86 Mahasiswa Psikologi Ikuti Program Transfer Kredit di Asia University-Taiwan

SEBANYAK 86 orang mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti program transfer kredit internasional di Asia University – Taiwan. Mereka merupakan mahasiswa semester tiga dan lima yang mengambil mata kuliah Positive Psychology dan Interpersonal Relationship di kampus tersebut. Saat dikonfirmasi, Dekan Fakultas Psikologi UMM, M. Salis Yuniardi, PhD, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bentuk implementasi kerjasama yang telah dijalin sejak pertengahan 2019 oleh kedua institusi. “Selain transfer kredit, Fakultas Psikologi UMM dan Asia University juga memiliki program kerja sama dalam hal short course, kuliah tamu, pertukaran dosen, dan konferensi. Sebenarnya di bulan Juli kemarin ada program short course bagi mahasiswa dari Asia University, dan kita sebagai host-nya sudah menyiapkan dengan matang. Namun karena pandemi akhirnya keberangkatan mahasiswa dari Taiwan ditunda dan akan tetap dijadwalkan jika situasi telah kondusif”. Salis menambahkan bahwa program yang saat ini sedang berlangsung akan menegaskan jalan Fakultas Psikologi UMM menuju rekognisi internasional. Apalagi Fakultas Psikologi UMM telah mengajukan akreditasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA), serta pada tahun ini juga secara resmi telah membuka program kelas Internasional di tahun akademik 2020/2021. Selain itu, Salis juga menjabarkan bahwa program transfer kredit ini merupakan bentuk nyata Fakultas Psikologi UMM dalam melaksanakan aktivitas Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan pemerintah, di mana mahasiswa harus menempuh 40 SKS proses pembelajaran di luar kampus sendiri. Mahasiswa Fakultas Psikologi UMM mengaku sangat antusias setelah dua minggu mengikuti program transfer kredit internasional ini secara daring. Dalam keterangannya, Yundita Putri mengaku sangat senang bisa diberi kesempatan tersebut. “Sangat excited. Karena, kan, ini pengalaman baru dan pengalaman yang luar biasa bisa dikasih kesempatan ikut program transfer kredit. Terus juga dapat pengalaman model kuliah online yang lain dan relasi yang lebih luas. Program seperti ini bisa menambah keberanian mahasiswa dalam mengemukakan pendapat. Terus juga kemarin dapat ilmu baru tentang perbedaan cara berkenalan kultur budaya di sini sama kultur budaya di sana,” ujarnya. Prof. Ting Ying, salah satu dosen pengajar dari Asia University, mengungkapkan bahwa mahasiswa Fakultas Psikologi UMM menunjukkan rasa ingin tahu dan antusiasme yang besar. Untuk itu, Ia juga merasa perlu menyiapkan perkuliahan yang lebih menyenangkan dan terstruktur. (*/can)

Pandangan Bung Hatta tentang Pendidikan Tinggi Islam

DUTA Besar Republik Indonesia (RI) di Beirut untuk Republik Lebanon, Hajriyanto Y. Thohari didapuk memberikan orasi ilmiah dalam gelaran Wisuda ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (21/10). Dalam orasinya, secara khusus Hajriyanto memaparkan pandangan Mohammad Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tentang Ilmu, Agama dan Pendidikan Tinggi Islam. Orasi virtual ini disampaikan di hadapan para wisudawan dari jenjang diploma, sarjana, hingga pascasarjana. Caranya agama menghadapi suatu persoalan dalam masyarakat, kata Muhammad Hatta, adalah satu sikap yang tidak mudah. Ini menghendaki didikan tinggi. Didikan tinggi itu harus diberikan oleh sekolah tinggi Islam. Dengan demikian, belajar ilmu di sekolah tinggi Islam, kata Hatta, haruslah berbeda dengan sekolah tinggi yang lain. Belajar di sekolah tinggi Islam tidak semata-mata untuk mempelajari ilmu saja. Sebab berbagai ilmu yang diajarkan di sini dapat pula dipelajari pada sekolah tinggi atau universitas yang lain. “Belajar ilmu di universitas Islam atau sekolah tinggi Islam harus menetapkan kemauan untuk mempelajari ilmu pengetahuan di atas dasar pandangan hidup Islam. Apakah dengan demikian berarti Islam itu ilmu? Hatta dengan tegas menjawab bahwa Islam bukan ilmu. Islam adalah agama. Islam sebagai agama, pemikirannya tidak dapat memberikan isi kepada ilmu. Sumbanga Islam kepada ilmu terdapat pada anjurannya kepada para penganutnya untuk mempelajari ilmu sebanyak-banyaknya, di mana saja dan dari siapa saja,” ungkap Hajriyanto. Hatta kemudian mengajukan beberapa bahan renungan bagi siapapun yang terlibat dalam sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Umat islam, menurut Hatta, diharuskan untuk menuntut kemuliyaan hidup dan ketinggian derajat. Untuk hal itu maka perlu belajar ilmu pengetahuan. Umat Islam dianjurkan untuk menuntut ilmu di segala tempat serta menjemputnya dari segala lidah. Demikian Hatta mengungkit ungkapan dari Muhammad Abduh. Seorang pembaharu pemikiran Islam dari Mesir. Di tempat di mana orang menuntut ilmu bagi orang Islam, di tempat mana orang menuntut ilmu bagi Hatta tidaklah menjadi soal. Yang penting adalah hikmat dan kepandaiannya. Sungguh mengejutkan bagaikan orang pesantren, Hatta mengatakan dengan mengutip sebuah hadis: Hikmah atau ilmu pengetahuan itu barang tuntutan orang-orang mukmin. Dimana saja mereka dapati Ia lah orang yang paling berhak menjemputnya. Artinya Hatta ingin mengatakan hikmah dan kepandaian itu barang hilangnya umat Islam. Maka dimanapun saja umat Islam menemui hikmah tersebut, maka harus diambilnya. “Dalam pengamatan Hatta, sejarah Islam telah cukup membuktikan bahwa berabad-abad lamanya Islam telah mampu menjadi pendorong pengembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa lalu telah berupaya untuk menghidupkan lagi ilmu-ilmu Yunani yang telah terpendam di abad pertengahan dan kemudian menyebarkannya ke Eropa melalui Asia Minor atau Asia Kecil dan Spanyol. Sisa-sisa kebesaran kultur Islam di Spanyol masih tetap kelihatan nyata sampai sekarang,” terang Mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014 ini. Kalau tidak karena Islam, sambungnya, tidak mungkin bangsa Arab yang terbelakang dalam segala aspek kehidupannya itu, dalam tempo yang singkat berhasil menjadi pemangku dan penyebar ilmu. Itu semua, menurut Hatta, harus direnungkan terutama oleh mereka yang terlibat dalam sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Demikian juga mereka yang belajar di unit universitas islam. Logika ilmu memang tidak berubah, tetapi tujuan ke mana ilmu itu akan diarahkan hendaknya sepadu dengan etika Islam. Etika Islam dalam ilmu yang dimaksudkan Hatta adalah orientasi dari ilmu itu yang seharusnya selalu tertuju kepada upaya untuk terciptanya kesejahteraan manusia seluruhnya. Sekolah tinggi Islam atau universitas Islam haruslah mengkaji masalah bagaimana Islam memandang masyarakat ini dengan seluruh perkembangannya. Masalah ini belum banyak dikupas dan dianalisis. Padahal banyak ayat al Quran tentang masalah ini. Inilah tugas dan lapangan kajian sekolah tinggi Islam atau universitas Islam. Sekolah tinggi Islam atau universitas Islam, menurut Hatta, harus memiliki spesifikasi dalam hal ilmu dan masalah yang dikaji dan dipelajarinya. Apabila yang diajarkan dan dikaji didalamnya adalah itu saja dengannya dikaji dan dipelajari di perguruan tinggi yang lainnya (non-Islam), kata Hatta maka adanya sekolah tinggi Islam atau universitas Islam tersebut kurang berarti sama sekali. “Hatta menganjurkan agar yang diajarkan dan dikaji didalamnya adalah antara lain bagaimana pandangan Islam tentang masyarakat, bagaimana pandangan Islam tentang ekonomi, bagaimana pandangan Islam terhadap hukum, bagaimana pandangan Islam tentang keadilan, dan sebagainya. Tidak cukup sampai di sini, konsep Hatta tentang pendidikan tinggi Islam itu. Ia juga mengajukan konsep yang operasional lagi, yaitu bahwa untuk menunjang terciptanya kekhususan sekolah tinggi Islam dan universitas Islam, maka menurut Hatta perlu disiapkan guru atau pengajarnya sendiri. Kata Hatta, jangan sampai guru-gurunya diambilkan dari sekolah tinggi yang lain,” ujar Hajriyanto. Dalam hal ini ia berkata, kalau diadakan universitas Islam atau sekolah tinggi Islam, tapi gurunya diambilkan dari universitas lain, tentu tidak ada gunanya pendirian universitas islam. Pasalnya universitas Islam haruslah berdasarkan kepada agama Islam. Universitas Islam hendaknya memikirkan apa itu pandangan hidup Islam, bukan sekedar sebuah universitas biasa yang diberi nama atau label Islam seperti banyak yang terjadi seperti sekarang ini. “Bahkan nama-nama fakultas atau jurusan pun sama persis dengan universitas biasa. Alih-alih memikirkan paradigma ilmu pengetahuan berdasarkan pandangan hidup islam, dosen-dosen dan tidak jarang rektornya sekalipun seringkali pinjaman dan berangkat dari universitas biasa yang lain. Sebagai penutup, sebuah pertanyaan penting untuk diajukan. Apakah universitas Islam, seperti universitas Muhammadiyah kita sekarang ini sudah berkembang seperti yang sudah dikonsepsikan seperti bung Hatta. Pertanyaan ini berpulang kepada sivitas akademika itu sendiri,” pungkas Hajriyanto. (can)

Bisa Survive Kuliah Berkat Beasiswa dan Wirausaha

KETERBATASAN tak lantas membuat Mila Fatma, lulusan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berdiam diri. Mila memilih untuk tak menyerah pada keadaan. Kesempatan untuk bisa kuliah pun Ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya, meskipun harus mengeluarkan energi lebih besar. Mila sampai harus berdagang dan memperbaiki kehidupan akademiknya agar bisa menyokong pembiayaan selama kuliah. Melalui beasiswa dan wirausaha, perempuan asal Jombang, Jawa Timur ini bahkan tetap bisa lulus dengan nilai membanggakan. Mila yang diwisuda pada Jumat, 23 Oktober 2020 ini menjadi lulusan terbaik dari Fakultas Hukum UMM dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95. Tak ada pilihan bagi Mila untuk menjadi mahasiswa biasa-biasa saja ketika kuliah. Jika nilainya turun, konsekuensinya beasiwa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) yang diperolehnya dari Pemerintah akan diputus. Disamping mempertahankan nilai akademik, Mila juga harus hidup mandiri dengan memulai wirausaha sejak kuliah. Saat baru lulus kuliah Mila sudah bisa hidup mandiri dengan mengandalkan brand toko kosmetik dan asesoris sendiri. Toko ini Mila namakan Mitufaya. Saat ini Ia bahkan sudah mampu menyewa ruko dan memperkerjakan 3 orang karyawan. Usaha ini Ia jalankan sejak semester 5. “Sebetulanya sejak semester pertama saya sudah mulai jualan. Cuma yang saya jual random. Jadi apapun yang saya suka, saya jual. Seperti hiasan kamar, saat itu. Alhamdulillah, bisa laku,” ungkap Mila. Saat kuliah, tiap bulannya, Mila masih kerap dikirimi uang oleh orang tuanya. Hanya saja, uang kiriman itu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Terkadang tidak cukup. Sehingga untuk mencukupi kebutuhannya atau saat menginginkan sesuatu, Mila harus menyisihkan uang hasil berdagangnya untuk ditabung. Terutama kebutuhan untuk kegiatan perkuliahan. “Apalagi kuliah di Hukum itu butuh ongkos yang agak besar karena banyak bahan materi perkuliahan yang dibutuhkan,” curhatnya. Mila cukup jeli melihat peluang pasar kosmetik. Ia menyasar pasar mahasiswa. Diawali dengan menawarkan kosmetik ke teman sekelas dan keluarga, jualannya makin berkembang lantaran Mila mampu memenuhi permintaan pasar. Beragam kosmetiknya yang dijualnya cukup bisa bersaing di pasaran. Ia bahkan mengklaim toko kosmetiknya, Mitufaya, telah banyak menjadi rujukan para mahasiswa yang memburu merek kosmetik berkualitas namun tetap berani bersaing soal harga. Saat usahanya mulai stabil, saat kuliah, kehidupan akademiknya tak lantas jadi terganggu. Meski tentu kehidupan organisasinya tak semoncer akademiknya. Putri dari pasangan Abdul Fatah dan Maimunah ini punya prioritas yang harus dikejar. Sehingga, berkat catatan akademiknya yang baik Mila sempat ditunjuk sebagai asisten laboratorium Fakultas Hukum. Pasca lulus, oleh dosen di fakultasnya, Mila diminta untuk membantu di Lembaga Bantuan Hukum yang dikelola dosennya. Meski sudah mandiri, Mila tak lantas menjadi jumawa dan melupakan jasa orang tuanya. Diakuinya, segala apa yang dilakukan dan raih tak mungkin tanpa dukungan dan doa kedua orang tuanya. “Saya bisa membesarkan usaha sembari kuliah dan jadi asisten, karena tidak luput dari dukungan orang tua saya. Orang tua yang sangat luar biasa. Jadi, saya bisa melewati segala tantangan karena dukungan dan doa mereka. Meskipun, ya, agak berat dan capek. He he he,” pungkas Mila. (can)

Duta Besar RI untuk Kolombia Tekankan 3 Hal untuk Hadapi Globalisasi

DUTA Besar Republik Indonesia (RI) untuk Republik Kolombia, Priyo Iswanto, memberikan pencerahan secara daring kepada ratusan wisudawan program diploma, sarjana dan pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada acara wisuda ke-97, Selasa (20/10). Dalam paparannya, Priyo menekankan pentingnya generasi muda berpikir cerdas, bertindak cepat, dan kerja keras dalam menghadapi tantangan globalisasi. Untuk mewujudkan tiga hal tersebut perlu dibangun semangat untuk membuat kemajuan, meningkatkan kewirausahaan, bertindak lokal berpikiran global. Banyak best practices di luar negeri yang dapat menginspirasi bagi wisudawan yang mayoritas merupakan generasi meilennial dan Gen-Z. Di hadapan Rektor, Senat UMM, para dekan, direktur program studi dan seluruh sivitas akademika, Duta Besar Priyo Iswanto juga menekankan dalam orasi ilmiahnya tentang pentingnya masyarakat kampus memanfaatkan keberadaan seluruh Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri sebagai pintu untuk mendapatkan informasi tentang best practices yang ada di negara sahabat. “Selalu menambah wawasan adalah kunci agar kita mengetahui diri kita berada di mana, apakah orang lain lebih baik dari kita atau sebaliknya, dan dengan wawasan demikan generasi muda dapat melihat jauh kedepan, menjangkau mengambil kesempatan yang ada di tempat lain sehingga tidak mudah membiarkan orang lain menjangkau kita terlebih dahulu dan mengambil kesempatan yang ada di sekitar kita. Boleh jadi kita tinggal di desa tetapi karena wawasan yang luas kita bisa menguasai dunia dengan karya kita,” tambah Dubes Priyo Iswanto kepada wisudawan. Dubes Priyo Iswanto juga mengingatkan kepada generasi muda yang saat ini menghadapi situasi oxímoron, yaitu dua situasi yang bertentangan, bahwa di satu sisi sedang menuju humanisme digital, dimana peran manusia digantikan oleh mesin otomatisasi, robot, artificial intelligence, dan aplikasi cerdas. Namun di sisi lain agar tetap mempertahankan nilai-nilai humanisme tradisional karena kemajuan yang hendak dicapai pada hakikatnya adalah kemajuan yang menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, bukan hanya sekedar maju yang bertumpu pada ilmu dan pengetahuan. Lebih jauh, Priyo mendorong UMM untuk membangun komunikasi dengan para duta besar di luar negeri untuk berbagi pengalaman dan best practices yang ada di berbagai negara sahabat. “Saya sekali lagi menawarkan kepada Bapak Rektor bahwa saya bersedia menjadi jembatan antara UMM dengan para duta besar di luar negeri. Mari kita jangkau dunia sampai ke ujungnya untuk kemaslahatan kita, pembangunan negeri kita, pembangunan anak-anak desa kita,” pungkasnya. Wisuda UMM yang diselenggarakan di Hall Dome UMM kali ini diadakan menjadi 6 gelombang, 19-24 Oktober 2020, dengan menaati protokol Covid-19 secara ketat. Dari keenam gelombang tersebut, total wisudawan yang bakal diwisuda sebanyak 1793 orang. Skema wisuda bergelombang ini untuk menghindari peluang penularan Covid-19. Sehingga jarak antara wisudawan maupun para undangan tetap terjaga. (can)

Keliling Eropa Berkat Saran Sang Ayah untuk Studi di UMM

RIDHO Allah berawal dari ridhonya orang tua. Keyakinan inilah yang ditanamkan Ivana Nabilah Qoriroh Mujahidah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas semua pencapaiannya selama ini. Termasuk mendapat kesempatan berkeliling Eropa dan merasakan kuliah selama enam bulan di benua biru itu. Cerita itu dimulai berkat dorongan sang ayah, Dr. Zainul Mujahid, M.Hum., yang menyarankannya berkuliah di Kampus Putih UMM lantaran dikenal sebagai kampus yang banyak memberikan kesempatan belajar ke luar negeri. Di tahun 2019 lalu, selama enam bulan lamanya, dara pecinta puisi ini beruntung bisa mengkonversi sejumlah mata kuliah yang ditempuhnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM, di Universidad De Murcia, Spanyol. Tidak sampai menyia-nyiakan kesempatan, Ivana juga berkeliling ke 14 negara di Eropa sambil menapak tilas sejarah kejayaan Islam di sana. Cerita perjalannya itu Ia rangkum ke dalam sebuah buku yang bakal diterbitkannya dalam waktu dekat. Putri dari Mariya Ulfa, S.E. ini terpilih menjadi salah satu mahasiswa UMM yang berhasil mendapat beasiswa Erasmus+ Programme. “Awalnya saat baru lulus dari SMA Islamic Boarding School Ar-Rohmah Putri, saya sudah keterima di salah satu perguruan tinggi di Malaysia. Itu kehendak Ayah. Tiba-tiba, h-4 keberangkatan, Ayah nggak mengizinkan. Alasannya waktu itu karena saya baru keluar dari pondok (setelah 6 tahun mondok), juga saya anak perempuan. Ayah selalu bilang: banyak jalan menuju Roma. Singkat cerita, Ayah mendaftarkan saya di UMM. Pinginnya mengambil jurusan Bahasa Arab, tapi Ayah berkehendak saya ambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris,” kisah Ivana saat diwawancarai, Sabtu (16/10). Tekad Zainul menguliahkan sang putri di Kampus Putih UMM bukannya tanpa alasan. Ia coba meyakinkan Ivana bahwa UMM adalah World Class University yang pada saatnya akan mengantarkan anaknya terbang ke luar negeri, terlebih Eropa. Impian Zainul pun terwujud. Sebelumnya, bahkan selama berkuliah, UMM sudah sempat mengantarkan Ivana untuk berlaga debat dan menjadi 20 Besar di ajang Bilingual Speech of South-east ASIA of PT Ihtifal ASEAN, Malaysia. Ivana juga sempat mengikuti ajang yang sama di Singapura. Tentunya dengan sokongan dana dari universitas. Di sisi lain, lulusan terbaik FKIP UMM pada wisuda Selasa, 20 Oktober 2020 ini, dipesankan sang ayah dan ibunya untuk selalu dekat dengan al Quran. Tak sekadar menunaikan amanah, Ivana bahkan menseriusi harapan kedua orang tuanya itu dengan menghafal al Quran dan juga mengikuti banyak kompetisi al Quran. Tak sedikit lomba yang Ia menangi. Ia juga mengaku sebagai pencinta puisi. Hobi ini diturunkan dari Sang Ibu. Tak hanya menjadikannya hobi, ia juga sampai memenangi banyak perlombaan. Misalnya menjadi Juara 1 Cipta Puisi dalam rangka Malam Puisi Airlangga Surabaya. Ivana saat ini tercatat sebagai salah satu staf pengajar di MI Manarul Islam, Kota Malang. Ada prinsip yang Ia pegang hingga saat ini tentang bagaimana seorang guru seharusnya. Ivana menyebutnya sebagai 3 kunci ideal yang harus terinternalisasi dalam diri seorang guru yakni pertama, metode lebih penting dari pada materi; kedua, guru lebih penting dari pada metode; ketiga, ruh seorang guru lebih penting dari pada guru itu sendiri. “Guru harus memiliki invisible touch atau sentuhan tak terlihat. Yakni seorang guru harus ikhlas dalam mengajar,” pungkas Ivana. (can)

Menko PMK di Wisuda UMM: Segeralah Menjadi Angkatan Kerja Produktif!

MENTERI Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. didapuk memberikan orasi ilmiah di gelaran Wisuda ke-97 Periode III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (19/10). Dalam gelaran Sidang Senat Terbuka mengukuhkan Diploma, Sarjana dan Pascasarjana UMM ini Muhadjir mengajak dalam orasi ilmiahnya untuk segera mengambil kesempatan menjadi bagian dari angkatan kerja produktif. Karenanya, Muhadjir berharap kepada angkatan kerja baru ini untuk siap menantang segala rintangan dunia kerja yang bakal dihadapi di masa depan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2020, kondisi angkatan kerja Indonesia adalah 56,82% pendidikannya adalah SD sampai SMP. Sedangkan 30,16% sisanya berpendidikan SMA/SMK, dan 13,02% adalah angkatan kerja yang berpendidikan Diploma ke atas atau pendidikan tinggi. “Tentu saja tidak mudah bagi Pemerintah untuk meningkatkan komposisi angkatan pendidikan ini. Karena target kita, mestinya, tamatan SD dan SMP dari waktu ke waktu harus semakin kecil. Kita upayakan angkatan kerja tamatan SD dan SMP bisa menginjak angka 30%,” ungkap Muhadjir yang juga Wakil BPH UMM. Sementara itu, SMA/SMK harus naik dari 30% menjadi 40%. Sedangkan untuk Diploma dan perguruan tinggi dari 13%  diharapkan akan naik menjadi 20%. Usaha ini perlu upaya kerja keras Pemerintah untuk meningkatkan kapasitas di angkatan kerja Indonesia. “Saat kalian lulus ini berarti saudara menjadi bagian dari angkatan kerja elit yang terpilih dari sekitar 17 juta dari sekitar 136 juta angkatan kerja. Atau dari 290 ribu lulusan perguruan tinggi dari sekitar 3 juta angkatan kerja. Jadi kalianlah yang akan menentukan masa depan Indonesia karena memiliki tingkat intelektual, keterampilan, dan keterlatihan tinggi,” terang Muhadjir. Muhadjir lantas berpesan untuk segera masuk menjadi bagian angkatan kerja produktif. Jangan menunggu dan menunda-nunda. Termasuk dari mereka yang berangkat dari basis ekonomi kuat dan menengah. “Segera lah anda tantang segala macam hambatan, rintangan, kesulitan di dunia kerja. Karena dengan anda segera menantang segala kesulitan di dunia kerja itu, maka anda lah yang akan menjadi juaranya. Tidak ada ceritanya orang besar dan berhasil tanpa ada tantangan. Tidak ada ceritanya orang yang bisa membuat sejarah, tanpa harus menerobos berbagai macam halangan dan rintangan,” kata Muhadjir. Muhadjir kembali menegaskan dan sekaligus mengajak kepada seluruh wisudawan untuk jangan gampang menyerah, optimislah, dan terus menatap masa depan dengan sebaik-baiknya. “Percayalah bahwa Pemerintah memiliki itikad baik dan kemauan baik untuk mereka-mereka yang belum mendapatkan lapangan pekerjaan agar mendapatkan kemudahan. Baik untuk menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar ataupun membuat perusahaan-perusahaan kecil. Dan yang paling penting justru kita dorong adalah untuk menjadi tenaga kerja mandiri sehingga membuka lapangan pekerjaan,” pungkas Muhadjir. Wisuda UMM yang diselenggarakan di Hall Dome UMM kali ini diadakan menjadi 6 gelombang, 19-24 Oktober 2020, dengan menaati protokol Covid-19 secara ketat. Dari keenam gelombang tersebut, total wisudawan yang bakal diwisuda sebanyak 1793 orang. Skema wisuda bergelombang ini untuk menghindari peluang penularan Covid-19. Sehingga jarak antara wisudawan maupun para undangan tetap terjaga. Meski diselenggarakan di tengah pandemi, prosesi penyelenggaraan wisuda untuk Periode III ini tetap dilakukan secara luring tanpa perlu menghilangkan kesan formal dan unsur kekhidmatannya. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam sambutannya menyatakan, pengakuan UMM sebagai kampus terbaik telah mendapat pengakuan dengan diperolehnya Anugerah Kampus Unggul (AKU) selama 12 kali berturut-turut dari LLDikti Wilayah VI Jawa Timur. Di tingkat nasional pun, UMM telah banyak mendapat gelar pemeringkatan sebagai kampus terbaik. Saat ini, terangnya, UMM tengah mencanangkan program sebagai universitas yang bukan hanya diperhitungkan secara nasional. Tetapi Rektor Fauzan juga menargetkan, Kampus Putih UMM menjadi perguruan tinggi yang juga bisa diperhitungkan di kancah Internasional. (*can)

Ingin Studi Islam Ke Negara Non-Arab Karena Termotivasi Dosen

SAAT baru lulus pesantren di Pondok Modern Darussalam Gontor, Mohamad Asep sempat harus memendam mimpinya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Hal itu lantaran sang Ibunda, Duriyah, baru saja berpulang. Meski begitu, mimpi terpendam Asep masih tetap Ia rawat hingga sekarang. Ia ingin mengikuti jejak banyak kawannya yang telah lebih dulu kuliah di luar negeri. Sebutlah di Madinah, Kairo, Yaman dan negara Arab lainnya. Namun, mimpinya kini berbeda. Asep justru ingin mendalami Islam di negara Non-Arab. Ambisinya studi Islam di Australia, Inggris atau Belanda. Lulusan Terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini ingin mengetahui bagaimana para cendekiawan Muslim dan non-Muslim mempelajari Islam. Meskipun, akan ada stereotip negatif bagi dirinya jika ia diterima di negara non-Arab. Namun, ia tak ingin ambil pusing. Tekad Asep untuk mendalami Islam di negara non-Arab sudah bulat. “Rencana ke depan antara tiga negara: Australia, Inggris dan Belanda. Tapi saya lebih fokusnya itu Australia. Tapi tidak menutup kemungkinan negara lain saya coba juga,” ungkap lulusan Prodi Hukum Keluarga Islam asal Indramayu, Jawa Barat ini. Diakui putra terakhir dari bapak Saroni ini, ambisinya itu lantaran termotivasi oleh dosennya di Fakultas Agama Islam UMM yang mendalami studi Islam di negara non-Arab. Bukan hanya karena label “di luar negeri”-nya. Tapi Ia mendapati kesan berbeda dari mereka yang telah menempuh studi di negara non-Arab. Baik dari cara mereka mengajar, serta bagaimana mereka membangun relasi antara dosen dan mahasiswa. Sebutlah ada Hasnan Bachtiar, S.HI., MIMWAdv dan Pradana Boy ZTF., Ph.D. yang sama-sama menuntaskan studi magisternya di Australian National University (ANU). Lebih jauh, Asep yang diwisuda pada Senin, 19 Oktober 2020 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yakni 3,99 ini, terpacu dengan gaya mengajar kedua dosen yang telah mengadaptasi model pembelajaran di universitas terbaik nomor wahid di Australia itu. “Mungkin teman-teman saya agak kaget. Biasanya, kan, hanya masuk kelas dan presentasi. Sedangkan mereka mewajibkan mahasiswanya membaca buku, critical review dan sebagainya. Jadi mungkin bagi teman saya yang lain terasa berat. He he,” kata mantan Ketua Umum Forum Studi Islam Fakultas Agama Islam UMM ini. Menurutnya, ambisinya untuk studi Islam di negara non-Arab juga lantaran banyak sarjana Muslim yang mengenyam pendidikannya di negara non-arab. Sebut saja Jasser Auda. “Ada yang dari Chichago, kanada juga ada, dan lain sebagainya. Hal ini yang membikin saya semakin mantap untuk mengikuti jejak mereka. Saat ini, saya akan memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya. Meski dulu fasih berbahasa Inggris, karena jarang dilatih, akhirnya menguap begitu saja. Semoga kemampuan saya akan cukup untuk mendapatkan beasiswa dari negara yang saya tuju,” kata Asep (16/10). Kegandrungan Asep pada studi Islam tidak hanya dia maksimalkan di bangku perkuliahan. Asep bersama kawan alumnus satu almamaternya di Pondok Gontor sampai menginisiasi sebuah kelompok studi pemikiran Islam bernama ISTANID (Islamic Thought and Interdisciplinary Studies). Hobi membaca buku-buku seputar studi Islam juga ia implementasikan dalam karya tulis berupa jurnal ilmiah. Salahsatunya berjudul Rethinking The Contemporary Discourse of Jihad, Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, vol 9, No 2, Desember 2019 yang ditulisnya bersama dosen. (can)

Kementerian ESDM-UMM Serah Terima Pembangkit Energi Baru Terbarukan

PUSAT Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyerahkan Barang Milik Negara (BMN) berupa 3 (tiga) unit instalasi dan 1 (satu) unit peralatan dan mesin yang berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (16/10) siang. Hibah pembangkit energi itu digunakan untuk kegiatan penelitian dan konservasi energi. Barang Milik Negara yang dimaksud yakni 1 unit Instalasi PLTM Kapasitas Kecil, Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Lainnya, Instalasi PLTS Kapasitas Kecil, serta Gas Regulator. Dengan pelaksanaan hibah Barang Milik Negara tersebut, maka kewajiban penatausahaan, penggunaan, pengelolaan, penyimpanan, pengamanan, pengawasan, dan pemeliharaan serta segala risiko yang timbul menjadi tanggung jawab Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dalam hal ini dikelola UMM. Dalam laporannya di Kampus III UMM, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE), Chrisnawan Anditya, S.T., M.T. menerangkan bahwa kerjasama ini diawali dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara Balitbang ESDM Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan UMM yaitu pada bulan Juni tahun 2006 silam tentang penelitian dan pengembangan energi dan sumber daya mineral. “Selanjutnya ditindaklanjuti dengan melakukan nota kesepahaman pada tahun yang sama yaitu di bulan September tahun 2006 telah ditandatangani nota kesepahaman antara kedua pihak tentang pengembangan Energi Terbarukan dalam rangka percepatan implementasi Perpres No. 5 tahun 2006, yaitu saat itu untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan,” kata Crisnawan di agenda yang juga dihadiri Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes. Disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., PLTMH di Sengkaling dalam kondisi berfungsi dengan total daya terpasang sekitar 122 KVA. Saat ini juga PLTMH yang dimaksud masih digunakan untuk pasokan listrik pada gedung Rusunawa 1, Rusunawa 2 dan Rumah Bali untuk mahasiswa dengan total penghuni sebanyak 655 orang. PLTMH ini memanfaatkan lintasan bendungan Sengkaling melalui saluran irigasi Sengkaling. PLTMH ini sangat membantu memenuhi kebutuhan listrik di UMM. Selain kegiatan pembangunan, telah dilakukan pula beberapa tahapan penelitian bersama antara P3TKEBTKE dengan UMM di tahun 2008-2011. Salah satunya adalah evaluasi uji kinerja dan pengembangan fungsi dari pada infrastruktur energi. Kerjasama dalam pengembangan instalasi pembangkit listrik yang dimaksud selain digunakan untuk sarana pembelajaran dalam praktik kerja lapangan dan penelitian tugas akhir mahasiswa, juga dimanfaatkan untuk memenuhi pasokan listrik di Kampus Putih UMM. “Semoga dengan pelaksanaan hibah ini akan lebih meningkatkan pemantapan aset BMN tersebut untuk kelancaran kegiatan pembelajaran mahasiswa di UMM serta menjadi titik tolak kerjasama yang lain di periode selanjutnya,” kata Fauzan. Dalam kesempatan ini juga diselenggarakan kuliah tamu yang menghadirkan Dr. Dadan Kusdiana, Kepala Badan Litbang ESDM yang mengusung tema “Peran Generasi Milenial dalam Mendorong Pengembangan Energi Baru Terbarukan di Indonesia”. (can)

Pesan Haedar Nashir tentang Kepemimpinan di Pesmaba UMM 2020

RANGKAIAN Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) luring dan daring Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2020 telah usai. Kegiatan orientasi kehidupan kampus ini diikuti 7500 mahasiswa yang berasal dari seluruh pelosok wilayah Indonesia. Pada Rabu (14/10), ribuan mahasiswa yang tersebar di 10 fakultas ini dengan resmi dikukuhkan sebagai bagian dari keluarga Jas Merah Kampus Putih. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. secara khusus memberikan sambutan yang sekaligus menutup Pesmaba UMM 2020. Secara virtual, Haedar menyampaikan sejumlah pesan. Di antaranya, menjadi mahasiswa UMM setidaknya telah mengemban sejumlah tanggungjawab moral. Karena itu alam pikiran, sikap, cara bertindak, dan pergaulannya harusnya terpuji, terpercaya dan membanggakan. Hal ini sesuai dengan apa yang Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dan yang juga senantiasa almarhum Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. H.A Malik Fadjar, M.Sc. sampaikan bahwa mahasiswa UMM harus menyiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin di masa depan: Students Today, Leaders Tomorrow. “Pemimpin itu orang yang punya posisi penting. Pemimpin itu bukan hanya yang punya keahlian semata, dan punya keahlian disiplin ilmu semata, atau pengalaman yang terbatas semata. Tetapi harus naik kelas. Menjadi orang yang di atas rata-rata yang punya visi kebangsaan, kenegaraan, dan kemanusiaan semesta yang melintasi dan melebihi dari yang lain. Karena pemimpin adalah orang yang paling di depan dan bertanggungjawab atas apa yang Ia pikirkan, lakukan, dan Ia letakkan jejaknya sebagai legacy dalam kepemimpinannya,” ungkap Haedar dalam sambungan via Zoom. Menjadi pemimpin itu, sambung Haedar, menjadi pihak yang paling bertanggungjawab di atas dan paling di depan. Haedar lantas mengutip sabda Nabi, “Kullukum ra’in wa kullukum mas`ulun ‘an ra’iyyatihi”, yang artinya adalah “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimpinanmu”. Pemimpin karena berada di depan dan di atas, dia memang harus bersama dengan orang-orang yang dipimpinnya. Tapi dia juga sekaligus harus memiliki kelebihan. Termasuk memiliki kelebihan dalam visi kepemimpinan, kenegaraan, serta kemanusiaan semesta. “Kalau pemimpin kemampuannya terbatas, Ia berada di ruang kecil. Dalam dunia kecil dan sempit. Bahkan, ketika pemimpin itu hebat, tetapi kehebatannya tidak disertai dengan jiwa kepemimpinan akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang fasad bil ardh, yang akan menimbulkan kerusakan-kerusakan di muka bumi. Seperti contohnya Firaun, yang kepemimpinannya disalahgunakan. Akhirnya menimbulkan bencana di dalam peradaban manusia. Serta banyak pemimpin dunia yang membikin onar dan nestapa dalam peradaban. Kehebatannya, tidak disertai ruhani kepemimpinan,” katanya. Dari nilai-nilai keruhanian yang menjadi satu kesatuan lah yang perlu dipupuk oleh para pemimpin. Dalam hal wawasan juga, pemimpin tidak cukup hanya punya keahlian semata. Tapi harus bercakrawala luas. Visi dan pemikirannya, kata Haedar, tidak boleh sempit dari ruang dan halaman rumahnya. Dia harus melampaui kegaduhan, problem dan banyak hal dalam kehidupan di lingkup yang paling kecil. Keluarga, masyarakat, bangsa dan negara biasanya tidak dimulai dari para pemimpin yang kerdil, dan sempit wawasan. Demikian dipesankan Haedar kepada mahasiswa UMM calon pemimpin. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya juga mengajak, di tengah kondisi pandemi yang serba terbatas, untuk seluruh mahasiswa baru yang hadir di Hall Dome UMM untuk menjadi bagian dari masyarakat yang berupaya memberantas wabah ini agar segera berakhir. Dan semoga segera kita semua bisa kembali ke kehidupan yang normal. Ke kehidupan normal yang lebih agresif. “Janganlah menjadi mahasiswa yang hanya sekedar mengejar nilai formalitas, tetapi jadilah seperti mereka yang sukses membangun jati diri dan karakternya,” tandas Fauzan memotivasi. (can)

Persembahkan Kolase Nyanyian Rayuan Pulau Kelapa dari 34 Provinsi

ACARA penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang disaksikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., awalnya cukup menegangkan. Hal itu lantaran video persembahan yang seyogyanya ditampilkan sebagai pamungkas penutup hajat orientasi kehidupan kampus bagi mahasiswa baru UMM ini hampir saja gagal diputar. Meski terlambat, video kolase nyanyian Rayuan Pulau Kelapa yang dibawakan oleh 34 mahaiswa UMM di 34 provinsi berhasil diputar dengan lancar. Ketiga puluh empat mahasiswa tersebut secara terpisah membawakan lagu Nyanyian Pulau Kelapa dengan latar ikon daerah masing-masing. Mulai barat hingga timur Indonesia. Dari Papua hingga Aceh. Dari Miangas hingga Pulau Rote. Hal ini menunjukkan betapa majemuknya mahasiswa UMM yang berasal dari berbagai sudut Indonesia. Keberagaman itu dapat dipersatukan ke dalam satu rumah bersama: Jas Merah Kampus Putih. Kampus yang kental dengan semangat kebangsaan yang mengokohkan kebhinekaan dengan meninggikan peradaban kemanusiaan. Gimik ketegangan inilah yang sempat ditampilkan panitia dalam gelaran penutupan Pesmaba UMM 2020 yang dilakukan daring dan luring di Hall Dome UMM, Rabu (14/10). Seluruh peserta diajak merasakan ketegangan kalau-kalau gelaran pengukuhan mahasiswa baru UMM itu tak berakhir dengan manis. Karena, UMM senantiasa memberikan warna dan kejutan berbeda di tiap penyelenggaraan Pesmaba tiap tahunnya. Tak terkecuali pada Pesmaba UMM tahun 2020 ini. Meski penyelenggaraannya di tengah pandemi, Pesmaba UMM tahun ini tetap meriah. Sebanyak 7500 mahasiswa baru UMM, baik yang hadir di Hall Dome UMM dan yang mengikuti Pesmaba daring melalui aplikasi meeting daring Zoom, begitu menikmati suguhan tampilan. Sebelumnya, kemeriahan pelaksaan Pesmaba UMM tahun 2020 tak hanya dirasakan sivitas akademika Kampus Putih. Gaung Pesmaba UMM juga sempat menjadi trending topik pertama Indonesia di Twitter. Lantaran pada pukul 08.30 WIB, warga Kampus Putih secara kompak nge-tweet dengan tema serupa yakni “Aku pilih #UMMCampus karena…” dengan menyertakan tanda pagar #PesmabaUMM2020. Tak hanya itu, tim Binpotdirga Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh Malang juga turut memeriahkan penutupan Pesmaba UMM dengan menerjunkan 5 penerbang paramotornya. Para penerbang ini mengudara di langit UMM dengan mengibarkan spanduk Penutupan Pesmaba UMM 2020, quote tokoh bangsa “Berani Bercita-cita” dari almarhum Prof. Dr. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., UMM Kampus Tangguh, dan Sinergi untuk Negeri. Kerjasama ini merupakan wujud sinergi untuk negeri sekaligus ungkapan selamat Dirgahayu untuk TNI ke-75. Secara simbolis, para penerbang ini juga menyerahkan masker yang diterima perwakilan mahasiswa baru UMM dan mahasiswa asing dari sejumlah negara untuk disebarkan kembali ke masyarakat. (can)