Prof Dadang Kahmad Kritik Ibadah Ritual Tanpa Dampak Sosial

KLIKMU.CO – Orang pintar tanpa bertakwa kepada Allah SWT bisa menjadi bencana bagi dunia. Demikian pesan Prof Dr H Dadang Kahmad MSi dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menekankan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. Baginya, Ramadan adalah momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya. Dia menegaskan, takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi menjadi karakter sosial. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Di situlah agama benar-benar hidup dalam realitas, bukan sekadar simbol. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Terjadi paradoks ketika aktivitas ibadah meningkat, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik,” paparnya. Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya. Dadang mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merendahkan dan mencaci orang lain. Dari sinilah pentingnya integritas intelektual ditegaskan. Ilmu tanpa iman, menurutnya, dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak dibimbing nilai takwa. Jika intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi. Karena itu, spiritualitas dan intelektualitas harus senantiasa ditautkan. Dalam konteks peningkatan SDM, ia menekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. “SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial adalah napas Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa. Pengajian ini tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai, tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya. (Faqih/AS)
Cara Unik Prodi Agribisnis UMM Bagi Takjil Ramadan Sayur-Mayur ke Pengguna Jalan

Malang, Tugumalang.id – Program Studi Agribisnis UMM punya cara unik dalam menjalankan tradisi bagi-bagi takjil ketika Ramadan. Jika biasanya yang dijadikan adalah makanan minuman siap saji, Prodi Agribisnis membagikan sayur-mayur kepada pengguna jalan. Aksi unik yang dilakukan pada 24 Februari 2026 lalu itu pun kontan menuai perhatian masyarakat. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Paket sayur segar yang dibagikan juga telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. Kegiatan ini, jelas dia merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. ”Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya. Dalam kegiatan itu, sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. ”Kami sudah paketkan sayur-mayurnya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.
UMM Luncurkan Sistem Pengolahan Sampah Terpadu di TPS Kampus: Langkah Nyata Menuju Zero Waste

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen nyata sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak dengan meluncurkan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya merespons meningkatnya persoalan sampah dan krisis lingkungan, tetapi juga memperkuat target pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta mendukung penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Sistem ini menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Berdasarkan laporan kegiatan, UMM dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Komposisi sampah meliputi plastik sekitar 45 persen (sekitar 540 kg/hari), limbah organik terkontaminasi plastik sekitar 360 kg (30 persen), dan limbah ranting mencapai 300 kg (25 persen). Sebelumnya TPS hanya menjadi tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan, sehingga banyak sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus. Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa kebutuhan menunjukkan adanya pengelolaan lingkungan yang terukur untuk evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” katanya pada 21 Februari lalu. Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM, unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, dan kerja sama dengan berbagai lembaga. Proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” ujar Iis. Tiga alat utama yang dipasang meliputi: 1. Mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam, menghasilkan serpihan 5–10 mm untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik. 2. Mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam, menghasilkan serbuk biomassa sebagai media tanam atau kompos. 3. Alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan 90–92 persen. Sistem ini dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dimasukkan langsung ke mesin pemilah beserta kantong plastiknya. Plastik ringan terlempar ke bagian belakang, sedangkan sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan. Iis menambahkan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena TPS berada di area lereng, sehingga tidak memerlukan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa dan bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya. Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini memiliki potensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, dan menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Syarat Beasiswa Prestasi Akademik dan Non-akademik UMM 2026

KOMPAS.com – Pendaftaran program Beasiswa Prestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 akan dibuka kembali. Berdasarkan informasi di situs UMM, pendaftaran periode II akan dibuka tanggal 1 April dan ditutup 25 Juni 2026 mendatang. Beasiswa Prestasi UMM bertujuan untuk mengapresiasi talenta muda yang unggul di bidang akademik maupun non-akademik untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Beasiswa Prestasi dibuka untuk seluruh Program Studi dan Fakultas, kecuali Fakultas Kedokteran dan Farmasi. Siswa yang diterima melalui jalur Prestasi Akademik atau Non-akademik akan mendapatkan beasiswa berupa Potongan BSS semester 1 mulai dari 50 hingga 75 persen sesuai dengan pilihan program studi. Beasiswa jalur akademik dan non-akademik UMM 1. Prestasi Akademik Diperuntukkan bagi siswa yang memiliki nilai rapor yang konsisten. Rata-rata nilai rapor harus minimal 80 dari semester 1 hingga semester 5. Khusus yang mendaftar Prodi Psikologi, nilai rata-rata rapor minimal 85. 2. Prestasi Non-akademik Cocok bagi siswa yang yang aktif di luar kelas pada bidang bakat seperti di bidang olahraga, seni, karya ilmiah, pengurus organisasi, dan keagamaan (termasuk Hafidz 10 Juz). Minimal di tingkat Kota atau Kabupaten yang dibuktikan dengan piagam penghargaan atau sertifikat. Untuk influencer (konten creator) youtuber dengan subscriber minimal 5.000 dan selebgram dengan follower minimal 10.000 dengan kriteria konten yang kreatif, edukatif dan positif. Syarat pendaftaran 1. Mengunggah foto nilai rapor semester 1 – 5 jadi 1 file bentuk PDF untuk Prestasi Akademik 2. Foto copy piagam/sertifikat prestasi minimal Tingkat Kota/Kabupaten (Bagi pendaftar Jalur Non Akademik/ Minat Bakat) yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah atau Pengurus Daerah/Club. 3. Surat Keterangan Dokter tidak buta warna (Program Studi Biologi, Matematika dan PGSD) 4. Khusus Prodi D3 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi, tinggi badan minimal laki laki 155 cm dan perempuan 150 cm dan tidak tuna fisik 5. Hasil seleksi Jalur Prestasi Akademik dan Non Akademik dapat dilihat di laman online.umm.ac.id secara berkala setelah proses validasi tim seleksi. 6. Tes Kesehatan di RS UMM atau menunjukkan hasil Tes kesehatan dari RS Pemerintah Daerah Setempat atau RS Muhammadiyah). Demikian informasi mengenai beasiswa di UMM baik jalur prestasi akademik dan non-akademik yang bisa dimanfaatkan calon mahasiswa.
Unik, Mahasiswa Agribisnis UMM Bagikan Sayuran Segar Sebagai Menu Berbuka

metrotvnews, Malang: Suasana di depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur, tampak berbeda dari biasanya saat menjelang waktu berbuka puasa. Tak ada kolak atau minuman manis seperti tradisi takjil pada umumnya. Program Studi Agribisnis UMM justru membagikan bahan pangan segar sebagai menu berbuka dan menghadirkan konsep berbagi unik yang tak biasa di bulan Ramadan. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujar Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M Zul Mazwan, Jumat 27 Februari 2026. Langkah ini menjadi semacam “reformasi takjil” di lingkungan kampus. Alih-alih makanan instan, masyarakat menerima paket sayur yang sudah dirancang untuk diolah menjadi hidangan sehat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari jejaring Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendorong kolaborasi kampus dan industri. Ratusan paket sayur segar dibagikan kepada para pengguna jalan yang melintas di depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur. Dokumentasi/ istimewa. Kolaborasi ini memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan tetap terjaga. Di sisi lain, mahasiswa mendapat pengalaman langsung memahami rantai agribisnis dari hulu ke hilir. Sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan mahasiswa untuk kegiatan tersebut. Dalam waktu singkat, seluruh paket ludes dibagikan yang menandakan respons positif dari masyarakat. Keunikan lain terletak pada konsep pengemasan yang berbasis satu menu masakan. Setiap paket telah disesuaikan menjadi satu hidangan lengkap, mulai dari sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcai. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambah Zul Mawan. Ratusan paket sayur segar dibagikan kepada para pengguna jalan yang melintas di depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur. Dokumentasi/ istimewa. Inisiatif ini menegaskan bahwa sektor pertanian tidak sekadar berbicara soal produksi komoditas. Di tangan akademisi dan mahasiswa, pertanian juga bisa menjadi medium edukasi ketahanan pangan sekaligus kampanye gaya hidup sehat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian tersebut diharapkan terus berlanjut. Agribisnis UMM ingin menjadikannya sebagai ciri khas kontribusi sosial kampus yang menyatukan ilmu, kemitraan industri, dan nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.
UMM Resmi Jadi Chair UNESCO, Misi Besarnya Selamatkan Air untuk Masa Depan

Mulai tahun 2026, Universitas Muhammadiyah Malang (Universitas Muhammadiyah Malang) resmi dipercaya menjadi Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem setelah melalui perjalanan panjang penguatan riset, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai daerah. Pengakuan tersebut diberikan melalui kemitraan resmi dengan UNESCO, lembaga internasional yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang dinilai mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan program keberlanjutan dunia. Menurutnya, posisi tersebut tidak mudah diraih karena membutuhkan rekam jejak nyata dalam riset dan dampak sosial. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita hitungannya yang ketiga. Bergabungnya UMM menandai langkah strategis kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ujarnya 27 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Salis menuturkan, upaya masuk dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi kampus untuk menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama. Meski tidak secara langsung berfokus pada konservasi air, pendekatan tersebut terbukti mampu menjaga ekosistem air secara menyeluruh. “Kita memang tidak secara khusus merawat air, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan itu akhirnya kita menyelamatkan air. Dari yang awalnya dibuang-buang, sekarang diperhatikan,” katanya. Momentum penting terjadi ketika tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Tabanan, Bali, wilayah yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Saat itu, pertanian terasering menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida dan alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” ungkapnya. Sebagai mitra, UMM memiliki kewajiban mendukung program UNESCO, terutama terkait pelestarian air. Salah satu implementasinya dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menerjunkan puluhan dosen untuk membantu masyarakat menemukan sumber air dan memperkuat ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya. Di lingkungan kampus, komitmen tersebut diwujudkan melalui pengelolaan air berbasis hierarki penggunaan. Air dipandang memiliki prioritas sesuai fungsi agar tidak terbuang percuma. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya. Terakhir, Salis menambahkan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di barisan terdepan dalam isu keberlanjutan. Nilai tersebut selaras dengan visi Muhammadiyah tentang “Berkemajuan”, yakni memikirkan masa depan generasi mendatang. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tetapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang sustain, termasuk air,” pungkasnya.(faq) Penulis; Faqih Ahmad Wafir Rahman
Unik! Bagi Takjil Ramadan, Agribisnis Bagikan Sayur Mayur ke Pengguna Jalan

Menjelang azan magrib berkumandang, ratusan paket sayur segar tersusun rapi di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan kolak, bukan es buah, dan bukan pula makanan siap santap seperti tradisi pembagian takjil pada umumnya. Ramadan kali ini, Program Studi Agribisnis UMM justru mengajak masyarakat berbuka puasa dengan cara berbeda dengan membagikan sayur kepada para pengguna jalan pada 24 Februari lalu. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika sebelumnya takjil identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi” melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Sebanyak sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.(*rik/faq) Penulis: Roudhoutul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Sekadar Percantik Kampung, KKN UMM Angkat Kualitas Warga Jodipan di Sektor Wisata

Sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui program pengabdian. Spirit tersebut tercermin dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai ruang implementasi gagasan kreatif, teknologi adaptif, dan pemberdayaan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, UMM mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu membaca potensi lokal sekaligus menguatkannya secara strategis. Kampus putih yang konsisten mengusung semangat inovasi dan kemandirian, mahasiswa KKN UMM kembali menghadirkan gagasan strategis untuk menghidupkan potensi wisata lokal. Melalui program di Kampung Warna-Warni Jodipan, tim KKN tidak hanya memperkuat aspek estetika kawasan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas warga sebagai pelaku utama pariwisata. Ketua Kelompok 13, Muhammad Syahva Putra Disa Rizki yang akrab disapa Syahva memimpin perumusan program berbasis pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kampung wisata membutuhkan sentuhan ide kreatif agar tetap hidup, relevan, dan mampu bersaing di tengah perkembangan zaman. Program kerja yang dijalankan meliputi Speaking Color, Sparkling Jodipan, dan Jodipan Clay. Speaking Color difokuskan pada pembelajaran bahasa sederhana bagi anak-anak agar lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan. Program ini dinilai penting karena kemampuan komunikasi menjadi kunci utama dalam sektor pariwisata. “Program ini kami rancang untuk membantu memberdayakan warga, terutama agar mereka lebih siap dan percaya diri dalam menyambut serta berinteraksi dengan wisatawan,” ujar Syahva. Sementara itu, Sparkling Jodipan dan Jodipan Clay diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi kreatif. Mahasiswa mendorong warga mengemas produk sederhana seperti minuman dan suvenir agar memiliki nilai tambah serta daya tarik baru bagi pengunjung. Upaya tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat sirkulasi ekonomi lokal berbasis kreativitas warga. Program unggulan yang paling mencuri perhatian adalah Warna Digital Jodipan. Inovasi ini menghadirkan kode QR pada mural-mural kampung. Setiap kode terhubung dengan cerita di balik lukisan, mulai dari tradisi lama masyarakat hingga simbol identitas lokal Malang. “Karena setiap lukisan memiliki QR tersendiri, pengunjung dapat langsung mengakses penjelasan, sehingga mereka tidak hanya menikmati visualnya, tetapi juga memahami arti di balik karya tersebut,” jelasnya. Digitalisasi narasi mural tersebut menghadirkan pengalaman wisata yang lebih edukatif. Pengunjung tidak sekadar berfoto, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa UMM dalam memadukan kreativitas, teknologi, dan kearifan lokal secara adaptif. Sebuah cerminan karakter kampus yang mendorong integrasi ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan sosial menjadi fondasi utama pelaksanaan program. Mahasiswa membangun kedekatan dengan warga melalui dialog santai, membeli produk lokal, hingga mendampingi anak-anak belajar pada malam hari. Cara ini memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program berjalan partisipatif. Menurut Syahva, perubahan paling nyata terlihat dari meningkatnya kesiapan warga dalam menyambut wisatawan secara lebih profesional. Ia mengamati adanya perkembangan dalam cara warga berkomunikasi, memberikan informasi, serta membangun kesan pertama yang positif bagi pengunjung. Hal tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya tarik Jodipan sebagai destinasi yang ramah dan edukatif. “Kini warga lebih percaya diri saat berinteraksi dengan wisatawan, karena bahasa dan cara menyambut tamu adalah kunci utama bagi kampung wisata seperti Jodipan,” terangnya. Dosen pembimbing, Jamroji, S.Sos., M.Comms., menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan aktivasi kawasan wisata. Ia menyebut mahasiswa didorong untuk berpikir kreatif, adaptif, dan berorientasi pada solusi nyata yang berkelanjutan, selaras dengan visi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang terukur. Program-program yang telah dirintis selanjutnya diserahkan kepada warga untuk dikelola secara mandiri. Tim KKN juga membuka ruang komunikasi lanjutan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik. Melalui KKN tematik ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak. Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa gagasan, membangun kolaborasi, serta meninggalkan fondasi pemberdayaan yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Ramadan dan Polemik Rakaat Tarawih, Pakar UMM Ungkap Sejarah Ijtihad di Balik Perbedaan

Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah. Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif, dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas. Al-Qur’an memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda, sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa, lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa, kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan. Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa di Malang Buat Mesin Pengering Gabah

Penulis : KompasTV Malang MALANG, KOMPAS.TV – Bed dryer adalah mesin pengering gabah karya empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang. Mesin pengering gabah ini bekerja dengan cara menyalurkan udara panas ke dalam sebuah wadah yang berisi gabah basah. Suhu panas dalam mesin juga dijaga di kisaran 40°C hingga 50°C. Udara panas ini dihasilkan dari tungku pembakaran dan ditiup dengan kipas angin. Uniknya dalam proses pembakaran, alat ini menggunakan minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai. Malikul Arifin, salah satu perancang mesin pengering ini menjelaskan, saat ini mayoritas petani mengandalkan sinar matahari untuk menjemur gabah dan hal tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca. Menurutnya, dengan mesin ini petani bisa mengeringkan gabah meski tanpa sinar matahari. Selain itu waktu pengeringan gabah juga menjadi lebih singkat yakni 8 jam untuk 500 kilogram gabah basah. “Kita melihat permasalahannya dari petani, karena buat pengeringannya membutuhkan waktu yang lama. Selain kita mempersingkat waktu, kita juga bisa melewati kendala cuaca buruk.” Kata Malik Selain untuk gabah, tidak menutup kemungkinan alat ini bisa digunakan untuk mengeringkan hasil panen lainnya seperti kopi. Mahasiswa berharap mesin yang mereka buat bisa membantu meningkatkan hasil panen petani.