UMM Sosialisasikan New Model PPG 2020

PROGRAM Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Sosialisasi “New Model PPG 2020” bagi dosen dan guru pamong, Sabtu (18/7). Acara dilaksanakan dalam rangka persiapan menjelang pelaksanaan program PPG dalam jabatan angkatan I tahun 2020 pada 3 Agustus hingga 5 Desember 2020 mendatang. Ketua Prodi PPG UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M. menerangkan, perbedaan “New Model PPG 2020” dengan model pelaksanaan PPG sebelumnya terletak pada porsi pembelajaran daringnya. Jika PPG sebelumnya menerapkan hybrid learning yang mengombinasikan pembelajaran daring dan pembelajaran tatap muka, kali ini pembelajaran dilakukan secara daring sepenuhnya. Hal itu dikarenakan PPG kali ini dilaksanakan dalam situasi pandemi Covid-19. “PPG tahun 2020 ini dilaksanakan secara penuh dalam jaringan (daring) difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi, kita tidak ada proses pembelajaran tatap muka seperti sebelumnya. Ya, ini adalah dampak dari pelaksanaan PPG di tengah pandemi yang masih berlangsung,” tutur Trisaksi kepada para peserta sosialisasi. Lebih lanjut, Trisakti menguraikan desain program dan aktivitas PPG yang terdiri dari tujuh tahap. Ketujuh tahapan tersebut meliputi pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran, review perangkat pembelajaran dan refleksi, PPL (Praktik Pengalaman Lapang) 1 di sekolah asal, review dan refleksi PPL 1, PPL 2 di sekolah asal, dan review dan refleksi PPL 2. Pada akhir program, para peserta PPG akan mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan profesi Guru (UKM-PPG) yang terdiri dari uji kinerja atau praktik mengajar dan uji pengetahuan. Tercatat, ada 291 mahasiswa PPG Dalam Jabatan Angkatan I tahun 2020 yang akan menempuh pendidikan profesi guru di Prodi PPG FKIP UMM. Jumlah tersebut terdiri dari tiga bidang studi yakni Guru Kelas SD (130 orang), Bahasa Indonesia (65 orang), dan Bahasa Inggris (96 orang). Atas capaian tersebut, Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., mengajak para peserta untuk bersyukur karena Prodi PPG FKIP UMM masih diberi kepercayaan oleh Kemendikbud. “Tidak semua LPTK mendapatkan kepercayaan itu. Dan, kuota yang kita dapatkan pun cukup besar. Total ada 291 peserta PPG dalam PPG Prajab Angkatan I ini,” ungkap Poncojari yang juga menjabat sebagai anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) itu. Tak hanya sosialisasi, juga dijelaskan tahap awal pelaksanaan program PPG, yakni penyegaran bagi guru dan dosen yang akan dilaksanakan selama 5 hari, 20-24 Juli 2020 melalui Learning Management System (LMS). Paparan disampaikan oleh tim teknis UMM, Eko Kurniawan, S.Pd. dan fasilitator inti (fasti) nasional yang terdiri dari guru dan dosen UMM. (fid/can)
Hibur Warga, Mahasiswa Bikin Malang Drive-In Cinema

SULITNYA mencari hiburan di tengah pandemi Covid-19 mendorong sekelompok mahasiswa dari Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat Malang Drive In Cinema atau bioskop teater mobil. Drive-In Cinema sendiri adalah bentuk struktur sinema yang terdiri dari layar film luar ruang yang besar, bilik proyeksi, dan area parkir yang luas untuk mobil. Pemutaran yang digelar di salah satu Kafe di Kota Batu (8/7) ini bekerjasama dengan unit kegiatan mahasiswa sinematografi Kine Klub UMM. Film yang diputar juga tidak sembarangan. Maharesigana memutar film-film pilihan ajang lomba film dokumenter Eagle Awards dan dari Asosiasi Dokumenter Nusantara. Siapapun dapat ikut menikmati film dari mobilnya masing-masing tanpa ada perasaan takut terpapar Covid-19. “Kami ingin menghibur masyarakat agar tidak stress dalam menghadapi pandemi. Sekaligus menginisiasi untuk melihat karya sinematografi berupa film dokumenter di era pandemi Covid-19. Kami tidak membatasi siapa yang bisa hadir. Malang Drive-In Cinema ini bisa dinikmati banyak orang namun tetap menjaga protokol kesehatan,” terang Ketua Maharesiaga, Rindya Ferry Indrawan, diwawancarai di sela acara. Pria yang akrab disapa Indra ini lantas menjelaskan, karya sinematografi yang bagus juga bisa menjadi distraksi dari kecemasan di masa pandemi Covid-19 saat ini. “Indonesia sudah menyatakan diri untuk menuju fase New Normal. Dalam hal ini, untuk menonton karya sinematografi juga harus dibuatkan protokol kesehatan agar karya sinematografi tidak berpotensi menjadi klaster baru penyebaran Covid-19,” terangnya. Indra yang juga sempat menjabat Direktur Malang Film Festival tahun 2012 dan 2013 ini mengatakan, terapi sinema juga digunakan seorang terapis di Atlanta, Tamekis William. Menurut Tamekis, kata Indra, film bisa membantu kliennya kembali terhubung dengan dirinya yang nyata dan menghilangkan hambatan seperti depresi dan kecemasan yang membuat mereka tidak bisa hidup sadar, sehat, dan bahagia. Salah satu penonton, Milla yang merupakan tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum UMM mengaku senang ada yang menginisiasi Malang Drive-In Cinema. Ketegangan selama di rumah sakit sedikit bisa mengendur lantaran adanya alternatif hiburan ini. “Kangen nonton di bioskop, tapi bioskop masih tutup. Dibuka pun nggak berani. Untungnya ada solusi yang bisa mengobati kangen nonton bioskop,” kesannya. (*/can)
Prodi Ilmu Hukum Pertahankan Akreditasi A

Ilustrasi debat mahasiswa Prodi Ilmu Hukum UMM. (Foto: Humas UMM) PROGRAM Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih akreditasi dengan nilai A. Sertifikat akreditasi yang diterbitkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tersebut berlaku sejak tanggal 14 Juli 2020 hingga 14 Juli 2025. Capaian tersebut kembali mengulang nilai akreditasi pada periode sebelumnya. “Dengan segala kerendahan hati, kami atas nama pimpinan Fakultas menghaturkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Bapak/Ibu semua atas dedikasi, komitmen, pengorbanan lahir batin ikut serta mempersiapkan, mengerjakan borang dan mengawal sampai akhirnya keluar SK BAN PT dengan Akreditasi A,” ujar Dr. Tongat, Dekan Fakultas Hukum UMM. Tongat, atas nama pimpinan Fakultas Hukum juga menyampaikan terima kasih yang sangat mendalam atas komitmen bersama ini. “Mudah-mudahan semua pengorbanan dan dedikasi Bapak-Ibu semua kepada Fakultas menjadi amal jariah di sisiNya. Aamiin. Kami juga memohon maaf jika selama proses penyusunan borang ada hal-hal yang tidak berkenan di hati Bapak/Ibu semua,” sambungnya. Salah satu kunci dari kesuksesan Fakultas Hukum UMM mempertahankan akreditasi A adalah dengan konsisten berprestasi dan komitmen mengabdi. Sebagaimana diketahui, Fakultas Hukum UMM terkenal sebagai salah satu tim unggulan dalam debat hukum di tingkat nasional. Tim sepak bola dan futsal Fakultas Hukum UMM juga beberapa kali menjuarai event regional maupun nasional. Kombinasi kompetensi akademik dan nonakademik menjadi racikan yang cukup ampuh untuk memenuhi penilaian borang re-akreditasi. “Selain mahasiswa, dosen Fakultas Hukum UMM juga rajin menorehkan prestasi, baik dalam penelitian, pengabdian maupun publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Mungkin hal-hal tersebut bisa menjadi nilai tambah dalam borang, ya,” ujar Sholahuddin Al-Fatih, MH, salah satu dosen Fakultas Hukum UMM. (fat/can)
Tambah Guru Besar Baru Bidang Pangan dan Logistik

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) punya dua Guru Besar baru di Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian-Peternakan. Hal itu diumumkan saat penyerahan Surat Keputusan Guru Besar oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jawa Timur di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (16/7). Keduanya yakni Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. dan Prof. Dr. Prof. Ilyas Masudin, ST., MLogSCM.Ph.D. Elfi sendiri mendapat Surat Keputusan Mendikbud menjadi Profesor atau Guru Besar di bidang Teknologi Hasil Pangan (THP). Sementara Ilyas sendiri menjadi Profesor atau Guru Besar di Bidang Logistik dan Rantai Pasok. Kepala LLDikti Wilayah VII Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA. yang menyerahkan langsung Surat Keputusan tersebut kepada keduanya. Disaksikan seluruh pejabat stuktural dan dosen masing-masing fakultas. Penyerahan juga dapat disaksikan oleh sivitas akademika Fakultas Teknik dan Fakultas Peternakan-Pertanian lewat Zoom. Baca juga: Dosen Ilmu Komunikasi Terbitkan Buku ke-21 Beberapa karya Elfi banyak berhubungan dengan pewarna makanan alami yang berasal dari pigmen bunga. Tak tunggung-tanggung hasil penelitian Ketua Halal Center tersebut pernah menembus The Five Best Poster Product Halal Excelent at World Halal Research Kuala Lumpur serta menjadi reviewer jurnal internasional. Sementara, Ilyas merupakan dosen Teknik Industri yang menjadi dosen pertama yang mendapat status sebagai ASEAN Engineer. Lisensi itu diterima dosen yang menyelesaikan pendidikan doktoral di RMIT University, Melbourne, Australia ini saat menghadiri konferensi ke-36 The ASEAN Federation of Engineering Organisations. Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. sendiri menyatakan, UMM sudah mencanangkan program Guru Besar Asuh, dimana Guru Besar yang telah ada diminta untuk mendampingi para dosen untuk segera mengurus jabatan fungsional tertinggi dosen ini. Program ini dalam rangka mengakselerasi jumlah Guru Besar yang ada. Suprapto dalam sambutannya menyatakan, prosentase jumlah Guru Besar di Jawa Timur tiga persen dari jumlah nasional sebanyak 6 ribu orang. Tahun ini, secara pribadi Suprapto menargetkan 4 persen dari keseluruhan nasional. “Ini sangat memungkinkan. Target ini memicu saya untuk bekerja lebih giat lagi,” ungkapnya. (can)
Buku Tulisan Bersama Dosen UMM Diapresiasi Wapres RI

WAKIL Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin melaunching buku Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi (13/7). Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. turut berkontribusi di dalamnya. Buku yang diinisiasi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini merupakan pesan dari para ahli cendekia di berbagai bidang baik ekonomi, sosial, budaya, agama, bahkan juga kesehatan yang menceritakan kegelisahan terkait Covid-19. “Pertama saya ingin mengucapkan terimakasih, karena saya tidak menduga artikel saya yang dimuat di harian cetak Republika, yang sebenarnya artikel ringan yang biasa saya tulis habis subuh, bisa ditulis di buku bergengsi ini.Terimakasih kepada INDEF dan kita semua,” ungkap Syamsul yang merupakan Wakil Rektor I yang membidangi Akademik dan Pengembangan al-Islam-Kemuhammadiyahan ini. Dalam tulisannya, Syamsul menyoroti perbedaan sikap terhadap krisis di masa pandemi Covid-19. “Tulisan saya di buku ini tentang sikap ke pengingkaran (denial) masyarakat pada awalnya, kemudian kemarahan (anger) yang memunculkan depresi (depression). Karena pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, lebih-lebih juga kepada dampak ekonomi. sekarang ini banyak orang yang depresi mengahadpi pandemi tetapi juga mau tidak mau kita harus maju ke tahapan acceptance (harus menerima) dan sudah muncul suatu konsep yang disebut New Normal,” demikian dijelaskan Syamsul. Disebutkan Syamsul yang merupakan pakar di bidang Sosiologi Agama tersebut, krisis ini sebagai krisis dimensional yang mungkin lebih mengerikan dibandingkan krisis tahun 1998 atau 2008. “Kami yang di perguruan tinggi swasta merasakan sekarang dampaknya. “Ada persoalan yang kami hadapi akhir-akhir ini, yang pertama adalah menswitch pembelajaran yang semula itu luar jaringan, face to face, menjadi dalam jaringan karena kita ingin mengurangi penyebaran Covid 19 ini,” pungkas Syamsul. Wapres RI Ma’ruf Amin dalam penyampaiannya menyatakan bahwa pandemi Covid 19 ini, tidak mungkin ditangani sendiri oleh pemerintah. Ia mengaku sangat menghargai inisiatif INDEF dalam menerbitkan buku ini. Dinilai Ma’ruf, buku ini sangat lengkap sebagai panduan untuk pemerintah dan masyarakat, karena merupakan kumpulan pemikrian banyak pakar ekonomi, sosial dan budaya yang secara bersama-sama menyampaikan gagasan dari proses bersama penanganan pandemi Covid 19. “Saya juga menilai berbagai rekomendasi yang dibawakan buku ini sejalan dengan apa yang dilakukan pemerintah saat ini. Artinya saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini. Saya meyakini buku ini bermanfaat bagi banyak pihak, terutama bagi para pengambil kebijakan yang sedang bergulat dalam mengakhiri pandemi. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menjadi kontributor buku ini, semoga semua ikhtiar yang dilakukan mendapat ridho Allah SWT,” ungkapnya. (riz/can)
Dosen Ilmu Komunikasi Terbitkan Buku ke-21

DOSEN Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurudin, M.Si. baru saja menerbitkan bukunya yang ke-21. Buku setebal 214 halaman ini diberi judul Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus. Buku yang dibandrol penerbit Prenada seharga Rp 60.000 ini bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia dan dapat juga dibeli secara online. Menurut Nurudin, buku ini berbeda karena banyak menyoroti kebijakan pemerintah. “Saya itu konsisten sejak menulis tahun 1991. Konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah. Sejak dahulu. Saya yakin pasti ada kekurangannya. Saya kadang tak peduli dianggap haters. Tetapi saya tetap konsisten. Ini bukan soal kubu-kubuan. Tidak ada hubungannya. Boleh dilihat tulisan-tulisan saya dahulu. Sebab dimanapun dan kapanpun pemerintah membutuhkan kritik,” ungkapnya. Kritik ini menurut Nurudin adalah sebuah masukan, karena tanpa menilai kritik sebagai masukan, kritik selamanya akan dianggap sebagai rongrongan. “Kritik tetaplah kritik yang punya takdirnya sendiri,” imbuhnya. Tak hanya menulis buku, ia juga kerap ‘memprovokasi’ mahasiswa untuk semangat menuliskan karyanya. Pada Kamis (16/7) nanti, ia bahkan akan melaunching 10 buku karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi hasil “provokasi’’-nya. Judul bukunya yang unik ini, Komunikasi Politik dalam Masyarakat Tidak Tulus, punya latar belakang tersendiri. Buku ini sebenarnya adalah hasil pengamatan Nurudin atas fenomena komunikasi politik yang selama ini terjadi. Ia menilai, seperti ada ketidaktulusan dalam berkomunikasi. Tidak tulus ini tidak hanya terjadi di masyarakat, tetapi juga pemerintah. Misal, masyarakat saling caci, kubu-kubuan. Seolah kelompok dirinyalah yang paling benar. Buntutnya saling menyalahkan. Menurutnya, itu adalah bentuk komunikasi tidak tulus. Lalu ia juga menilai, pemerintah juga tidak tulus. Misalnya membuat kebijakan tidak tegas. “Lihat kasus covid-19. Betapa karut-marutnya komunikasi pemerintah sejak awal muncul. Tak ada sinkroniasi antar lembaga. Ini kan tidak baik bagi proses kebijakan. Hasilnya? Saat negara lain sudah turun yang terkena wabah, kita masuk melaju,” kritiknya. Dikenal sebagai dosen yang sangat produktif menulis, bukan berarti ia tak menemukan kebosanan dalam membuat karya. Sebab diakuinya menulis itu capek dan membutuhkan konsentrasi tinggi, juga monoton. Dia membagi tips bagaimana melawan kebosanan tersebut. Ia menyarankan untuk menulis dengan cara mencicil, tidak perlu sekaligus. Saat sibuk, ia biasakan untuk menulis satu halaman. Biasanya ia menuliskannya di handphone. Penting baginya untuk tetap menulis. Pokoknya menulis, begitu prinsipnya. Sebab ia meyakini bahwa setiap tulisan punya pasar pembaca sendiri-sendiri. Ia juga meyakini bahwa dengan menulis adalah cara untuk menebar kemanfaatan. “Karena saya mampunya menulis, jadi saya berusaha konsisten untuk menulis. Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa dengan menulis saya bisa membantu mengenalkan tak hanya keilmuan komunikasi namun juga mempromosikan kampus ke khalayak luas,” tuturnya. (wnd/can)
UMM Tholabul Ilmi ke Pondok Gus Baha

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) punya tradisi tholabul ‘ilmi ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha yang merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah. UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha di Narukan, Kragan, Rembang ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk tholabul ilmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMMTube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton lebih dari 20 ribu kali. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. “Silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya kami mengundang, tapi juga biasanya bersilaturahmi. Alhamdulillah, pagi ini kita bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan kita, khususnya adalah memperbaiki cara beragama kita. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan. Pengajian Gus Baha selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi. Selain itu melalui uraian di setiap pengajian Gus Baha, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi ulama nusantara ini juga banyak diselipkan humor-humor cerdasnya. Tak heran Ia dikagumi oleh masyarakat Islam dari lintas organisasi. Kehadiran Gus Baha menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya da’i atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. “Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya. Dalam pengajiannya, Gus Baha menyebut belakangan ini banyak dai yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. “Saya ini termasuk kiayi yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiayi, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya. Gus Baha dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka, berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Al Quran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran Agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi. “Allah itu pasti bikin ulama yang tidak produk arab. Itu pasti ada. Kalau orang arab jadi ulama itu wajar. Bahasanya Arab, domisilinya di arab. Tapi Allah akan selalu bikin ulama yang tidak bangsa Arab. Kenapa, kata Mbah Mun, manusia ini semua kena khitabnya Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama Islam ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah bikin ulama non-arab,” ceritanya. Karena, sambung Gus Baha, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam yang alimnya tidak kalah dengan orang Arab. “Ini pekerjaan rumah kita bersama. Bagaimana agar orang Arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” harapan Gus Baha. (can)
Buat Alat Siram Cerdas untuk Kampung Tangguh Pasuruan

MAHASISWA program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktimu Negeri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat Alat Penyiraman Otomatis di Kampung Tangguh Sekar Asri, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Alat penyiraman otomatis ini menggunakan sistem Piranti Cerdas (Artificial Intelligence) dengan menghubungkan sensor kelembapan tanah sebagai pendukung keputusan untuk menghidupkan pompa air untuk menyirami tanaman warga. “Kami bekerja sama dengan program Kampung Tangguh yang ada di daerah Sekar Asri. program kampung tangguh sendiri merupakan gagasan oleh pemerintah bersama dengan Polri untuk menanggulangi bencana (Covid-19) yang kegiatannya berupa penegakan disiplin protokol kesehatan, membentuk ketahanan pangan, dan mengurangi angka kriminalitas,” ujar Kharisma Muzaki Ghufron, koordinator Kelompok. Latar belakang dibuat alat ini yaitu keprihatinan melihat tanaman di taman umum, yang sering kali pada siang hari tidak ada yang menyiram. Senada dengan tujuan dibentuknya Kampung Tangguh, sehingga kelompok ini membuat solusi penyiraman otomatis agar tanaman ini tetap terjaga dan terawat dengan baik. Tanaman yang di tanam sendiri ada berbagai macam, umumnya sebagai bahan dapur seperti kangkung, bayam merah, dan tomat yang bisa dinikmati oleh warga. Untuk membuat alat penyiraman otomatis, kelompok ini menggunakan alat-alat pendukung piranti cerdas seperti Arduino Uno. Piranti ini diprogram untuk mengambil keputusan apakah pompa air perlu dihidupkan atau dimatikan. Ada juga piranti relay sebagai pemutus dan penyambung arus listrik yang terhubung dengan pompa air, dan soil capacitive moisture censor sebagai pengukur nilai kelembapan tanah. “Arduino Uno kami program dengan pendekatan kecerdasan buatan menggunakan logika Fuzzy, sehingga bisa mengenali ukuran kelembapan tanah menjadi tiga variabel yaitu kering, sedang, dan basah,” ungkap Muzaki, mahasiswa Program Studi Informatika ini. Mereka berharap dengan adanya alat ini dapat membantu proses pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat dipanen dengan baik dan dinikmati warga. Dengan begitu bisa dibentuk ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19. “Kelebihan alat ini daripada yang lain adalah alat melakukan penyiraman ke tanaman berdasarkan data real nilai kelembapan yang ada pada tanah, sehingga alat bisa segera mengambil keputusan untuk segera melakukan penyiraman atau tidak,” ujar Muzaki. Muzaki tidak sendirian, ia membuat alat siram cerdas ini bersama anggota kelompok 48 PMM UMM lainnya, yakni Nadia Dwi Pratiwi, Program Studi Farmasi; Ilyasa Swasdika, Program Studi Teknik Mesin; Ilham Ramadhan, Program Studi Teknik Mesin dan; Sasi Fitria Asmaningrum, Program Studi Ilmu Pemerintahan. Selain itu, kelompok yang didampingi Sendi Lia Yunita, S.Farm., Apt., M.Sc dosen Program Studi Farmasi UMM ini juga berpartisipasi dalam kegiatan Kampung Tangguh lainnya seperti: penegakan protokol kesehatan dengan melakukan kegiatan bagi-bagi masker gratis, melakukan penanaman hidroponik pada fasilitas taman umum, sosialisasi tata cara beraktivitas di tengah masa peralihan (new normal), dan melakukan kegiatan pembagian sembako dan masker gratis kepada warga masyarakat. (*/can)
Dosen UMM Terbitkan Buku di Amsterdam, Belanda

MELALUI kerjasama Program Studi Hukum Keluarga Islam dan Laboratorium Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dihelat diskusi mengenai buku karangan Pradana Boy ZTF, PhD, yang bertajuk “Fatwa in Indonesia: An Analysis of Dominant Legal Ideas and Mode of Thought of Fatwa-Making Agencies and Their Implications in the Post-New Order Period.” Diskusi ini dipandu oleh Hasnan Bachtiar, M. Arif Zuhri dan Yana S. Hijri. Buku ini diterbitkan oleh Amsterdam University Press pada 2018, yang berbasis disertasi doktoral penulisnya. Pradana Boy ZTF, PhD, selaku penulis, menamatkan pendidikan terakhirnya di National University of Singapore (NUS). Sementara itu, gelar sarjana dan magisternya berturut-turut diselesaikan di Jurusan Syariah UMM dan The Australian National University (ANU). Secara substansial, buku ini menyatakan bahwa sesungguhnya dalam produksi fatwa di Indonesia, sangat dipengaruhi oleh tiga institusi pembuat fatwa: Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sementara itu, dalam dinamika pembuatan fatwa, pemikiran keagamaan konservatif dan tradisional mewarnai secara dominan. Sedangkan pemikiran progresif, kendati ada, namun perannya cenderung marginal. Sang penulis memanfaatkan analisis sosiologi hukum dan sosiologi pengetahuan (Karl Mannheim) dalam meramu konsep-konsep ilmiah mengenai praktik fatwa. Ia menyatakan, “Sebenarnya pengetahuan individual berbeda dengan pengetahuan komunal, terutama dalam institusi pembuat fatwa yang secara sosial dipengaruhi oleh situasi politik tertentu.” Yang menarik, fakta mengenai perbedaan jenis pengetahuan (perorangan dan institusi), bisa memproduksi pengetahuan yang tidak selamanya berjalan beriringan. Misalnya di dalam MUI, ada banyak Mufti yang progresif, namun fatwa institusional yang dihasilkan cenderung konservatif. Lebih dari itu, bedah karya kali ini tidak hanya mengupas secara singkat tentang tesis dan argumentasi dari karya yang diajukan, namun juga proses kreatifnya. Pradana menjelaskan betapa studi doktoral yang memakan waktu lama, sangatlah berat. Ia mengungkapkan, “Saya harus bertapa tinggal di study room pascasarjana NUS berhari-hari bahkan di saat liburan, di mana jarang ada mahasiwa datang ke kampus.” Lalu selama mengerjakan tugas akhirnya itu, ia bercerita bahwa, “Proses supervisi yang dilalui dengan profesor pembimbing (Prof Aisha Abdulrahman), dilakukan dengan sangat ketat, bahkan baris demi baris kalimat, setebal lebih dari lima ratus halaman.” Setelah disertasi selesai dan dinyatakan lulus, ia mengerjakan proses publikasinya di Amerika. “Saat itu, saya sedang duduk di University of Massachusetts Amherst, sembari mengikuti kursus singkat tentang ilmu politik,” tuturnya. “Proses review yang berlangsung, berlipat-lipat lebih berat dari disertasi,” lanjutnya. Di akhir bedah buku, ia berpesan kepada para calon sarjana bahwa, “Studi yang kita tempuh, penting kiranya mengedepankan etos kerja ilmiah yang penuh kesungguhan dan integritas akademik yang kuat.” Karena itu, hal yang harus diperhatikan adalah mengenai orisinalitas (keaslian), kejujuran dan novelty (keistimewaan). Apa yang disebutkan terakhir itu, berkaitan erat dengan refleksi yang bersifat individual. Jadi, novelty, sebenarnya bisa lahir dari hasil “pertapaan” yang sungguh-sungguh. (has/can)
10 Paper Mahasiswa UMM Lolos di Jurnal Thailand

SEBANYAK 10 karya ilmiah mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tembus di beberapa jurnal di Thailand yang terindeks Tier 2 oleh TCI (Thai-Journal Citation Index Center). Untuk diketahui TCI adalah lembaga pengindeks karya ilmiah yang menentukan kualitas publikasi yang dihasilkan oleh sebuah lembaga. Di Indonesia, TCI ini seperti SINTA, hanya saja TCI ini lebih ‘senior’. Kesepuluh mahasiswa yang lolos di jurnal Tier 2 ini merupakan sebagian dari mahasiswa yang mengikuti Student Exchange Program di Khon Kaen University, Thailand. Hal ini merupakan wujud dari upaya internasionalisasi prodi IP yang telah diawali sejak tahun 2016 lalu. Kaprodi llmu Pemerintahan, Muhammad Kamil, M.A mengatakan ada 15 mahasiswa IP yang mengikuti program pertukaran pelajar ini. “Disana mereka tidak sekedar belajar, namun juga membuat riset dan melakukan KKN tematik internasional. Kami juga sedang menunggu kabar empat naskah lain yang sedang kami ajukan ke jurnal internasional terindeks Scopus, semoga ada kabar baik,” ungkap kaprodi termuda di FISIP UMM ini. Kesepuluh mahasiswa IP yang berhasil menembus jurnal terindeks Tier 2 ini diantaranya adalah Ardika Rizkian Nurrahmat, Vanni Tara Kartika, Riko Ratna Setiawan, Rezkita Bagas Prakasih, Imam Yusuf Abdulah dan Maulana Ilham Putra Resgi yang berhasil meloloskan karya ilmiahnya di Journal of Social Science for Local Rajabhat Mahasarakham University Vol. 4 No. 1. Ada juga Riyo Rachman Gushardana dan Amirah Zahidah berhasil menembus Journal of Local Governance and Innovation Vol.4 no.1 sedangkan Ibnu Zihab Amrullah dan Sandy Putra Ghozali berhasil lolos di Journal of Legal Entity Management and Local Innovation vol.6 no. 2. Semua jurnal tersebut terakreditasi dan terindeks Tier 2 oleh TCI. Sandy Putra Ghozali, mahasiswa IP angkatan 2017 mengkaji sebuah riset yang berbasis pada studi kasus di dua negara yaitu Indonesia dan Thailand. Risetnya ia beri judul Civil Society Participation in Efforts to Uphold Democracy Under Authoritarian Regimes: A Case Study of Thailand and Indonesia. Menariknya, paper yang dipublikasikan pada 29 April tersebut dibimbing oleh kolaborasi dosen UMM dan dosen Khon Kaen University. “Jadi saya dibimbing intensif selain oleh pak Kamil dan pak Saiman (dosen IP, red) juga oleh Siwach Sripokangkul, dosen di College of Local Administration, Khon Kaen University. Tantangannya selain harus menemukan isu yang menarik juga paper saya dan teman-teman ini semuanya harus ditulis dalam Bahasa Inggris,” ujar Sandy yang mengikuti program student exchange di Thailand selama empat bulan ini. Kamil juga mengakui bahwa tidak mudah untuk tembus jurnal di Thailand apalagi terindeks TCI. “Mereka jatuh bangun menulis itu (paper, red), banyak juga yang mau menyerah. Namun saya terus motivasi mereka agar tetap melanjutkan projectnya. Sebelum mereka berangkat ke Thailand, saya dampingi mereka untuk menyusun isu riset setiap hari Kamis secara kontinyu. Lalu saya mengarahkan arah penulisannya. Selanjutnya ketika mereka di Thailand, ada kolaborasi pendampingan oleh dosen Khon Kaen University,” jelasnya. Terkait prestasi mahasiswa-mahasiswa tersebut, Kamil berjanji akan memberikan apresiasi. Beberapa artikel yang memenuhi syarat akan diekuivalensi ke karya pengganti skripsi sesuai arahan rektor yang tertuang dalam Keputusan Rektor Nomor 32 Tahun 2017 Tentang Ekuivalensi Karya Kreatif dan Inovatif Mahasiswa ke Dalam Kegiatan Kurikuler. Hingga saat ini di Prodi Ilmu Pemerintah, sudah ada 29 karya ilmiah yang diekuivalensi sebagai tugas akhir karya pengganti skripsi. (*can)