Tim Robotik UMM Pertahankan Gelar Juara di Kontes Robot Amerika Serikat

Tim Robotik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapatkan raihan gemilang dalam gelaran Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat, 13-15 April 2019 lalu. Ketiga tim kebanggaan UMM dan Indonesia ini meraih juara pertama dan kedua untuk kategori robot pemadam api berkaki, dan juara dua untuk kategori robot pemadam api beroda. Kontes robot tingkat dunia ini mempertandingkan 32 tim dari berbagai negara, seperti Israel, Tiongkok, dan lainnya. Adalah Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, Ken Dedes Maria Khunty, tiga Tim Robotik UMM ini ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia karena berhasil keluar sebagai juara nasional berdasarkan surat penugasan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Republik Indonesia no. T/274/B3.1/KM/02.04/2019. Di tahun 2017, dua tim Robotik UMM juga pernah memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang sebagai juara 2. Di samping itu, tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik. Atas pengalaman inilah, mereka sangat optimis akan kembali menang, tentunya melalui penyesuaian beberapa teknologi dan mengusung inovasi baru. Semua robot, baik kategori berkaki atau beroda memiliki misi memadamkan api dengan cepat di titik pada satu ruangan atau kamar yang menyerupai rumah. Posisi titik api diletakan secara acak oleh dewan juri sehingga robot dituntut harus cekatan untuk mencari api tersebut. Setelah memadamkan api, robot di-setting untuk kembali ke titik awal. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang. Raihan ini sejalan dengan ekskpektasi Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam pelepasannya yang menjanjikan bakal membebaskan skripsi jika berhasil memenangi kontes ini. Fauzan berpesan kepada para delegasi dan mahasiswanya yang hadir ketika itu untuk berhenti menjadi penonton. Sebaliknya, jadilah pemain. “Saya tidak menarget harus juara satu, tetapi yang terbaik sajalah yang saya minta,” ungkapnya.   Sementara, dua tim lainnya yang dimotori Bayu Irawan Nugroho mahasiswa teknik elektro dan Dwi Nur Fajar mahasiswa teknik informatika juga akan unjuk gigi di Kontes Robot Indonesia (KRI) Regional IV pada 21-23 April 2019 di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rombongan ini mempertandingkan dua jenis robot, yakni satu robot pemadam api kategori berkaki (DOME), dan tiga robot kategori sepak bola (Zhafarul). Robot sepakbola pada kompetisi ini harus memiliki spesifikasi yang wajib dipenuhi. Yakni mendeteksi objek, menggiring bola, menendang, hingga lokalisasi. Pendeteksian objek tersebut agar robot dapat membedakan bola, lawan, garis, dan gawang. Robot akan dinyatakan memenangkan pertandingan ketika robot lebih banyak memasukan bola ke gawang lawan. Semoga bisa melampaui prestasi para seniornya. (*/can)

MAFI Fest 2019: Sorot Isu Perceraian lewat Sinematografi

Pada tahun 2015, Kabupaten Malang menjadi daerah dengan angka perceraian tertinggi kedua di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian kelompok sinematografi Kine Club Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam garapan film produksi bersamanya, “Kisah dalam Ruang Gelap” di Gala Primere yang ditayangkan perdana pada perhelatan Malang Film Festival (MAFI Fest) 2019, Kamis (11/4). “Perceraian kini menjadi isu yang paling dekat dengan masyarakat. Hal inilah mendasari terangkatnya tema sosial ini. Film ini mencoba menyampaikan bahwa perceraian bukan merupakan solusi satu-satunya yang bisa ditempuh,” ungkap Adik Fitria selaku produser. Rencananya, tahun ini Kine Club akan roadshow ke sepuluh titik di lokasi dengan tingkat perceraian tertinggi di Kabupaten Malang. Tokoh bapak dan ibu dalam film yang disutradarai Hafidz Alamudi ini menceritakan  tentang harmonisasi kehidupan berumah tangga. Dikisahkan, sang istri rela menjadi tulang punggung keluarga karena keterbatasan fisik sang suami yang tuna netra. Sayangnya, kesediaan sang istri akhirnya membuat sang suami meminta perceraian karena merasa menjadi beban untuk keluarga terkhusus sang istri. Pengembangan cerita berlangsung selama 2 bulan. Dalam kurun waktu ini, survei  data dan wawancara dilakukan untuk memperkokoh landasan cerita. Menurut Hafidz, yang paling menantang adalah scene hujan dan saat pegambilan gambar di rel kereta api. “Dibutuhkan manajemen waktu karena damkar dan kereta api hanya memiliki waktu yang sangat singkat,” tutur Adik, mahasiswa Ilmu Komunikasi ini. Sementara Direktur MAFI Fest Aliya Dwi Citra menyebut, Kine Club UMM terus konsisten memberikan ruang kepada sineas muda Indonesia dalam rangka mempertemukan filmnya kepada penonton melalui Malang Film Festival (Mafi Fest). Tahun ini, Mafi Fest 2019 kembali memberikan program Ruang Apresiasi untuk menjadi ruang gala premiere film produksi bersama (Prodber) Kine Klub UMM. Selain pemutaran gala primere film produksi bersama, MAFI Fest mengundang salah satu film tamu bertema sosial, yaitu “Nyanyian Akar Rumput”. Sebuah film indie yang berkisah tentang seorang istri dan kedua anak dari aktivis pergerakan Widji Thukul dalam menjalani hidup, setelah suami dan ayah mereka dinyatakan hilang. Penayangan film disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 1998. MAFI Fest tahun ini memiliki 4 kategori lomba, terdiri dari Fiksi Pendek Mahasiswa, Fiksi Pendek Pelajar, Dokumenter Mahasiswa dan Dokumenter pelajar. Jumlah film yang masuk tahun ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 477 film. Hanya akan tersisa 23 film yang lolos kurasi. Masing-masing pemenang kategori diumumkan sebagai juara pada malam penganugerahan, Sabtu (13/4). Sejak tanggal 10-13 April, MAFI Fest juga diisi berbagai rangkaian acara yang tak kalah menarik. Adapun program non kompetisi yang diadakan diantaranya Malam Penghargaan, Sesi Malangan, Program Penayangan Khusus, Program Penayangan Perdana, Diskusi Umum dan Kelas Kritik. Acara dapat terselenggara dengan baik berkat dikerjasamakan dengan VIU Indonesia dan Pusbang Film Kemdikbud RI. (*/can)

MAFI Fest 2019 Jadi Ajang Unjuk Gigi Sineas Muda Indonesia

Tahun 2019 ini merupakan kali ke-15 terselenggaranya kompetisi film bagi para sineas muda berbakat Indonesia; Malang Film Festival (MAFI Fest). MAFI Fest sendiri merupakan festival film mahasiswa tertua di Indonesia. Acara ini merupakan acara tahunan yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub UMM. Gelaran ini akan dibuka Rabu (10/4) malam lalu di Teater Dome UMM yang dihadiri Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dan Pusbang Film. MAFI Fest kali ini mengusung tema “Sintesa”. “Sintesa sendiri berarti gabungan dari beberapa elemen sehingga membentuk suatu yang selaras,” ungkap Direktur MAFI Fest Aliya Dwi Citra. Filosofi ini bisa diinterpretasikan di dunia perfilman dalam bentuk program-program yang sifatnya kolaboratif, seperti roadshow pertama tahun ini berkolaborasi dengan Teras Baca Masyarakat, Teras Literasi dan roadshow kedua yang berkolaborasi dengan Parade Film Malang guna memperingati Hari Film Nasional. MAFI Fest mengundang salah satu film tamu yaitu “Nyanyian Akar Rumput”. Sebuah film indie yang berkisah tentang seorang istri dan kedua anak dari aktivis pergerakan Widji Thukul dalam menjalani hidup, setelah suami dan ayah mereka dinyatakan hilang. Film akan disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 1998. Persiapan MAFI Fest ini dilakukan sejak terbentuknya panitia inti pada Agustus 2018 lalu, dengan menyusun program-program, tema itu sendiri, pengisi acara, hingga film apa saja yang akan ditayangkan. Hingga pada November 2018 terbentuklah panitia besar setelah mengadakan open recruitment panitia MAFI Fest 2019. MAFI Fest tahun ini memiliki 4 kategori lomba, terdiri dari Fiksi Pendek Mahasiswa, Fiksi Pendek Pelajar, Dokumenter Mahasiswa dan Dokumenter pelajar. Jumlah film yang masuk tahun ini mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 477 film dalam program kompetisi hingga tersisa 23 film yang lolos kurasi. Adapun program non kompetisi yang tidak kalah menarik, diantaranya Malam Penghargaan, Sesi Malangan, Program Penayanga Khusus, Program Penayangan Perdana, Diskusi Umum dan Kelas Kritik. Semua program dirangkum di empat hari pelaksanaan yaitu pada tanggal 10 hingga 13 April 2019. Terlebih lagi, di tahun ini MAFI Fest didukung oleh penyedia layanan streaming Viu Indonesia melalui program kerjasama yaitu Pitching Forum. Program tersebut merupakan bentuk dukungan Viu Indonesia bagi para filmmaker muda khususnya di Malang Raya yang memiliki ide cerita untuk diproduksi. “Selain itu juga sebagai wadah bagi para filmmaker mahasiswa, pelajar maupun umum untuk mengembangkan pola distribusi film yang tidak hanya terhenti di festival maupun kompetisi, tetapi juga platform digital,” ungkap Senior Vice President – Marketing Viu Indonesia saat hadir di konferensi pers di Teater Dome UMM. (*/can)

Pakar Psikologi UMM: Pola Asuh Orang Tua Menjadi Penentu Karakter Anak

Maraknya praktik intimidasi hingga perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini menjadi warning bagi Pemerintah. Tentu saja, berbagai daftar kejadian tersebut membuat sebagian masyarakat geram sambil mengelus dada. Salah satunya yang sedang hangat dibicarakan ialah kasus pengeroyokan dan bullying terhadap Audrey, siswi sekolah SMP di Pontianak, Kalimantan Barat. Pertanyaannya, bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya? Diana Savitri Hidayati, S.Psi., M.Psi., pakar Psikologi Klinis Anak & Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, dari sisi tersebut kejadian tersebut sangat berkaitan dengan pola asuh orang tua mereka. “Karena masih di bawah umur semua, jadi tanggung jawab ada di orang tua,” tutur Diana. Terkait dengan bagaimana orang tuanya mengasuh juga melakukan pengawasan ke grup bermain yang menjadi tempat di mana si anak bertumbuh kembang. “Jangan-jangan pelaku tak menemukan kenyamanan di rumah, dan menemukan kenyamanan di luar,” jelasnya. Kebetulan, lanjut, grup pelarian mereka di mana tempatnya bermain cenderung negatif. Yang perlu dipahami, jika kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan dilakukan berulang terhadap orang yang sama, maka baru dapat dinamakan bullying. Jika sekali, belum bisa dikatakan bully tetapi intimidasi. “Kalau sudah masuk ke tindakan kriminal, itu ranah hukum. Dalam kasus Audrey, Psikologi memandang ada yang salah dengan pola asuh yang diterima pelaku dari orang tua mereka,” ungkapnya, Jumat (12/3). Diana turut prihatin dengan aksi pengeroyokan terhadap Audrey. Menurut Diana, fase usia sekolah menengah pertama dan atas adalah masa di mana anak-anak mencari pengakuan dan jati diri. Masa-masa tesebut perlu dampingan intensif orang tua. Bahayanya, bila tak didampingi, anak akan menafsirkan berbagai hal dengan kemampuan terbatasnya. Keluarga ideal adalah keluarga yang demokratis. Orang tua, kata Diana, harus berperan sebagai sosok pendengar yang baik. Anak juga selayaknua diberi kesempatan untuk berkontribusi di setiap pengambilan keputusan di keluarga. Orang tua dapat membebaskan anaknya untuk berbuat apapun, namun tetap di bawah kontrol orang tua. Juga, melarang disertai dengan alasan yang dapat dipahami anak. Pola pengasuhan demikian, disebut Diana, cukup untuk membuat anak nyaman di rumah. Dengan mengkontrol perkembangan anak oleh orang tuanya, bukan berarti tidak menaruh kepercayaan kepada anak. Namun, pungkas Diana, sebagai orang tua sudah menjadi kewajiban untuk memahami bagaimana anak bertumbuh kembang. “Sayangnya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua,” tandas Diana. (mir/can)

UMM Runner Up Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia

Setelah melakukan persiapan sangat matang, tim debater Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menyabet runner up dalam Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) Rayon II LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Rabu (10/4) lalu. Kompetisi kali ini mempertemukan 18 tim dari 18 perguruan tinggi. Awalnya, tim debater UMM yang beranggotakan M. Fitrah Ashary Bangun, Ibnu Sofyani dan diketuai oleh Wildan Arif ini melakukan tahap seleksi tingkat internal (UMM) sebelum akhirnya terpilih menjadi perwakilan UMM untuk maju di kompetisi debat yang diadakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) ini. ”Alhamdulillah, pihak kampus sangat mendukung kami. Bahkan kami juga sering diberikan masukan dan juga evaluasi untuk memperbaiki beberapa kekurangan kami,” ungkap Wildan menceritakan pengalamannya mengikuti perlombaan bergengsi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMP), Kamis (11/4). Meskipun kompetisi tersebut diselenggarakan bersamaan dengan Ujian Tengah Semester (UTS), Wildan CS mengaku masih bisa fokus pada kompetisi yang dilakoni. Hal ini terjadi lantaran, diakuinya, pihak UMM memberikan dukungan penuh terhadap tiga mahasiswa yang mengharumkan nama besar Kampus Putih tersebut. Wildan yang merupakan ketua Komunitas Riset dan Debat (KRD) ini menuturkan, selain rajin latihan, membangun chemistry adalah salah satu faktor yang tidak kalah penting. ”Kami latihan sehari tiga kali dan itu hampir kita lakukan setiap hari, terkadang di kampus, kontrakan, atau bahkan warung kopi,” tuturnya. KDMI kali ini membahas beberapa tema seperti pendidikan, ekonomi, pembangunan, politik, olahraga serta hukum. Setelah berjuang selama 2 hari di UMP, akhirnya tim debater UMM harus menghadapi Universitas Katholik Widya Mandala di semifinal sebelum akhirnya harus menghadapi tuan rumah di partai final. Selanjutnya, UMM akan menjadi tuan rumah pada akhir bulan April mendatang. Penunjukan ini didasarkan pada kiprah delegasi UMM yang kerap memenangi berbagai kompetisi debat di berbagai wilayah, baik regional maupun nasional. Wildan dan kawan satu timnya menyambut optimis agenda bergengsi ini. ”Harapan saya tentunya dapat memberikan yang terbaik untuk UMM pada tanggal 28 sampai tanggal 30 April mendatang. Karena kami memiliki kepercayaan diri cukup tinggi, mengingat kelompok kami sudah kompak, ditambah lagi kita sebagai tuan rumah,” imbuh mahasiswa hukum semester enam ini. (zak/can)

Keren! Aplikasi Ini Buat Mafa Terpilih Jadi Duta Anti Narkoba

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), pada tahun 2017 saja setidaknya ada 3,5 juta pengguna narkoba di Indonesia. Angka ini tentu sangat memprihatinkan. Pemerintah pun telah mengambil langkah tegas melalui berbagai ancaman hukum hingga eksekusi mati kepada terpidana narkoba sejak 2015. Upaya edukasi bahaya narkoba kepada masyarakat Indonesia juga digagas BNN melalui ajang pemilihan Duta Anti Narkoba. Adalah Mafadhotul Zuliatin, mahasiswa Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil menduduki posisi kedua ajang Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019 baru-baru ini. Berbekal idenya menggagas aplikasi edukatif bahaya narkoba berbasis android/ iOS, mahasiswa yang akrab disapa Mafa ini tampil apik saat presentasi. Aplikasi yang ia gagas dinilai dewan juri selaras dengan program BNN yakni Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Aplikasi yang dirancang oleh Mafa berisikan beberapa fitur edukasi, diantara adalah quiz interaktif, informasi tentang BNN, dampak narkoba serta undang-undang terkait narkoba. Aplikasi bernama Anti Narkoba EducApp ini dapat dengan mudah diunduh melalui PlayStore, dan segera hadir di AppStore. “Kebanyakan anak muda tentunya pakai gadget. Gadget menjadi salah satu media efektif untuk pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba,” tutur mahasiswa angkatan 2017 tersebut, Rabu (10/4). Selain melalui aplikasi, ia juga akan melakukan sosialisasi rutin dua minggu sekali di Car Free Day (CFD). Bersama BNN, Mafa akan menggelar seminar anti narkoba pada Hari Anti Narkoba 26 Juni mendatang. “Kita buka bilik konsultasi untuk konsultasi narkoba yang bersifat privasi. Jadi kalau yang mau buat pengakuan, privasinya terjaga,” tuturnya. Lomba poster, video, foto terkait kenarkobaan akan turut memeriahkan seminar. Mafa sebenarnya tak menyangka dapat menduduki posisi juara dua. Ternyata, interview dan presentasinya mampu memukai para juri. “Sempat pesimis dengan peserta lain yang sudah sering ikut kompetisi serupa,” ujarnya. Mafa bersyukur mendapatkan amanah sebagai Duta Anti Narkoba Kota Malang 2019. (*/mir/can)

Berkat Sagu, Mahasiswa UMM Ini Wakili Jatim di Pilmapres Nasional

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) mengukuhkan mahasiswa program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dita Fomara Tuasikal sebagai juara pertama tingkat Jawa Timur (Jatim), di Grand Whiz Trawas-Mojokerto (2/4). Mahasiswa angkatan 2016 ini menyisihkan peserta lain dari lima puluh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta  (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur. Dita mengusung konsep sosial ekonomi pembangunan, yakni Desa Mandiri Pangan dan Energi melalui sumber pangan dan energi alternatif. Melalui karya tulis bertajuk “Multi Function Concept to Support Independent Village: Optimalisasi Potensi Sagu sebagai Upaya Mewujudkan Desa Mandiri Pangan dan Energi Berbasis Sociopreneurship” Dita, panggilan akrabnya, mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang Pilmapres di tingkat nasional dalam waktu dekat. Indonesia memiliki luas areal sagu terbesar di dunia dengan luas sekitar 1.128 juta hektar. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal yaitu baru sekitar 11% dari total cadangan pati sagu Indonesia. Indonesia adalah penghasil sagu terbesar di dunia, namun negara yang paling serius mengembangkan sagu justru Jepang. Dilanjutkannya, sagu (Metroxylon sagu) merupakan sumber karbohidrat layaknya beras. Satu porsi nasi seberat 100 gram setara dengan 40 gram tepung sagu. Jika potensi sagu telah dapat dimanfaatkan dengan bijak sebagai pangan alternatif, maka Indonesia seharusnya tidak perlu mengimpor beras sampai dengan 861.601 ton. Terlepas dari itu, sambungnya, ampas ela yang merupakan limbah setelah panen sagu, mengandung ethanol 80% yang memenuhi syarat pembakaran sempurna sehingga dapat dijadikan sebagai energi alternatif berupa bioethanol. Desa Pelauw di Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah jadi tempat penelitiannya.  “Sayang, dengan potensi sagu yang melimpah, penduduk desa ini masih bergantung pada beras dan BBM dari kota Ambon. Padahal hampir di seisi Maluku tidak ada produksi beras sama sekali. Selain itu, sangat sering terjadi kelangkaan BBM sehingga mengharuskan ke pulau sebelah hanya untuk membeli minyak tanah,” bebernya. Diakui Dita, dirinya telah disiapkan secara matang oleh pihak universitas. Dimulai dari persentasi di depan rektor hingga ke kelas-kelas. Juga hingga disiapkan tim khusus, misalnya di aspek kepribadian ada dosen dari fakultas Psikologi, ada juga dosen khusus penampilan yang menilai performa saat persentasi, hingga tata pakaian. Persiapan jelang perlombaan dilakukan secara matang selama dua minggu, dan satu minggu intensif. “Dimulai dari perbaikan proposal, presentasi bahasa inggris, kepribadian, sikap hingga dibentuk tim-tim khusus yang mengawasi dan membimbing,”  ujar Dra. Titiek Ambarwati, MM selaku pembimbing Pilmapres UMM. Selain UMM, tujuh universitas yang lolos untuk mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional yakni Universitas Katolik Widya Mandala, Universitas Kristen Petra, Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Universitas Surabaya, Universitas Ciputra, Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan Unida Gontor. (riz/can)

Presiden Maspion ke UMM, Kepincut Asri dan Sejuknya Kampus Putih

“Cintailah produk-produk Indonesia,” mungkin sepenggal kalimat ini melekat kuat di pikiran sebagian masyarakat Indonesia. Di iklan produk perusahaan manufaktur kenamaan Indonesia tersebut, ada sosok seorang Alim Markus sang Presiden Direktur Maspion Group. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini hadir menyapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (6/3). Alim mengaku ini adalah kali pertamanya berkunjung ke UMM. Dalam sekejab, UMM mampu membuat anak dari Alim Husin ini tersanjung. Pasalnya, UMM memiliki suasana asri dan udara yang sejuk. “Saya diminta Pak Rektor lain kali berkunjung lagi ke UMM,” tuturnya. Selain takjub dengan kemegahannya, ke UMM baginya sekaligus berwisata dan beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kesibukan kota. Pada agenda Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan atas kerjasama Suluh Kebangsaan dan UMM ini, Alim membagi ceritanya sebagai anak bangsa yang sukses membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia membagikan kunci suksesnya. “Pendidikan jadi faktor penentu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya dihadapan peserta yang memadati Aula GKB IV lantai 9 UMM. Dalam gelaran bertajuk “Milenial Wujudkan Indonesia Emas 2045, Siapa Takut?” ini disebutkan Alim, bonus demografi Indonesia pada tahun 2030 menuju Indonesia Emas di tahun 2045, adalah peluang untuk tumbuh dan berkembangnya Indonesia secara ekonomi. Bila semua masyarakat milenial memiliki pendidikan yang baik, ke depan Indonesia punya peluang besar untuk memimpin ekonomi dunia. “Oleh karenanya, masyarakat milenial yang bakal meneruskan tampuk kehidupan saat Indonesia di masa keemasannya di usia seratus tahun, harus disipkan menjadi manusia-manusia terdidik. Karena orang berpendidikan akan memberi harapan nyata bagi sesamanya,” ungkapnya. Ia juga mengundang mahasiswa UMM untuk belajar langsung belajar berwirausaha di perusahaan yang ia pimpin. Selain Presiden Direktur PT. Maspion, hadir panelis lain yakni Ketua Suluh Kebangsaan Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Staf Khusus Presiden Bidang Agama Tingkat Internasional Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., Savic Ali, serta dua putri Presiden Republik Indonesia keempat Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid dan Inayah Wahid. (mir/can)

Ini Harga yang Harus Dibayar Agar Indonesia Tetap Ada di 2045

Alissa Wahid, putri presiden keempat RI Gus Dur menyebut, pekerjaan rumah masyarakat Indonesia tidak mudah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tetapi sangat mungkin untuk diwujudkan. “Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” tegasnya, Selasa (9/4) pagi. Hal ini disampaikan Alisa dalam kesempatan menjadi panelis pada gelaran Dialog Kebangsaan di Aula GKB IV Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir tokoh lainnya, Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA., Savic Ali, serta putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. Untuk Indonesia bisa tetap bertahan hingga di usia seratus tahunnya, yakni di tahun 2045, ada harga yang harus dibayarkan. “Mau nggak kata Indonesia hilang dari peta? Tapi mau nggak membayar harganya supaya kata ‘Indonesia’ itu tetap ada di dalam peta. Harganya adalah, sebagai warga negara, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” bebernya dihadapan ratusan peserta gelaran sehari ini. Selain itu, sambungnya,  ketika seseorang mau berkembang dan tumbuh menjadi orang yang mandiri dan berdikari. Tetapi dalam waktu yang bersamaan, kalau Indonesia juga ingin besar, maka manusianya juga harus sejahtera. “Sejahtera itu harus menjadi bagian dari kita. Yang mandiri dan berdikari. Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, kalau warganya mampu menyangga dirinya sendiri,” ujarnya. Tak cukup itu, pelibatan generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sejahtera juga mesti dilakukan. “Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” tegasnya. Generasi milenial yang hidup di masa teknologi informasi berkembang pesat, membuat generasi ini memiliki keunggulan. Tahun 2012, diceritakannya, kita dikagetkan dengan kasus Satinah, TKI yang terancam dihukum pancung jika tidak mampu membayar diyat sebanyak 21 milyar. Pemerintah Indonesia ketika itu hanya menyanggupi sembilan milyar saja. Tentu belum cukup,” bebernya. Netizen Indonesia, anak-anak muda milenial ketika itu, berinisiatif saweran agar hukuman itu tidak terjadi. Jumlah yang terkumpul 2,8 milyar dalam kurun waktu sekian hari saja. “Itu kekuatan dunia digital dan itu kekuatan anak-anak muda Indonesia. Hal ini juga terjadi pada 2014, saat pengajuan perluasan gedung KPK. Lagi-lagi karena kekuatan netizen, kebijakan itu akhirnya disetujui,” paparnya. Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya. (can)

Pesan Mahfud MD Buat Milenial UMM: Mari Ikut Wujudkan Indonesia Emas 2045

Cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju, adil dan beradab dalam rangka menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045 akan terwujud, kata Prof. Dr. M. Mahfud MD., S.H., S.U., jika memenuhi sejumlah syarat. Yakni jika ideologi bangsanya kokoh, ekonominya baik, hukum dan keadilan ditegakkan, politik yang demokratis, budaya gotong royong, serta mengedepankan persaudaraan. Hal itu disampaikan Mahfud MD Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini dalam gelaran Dialog Kebangsaan yang digelar di Aula Gedung Kuliah Bersama IV lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hadir para tokoh lain sebagai pembicara yakni Dr. Alim Markus Presiden Direktur PT. Maspion, Dr. Fauzan, M.Pd. Rektor UMM, Dr. Siti Ruhaini Dzhuhayatin, MA, serta Savic Ali. Dilanjutkan Hakim Konstitusi periode 2008-2013 ini, Indonesia Emas juga disokong oleh sejumlah indikator lain. Diantaranya pemanfaatan bonus demografi, bonus geografi,  juga kesadaran hidup bernegara untuk terus bersatu. “Kalau beberapa indikator ini terpelihara sampai tahun 2045, artinya ketika Indonesia di usianya 100 tahun, barulah Indonesia sudah bisa dikatakan emas,” katanya, Selasa (9/4). Pertanyaannya, sambung Mahfud, kita bisa sampai ke sana ataukah tidak? Hati-hati, Mahfud mewanti-wanti ke seluruh peserta, banyak negara-negara besar yang tidak sampai ke sana. Dicontohkannya, Uni Soviet tidak sampai usia 100 tahun. Padahal pernah berjaya luar biasa. “Pernah menjadi negara menakutkan dunia karena kehebatannya. Bubar hanya dalam kurun waktu 87 tahun,” bebernya. Meski begitu, sambungnya, ada begitu banyak ancaman untuk cita-cita itu dapat terwujud. Di antaranya intoleransi. Makannya kita berkumpul seperti ini untuk mengingatkan bahwa sekali kita terpecah, karena intoleransi, sekali kita terpecah karena tidak sadar pentingnya pluralisme, mungkin kita tidak akan sampai Indonesia Emas 2045. Dan itu akan mengakibatkan kita rugi,” ujarnya. Sementara, menurut perspektif Menteri Pertahanan Republik Indonesia ke-22 ini, mulai dari sekarang masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial, harus bekerja secara sungguh-sungguh untuk menegakkan hukum dan keadilan agar Indonesia Emas di tahun 2045 itu dapat terwujud. “Karena biasanya negara hancur itu, utamanya, kalau hukum tidak ditegakkan dengan benar,” tegasnya. Rumusnya, ketika masyarakat diperlakukan tidak adil, pasti diakibatkan oleh praktik disorientasi dalam bernegara. Kalau disorientasi dibiarkan, sambungnya, akan menimbulkan distrust, atau ketidakpercayaan publik kepada pemerintah. “Pada tingkatan berikutnya akan terjadi disobedience, atau pembangkangan,” kata Mahfud  di gelaran dialog yang dimoderatori putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. “Jika pembangkangan ini terus dibiarkan, tidak segera ke orientasi awal, maka akan terjadi berikutnya disintegrasi. Disintegrasi ini akan terjadi, jika suatu bangsa kemudian sudah tidak tahan rakyatnya karena tidak diperlakukan tidak adil. Inilah yang menyebabkan negara hancur. Sehingga, untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 kita harus bagi-bagi tugas,” tuturnya. Ikhtiar berbagi peran ini, khususnya di kalangan milenial, dalam rangka menyiapkan kita untuk membangun bangsa yang beradab. Jangan sampai negara kita hancur karena kita terpecah belah. “Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia yang maju dan beradab dengan memanfaatkan segala kelebihan yang kita miliki. Agar Indonesia Emas di tahun 2045 dapat tercapai,” tandasnya. (can)