American Corner UMM Gandeng RELO US Embassy Jakarta Ajak Tenaga Pengajar Manfaatkan Sosial Media

Seiring kemajuan zaman, hadirnya teknologi menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Masuk dalam setiap aspek kehidupan, kehadiran teknologi juga dapat membentuk budaya baru dalam melakukan interaksi sosial termasuk di dunia pendidikan. Melihat fenomena ini, American Corner Universitas Mumammadiyah Malang (UMM) bersama Regional English Language Office (RELO) United States Embassy Jakarta menggelar Workshop Creating Socially Engaging Learning Experiences and Materials di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (9/2). Acara tersebut juga bertujuan untuk mendukung program pendidikan antara Indonesia dan Amerika. Hadir dalam gelaran tersebut, the Chair of the Faculty Technology Advisory Group The Patton College of Education Ohio University Amerika Serikat, Greg Kessler. Pada kesempatan ini, Greg Kessler memberi pandangan dan pengalaman lebih jauh tentang bagaimana teknologi dapat berintegrasi dengan kegiatan belajar dan mengajar, terutama dalam konteks mata pelajaran Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, Greg Kessler juga mengajak seluruh hadirin untuk terus lebih aktif dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial yang dimiliki. Menurutnya media sosial merupakan jenis kebutuhan baru untuk generasi saat ini. Hal tersebut dapat menjadi sebuah peluanh yang dapat digunakan sebagai media untuk menarik perhatian peserta didik. “Saya percaya bahwa semua yang ada di ruangan ini pasti memiliki media sosial, mungkin bisa Facebook, WhatsApp, atau media sosial lainnya,” ungkapnya. Lebih lanjut Greg Kessler juga menyampaikan bahwa saat ini telah banyak media pembelajaran yang diciptakan untuk membuat kegiatan kelas lebih interaktif dan menyenangkan. Ia juga menampilkan beberapa media pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya Augmented Reality (AR). “Kita dapat menciptakan Creative Teaching melalui media yang telah diciptakan dan itu bisa membuat kelas lebih interaktif,” jelasnya. Dalam penjelasan akhirnya Greg Kessler juga menekankan kembali bahwa pengajar merupakan faktor terpenting dalam membangun kesuksesan dalam proses belajar mengajar dan menjadi pengajar yang kreatif, bukan berarti harus menciptakan produk baru. “Kesadaran dalam menggunakan media pembelajaran yang interaktif dapat membentuk lingkungan belajar yang lebih menyenangkan,” pungkas Greg Kessler. Dihadiri citivas akademik UMM, mahasiswa dan pengajar bahasa Inggris dari luar kota Malang, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama Soeparto menyampaikan, acara ini penting untuk para tenaga pengajar mengembangkan keilmuannya. “Kegiatan ini merupakan kegiatan yang akan memberikan anda semua ilmu yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.(nis/sil)
Persentase Kelulusan Program PPG UMM Terbanyak di Indonesia

Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mencetak guru-guru profesional terus dijalankan. Kali ini, bekerjasama dengan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM menggelar Orientasi Akademik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Aula BAU UMM, Kamis (8-9/2). Acara yang dibuka oleh Rektor UMM Fauzan dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Poncojari Wahyono tersebut berlangsung hikmat. Kepada para 107 peserta yang merupakan lulusan program PPG Bersubsidi dan alumni Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) Fauzan berpesan agar sebagai guru mereka mampu mengenali potensi pribadi yang dimiliki. ‘’Saat ini saudara memasuki fase baru, saudara harus mulai mengidentifikasi diri saudara menjadi guru masa depan,” papar Fauzan. Dalam pembukaan ini, Fauzan juga mempersilahkan salah satu mantan peserta SM3T untuk berbagi pengalaman mengajar di daerah terpencil. Hendra salah seorang alumni SM3T yang bertugas di Gorontalo menyampaikan berbagai problematika yang kerap muncul di sekolah tempatnya bertugas. Saat musim panen tiba misalnya, di SD tempatnya mengajar hanya ada beberapa siswa yang hadir. Sedangkan sebagian besar siswa lain membolos lantaran diajak orangtuanya pergi ke ladang. “Kedua, guru disana baik yang PNS maupun honorer bahkan kepala sekolah hanya masuk dua kali dalam seminggu,” jelas Hendra. Menanggapi apa yang disampaikan Hendra, Dekan FKIP Poncojari Wahyono menyampaikan munculnya berbagai permasalahan seperti ini sangat mempengaruhi tingkat kualitas pendidikan di tanah air. Hadirnya program PPG diharapkan dapat mencetak calon pendidik yang bertanggung jawab pada tugasnya dan mampu memberantas masalah-masalah serupa. Selain itu, Ponco demikian panggilan akrabnya juga mengaku bangga dengan PPG UMM. Pasalnya, hampir seluruh mahasiswa PPG UMM mampu menyelesaikan program yang ditempuh dengan baik. “Tahun kemarin, hanya ada satu yang tidak lulus dan total 96% lulus. Ini menjadi lulus terbanyak di Indonesia,” tandas Ponco. (ard/sil)
Perdalam Pengetahuan Tentang Islam, PUSAM UMM Gelar Heritage Seminar

Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk memahami Agama Islam secara menyeluruh. Hal tersebut dimaksudkan agar muslim tidak asal melakukan syariat Islam, namun juga dapat mengerti dasar dari apa yang dikerjakan. Untuk itu, pada Rabu (7/2) Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar The Heritage Seminar yang bertajuk “The Origins of Islam & the Context of Qur’an” di Ruang Sidang Senat UMM. Dalam seminar kali ini PUSAM UMM membahas tentang Al-Quran dalam Konteks Sejarahnya, Menganalisa Pemikiran para Revisionis serta Teori Hermeneutika dan Aplikasinya dalam Al-Quran. Tiga pakar hadir sebagai pembicara, yakni mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam UMM serta direktur Equal Access International, Robert Pope, dosen dari Notre Dame University, USA, Prof. Mun’im Sirry serta pengajar bidang Biblika di Seminari Al Kitab Asia Tenggara, Malang, Ferry Y. Mamahit. Robert Pope dalam pengantar seminar mengulas desertasinya yang berjudul “Menemukan Kembali Islam Inklusif: sebuah Riset Naratif terhadap Usman Ibrahim”. Ia menyampaikan bahwa sebenarnya setiap agama seperti kotak-kotak yang memiliki aturan dan kepercayaan sendiri. Namun, uniknya kotak-kotak tersebut saling terkoneksi satu sama lain. “Ada yang bilang pada jaman Nabi Muhammad agama Islam diaplikasikan dengan sangat eksklusif padahal tidak demikian,” ujar mahasiswa asal Australia ini. Di sisi lain, Prof. Mun’im Sirry menjelaskan Al Quran dalam konteks sejarahnya. Menurutnya, umat Islam harus menyadari bahwa pada mulanya agama Islam mengalami proses yang sangat panjang hingga seperti sekarang ini. Hal inilah yang ia sebut “Memanusiakan Agama”. “Tidak hanya Islam, semua agama terbentuk menjadi sebuah institusi agama juga jauh setelah para founding fathers nya meninggal dunia,”ungkapnya. Di akhir, pemateri ketiga Ferry Y. Mamahit menjelaskan tentang teks dalam kitab suci. Menurutnya secara umum, teks berfungsi sebagai sebuah dokumen atau tulisan yang di dalamnya dapat melestarikan sebuah pesan. Hal ini karena di dalam teks sendiri terdapat konsep, gagasan, ideologi, teologi, dan informasi baik itu informasi sejarah, budaya, maupun sosial. “Meskipun dikatakan hanya sebagai dokumen, tetapi kitab suci ini bersifat sakral karena di dalam tradisi agama abrahamic (Islam, Yahudi, dan Kristen.red) teks ini bersumber dari Allah atau Yahve dalam bahasa Ibrani,” pungkas Ferry. (iel/ard/sil)
Gelar Kajian Islam and Science, FPP UMM Ajak Civitas Akademika Jaga Adab dalam Dunia Pendidikan

Hal paling penting dalam hubungan Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah adab, karena adab menjadi hasil dari refleksi hubungan kedua hal tersebut. Hal ini disampaikan Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Adian Husaini pada Kajian Islam and Science dengan tema Konsep Ilmu dalam Islam dan Aplikasinya di Pendidikan Tinggi yang dihelat oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM). Lebih lanjut Adian menguraikan bahwa bahwa jika adab disampaikan dengan baik, tidak hanya dalam bentuk teks dan lisan, maka tidak akan ada lagi catatan merah untuk pendidikan Indonesia. “Jika pelajaran adab diutamakan maka sudah dapat dipastikan tidak akan lagi ada yang menjadi korban,” ungkap Adian di Aula Masjid AR Fachruddin UMM, Selasa (5/02). Kembali pada konsep Tholabul Ilmi, Adian mengajak untuk bersama-sama memperbaiki tujuan dan arti pendidikan secara benar. Pendidikan tidak melulu soal sekolah dan lembaga formal sejenisnya. Hal ini yang perlu diluruskan karena ia merasa bahwa saat ini Tholabul Ilmi telah bergeser maknanya. Masyarakat lebih cenderung pada bagaimana cara mendapat sekolah atau lembaga pendidikan formal yang baik, bukan bagaimana mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat diamalkan untuk kebaikan masyarakat. “Saat ini konsep Tholabul Ilmi terus terang lebih diarahkan pada bagaimana dapat sekolah yang favorit tanpa mempertimbangkan bagaimana ilmu itu diperoleh,” jelas mantan jurnalis Repubilka ini. Lebih lanjut pria yang meraih gelar Ph.D dalam bidang Islamic Civilization dari International Islamic University Malaysia (IUUM) ini juga mengingatkan pada seluruh hadirin bahwa seseorang yang akan menimba ilmu pada jenjang lebih tinggi seperti mahasiswa, sudah seharusnya dapat dididik untuk menjadi insan yang beradab. “Kalau dulu, yang mau memperoleh ilmu yang lebih tinggi harus dijamin adabnya. Yah paling tidak yang fardhu ain dulu,” jelas penulis buku Pendidikan Islam membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab ini. Dalam penjelasannya, Adian juga menekankan bahwa dalam konsep pendidikan Islam, hasil menimba ilmu akan sangat tercermin dari bagaimana cara memperoleh ilmu yang bersangkutan. Semakin baik proses memperolehnya, maka ilmu itu akan terus membawa manfaat untuk siapapun. “Menimba ilmu yang dilihat memang hasilnya, karena hasil itu mengggambarkan proses memperolehnya,” tandas Adian. Kajiam yang diadakan oleh FPP UMM ini rencananya akan menjadi pengajian rutin dengan mengundang beberapa pembicara-pembicara dari dalam dan luar UMM. Dekan FPP David Hermawan berharap, selanjutnya kajian ini dapat menjadi kegiatan positif bagi seluruh civitas UMM. “Harapannya pengajian ini bisa jalan terus dan bisa menjadi ladang mencari ilmu bagi seluruh civitas UMM,”pungkasnya. (nis/sil)
Prodi Biologi UMM Raih Akreditasi A, Uhamka Datang Studi Banding

SEBAGAI sesama perguruan tinggi Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa menerima studi banding dari perguruan tinggi lain, salah satunya Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta hari ini, Senin (05/02). Selain bersilaturahmi, tujuan dari kunjungan ini juga untuk berdiskusi terkait kurikulum, akreditasi, proses pembelajaran serta pengelolaan Program Studi Pendidikan Biologi. Sekretaris Prodi Biologi UMM, Dr. Roro Eko Susetyarini M.Si mengutarakan bahwa capaian yang diperoleh Prodi Biologi menjadi daya tarik Uhamka dalam kunjungan ini. Selain prestasi, Prodi Biologi UMM juga berhasil mempertahankan akreditasi A selama dua kali berturut-turut. “Tentu Uhamka ingin belajar juga dari capaian Prodi Biologi ini,” tandas Roro. Bukan hanya itu, Roro menyebut prodi Biologi kini tengah bersiap mendapatkan akreditasi internasional ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA). “Sekarang sedang proses ikut akreditasi AUN-QA. Karena Biologi ini salah satu jurusan yang diajukan oleh KPPA untuk ikut akreditasi itu,” tutur Roro. Sementara itu Kepala Prodi Biologi Uhamka, Dr Susanti Murwitaningsih M.Pd mengaku bahwa UMM adalah perguruan tinggi yang tepat untuk berdiskusi. Banyak hal baik yang ia pelajari disini. “Salah satunya etos kerja dari UMM ini yang bikin saya ngiri, etos kerjanya bagus banget,” ujar wanita yang juga merupakan dosen Biologi Uhamka tersebut. Lebih dari itu, melalui momen ini Susanti berharap dapat terjalin kerjasama antar kedua perguruan tinggi Muhammadiyah, sehingga Uhamka dapat mengimplementasikan hasil dari studi banding kali ini. Kerjasama yang dimaksud dapat dilakukan dalam berbagai hal seperti jurnal, penelitian, dan pertukaran mahasiswa. Di akhir, ketika disinggung tentang kesannya terhadap UMM, Susanti menggambarkannya dalam tiga kata istimewa. “UMM itu bagus, keren, hebat,” tutupnya. (nim/sil)
18 Dosen Prodi Ilmu Hukum UAD, Studi Banding ke UMM

PEROLEHAN akreditasi A pada program studi Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan sebuah tanggung jawab. Untuknya, sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum UMM bersedia melakukan pendampingan kepada Prodi Ilmu Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam kunjungan kerja studi banding dan penandatangan nota kesepahaman (MoU), Sabtu (03/02). Kepala Laboratorium Hukum, Bayu Dwiwiddy Jatmiko M.Hum mengungkapkan bahwa pihaknya selalu terbuka kepada universitas yang ingin studi banding di UMM. Disamping itu, dosen Ilmu Hukum UMM ini juga menegaskan bahwa diperlukan kerjasama antara perguruan tinggi untuk mendidik juga mencerdaskan anak bangsa. “Pada dasarnya kerjasama di bidang akademik, kerjasama dibidang usaha mencerdaskan kehidupan bangsa itu harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, termasuk lembaga pendidikan,” ujarnya. Bertempat di Auditorium Fakultas Hukum UMM, kunjungan ini dihadiri oleh 18 dosen Prodi Ilmu Hukum UAD. Pertemuan ini membahas kurikulum prodi Ilmu Hukum. Pada kesempatan tersebut, UMM juga memaparkan tentang program magang, perkuliahan, praktikum, dan cara menghadapi mahasiswa dengan berbagai karakter. Tidak hanya itu, dosen dari UAD juga menengok Laboratorium Hukum milik UMM. Melalui kunjungan semacam ini Bayu berharap setiap universitas dapat memberikan sumbangsih yang nyata untuk bangsa. “Untuk mencapai itu maka kita harus bekerja sungguh-sungguh. Kita buat kurikulum sebaik-baiknya, kita mendidik anak didik sebaik-baiknya bahkan juga membekali mereka dengan nilai-nilai religius dan suri tauladan,” tandas Bayu.(nim/sil)
Pertandingan Tenis Persahabatan, Tim Rektor UMM Ungguli Tim Wakil Rektor II UMS

Keberadaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tennis Club, salah satu klub olah raga tenis lapangan dosen dan karyawan UMM semakin disegani. Di Jawa Timur, Tennis UMM sudah banyak dikenal baik melalui even turnamen lokal Malang, Jawa Timur maupun nasional. Tak ayal, rangkaian prestasi tersebut membuat penasaran klub tenis Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) untuk menjajal kekuatan tim tennis UMM dalam momen latih tanding persahabatan. Sabtu pagi, (3/2) mereka datang ke lapangan UMM dengan membawa 12 pasang pemain andalan. Istimewa, kehadiran mereka disambut langsung oleh Rektor UMM Fauzan yang juga Ketua klub tenis Dosen Karyawan UMM. Dalam sambutannya, Fauzan menyampaikan bahwa jalinan silaturahmi tidak hanya dapat dilakukan dengan bertamu, tetapi juga dengan mengadakan pertandingan olahraga, salah satunya tenis. “Dengan bermain bersama, persahabatan akan terjalin lebih akrab dan santai. Ada permainan, guyonan, saling mendukung dan belajar teknik akan semakin memberikan rasa tersendiri dalam memelihara persaudaraan,” ujar pemain yang memiliki teriakan khas Joosss ketika service roketnya sukses tersebut. Tim UMS yang dikomandani oleh wakil Rektor II Sardjito mengungkapkan kegembiraaannya diterima UMM dengan baik dalam rangka sparring partner persahabatan olah raga tennis. “Tidak peduli menang kalah, tapi rasa persaudaraan dan tambah dulur adalah hal terpenting dari tujuan kegiatan ini,”ujarnya. Pertandingan berjalan sangat seru dan ramai disertai dengan applause dari rekan-rekan yang hadir, terutama ketika ada pukulan yang memenangkan. Diawali dengan pertandingan seru, pasangan Rektor UMM Fauzan dan Santoso sukses mengalahkan pasangan Wakil Rektor II UMS Sadjito dan Nur. Dengan skor telak 8 – 2, Tim Fauzan dan Santoso menyudahi pertandingan. Keperkasaan tim tenis UMM berlanjut dengan kemenangan-kemenangan pasangan lain yang menambah dominasi poin dengan UMS. Dari 13 pasangan yang dimainkan, UMM memenangkan 10 pasangannya dengan permainan yang ciamik, cantik, meriah dan memberikan hiburan bagi semua penonton yang datang. Usai pertandingan, tim UMS dijamu dengan makan bersama dengan hidangan khas Jawa Timur sambil beramah tamah antar sesama pemain tenis. (rid/sil)
Sinergi Apik, UMM dan Konjen RRT Gelar Pameran Foto

MENGAWALI tahun baru Imlek yang jatuh pada 16 Februari, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bersinergi dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (Konjen RRT) di Surabaya untuk menggelar Pameran Foto bertajuk “Satu Sabuk Satu Jalan”. Gelaran ini merupakan upaya Konjen RRT untuk membuka kembali Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Jalan Sutra Maritim Abad 21 untuk membangun jaringan interkoneksi ke segala arah, ke berbagai tingkatan baik itu Asia, Eropa maupun Afrika termasuk Indonesia salah satunya. Berlokasi di hall lantai dasar Malang Town Square (Matos), pameran foto sejarah peradaban Cina dibuka langsung oleh Rektor UMM, Fauzan. Pada kesempatan tersebut, Fauzan menyampaikan bahwa kerjasama antara UMM dengan Konjen RRT dan Confucius Institute telah terjalin sejak lama. Beberapa bentuk kerjasama tersebut antara lain adalah penyelenggaraan lomba pengetahuan umum Tiongkok pada 2017, kerjasama dengan 20 perguruan tinggi di Cina, serta intens melakukan pertukaran baik pelajar maupun pengajar. “Bahkan di UMM ada China Corner sebagai tempat mahasiswa belajar bahasa dan budaya Cina,” tandas Fauzan. Sementara itu, Mrs. Liao Guirong atau yang kerap disapa Bu Ana dari Confusius Institut Malang menyambut antusias pameran foto ini. “Saya juga berharap pameran foto ini bisa memberikan kesempatan besar untuk kedua negara bekerjasama,” ujar Ana. Sedianya, Pameran Foto Sejarah Peradaban Cina akan diselenggarakan selama empat hari kedepan, Kamis hingga Minggu (01-04/18). Selain menyuguhkan 100 foto, ekshibisi ini juga dilengkapi ulasan sejarah singkat tentang Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok pada abad 21. Tidak hanya menghibur, Ineke Devita salah satu pengunjung gelaran ini mengaku dirinya mendapat banyak pengetahuan baru khususnya tentang Cina dalam acara ini. “Kalau dari foto saya bisa tahu, ternyata ada tempat seperti ini di Cina. Ditambah ada sejarah dan keterangan di tiap foto, jadi pengunjung tidak hanya tahu tapi juga lebih paham,” terang Ineke. (nim/sil)
AIESEC UMM Gandeng Sekolah dan UKM Malang Raya Go International

Sebagai bentuk dukungan dan aksi nyata AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) yang digaungkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2015, sebanyak tujuh mahasiswa asing asal China, India, dan Bangladesh hadir dalam Exchange Participants Welcoming Gathering yang dilaksanan oleh AIESEC UMM di Aula BAU UMM, Kamis (1/2). Seluruh mahasiswa asing tersebut akan melaksanakan projek sosial yang dibuat oleh AIESEC UMM, yakni Dream School Project dan E-Volution Project. “Dua projek ini kolaborasi, jadi kita waktu nyusun projek ini gak mau hanya memberi pengalaman ngajar ke exchange participants-nya tapi juga pengalaman lain dalam membangun usaha masyarakat lokal,” ungkap Vice President AIESEC UMM Dian Kresnawan. Ditambahkan oleh Dian, Dream School Project merupakan projek sosial yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan guru dan siswa di daerah pinggiran Malang Raya terhadap kemajuan pendidikan era modern dan sekaligus mendukung SDGs poin ke empat. “Kalau untuk Dream School Project tujuannya meningkatkan pengetahuan berinovasi dan berkereasi dengan kurikulum yang ada kepada guru,” jelas mahasiswa Dian. Sementara itu, E-Volution Project juga merupakan projek sosial yang fokus untuk membantu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam membangun daya saing dan inovasi baru pada produk UKM yang mereka produksi. Dua project besar AIESEC UMM ini bekerjasama dengan beberapa pihak diantaranya SD Tlogomas 2, SD Cemorokandang, SMP Cemorokandang, MI Al-Huda, MTS Al-Huda, serta Paguyuban UKM Amazing Malang Raya. Diakhir, Dream School Project akan menghasilkan buku panduan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah partner project AISEC. Sementara untuk E-Volution, mahasiswa asing ini dapat memmbantu pelaku UKM membuat skema produksi yang menghasilkan banyak profit serta meningkatkan kualitas produk hasil UKM. “Short goalsnya itu untuk Dream School, sekolah punya satu dua hal lain yang dikembangkan dari kurikulum yang sudah ada di sekolah tersebut. Terus untuk E-Volution adalah bisa berkembangnya UKM itun,” pungkas mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMM ini. Dua project ini direncanakan akan berlangsung selama enam minggu. Selain menerima mahasiswa asing dari beberapa negara, AIESEC UMM melalui program exchange students juga memberangkatkan 20 mahasiswa Indonesia ke beberapa negera diantaranya Turkey, Ukraine, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Srilanka. (nis/sil)
Bersama JICA Jepang, FKIP Perluas Implementasi Lesson Study

MELANJUTKAN implementasi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan atau Lesson Study, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar workshop bertajuk Learning Community for Better Future Educations, Sabtu (22/7). Di Kota Batu sendiri, implementasi Lesson Study sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya. Di antaranya di tahun 2011 yaitu SMA Negeri 2 Kota Batu dan SMA Muhammadiyah 3 Kota Batu. Workshop yang dihadiri guru tingkat dasar hingga menengah atas se-Kota Batu ini, terang ketua tim Lesson Study Nur Widodo, merupakan upaya perluasan penerapan Lesson Study. Menurut Nur Widodo, acara ini merupakan upaya timbal balik para alumni program Short-term Training on Lesson Study (STOLS) yang diberikan JICA kepada para dosen UMM untuk memperdalam Lesson Study di Jepang selama 1 bulan. “Ini merupakan komitmen kami sebagai alumni,” katanya. “Meski sumber pendanaan yang didapat sudah berhenti, kami berupaya supaya program ini tidak selesai begitu saja. Sampai saat ini kita berupaya untuk melanjutkan kegiatan tersebut secara mandiri,” ungkapnya. Hadir pula para calon peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti kegiatan internship di Jepang untuk memperdalam Lesson Study. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Madiun, IKIP Kediri, serta sejumlah dosen dari UMM sendiri. Beberapa materi yang diberikan di antaranya Collaborative Learning Melalui Lesson Study oleh Nur Widodo. dan materi “Observasi Kelas” pada Lesson Study-Learning Community oleh dosen program studi Biologi FKIP UMM Rr. Eko Susetyarini. Sementara, perwakilan dari JICA Widi berharap, setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat memahami dan mempratikkan konsep Lesson Study dengan lebih baik di kelas. “Selain itu, diharapkan peserta juga dapat menemukan ide-ide baru sewaktu mengajar. Sehingga selain kemampuan cara mengajar anda dapat meningkat, juga dengan pelatihan dan pengetahuan tersebut, menimbulkan komunitas belajar yang aktif untuk pendidikan yang lebih baik di masa depan,” tukasnya. Workshop ini sekaligus dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara FKIP dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Batu. Langkah tersebut dilakukan, dijelaskan Nur Widodo, untuk sosialisasi dan pengimplementasian Lesson Study. Program ini, imbuh Nur Widodo, tengah difokuskan di wilayah Kota Batu. (can/han)