Keripik Vacuum Frying Tembus Singapura: Inovasi Alumnus Agribisnis UMM

MALANG POST – Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri sapaan akrabnya memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah.” “Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui, fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix.” “Tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Jalani Ramadan di Portugal, Ini Kisah Mahasiswa UMM Muhammad Zair

Muhammad Zair Baitil Atiq di depan kampus Universitas Minho, kota Braga, Portugal (foto: Faqih/PWMU.CO) Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitasnya selama menjalankan ibadah puasa di Portugal. Zair sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya. Meski begitu, ia mengaku tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di perantauan. Terlebih, tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, Ramadan di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam. Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi mereka. Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalankan. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa. Bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Ia bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengatakan bahwa restoran kesukaannya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya belajar. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadan di Portugal menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani. *) Penulis : Faqih *) Editor : muhkholidas
Kisah Sukses Bisnis Alumnus UMM: Dulu Jual Lumpia di Kelas, Kini Ekspor Keripik Buah ke Mancanegara

Abdullah Dzikri menunjukkan produk keripik buah dan sayur hasil olahannya yang diproduksi dengan teknologi vacuum frying dan kini telah menembus pasar ekspor ke Singapura. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri, sapaan akrabnya, memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif. (Faqih/AS)
Pengamat Kritik Wacana Prabowo Jadi Mediator Konflik

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin memediasi negara-negara yang berperang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi dinilai sulit dilakukan jika pertemp Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator bagi negara-negara yang sedang berperang. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan saat pertempuran masih terjadi. Dion Maulana menyampaikan bahwa mediasi idealnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026). Lebih lanjut, Dion juga mendorong evaluasi terhadap posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menekankan bahwa kredibilitas forum perdamaian seharusnya tercermin dalam tindakan nyata para anggotanya. Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional, dan tidak hanya mengikuti arus politik global. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya. Dion menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah mencapai level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap sebagai ancaman utama. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Ia menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, yang memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran. Dion menambahkan, Presiden Donald Trump mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meskipun situasi memanas, Dion meminta publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya. Dion menegaskan bahwa eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meskipun dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.
Ramadan di Portugal, Mahasiswa UMM Jalani Puasa di Negeri Minoritas Muslim

Muhammad Zair Baitil Atiq. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga menjadi pengalaman berbeda. Itulah yang dirasakan Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini ia tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Universidade do Minho, Portugal. Bagi Zair, menjalani Ramadan di Portugal menghadirkan suasana yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Negara di Eropa tersebut memiliki populasi muslim yang sangat kecil, sehingga nuansa Ramadan tidak semeriah di tanah air. Mahasiswa angkatan 2022 itu saat ini mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus Programme dan tinggal di kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana menjalankan ibadah puasa di lingkungan dengan jumlah umat Islam yang hanya sekitar satu persen dari total populasi. “Kalau di Indonesia orang-orang sangat antusias menyambut Ramadan. Di sini rasanya lebih tenang, seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya. Dukungan Keluarga Besar Meski begitu, Zair tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di negeri orang. Tahun ini bahkan menjadi pengalaman pertamanya menjalani puasa sekaligus merayakan Idulfitri jauh dari keluarga. Dari sisi durasi, waktu berpuasa di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan lama puasa sekitar 12 jam. Baca Juga Tata Cara Salat Gerhana Menurut Muhammadiyah: Dalil, Waktu, dan Khutbahnya Informasi jadwal sahur, imsak, hingga berbuka juga mudah ia dapat melalui komunitas muslim. Selain itu, informasi yang ia peroleh melalui jaringan Persatuan Pelajar Indonesia di Portugal yang rutin membagikan jadwal ibadah selama Ramadan. Respek dan Tingginya Toleransi Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan kuatnya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengaku teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang ia jalankan. “Teman-teman sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa dan juga tahu saya tidak makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” katanya. Selama berada di Portugal, Zair juga mengaku memiliki kebiasaan baru, yakni memasak sendiri. Hal itu dilakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap halal. Ia bahkan membawa beberapa bumbu dari tanah air untuk keperluan memasak. Pengalaman dan Pembelajaran Namun dalam situasi tertentu, ia juga berbuka puasa di restoran. Salah satu tempat favoritnya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus. Restoran tersebut menyediakan menu halal seperti kebab dan bahkan memberikan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi mahasiswa asal Kalimantan itu, menjalani Ramadan di Portugal menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi serta penghargaan terhadap perbedaan. Baca Juga Ini Jempolan! Dua Mahasiswa UMM Paparkan Ide Bisnis di Korea Ia berpesan kepada mahasiswa lain yang berkesempatan mengikuti program serupa di luar negeri untuk tetap menikmati setiap proses. Tak lupa ia meminta untuk memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran hidup.
Tak Otomatis Batal, Pelukan dan Ciuman Suami-Istri Saat Berpuasa Tetap Harus Dikendalikan

ILUSTRASI— Berpelukan pasangan suami-istri. POS METRO PADANG – BULAN suci Ramadhan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus menjaga perilaku selama menjalankan puasa. Di tengah masyarakat, kerap muncul pertanyaan mengenai hukum berpelukan dan berciuman dengan pasangan di siang hari saat berpuasa. Menanggapi hal tersebut, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Ahmad Fatoni, menjelaskan bahwa secara hukum Islam, pelukan dan ciuman antara suami dan istri tidak otomatis membatalkan puasa. Menurutnya, hal itu dibolehkan selama tidak mengarah pada hubungan intim atau menyebabkan keluarnya mani yang dapat membatalkan puasa. “Berpelukan dengan istri atau hanya mencium kening yang tidak menyebabkan basah atau keluarnya mani tidak membatalkan puasa. Ini sesuai dengan hadis Nabi SAW dari Aisyah bahwa beliau mencium dan berpelukan ketika puasa, namun mampu mengendalikan birahinya,” kata Ahmad Fatoni. Ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mencium dan berpelukan saat berpuasa, tetapi beliau mampu mengendalikan diri. Hadis tersebut tercantum dalam riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj. Baca Juga Dampak Gangguan Jaringan , Dua Kecamatan Terancam Gelap Gulita Selain itu, Ahmad Fatoni juga mengutip hadis dari Umar bin Khattab yang mempertegas bahwa ciuman tidak membatalkan puasa. Dalam riwayat tersebut, Umar pernah merasa khawatir setelah mencium istrinya saat berpuasa. Namun Nabi SAW mengqiyaskannya dengan berkumur ketika puasa, yang hukumnya tidak membatalkan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad bin Hanbal, yang pada intinya menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak membatalkan puasa selama tidak terjadi hal yang membatalkan. Dari dua hadis itu, para ulama menyimpulkan bahwa pelukan dan ciuman antara suami istri diperbolehkan ketika berpuasa, dengan syarat tidak berujung pada hubungan biologis atau keluarnya mani. Baca Juga Kakan Kemenag Bantah Tudingan Anak Buah LGBT Meski demikian, Ahmad Fatoni mengingatkan agar pasangan suami istri tetap berhati-hati. Menurutnya, tindakan tersebut sebaiknya dihindari apabila berpotensi membangkitkan syahwat yang sulit dikendalikan dan bisa mengarah pada pelanggaran yang membatalkan puasa. Dalam kondisi tertentu, sebagian ulama mengategorikan perbuatan itu sebagai makruh. Artinya, tidak dilarang secara mutlak, tetapi lebih baik ditinggalkan demi menjaga kesempurnaan ibadah puasa. “Hukum makruh tidak memengaruhi sah atau tidaknya puasa. Jika suami istri berpelukan atau berciuman di siang hari Ramadhan dan tidak terjadi apa-apa setelahnya, puasanya tetap sah. Intinya, berpelukan, berciuman, atau bersentuhan ringan tidak membatalkan puasa,” paparnya. Dengan penjelasan tersebut, umat Islam diharapkan dapat lebih memahami batasan-batasan dalam berinteraksi dengan pasangan selama berpuasa, sehingga ibadah tetap terjaga dan nilai spiritual Ramadhan semakin meningkat. (*/rom)
UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Pakar Ekonomi UMM: Industri Hasil Tembakau di Persimpangan Jalan

Malang (beritajatim.com) – Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional tengah berada di persimpangan jalan. Selain menghadapi tekanan regulasi baru melalui rencana implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, industri ini juga digempur fenomena down trading yang mengancam stabilitas pasar dan penerimaan negara. Pakar Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Yunan Saifullah, mengungkapkan bahwa IHT merupakan ekosistem kompleks yang melibatkan mata rantai hulu hingga hilir yang sangat panjang. Menurutnya, kebijakan yang tidak sinkron antara semangat regulasi kesehatan dengan realitas industri dapat memicu masalah ekonomi baru yang serius. Dr. Yunan menyoroti fenomena down trading yang kian masif dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini terjadi ketika konsumen beralih ke produk dengan harga yang lebih murah meskipun bahan bakunya tetap sama, yakni tembakau. “Industri hasil tembakau ini sedang menghadapi fenomena down trading. Bahan bakunya sama dari tembakau, pasarnya sama, tetapi dari segi branding dan harga itu tidak sama. Ini menjadi problem serius karena memengaruhi peta kompetisi di pasar yang sangat terbuka bagi pelaku-pelaku penting,” ujar Dr. Yunan saat memberikan analisis ekonominya pada beritajatim.com, Selasa (4/3/2026). Fenomena ini berdampak langsung pada pendapatan negara melalui cukai. Pergeseran konsumsi ke produk dengan golongan cukai lebih rendah otomatis akan mengubah struktur penerimaan negara di Departemen Keuangan dan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Dari sudut pandang makro, Dr. Yunan menekankan bahwa IHT adalah sektor industri yang sangat mengandalkan tenaga kerja (labor skill) konvensional. Sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keahlian khusus yang sulit dialihkan ke sektor lain dalam waktu singkat. “IHT itu harus kita akui adalah labor intensive. Banyak melibatkan tenaga kerja konvensional yang mengandalkan keterampilan tangan. Di situ ada unsur usia dan pendidikan. Jika sektor ini terganggu karena regulasi yang tidak tepat, ada warisan masa lalu yang tersisa dan akan hilang begitu saja di berbagai daerah,” jelas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut. Merespons rencana penerapan kebijakan baru terkait pembatasan konten dan kemasan rokok, Dr. Yunan mengingatkan pemerintah agar memastikan aturan tersebut selaras dengan kondisi lapangan. Ia melihat adanya potensi ketidaksinkronan antara semangat kesehatan dalam PP tersebut dengan keberlangsungan industri yang sudah ada. “Saya melihat, akankah rencana (regulasi) itu sudah sinkron dengan industri hasil tembakau yang ada sebelumnya? Jika tidak sinkron, ini akan melahirkan masalah baru. Jangan sampai peraturan di bawah undang-undang justru mematikan nafas industri yang menjadi kontributor besar bagi pasar nasional,” tegasnya menutup penyampaian. (dan/but)
UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Gondanglegi, Warga Terima Sembako dan Layanan Kesehatan

Foto bersama beberapa warga yang terima sembako pada kegiatan Bakti Sosial Ramadan UMM di Masjid Al-Khairat Sepanjang. (Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir kembali di tengah masyarakat dengan semangat berbagi di bulan suci Ramadan melalui bakti sosial. Kegiatan ini digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang, 9 Maret 2026. Ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang hadir mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian program sosial yang disediakan. Pemeriksaan Kesehatan dan Sosialisasi Parenting Jadi Bagian dari Bakti Sosial Ramadan Bakti sosial ini menghadirkan berbagai layanan bagi masyarakat. Di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian obat dari RSU UMM. Selain itu, digelar permainan edukatif untuk anak-anak dan sosialisasi parenting bagi para orang tua. Tim UMM juga menyalurkan sekitar 300 paket sembako bagi warga yang membutuhkan. Program tersebut menjadi wujud kepedulian kampus kepada masyarakat. Terutama pada bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi. Mobil Perpustakaan Hadir Untuk Tingkatkan Literasi Anak-anak Kegiatan ini juga menghadirkan Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Kedua kendaraan itu merupakan perpustakaan keliling milik UMM. Kehadiran mobil perpustakaan tersebut disambut antusias oleh anak-anak. Mereka terlihat senang memilih dan membaca berbagai buku yang tersedia. Kegiatan membaca ini sekaligus mendorong peningkatan minat literasi anak sejak dini. Program tersebut diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., membuka acara dengan salam dan ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat dalam sambutannya. Suasana semakin cair ketika Faridi sempat bercanda menggunakan bahasa Madura. Meski demikian, ia mengaku bukan berasal dari Madura, melainkan dari Probolinggo. Faridi juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM kepada masyarakat. Ia menyebut pimpinan kampus sedang menjalankan agenda Safari Ramadan di kampus. Kegiatan Safari Ramadan itu melibatkan berbagai unit usaha UMM. Di antaranya rumah sakit, hotel, hingga pom bensin. Bakti Sosial Jadi Agenda Tahunan UMM Menurutnya, bakti sosial merupakan agenda tahunan universitas. Program ini menjadi komitmen UMM untuk terus hadir di tengah masyarakat. Ia menegaskan perguruan tinggi tidak hanya fokus pada pendidikan akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Faridi juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia. Ia menyebut masa depan dunia ditentukan kualitas SDM. Ia mengutip pandangan mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Menurutnya, kemajuan tidak hanya ditentukan kekayaan sumber daya alam. Bakti Sosial UMM Jadi Langkah Muhammadiyah untuk Cetak Generasi Unggul Ia menilai langkah Muhammadiyah membangun lembaga pendidikan merupakan strategi penting. Upaya itu bertujuan mencetak generasi unggul. Ia juga berpesan umat Islam tidak hanya mendalami ilmu fikih. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat penting. Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa terima kasih kepada tim UMM. Ia juga merasa bangga kegiatan digelar di Masjid Al-Khairat. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga memanfaatkan layanan kesehatan serta bantuan sembako yang diberikan. Momentum ini juga mempererat hubungan masyarakat dengan civitas akademika UMM. Kehadiran kampus di tengah masyarakat disambut positif oleh warga. (Djoko W)
UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Masjid Al-Khairat Sepanjang

UMM Gelar Bakti Sosial Ramadan di Masjid Al-Khairat Sepanjang, Foto: Ist/PWMU.CO pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan semangat berbagi di bulan Ramadan melalui kegiatan bakti sosial yang digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang pada Senin (9/3/2026). Kegiatan sosial tersebut dihadiri ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang tampak antusias mengikuti berbagai program pelayanan masyarakat yang disiapkan oleh tim UMM. Layanan Kesehatan Gratis dan Pembagian Sembako Dalam kegiatan bakti sosial ini, UMM menghadirkan sejumlah program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemeriksaan kesehatan gratis serta pembagian obat yang difasilitasi oleh RSU UMM. Selain itu, warga juga menerima bantuan sekitar 300 paket sembako yang dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tak hanya layanan kesehatan, kegiatan ini juga diramaikan dengan permainan edukatif atau fun game bagi anak-anak serta sosialisasi parenting bagi para orang tua. Program tersebut menjadi wujud kepedulian kampus terhadap masyarakat sekitar, terutama di bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi dan mempererat solidaritas sosial. Mobil Perpustakaan Keliling UMM Disambut Antusias Kegiatan bakti sosial juga menghadirkan mobil perpustakaan keliling milik UMM, yakni Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Kehadiran kedua mobil tersebut langsung menarik perhatian anak-anak yang tampak antusias memilih berbagai buku bacaan yang tersedia. Melalui fasilitas ini, UMM berupaya menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak serta memperkenalkan budaya literasi sejak dini kepada masyarakat. UMM Tegaskan Komitmen Pengabdian kepada Masyarakat Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., dalam sambutannya membuka kegiatan dengan menyampaikan salam serta ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat dan bahkan sempat mencairkan suasana melalui candaan menggunakan bahasa Madura, meskipun dirinya mengaku bukan berasal dari Madura melainkan dari Probolinggo. Faridi juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM, termasuk rektor universitas yang pada waktu bersamaan sedang menjalankan agenda Safari Ramadan di lingkungan kampus bersama berbagai unit usaha UMM. Menurutnya, kegiatan bakti sosial merupakan agenda rutin universitas sebagai bentuk komitmen kampus untuk terus hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Pentingnya Penguatan Sumber Daya Manusia Dalam kesempatan tersebut, Faridi juga menekankan pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah perkembangan zaman. Ia mengutip pandangan seorang mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang menyatakan bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, langkah Muhammadiyah yang sejak awal fokus membangun lembaga pendidikan merupakan strategi penting dalam mencetak generasi unggul yang mampu bersaing secara global. Ia juga berpesan agar umat Islam tidak hanya mempelajari ilmu fikih semata, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat berperan aktif dalam perkembangan dunia modern. Apresiasi dari Warga Setempat Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa bangga sekaligus terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Masjid Al-Khairat sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan warga sekitar. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Warga yang hadir memanfaatkan kesempatan tersebut tidak hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan sembako, tetapi juga untuk menjalin kedekatan dengan civitas akademika UMM yang hadir langsung di tengah masyarakat. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang *) Editor : Satria