UMM Bekali Generasi Milenial Jadi Agen Perubahan lewat Socio-ecopreneurship

Generasi Y dan Z sedang menghadapi masalah yang menantang hingga saat ini. Hal ini terutama berkaitan dengan bagaimana komunitas berkembang sedemikian rupa untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu topik yang muncul untuk meningkatkan kualitas hidup mereka adalah konsep Socio-ecopreneurship. Dengan demikian, socio-ecopreneur datang sebagai peluang yang menjanjikan. “Socio-ecopreneur merupakan generasi baru wirausaha, yang menyoroti peran mereka sebagai agen perubahan sosial,” demikian disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat menjelaskan latar belakang penyelenggaraan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) 2019, 2-4 Oktober 2019 lewat tema besar menyiapkan milenial menjadi socio-ecopreneurship. “Salah satu aksi yang dapat dilakukan yakni dengan membiasakan dan melibatkan generasi muda dengan gagasan socio-ecopreneurship yang diharapkan dapat menghasilkan individu-individu yang memiliki motivasi dan dorongan diri dengan kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi,” kata Syamsul. Agenda ini akan diisi dengan Student Camp, Presidential Forum, NUNI Meeting, serta Networking Dinner. “Kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi, sambung Syamsul, yang dilengkapi dengan dorongan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan sosial atau memperbaiki masalah sosial dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmu dan kepekaan, empati, pembuatan ide, membuat prototype dan kesediaan membantu sesama adalah kekuatan pendorong dari proses ini,” tandas Syamsul di ruangannya, Selasa (1/10) siang. Materi Student Camp sendiri berisi tentang design thinking untuk problem solving terhadap permasalahan yang dihadapi Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan basis kewirausahaan. Peserta Student Camp NUNI 2019 adalah dari mahasiswa yang terdiri dari 21 universitas dengan total 63 peserta. Student Camp akan diadakan di wilayah binaan UMM, yakni Kampung Hijau “Tempenosaurus”, Desa Beji, Kota Batu. Sementara, materi Presidential Forum berisi kebijakan-kebijakan di lingkup pendidikan tinggi untuk pengembangan perguruan tinggi. Peserta Presidential Forum adalah seluruh rektor perguruan tinggi yang menjadi anggota NUNI. Sedangkan peserta NUNI Rector Meeting adalah para Rektor/Direktur/Sederajat anggota NUNI. Dan, peserta NUNI Staf Meeting adalah staf masing-masing perguruan tinggi anggota NUNI. Dijadikannya UMM sebagai tuan rumah penyelenggaraan NUNI 2019 ini, tak lepas dari kiprah UMM yang senantiasa mengabdikan diri pada masyarakat. Utamanya melalui konsep eko-wisata atau pemanfaatan potensi daerah dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Kampung Hijau “Tempenosaurus” yang dijadikan venue penyelenggaraan Student Camp 2019 sebagai percontohan pendampingan yang dilakukan UMM. Jauh sebelum viralnya Kampung Hijau “Tempenosaurus”, UMM sebelumnya juga sudah melakukan pendampingan di salah satu wilayah kumuh di Kota Malang, yakni di Jodipan, Kecamatan Blimbing melalui branding Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ). Pendampingan yang berangkat dari praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi ini berhasil menaikkan taraf hidup masyarakat hingga keberhasilannya dilirik mancanegara. (can)
UMM Bina Nelayan dan IRT Sapeken Lejitkan Potensi Ekonomi

Kepulauan Sapeken merupakan kecamatan terjauh dan paling timur (terluar) dari Kabupaten Sumenep. Akses menuju Kepulauan Sapeken cukup sulit akibat faktor geografis dan sarana penunjang transportasi belum memadai, sehingga menyebabkan kecamatan ini semakin terisolir, mengalami kesenjangan, dan jauh tertinggal dari kecamatan lainnya, khususnya dari Sumenep daratan. Angka kemiskinan di daerah yang terletak di kepulauan Madura ini masih cukup tinggi. Sebenarnya Kepulauan Sapeken memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) berbasis bahari atau kelautan yang cukup besar dan sangat potensial untuk dikembangkan. Butuh pihak pendamping untuk melejitkan potensinya. Merasa terpanggil, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pengabdian masyarakat, yang difokuskan pada pendampingan Industri Rumah Tangga (IRT) Pembuatan Oleh-oleh khas Kepulauan Sapeken dan kelompok nelayan penangkap ikan. Kegiatan itu disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) melalui skim Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat (PPTTG) tahun 2019. Kegiatan ini juga berkoordinasi dengan tim Community Development (COMDEV) Kangean Energy Indonesia (KEI), sebuah perusahaan minyak dan gas (migas) yang beroperasi di Kepulauan Sapeken yang telah menginisiasi pemberdayaan masyarakat. Dr. Iin Hindun MKes, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil observasi dan riset yang dilakukan oleh beberapa dosen sebelumnya, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi kelautan yang sangat besar. “Namun kami berfokus pada dua hal, yaitu mengangkat potensi jajanan atau oleh-oleh yang berasal dari daerah ini. Salah satu yang kami dorong adalah pembuatan abon. Tentu di sini sangat banyak ikan, udang, kepiting dan hasil lautnya. Oleh karena itu, kami juga memilih mitra kelompok nelayan, sehingga kedua mitra akan bersinergi. Satu menyuplai bahan baku, satunya mengolah menjadi produk khas Kepulauan Sapeken,” tambah Iin Hindun, Minggu (29/9). Sementara itu Thahira Hudrie, ketua kelompok dari IRT “Dapoer Emmak” menuturkan bahwa selama ini banyak persoalan atau kendala yang mereka hadapi. Kendala tersebut, yaitu penggunaan alat masih sederhana, jumlah terbatas dan manual sehingga produksi masih rendah dan pemasaran masih dalam wilayah yang sempit, serta volume yang kecil karena memang jumlah produksi sangat terbatas. Bantuan yang diberikan berupa paket mesin pembuatan abon. Ada alat pengukus atau presto sehingga pemasakan bahan baku lebih cepat dan merata. Ada pula mesin penggoreng, sehingga abon matang merata dan tidak takut gosong. juga dibantu spinner, sehingga minyak bisa dibuang, maka abon akan awet lebih lama. “Kami juga dibantu sealer dan diajarkan bagaimana kemasan yang baik. Total biaya alat ini kayaknya lebih dari 60 juta. Bayangkan kalau kami harus beli sendiri. Kami semangat untuk meningkatkan produksi dan membuat aneka produk, sehingga mengangkat nama kepulauan Sapeken,” ujar Thahira semangat. Di tempat terpisah Husni Mubarak, koordinator kelompok nelayan “Sapeken Sejahtera” menginformasikan, sebelumnya permasalahan yang mereka hadapi adalah keterbatasan biaya sehingga hanya memiliki perahu yang kecil, mesin tenaga kecil (GT kecil), akses penerangan dan navigasi yang lemah, dan pemasaran hasil tangkapan yang tidak maksimal. “Kami berterimakasih mendapatkan bantuan kapal atau boat. Lumayan besar. Sekitar 3 sampai 4 GT. Sudah ada mesinnya juga. Kapal pun sudah dilengkapi dengan tenaga surya. Jadi bila malam, penerangan sesuai dengan keinginan”, imbuh Husni yang mengaku sejak sekolah dasar sudah menjadi nelayan itu. Husni juga mengaku bahwa setelah adanya kapal ini, hasil dan pendapatan meningkat berkali-kali lipat. Mereka juga lebih berani menangkap ikan agak jauh karena kapal dan mesin sudah layak. Hasil tangkapan mereka juga terjamin pemasarannya karena minimal sudah bekerjasama dengan IRT pengolahan abon. (can)
Lima Pilar Penguatan Mutu Perguruan Tinggi Menurut Tim SPMI Kemenristekdikti

Ada lima pilar penting yang menguatkan mutu sebuah perguruan tinggi. Yakni sinergi antara pengelola dan penyelenggaran pendidikan, keorganisasian, tata kelola, kepemimpinan dan penjaminan mutu. Kelima hal tersebut harus dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan tinggi agar terus berkembang dan semakin maju. “UMM telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang bermutu,” puji Ir. Desiana Vidayanti M.T, Tim Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Ristekdikti. Menurutnya, UMM menjadi salah satu contoh universitas swasta yang mapan dalam sistem pengelolaan pelayanan pendidikannya. Pada Rabu (28/8) siang, UMM bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemristekdikti) menggelar Sinkronisasi Sistem Penjaminan Mutu Internal dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (IAPT 3.0 dan IAPS 4.0) di Ruang Sidang Senat (RSS) Kampus III, Kampus Putih UMM. Bila kelima pilar tersebut tidak diterapkan, menurut Desiana di hadapan 17 Universitas swasta Jawa Timur, bisa saja akan terhambat pertumbuhannya. Ia kemudian mencontohkan pada bidang keorganisasian. Dalam struktur organisasi harus ada kepemahaman dan kejelasan masing-masing tugas yang diemban. Mutu, lanjut Desiana, menjadi elemen yang sangat penting. Mutu yang menentukan suatu PT akan berlanjut dan berusia panjang atau tidak. “Jika mutu tidak dicek dan dijaga secara berkala, maka hampir dipastikan mutu yang dimiliki juga tidak akan terkontrol,” ungkap Desiana, dosen Universitas Mercubuana Jakarta ini. Jika perguruan tinggi tidak menaruh perhatian pada penjaminan mutu, selain merugikan perguruan tinggi sendiri, juga dapat merugikan mahasiswanya. Dalam pelaksanaannya, perguruan tinggi diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014, tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan pendidikan tinggi. Bagi Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, pendekatan SPMI itu dimulai dari perubahan mindset. Bilamana mindset yang dimiliki belum baik, yang akan dikerjakan pun akan kurang baik. Perguruan Tinggi bertugas untuk membangun kepercayaan pada masing-masing pihak (stakeholder) melalui penjaminan mutu perguran tinggi. “Pelayanan yang diberikan juga tentu harus terjamin. Hal tersebut sangat mempengaruhi kepercayaan stakeholder maupun para mahasiswa dan circle sosialnya,” kata Fauzan. Selain Desiana, pertemuan ini juga turut menghadirkan Ir. Bambang Suryoatmono, Ph.D yang juga dari Tim Pengembangan SPMI. (mir/can)
Kuasai 3 Bahasa Asing, Mahasiswa UMM Ini Menangi Ajang Duta Bahasa Jawa Timur 2019

Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) lagi-lagi mengharumkan nama UMM setelah mendapat predikat Duta Bahasa Jawa Timur 2019. Rima Nabila Dian Agustin salah satu mahasiswa Prodi Psikologi yang sukses mendapat Juara 1 mengalahkan peserta lainnya. Perjuangan untuk mendapatkan predikat di ajang bergengsi ini bukan yang pertama kali diikuti oleh Rima, ia disapa, gadis kelahiran Agustus 1997. Sudah yang ke tiga kalinya Rima ikut. Yakni 2017 hingga tahun 2019, yang membuat Rima selalu belajar dari kesalahan. Duta Bahasa sendiri juga mengikuti kebijakan dari Kemendikbud tentang kebijakan Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah dan kuasai Bahasa Asing, sebagai salah satu bentuk penilaian dari ajang bergengsi tersebut. Rima juga aktif dalam kegiatan kebahasaan yang dilaksanakan selama KKN dengan membuat Program Teater Anak Pintar (TENAR) dan membuat buku Aktifitas yang mencakup cerita rakyat dan lagu-lagu nasional, dengan bertujuan meningkatkan budaya literasi. Selain Indonesia, Rima juga ternyata menguasai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Korea dan menguasai kesenian daerah seperti menari Tari Bapang Malangan, dan Nyinden menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mendapat penilaian tertinggi. “Saya tidak pernah belajar khusus kesenian daerah. Saya hanya belajar otodidak dari YouTube. Dari hasil belajar itu, saya banyak berhasil melewati setiap seleksi hingga memenangi ajang ini,” ungkap putri pasangan Ayah Nahar Wibowo dan Ibu Etty Yuliartanti. Menariknya, penguasaan bahasa Rima terbilang unik. Dara cantik yang gemar menonton Korean Drama (K-Drama) ini mengaku piawai berbahasa Korea dari nonton film. Tak seperti saat dia menguasai bahasa Jerman, yang memang dipelajarinya sedari sekolah menengah atas. Selain itu, selama menjadi mahasiswa aktif UMM Rima juga pernah menyabet gelar bergengsi lainnya, seperti Duta Mahasiswa Genre Putri Kota Malang, Wakil 1 Kakang Mbakyu Kota Malang, Putri Kampus UMM 2018 dan Putri Taruna Nusantara Jawa Timur 2019. Atas raihannya di tingkat provinsi, Rima berhak melaju ke tingkat nasional mewakili provinsi Jawa Timur ke Ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2019. Seleksi itu menobatkan Rima sebagai Duta Bahasa Tingkat Nasional Harapan 1, menyisihkan dari 34 Provinsi lain. Meski tak menjadi yang terbaik, Rima mengaku ingin menginternasionalisasi Bahasa Indonesia. Saat ini ia tengah mempersiapkan diri menjadi duta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Dengan modal kepiawan bahasanya sekarang, ia yakin bisa mengglobalkan bahasa Indonesia. (yas/can)
Digembleng Dua Bulan, Lulusan UMM Siap Jadi Digipreneur

Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si. selaku Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyebut, pesatnya perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) pada saat ini membuat segala kebutuhan manusia dapat terpenuhi dengan mudah. Bahkan berkat kecanggihan IT dapat merubah gaya hidup dalam suatu masyarakat. Demikian pesan yang disampaikan Syamsul dalam kesempatan menutup acara Program Beasiswa Digital Talent Schoralship 2019 di Aula Teknik Gedung Kuliah Bersama III lantai 6, Kamis (22/8) kemarin. Dalam kesempatan ini dihadiri oleh 100 peserta Digital Talent Scholarship 2019 dari mahasiswa Teknik Informatika UMM. Sebelumnya, peserta telah mendapatkan materi dan juga uji kompetensi selama 2 bulan. Syamsul lantas pengapresiasi agenda ini. “Kegiatan seperti ini sangatlah bagus, karena memberikan kompetensi dan juga peluang kepada milenial sebagai seorang digital entrepreneur untuk dapat optimis melihat masa depan,” tutur syamsul. Syamsul juga memberi contoh nyata di mana gaya hidup masyarakat perkotaan di Indonesia saat ini sudah berubah. Ia mencontohkan keberhasilan seorang Nadiem Makarim yang tidak lain adalah pendiri serta CEO dari Go-Jek. Berkat adanya aplikasi Go-Jek, segala kebutuhan kita dapat terpenuhi dengan sangat mudah. “Gaya hidup terdahulu sangatlah ownership, di mana kalau tidak naik mobil itu tidak keren. Tapi untuk saat ini yang dicari bukanlah mobil, akan tetapi akses. Di mana tidak punya akses berarti tidak keren,” tegas Syamsul. Selain dihadiri Syamsul, kegiatan ini dihadiri pula oleh Dr Ahmad Mubin MT, selaku Dekan dari Fakultas Teknik. Dalam kesempatan ini Dr. Ahmad Mubin menyampaikan ungkapan terimakasih kepada KOMINFO, lantaran telah memberikan kepercayaan kepada UMM. Dalam hal ini UMM menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta yang dipercaya untuk menyelenggarakan Pelatihan Digital Talent Scholarship 2019 ini. Selain mendapat materi dan juga pengalaman, para peserta juga mendapatkan sertifikat dan juga uang saku dari Kominfo. Ahmad juga menyampaikan beberapa pesan kepada para peserta. “Teruslah kalian menggali potensi yang ada pada diri kalian dan carilah pengalaman sebanyak-banyaknya,” tutup Mubin. Uji kompetensi yang mereka jalani membuat mereka siap bersaing di dunia pekerjaan kekinian. Para peserta yang lulus dalam program beasiswa pelatihan ini, nantinya akan diproyeksikan untuk magang di beberapa perusahaan start up terkemuka seperti Bukalapak, Tokopedia, GOJEK dan perusahaan startup raksasa lain. (mir/can)
1000Startup, Ikhtiar Lahirkan Banyak Unicorn Baru

Indonesia menjadi salah satu negara dengan empat perusahaan startup yang telah masuk ke dalam level Unicorn. Level ini disematkan bagi perusahaan startup yang memiliki pendapatan valuasi sebesar USD 1 miliar. Beberapa di antaranya adalah Go-Jek dan Tokopedia. Untuk menggenjot pertumbuhan startup-startup baru, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meluncurkan program 1000Startup. Program ini ditujukan untuk menumbuhkan startup-startup baru melalui pembinaan 6 bulan. 1000Startup dengan program awalnya yakni ignition dilaksanakan di beberapa kota. Salah satunya di Malang. Kali ini, Sabtu (24/8), Kominfo menggandeng kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai official partner. Event ini dihelat di Hall Dome UMM. Pembicara dan panelis yang hadir yakni Angki Yudistia (Founder dan CEO Thisable Entreprise), Alif Hanif (Senior Product Manager Bukalapak), Bimo Prasetio (Founder Smartlegal.id), Adila Inda (Senior Vice President Sales & Marekting Ruang Guru), dan Tri Kurniawan (Kata.ai). “Ini adalah kesempatan besar saudara sekalian untuk berani mewujudkan mimpi,” tutur Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., Kabiro Kemahasiswaan UMM. Di era industri 4.0 ini, lanjutnya, segalanya telah bertransisi. Ia mendorong para mahasiswa untuk terus bermanfaat melalui hal-hal kreatif. Acara yang bertajuk Seribu Mimpi, Seribu Karya, Seribu Solusi Untuk Satu Indonesia Raya ini pun dihadiri lebih dari 1000 peserta. “Kami tak menyangka responnya sedemikian besar,” ungkap Adhina Paramita, Strategist Partner penyelenggaraan pelatihan 1000Startup. Untuk menopang hal ini Sadjan, Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo yang menyambut baik semangat mensukseskan 1000Startup. “Pemerintah telah merampungkan Palapa Ring (Serat yang dipasang di laut dan darat di seluruh penjuru Indonesia),” katanya. Di Kota Malang sendiri, Walikota Malang, Dr. Sutiaji menyambut baik program 1000Startup. Bahkan dirinya berencana mendirikan infrastruktur mendukung hadirnya iklim kreatif di Kota Malang. Penggarapannya sendiri dimulai tahun 2019 dan ditargetkan rampung 2020. “Sejalan dengan dijadikannya Kayutangan sebagai ibukota Heritage Malang Raya, nanti di ruas kanan dan kiri jalan Kayutangan akan dijadikan sebagai tempat untuk display startup-startup Malang,” sebut Sutiaji yang juga hadir mendukung program 1000Startup. UMM sendiri baru-baru ini diamanahi Kominfo untuk menggelar Digital Talent Scholarship 2019, ajang pencarian bakat-bakat pengusaha unggul di dunia digital. Sedikitnya 100 alumnus Teknik Informatika UMM digembleng menjadi seorang digital entrepreneur (Digipreneur). (mir/can)
HI UMM Tuan Rumah Kursus Hukum Humaniter Internasional

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperoleh kebanggaan menjadi tuan rumah International Humanitarian Law Course. Kursus hukum humaniter tersebut merupakan agenda tahunan International Committee of the Red Cross (ICRC) Regional Delegation Indonesia-Timor Leste. Diikuti sebanyak 45 peserta dari berbagai perguruan tinggi, kementerian, dan lembaga swadaya masyarakat dari Indonesia dan Timor Leste. Acara berlangsung pada 19-23 Agustus 2019 di Amarta Hills Hotel and Resort, Kota Batu. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya menyambut baik kepercayaan ICRC untuk memilih UMM menjadi tuan rumah. Menurutnya, kursus hukum humaniter menjadi penting untuk memahami pentingnya misi kemanusiaan terutama dalam situasi perang. Tambahnya, agama merupakan manifestasi untuk mewujudkan kemanusiaan. Namun demikian, sambung Syamsul yang merupakan guru besar Sosiologi Agama ini, ironisnya tidak ada agama manapun yang akan terhindar dari adanya perang. Untuk itu, lanjutnya, memahami nilai dan substansi kemanusiaan dalam perang adalah hal yang fundamental, sebagai pengejawantahan ajaran agama sekaligus penghargaan terhadap hak asasi manusia. Sementara itu, Direktur Otoritas Pusat dan Hukum Internasional Kemenkumham Tudiono memandang bahwa seiring dengan kompleksitas konflik bersenjata yang didukung dengan modernisasi persenjataan, maka perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan harus ditingkatkan. “Dalam konteks Indonesia, pemerintah Indonesia terus berusaha memastikan terlaksananya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional, salah satunya melalui penyusunan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 diikuti dengan peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2019,” tandasnya. Untuk itu kegiatan ini, menurutnya, menjadi penting dalam membantu proses penyelarasan dan penyempurnaan hukum humaniter Indonesia terhadap hukum humaniter internasional. Sekaligus menjalin sinergitas antara pemerintah dan stakeholders, salah satunya ICRC dan perguruan tinggi. Lebih lanjut, Dr. Alina Permanasari dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti sebagai salah satu pemateri dalam paparannya menegaskan bahwa dalam peristiwa konflik bersenjata, bukan hanya masyarakat sipil yang harus mendapat perlindungan. Bahkan hukum humaniter internasional mengatur kewajiban kedua belah pihak yang berkonflik untuk melindungi benda-benda budaya, seperti bangunan bersejarah, situs prasejarah, hingga manuskrip. Hal ini menunjukkan perang memiliki aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pihak. Selama lima hari, acara diisi dengan penyampaian materi dan diskusi tentang hukum humaniter internasional dari berbagai pakar. Hadir sebagai pemateri di antaranya dari ICRC Indonesia-Timor Leste, Kushartoyo B.S., Donny Putranto, Novriantoni Kaharuddin, serta Muhammad Awfa. Kemudian Mayor Ahmad Fadilah, Brigjen (Purn.) Natsri Anshari, Laksamana Kresno Buntoro dari kalangan TNI serta Yunizar Adiputera dari kalanagan akademisi, dan Azharuddin dari Kemenkumham Republik Indonesia. (*/can)
Diklat Bela Negara Bagi Aktivis UMM, Gembleng Bibit Pemimpin Masa Depan

Para aktivis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Momen ini menjadi kesempatan berharga bagi para aktivis mahasiswa untuk memperdalam keilmuan terkait kepemimpinan dan segala hal tentang pengelolaan organisasi. Agenda ini diprakarsai oleh Biro Kemahasiswaan UMM. Acara yang digelar empat hari sejak 19 hingga 22 Agustus ini diikuti oleh seluruh elemen organisasi internal mahasiswa dan organisasi otonom Muhammadiyah di UMM. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa,Unit Kegiatan Mahasiswa, hingga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) . “Semuanya dilatih menjadi pemimpin yang baik,” jelas Zainul Anwar, S.Psi, M.Psi., selaku ketua panitia. Menurut Zainul, para aktivis mahasiswa harus benar-benar mempersiapkan dirinya untuk menjadi public figure yang ideal bagi mahasiswa lainnya. Di antaranya menjadi pribadi yang kreatif dan kritis. Hal tersebut dilatih melalui LKMM. Agenda ini merupakan upaya UMM dalam rangka mengembangkan softskill dan hardskill para mahasiswa yang berkomitmen menjadi bagian dari perubahan bangsa. Ada yang baru pada gelaran LKMM tahun ini, yaitu Diklat Bela Negara. Diklat ini difasilitasi langsung oleh Resimen Induk Kodam V/Brawijaya Kota Malang. Pelatihan yang diberikan di antaranya pelatihan kedisiplinan dan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bagi masyarakat sipil. Diklat diadakan di lapangan UMM pada Kamis pagi (22/8) dan disusul dengan pelantikan para pengurus organisasi mahasiswa. “Slogan dari Muhammadiyah untuk Bangsa bukan sekedar jargon,” ungkap Dr., Drs., H. Joko Widodo, M.Si., Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kemahasiswaan UMM saat didaulat sebagai pembina upacara penutupan LKMM 2019. Itu, lanjutnya, adalah pekikan semangat untuk menjadi bagian perubahan Indonesia yang dimulai dari UMM. Slogan unnu juga musti dilaksanakan dengan serius. Bagi Joko, mahasiswa yang memutuskan dirinya menjadi pengurus organisasi di kampus artinya telah menghibahkan diri untuk kebermanfaatan bersama. Empat hari yang telah dilalui bukan semata-mata kegiatan belajar. Tentunya ke depan harus diaplikasikan dalam menjalankan peran sebagai aktivis mahasiswa. “Tidak ada yang lebih pandai, semuanya belajar. Mari bersama-sama,” ajak Joko. (mir/can)
UMM Hadirkan Ilmuan Diaspora dari Swinburne Australia, Bagi Kiat Songsong World Class University

Di era industri 4.0 ini, berbagai dimensi kehidupan musti berbenah. Pola lama yang dipakai, musti diubah dengan mengintegrasikan dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ditelurkannya. Termasuk perguruan tinggi juga tidak boleh ketinggalan melakukan penyesuaian. Salah satunya dengan memberikan kuliah yang berbasis dalam jaringan (daring/online). “Metode tersebut sudah diterapkan dengan baik di Swinburne University of Technology,” jelas Dr. Dina Wahyuni, dosen Swinburne University of Technology Australia saat menghadiri Penguatan Program Internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menuju World Class University, Rabu (21/8). Dina adalah salah satu ilmuan diaspora dari Indonesia yang menjadi dosen tetap di luar negeri. Lulusan S1 Universitas Negeri Jember, Jawa Timur ini membagikan pengamatan lingkungan akademik universitas kelas dunia di Australia, khususnya di mana dirinya mengajar sebagai seorang diaspora Indonesia. “Di sana, seluruh kualitas perguruan tinggi dinilai oleh customer, yakni mahasiswa,” tuturnya. Hal tersebut meliputi pengajaran di kelas, kompetensi dosen dan kualitas bahan ajar. Perguruan tinggi tempat Dina mengajar selalu mendapat urutan pertama dalam pelayanan pendidikan. Ia pun juga menjelaskan betapa ketatnya suasana akademik di Swinburne. “Jika dosen berhalangan hadir, ia tak bisa mengganti kelas sesuai kehendak,” katanya. Dosen, lanjutnya, harus menghubungi partner mengajarnya dan kelas harus tetap berlangsung karena semua sudah tersistem. Setiap proses belajar mengajar berlangsung, secara otomatis akan direkam dan mahasiswa dapat memutar ulang setelah kelas berlangsung. Ada tiga macam dosen di Swinburne. Teaching Only, Research Only dan Conventional. Teaching Only tidak memiliki kewajiban untuk meneliti, tugasnya hanya mengajar. Sedang, dosen konvensional berkewajiban meneliti dan mengajar. Pembedaan ini adalah upaya untuk tetap memfokuskan lembaga pendidikan dalam melaksanakan cita-cita dan kewajibannya. Ekosistem riset yang ada di tempat Dina mengajar juga tak jauh-jauh dari keadaan di Indonesia. Sedikit bedanya adalah penelitian besar-besaran yang diprakarsai oleh Pemerintah. “Tahun ini, kami sedang meneliti emisi karbon,” ungkap Dina. Menurut Dina, untuk menuju World Class University butuh keseriusan membentuk budaya akademik yang baik. Mulai dari riset hingga pelayanan pendidikan pada para mahasiswa. Dirinya pun mencontohkan, saat ia mengajar, memiliki tanggung jawab mengajar 1000 mahasiswa pada satu mata kuliah. Kemudian ia bagi menjadi dua kali pertemuan yang artinya, satu kali pengajaran ada 500 mahasiswa yang diajar dalam kelas besar. Kelas teori hanya berlangsung 2 jam. Selanjutnya adalah kelas tutorial yang dibagi dalam kelas-kelas kecil bersama para instruktur masing-masing. Selain kelas secara langsung, ada juga kelas online. Kelas online tidak berarti sepenuhnya online. Tetap ada 12 kali pertemuan tatap muka yang dilakukan. Rupa kelas online ini hampir sama seperti yang diterapkan Universtias Terbuka di Indonesia. Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, Wakil Rektor I UMM menerangkan jika World Class University (WCU) adalah ikhtiar UMM. Jalan menuju visi itu perlu ditempuh dengan baik. Salah satunya melalui kesungguhan memberikan outcome berupa publikasi ilmiah. Telah banyak wadah-wadah untuk publikasi ilmiah dan harus bisa di manfaatkan dengan baik. Selain itu, bagi Syamsul, universitas-universitas di Indonesia perlu juga belajar dari beberapa universitas-universitas yang telah menjadi rujukan perguruan tinggi-perguruan tinggi dunia. “Kita punya peluang besar untuk menjadi salah satu universitas terbaik di dunia,” tuturnya. (mir/can)
Rawat Spirit Toleransi, Mahasiswa UMM Inisiasi Rumah KeBhinnekaan

Bertepatan dengan momen bersih desa Pandesari Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 114 meresmikan Rumah KeBhinnekaan yang berada di daerah Punden Ki Hajar Seguh selaku pembedah kawasan Dusun Sebaluh. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini didasari perbedaan agama di Dusun Sebaluh dan selama ini warga bisa hidup rukun dengan memegang teguh toleransi antar umat beragama. Peresmian Rumah KeBhinnekaan berlangsung bersamaan dengan prosesi tasyakuran di area Punden, Selasa (13/8) yang dihadiri warga Dusun Sebaluh serta para sesepuh. Koordinator KKN 114 UMM Wildan Arif menegaskan, pembangunan Rumah KeBhinnekaan oleh mahasiswa KKN 114 UMM didasari pada keberadaan beragam agama yang hidup rukun, tanpa pernah terjadi konflik. “Selain itu, wargapun masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, tanpa membedakan agama,” ungkap Wildan saat diwawancarai, Rabu (21/8). Di dalamnya, selain bisa digunakan sebagai ruang pertemuan, juga terpasang gambar dan simbol dari masing-masing keempat agama, kitab dan buku referensi setiap agama, serta prasasti yang sudah ada sebelumnya. “Di tengah mengerasnya hubungan antar elemen di Indonesia , kehadiran Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa membantu meredam ketegangan ini. Selain itu juga, diharapkan menjadi contoh sekaligus inspirasi perwujudan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” lanjut Wildan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan diharapkan bisa menjadi tempat pertemuan para tokoh agama di Dusun Sebaluh, agar toleransi beragama di Dusun Sebaluh tetap terjaga. Di Dusun Sebaluh sendiri terdiri dari 4 agama yakni Islam, Hindu, Kristen, dan aliran kepercayaan Sapta Dharma. “Di dusun ini, empat agama ini bisa hidup rukun-guyub. Misalnya, ketika masyarakat beraga Islam membangun masjid, masyarakat agama lain juga turut membantu mendirikan. Demikian juga dengan pendirian tempat ibadah lainnya,” tutur Wildan. Kepala Dusun Sebaluh Imam Bashori mengapresiasi gagasan para mahasiswa kelompok KKN 114 UMM yang telah menginisiasi sebuah wadah berupa Rumah KeBhinnekaan. Keberadaan Rumah KeBhinnekaan ini nantinya bakal dijadikan sebagai tempat pertemuan kegiatan warga, baik itu rapat ataupun pertemuan lainnya. “Dengan adanya gagasan dari teman-teman KKN UMM ini, warga Dusun Sebaluh berterimakasih sekali. Rumah ini bisa jadi tempat memediasi kalaupun suatu saat ada masalah,” ungkap Imam di sela acara peresmian. Tak hanya pendirian Rumah KeBhinnekaan, selama 30 hari mahasiswa kelompok KKN 114 yang didampingi Ianatut Thoifah, S.Pd.I, M.Pdi. telah melakukan pengabdian lainnya. Antara lain melakukan penyuluhan pencegahan struk di Posyandu, menghiasi jalan dengan papan penunjuk jalan di wilayah Dusun Sebaluh, memberikan les sekolah gratis bagi anak-anak, memberikan bimbingan belajar mengaji bagi warga muslim, serta menyelenggarakan lomba tradisional di momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia. (*)