UMM dan Gerpakkk Hidupkan Tradisi Patrol Sahur, Warga Nikmati Sahur Premium di Kampung

Keseruan Tradisi Patrol Sahur yang dilaksanakan oleh UMM dan Gerpakkk. (Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) menggelar patrol sahur di kawasan Kebalen Wetan Gang 8 pada 8 Maret lalu. Diikuti Lebih dari 300 Warga Kegiatan ini menarik partisipasi lebih dari 300 warga yang ikut berkeliling kampung bersama. Suasana semakin meriah karena masyarakat setempat memiliki lagu patrol khas yang hampir dihafal oleh seluruh warga. Kemeriahan acara tidak hanya berlangsung saat patrol keliling kampung. UMM juga menghadirkan pengalaman sahur berbeda melalui pertunjukan live cooking dengan menu hidangan standar hotel bintang empat di tengah lingkungan warga. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam mendukung dan meramaikan tradisi lokal di bulan Ramadan. Inisiatif ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan sekaligus menambah semangat masyarakat menjalankan ibadah puasa. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegas Maharina. Tercatat lebih dari 300 porsi hidangan sahur disajikan bagi warga yang mengikuti kegiatan tersebut. Antusiasme masyarakat terlihat sejak dini hari saat menikmati menu sahur bersama di tengah suasana kampung. Perputakaan Keliling KaCa UMM Hadir Berikan Kegiatan Literasi Sambil menunggu waktu imsak, warga juga disuguhi kegiatan literasi melalui kehadiran perpustakaan keliling Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Fasilitas ini membawa ratusan buku yang dapat dibaca oleh anak-anak maupun masyarakat sekitar. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, menjelaskan bahwa layanan tersebut sering hadir di berbagai kegiatan sosial dan literasi. Kehadirannya dalam acara sahur patrol diharapkan dapat menjadi hiburan edukatif bagi warga. “Sebelumnya, Mobil KaCa ini juga sudah aktif keliling menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan sapaan akrabnya. Games dan Hadiah Menarik Undang Antusias Warga Selain literasi untuk anak-anak, panitia juga mengadakan permainan interaktif bagi para ibu. Beragam games dengan hadiah menarik turut memeriahkan suasana sahur bersama. Kegiatan sahur kolaboratif ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat setempat. Warga menilai kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman Ramadan yang berbeda sekaligus mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengaku senang dengan berbagai fasilitas yang dibawa oleh UMM dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dengan melibatkan lebih banyak komunitas di masa mendatang. (Djoko W) Gerpakkk Tradisi Patrol Sahur UMM Editor: Ainun Muslihatun Najibah Rozi
Pusat Studi Kebudayaan UMM Bedah Kampung Budaya Polowijen
Transformasi Board of War
Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media.

Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lewat Sahur On The Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur dan Barbeque di Pinggir Jalan

Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari, 5 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Safari Ramadan RSU UMM Tekankan Ketulusan Tenaga Medis

Malang (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Jajaran tenaga medis dan pimpinan diajak untuk merefleksikan kembali makna pengabdian yang jauh dari sekadar logika untung-rugi. Kegiatan ini menghadirkan Zen Amirudin sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ia menyoroti fenomena logika transaksional yang kerap menyusup dalam niat beribadah maupun bekerja, yang jika dibiarkan dapat menggerus etika profesionalisme di ruang publik seperti rumah sakit. Dr. Zen Amirudin mengawali paparannya dengan sebuah analogi tentang seorang pemuda yang mencoba menguji kekuatan sedekah. Pemuda tersebut memberikan seluruh hartanya dengan harapan mendapatkan balasan instan dari Tuhan, namun justru berakhir dengan kegelisahan karena ekspektasinya tidak terpenuhi seketika. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima,” tegas Zen di hadapan sivitas akademika dan tenaga kesehatan UMM. Menurutnya, jika seorang tenaga medis atau pegawai bekerja hanya demi imbalan cepat atau pengakuan materiil, maka yang akan muncul adalah kekecewaan saat ekspektasi tidak tercapai. Sebaliknya, Ramadan mengajarkan ketundukan dan keikhlasan. “Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah. Dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” tambahnya. Lebih lanjut, Zen menjelaskan bahwa dalam lingkungan pelayanan kesehatan, kepatuhan pada nilai dan etika bukan sekadar formalitas, melainkan penyangga kemanusiaan. Ia membagi tingkatan kesadaran manusia dalam memandang kuasa dan tanggung jawab sebagai kesadaran bahwa setiap amanah memiliki konsekuensi moral. Kedua, seseorang menjalankan peran tanpa dorongan kepentingan pribadi atau privilese, melainkan sebagai kewajiban etis. “Ajaran Islam tentang kuasa bersifat preventif. Ini membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Di rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien dan integritas profesi,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menekankan bahwa Ramadan harus dipandang sebagai momentum pembangunan peradaban. Ia mengingatkan bahwa nilai takwa semestinya bertransformasi menjadi energi positif dalam etos kerja dan disiplin. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, baik itu materi, waktu, pikiran, maupun komitmen untuk memperbaiki kualitas diri,” ujar Prof. Nazaruddin. Ia berharap semangat Safari Ramadan ini mampu menjaga konsistensi RSU UMM sebagai pusat pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman integritas spiritual. (dan/kun)
Rektor UMM: Kepemimpinan Islam Amanah Suci, Bukan Sekadar Kuasa

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kepemimpinan dalam perspektif Islam sejatinya bukanlah panggung untuk memamerkan kekuasaan atau mengejar privilese jabatan. Sebaliknya, ia adalah amanah suci yang berlandaskan pada penegakan keadilan dan visi kemajuan demi keberkahan umat. Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan di Pusdiklat UMM, Rabu (4/3) kemarin. Di hadapan para aktivis kampus, Prof. Nazar menjelaskan bahwa dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab spiritual yang kelak akan dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Allah SWT. Merujuk pada hadis Nabi, ia mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan setiap tindakan kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. ”Kepemimpinan tanpa keadilan akan kehilangan legitimasi moralnya. Tanpa visi yang jelas, organisasi hanya akan berjalan tanpa arah,” tegas Prof. Nazar. Ia menguraikan bahwa fondasi kepemimpinan dalam Al-Quran berpijak pada konsep manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), perintah berlaku adil (QS. Shad: 26), serta pentingnya musyawarah (syura) sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran: 159. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai instrumen strategis. Keadilan, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik nyata—mulai dari distribusi sumber daya yang transparan hingga pengambilan keputusan yang setara tanpa diskriminasi. Di era modern yang penuh tekanan kepentingan, pemimpin dituntut untuk terus beradaptasi dengan inovasi tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Quran. Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan bahwa Baitul Arqom merupakan agenda rutin strategis untuk menjaga keberlanjutan kader Muhammadiyah. Kegiatan ini dirancang agar estafet kepemimpinan intelektual di lingkungan UMM tidak terputus. ”Kami telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan melalui tiga pendekatan: partisipatif, diferensiasi, dan defensif,” ungkap Tatag. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat jiwa kepemimpinan mahasiswa, khususnya mereka yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa). Melalui penggemblengan di Baitul Arqom, mahasiswa diharapkan mengalami transformasi kualitas diri, baik dari segi adab, mental, maupun sikap. Dengan mengedepankan budaya umpan balik, kerja tim yang solid, serta keteladanan (uswah hasanah), UMM optimistis dapat mencetak generasi pemimpin visioner yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adil dan produktif bagi kemajuan bangsa.(imm/lim)
Safari Ramadan RSU UMM: Ibadah Bukan Transaksi, Tapi Pengabdian

pwmu.co – Komitmen meneguhkan nilai-nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan oleh Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom dalam ceramahnya pada kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (3/3/2026). Hadir sebagai penceramah utama, Dr. Zen menyampaikan tausiyah di hadapan jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. K egiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan ruang refleksi bersama bagi sebuah institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan persoalan kemanusiaan. Dalam suasana Ramadan yang sarat makna, ia mengajak seluruh elemen rumah sakit untuk menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, serta meluruskan orientasi pengabdian. Menurutnya, pelayanan kesehatan bukan hanya soal profesionalitas dan kompetensi teknis, tetapi juga menyangkut keikhlasan dan integritas moral. Ibadah Bukan Logika Transaksional Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional memberi lalu menuntut balasan instan. Ia mengisahkan seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah setelah mendengar tausiyah. Pemuda itu menyedekahkan seluruh uangnya dengan harapan balasan datang seketika. Namun yang muncul justru kegelisahan karena harapannya tak segera terpenuhi. “Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya. Menurutnya, ibadah bukan mekanisme sebab-akibat yang instan. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika amal dilakukan semata demi imbalan cepat, kekecewaan mudah muncul. Sebaliknya, jika dilandasi kepatuhan dan penghambaan, ketenangan hadir tanpa harus menunggu balasan. Ramadan, lanjutnya, mengajarkan proses tersebut secara bertahapmelalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Kuasa sebagai Amanah, Bukan Privilege Zen juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Pada tahap awal, seseorang memahami bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap lebih matang, ia mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa, menurutnya, bukanlah privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Di rumah sakit, kepatuhan pada nilai dan etika menjadi fondasi profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, serta kepercayaan publik. Karena itu, ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif sekaligus preventif—tidak hanya mengatur batas benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran agar penyimpangan dapat dicegah sejak dini. Ramadan sebagai Energi Peradaban Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Menurutnya, takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi baik di bidang pendidikan maupun layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Konsolidasi Nilai dalam Pelayanan Publik Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Melalui refleksi Ramadan, RSU UMM menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas spiritual bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan fondasi utama dalam membangun layanan kesehatan yang humanis dan berkeadaban.
Ramadan Refleksi, Integritas Tanpa Transaksi: Safari Ramadan RSU UMM

MALANG (SurabayaPost.id) – Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, dan sivitas akademika, dengan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama. Zen Amirudin menekankan bahwa ibadah bukanlah mekanisme transaksional, melainkan proses ketundukan dan keikhlasan. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menyampaikan kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan, namun justru merasakan kegelisahan karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menambahkan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. “Takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi,” katanya. Safari Ramadan di RSU UMM menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan integritas spiritual tenaga medis dan akademisi. Dengan tema “Ibadah Bukan Transaksi”, Safari Ramadan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. (lil).
Ibadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga Medis

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Komitmen meneguhkan nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan melalui Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama dan diikuti oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. Agenda tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan. Ramadan dimaknai sebagai momentum menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, dan meluruskan orientasi pengabdian. Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional. Ia menyampaikan pesan tersebut melalui kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan. “Saya ingin mengangkat kisah seorang pemuda yang mencoba ‘menguji’ makna sedekah setelah mendengar tausiyah seorang ustaz. Karena dorongan ingin membuktikan kebenaran secara cepat, ia menyedekahkan seluruh uang yang dimilikinya dengan harapan balasan akan datang seketika. Namun yang ia rasakan justru kegelisahan, karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya Menurutnya, ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika seseorang beramal hanya demi imbalan cepat, maka yang muncul adalah kekecewaan. Sebaliknya, jika amal dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan penghambaan, ketenangan akan hadir tanpa perlu menunggu balasan. Ramadan, kata dia, mengajarkan proses itu secara bertahap melalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Tahap awal adalah kesadaran normatif bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap yang lebih matang, seseorang mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa tidak dipandang sebagai privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini, menurutnya, sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menambahkan, kepatuhan bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi karakter yang mencegah penyalahgunaan wewenang. Di rumah sakit, sikap patuh pada nilai dan etika menjadi penyangga profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Zen juga menekankan bahwa ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif dan preventif. Artinya, ajaran tersebut tidak hanya mengatur batasan benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Dalam konteks rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, dan kepercayaan publik. Karena itu, Ramadan harus menjadi ruang evaluasi agar profesionalisme berjalan seiring dengan integritas spiritual. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Ia menegaskan bahwa takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi, termasuk di bidang pendidikan dan layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran, baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi.(ANS)