ICEdu UMM Kaji Teknologi, Sebut AI Tidak Lebih Pintar dari Bayi

Perkembangan teknologi begitu menjamur di kalangan masyarakat. Mulai dari gawai, alat sehari-hari, hingga perkembangan alat bantu manusia seperti Artificial Intellegent (AI). Teknologi AI dapat dikatakan memiliki perkembangan yang sangat pesat. Tak jarang hal ini membuat masyarakat resah dan takut digantikan oleh kecerdasan buatan. Namun pernyataan ini dibantah oleh Prof. Stella Christie, Ph. D. dalam forum Internasional Conference on Education (ICEdu) kedua yang diadakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oktober ini. Menurutnya, kecerdasan buatan tidak akan bisa menggantikan manusia. “Dari penelitian yang saya lakukan, kecerdasan buatan itu sebenarnya tidak lebih pintar dari bayi berusia dua tahun,” tegasnya. Stella mengatakan, kecerdasan buatan tak perlu ditakuti. Manusia tidak akan digantikan oleh kecerdasan buatan di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun bidang lain. Karena kecerdasan buatan pasti memerlukan manusia untuk membantunya terus berkembang. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri AI juga harus diimplementasikan di dunia pendidikan. Utamanya dalam upaya membantu siswa untuk berkembang mengikuti zaman. Begitupun dengan meningkatkan kemampuan dan jiwa kompetitif siswa sehingga bisa berdaya di dunia yang sebenarnya. Maka, Stella menilai teknologi memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Adapun gelaran internasional yang menginjak tahun kedua itu membahas rinci mengenai pemberdayaan dan keunggulan pendidikan. Turut hadir para praktisi, dosen, hingga peneliti dari berbagai bidang di Indonesia. Di sisi lain, untuk menanggapi teknologi yang semakin mutakhir khususnya di dunia kerja, pemateri lain Associate Prof. Dr. Zulnaidi Yaacob memberikan buah pemikirannya. Menurutnya, ekosistem kewirausahaan juga harus ada di perguruan tinggi. Hal ini dapat melatih mahasiswa dan mengasah kemampuannya menghadapi dunia industri. Dunia industri, teknologi dan pendidikan harusnya bisa dikolaborasikan menjadi satuan struktur yang saling membangun satu sama lain. Misalnya dengan memasukkan nilai-nilai kewirausahaan ke kurikulum pembelajaran bagi setiap mahasiswa. Hal itu yang biasa disbeut dengan kurikulum katalis. Yaitu kurikulum yang diubah dari teori menjadi sistem yang lebih aplikatif. Mahasiswa diajari mengimplementasikan apa yang telah ia dapatkan di bangku kuliah agar semakin terasah dan siap terjun ke dunia kerja. “Hal ini juga bisa menjadi empowering education atau pemberdayaan pendidikan. Yaitu mampu meningkatkan taraf pendidikan siswa maupun mahasiswa serta mengurangi kesenjangan keterampilan pendidikan,” katanya menambahkan. Hal serupa juga sudah dilaksanakan oleh UMM, yaitu menjalankan pendidikan yang membekali mahasiswa dengan skill yang sesuai dengan kebutuhan industri. Proses itu terjadi melalui Center of Excellence (CoE). Tak hanya dibekali materi, mahasiswa juga dibekali dengan kemampuan spesifik untuk mendukungnya di dunia kerja. Dengan adanya teknologi, mahasiswa diharapakan lebih mengenal dunia dan siap bersaing serta berkolaborasi dengan teknologi. Karena, semakin maju teknologi akan mendorong masyarakat untuk terus berkembang mengikuti zaman. Jika tidak mengikuti zaman, masyarakat bisa tertinggal dan sulit memasuki dunia global. (tri/wil)

Hadirkan Ketua MK, PKPA FH UMM Lahirkan Advokat Humanis

PENDIDIKAN Khusus Profesi Advokat (PKPA) hasil kerjasama antara Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) dan DPC PERADI Malang Raya telah memasuki sesi akhir, Sabtu (24/10). Bertempat di Aula GKB IV Lantai 9 UMM, agenda penutupan PKPA Angkatan Ke 4 tersebut dihadiri oleh Ketua DPC PERADI Malang Raya dan juga Dekan FH UMM, dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dalam agenda penutupan PKPA yang telah berlangsung selama 2 bulan tersebut, Dr. Tongat, SH., M.Hum selaku Dekan FH UMM memberikan pesan kepada para peserta PKPA agar bisa menjadi advokat yang humanis. “Hukum itu harus hadir untuk manusia, bukan untuk dirinya sendiri. Maka jadilah advokat yang humanis, yang membela manusia,” ungkap Dr. Tongat dalam sambutan sekaligus menutup kegiatan PKPA. Lebih lanjut, Dr. Tongat berpesan agar visi humanis selalu menjadi nilai yang melekat dalam diri para peserta PKPA. Hal ini sejalan pula dengan visi FH UMM, yakni profesional, humanis dan religius. Agenda PKPA resmi ditutup sekira pukul 11.30 WIB. Sebanyak 50 peserta PKPA angkatan ke 4 tersebut kemudian melanjutkan dengan agenda try out pada pukul 13.00 WIB di tempat yang sama. Try out bertujuan untuk menyiapkan mereka guna menghadapi ujian profesi advokat yang akan datang. Sebelumnya, pada Jumat (23/10) kemarin, hadir sebagai salah satu pemateri Ketua Mahkamah Konstitusi RI Dr. H. Anwar Usman, SH., MH. Sebagai pemateri utama, Anwar menyampaikan materi tentang Hukum Acara Mahkamah Konstitusi. Dalam paparannya, Anwar tak hanya menyampaikan teori, namun juga memberikan contoh-contoh penerapannya. Termasuk beberapa kasus yang sedang ramai dibicarakan di tanah air. Anwar menegaskan, pengadilan tertinggi adalah pengadilan yang melibatkan hati nurani. “Sebagai seorang advokat, fakta yang kita sampaikan akan memengaruhi keputusan hakim. Jika fakta yang kita sajikan jujur, namun hakim tetap salah memutuskan, itu tetap dikembalikan ke hati nurani si hakim,” ujar pejabat kelahiran Bima tersebut. Di sisi lain, Ketua DPC Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi, SH., MH., mengatakan, pihaknya sengaja menghadirkan Ketua MK agar peserta PKPA bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman secara langsung dari pakarnya. “Kredibilitas beliau, kan, tidak diragukan lagi. Dengan ilmu yang diberikan, kami sangat berharap peserta PKPA ini menjadi advokat yang kredibel,” ujar Iwan. (*/can)

Duta Besar RI untuk Inggris Raya di Wisuda UMM Beri Modal Penting untuk Membangun Karir

DUTA Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya merangkap Republik Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional Periode 2015-2020, Dr. Rizal Sukma, didapuk memberikan orasi ilmiah dalam gelaran Wisuda ke-97 Periode III tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (24/10). Rizal secara khusus membagikan sejumlah modal penting kepada para wisudawan yang memulai karir di era pandemi agar bisa menghadapi ketatnya persaingan dan juga beratnya kondisi pada saat pandemi Covid-19 ini dalam upaya membangun karir. Sebelumnya, Rizal yang pernah menjadi salah satu dari 100 Pemikir Dunia pada tahun 2009 oleh majalah Foreign Policy ini menyebutkan tantangan Covid-19 di Indonesia. Pertama, disebutnya, Indonesia selalu ingin menjadi negara mandiri. Tidak salah dengan cita-cita itu. Namun, kemandirian itu tentunya tidak bisa dicapai dengan tanpa kerjasama internasional. “Tidak ada negara yang bisa maju dan mandiri karena dia mengisolasi dan bekerja sendiri. Dalam dunia sekarang ini, kemandirian itu justru didapat dari kerjasama internasional,” ungkap Rizal di orasi yang dilakukan virtual ini. Kita, sambungnya, tetap harus berprinsip bahwa kepentingan nasional itu nomor satu. Namun, ditegaskan Rizak yang sempat aktif Aktif di Muhammadiyah sebagai Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri  Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 2005-2015 ini, upaya untuk memperjuangkan kepentingan nasional tidak harus disertai dengan sikap yang xenophobia atau merasa takut, terancam, atau benci kepada pihak-pihak asing. “Dan ini sikap-sikap yang tidak relevan lagi,” ujar Rizal di hadapan wisudawan yang lulus di jenjang Sarjana, Magister, dan Doktoral ini. “Kita sering mendengar, misalnya, Indonesia ingin bisa bikin pesawat dan mobil sendiri. Tidak ada yang salah dengan cita-cita itu. Tapi untuk bisa ke sana, saya kira, yang sangat penting adalah bagaimana menjadikan Indonesia menjadi bagian dari regional dan global supply chance. Kita lihat misalnya, banyak industri sekarang itu tidak pernah dibuat penuh oleh satu negara. Tetapi beberapa negara berpartisipasi di dalam regional dan global supply chance yang ada. Sehingga geliat industrinya juga bisa turut  berkembang,” terangnya di wisuda yang diselenggarakan secara bergelombang ini. Ekonomi dunia ini sedang banyak bergerak ke services, sehingga Indonesia juga harus bergerak ke arah sana. Namun, bagi Indonesia, untuk tetap penting menghidupkan kembali sektor manufaktur dan pertanian. Karena di situ justru pentingnya pembukaan lapangan kerja bisa terjawab. “Terlepas dari dampak-dampak negatif maupun peluang-peluang baru, tantangan utama yang sekarang tentunya bagi adik-adik wisudawan adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ini, saya kira, menjadi persoalan banyak lulusan perguruan tinggi di banyak negara,” kara Rizal. Dengan demikian, untuk menghadapi tantangan yang ada, Rizal membocorkan modal yang selayaknya dimiliki oleh para lulusan sehingga nanti bisa menghadapi ketatnya persaingan dan juga beratnya kondisi pada saat pandemi ini dalam upaya membangun karir. Di antaranya semangat dan optimisme. “Jangan berkecil hati kalau misalnya yang ber-IPK rendah. Saat kuliah S1, dengan segala keterbatasan IPK saya hanya 2,60. Akhirnya saya lebih banyak menulis untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semuanya bisa dilewati berkat semangat dan optimism yang tinggi,” kata Rizal. Berikutnya, Fokus pada apa yang ingin dikerjakan. Akan sulit mengerjakan banyak hal sekaligus, tetapi tidak ada hal yang fokus. Karena profesionalisme itu perlu dibangun dari awal. Rizal menekankan pentingnya fokus untuk mengembangkan karir di bidang tertentu. Selain itu, Rizal berharap meskipun sudah lulus, wisudawan tetap memperkuat penguasaan bahasa asing. Karena kompetensi ini sangat penting. “Jendela pengetahuan dan pengalaman itu terbuka lebar apabila kita bisa menguasai bahasa asing. Terutama bahasa Inggris. Atau bahasa lainnya untuk menunjang karir,” ujarnya. Selain itu, perlu juga memanfaatkan jejaring yang ada. Selama kuliah, secara tidak sadar kita membangun jejaring (network) sesama teman mahasiswa. “Perjalanan karir saya sendiri, saya sangat terbantu dengan jejaring yang ada. Apabila sanggup, ciptakan pekerjaan sendiri. Jangan tergantung Pemerintah. Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen pernah mengatakan, the government is not the solution, the government sometimes is the problem. Maksudnya, Pemerintah itu kadang tidak menjadi solusi, kadang-kadang Pemerintah malah si pembuat masalah,” katanya. Lebih jauh, dalam membangun karir ke depan, penting adanya antisipasi kira-kira pasca covid-19 ini peluang apa saja yang akan ada. Khususnya dalam konteks membangun lapangan pekerjaan sendiri. Antisipasi aktivitas ekonomi pasca covid dan aktivitas pasca Covid itu akan mempermudah untuk memunculkan ide-ide yang berbeda. Terakhir, kita harus tetap memberi kontribusi dan membantu peran nasional dan internasional Muhammadiyah. Muhammadiyah sangat terbuka bagi kontribusi kita semua. Jadi, jangan lupakan Muhammadiyah,” pungkas Rizal menutup orasinya. (*/can)

Bangga Jadi Qoriah UMM, Egalia Lulus dengan Predikat Summa Cum Laude

BAGI Egalia Novika Hidayat, menjadi qoriah untuk berbagai hajat besar kampusnya sudah menjadi pencapaian tersendiri. Apalagi bisa perform kemampuan melantunkan Al Quran di hadapan para pejabat tinggi negara. Pengalaman berharga inilah yang Egalia, sapaan akrabnya, dapatkan selama menjadi mahasiswa aktif di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Perempuan asal Meliau, Kalimantan Barat ini baru saja diwisuda, Selasa (20/10) pekan lalu, dengan predikat summa cum laude yakni IPK 3,86. Egalia lulus sebagai sarjana Fisioterapi (S.Kes.). Puteri dari bapak Ilham Hidayat dan Ibu Lenny Rizawati ini menjadi lulusan terbaik Fakultas Ilmu Kesehatan. Tak sekadar lulus, penyuka kegiatan kerelawanan ini telah menorehkan banyak prestasi yang sangat membanggakan. Tak hanya di bidang Al Quran, melainkan di Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional. Di bidang Al Quran, Egalia pernah Juara II di ajang Musabaqah Syarhil Qur’an Nasional yang diselenggarakan Universitas Djuanda Bogor 2020. Bahkan, untuk tingkat universitas sekalipun Egalia kerap menjadi juara pertama untuk cabang lomba Syarhil Quran. Dari situlah dirinya ditunjuk untuk mewakili Kampus Putih UMM dalam setiap ajang kejuaraan lomba Al Quran. Kemampuan melantunkan ayat Al Quran yang telah Ia miliki sejak SMP itu terus Ia asah hingga di perguruan tinggi. Dara kelahiran November 1998 ini bahkan bergabung ke unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang fokus pada pembinaan Al Quran, yakni UKM Musabaqah Tilawatil Quran UMM. Beberapa lomba yang Egalia raih di bidang LKTI di antaranya Juara I LKTI-A Nasional Universitas Negeri Jakarta 2018, Juara II Olimpiade Nasional FISIOKER bidang SPORT PHYSIO 2018, Juara II LKTI Nasional Pena Pemuda Indonesia UNY 2018 serta Juara III LKTI-A Nasional IfoPH UNAIR Surabaya 2018. Tak hanya berupa karya tulis ilmiah, kemampuannya menulis juga Egalia aplikasikan dalam buku yang ia tulis bersama dosen dan kawannya berjudul Buku Ilmu Dakwah: Praktis Dakwah Milenial. Meskipun notabene bukan anak pondok pesantren, kemampuan tilawah Al Qurannya tak kalah baiknya. Segala raihannya itu tak lain dalam rangka membanggakan kedua orang tuanya, sekaligus ajang mengasah diri. “Sebetulanya orang tua saya itu dari dulu mengarahkannya ke akademik. Saya dilatihnya lewat rewad dan punishment. Jadi cara saya membuktikan kepada orang tua saya kalau saya punya kemampuan lain adalah dengan aktif di luar, baik di kegiatan kerelawanan maupun Al Quran,” kata Egalia. Tak sedikit juga kegiatan kerelawan yang diikutinya. Misalnya Egalia sempat terdaftar sebagai Volunteer Indonesia Medika Bersih Pantai Teluk Asmara Malang 2019, Volunteer Fisioterapis Runners Mantra Summit Challange (MSC116) Arjuno-Welirang 2019, Baksos Gabungan Besama Tim Bantuan Medis Mahasiswa Malang 2017, Volunteer Parthner of Physiotherapist Nusantarun Chapter 7 2019, terakhir Egalia terdaftar sebagai bagian dari Physiotherapist dan Medis Campus League 2019. Kegandrungannya mengikuti banyak kompetisi, baik Al Quran maupun lomba karya tulis ilmiah didukung oleh apresiasi yang diberikan UMM. Bahkan kampus ini punya tagline khusus, “Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tak dihargai”. Diakui Egalia, tak hanya uang pembinaan yang diperolehnya dari panitia penyelenggara lomba. UMM juga secara khusus memberikan apresiasi uang pembinaan, yang dinilainya, sangat cukup membantu pembiayaan selama kuliah di Fisioterapi UMM. (*/can)

Tim PPUPIK Prodi Peternakan UMM Kembangkan Jamu Herbal untuk Ternak

USAHA Pemerintah untuk dapat mencapai swasembada produk ternak (daging, susu dan telur) perlu didukung dengan melakukan usaha ketahanan pakan ternak di Indonesia. Sehingga, pakan untuk ternak dapat tersedia secara kontinu dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta dengan harga yang murah. Kualitas pakan ternak menentukan kesehatan ternak yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan manusia sebagai konsumen. Selanjutnya guna meningkatkan produktifitas ternak, penggunaan feed additive menjadi salah satu alternatif pilihan untuk ditambahkan pada pakan ternak, salah satunya adalah antibiotik. Antibiotik banyak digunakan sebagai growth promotor (AGP) dalam pakan ternak di seluruh dunia untuk memacu pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dan dalam waktu yang lebih cepat serta untuk mencegah terjadinya infeksi. Namun, penggunaan AGP dalam pakan memberikan dampak negatif dan sangat merugikan, baik dari segi ekonomis maupun kesehatan masyarakat. Beberapa dampak negatif penggunaan antibiotik sintetis, antara lain membatasi pertumbuhan dan kolonisasi sejumlah bakteri usus yang menguntungkan, termasuk Lactobacillus (pensilin), Bifidobacteria (Ampicillin), Boeteroides (Clindamycin) dan Enterococci (Kanamycin). Selain menyebabkan resistensi, AGP juga sering menyebabkan residu antibiotik dalam daging dan organ-organ visceral, yang sangat mungkin bisa mengganggu keamanan pangan asal daging khususnya daging unggas. Jamu sangat memungkinkan sebagai pengganti AGP dalam pakan ternak, yang bersifat alami, tanpa efek samping, karena dalam herbal terkandung berbagai zat aktif (fitobiotik), antara lain : terpenoid, phenolic (Tanin), glikosida dan alkaloid (alkohol, aldehida, keton, ester, eter, lakton). Fitobiotik tersebut secara sinergi bisa merangsang enzim pencernaan endogen, bertindak sebagai antioksidan, agen antimikroba atau imunomodulator. Indonesia terkenal sebagai negara  yang kaya akan flora, ditemukan beberapa ribu jenis tanaman obat  di Indonesia yang sangat potensial digunakan sebagai bahan pakan tambahan (“feed suplement”) maupun sebagai “feed additive”. Tim PPUPIK (Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus) Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah berhasil mengembangkan jamu herbal untuk ternak melalui perolehan Hibah Kementerian RISTEK/BRIN tahun 2020. Kegiatan ini dikemas dalam unit usaha dan dikembangkan di lingkungan Technopark Prodi Peternakan UMM, dengan tujuan meningkatkan peran Laboratorium Peternakan sebagai sarana penting mendukung tercapainya visi, misi dan tujuan institusi. Program ini diketuai Dr. Ir. Adi Sutanto. MM dengan latar belakang keilmuan bidang Agribisnis Peternakan. Program ini juga dikuatkan oleh tim ahli bidang Pakan Prof. Dr. Wahyu Widodo. MS., bidang Kesehatan Ternak Dr. Drh. Imbang Dri Rahayu. M.Kes., bidang Pengembangan Sumber Daya Dr. Tri Sakti Handayani. MM. dan Ahli Teknologi Pangan Apriliana Devi Anggraini. MSc. Jamu ternak PPUPIK yang dikembangkan dengan merek SIYUNA merupakan produk jamu ternak yang saat ini diformulasikan khususnya untuk ternak ayam dan sedang dikembangkan pula untuk ternak non-unggas. Tim PPUPIK Prodi Peternakan UMM juga saat ini sedang membangun kerjasama dengan pelaku usaha dan kelompok peternak yang berorientasi pada pengembangan ternak berbasis herbal. Produk jamu herbal Siyuna berbahan baku: jahe, kencur, kunyit, laos, le,puyang dan kunyit, yang ditujukan untuk peningkatan produktivitas (Siyuna Jaga Produktif), guna peningkatan nafsu makan (Siyuna Jaga Rakus) dan menjaga sehat (Siyuna Jaga Sehat). Produk jamu herbal tersebut saat ini sudah dikembangkan dan dapat dengan mudah didapatkan pada media online baik tokopedia maupun shopee. “Melalui unit usaha jamu ini juga diharapkan bisa meningkatkan ketrampilan dan pengalaman kerja bagi mahasiswa jurusan Peternakan khususnya terkait dengan program PUP di jurusan Peternakan UMM, menumbuhkan budaya komersialisasi hasil penelitian dosen maupun mahasiswa di jurusan Peternakan UMM dan membangun kerjasama dengan pelaku usaha yang bergerak dalam pemasaran produk pangan  organik,” ungkap Adi, ketua program. Program Unit Usaha Jamu herbal untuk ternak ini secara umum adalah terbentuknya unit usaha di Laboratorium Peternakan berbasis produk intelektual dosen, produk jamu ternak komersial yang terjual dan menghasilkan pendapatan bagi Laboratorium Peternakan, paten, wirausaha-wirausaha baru berbasis Ipteks sehingga diharapkan dapat memberi dampak berkembang dan meluasnya budaya kewirausahaan dan pemanfaatan hasil riset maupun pendidikan di Laboratorium Peternakan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. “Selain itu, tujuan dari program unit usaha jamu herbal untuk ternak ini adalah updating ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi ini pendanaannya oleh Kemenristek/BRIN  dan hasil program pengembangan usaha produk intelektual kampus  (PPUPIK). selain dalam bentuk kinerja yang berbasis ekonomi, capaian akademik yang dihasilkan disebarluaskan dalam bentuk artikel ilmiah dalam Jurnal/Majalah Internasional,” pungkas Adi. (*/can)

UMM-JTP Group Teken Kerjasama Pengembangan Batu Love Garden

BERTEPATAN dengan pelaksanaan Wisuda ke-97 Periode III-2020, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendandatanganan nota kesepahaman dengan tiga pihak sekaligus. Yakni yang dilakukan dengan PT Garin Agro Sejahtera untuk mengembangkan potensi bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Serta kerjasama dengan PT. Bunga Wangsa Sedjati dan PT. Bunga Cinta Sedjati dalam kaitannya dengan pengembangan bidang Eco Park dan Edu Park. Lebih khusus kerjasama yang dilakukan antara UMM dengan PT. Bunga Wangsa Sedjati ini meliputi bidang Eco Park yakni berupa community tourism dan community entrepreneur. Sementara di bidang Edu Park, yakni berupa student needs activities, student interest activities, dan bidang-bidang lainnya dalam rangka pengembangan Catur Darma UMM dan potensi PT. Jawa Timur Park Group untuk menunjang sejumlah program-program kegiatan PT. Bunga Wangsa Sedjati dan Kampus Putih UMM. Sementara itu, ruang lingkup kerjasama secara khusus antara UMM dan PT. Bunga Cinta Sedjati dalam bentuk Batu Love Garden yang berada di Jalan Raya Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Berupa garden and park development, garden and park tourism dan bidang-bidang lainnya yang tentunya juga dalam rangka pengembangan Catur Darma UMM dan potensi PT. Bunga Cinta Sedjati untuk meunjang program kegiatan UMM dan PT. Bunga Cinta Sedjati yang telah disepakati kedua belah pihak. Kerjasama di bidang Eco Park dan Edu Park ini akan ditindaklanjuti langsung oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan, Dr. Ir. David Hermawan, M.P., IPM. telah melakukan pertemuan dengan Founder and Owner Jawa Timur Park (JTP) Group, Paul Sastro Sendjojo. Mereka membicarakan pembangunan obyek wisata baru, yakni Jatim Park 4 dengan sebutan Batu Love Garden di Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Kerjasama itu dikonkritkan Jumat (23/10). David mengaku telah dimintai JTP Group untuk memberikan koreksi Master Plan terhadap pembangunan Batu Love Garden yang saat ini sedang berlangsung. Lebih jauh, FPP UMM diajak bekerja sama untuk bersama-sama merancang bangunan, konten dan teknologi dari wahana yang akan dibangun di obyek wisata. Dalam hal ini seperti taman bunga, pasar bunga, rangkai bunga dan buah, exhibition, love garden, taman 1000 air mancur, taman dunia, holtikultura, nursery serta parade bunga. Secara terpisah, Founder and Owner Jawa Timur Park (JTP) Group, Paul Sastro Sendjojo mengatakan, Jatim Park Group memilih menggandeng UMM karena membutuhkan pihak yang bisa membantu pengembangan wisata yang bisa memenuhi kebutuhan edukasi wisatawan. Selain taman bunga, buah, sayur, di dalamnya juga akan tersedia pasar ikan, ternak dan burung. Bahkan, akan didesain juga tipe rumah percontohan untuk para pensiunan dengan luas tanah sekitar 150-200 meter. Jika memungkinkan, kata David, akan didirikan green house modern. Kemudian mendirikan area percontohan close house untuk ayam petelur yang dirancang secara digital. David berharap, wahana ini akan menjadi tempat edukasi bagi petani dan peternak serta masyarakat yang peduli akan pangan nasional. “Di dalamnya juga akan di bangun tempat pembejaran berupa training center sebagai etalase edukasi pendidikannya,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika. David menilai, terpilihnya UMM sebagai mitra JTP Group karena UMM telah dikenal berpengalaman mengembangkan sayap bisnisnya (hotel, tempat wisata, otomotif, rumah sakit, perbankan, energi. FPP UMM memiliki banyak sumber daya manusia yang bisa diterjunkan untuk pengembangan obyek wisata. Dalam hal ini seperti dosen yang ahli di bidang konstruksi, teknologi dan informasi, pertamanan, pertanian modern, peternakan, dan perikanan. Terlebih, berpengalaman mengembangkan desa wisata. (*/can)

Ami Jadi Dokter yang Juga Paham Hukum Kesehatan

MENJADI dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) bukannya tanpa resiko. Selain harus siap di bawah tekanan atmosfer kegawat daruratan, dokter IGD juga harus siap dibayang-bayangi oleh ancaman diperkarakan pasien atau keluarga pasien karena dugaan salah penanganan. Hal inilah yang melatari Rezky Ami Cahyaharnita, dokter IGD RSU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mantap melanjutkan jenjang pendidikan magisternya di Program Studi Magister Ilmu Hukum UMM. “Yang membuat saya tertarik mengambil magister Ilmu Hukum di UMM karena menyediakan konsentrasi kesehatan. Setau saya baru pertama yang ada di Malang. Nah, terus saya sendiri sebagai dokter IGD juga mikirnya, di IGD itu banyak banget potensi komplain dari pasien. Entah penanganan yang lama atau mungkin pasien itu tidak mengerti bahwa dokter harus menangani sesuai dengan level kegawatannya,” terang alumni Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UMM tahun 2010 ini. Kedua, jika dokter sudah melakukan tindakan dan hasilnya tidak sesuai dengan harapan pasien, seringkali pasien komplain lantas memunculkan gugatan. Diakui perempuan asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, Ia menyadari pentingnya seorang tenaga kesehatan untuk memahami Ilmu Hukum. Meski mengaku agak kesulitan untuk bisa menyesuaikan ritme dan materi perkuliahan Ilmu Hukum yang notabene jauh dari disiplin ilmu Kedokteran. Namun, Ami dipermudah dengan adanya matrikulasi. “Saya juga nggak mengerti sama sekali masalah hukum, benar-benar murni anak IPA terus langsung belajar IPS (Hukum, red.). Anak IPA, kan, banyak belajar ilmu pasti. Sedangkan di Hukum, kan, banyak kemungkinan-kemungkinan. Jadi belajar itu dari semester awal memang berat sekali rasanya. Matrikulasi, terus diajarin tentang dasar-dasarnya hukum. Berat sekali memang dan gak semua buku juga saya baca,” kata wisudawan terbaik UMM jenjang magister di Wisuda ke-97 Periode III tahun 2020. Bukan cuma Ami, tenaga kesehatan yang memutuskan melanjutkan Magister Ilmu Hukum di UMM. Ada 3 dokter spesialis, 2 dokter umum dan 1 perawat. Mereka merupakan angkatan pertama di Magister Ilmu Hukum UMM yang mengambil peminatan Hukum Kesehatan. Ami menjadi satu-satunya tenaga kesehatan termuda yang mengambil peminatan Hukum Kesehatan. Namun, melihat koleganya sesama tenaga kesehatan semangat, Ami terpacu menuntaskan studinya dengan serius. Sebelum mantap memutuskan untuk mengambil magister Hukum, Ami banyak belajar dari pengalaman kerja para dokter di Amerika. Lewat itu, dia mengenal istilah Defensive Medicine, di mana defensive medicine adalah suatu bentuk praktik kedokteran di mana seorang dokter akan sangat berhati-hati dan sangat memperhitungkan langkah-langkah aman bagi dirinya agar tidak gampang dipersalahkan atau dituntut pasien. Hal itulah yang membuatnya semakin yakin mengambil studi Hukum peminatan kesehatan. Pasca lulus, Ami tak ingin keilmuannya itu dikonsumsi sendirian. Ia ingin literasi seputar Hukum Kesehatan yang dimilikinya juga bisa ia tularkan kepada para koleganya di rumah sakit. Ami bahkan berminat, jika ada kesempatan untuk melanjutkan jenjang doktoral di bidang studi yang sama. Lebih jauh, pengetahuannya seputar Hukum Kesehatan ini dapat membentengi dirinya dari segala bentuk gugatan hukum yang dilayangkan kepadanya dan membantu kawannya sesama profesi tenaga kesehatan. “Saya banyak mendengar tentang para dokter yang mengabdi di luar kota atau yang di daerah 3T. Seringkali mereka disalah-salahkan karena penanganan terhadap pasien yang tidak maksimal. Keterbatasan sarana-prasarana. Jadi pelaksanaan seperti pemeriksaan penunjang nggak bisa dilakukan. Kemudian mereka kalau mungkin melakukan operasi, alatnya juga kurang sesuai dengan standard. Sementara mereka juga mungkin sudah berupaya dengan optimal,” pungkas Ami, Jumat (23/10). Ami berhasil lulus dengan predikat summa cum laude dengan IPK hampir sempurna, yakni 3,97. Dalam tesisnya, Ami melakukan Analisis Subtantif PERMENKES No. 47 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Kegawatdaruratan dalam Jaminan Kesehatan Nasional. Lebih khusus, dalam tesisnya Ami hendak menjawab pertanyaan bagaimana peraturan tersebut ditinjau dari perspektif peraturan perundang-undangan terkait kesehatan, kendali mutu kendali biaya, dan asas-asas umum good governance. (riz/can)

Dirjen Dikti: Kemajuan Dunia Ditentukan oleh Inovasi

INDONESIA sebagai negara dengan penghasilan menengah menuju kepada menengah ke atas, sangat membutuhkan sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya membawa gelar kesarjanaannya, tetapi memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia. Hal itu disampikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. saat memberi orasi ilmiah pada Wisuda Ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (22/10). “Kalau kita melihat angkatan kerja di Indonesia saat ini sebagian besar lebih dari 50% baru tamatan SD dan SMP, sementara yang tamatan pendidikan tinggi masih di bawah 10%. Ingat, itu satu tantangan yang besar bagi kita semua. Jadi anda sekalian para sarjana ini merupakan bagian kecil dari angkatan kerja di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak utama dari kemajuan perekonomian, kemajuan sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Nizam di wisuda yang digelar di Hall Dome UMM. Kalau dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sambung Nizam, di negara-negara tersebut rata-rata angkatan kerjanya sudah di atas 35% yang berpendidikan tinggi. Pada saat ini, Indonesia sedang memasuki apa yang dikenal dengan bonus demografi, di mana angkatan kerja jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak dan usia manula. “Tetapi, bonus demografi tidak serta merta menghasilkan kemajuan, meskipun kita juga sudah melihat dalam sejarahnya. Mulai dari kita lihat yang nyata sekali Jepang. Tahun 70-an dengan bonus demografinya itu berhasil membawa Jepang menjadi macannya Asia. Tetapi kemudian di tahun 90-an hingga sekarang Jepang mulai mengalami atau memasuki masyarakat yang menua atau Aging Society,” ujar Nizam secara virtual. Diikuti kemudian oleh Korea Selatan, yang di tahun 90-an memasuki bonus demografinya dan menjadi kekuatan baru ekonomi di Asia. Itu terjadi bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh Korea Selatan pada tahun 1990-2000an. Sehingga tidak heran tahun-tahun tersebut  Korea tumbuh dengan sangat pesat dan bahkan dalam banyak kompetisi bisa mengalahkan Jepang. Samsung misalnya, mengungguli Sony dalam produk handphone dan produk alat-alat elektronik yang lain. Demikian pula China tahun 2000-an akhir mulai memasuki bonus demografinya. Dan jika dilihat China sekarang menjadi raksasa dunia di dalam ekonomi. Itu bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh China di tahun 2010-an hingga sekarang. Tapi, saat ini China pun juga mengalami Aging Society, sementara Indonesia sedang memasuki bonus demografi tersebut. “Tentu peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Dan anda sekalian para sarjana baru bagian dari bonus demografi tersebut, yang tentu dengan segala potensi, dengan segala kreativitas, anda sekalian akan menjadi bagian dari membangun ekonomi Indonesia yang lebih maju, membangun kesejahteraan masyarakat yang lebih makmur, serta berkeadilan. Dan tentunya mewujudkan Indonesia Raya yang kita cita-citakan bersama,” ujar Nizam. Lebih jauh Nizam menyebut, kemajuan dunia saat ini sangat ditentukan oleh inovasi. Dasar dari inovasi adalah kreatifitas. Kreatifitas dan inovasi akan lahir dari perguruan tinggi ketika para sarjananya memiliki jiwa merdeka. Mempunyai semangat untuk terus berkreasi dan semangat untuk mengembangkan ilmu teknologinya, serta mendharma bhaktikan ilmu teknologinya itu untuk kemajuan bangsa dan negaranya. “Saya yakin anda sekalian dengan bekal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Anda sekalian sudah mendapat bekal yang cukup dari segi kompetensi dan dari sisi akhlak. Tinggal bagaimana anda sekalian memanfaatkan bekal tadi untuk membangun masa depan anda sekalian,” pungkas Nizam. (mid/can)

Kemenko PMK: Inovasi Pertanian UMM Layak Dimanfaatkan secara Nasional

DEPUTI 2 Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK  Mayjen TNI (Purn.) Dody Usodo Hargo S., S.IP., MM. melakukan kunjungan lapang terkait peluang pemanfaatan inovasi pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (21/10) kemarin. Lebih jauh, kunjungan lapang tersebut dalam rangka penjajakan dan melihat berbagai inovasi pertanian yang tengah dikembangkan oleh sivitas akademika UMM. Dody didampingi langsung Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., diajak berkeliling ke berbagai tempat yang digunakan untuk pengembangan inovasi pertanian. Di antaranya ke Smart Farming dan Edupark yang dikelola Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Tak hanya diajak ke berbagai tempat pengembangan inovasi pertanian, UMM sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan (EBT), Dody juga diajak melihat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Ketika berada di UMM Dody, Rektor UMM serta rombongan diajak untuk mengunjungi beberapa tempat seperti Smart Farming, Edupark FPP Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling. Di lokasi Smart Farming, Dody langsung ditunjukkan pesawat tanpa awak atau drone hasil pengembangan dosen FPP UMM, Dr. Wahono, yakni Motodoro SRI yang terbang melenggang menyirami tanaman pada lahan yang dilintasi. Setelah itu, rombongan menuju ke Edupark FPP dan meninjau ke beberapa laboratorium seperti Fish Edupark, tempat Produksi Riset Nasional (PRN)-UMM, tempat Produksi Ayam Kampung Super, Experimental Farm, dan Akuaponik. Agenda kunjungan lapang ini berlangsung gayeng dengan diakhiri makan bersama berbagai hasil produk inovasi pertanian yang dikembangkan FPP di Edupark. Sebagai penutup agenda kunjungan lapang, rombongan berangkat dan meninjau PLTMH. Setelah melihat berbagai inovasi pertanian yang ada di UMM, Dody secara khusus mengapresiasi banyak hal yang tengah dikembangkan UMM. Bahkan Dody menilai layak melaku ke nasional. “Saya sangat mengapresisi hal-hal yang ada di sini. Secara jujur, saya rasa, saya belum pernah melihat inovasi-inovasi seperti ini sekalipun itu di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Berbagai inovasi yang ada di sini layak untuk melaju (untuk dimanfaatkan) ke nasional,” ungkap Dody Usodo. Ditemui di sela kunjungan lapang, Dekan FPP UMM menyambut positif kunjungan Dody untuk melihat peluang pemanfaatan inovasi pertanian milik UMM. “Setelah meninjau beberapa tempat yang ada di UMM, mereka cukup kaget karena kita memiki semua yang diperlukan untuk kebutuhan pangan dan teknologi di Indonesia. Dan tentunya ini akan menjadi referensi dalam pembangunan mereka bahwa inovasi pertanian kita bisa diaplikasikan secara nasional,” ungkap David. (riz/can)

Dosen IAIN Sorong Jadi Wisudawan Terbaik UMM

BERBEKAL penelitian tentang bagaimana transmisi pendidikan Agama Islam (PAI) dari sudut pandang budaya lokal yang ada di Pulau Misool, Raja Ampat, Papua Barat, Indria Nur berhasil meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berkat penelitiannya ini juga, pada gelaran Wisuda ke-97 Periode III Tahun 2020, dosen Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong ini menjadi lulusan terbaik jenjang doktoral dengan IPK 3,90. Indria memandang bahwa transmisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan keberlangsungan sebuah pendidikan dan kebudayaan. Tidak hanya bentuk budaya, melainkan juga nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Pulau Misool yang merupakan salah satu dari empat kepulauan besar di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, warganya mayoritas Muslim. Jumlahnya mencapai kurang lebih 9000 jiwa. “Kehidupan beragama masyarakat Misool masih sangat kental dengan corak tradisional. Pun demikian dengan pemahaman leluhur yang bernuansa tarekat dan mistis. Beberapa fenomena yang ada di kampung-kampung di pulau Misool tentang bagaimana kepengurusan masjid dan kegiatan keislaman lainnya yang masih selaras dengan kearifan lokal,” ungkapnya. Tak hanya itu, pendidikan di Misool juga tak lepas peranannya dari tradisi budaya lokal dan Islam yang terdapat di Misool. Melalui pendidikan juga transmisi berbagai macam budaya dan nilai-nilai terjadi, yaitu nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya Islam yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur‘an dan Sunnah Rasul serta kearifan lokal. Fenomena inilah yang membuat Indria Nur, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam untuk mengangkatnya dalam sebuah buku pengembangan disertasinya yang berjudul “Islam Misool Raja Ampat: Pendidikan Agama Islam dalam Bingkai Budaya Lokal”. Indria memfokuskan penelitiannya untuk mendeskripsikan dan memahami bentuk budaya lokal sebagai media transmisi ajaran Islam. Juga memahami proses transmisi ajaran Islam melalui budaya lokal di pulau Misool Raja Ampat dengan berdasarkan pada data penelitian kualitiatif etnografi, yang didasari atas beberapa alasan, makna dari suatu tindakan. Juga strategi yang dilakukan dalam kehidupan sosial agar dapat memahami bagaimana transmisi pendidikan Agama Islam yang ada di sana. Indria menemukan bahwa ada beberapa tradisi Islam di kampung Fafanlap Pulau Misool berupa bentuk Nilai-Nilai Atnelevo (Persaudaraan) dan Fatanon (Kekeluargaan). Di kampung ini juga ada penggunaan simbol kain putih yang selalu ditemukan pada setiap proses ritual. Baik saat Pernikahan, Aqiqah, Zikir Maulud, Baca doa Ari dan Hadiyat serta bentuk-bentuk ritualnya yang secara turun-temurun mereka laksanakan dengan alasan itu sudah menjadi ajaran dari orang tua mereka. Selain itu ada beberapa cara yang masyarakat lakukan agar tetap mempertahankan tradisinya.  Juga mewariskan nilai-nilai Islam melalui budaya lokal seperti menghormati leluhur atau nenek moyang. Ini merupakan sikap dari masyarakat Misool dalam mempertahankan tradisi atau kearifan lokal yang masih ada sampai sekarang. “Karena dengan menghormati leluhur atau nenek moyang, masyarakat Misool percaya bahwa hal tersebut dapat membuat masyarakatnya tetap melestarikan tradisi atau kearifan lokal yang dulu diajarkan oleh nenek moyangnya,” ujar Indria. Hal ini nampak dengan begitu kuatnya mereka mempertahankan ajaran yang telah diwariskan dari turun temurun yaitu tradisi khutbah ṣalat  Jumat dan khutbah hari raya dengan menggunakan teks Bahasa Arab. Ketika Hakim Syara’, di kampung-kampung lain sudah mulai melakukan perubahan. Dengan memberlakukan khutbah menggunakan Bahasa Melayu, namun tidak demikian adanya di Kampung Fafanlap. Ditinjau dari deskriptif-analitis yang dituliskan dalam disertasinya, Indria menuliskan temuan bahwasanya proses transmisi ajaran Islam pada budaya lokal melalui garis vertical orang tua dan garis oblique yaitu masyarakat dan keluarga lain. Di mana keluarga berfungsi sebagai tempat terjadinya sosialisasi nilai-nilai budaya yang terdapat dalam komunitas masyarakat serta sentral seluruh kehidupan sosial seorang anak, tempat dia dibesarkan, diasuh dan dididik tentang kebudayaannya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Temuan lainnya di mana proses transmisi ajaran Islam pada budaya lokal terjadi melalui proses enkulturasi, sosialisasi dan internalisasi. Di mana orang tua dan keluarga merupakan lingkungan pertama yang mengenkulturasi, membudayakan dan mengenalkan nilai-nilai kebudayaan. Juga nilai ajaran Islam berupa nilai aqidah, ibadah dan akhlak yang tersirat dan tersurat dalam proses dan pelaksanaan ritual dan nilai-nilai budaya lokal sebagai bentuk proses pendidikan Islam. Budaya itu yang menghantarkan kearifan lokal dan menjadi identitas masyarakat yang mewujudkan keharmonisan antara masyarakat dengan lingkungan hidup di sekitarnya. Akhirnya membentuk pribadi yang khas pada masyarakat Kampung Fafanlap di pulau Misool. Di sisi lain, transmisi ajaran Islam juga melalui aktivitas ritual budaya lokal dan ritual keagamaan masyarakat melalui ritual-ritual budaya dan nilai kearifan lokal. Yaitu melalui bentuk ritual Kati Sasi, Kisi Kaleo, Top Kaleo dan Sop Kabom, Hadiyat makam Keramat, Ai Kauto, serta budaya yang identik dengan hari Islam diantaranya ritual Zikir Maulud, Tafu Kautun, Sop Ṣafar, Ritual Qurban dan Dabus serta nilai-nilai Fatanaon dan atnelevo. “Oleh karena itu ritual budaya dan keagamaan yang ada pada masyarakat Misool menunjukkan harapan masyarakat untuk menjaga identitas kebudayaan mereka sebagai masyarakat yang religius,” pungkasnya. (*/can)