Berjaya! Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

pwmu.co – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora.Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Ramai Disalahgunakan, Dokter Anestesi UMM Peringatkan Risiko Fatal Gas N₂O

pwmu.co – Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan.Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang(UMM) 02 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
Lulus Pendidikan Bahasa Arab, Umar Faruq Kini Kerjanya ke Luar Negeri Tiap Minggu

KOMPAS.com – Hampir tiap minggu Umar Faruq berangkat ke luar negeri, mulai dari Arab Saudi, Tiongkok, Tailan, Turki, dan negara lainnya dalam rangka bekerja. Umar merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016. Saat ini ia bekerja sebagai tour leader profesional untuk perjalanan haji, umrah dan halal tour ke berbagai negara. Ia memegang tanggung jawab besar dalam menemani dan melayani para tamu yang hendak beribadah di Tanah Suci atau memandu wisatawan yang sekadar ingin berlibur ke luar negeri. Pilihannya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab dulu lantaran memang ingin lebih memahami bahasa Arab. “Alasan saya dulu memilih Fakultas Agama Islam karena saya ingin menambah wawasan terkait dengan pendidikan, khususnya di pendidikan bahasa Arab, sehingga saya tertarik dengan agama Islam,” ujar Umar, dikutip dari situs UMM. Selama kuliah Umar aktif menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab. Jadi Penerjemah Sebelum Lulus Bahkan sebelum lulus ia sudah menapaki dunia kerja untuk mengasah keterampilan profesionalnya. Ia bergabung di biro administrasi kampus. Kemudian pernah menjadi penerjemah berita dan konten-konten yang dimuat di situs resmi UMM. Bagi pemuda asal Bekasi, Jawa Barat ini pengalaman berorganisasi dan bekerja tersebut sangat membentuk karakter serta kesiapannya dalam menghadapi dunia kerja yang nyata. Menurutnya lingkungan kampus, fasilitas, dan para dosen juga sangat mendukung perkembangan mahasiswa. Karier Profesional Latar belakang pendidikan yang Umar tempuh terasa sangat relevan dengan pekerjaannya sekarang. Kemampuan bahasa Arab menjadi modal penting Umar untuk berkomunikasi di luar negeri. “Alhamdulillah, karena ada basic bahasa Arab, jadi semua bisa terkendali dan dijalankan dengan lancar saat pertama kali saya membawa tamu-tamu Allah untuk umrah,” katanya.
Whipped Cream Gunakan Dinitrogen Oksida
Pro Kontra Indonesia Gabung Board of Peace, Begini Kata Dosen HI UMM

Di tengah dinamika politik global yang terus berkembang, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) memunculkan perbincangan luas di ruang publik. Kebijakan ini dinilai menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif secara langsung dalam mendukung program perdamaian dunia, sekaligus membawa tantangan yang memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. BoP merupakan forum internasional yang dibentuk untuk mendorong dialog dan kerja sama dalam upaya menciptakan perdamaian, khususnya di wilayah konflik. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan BoP turut memantik diskusi terkait efektivitas, peran negara anggota, serta dampaknya terhadap isu kemanusiaan global, termasuk Palestina dan Gaza. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa jika merujuk pada piagam resmi BOP, terdapat sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian, salah satunya terkait tidak disebutkannya secara eksplisit Palestina dan Gaza. Menurutnya, hal ini menjadi bahan kajian dalam perspektif akademis, terutama terkait posisi masyarakat yang terdampak dalam proses pengambilan keputusan internasional. Dion juga menilai bahwa keikutsertaan Indonesia sebagai strategi untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam forum, sah secara politis. Namun, secara akademis, ia menilai klaim tersebut sulit dibuktikan selama piagam BoP tidak mengakui secara jelas Palestina dan Gaza sebagai subjek utama dalam upaya perdamaian. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak adanya keterlibaran Palestina dalam forum tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa nasib negara Palestina ditentukan oleh negara-negara luar. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi hak Palestina dalam menentukan masa depannya sendiri. Sehingga menurutnya, hal ini perlu dikritisi agar upaya perdamaian benar-benar berjalan atas dasar keadilan dan kedaulatan. Di sisi lain, Dion menilai ada dua sisi risiko maupun dampak dari bergabungnya Indonesia ke BoP. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yakni internasional dan domestik. Secara internasional, kredibilitas Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, atau lebih umum dalam mempertahankan politik luar negeri bebas aktif, akan semakin dipertanyakan. Hal itu karena BoP merupakan inisiatif Trump secara pribadi, tidak melalui persetujuan DPR AS, maupun melalui mekanisme PBB. Sementara secara domestik, isu Palestina memiliki sensitivitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan isu tersebut berpotensi memunculkan beragam pandangan di masyarakat Indonesia. Pemerintah dinilai perlu terus memperkuat komunikasi publik secara terbuka dan informatif agar masyarakat dapat memahami tujuan, mekanisme, serta dampak dari kebijakan yang diambil. Sementara itu dari sisi keuntungan, keikutsertaan Indonesia dalam BOP membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung program kemanusiaan dan pembangunan di wilayah terdampak konflik. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten dan berkomitmen aktif dalam isu perdamaian dunia. Meski demikian, keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi diplomasi aktif di tingkat global. Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia selama ini dikenal memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga membuka ruang dialog yang lebih luas dengan berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah maupun negara-negara lain. Hal ini dapat memperluas jaringan kerja sama serta memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan global. Meski demikian, timbul berbagai pandangan dan respons masyarakat yang beragam. Hal ini dinilai oleh Dion sebagai bagian dari dinamika demokrasi. “Pro dan kontra terhadap kebijakan luar negeri merupakan hal yang wajar, selama disampaikan secara rasional dan bertanggung jawab. Keberagaman pendapat justru dapat menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan publik,” katanya. Sebagai penutup, ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menyikapi isu internasional secara rasional dan bijak. Kepedulian terhadap isu global juga perlu dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif, agar tidak terjebak pada informasi yang belum jelas kebenarannya. (vin/wil) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Efisiensi Air Irigasi dan Energi
PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN & OLAHRAGA
Berjaya, Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional. (*ali/wil) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa KKN UMM Sinau Budaya di KBP

Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 sinau budaya di Kampung Budaya Polowijen, Malang (Foto: RRI/Mey) RRI.CO.ID Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. “Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Dan tersebar di banyak wilayah,” jelasnya. Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. “Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya. Mahasiswa KKN UMM mendapatkan materi dari Sulaihah, S.Sos., S.Pd, terkait ragam budaya kota Malang (Foto: RRI/Mey) Selain menyampaikan materi, Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya. Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya. (Mey)