Rayz UMM Hotel Malang Usung Tema Maroko di Ramadan 2026

Times Indonesia – MALANG – Rayz UMM Hotel Malang kembali menghadirkan program iftar dengan konsep yang berbeda setiap tahunnya. Pada Ramadan 2026 ini, hotel bintang empat itu mengusung tema Asian Harmony dengan sentuhan authentic Moroccan sebagai sajian utama. Menurut Erik, perwakilan Food and Beverage Rayz UMM Hotel Malang, konsep iftar memang selalu berubah sejak pertama kali digelar pada 2022. “Setiap tahun temanya berbeda. Tahun lalu, 2025, kami pakai tema Asian Treasure yang lebih mengangkat menu nusantara. Tahun ini Asian Harmony lebih fokus ke masakan khas Maroko seperti nasi kebuli dan Moroccan chicken,” jelasnya, Kamis (27/2/2026). Menjemput Lailatul Qadar Sejak Awal Erik memaparkan bahwa setiap harinya untuk menu main course, soup, dan dessert selalu berbeda. Ia menambahkan, meskipun konsep utamanya Asian Harmony dengan sentuhan Morocco, variasi menu tetap disesuaikan setiap hari. Beberapa menu tambahan seperti cwie mie, soto, salad bar, hingga nasi kebuli menjadi daya tarik tersendiri. Untuk menu khas Morocco, roasted chicken menjadi salah satu yang paling diminati pengunjung. Sejumlah menu main course yang disajikan dalam program iftar Rayz UMM Hotel Malang. Menu utama tersebut berganti setiap hari dengan tetap mengusung konsep Asian Harmony. (foto: Evangeline Nasywa Khayyirah/TIMES Indonesia). Berlokasi strategis di Jalan Raya Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, hotel ini selalu menjadi favorit pengunjung, terbukti dari reservasi yang hampir penuh hingga akhir pekan, dengan hanya tersisa sedikit slot di hari tertentu. Selain itu, Erik menilai rasa makanan yang selalu konsisten dan nikmat menjadi daya tarik utama, didukung pula dengan ambience dan pelayanan yang baik yang dihadirkan oleh Rayz UMM Hotel. Selain area restoran utama, Rayz UMM Hotel Malang juga menyediakan paket private iftar bagi tamu yang ingin suasana lebih eksklusif. Paket tersebut tersedia di Sky Rooftop dengan minimal pemesanan 20 paket. Ruangan berkapasitas hingga 70 orang itu telah dilengkapi fasilitas smart TV, audio system, serta pendingin ruangan, sehingga cocok untuk acara komunitas, instansi, maupun keluarga besar. Untuk lebih menarik minat pengunjung, hotel juga menyediakan program undian grand prize berupa voucher menginap di villa private pool milik Rayz Hotel. Setiap pemesanan dengan minimal lima paket akan mendapatkan kesempatan mengikuti undian yang dilakukan setiap minggu. Hadiah tersebut berupa menginap selama satu hari satu malam di salah satu dari lima villa yang dilengkapi kolam renang pribadi dan air hangat. Stan untuk Wedhang Apel dan Wedhang Sereh, minuman tradisional yang menghangatkan tubuh pengunjung. (foto: Dina Ayu Wahidiyanti/TIMES Indonesia). Untuk tamu keluarga, Rayz UMM Hotel Malang juga menghadirkan pilihan hidangan banyak digemari anak seperti pasta dan churros. Fasilitas playground yang tersedia di area hotel turut menjadi nilai tambah, sehingga si kecil dapat menikmati waktu bermain, sementara orang tua bisa berbuka dengan lebih nyaman. Erik menambahkan, respons pengunjung terhadap tema yang diusung tahun ini sejauh ini terbilang positif. Menurutnya, cita rasa makanan yang konsisten menjadi alasan utama tamu kembali berkunjung setiap Ramadan. “Harapannya semoga sampai akhir Ramadan tetap ramai dan tahun depan bisa menghadirkan konsep yang lebih menarik lagi,” ucapnya. (*) Pewarta: Dina Ayu Wahidiyanti/ Evangeline Nasywa Khayyirah/ Rainfall Akbar Ferdinand
UMM Jadi UNESCO Chair, Perkuat Misi Selamatkan Air Berkelanjutan

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro yang dimiliki oleh UMM. (Ist) Malangpariwara.com – Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mulai 2026, kampus putih itu resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem melalui kemitraan dengan UNESCO. Penunjukan ini menjadi pengakuan internasional atas konsistensi UMM dalam riset, inovasi pertanian berkelanjutan, hingga pengabdian masyarakat di berbagai wilayah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair bukan sekadar gelar simbolis. Menurutnya, kepercayaan tersebut diberikan kepada perguruan tinggi yang dinilai memiliki rekam jejak nyata serta dampak sosial yang terukur dalam isu keberlanjutan. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga,” ujarnya. “Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” lanjutnya. Bawakan Kontribusi Global Salis menuturkan, langkah menuju jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk membawa kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Sejumlah program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi pijakan penting. Pendekatan tersebut memang tidak secara langsung menyasar konservasi air, tetapi berdampak pada penjagaan ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Kegiatan pengembangan dan pemeliharaan Subak Bali oleh UMM. (Ist) Salah satu momentum penting terjadi saat tim UMM melakukan riset dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali. Wilayah dengan sistem pertanian Subak yang telah diakui sebagai warisan dunia itu menghadapi tantangan serius akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra UNESCO, UMM juga memiliki tanggung jawab konkret dalam mendukung pelestarian air. Rektor UMM (kanan) saat meresmikan program air bersih berbasis masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Ist) Upaya tersebut salah satunya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat mencari sumber air sekaligus memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Komitmen Berkelanjutan di Lingkungan Kampus Di internal kampus, komitmen keberlanjutan diterapkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan agar tidak terbuang sia-sia. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Bagi Salis, pengakuan dari UNESCO bukan sekadar capaian prestisius. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai amanah untuk terus berada di garis depan isu keberlanjutan, sejalan dengan visi Muhammadiyah tentang Berkemajuan. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya. (Djoko W) UNESCO Chair Universitas Muhammadiyah Malang Editor: Fitria Nurul Iman
UMM Dipercaya Jadi Chair UNESCO, Misi Besarnya Selamatkan Air untuk Masa Depan

Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co – Mulai tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem setelah melalui perjalanan panjang penguatan riset, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai daerah.Pengakuan tersebut diberikan melalui kemitraan resmi dengan UNESCO, lembaga internasional yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang dinilai mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan program keberlanjutan dunia. Menurutnya, posisi tersebut tidak mudah diraih karena membutuhkan rekam jejak nyata dalam riset dan dampak sosial. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga. Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ujarnya 27 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Salis menuturkan, upaya masuk dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama. Meski tidak secara langsung berfokus pada konservasi air, pendekatan tersebut terbukti mampu menjaga ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Momentum penting terjadi ketika tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali, wilayah yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Saat itu, pertanian terasering menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra, UMM memiliki kewajiban mendukung program UNESCO, terutama terkait pelestarian air. Salah satu implementasinya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat menemukan sumber air dan memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Di lingkungan kampus, komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air dipandang memiliki prioritas sesuai fungsi agar tidak terbuang percuma. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Terakhir, Salis menambahkan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di barisan terdepan dalam isu keberlanjutan. Nilai tersebut selaras dengan visi Muhammadiyah tentang “Berkemajuan”, yakni memikirkan masa depan generasi mendatang. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Bukan Sekedar Tradisi, Jadi Laboratorium Etika

Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag di Safari Ramadan UMM. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri.Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Takjil Ramadan Antimainstream, Agribisnis UMM Tebar Ratusan Paket Sayur ke Pengguna Jalan

KLIKMU.CO — Menjelang azan magrib berkumandang, ratusan paket sayur segar tersusun rapi di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan kolak, bukan es buah, dan bukan pula makanan siap santap seperti tradisi pembagian takjil pada umumnya. Ramadan kali ini, Program Studi Agribisnis UMM justru menghadirkan konsep berbeda dengan membagikan paket sayur segar kepada para pengguna jalan, Senin (24/2/2026). Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika takjil biasanya identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi” melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Program Studi Agribisnis UMM M. Zul Mazwan SP MSc menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut merupakan bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga menjadi salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Sebanyak 200 paket sayur berhasil disiapkan mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan. (Faqih/AS)
Inovasi Takjil Sehat: Agribisnis UMM Bagikan Sayur Segar untuk Buka Puasa

Malang (beritajatim.com) – Menjelang waktu berbuka puasa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pemandangan berbeda terlihat di kampus. Program Studi Agribisnis UMM membuat gebrakan unik dengan membagikan ratusan paket sayur mayur segar kepada para pengguna jalan. Jika biasanya takjil identik dengan makanan manis atau gorengan, kali ini mereka mengusung konsep yang lebih sehat dan bergizi. Kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial biasa. Dikenal sebagai “reformasi berbagi,” tujuan utama pembagian sayur segar ini adalah menggeser tradisi takjil yang berfokus pada makanan instan menuju bahan pangan sehat. Selain itu, kegiatan ini juga menarik perhatian warga Malang yang ikut merasakan manfaatnya. Untuk mewujudkan program ini, Agribisnis UMM menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan ini berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang dalam program Center of Excellence (CoE) untuk mendukung pengembangan ilmu agribisnis yang aplikatif di masyarakat. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa pembagian sayur ini merupakan wujud nyata dari penerapan nilai keilmuan agribisnis yang mengutamakan keberlanjutan dan ketahanan pangan. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan kami tidak hanya teoritis, tetapi aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ungkap Zul Mazwan, pada acara yang berlangsung pada Senin (24/2/2026). Salah satu keunikan dari kegiatan ini terletak pada cara pengemasan paket sayur. Sebanyak 200 paket sayur segar telah disiapkan, dengan setiap paket dikategorikan berdasarkan menu masakan tertentu, seperti Paket Sayur Sop, Paket Sayur Asem, Paket Sayur Bayam, dan Paket Capcay. Masyarakat yang menerima paket ini bisa langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka puasa yang praktis dan sehat. Konsep ‘satu paket, satu menu’ sengaja diterapkan agar masyarakat dapat dengan mudah mengolah bahan pangan yang diterima. Tak heran, dalam waktu singkat seluruh paket yang telah disiapkan ludes dibagikan, karena antusiasme yang luar biasa dari masyarakat yang ingin menikmati hidangan sehat untuk berbuka.
3 Kampus PTMA Masuk 5 Besar PTS Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Awal 2026

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil masuk jajaran 5 besar kampus swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics di awal tahun 2026 ini. Selain itu, ada juga Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang berhasil masuk jajaran 10 besar. Sebagai informasi, Webometrics adalah situs independen untuk pemeringkatan kampus secara global, yang tidak hanya berfokus terhadap penelitian, tetapi juga mengevaluasi kampus berdasarkan aspek digital, pengaruh akademik, keterbukaan, serta visibilitas global mereka. Dalam penilaiannya, Webometrics menggabungkan indikator visibilitas atau dampak berdasarkan jumlah domain rujukan eksternal sebesar 50%; transparansi atau keterbukaan dengan kutipan dari 310 peneliti yang paling banyak dikutip (tidak termasuk 20 peneliti yang paling banyak dikutip) berdasarkan profil Google Scholar, dengan bobot penilaian sebesar 10%; serta parameter keunggulan berupa makalah penelitian dalam 10% teratas yang paling banyak dikutip (2019–2023) berdasarkan Scopus / Scimago, dengan bobot penilaian sebesar 40%. Pengumpulan data yang dilakukan disebut mencakup lebih dari 32.000 institusi yang tersebar di lebih dari 200 negara. Data tersebut diperbarui sebanyak dua kali dalam setahun, pada Januari dan Juli. Kampus PTMA Tembus 5 Besar dan 10 Besar Berdasarkan data terbaru yang diperbarui Webometrics pada Januari 2026, UMY menjadi Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) yang mampu menduduki peringkat 3 kampus swasta tanah air, dengan menempati rangking 18 secara nasional baik negeri maupun swasta, serta berada di urutan 1760 secara internasional. Jika dilihat dari indikator yang ditetapkan Webometrics, UMY di urutan 1277 untuk visibilitas dan dampak, urutan 1729 untuk keterbukaan atau transparansi, serta peringkat 3093 untuk keunggulan. Selanjutnya, ada UMM yang secara visibilitas dan dampak menempati urutan 915, secara keterbukaan atau transparansi di urutan 1515, dan secara keunggulan di urutan 3645. Hal itu mengantarkan UMM bercokol sebagai PTS terbaik ke-4 di Indonesia, dengan rangking nasional di peringkat 21 dan rangking internasional di peringkat 1896. Kemudian, UMS secara visibilitas dan dampak menempati urutan 2035, secara keterbukaan atau transparansi di urutan 1302, dan secara keunggulan di urutan 3899. Penilaian tersebut membuat UMS berada di urutan 5 PTS terbaik tanah air, dengan menempati rangking 25 secara nasional dan 2248 secara internasional. Tak cuma itu, ada juga UAD yang mampu menempati urutan ke-10 kampus PTS terbaik tanah air, dengan menduduki peringkat nasional urutan ke 40 dan rangking internasional di nomor 2900. Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Bina Nusantara (Binus) University: nasional 11 / internasional 1268 Telkom University: nasional 13 / internasional 1310 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY): nasional 18 / internasional 1760 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): nasional 21 / internasional 1896 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS): nasional 25 / internasional 2248 Universitas Medan Area (UMA): nasional 27 / internasional 2393 Universitas Pelita Harapan (UPH): nasional 33 / internasional 2553 Universitas Kristen Satya Wacana: nasional 36 / internasional 2688 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar): nasional 39 / internasional 2892 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta: nasional 40 / internasional 2900 Universitas Gunadarma: nasional 41 / internasional 2921 Universitas Islam Indonesia (UII): nasional 45 / internasional 2997 Universitas Islam Malang (Unisma): nasional 46 / internasional 3114 Universitas Islam Sultan Agung Semarang: nasional 49 / internasional 3173 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa): nasional 52 / internasional 3233 Universitas Mercu Buana (UMB): nasional 53 / internasional 3263 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya: nasional 54 / internasional 3285 Universitas Surabaya (Ubaya): nasional 56 / internasional 3340 Universitas Sanata Dharma: nasional 62 / internasional 3520 Universitas Teknokrat Indonesia: nasional 63 / internasional 3596
Mahasiswa UMM Sabet Medali Perak di Malaysia Lewat Inovasi AI Pencegah Komplikasi Kehamilan

KUALA LUMPUR, TEROPONGMEDIA.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Indonesia di kancah internasional. Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih medali perak (Silver Medal) dalam ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang digelar di Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia, pada 14–15 Februari 2026. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM memperkenalkan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di bidang kesehatan ibu dan anak bertajuk NEOSENTIA (Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System). Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi risiko komplikasi kehamilan secara real time melalui pendekatan non-invasif. Ketua tim, Vera Miftakul Rahma Kamal, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap tingginya angka komplikasi kehamilan akibat keterlambatan deteksi dini. “Kami ingin menghadirkan sistem yang mampu membantu ibu hamil dan tenaga medis dalam memantau kondisi kehamilan secara real time, sehingga risiko komplikasi bisa dicegah sejak dini,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM, Jumat (27/2/2026). Sistem NEOSENTIA bekerja dengan mengintegrasikan data dari perangkat wearable, laporan gejala mandiri ibu hamil, serta rekam medis elektronik. Dengan teknologi ini, potensi komplikasi dapat terdeteksi lebih awal sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan intervensi secara cepat dan tepat. Pembimbing tim, dr. Desy Andari, M.Biomed., menilai inovasi tersebut memiliki potensi besar untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan. “Pendekatan non-invasif dan berbasis AI ini sangat relevan untuk menjawab tantangan layanan kesehatan ibu di wilayah dengan akses tenaga medis yang terbatas,” katanya. Keunggulan lain dari NEOSENTIA adalah fitur multibahasa, yang memungkinkan aplikasi ini digunakan secara luas, termasuk di komunitas dengan tingkat literasi kesehatan yang beragam. Hal ini menjadikan inovasi tersebut tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga relevan secara sosial. Ajang ISC 2026 sendiri diikuti oleh lebih dari 100 tim finalis dari delapan negara Asia dan Afrika. Capaian ini menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global dengan inovasi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Keberhasilan tim UMM ini sekaligus menjadi bukti bahwa pengembangan teknologi berbasis AI di sektor kesehatan memiliki potensi besar dalam menekan risiko komplikasi kehamilan serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, khususnya di negara berkembang.
Ramadan Jadi Momentum Penguatan Spiritualitas dan Intelektualitas di UMM

MAKLUMAT – Di tengah atmosfer Ramadan yang sarat refleksi, ratusan sivitas akademika memadati Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM itu tak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi forum konsolidasi nilai, yakni menguatkan spiritualitas sekaligus intelektualitas di lingkungan kampus. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual seremonial. Ramadan, menurutnya, harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya di hadapan peserta pengajian. Konsep Ilmu dan Keimanan Ia mengingatkan, orang pintar tanpa takwa bisa menjadi bencana bagi dunia. Ilmu yang tidak dibimbing iman berpotensi melahirkan kesombongan, bahkan kehancuran. Kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak selalu disertai integritas moral. Bagi Dadang, spiritualitas dan intelektualitas tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna jika tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Ia juga menyoroti paradoks kehidupan beragama saat ini. Aktivitas ritual meningkat, tetapi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan turunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Problem umat, katanya, bukan minimnya ibadah, melainkan lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Spiritualitas Bukan Soal Konsep Dalam konteks itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus hadir sebagai etos perubahan. Bukan sekadar wacana normatif, melainkan gerakan yang menyentuh struktur sosial. Penguatan SDM pun menjadi bagian penting dalam pengajian tersebut. Dadang menekankan tradisi membaca dan belajar sebagai fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu penyebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. “Penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” tegasnya. Spiritualitas dan Kepedulian Sosial Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi kolektif bagi kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar perguruan tinggi tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Pengajian ini bukan soal forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai. Di sini spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan,” ujarnya. Melalui momentum Ramadan, UMM berupaya meneguhkan jati diri sebagai kampus yang tak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga berintegritas. Di tengah tantangan zaman, perpaduan iman dan ilmu menjadi fondasi agar kecerdasan tidak kehilangan arah, dan spiritualitas tidak berhenti pada simbol semata.
Ramadan dan Polemik Rakaat Tarawih, Pakar UMM Ungkap Sejarah Ijtihad di Balik Perbedaan

pwmu.co – Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah.Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif, dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari al-Quran, Sunnah, ijma’, dan qiyas. Al-Quran memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda, sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa, lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa, kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan. Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim