KKN Tematik UMM Luncurkan KRPL Karang Kitri dan Toga RW 2 Polowijen dalam Festival Kampung Budaya Polowijen #9

Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) merupakan program pemanfaatan pekarangan rumah secara berkelanjutan untuk budidaya tanaman pangan, sayur, buah, serta tanaman obat keluarga (toga). Konsep ini menekankan kemandirian pangan berbasis rumah tangga, optimalisasi lahan sempit perkotaan, serta penguatan gizi keluarga melalui hasil tanam mandiri. Bagi wilayah perkotaan seperti Polowijen yang memiliki keterbatasan ruang, inovasi pemanfaatan lahan menjadi solusi strategis dan berkelanjutan. Kegiatan penanaman ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Polowijen, Ketua PKK RW 02, serta Ketua PKK RT 03 RW 02. Keterlibatan aktif unsur PKK menunjukkan sinergi kelembagaan dalam membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan keluarga berbasis partisipasi warga. Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. (HO/KLIKTIMES.COM) Amalia Safitri Ketua PKK RW 03 Kelurahan Polowijen merasa senang bahwa mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen berkontribusi terhadap lingkungan baik memalui Posyandu dan penyediaan lahan KRPL RW 02 Kelurahan Polowijen “Tanaman ini bukan sekedar penanda bahwa kelompok kami siap mengkuti lomba kampung bersinar Kota Malang 2026 tapi jauh dari itu kita akan kembali membudayakan tanama pangan dan toga di ilingkungan kita agar lebih bermanfaat pada semuanya” kedepan kita juga akan kembangkan green house yang lebih luas dilingkungan ini juga Ungkap Fitri Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. Mahasiswa turut mendampingi pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman obat-obatan, sekaligus memberikan edukasi pengelolaan sederhana namun produktif. Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, langkah ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, produktif, dan ramah lingkungan. Program KRPL tidak hanya berdampak pada aspek pangan dan kesehatan keluarga, tetapi juga memperkuat indikator kebersihan, kerapian, inovasi, serta partisipasi masyarakat — unsur penting dalam penilaian Lomba Kelurahan Bersinar. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya. (HO/KLIKTIMES.COM) “Kami berharap KRPL ini dapat di rawat oleh ibu ibu PKK sehingga kalo tahun ini diikutkan lomba Kelurahan bersinar kami akan ikut senang, nanti kami juga ikut memanta dan membantu merawat secara berkelanjutan”. Tambah Putra Bayu Wakil Ketua kelompok 14 mahasiswa Hukum UMM. Acara dilanjutkan dengan Workshop Busana Khas Malang yang meliputi pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik memakai jarik, bersanggul, serta penggunaan Udeng Malang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap busana tradisi sebagai identitas budaya daerah. Siang Hari, digelar Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan pentas tari, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai upaya regenerasi seni tradisi. Yang isinya tari topeng tari tradisional dan tari kreasi dari KBP, Sanggar Jejeg Wira dan Miben Voice Pada sore hari berlangsung prosesi Megengan, meliputi mocopatan, launching KBP Digital, penandatanganan MoU antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan Megengan sebagai ungkapan syukur dan doa bersama menyambut bulan suci. Festival ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng Malang, yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Tak ketingggalan juga dalam waktu bersamaan ada kegiatan pentas seni budaya dari kelompok bantengan Bantala Winoro Mukti binaan RW 02 Kelurahan Polowijen serta bazar makanan yang turut memeriahkan acara di Polowijen sebagai salah satu pusat seni budaya. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Teliti Transformasi Militer, Mantan Menteri Timor Leste Sandang Gelar Doktor di UMM

Julio Tomas Pinto meraih gelar Doktor Sosiologi Militer di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan disertasi tentang profesionalisasi militer pascakonflik. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO — Transformasi militer dari pasukan perjuangan menjadi tentara profesional menjadi fokus utama Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (14/2/2026). Disertasinya menelaah proses profesionalisasi militer Timor Leste sebagai elemen penting dalam konsolidasi demokrasi dan menjaga stabilitas pascakonflik. Kajian ini menyoroti perubahan struktur dan budaya institusi militer, sekaligus dinamika hubungan antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam transisi politik. Julio yang merupakan mantan menteri pertahanan Timor Leste memiliki sejarah panjang dengan UMM. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998. “Ketika saya punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain sudah mengenal kultur akademiknya, saya tertarik dengan Sosiologi Militer dan dibimbing langsung Prof Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” tuturnya. Ujian promosi doktor dihadiri sivitas akademika dan sejumlah pejabat penting Timor Leste, antara lain Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, serta mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay. Kehadiran mereka menegaskan relevansi strategis disertasi tersebut bagi pembangunan negara. Dalam pemaparannya, Julio menekankan bahwa sosiologi militer melihat militer bukan sekadar institusi pertahanan, tetapi juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan relasi kuasa yang terus berkembang. Ia menelusuri transformasi militer Timor Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam sistem demokratis. “Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik berbeda dengan negara besar. Transformasi ini bukan penghapusan total identitas lama, tetapi redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras tuntutan institusi modern,” jelasnya. Dia menekankan bahwa profesionalisasi militer adalah proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar reformasi struktural. Pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, terjadi perdebatan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer profesional baru. Timor Leste memilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Krisis politik 2006 menjadi momentum penting yang mempercepat pembentukan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil dalam tubuh militer. “Temuan utama menunjukkan profesionalisme militer berkembang melalui negosiasi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, dan tekanan internasional menjadi katalis perubahan. Militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujarnya. Promotor disertasi Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menilai penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi kajian sosiologi militer di Asia Tenggara. Profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi. “Identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi, kepercayaan publik, dan memperkuat posisi militer dalam sistem demokratis,” ungkapnya. (Faqih/AS)
UMKM Desa Masih Gaptek, KKN UMM Hadir Bawa Solusi Digital Marketing

Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang menuntut pelaku usaha kecil beradaptasi cepat, UMKM desa masih kerap tertinggal dalam akses pasar dan penguasaan teknologi. Menjawab isu tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi desa lewat program pelatihan penjualan produk UMKM berbasis digital. Tidak sekadar menghadirkan sosialisasi digital marketing, mereka juga merancang skema pendampingan jangka panjang hingga menggagas pembentukan Klinik UMKM sebagai ruang konsultasi terbuka bagi warga di Desa Beji, Kota Batu. Program ini berangkat dari kuatnya potensi lokal. Desa Beji dikenal memiliki beragam produk unggulan berbasis olahan tempe, mulai dari tempe mentah, abon tempe, keripik tempe, hingga batik tempe. Selain itu, terdapat pula produk jamu, mie tempe, dan susu kedelai yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Namun, sebagian besar pelaku usaha masih memasarkan produk secara konvensional dan terbatas pada jaringan pribadi. Ketua Tim KKN Desa Beji, Muhammad Fachri, mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial angkatan 2023, menegaskan bahwa penguatan digital branding menjadi fokus utama program karena dinilai mampu membuka akses pasar lebih luas. “Potensi UMKM di Desa Beji sebenarnya besar, tetapi pemasarannya masih terbatas. Karena itu kami fokus membangun fondasi dasarnya, mulai dari branding hingga pendampingan penggunaan media sosial,” ujarnya, 17 Februari lalu. Program kerja diawali melalui sosialisasi digital marketing yang melibatkan belasan pelaku UMKM. Instagram diperkenalkan sebagai media promosi yang mudah diakses dan memiliki jangkauan pasar luas. Namun sebelum optimalisasi platform, mahasiswa lebih dulu mendampingi warga dalam penguatan visual melalui pelatihan foto produk. Pelatihan tersebut mencakup teknik pengambilan gambar, pencahayaan sederhana, hingga pembuatan konten video promosi. Warga diajak memahami bahwa tampilan visual menjadi kunci membangun kepercayaan konsumen di ruang digital. Pendampingan dilakukan bertahap, mulai dari diskusi kelompok hingga kunjungan langsung ke lokasi usaha. Hingga kini, enam UMKM aktif terlibat, di antaranya produsen batik tempe, keripik tempe, tempe mentah, mie tempe, dan susu kedelai. Meski program masih berjalan, perubahan mulai terlihat dari meningkatnya antusiasme serta kesadaran pelaku usaha untuk membangun branding yang lebih profesional. Sebagai langkah keberlanjutan, mahasiswa menggagas pembentukan Klinik UMKM Desa Beji. Klinik ini dirancang sebagai ruang konsultasi pemasaran, branding, hingga pengembangan usaha yang dapat diakses warga meski masa KKN telah berakhir. “Harapan kami, UMKM Desa Beji bisa naik kelas—baik dari sisi promosi, kualitas, maupun branding. Klinik ini kami rancang agar pendampingan tetap berjalan setelah KKN selesai,” tambah Fachri. Dosen Pembimbing Lapang, Moch Fuad Nasvian, M.I.Kom., menilai pelatihan marketing online merupakan kebutuhan mendasar, terutama dalam membangun pola pikir adaptif pelaku UMKM terhadap perkembangan zaman. “Teknis digital marketing bisa dipelajari dari internet atau YouTube, tetapi membangun mindset adaptif butuh pendampingan. Alhamdulillah, teman-teman KKN berhasil memulai tahapan awalnya tahun ini,” ungkapnya. Ia juga berharap inisiatif tersebut dapat dikembangkan lebih sistematis oleh universitas, baik melalui desa binaan maupun layanan berbasis kampus. Melalui program ini, mahasiswa KKN menegaskan perannya sebagai agen transformasi sosial. Tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan solusi berorientasi keberlanjutan. Pelatihan penjualan online dan rintisan Klinik UMKM menjadi langkah konkret mendorong UMKM Desa Beji lebih adaptif, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Gelar Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto: Disertasi Transformasi Militer Timor-Leste

MALANG POST – Transformasi militer dari kekuatan perjuangan menuju tentara profesional menjadi fokus utama dalam Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto yang digelar di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang pada 14 Februari 2026. Melalui disertasinya, ia menelaah proses profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai elemen penting dalam menopang konsolidasi demokrasi dan menjaga stabilitas negara pascakonflik. Kajian tersebut menyoroti perubahan mendasar pada struktur dan budaya institusi militer, sekaligus mengurai dinamika hubungan antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam proses transisi politik. Perjalanan akademik Julio memiliki keterkaitan erat dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada 1993, ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, dan lulus pada 1998. “Ketika saya sudah mulai punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain di sini saya sudah kenal kultur akademiknya, saya juga tertarik dengan Sosiologi Militer dan minta dibimbing oleh pakarnya, Prof. Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” ujar Julio. Ujian promosi doktor tersebut tidak hanya dihadiri sivitas akademika, tetapi juga sejumlah pejabat penting dari Timor-Leste. Diantaranya Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, Wakil Menteri Urusan Parlemen sekaligus mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay, Executive Director Human Capital Development Fund Julio Aparicio, serta Deputy Director Human Capital Development Fund Rogerio Lay. Kehadiran mereka memberikan perspektif diplomatik sekaligus menegaskan relevansi strategis tema disertasi tersebut bagi pembangunan negara. Dalam pemaparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer tidak hanya memandang militer sebagai institusi pertahanan, tetapi juga sebagai entitas sosial yang memiliki struktur, budaya, dan relasi kuasa yang terus berkembang. Ia menelusuri transformasi militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam sistem negara demokratis. “Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi militer Timor-Leste bukan penghapusan total identitas lama, tetapi proses redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menempatkan profesionalisasi militer sebagai proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar reformasi struktural. Menurutnya, dalam banyak negara pascakonflik, profesionalisme militer sering kali dimaknai sebatas modernisasi peralatan dan sistem komando. Padahal, tantangan terbesar justru terletak pada pembentukan kultur institusi, legitimasi publik, serta peneguhan kontrol sipil dalam sistem demokrasi. Julio juga menjelaskan bahwa pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, terjadi perdebatan mengenai pilihan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer profesional yang sepenuhnya baru. Timor-Leste kemudian memilih jalan tengah, yakni mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Ia juga menyoroti krisis politik 2006 sebagai momentum penting yang mempercepat pembentukan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil dalam tubuh militer. “Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik berkembang melalui negosiasi antara struktur institusional modern dan nilai-nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, serta tekanan internasional turut berperan sebagai katalis perubahan. Dalam konteks ini, militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujar Julio. Sementara itu, salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian sosiologi militer, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Ia menilai penelitian ini menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana militer di negara pascakonflik bertransformasi melalui proses sosial yang kompleks. Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari proses demokratisasi. Ia menegaskan bahwa militer dapat berkembang menjadi institusi profesional tanpa harus memutus akar sejarah perjuangannya. Justru, identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi dan kepercayaan publik, sekaligus memperkuat posisi militer dalam sistem negara demokratis. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
UMM Hadirkan Sarana Air Bersih Berbasis Kearifan Lokal di NTT

Rektor UMM meresmikan sarana air bersih berbasis masyarakat PASIMAS Fetomone di Desa Tliu, Timor Tengah Selatan, NTT. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik MSi meresmikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PASIMAS) Fetomone di Desa Tliu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada 10 Februari. Program ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan akses air bersih berkelanjutan di wilayah yang selama ini dikenal memiliki tantangan serius dalam ketersediaan sumber air. Program tersebut merupakan hasil kerja sama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Danone Indonesia, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, serta UMM dan Universitas Muhammadiyah Kupang. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan dasar masyarakat hanya dapat diselesaikan melalui sinergi lintas sektor. Peresmian berlangsung khidmat dan sarat nilai kearifan lokal. Rombongan disambut langsung oleh ketua adat Desa Tliu, diiringi tarian serta sambutan khas suku setempat sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat kepada para tamu. Suasana tersebut menggambarkan keterbukaan masyarakat desa terhadap program pembangunan yang berangkat dari kebutuhan riil warga. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Manado menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pembangunan fisik. “Air adalah sumber kehidupan. Di daerah seperti NTT, menghadirkan air bersih berarti membuka peluang hidup yang lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat bagi masyarakat,” ujarnya. Sarana air bersih yang diresmikan merupakan hasil kerja panjang dan kolaboratif, mulai dari proses penemuan titik mata air hingga pengembangannya menjadi sarana penunjang utama kebutuhan pengairan dan konsumsi masyarakat desa. Hal ini memiliki makna penting mengingat wilayah NTT tidak mudah menemukan sumber air yang layak dan berkelanjutan. Desa Tliu sendiri merupakan wilayah yang tergolong terpencil dengan keterbatasan akses infrastruktur. Meski demikian, semangat pendidikan terus tumbuh. Di desa tersebut telah berdiri SD Muhammadiyah yang menjadi pusat pembelajaran bagi anak-anak setempat. Secara pribadi, Nazar juga memberikan bantuan dana pengembangan untuk SD Muhammadiyah Desa Tliu, beasiswa pendidikan sarjana kepada kepala desa setempat, serta dukungan sarana perpustakaan. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kami ingin anak-anak Desa Tliu memiliki mimpi besar dan akses yang sama untuk meraihnya,” tegasnya. Kepala Desa Tliu menyambut baik kehadiran program PASIMAS Fetomone dan dukungan yang diberikan. “Bagi kami, air bersih bukan sekadar fasilitas, tetapi harapan baru. Program ini sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Desa Tliu,” ujarnya. Melalui pengembangan sarana air bersih berbasis masyarakat ini, UMM berharap PASIMAS Fetomone mampu menjadi model pemberdayaan desa yang berkelanjutan, memperkuat kualitas hidup masyarakat, serta mendorong pembangunan pendidikan dan sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur. (*)
Kenalkan Sosiopolitika Linguistik, Pakar UMM Buka Perspektif Baru Diplomasi Bahasa

Pendekatan baru dalam kajian diplomasi bahasa melalui konsep sosiopolitika linguistik menjadi fondasi riset yang dikembangkan Dr. Faizin, M.Pd., dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam merumuskan ulang strategi internasionalisasi bahasa Indonesia. Kajian ini memadukan sosiologi politik, linguistik, dan kebijakan luar negeri dengan menempatkan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan objek diplomasi bernilai strategis. Gagasan tersebut lahir dari kegelisahan akademik atas lemahnya posisi bahasa dalam praktik diplomasi Indonesia yang dinilai masih parsial dan belum terintegrasi dalam kerangka kebijakan negara. Riset ini berawal dari program penelitian Kementerian Dikti Saintek yang diraih melalui seleksi nasional dengan fokus reformulasi diplomasi bahasa di kawasan ASEAN. Penelitian kemudian diperluas ke sejumlah negara Eropa untuk penguatan konseptual sekaligus melengkapi pengajuan paten sosial-humaniora yang kini sedang diproses. Tim penelitian diketuai Dr. Faizin, M.Pd., dengan anggota Dr. M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., dan Arif Budi Wurianto, M.Si., yang bersama-sama menyusun formulasi baru diplomasi kebahasaan secara komprehensif. Faizin, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa bahasa tidak cukup ditempatkan sebagai penunjang diplomasi, tetapi harus menjadi objek diplomasi itu sendiri. “Bahasa tidak cukup ditempatkan sebagai penunjang diplomasi, tetapi harus menjadi objek diplomasi itu sendiri. Selama ini internasionalisasi bahasa sering hanya dikaji dari sisi pembelajaran dan promosi, padahal tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik luar negeri suatu negara,” ujarnya.15 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa pendekatan sosiopolitika linguistik hadir untuk menjembatani kekosongan tersebut dengan menempatkan bahasa sebagai bagian dari strategi kebijakan internasional. Dalam risetnya, tim menganalisis laporan kinerja Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia serta kontrak kerja para duta besar. Hasilnya menunjukkan diplomasi kebahasaan belum secara eksplisit masuk sebagai program strategis dalam laporan resmi kementerian terkait. Hal ini menandakan bahwa upaya internasionalisasi bahasa masih berjalan tanpa kerangka konstitusional kuat dan arah terukur. Menurut Faizin, ketiadaan posisi strategis tersebut membuat banyak aktivitas kebahasaan di luar negeri cenderung berhenti pada level promosi. “Dalam laporan capaian kementerian, diplomasi bahasa belum menjadi program prioritas yang tersurat. Akibatnya, banyak aktivitas kebahasaan di luar negeri hanya menjadi promosi, bukan diplomasi yang memiliki kekuatan antarnegara,” jelasnya.Ia menegaskan bahwa diplomasi menuntut keterlibatan resmi negara agar berdampak lebih luas secara politik, ekonomi, dan sosial. Penelitian lapangan dilakukan di Vietnam, Filipina, dan Thailand dengan mengamati praktik penyebaran bahasa melalui kerja sama universitas, lembaga pemerintah, dan aktivitas diaspora. Kajian juga diperluas ke Eropa, termasuk Belanda, melalui dokumentasi serta wawancara untuk melihat penerimaan dan promosi bahasa Indonesia. Data tersebut menjadi dasar penyusunan formulasi diplomasi kebahasaan yang lebih sistematis. Ia menemukan respons masyarakat luar negeri cukup beragam. “Banyak yang telah melakukan promosi bahasa Indonesia, tetapi belum semuanya berada dalam kerangka diplomasi negara. Ketika tidak berada dalam payung kebijakan resmi, posisinya menjadi lemah dan tidak memiliki daya tawar strategis,” katanya. Faizin juga mencontohkan keberhasilan negara lain memanfaatkan bahasa sebagai kekuatan lunak, seperti Korea Selatan melalui ekspansi budaya populer. Bahasa menjadi pintu masuk pengaruh budaya, ekonomi, hingga teknologi yang memperkuat posisi global negara tersebut. Ke depan, tim peneliti menargetkan dua luaran utama: kajian ilmiah baru dan formulasi diplomasi kebahasaan yang dapat dijadikan landasan kebijakan nasional. “Kami menargetkan lahirnya formulasi diplomasi kebahasaan yang bisa menjadi rujukan kebijakan nasional, sekaligus memperkuat posisi bahasa Indonesia di tingkat global,” ungkapnya. Ia berharap Badan Bahasa, balai bahasa daerah, dan Kementerian Luar Negeri dapat bersinergi mengoptimalkan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Menurutnya, tanpa strategi, target, dan evaluasi yang jelas, potensi besar bahasa Indonesia tidak akan berkembang menjadi kekuatan strategis negara, padahal bahasa dapat menjadi instrumen utama diplomasi untuk memperkuat kerja sama internasional dan kesejahteraan masyarakat.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mengapa Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 18 Februari? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Metrotvnews– Malang: Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada perhitungan astronomi melalui sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sarif, menjelaskan penetapan tersebut merupakan hasil ijtihad berbasis hisab astronomis. Menurutnya, pendekatan ini memberikan kepastian jauh hari sebelum bulan Ramadan tiba. “Perbedaan penetapan awal Ramadan adalah bagian dari dinamika ijtihad umat Islam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang metodologi yang digunakan,” ujar Sarif, Rabu, 18 Februari 2026. Ia menerangkan KHGT disusun dengan Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP) yang jelas dan terukur. Salah satu parameternya adalah ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, di mana saja di permukaan bumi. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan bisa digunakan secara internasional,” jelas Sarif. Secara astronomis, ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar pukul 19.01 WIB. Momentum konjungsi tersebut menandai berakhirnya bulan sebelumnya sekaligus awal terbentuknya hilal. Pada saat itu, parameter KHGT disebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. Dalam sistem kalender global tersebut, terpenuhinya kriteria di satu wilayah menjadi dasar pemberlakuan awal bulan secara internasional. “Dalam sistem KHGT, ketika hilal sudah memenuhi parameter secara definitif di satu wilayah di bumi, maka ketetapan awal bulan berlaku global. Tidak dibatasi oleh teritorial negara,” tegas Sarif. Namun, kondisi di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berbeda. Posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” papar Sarif. Pemantauan hilal ilustrasi. Dok Metrotvnews.com Sarif menekankan bahwa perbedaan tersebut murni terkait metodologi falak dan cakupan keberlakuannya. Muhammadiyah menggunakan hisab global yang bersifat definitif, sementara pemerintah mengombinasikan hisab dan rukyat dalam batas wilayah Indonesia. “Perbedaan ini bukan perbedaan akidah ataupun esensi ibadah. Ini murni perbedaan teknis dalam implementasi metodologi falak dan cakupan keberlakuannya,” kata Sarif. Dari sisi fikih, penerapan KHGT merujuk pada konsep ittihad al-mathali’ atau kesatuan matlak global. Konsep ini memandang bahwa jika hilal telah terbukti secara ilmiah di satu wilayah, maka umat Islam dapat mengikutinya secara bersama-sama. Ia pun mengajak masyarakat menyikapi perbedaan awal Ramadan dengan dewasa. “Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah, menghormati keputusan otoritas masing-masing, dan tetap fokus pada kualitas ibadah Ramadan,” ujar Sarif.
Awali Ramadan, UMM Gelar Tarawih Perdana dan Ceramah “Marhaban Ya Ramadan”

Tarawih hari pertama di Masjid Ar-Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang pada Rabu (17/2/2026). Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia. Times Indonesia – MALANG – Masjid Ar-Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memulai rangkaian kegiatan Ramadan dengan pelaksanaan salat Tarawih perdana pada Senin malam (17/2/2026). Sebelum ibadah dimulai, pengurus masjid menyampaikan sejumlah informasi teknis dan agenda kegiatan selama bulan suci kepada jemaah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Masjid Ar-Fachruddin UMM dalam menghadirkan program ibadah dan kajian yang terstruktur serta terbuka bagi civitas akademika dan masyarakat umum. Selama Ramadan, masjid menggelar beragam kajian keislaman, meliputi ceramah Tarawih, kajian ba’da Subuh, ba’da Zuhur, kajian menjelang berbuka puasa, serta muhasabah dan salat Qiyamul Lail pada sepuluh malam terakhir. Rangkaian tersebut dirancang untuk memperkuat dimensi spiritual sekaligus memperluas akses pembelajaran keagamaan bagi jemaah. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) juga bekerja sama dengan Komunitas Berbuat Baik menghadirkan program berbuka puasa gratis setiap hari bagi jemaah yang mengikuti kajian menjelang magrib. Program tahunan ini diharapkan mempererat kebersamaan sekaligus mendorong semangat berbagi selama Ramadan. Untuk pelaksanaan salat Tarawih, panitia menetapkan format empat-empat-tiga, yakni delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir. Khusus malam pertama, ibadah diawali dengan salat Iftitah dua rakaat ringan yang dipimpin imam. Bertindak sebagai imam pada malam perdana tersebut adalah Ustaz Wahyu Ramdhani. Sebelum Tarawih dimulai, jemaah mengikuti ceramah bertema “Marhaban Ya Ramadan” yang disampaikan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., sebagai pengantar spiritual menyambut bulan suci. (*)
Shalat tarawih pertama warga Muhammadiyah di Malang

Warga Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih berjamaah pertama di Masjid AR Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026). Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui maklumat menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026) berdasarkan hisab yang kini berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), bukan lagi wujudul hilal, sehingga warga Muhammadiyah mulai menjalankan ibadah puasa pada hari tersebut. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc.
Jadwal Puasa Muhammadiyah Beda Sama Pemerintah? Ini Kata Pakar Ilmu Falak UMM Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/18/152500971/jadwal-puasa-muhammadiyah-beda-sama-pemerintah-ini-kata-pakar-ilmu-falak-umm. Membership: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6

KOMPAS.com – Penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026 oleh Muhammadiyah kembali memunculkan diskusi di tengah masyarakat. Perbedaan potensi awal puasa dengan keputusan pemerintah menjadi perbincangan hangat, terutama di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. M. Sarif, M.Ag., memberikan penjelasan komprehensif dari sisi astronomi dan fikih. “Perbedaan penetapan awal Ramadhan adalah bagian dari dinamika ijtihad umat Islam. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang metodologi yang digunakan,” ujarnya dilansir dari laman UMM, Rabu (18/2/2026). Ia menjelaskan, Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid. Baca juga: Pemerintah Keluarkan Edaran Jadwal Libur Sekolah Bulan Ramadhan 2026 Mengapa Awal Ramadhan Berbeda?Artikel Kompas.id Penetapan hari pertama puasa Dalam penetapan tersebut, Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem kalender Islam berbasis hisab astronomis yang berlaku secara global. “KHGT merupakan ijtihad untuk menghadirkan kalender Islam yang lebih terpadu, memiliki kepastian jauh hari sebelumnya, dan bisa digunakan secara internasional,” jelasnya. Menurutnya, KHGT dibangun di atas Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameternya adalah terpenuhinya ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, di mana saja di permukaan bumi. Pada Ramadan 1447 H, parameter tersebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. “Dalam sistem KHGT, ketika hilal sudah memenuhi parameter secara definitif di satu wilayah di bumi, maka ketetapan awal bulan berlaku global. Tidak dibatasi oleh teritorial negara,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa ijtimak atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Secara astronomis, ijtimak menandai berakhirnya bulan sebelumnya dan menjadi titik awal terbentuknya hilal. Setelah matahari terbenam, posisi hilal di wilayah tertentu telah memenuhi parameter KHGT, sehingga Muhammadiyah menetapkan keesokan harinya sebagai 1 Ramadhan. Lihat Foto Ilustrasi Ramadhan. Jadwal imsakiyah Cirebon. Jadwal imsak Cirebon. Jadwal buka puasa Cirebon. (Ilustrasi ini dibuat dengan AI.) Namun, kondisi di Indonesia berbeda. Saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Artinya, belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia. “Secara astronomis, hilal di Indonesia memang belum memenuhi kriteria MABIMS. Karena itu, pemerintah kemungkinan menetapkan awal Ramadhan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat,” paparnya.