Elly, Mahasiswa UMM yang Dapat Special Invitation Indonesia Got Talent (IGT)

Tampak Elly Rahmawati, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berjalan polos dan lugu saat memasuki panggung Indonesia’s Got Talent (IGT). Elly yang mengenakan setelan serba hitam masih saja terlihat kalem dan malu-malu saat menyapa para juri dan memperkenalkan dirinya. Namun pada saat juri mempersilahkannya untuk tampil, semua mata tertuju padanya. Reza Arap, Ivan Gunawan, Rossa hingga Denny Sumargo yang merupakan juri IGT takjub melihat kepiawaian Elly melakukan beatbox. Begitupun dengan gemuruh suara tepuk tangan penonton saat Elly menyelesaikan penampilannya. “Diam seperti terlihat cupu, tapi bergerak layaknya seorang suhu,” ungkap salah satu komentar warganet di salah satu video penampilan Elly yang ada di official akun Youtube IGT. Elly mengatakan sangat senang punya kesempatan untuk tampil di IGT. Penampilannya juga menjadi caranya membuktikan kepada masyarakat Indonesia bahwa perempuan juga bisa melakukan beatbox. Di samping itu juga sebagai upayanya membanggakan kedua orangtuanya. Menariknya, keikutsertaan Elly di ajang pencarian bakat itu merupakan sebuah undangan langsung dari IGT. “Awalnya memang ada keinginan untuk ikut IGT, tapi sebelum keinginan itu terlaksana, tiba-tiba ada direct message (DM) di instagram dari panitia IGT kalau aku dapat special hunt atau undangan langsung untuk ikut audisi,” ungkapnya. Perempuan yang masih ebrusia 19 tahun itu mengaku ada tantangan tersendiri saat berada di panggung dan tampil di hadapan juri. Ditambah lagi dengan fakta bahwa ratusan ribu bahkan jutaan orang juga melihatnya melalui media sosial atau bahkan televisi. “Oleh karena itu, saya butuh persiapan yang matang untuk penampilan selanjutnya. Sehingga beatbox yang akan ditampilkan bisa dinikmati oleh semua masyarakat. Beberapa persiapannya yakni konsep-konsep baru yang belum pernah dibawakan di IGT. Pun dengan pakaian yang dikenakan untuk menunjang penampilan,” jelasnya. Selain itu, anak pertama dari dua bersaudara ini sebelumnya memang sering mengikuti kompetisi beatbox, bahkan sampai di ajang internasional. Ia pernah menyabet Juara 1 Equinox Female Beatbox Battle 2020 dan Juara 1 Beat da Plague Female Exhibition. Ia mengaku bahwa semua berawal dari pertemuannya dengan seorang kakak kelas di SMP yang memang menyukai beatbox. Dari situ, ia tertarik dan menekuni seni beatbox ini. “Dari situlah akhirnya belajar sendiri teknik-teknik beatbox dari Youtube. Awalnya memang sempat tidak mendapat restu dari orang tua. Apalagi hobi ini lebih banyak didominasi oleh laki-laki, jadi orang tua sempat khawatir. Tapi semua itu aku buktka dengan prestasi, akhirnya orang tua sampai sekarang terus mendukung apa yang terbaik bagi anaknya,” tuturnya. Terakhir Elly berharap bisa lolos di tahap selanjutnya dan bisa menampilkan yang terbaik. Ia juga berpesan kepada anak muda lainnya untuk selalu percaya diri dengan kemampuan atau bakat yang dimiliki. Mungkin saja, dari bakat itu bisa menghasilkan prestasi dan mampu membanggakan orang tua serta diri sendiri. (zak/wil)

Agribisnis UMM Kirim Mahasiswa Magang ke Jepang

Tingkatkan skill mahasiswa untuk berkontribusi nyata pada sektor pertanian dan perkebunan, Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim mahasiswanya magang ke Jepang. Program tersebut difokuskan untuk membekali mahasiswa kemampuan yang dibutuhkan di industri nanti. Sampai saat ini. Agribisnis UMM telah mengirimkan puluhan mahasiswa untuk mahang internasional. Terkait program ini, Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan Ary Bachtiar, M.Si. menjelaskan, pemilihan Jepang sebagai tempat magang tak lepas dari banyaknya inovasi dan teknologi yang ada. Mahasiswa didorong untuk belajat manajemen hingga pemanfaatan teknologi. Mereka akan diajari kangsung oleh praktisi selama satu semester. Lebih lanjut, magang internasional itu bekerja sama dengan Instansi Lingua Global Utama, Bandung. Pun dengan berbagai perusahaan yang ada di Jepang. Sebelum berangkat, para peserta diberi pelatihan terlebih dahulu, baik dalam aspek bahasa Jepang maupun skill dasar. Kemudian baru dikirim ke sederet lokasi seperti Ogoshifarm, Strawberry Farm Go, Indei Farm, dan lainnya. Dalam prosesnya, para mahasiswa akan mendapatkan ilmu seputar manajemen lapangan, pembibitan, perawatan tanaman, hingga pemanenan buah serta sayuran. Pengenalan terhadap teknologi modern pada sektor pertanian juga menjadi bahasan khusus bagi mahasiswa magang tersebut. Ary berharap, berbagai pengetahuan dan pengalaman yang didapat mahasiswa bisa diimplementasikan di Indonesia. Ary menegaskan beberap keunggulan yang bisa didapat oleh mahasiswa peserta magang. Misalnya saja konversi nilai kuliah dan kemudahan mendapat kerja. Pun dengan memperkuat koneksi dan menjadi perusahaan mitra tatkala mereka membuka lapangan pekerjaan bidang perkebunan dan pertanian di Indonesia. “Mahasiswa program magang internasional tersebut nantinya mendapat konversi nilai sebanyak 20 SKS, jaringan kerja sektor pertanian dan perkebunan internasional, intensif pembelajaran terkait teknologi pertanian dan perkebunan modern, hingga bekerja sama dengan berbagai perusahaan di jepang saat membuka lapangan pekerjaan di Indonesia” ungkapnya. Terakhir, dia berharap besar output yang bisa didapatkan mahasiswa. Baik dari peningkatan skill, kompetensi, hingga terbukanya cakrawala keilmuan. Dengan begitu, mereka bisa menjadi pionir pertanian dan perkebunan tanah air berbasis teknologi. “Pertanian dan perkebunan di Jepang sudah maju. Ini bisa menjaid contoh bagi Indonesia. Apalagi tanah kita sangat ideal untuk sektor pertanin dan perkebunan. Salah satu caranya yakni dengan peningkatan kulitas sumber daya manusianya melalui program magang internasional Agribisnis UMM,” pesannya mengakhiri. (faq/wil)

Stress Tidak Lulus SNBT, Ini Saran Dosen Psikologi UMM

Pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) baru saja di rilis pada 20 Juni lalu. Banyak yang bersyukur lantaran berhasil diterima, namun banyak juga yang terpuruk karena gagal masuk di kampus impian. Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Iswinarti, M.Si. menyampaikan, banyak calon mahasiswa yang terpukul lantaran lantaran mimpinya masuk ke perguruan tinggi impian tidak terwujud. Mereka bisa mengalami stress atau bahkan depresi yang berat. “Ketika seseorang terlanjur stress saat tidak lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi, support system dari keluarga dan teman harus muncul. Hal ini mampu mendukung orang tersebut agar mereduksi penyesalan yang sedang mereka alami,” ujar dosen yang akrab disapa Iswinarti tersebut. Individu yang mengalami stress harus diajak untuk melihat realita yang ada pada saat ini. Biasanya, ketika seseorang bercita-cita tinggi, mereka akan banyak membayangkan kemungkinan-kemungkinan saat sukses nanti. “Pada dasarnya bercita-cita setinggi mungkin itu suatu keharusan bagi setiap individu. Akan tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan melihat realita serta apa yang mereka miliki pada saat itu. Sehingga nanti ketika tidak tercapai, mereka bisa mengendalikan diri,” tambahnya. Iswinarti pun menambahkan bahwa ketika sudah berniat mengikuti ujian, pada saat yang sama mereka juga harus siap dengan dua kemungkinan yang akan didapat, diterima atau ditolak. Jika berhasil, maka patut disyukuri. Namun jika gagal, nilai yang harus ditanamkan adalah kampus tersebut memang bukan jalan mereka. Diabrengi dengan kepercayaan dan keyakinan bahwa mungkin ada jalan lain yang sudah disediakan dan lebih baik. “Misalnya saja, ketika memang ditakdirkan untuk memasuki perguruan tinggi swasta, mereka tidak harus berkecil hati. Karena nantinya, berdasarkan dari pengalaman-pengalaman yang mereka lalui, mereka akan menyadari bahwa dari sekian banyak proses, ini merupakan pilihan terbaik untuk diri mereka masing-masing,” tambahnya. Ketika seseorang pada awalnya telah menyiapkan diri berusaha, bertawakal, dan menyadari bahwa kegagalan itu pasti ada, mereka dapat belajar menerima keadaan dan menghindari keterpurukan. “Kita harus mampu menyediakan pilihan kedua dari keinginan kita. Sehingga saat rencana pertama tidak tercapai, kita masih bisa mengusahakn yang kedua. Pun dengan jalan-jalan yang bisa diambil nantinya,” pesannya mengakhiri. (fat/wil)

Pro Kontra Istilah Marketplace Guru, Begini Kata Dosen Bahasa Indonesia UMM

Istilah marketplace guru akhir-akhir ini menjadi perbincangan di kalangan pendidikan. Fenomena ini menuai pro dan kontra. Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) mencetuskan ide tersebut sebagai upaya dalam mengatasi masalah tenaga guru honorer yang terjadi selama bertahun-tahun. Menanggapi hal tersebut, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa secara program, hal ini patut diapresiasi. Menurutnya, program tersebut dapat menjadi jalan pemerataan guru dan mampu mempermudah akses perekrutan guru. “Secara program, hal ini bukanlah suatu masalah yang signifikan. Meskipun ada plus minusnya, tetapi hadirnya program tersebut mampu membuat pemerataan guru di sekolah-sekolah,” ucap dosen yang akrab disapa Krisna tersebut. Meski demikian, Krisna juga mencermati istilah penggunaan kata “marketplace”. Menurutnya, istilah ini tidak menghargai marwah profesi guru. Hadirnya istilah ini jangan sampai membuat masyarakat yang tidak paham, menganggap bahwa guru menjadi barang dagangan. Guru yang seharusnya dihormati dan dihargai jasanya, malah dianggap rendah dan diremehkan begitu saja akibat pembuatan istilah yang kurang keberterimaannya di masyarakat. “Market itu kan pasar dan placenya itu penjualan secara online. Jadi terminologi bahasa yang dipakai menurut saya sangat kurang tepat. Jangan sampai orang atau manusia dianggap seperti barang. Marwah guru tentu akan jatuh. Nanti bisa-bisa muncul pertanyaan, guru bisa di-pay later kah? bisa COD dong?,” ucap Krisna. Ia lalu mengingatkan, bahwasanya di dalam Kementrian Pendidikan kebudayaan riset dan teknologo RI, ada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) yang memiliki tugas kontroling penggunaan dan perkembangan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Adanya lembaga negara atau BPPB ini seharusnya bisa mengoreksi arau memberi pertimbangan atas penggunaan istilah tersebut. Menurutnya, ketika menteri akan membuat kebijakan, sudah seharusnya ada kajian sebelumnya, termasuk penggunakan istilah bahasa yang menjadi produk kebijakan Kemdikbudristek RI. Sebagai dosen bahasa Indonesia, ia juga menyarankan untuk menggunakan istilah-istilah yang ada di bahasa Indonesia. Hal itu lebih menunjukkan kedekatan kepada masyarakat dan lebih dekat dengan budaya dan sosial masyarakat. “Sebaiknya gunakan isitilah bahasa Indonesia, apalagi ada komitmen pemerintah melalui Kemdikbudristek RI terkait internasionalisasi bahasa Indonesia sebagai mana amanah UU nomor  24 tahun 2009 pasal 44 tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. Dengan demikin rasa cinta Bahasa Indonesia terus hidup dan lekat secara sosiokultural,” pungkasnya. (Nel/Wil)

Hayati Rhizovit, Pupuk Ciptaan Dosen UMM Atasi Lahan Kering

Pupuk hayati memiliki beragam manfaat untuk membantu pertumbuhan tanaman. Kebutuhan tanaman akan nutrisi hara dalam tanah biasanya spesifik, sehingga pembuatan pupuk berbahan dasar tanaman dikembangkan dengan sifat dan kandungan yang juga spesifik. Hal ini dimanfaatkan oleh dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Peternakan Pertanian (FPP) dengan melakukan inovasi pupuk hayati. Khususnya bagi lahan kering atau lahan yang kekurangan air. Salah satu anggota tim, Dr. Ir. Ali Ikhwan, M.P. menjelaskan, bahwa pupuk ini diberi nama hayati rhizovit. Nama tersebut juga tercermin pada banyaknya manfaat dan kandungan yang mampu menghasilkan osmoprotektan yang meningkatkan ketahanan tanaman pada kekeringan. Selain itu, terdapat hormon yang dapat memacu pertumbuhan tanaman. Pun menghasilkan senyawa yang dapat berfungsi sebagai pertisida organik sehingga membendung serangan hama penyakit bagi tanaman. “Penelitian ini berfokus pada lahan kering. Apalagi melihat luas lahan kering di Indonesia mencapai sekitar 150 juta hektar. Angka ini jauh lebih luas ketimbang lahan yang memiliki perairan teknik irigasi yang baik”, ucap Ali. Ia kembali menjelaskan bahwa saat ini banyak peneliti yang hanya berfokus pada lahan perairan. Padahal ada aspek lain yang bisa dikembangkan dan diteliti. Salah satunya yakni lahan kering. Adapun dalam penelitian ini menyasar pada lahan jagung. Terkait pembiayaan, Ali dan tim mendapatkan dana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional selama tiga tahun. Pupuk ini juga saat ini dalam proses dipatenkan. Kemudian disebarluaskan untuk para petani yang ada di Indonesia. Utamanya mereka yang memiliki masalah pada lahan kering. “Kami memulai penelitian ini pada 2020. Ada banyak mitra yang sudah kami ajak kerjasama. Begitupun dengan kelompok tani. Beberapa sudah mencoba menggunakan pupuk ini sembari menunggu paten terbit,” katanya melanjutkan. Berdasarkan penelitian, hasil produksi jagung yang menggunakan pupuk rhizovit hayati melonjak naik hingga 90an persen. Adapun pupuk ini dikeluarkan berbentuk granul dan cair. Tujuannya agar para petani memiliki pilihan, mengingat tidak semua pupuk dalam bentuk cair dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Pupuk hayati rhizovit ini juga memiliki biaya produsi yang lebih murah. Hal itu karena pupuk tersebut lebih efektif dan efisien. Baik itu dari aspek bahan hingga biaya produksi. ”Semoga saya dan beberapa pihak yang terlibat dalam penelitian ini dapat memberikan manfaat. Salah satunya memberikan keuntungan yang lebih banyak bagi bagi petani jagung dengan harga pupuk yang terjangkau,” pungkasnya. (Wil)

Bagaimana Pengucapan Kata QRIS? Ini Jawaban Dosen Bahasa Indonesia UMM

Beberapa waktu lalu muncul perdebatan tentang pengucapan QRIS. Adapun QRIS merupakan kepanjangan dari Quick Response Code Indonesian Standard yang berfungsi sebagai sistem pembayaran di Indonesia. Sebagian masyarakat membacanya dengan “kyuris”, sebagian menyebutnya dengan “kris”. Bahkan ada yang mengucapkannya dengan sebutan lain seperti “kiris” hingga “keris“. Lalu bagaimana seharusnya QRIS dibaca menurut ejaan yang benar? Menanggapi fenomena ini, dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. Sudjalil, M.Si., M.Pd. memberikan penjelasannya. Menurutnya, dalam kaidah bahasa Indonesia, ada pengucapan yang lazim adapula pengucapan lafal baku yang sesuai dengan hurufnya. “Jadi kalau QRIS dibacanya ya ‘kris’ bukan ‘kyu,ar’ atau yang lainnya,” katanya. Sujadlil, begitu ia kerap disapa, menjelaskan bahwa di Bahasa Indonesia terdapat pemendakan pengucapakan kata yang memiliki kaidah fonologis. Adapun QRIS muncul dari sebuah singkatan bahasa Inggris. Meski begitu, cara membaca singkatan tersebut harus sesuai pelafalan huruf di bahasa Indonesia. “Memang, ada banyak orang yang salah melafalkan penyebutan. Apalagi bahasa Indonesia memang memiliki banyak kata serapan dari bahasa asing. Misalnya saja kata ‘target’ yang banyak orang melafalkannya dengan ‘tarjet’. Pun dengan ‘manajemen’ yang seringkali dibaca ‘menejemen’. Termasuk juga AC yang dibaca ‘ase’ padahal seharusnya ‘ace’,” jelasnya. Menurutnya, pelafalan bahasa Indonesia harus diucapkan dalam kaidah bahasa Indonesia pula. Kebanyakan orang hanya mengikuti kefamiliaran penyebutan kata tanpa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ada pelafalan yang salah tapi seringkali digunakan karena sudah terlanjur dipakai secara luas di masyarakat. Adapula penyebutan yang benar tapi tidak digunakan karena dinilai kurang cocok dan kurang enak didengar. “Terkait QRIS, yang serupa dengan QRIS adalah cara baca IQ. Yang benar adalah ‘iki’ bukan ‘ai-kyu’. Pun dengan QRIS yang cara bacanya adalah ‘kris’. Memang perlu diucapkan dan digunakan agar familiar. Tidak jarang penyebutan yang benar ditertawakan oleh orang-orang sekitar. Padahal itu yang benar,” pungkasnya mengakhiri. (Nel/Wil)

UMM-Kemendag RI Percepat Perdagangan melalui Sistem Elektronik

Tercatat, pada tahun 2022 nilai transaksi elektronik e-commerce di Indonesia mencapai 475 triliun rupiah. Hal itu ditegaskan oleh Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI Dr. Ir. Kasan, M.M. dalam program Kemendag goes to Campus yang dihadiri 1.500 UMKM dan mahasiswa. Agenda yang dilaksanakan pada 20 Juni di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berupaya memberikan pemahaman terkait kebijakan perdagangan melalui  sistem elektronik (PMSE). Kasan melanjutkan, angka 475 triliun rupiah didapat dalam rentang satu tahun. Jika dihitung, maka akan ada skeitar 1,5 triliun transaksi elektronik dalma sehari. Maka, pemerintah, termasuk Kemendag memang fokus unutk mengembangkan dna memaksimalkan bidang ini. Salah satunya dengan membuat beberapa kebijakan yang bisa merangsang pertumbuhan transaksi terkait. Ia juga menjelaskan bahwa pandemi yang terjadi mulai dari 2020-2022 membuat manusia sadar akan pentingnya penggunaan teknologi digital. Apalagi saat pandemi Covid-19, interaksi fisik antar manusia dibatasi sehingga mau tidak mau harus menggunakan transaksi digital. Hal ini pula yang mendorong pesatnya perkembangan PMSE. Lebih lanjut,  ia juga mengatakan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia cukup besar,yakni mencapai 100 miliar USD. Jika nilai kursnya Rp15.000, maka berada di angka 1.500 triliun rupiah. Angka bahkan diprediksi akan naik pada 2025 yakni rata-rata 20 persen tiap tahun menjadi 120-130 miliar USD. “Saya rasa, upaya PMSE ini juga selaras dengan program Center of Excellence (CoE) UMM yang mencetak sumber daya manusia unggul. Bukan hanya melahirkan entrepreneur tapi juga memberi bekal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dna industri. Ini hal yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini,” tegasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi kerjasama dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Apalagi dengan mendatangkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Malang. Pun dengan para mahasiswa yang memiliki peran signifikan di masa depan. Syamsul, sapaannya mengatakan bahwa kebijakan PMSE ini cukup selaras dengan program CoE UMM. Menggaet ratusan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), Kampus Putih mengundang praktisi untuk berdiskusi membuat matching curriculum. Dengan begitu, para mahasiswa yang ikut CoE bisa mendapatkan skill yang benar-benar dibutuhkan oleh industri. Sehingga daya serap di dunia kerja semakin tinggi. “Tiap prodi di UMM memiliki CoE dan kelas-kelas keahlian yang bisa dicoba. Misalnya saja di fakultas pertanian dan peternakan yang punya CoE Unggas, Udang hingga Koi. Pun dengan Fakultas Teknik dengan kelas welding inspector hingga metaverse. Sampai saat ini ada lebih dari 54 CoE yang sudah berjalan,” katanya mengakhiri. (wil)

Dosen UMM Beri Tips Pilih Hewan Kurban yang Tepat

Menjelang hari raya Idul Adha, umat muslim di seluruh dunia tentu sedang menyiapkan diri untuk menjalankan ibadah kurban. Salah satu proses di dalamnya adalah memilih hewan kurban yang sehat dan tepat. Apalagi dalam Islam, memilih hewan kurban tidak boleh sembarangan. Maka, dosen peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Ahmad Wahyudi, M.Kes., memberikan beberapa tipsnya dalam memilih hewan kurban. Ia menegaskan bahwa hendaknya masyarakat memiliki hewan ternam yan sehat. Adapum hewan kurban yang diperbolehkan dalam ajaran Islam yaitu, sapi, kambing, domba, dan unta. Pemilihannya pun harus diperhatikan kondisinya seperti tidak cacat, buta, atau pincang. “Biasanya menjelang Idul Adha, hewan-hewan ternak yang bermasalah seperti sakit misalnya, akan diobati tiga bulan sebelumnya, “ tandas Wahyudi. Usia hewan ternak yang akan dikurbankan juga harus memenuhi syarat. Bisa dilihat dari kondisi gigi tetap pada rahang bawah hewan. Sapi yang memiliki gigi tetap sepasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar dua tahun. Sedangkan pada kambing dan domba sekitar satu tahun. “Hewan kurban juga harus ‘good looking’ atau bagus dilihat secara fisik. Biasanya kondisi fisik hewan kurban dilihat dari kondisi badan, bulu yang bersih, tanduk, dan janggutnya,” tambahnya. Namun, akhir-akhir ini terjadi masalah besar yang menimpa para peternak hewan kurban, yaitu munculnya virus penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Virus ini dapat menginfeksi mulut dan kuku hewan dan membuat mereka tidak ingin makan dan tidak dapat berdiri. Selain itu, penyakit kulit yang disebabkan oleh virus lumpu skin disease (LSD) juga dapat menyerang kulit hewan ternak. Masyarakat mengenal ini dengan sebutan penyakit virus lato-lato. Selain memeriksa hewan kurban dari kondisi tubuh, para calon pembeli juga perlu melihat kondisi dan kebersihan lokasi tempat penjualan hewan kurban. Kondisi lingkungan tempat hewan kurban tinggal akan mempengaruhi kesehatan mereka. “Cara untuk melihat sapi yang di tubuhnya ada cacing atau tidak, yakni dengan melihat bulu yang ada di garis punggung. Mulai dari belakang leher sampai ke belakang. Jika bulunya berdiri dan kusam itu artinya di dalam tubuh sapi itu ada cacing. Jadi pilihlah sapi yang bulu nya jatuh dan tidak kusam,” sarannya. Terakhir, Wahyudi menyampaikan bahwa sapi asli Indonesia seperti sapi Madura, sapi Bali, dan sapi Jawa tidak mudah terserang cacing. Berbeda dengan sapi-sapi hasil persilangan sapi lokal dan Eropa yang lebih rentan terserang cacing. “Sapi lokal menjadi pilihan yang bagus untuk berkurban, karna tubuhnya lebih tahan dari serangan penyakit. Ini lantaran hewan-hewan tersebut sudah lama hidup di daerahnya, sehingga tahan terhadap cacing,” pungkasnya. (sep/wil)

Pakar Kesejahteraan Sosial UMM Beberkan Solusi Permasalah Pekerja Sosial

Berbagai masalah dihadapi oleh praktek pekerja sosial, terutama dalam perspektif suku-suku pribumi di Malaysia. Hal itu disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Khadijah Alavi asal Malaysia pada kuliah tamu prodi Kesejahteraaan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pertengahan Juni Ini. Selain Khadijah, hadir sebagai pembicara profesor asal Malaysia pula Prof. Madya Dr. Zahara Abdul Manaf dan Dr. Rinikso Kartono. M.Si. Lebih lanjut, ia menjelaskan sederet masalah yang terjadi. Mulai dari aspek pendidikan dan kesehatan, hingga isu konflik  utama yakni diskriminasi kekerasan. Melihat banyaknya problem yang terjadi, ia memberikan solusi bagi pekerja sosial agar bisa mencegah konflik dan memebrik dukungan. Utamanya bagi kefungsian sosial masyarakat pribumi berdasarkan temuan antropologis. “Tiga perkara penting yang harus dimiliki yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kita harus paham budaya pribumi. Pekerja sosial harus mengesampingkan prasangka tentang agama, ras, sosial, ekonomi dan status kelas. Dengan begitu, mereka akan mau menghargai sistem nilai hidup walaupun berbenturan dengan nili yang mereka pegang teguh,” katanya. Adapun kuliah tamu ini mengusung tema “Social Work Practice In Indigenous Perspective”. Para pemateri mencoba membahas khusus tentang permasalahan sosial yang dialami oleh masyarakat pribumi. Sementara itu, Zahara menyampaikan isu-isu kesehatan sosial. Misalnya saja terkait stunting dan obesitas yang terfokus pada anak-anak suku pribumi. Menurutnya faktor penyebab kurangnya gizi pada anak salah satunya karena masalah sosial seperti kemiskinan, kurangnya pengetahuan tentang gizi, perubahan iklim dan faktor lingkungan. Di samping itu juga terbatasnya layanan kesehatan menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Pun dengan praktik budaya dan keyakinan adat yang juga menjadi salah satu alasannya. “Maka dari itu, penanganan kurang gizi memerlukan pendekatan multi-aspek yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Namun pemerintah juga harus banyak mempertimbangkan konteks budaya yang unik dan melibatkan komunitas orang asli dalam merancang intervensi yang sesuai budaya, berkelanjutan, dan memberdayakan,” tandasnya. Di sisi lain, Rinikso memberikan penjelasan ciri profesi pekerjaan sosial dalam menangani masalah pribumi dalam pelayanannya. Ada sederet hal yang ia sebutkan. Mulai dari integrasi tradisi lokal, intervensi bantuan lokal ke dalam praktik kerja sosial arus utama (dukun, kepala desa) juga adaptasi pendekatan arus utama agar sesuai dengan konteks (batasan) lokal. “Sumber utama pengetahuan untuk praktek ekologi dan kebijaksanaan itu ada banyak. Seperti menghasilkan model pengetahuan dan praktik dari bawah ke atas, berdasarkan nilai, kepercayaan, adat istiadat dan norma budaya praktik pertolongan local. Pun dengan model Sarawak dan budaya lokal,” pungkasnya. (Nel/Wil)

Dorong Ekosistem Halal, UMM Gelar Pelatihan Juleha Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pelopor bidang halal. kali ini Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM (PSP3-Halal) mengadakan Pelatihan dan Sertifikasi Juru Sembelih Halal (Juleha). Setidaknya acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan ini juga menyediakan praktik langsung menyembelih tiga ekor kambing, lima ekor Ayam, serta lima ekor bebek secara syar’i. Kegiatan ini juga dilakukan mengingat momen Idhul Adha yang akan segera datang. Pun sebagai langkah PSP3-Halal UMM dalam mendukung pemerintah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Sistem Jaminan Halal. oleh Ketua PSP3 Halal UMM, Prof Dr. Elfi Anis Sa’ati, M.P. mengatakan, perlu adanya penekanan betapa pentingnya Juleha. Utamanya yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai syarat sebuah Rumah Potong Hewan (RPH). “Kita harus ingat, sesuai arahan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa pada oktober 2024, semua produk makanan yang beredar di pasar harus sudah tersertifikasi halal. Namun kenyataannya masih banyak UMKM yang mengolah daging ayam seperti nugget, sosis, sempol dan lainnya masih belum tersertikiasi halal. Baik di aspek RPH-nya maupun proses produksi di UMKM itu sendiri. Maka Juleha juga menjadi aspek penting yang harus dipenuhi,” katanya. Menariknya, pelatihan Juleha ini bersetifikat dari BNSP. Tujuannya adalah untuk memberikan kompetensi Juru Sembelih Halal guna mendorong naiknya produk halal di Indonesia. Data tahun 2022 menunjukkan, RPH yang memiliki Sertifikat Halal hanya berjumlah 2% dari total seluruh RPH di Indonesia. Hal ini menunjukkan masih minimnya kesadaran halal pada RPH. Hadir pula dalam kesmepatan itu Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Ia bercerita perjalanannya ke berbagai negara. Ia menemukan bahwa banyak negara yang sudah memberi fasilitas bagi umat muslim berupa ketersediaan sertifikasi halal untuk makanan dan restoran. Sehingga, para muslim yang berkunjung merasa aman, nyaman, dan tidak khawatir akan kehalalan suatu produk. “Industri halal telah meengglobal di seluruh dunia. Bukan hanya terbatas di negara-negara Islam, namun juga di berbagai negara islam minoritas. Sebut saja Jepang dan Korea yang sudah mulai menerapkan sertifikasi halal,” ungkapnya. Syamsul juga berpesan kepada seluruh epserta Juleha untuk benar-benar memperhatikan berbagai langkah yang diajarkan. Utamanya terkait dengan alur penyembelihan hewan. “Outputnya tentu agar bisa memberikan perhatian lebih pada kualitas kehalalan makanan. Khususnya pada aspek cara menyembelih hewan yang syar’i,” pesannya. (Faq/Wil)