Pakar UMM Soroti Ancaman Inflasi dan Krisis Energi bagi Indonesia Imbas Konflik AS – Iran

Pakar HI UMM Dion Maulana Prasetya menyoroti ancaman stabilitas ekonomi pasca konflik AS-Israel dan Iran kembali memanas. Foto: Dok. Malang, Tugumalang.id – Memanasnya eskalase konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang menyoroti adanya ancaman inflasi dan krisis energi bagi Indonesia. Pakar HI UMM, Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., menjelaskan bahwa hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ungkapnya, Senin (2/3/2026). Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. Ada 2 alasan, kata dia, kenapa itu terjadi. Pertama, soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. ”Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” ujarnya. Meski begitu, ia meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Ia juga mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dion, terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia juga perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.
Mural Jodipan Malang \

Mahasiswa UMM solek kampung warna-warni lebih modern/Foto: Istimewa Harian Basis – Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) di Kota Malang menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung. Kampung ikonik ini tidak hanya menyajikan latar foto yang menarik, tetapi juga cerita di balik setiap sudut dindingnya. Melalui program KKN Kelompok 13 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jodipan kini berinovasi dengan menyematkan kode QR pada mural-mural di sepanjang gang. Program ini bernama Warna Digital Jodipan, diinisiasi oleh tim mahasiswa di bawah komando Muhammad Syahva Putra Disa Rizki. Syahva menjelaskan bahwa setiap lukisan memiliki cerita, mulai dari tradisi lama hingga simbol identitas Malang. Dengan adanya kode QR, pengunjung dapat memperoleh edukasi tentang makna di balik karya seni tersebut. Transformasi yang diusung tim KKN UMM tidak hanya terbatas pada teknologi. Mereka juga merancang tiga program taktis bernama Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color berfokus pada anak-anak Jodipan dengan memberikan pelatihan bahasa sederhana dan teknik komunikasi. Sparkling Jodipan adalah inovasi kemasan produk minuman lokal agar lebih menarik bagi wisatawan. Sementara itu, Jodipan Clay bertujuan mengembangkan suvenir unik sebagai potensi ekonomi baru bagi warga setempat. “Setiap lukisan punya nyawa dan cerita, mulai dari tradisi lama hingga simbol identitas Malang. Dengan kode QR ini, pengunjung tidak hanya berfoto, tapi juga pulang membawa edukasi tentang makna di balik karya tersebut,” ujar Syahva kepada wartawan, Senin (2/3/2026). Syahva menambahkan bahwa mereka ingin warga menjadi pelaku utama dalam pariwisata kampung tersebut, bukan hanya penonton. Kemampuan menyambut tamu secara profesional menjadi modal utama. Keberhasilan program ini didukung oleh pendekatan personal. Para mahasiswa mendampingi anak-anak belajar, berdialog dengan warga, hingga membantu memasarkan produk lokal. Hasilnya, warga lebih terbuka, percaya diri, dan mampu mengelola potensi wisata dengan lebih baik. Dosen Pembimbing Lapangan Jamroji mengapresiasi langkah yang diambil mahasiswanya. Menurutnya, program ini adalah implementasi visi UMM sebagai kampus yang memberikan solusi nyata. Jamroji menegaskan bahwa mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif dan adaptif. Program di Jodipan ini merupakan solusi berkelanjutan, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Saat ini, pengelolaan program telah diserahkan kepada warga Jodipan. Mahasiswa UMM telah membangun fondasi digital dan mental, sehingga warga dapat melanjutkan pengembangan potensi wisata kampung mereka. Sumber: detik.com
Mural Kampung Jodipan Malang \

Mahasiswa UMM solek kampung warna-warni lebih modern/Foto: Istimewa Asatunews, Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) di Kota Malang kini menawarkan pengalaman wisata yang lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan visual, tetapi juga menggali cerita di balik setiap mural melalui sentuhan teknologi digital. Inovasi ini diwujudkan melalui program KKN Kelompok 13 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan inisiatif Warna Digital Jodipan. Program ini menyematkan kode QR pada setiap mural di kampung tersebut. Menurut Muhammad Syahva Putra Disa Rizki, pemimpin tim KKN UMM, setiap lukisan memiliki cerita yang berkaitan dengan tradisi dan identitas Malang. Dengan memindai kode QR, wisatawan dapat memperoleh informasi dan edukasi tentang makna dari setiap karya seni. Program KKN UMM tidak hanya berfokus pada aspek teknologi. Mereka juga menyadari pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam keberlanjutan pariwisata. Oleh karena itu, dirancang tiga program taktis, yaitu: Speaking Color: Pelatihan bahasa sederhana dan teknik komunikasi bagi anak-anak Jodipan agar lebih percaya diri berinteraksi dengan turis mancanegara. Sparkling Jodipan: Inovasi kemasan produk minuman lokal agar lebih menarik bagi wisatawan. Jodipan Clay: Pengembangan suvenir unik sebagai potensi sumber ekonomi baru bagi warga setempat. Syahva menambahkan, tujuan dari program ini adalah memberdayakan warga agar berperan aktif dalam mengembangkan potensi wisata kampung mereka. Kemampuan menyambut tamu dengan profesional menjadi modal utama dalam mengembangkan kampung wisata. Pendekatan yang dilakukan oleh tim KKN UMM adalah dengan membangun hubungan yang dekat dengan masyarakat. Mereka aktif mendampingi anak-anak belajar, berdiskusi dengan warga, dan membantu memasarkan produk lokal. Jamroji, Dosen Pembimbing Lapangan, memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswanya. Ia menilai program ini sebagai implementasi nyata dari visi UMM sebagai kampus yang memberikan solusi. Jamroji menegaskan, mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif dan adaptif dalam memberikan solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat, bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban akademik. Pengelolaan program kini telah diserahkan kepada warga Jodipan. Dengan fondasi digital dan mental yang telah dibangun, diharapkan warga dapat terus mengembangkan potensi wisata kampung mereka.
Ketegangan Iran–AS–Israel Memanas, Pengamat UMM Malang: Dampaknya Bisa Picu Kenaikan BBM dan Harga Pangan

Ketegangan Iran, AS, dan Israel berpotensi berdampak pada ekonomi global. Pengamat UMM menilai konflik bisa memicu kenaikan harga BBM dan bahan pokok di Indonesia. Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel semakin memanas. (FOTO: CNBC Indonesia) Times Indonesia, MALANG – Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas menyusul wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut akibat serangan AS–Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran global, termasuk potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), menilai konflik ini bukan sekadar respons militer jangka pendek, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang bersifat eksistensial. Menurutnya, dalam perspektif keamanan ontologis (ontological security), Iran dan Israel sama-sama memandang pihak lawan sebagai ancaman mendasar bagi keberlangsungan negaranya. Selama persepsi ancaman itu masih ada, potensi konflik akan terus berulang. Eskalasi terbaru juga dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Isu yang dipersoalkan bukan hanya potensi pengembangan senjata nuklir, tetapi juga keamanan kawasan Timur Tengah serta perlindungan sekutu AS, terutama Israel. Meski situasi memanas, Dion mengimbau publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Menurutnya, konflik global berskala besar membutuhkan dinamika politik dan militer yang jauh lebih kompleks. Kekhawatiran meningkat setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan ditutup. Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak mentah terpenting dunia. Jika gangguan berlangsung lama, dampaknya bisa memicu lonjakan harga energi global. Indonesia berpotensi merasakan efek langsung, terutama pada sektor energi dan pangan. Kenaikan harga minyak mentah dunia hampir pasti akan mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selanjutnya, peningkatan biaya distribusi dapat memicu kenaikan harga bahan pokok di dalam negeri. Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan global, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang signifikan bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia.(*)
Alumnus Teknik Elektro UMM Sukses Tembus Karier di Eropa

Malang (beritajatim.com) — Membangun karier di kancah internasional kini bukan lagi sekadar impian bagi lulusan perguruan tinggi dalam negeri. Syariful Rizqi, alumnus Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2015, membuktikan persiapan matang sejak bangku kuliah menjadi kunci utama menembus pasar kerja global. Pria yang akrab disapa Eki ini kini menjabat sebagai Field Technical Engineer di sebuah perusahaan teknologi terkemuka asal Inggris (UK). Area penugasannya pun tidak main-main, meliputi wilayah Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA). Bekerja sebagai teknisi lapangan di Eropa menuntut profesionalisme tingkat tinggi. Eki memegang tanggung jawab krusial dalam memastikan operasional bisnis klien tetap berjalan tanpa kendala teknis. Fokus utamanya mencakup penanganan masalah perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), desktop support, hingga network troubleshooting. “Tanggung jawab saya adalah memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Di sini, prinsip kerja menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti,” ujar Eki saat memberikan keterangan pada Senin (24/2/2026). Keberhasilan Eki meniti karier di luar negeri berakar dari keaktifannya selama berkuliah di Kampus Putih UMM. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office (IRO) UMM. Selama di kampus, Eki sering terlibat memfasilitasi profesor tamu dari luar negeri serta berkolaborasi dalam proyek sosial lintas negara. Pengalaman inilah yang membentuk pola pikir global dan memperluas jaringan komunikasinya. “Jaringan internasional yang saya bangun saat mahasiswa masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang. Berinteraksi dengan pakar dari berbagai negara sangat mengubah cara pandang saya,” tambahnya. Menjalani profesi di Polandia dan negara Eropa lainnya memberikan perspektif baru bagi Eki mengenai dunia kerja. Salah satu hal yang paling menonjol adalah penerapan work-life balance yang sangat ketat. Berbeda dengan budaya lembur yang terkadang masih ditemui di tanah air, rekan kerja di Eropa sangat menghargai waktu istirahat. Berikut adalah beberapa poin utama budaya kerja yang dirasakan Eki, salah satunya tidak ada aktivitas pekerjaan di luar jam kantor atau pada hari libur. Selain itu, hierarki dan job description ditetapkan secara transparan, sehingga karyawan berhak menolak tugas di luar kewenangannya. Kemudian, lingkungan kerja yang suportif dan profesional, di mana pencapaian dinilai berdasarkan kemampuan dan hasil kerja. Meski kemampuan teknis (hard skills) adalah pondasi, Eki menekankan bahwa sikap rendah hati (humility) dan kemampuan komunikasi (soft skills) adalah faktor penentu dalam memenangkan kepercayaan di level internasional. “Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” tutupnya. (dan/kun)
Pemimpin BoP Serang Iran, Akademisi UMM: Indonesia Harus Berani Bersikap Tegas

Pakar hubungan internasional Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), (Foto: Istimewa) MALANG POST – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran memicu kekhawatiran dampak global. Termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat. Melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Pakar hubungan internasional Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan. Bahwa hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel. Sebaliknya, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya 2 Maret pada Malang Post melalui Tim Humas UMM. Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan, kembali menemui jalan buntu. Hingga pada gilirannya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Ia juga mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dion, terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi?” “Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Safari Ramadan 1447 H Universitas Muhammadiyah Malang, Puasa Jadi Instrumen Pengendali Kuasa

TAUSIAH: Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. sebagai pemateri utama menyampaikan materi esensi puasa dalam kegiatan Safari Ramadan UMM pekan lalu MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula Kampus 2, pekan lalu. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk merefleksikan kembali makna ibadah di tengah gempuran ambisi dan hasrat duniawi. Dengan mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial,” acara ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. sebagai pemateri utama. Dalam ceramahnya, Nurul menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar jeda rutin dari aktivitas makan dan minum. Lebih dari itu, Ramadan adalah instrumen koreksi diri terhadap cara manusia memaknai kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa puasa merupakan latihan sistematis untuk menjinakkan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap eksistensi dan kenikmatan dunia. Secara etimologis, Nurul memaparkan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa yang seharusnya terbakar dalam bulan suci ini bukan hanya dosa-dosa kecil, melainkan juga akar keserakahan manusia. Ia menarik benang merah sejarah pada kisah Nabi Adam, manusia pertama yang jatuh bukan karena lapar, melainkan karena godaan keabadian dan kekuasaan. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Secara hukum fikih, orang yang makan karena lupa tetap sah puasanya. Ini membuktikan bahwa esensi puasa terletak pada kesadaran kontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri, baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa, pasti akan terjatuh pada kenistaan,” tegas Nurul. Lebih lanjut, ia membagi kualitas puasa ke dalam tiga tingkatan: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani hanya berkutat pada fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan etika sosial, sementara puasa ruhani berorientasi pada kemurnian hubungan dengan Allah. Nurul mengingatkan bahwa jika seseorang masih gemar berdusta atau menyakiti sesama, maka rasa lapar dan dahaganya tidak memiliki nilai di sisi Tuhan. Di sisi lain, Nurul juga menyoroti aspek intelektualitas dalam beragama. Ia memuji langkah Muhammadiyah yang berani melakukan ijtihad melalui transformasi metode penentuan awal bulan kamariah, dari rukyat menuju hisab, hingga gagasan kalender hijriah global. Menurutnya, perubahan ini bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual dalam membaca realitas zaman dengan pendekatan sains. Safari Ramadan ini diharapkan mampu memosisikan kampus sebagai laboratorium etika. Di tempat ini, mahasiswa dan akademisi diajak untuk menyeimbangkan antara spiritualitas dan intelektualitas. Tanpa spiritualitas, intelektualitas hanya akan melahirkan kesombongan akademik yang mengabaikan kepedulian sosial. Sebaliknya, spiritualitas tanpa intelektualitas hanya akan bermuara pada ritualisme kering yang tidak memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa. (imm/lim)
Pakar UMM, “Konflik AS–Israel dengan Iran Ancam Inflasi dan Krisis Energi bagi Indonesia”

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Pakar hubungan internasional Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D., Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya 2 Maret pada Tim Humas UMM. Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Ia juga mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dion, terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.
Ungkap Akar Konflik AS–Israel dengan Iran, Pakar UMM Soroti Ancaman Inflasi dan Krisis Energi bagi Indonesia

Jnews.KotaMalang – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Pakar hubungan internasional Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.)., Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa hubungan antara Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya 02 Maret pada Tim Humas UMM. Dion menilai eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga akhirnya terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Meski demikian, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada perang dunia ketiga. Ia menilai proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang, berbeda dengan eskalasi konflik regional. Menurutnya, berbagai klaim yang menyebut keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara harus diverifikasi terlebih dahulu. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Ia juga mengingatkan eskalasi konflik saat ini telah memasuki fase yang lebih berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan telah ditutup. Penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Dion, terganggunya arus distribusi energi internasional tidak hanya akan memicu lonjakan harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi mendorong perubahan sikap politik luar negeri negara-negara besar yang terdampak tekanan ekonomi. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Dampaknya Indonesia juga akan merasakan tekanan langsung, terutama dari sektor energi dan pangan. Gangguan distribusi minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian diikuti lonjakan harga kebutuhan pokok hingga inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai secara teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Selain itu, Dion menilai Indonesia perlu mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Menurutnya, tindakan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian yang seharusnya dijunjung oleh lembaga tersebut. Ia menilai kredibilitas sebuah forum internasional harus diukur dari tindakan nyata para anggotanya, bukan sekadar retorika diplomatik. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian. Kita melihat negara atau lembaga itu dari kredibilitasnya. Kalau tindakan dan ucapannya berbeda, maka sulit dipercaya. Indonesia tidak boleh hanya ikut arus,” katanya. Sebagai langkah strategis, ia menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bangun Networking Sejak Mahasiswa, Alumnus UMM Ini Kini Berkarier di Eropa

Berkarier di kancah internasional menjadi impian banyak anak muda. Namun, bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hal tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan realitas yang kini ia jalani. Pria yang akrab disapa Eki ini berhasil menembus pasar kerja Eropa sebagai Field Technical Engineer di sebuah perusahaan asal Inggris (UK), dengan penugasan klien onsite di Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA). Eki merupakan alumnus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia memegang tanggung jawab krusial untuk memastikan operasional bisnis klien berjalan tanpa gangguan. Tugas utamanya meliputi penanganan masalah perangkat lunak dan perangkat keras, desktop support, hingga network troubleshooting di sejumlah kantor klien, khususnya di wilayah Polandia. “Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ungkap Eki kepada tim humas pada 24 Februari. Kesuksesan Eki menembus karier global tidak lepas dari pengalaman yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UMM. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office UMM (IRO). Ia kerap memfasilitasi profesor dari luar negeri serta terlibat dalam proyek sosial kolaborasi mahasiswa lintas negara. “Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya. Berbicara mengenai budaya kerja, Eki menyoroti perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di Indonesia dan Eropa. Menurutnya, aspek work-life balance sangat dijunjung tinggi. Rekan kerjanya menghargai waktu istirahat dan tidak bekerja pada hari libur. Selain itu, hierarki organisasi serta deskripsi pekerjaan ditetapkan secara jelas, sehingga karyawan berhak menolak tugas di luar kewenangannya. Meski bekerja di lingkungan internasional yang kompetitif, Eki mengaku tidak culture shock yang berarti. Ia justru menilai lingkungan kerjanya suportif dengan sistem meritokrasi yang profesional. Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan bahwa kemampuan teknis memang penting, tetapi sikap rendah hati serta kemampuan komunikasi menjadi kunci utama. Menurutnya, komunikasi yang baik membuka peluang membangun jaringan internasional sekaligus memperoleh kepercayaan rekan kerja. “Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman