Kampus Mandiri yang diraih UMM menurutnya bukanlah isapan jempol belaka. Justru, terdapat bukti nyata dari kemandirian energi yang telah diterapkan. Indah pun memaparkan bahwa UMM telah memfungsikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan panel surya. Inovasi ini terbukti mampu menyuplai 40 hingga 50 persen kebutuhan listrik kampus di malam hari, termasuk penerangan jalan. Selain energi, UMM juga membangun kemandirian logistik. Kampus ini juga mengelola lahan pertanian sendiri untuk menyuplai kebutuhan pangan sehat seperti sayur dan telur langsung ke Rumah Sakit UMM. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kemandirian finansial UMM juga ditopang oleh deretan unit bisnis komersial berskala besar. Saat ini, UMM mengelola tiga hotel beserta restoran, SPBU, bengkel yang rutin menjadi tempat magang siswa SMK, hingga Taman Rekreasi Sengkaling. UMM juga mengelola Rumah Sakit Kelas B yang melayani pasien umum maupun BPJS tanpa diskriminasi pelayanan. “Keuntungan dari unit-unit usaha ini mensupport operasional UMM. Sekaligus, unit produksi ini menjadi tempat magang anak-anak, sehingga bisnis dapat menopang kampus secara mandiri,” ungkapnya. Menurut Indah, penghargaan ini adalah apresiasi yang wajar mengingat rekam jejak UMM yang masif dalam memberdayakan masyarakat, sejalan dengan semboyan Dari UMM untuk Bangsa. “Kami bahkan memiliki program yang mendukung pemerintah untuk mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT. UMM tidak ragu mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk membantu ke sana,” tegas Prof. Indah untuk menegaskan kiprah sosiopreneur UMM di tingkat nasional. ***