Dosen UMM Jelaskan Pengaruh Puasa terhadap Psikologis Manusia

Puasa di bulan Ramadan memiliki segudang manfaat. Tidak hanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tetapi juga menambah ketahanan mental dan psikologi manusia. Hal itu ditegaskan oleh Ahmad Sulaiman, S.Psi., M.Ed. selaku Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, Ramadan dapat mempengaruhi psikologis manusia karena saat puasa kita menahan diri, mengurangi asupan kalori dan menunda waktu makan yang biasanya dapat dilakukan sewaktu-waktu. Salah satu dampak psikologisnya yakni menjadi lebih disiplin. “Selain itu, karena mengurangi asupan energi yang masuk, seseorang harus menghemat energi dan melakukan aktivitas yang efisien. Hal itu juga berefek pada kegiatan sehari-hari,” tambah dosen yang akrab dipanggil Mada tersebut. Ia menyampaikan, puasa yang mengharuskan diri untuk menahan segala jenis hasrat dan nafsu, dapat berguna untuk meningkatkan kontrol diri serta kepekaan sosial. Puasa juga memandu seorang individu untuk mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang lebih sehat. Secara tidak secara langsung, manusia dituntut untuk mengelola emosi agar tidak bereaksi terlalu berlebihan. tidak mudah marah ataupun larut dalam kesedihan. “Ibadah puasa juga dapat melatih empati kita terhadap sesama. Ini adalah dampak psikologis yang diharapkan dalam Islam. Rasa empati yang tumbuh ini diharapkan mendorong kita melakukan hal-lain yang sifatnya altruistik atau memiliki keinginan untuk beramal dan membantu sesama. Kita jadi lebih sering infak dan sodaqoh, suka memberi dan saling berbagi,” tandasnya. Agar manfaat puasa dari segi psikologis dapat dirasakan dengan optimal, Mada menilai perlu adanya perencanaan aktivitas di bulan puasa. Pun dengan menyusun target yang jelas. Misalnya ikut dalam suatu majelis, beritikaf, dan mendengarkan kajian. Selain itu juga melihat bagaimana cara menghabiskanw aktu pagi. “Apakah kita melanjutkan untuk beribadah, membaca alquran dan berzikir, atau memilih untuk istirahat dan tidur. Semuanya harus memiliki target yang jelas,” arahnya. Di akhir, Mada menyampaikan bahwa setelah menjalani puasa, kebiasaan-kebiasaan baik harus tetap dipertahankan meskipun Ramadan telah usai. Apalagi biasanya konsistensi yang sudah dibangun saat puasa seringkali runtuh dan hilang di bulan-bulan berikutnya. “Salah satu mempertahankan kebiasaan tersebut yakni dengan memulai dari hal sederhana. Kemudian dilanjutkan secara bertingkat. Seperti membaca Alquran bisa diawali dengan beberapa ayat saja. kemudian setelah dirasa nyaman, kita bisa menambah beberapa ayat bahkan juga menjadi beberapa halama,” tutup Mada. (sep/wil)
Dosen UMM: Indonesia Diprediksi Peringkat Enam Diabetes Terbanyak 2030

Mudahnya layanan pesan antar aneka makanan dan juga paket diskon dari restoran memudahkan masyarakat untuk menikmati makanan yang diinginkan. Misalnya saja aneka makanan dan minuman kekinian seperti boba, kopi susu, makanan cepat saji, roti manis, hingga kue kekinian. Fenomena itu pula yang menarik perhatian Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB. Menurutnya, makanan dan minuman manis yang turin dikonsumsi dalam jangka panjang bisa memicu obesitas. Kemudian berujung pada penyakit diabetes. Adapun diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin secara efisien. Padahal hormon sangat penting karena berfungsi mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Peluang menderita diabetes meningkat karena minuman berglukosa tinggi meningkatkan radikal bebas dalam tubuh. Selain itu juga menyebabkan toxic glukosa yang dapat merusak sel beta pankreas. Sementara sel ini memiliki tugas penting untuk mengeluarkan insulin. “Selain diabet, makanan atau minuman yang tinggi gula juga dapat merusak endotel pembuluh darah yangg dapat mengakibatkan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah,” kata perawat spesialis medikal bedah UMM itu. Zaqi, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa potensi penyakit diabetes kini semakin meningkat. Bahkan menurut penelitian dari dari International Diabetes Federation, diprediksi pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi peringkat 6 negara dengan penderita diabetes terbanyak. Menurutnya, kebiasaan jajan minuman kekinian tersebut kian tak sehat apabila ditunjang pola makan tinggi kalori. Di antaranya nasi goreng, mi goreng, nasi uduk, nasi padang, makanan cepat saji, dan makanan berpengawet lainnya. Pun dengan kebiasaan menambah rasa dan toping pada makanan dan minuman. “Tak cuma kopi dan boba, aneka minuman kemasan, termasuk jus dan minuman berkarbonasi lainnya juga mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Bahkan melebihi dari kebutuhan harian maksimal orang dewasa,” tegasnya. Meski demikian, ini tak berarti masyarakat tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman favorit. Selama tidak rutin dan bsia membatasi, Zaqi mengatakan bahwa mencoba dan mencicipi makanan kekinian diperbolehkan asal sesuai takaran. Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami kandungan yang ada di dalam berbagai makanan. Salah satu caranya dengan membaca kandungan nilai gizi yang tertera di kemasan. Dengan begitu, mereka bisa mengatur makanan apa saja yang bisa dimakan secara rutin dan makanan mana saja yang harus dibatasi. “Sebaiknya masyarakat memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Pun dengan minuman yang mengandung 0 kalori seperti air putih, kopi, serta teh tanpa gula,” pungkasnya. (sep/wil)
Kerjasama Prodi Informatika UMM dan Perusahaan IT Belanda Lahirkan Ngaji.AI

Perkembangan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin canggih dan berkembang pesat. Tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi mutakhir itu, Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM tengah mengembangkan aplikasi belajar mengaji berbasis AI. Menariknya, pengembangan ini juga menggaet perusahaan IT asal Belanda, NOVO. Ketua tim pengembangan, Aminudin, S. Kom., M.Cs. menjelaskan, aplikasi Ngaji.AI ini sudah dibuat oleh NOVO dan sudah dirilis di Google Playstore oleh cabang NOVO Indonesia Belajar. Sayangnya, deteksi ketepatan pelafalan baca Alquran hanya memiliki akurasi yang terbatas. Oleh karenanya, NOVO menggaet Kampus Putih UMM sebagai mitra untuk mengembangkannya menjadi lebih baik. “Bisa dikatakan aplikasi Ngaji.AI masih dalam tahap pembelajaran dasar Alquran. Namun masih terus dikembangkan dengan mengumpulkan berbagai dataset. Insyaallah akan ada banyak improvisasi hingga tingkat tahsin dan tahfiz,” kata dosen informatika UMM itu. Lebih lanjut, aplikasi tersebut dikembangkan menggunakan teknik Automatic Speech Recognition (ASR). Teknologi ini memungkinkan suatu perangkat untuk mengenali dan memahami kata-kata yang diucapkan dengan cara digitalisasi kata dan mencocokkan sinyal digital tersebut dengan suatu pola tertentu yang tersimpan dalam suatu perangkat. “Mengumpulkan dataset dari beberapa rekaman guru mengaji membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal tersebut jadi tantangan dalam pengembangan aplikasi ini. Belum lagi jumlah metode pembelajaran membaca Alquran yang ada juga cukup banyak. Selain itu, aplikasi ini juga dikembangkan agar adaptif untuk segala usia. Kami juga melakukan rekaman dengan bacaan anak-anak,” jelas Aminudin. Dosen sekaligus Kepala Divisi Sistem Informasi Biro Infokom UMM itu menyampaikan alasan besar dikembangkannya aplikasi. Menurutnya Ngaji.AI bertujuan untuk membantu orang-orang yang merasa dirinya telat belajar Alquran dan ingin belajar secara mandiri. Utamanya melalui pelafalan suara. Bersadarkan survey yang timnya dna NOVO lakukan, lebih dari 90% populasi muslim di Indonesia memiliki inisiatif untuk belajar mengaji. “Aplikasi ini dikembangkan agar mampu mendeteksi cara membaca Alquran dari berbagai logat dengan kemampuan AI yang ada. Agar mendapatkan hasil aplikasi yang sesuai standar, kami juga berkolaborasi dengan beberapa dosen dari Fakultas Agama Islam (FAI) UMM,” katanya. Terakhir, Aminudin berharap agar aplikasi ini nantinya bisa bermanfaat bagi orang tua yang ingin mengajarkan Alquran pada anaknya. Pun bagi mereka yang ingin mendalami dan belajar membaca Alquran secara mandiri. (zak/wil)
Ini Cerita Puasa Dosen UMM di Negeri Paman Sam

Menjalani bulan Ramadan di negara dengan muslim minoritas menjadi tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dirasakan oleh Bayu Dharmala, sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini tengah menempuh studi lanjut di University of Arizona. Adapun tahun ini menjadi tahun keduanya berpuasa di negeri Paman Sam. Bayu, sapaannya, menilai bahwa tahun ini ia sudah bisa menikmati Ramadan dengan cukup baik di Amerika. Apalagi kini ia tergabung dalam komunitas Muslim tidak jauh dari tempat tinggal, yakni di Tucson. Menurutnya, komunitas itu seoerti obat yang manjut baginya untuk mengobati rasa rindu akan tanah air. “Salah satu yang menarik adalah makanannya. Ada berbagai jajanan dan kuliner yang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski tidak seramai di rumah, tapi alhamdulillah saya bsia menikmati makanan khas seperti bakso, soto, bahkan juga sate,” katanya. Bayu mengatakan, banyak dampak positif yang ia dapat selama tergabung bersama komunitas muslim tersebut. Ada banyak kegiatan keagamaan seperti membaca Alquran bersama hingga kajian-kajian yang cocok ia dengarkan. Apalagi banyak warga negara lain yang berkunjung dan saling menyapa. Selain berbuka puasa bersama komunitas muslim yang ada di Kota Tucson, Bayu juga sering berkunjung ke Islamic Center of Tucson (ICT). Hal itu tak lepas dari mudahnya akses untuk bisa sampai di ICT. Biasanya ia menggunaka bus kota sebagai transportasi. “Saya juga sering membeli bahan-bahan makanan ke toko. Misalnya seperti daging ayam, daging sapi, hingga bumbu-bumbu lain. Paling tidak bisa dijadikan stok untuk sahur maupun berbuka bersama teman-teman lain,” katanya. Menurutnya, keputusannya untuk memasak adalah hal yang tepat. Dengan begitu, Bayu bisa memastikan kehalalannya, utamanya dalam hal bahan dan bumbu. Tapi, jika tak sempat, laki-laki asal Pasuruan itu juga berbuka di restoran atau tempat makan dengan bertanya terlebih dahulu kehalalan makanan terkait ke penjual. Bayu juga merasa bahwa Ramadan kali ini sangat membantunya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan juga dirasa mendorong dirinya untuk belajar lebih giat dan bisa segera lulus dari proses studi yan sedang ditempuh. “Puasa dan Ramadan itu bukan hanya untuk beribadah saja, tapi juga unutk memperbaiki hubungan dengan manusia. Ketika keduanya mampu dilaksanakan, rasanya apa yang kita smeogakan dan inginkan makin dilancarkan oleh Allah SWT. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk tidak produktif,” pungkasnya mengakhiri. (ri/wil)
Fisioterapi UMM Kirim Sederet Mahasiswa Magang dan Pertukaran Pelajar ke Negeri Jiran

Dalam rangka meningkatkan kualitas mahasiswa, Prodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk magang sekaligus pertukaran pelajar di Malaysia. Adapun dalam pelaksanaanya, program ini bekerjasama dengan Universiti Teknologi Mara (UTM) Malaysia. Para mahasiswa berada di negeri Jiran selama satu bulan, yakni dari Maret hingga April 2023. Dalam program itu, ada sederet mahasiswa yang sukses berangkat. Salah satinya adalah Gendhis Endtrinasari Almira Dewanty. Ia menjelaskan beberapa kegiatan yang dilakukan selama berada di Malaysia. Mulai dari mengikuti kelas klinik, observasi, hingga datang langsung ke rumah sakit untuk melihat penanganan fisioterapi. “Kami mendapatkan banyak informasi menarik yang bisa digunakan nantinya saat membuka klinik atau menjadi fisioterapis. Pun dengan penjelasan para praktisi yang memudahkan kami. Apalagi bahasa yang digunakan juga mirip dengan Indonesia,” jelasnya. Mengingat program tersebut dilaksanakan pada bulan suci Ramadan, Gendhis juga bercerita pengalaman unik selama berpuasa di sana, tepatnya di Bandar Puncak Alam, Distrik Selangor. Salah satunya bazar Ramadan. Uniknya, di sana para penjualnya bukan hanya dari etnis melayu tapi ada juga dari Palestina, India, Thailand, dan lain sebagainya. Hal itu membuat makanan yang disediakan juga beragam. “Ada banyak kegiatan yang saya lakukan sambil menunggu waktu berbuka. Kebetulan di sini kelasnya selesai jam empat sore, sementara waktu berbuka masuh jam setengah delapan. Jadi, kami biasanya jalan-jalan melihat sekitar sambil mencari camilan,” katanya. Mencari makanan halal juga bukan perkara sulit. Pasalnya Malaysia memang memiliki komunitas muslim yang besaar dan menjadi mayoritas. Begitupun dengan salat tarawih maupun suara adzan yang mudah didapat, sekalipun dari tempat tinggal. Terakhir, ia berharap keberangkatannya untuk mengikuti magang dan pertukaran pelajar di Malaysia bisa menginspirasi banyak pemuda lain. Dengan begitu, mereka mampu memiliki keinginan untuk belajar di negeri orang. Baik itu di Eropa, Amerika, Asia Tenggara, Afrika, Asia dan negara-negara lainnya. “Anak muda harus berani bermimpi. Semakin tinggi mimpi, semakin banyak pula usaha yang harus diupayakan. Mari bersama wujudkan cita-cita mumpun usia masih muda,” pungkasnya. (faq/wil)
UMM Adakan Sahur Barbeque bareng Tukang Becak hingga Ojol

Sahur on the road (OTR) saat Ramadan dengan membagikan bungkusan makanan sudah biasa. Namun hal unik dilakukan oleh tim Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni sahur dengan memanggang daging dan barbeque pada 1 April 2023 ini di Alun-alun Kota Malang. Ada banyak yang turut duduk, mengobrol, memanggang, dan sahur bersama di lokasi. Mulai dari tukang becak, ojek online, musafir, bahkan mereka yang tidak sengaja lewat. Kepala Humas UMM M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, sahur unik ini diadakan bukan tanpa alasan. Tim Mobil KaCa Kampus Putih ingin memberikan kesempatan bagi kaum marjinal untuk merasakan makanan yang seringkali dianggap mewah. Apalagi selama ini, mereka hanya hanya bisa melihatnya dan mendengarnya dari media sosial atau televisi. “Misalnya saja, ojek online yang sering hanya membelikan dan mengantarkan bahan-bahan barbeque ke customer. Mereka hanya mengantarkannya tanpa bisa menikmati secacara nyata. Maka, di kesempatan Ramadan kali ini, kami berupaya untuk berbagi berkah ke saudara-saudara muslim untuk bisa sahur bersama melalui agenda barbeque,” tambahnya. Tidak hanya masak dan makan saja, sahur OTR dan barbeque ini juga mengajak para masyarakat untuk mengobrol dan berkeluh kesah. Krisna, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ‘sahur bareng’ itu tidak hanya memberi makanan saja. Namun harus ada interaksi sebagai makhluk sosial. Bahkan juga bercanda tawa dan saling mendengarkan satu dengan yang lain. Ia dan tim memang sengaja menyasar para tukang becak, ojek online dan musafir yang seringkali tidak dipedulikan. Maka, momen Ramadan menjadi saat yang tepat untuk bersialturahmi dan saling berbagi. “Di bulan suci ini juga merupakan saat yang tepat untuk mengembalikan sikap kemanusiaan yang hilang karena kesibukan dunia di sebelas bulan lain,” kata Krisna. Adapun Mobil KaCa UMM memang sudah melakukan berbagai kontribusi. Mulai dari menghibur par akorban bencana gempa Malang selatan, datang ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan literasi hingga ke pelosok daerah untuk memberikan tayangan edukatif. Bahkan juga mengajak anak-anak untuk menyukai membaca dengan menyediakan bacaan-bacaan menarik. Sementara itu, agenda sahur barbeque disambut baik oleh Slamet, salah satu tukang becak yang turut makan bersama. Menurutnya, baru kali ini ia mendapati sahur bareng dengan membuka peralatan lengkap. Ada meja, kursi, panggangan, dan juga nasi kotak. Di sana, ia juga bisa saling mengobrol dan bercanda tawa sembari menunggu subuh datang. “Kami turut memanggang dan makan bersama. Teman-teman dari UMM juga sangat ramah. Tidak hanya memberikan makanan dan diam saja. Bahkan membagikan topi bagi para tukang becak agar tidak kepanasan saat bekerja nanti siang,” tambahnya. Terakhir, Slamet berharap, agenda berbagi tidak hanya dilakukan saat Ramadan saja. Tapi juga bisa dilaksanakan di bulan-bulan lainnya. “Semoga teman-teman lain juga bisa meniru UMM yang tidak hanya membagi makanan saat sahur, tapi juga membagi rasa kemanusian bersama dengan berinteraksi,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)
Dosen UMM Sebut Jargon FIFA Hanya Omong Kosong

FIFA secara resmi menyatakan Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 pada 29 Maret 2022 lalu. Keputusan FIFA itu disinyalir terjadi karena penolakan dari sejumlah pihak di Indonesia atas keikutsertaan tim nasional (timnas) Israel. Hal itu juga menjadi polemik dan perbincangan di berbagai media sosial. Hal itu juga mengundang komentar dan pendapat dari Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hafid Adim Pradana, M.A. Ia yang menjadi pemateri di UMMTalks mempertanyakan mengapa penolakan tersebut tidak dilakukan sejak timna Israel dinyatakan lolos kualifikasi. Hafid, sapaan akrabnya, mengatakan batalnya Indonesia menjadi tuan rumah tentu saja memberikan kerugian di berbagai sektor. Secara diplomatik, Indonesia akan memiliki citra yang kurang baik di mata internasional. “Karena nasi sudah menjadi bubur, maka kita harus tetap menghargai dan menghormati keputusan FIFA. Sayangnya, Indonesia akan selalu diingat sebagai negara yang gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20,” ungkap Hafid. Lebih lanjut, sektor ekonomi juga mengalami kerugian berkat batalnya Indonesia menjadi tuan rumah. Apalagi dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah menggelontorkan biaya yang tidak sedikit. Baik itu untuk membangun fasilitas baru maupun memperbaiki infrastruktur yang ada. Satu hal penting yang menjadi kerugian terbesar adalah gagalnya tim nasional Indonesia U-20 untuk ikut serta dalam ajang sepak bola bergengsi tersebut. Mengingat kesempatan timnas Indonesia untuk tampil di piala dunia didapat berlat terpilih menjadi tuan rumah. Hafid juga menggarisbawahi pernyataan resmi FIFA di paragraf kedua. Yakni pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah secara tidak langsung mengarah pada kejadian kelam sepak bola Indonesia yang terjadi pada oktober tahun lalu. “Saya rasa, meskipun FIFA tidak pernah memberikan statement ke publik, pastinya FIFA tetap mengamati perkembangan hukum dan penanganan kejadian Kanjuruhan. Menurut saya bisa dikatakan negara ini tidak begitu serius menangani persoalan terkait,” katanya. Hal lain yang menjadi pembahasan batalnya Indonesia menjadi tuan rumah adalah adanya penerapan standar ganda yang dilakukan FIFA. Hal tersebut sangat jelas terlihat pada Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Di mana pada saat itu Rusia melakukan invasi ke Ukraina, sehingga menjadi polemik dan juga isu global. “Saat itu FIFA memberikan sanksi kepada federasi Rusia dengan mendiskualifikasi timnas Rusia dan tidak memperbolehkan bendera, nama, hingga atribut Rusia terpajang di gelaran itu,” terang Hafid. Menurut Hafid, jika memang FIFA bersikap tegas pada Rusia, seharusnya hal tersebut juga diberlakukan sama kepada Israel karena telah memulai konflik dengan Palestina. Namun sikap itu tidak dilakukan oleh FIFA. Alasan besarnya adalah karena asosiasi FIFA dibentuk dan didirikan oleh negara-negara barat. “Jadi jargon FIFA yang mengatakan sepak bola harus dipisahkan dengan politik itu hanya omong kosong,” tegas Hafid. Terakhir, Hafid menyampaikan bahwa Indonesia harus mengambil pelajaran dari keputusan ini. Hal tersebut juga menjadi sanksi bagi dunia persepakbolaan indonesia. Sudah saatnya pemerintah dan PSSI memiliki komitmen untuk memperbaiki kualitas sepak bola yang ada. “Jangan jadikan sepak bola sebagai ajang berpolitik. Adapun jika nanti kembali ingin menjadi tuan rumah event olahraga besar, ada baiknya untuk melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai pemahaman yang sama. Sehingga peristiwa ini tidak terulang,” saran Hafid mengakhiri. (*Zak/Wil)
Safari Ramadan UMM: Ramadan Jadi Proses Akselerasi Kebaikan

Bagi muslim, Ramadan bisa menjadi proses akselerasi menjadi orang baik. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Abdul Haris, MA. dalam safari Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 30 Maret 2023 lalu di rumah sakit umum (RSU) UMM. Adapun itu diikuti ratusan pegawai dan tim kesehatan RSU UMM dan UMM Medical Center sebagai upaya memperbaiki diri dan meningkatkan layanan. Lebih lanjut, Haris menjelaskan bahwa tidak ada ayat di Alquran yang menyebut suatu ibadah bergandengan dengan kata taqwa, kecuali ibadah puasa. Hal itu tak lepas dari puasa yang menuntut kita untuk taat. Tidak makan, tidak minum, tidak marah dan menahan nafsu-nafsu lainnya. “Pada hakikatnya ibadah adalah sebuah model dan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Ibadah juga bisa mempengaruhi aktivitas dan sikap kita sehari-hari,” tambahnya. Puasa juga dinilai sebagai latihan menjadi orang baik, begitupun dengan salat. Ibadah itu membuat manusia menghindari perbuatan keji dan munkar. Sehingga manusia bisa memiliki akhlak sosial yang baik. Bahkan, mereka yang akhlak sosialnya baik bisa mengalahkan mereka yang memiliki ritual baik. Haris juga sempat bercerita sebuah kisah saat seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah. “Ada seseorang yang rajin salat malam, berpuasa, bersodaqoh, dan beramal saleh. Namun, ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya, kira-kira di mana ia akna berakhir? Kemudian Nabi menjawab bahwa tidak ada kebaikan di orang itu dan termasuk penghuni neraka,” tambah Haris. Terakhir, Haris menegaskan, Ramadan harus bsia melahirkan akhlak sosial yang baik. Termasuk melayani pasien dan keluarga dengan ramah di rumah sakit. Memasukkan kegembiraan di hati orang dan mudah tersenyum. Dengan begitu Ramadan dapat menjelma sebagai proses memperbaiki diri dan akselerasi kebaikan. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. juga memberikan pengarahan pada safari Ramadan tersebut. Ia menilai bahwa kajian akan menjadi sia-sia jika yang ikut tidak menyiapkan mindset dan cara berpikir untuk berubah menjadi lebih baik. Ramadan juga bisa menjadi kesempatan mengembalikan hakikat kemanusiaan. Satu di antaranya yakni meningkatkan kapasitas sebagai makhluk sosial. Mampu membawa misi kebaikan, baik bagi dirinya maupun orang lain. “Misalnya saja dalam aspek layanan. Jika biasanya tidak bagus dan suka menggerutu, maka di bulan inilah waktu yang tepat untuk mengubahnya. Jika biasanya sudah baik, maka harus terus dipertahankan, bahkan juga ditambah lagi baiknya,” kata Fauzan. Rektor asal Kediri itu juga memberitahu rumus seorang yang selalu berupaya menjadi manusi baik. Yakni keterbukaan akan kritik dan saran dari lingkungannya. Dengan begitu, ia bisa tahu apa kekurangannya selama ini, kemudian memperbaikinya terus menerus. (wil)
Cerita Alumni UMM, Berpuasa di Negeri Seribu Gereja

Bulan suci ramadhan selalu ditunggu kedatangannya oleh umat Islam di seluruh dunia. Terlebih di negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Tradisi membangunkan sahur, berburu takjil ,hingga suara adzan magrib yang saling bersahutan, menjadi hal yang selalu ditunggu. Namun suasana itu tidak dapat dirasakan oleh Wildan Zarief, salah alumni UMM yang sedang menempuh pendidikan magisternya di University of Adelaide, Australia. Wildan, sapaan akrabnya menceritakan suasana Ramadan dan hari biasa di Adelaide, tidak jauh berbeda. Hal tersebut dikarenakan ibu kota di negara bagian Australia selatan itu dikenal dengan sebutan negeri seribu gereja. Dimana penduduknya mayoritas beragama Kristen. “Karena teman-teman yang satu tempat tinggal non muslim semua, jadi saat sahur maupun berbuka saya biasanya sendirian,” ungkap Wildan. Lebih lanjut, anak sulung dari dua bersaudara itu juga bercerita saat menunaikan ibadah sholat tarawih. Ia lebih memilih sendiri karena bukan hanya lokasi masjid yang jauh dari tempat tinggalnya, tapi juga transportasi umum yang tidak beroperasi saat larut malam. “Alhamdulillah, puasa tahun ini sudah masuk musim gugur. Di Adelaide sendiri, puasa dimulai pada pukul 06.00 sampai dengan pukul 19.00. Oleh karena itu, lama puasanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, sekitar 12-13 jam. Beda lagi ceritanya kalau puasanya di musim panas, umat muslim disini harus menahan lapar dan dahaga selama 16 jam dan waktu buka puasa sendiri di pukul 22.00,” kata Wildan. Pemuda asal Malang itu mengatakan, walaupun puasa tahun ini di musim gugur namun tetap menguras tenaga. Hal itu tak lepas dari jadwalnya yang padat. Apalagi tahun ini adalah tahun pertamanya memulai perkuliahan. “Sepinya Ramadan di sini sedikit terobati dengan adanya komunitas muslim di kampus. Ada banyak kegiatan menarik seperti bagi-bagi takjil maupun kajian sebelum salat,” terangnya. Cerita unik juga dialami Wildan selama puasa di sana. Karena banyak teman-teman kuliahnya yang tidak tahu tentang ibadah puasa, sering kali dirinya ditawari makanan ataupun jajanan. Bahkan tak jarang, di sana mahasiswa mengadakan pesta dan barbeque di siang hari sehingga mengundang nafsu makannya. “Kalau dapat tawaran makanan, biasanya saya tolak dan mengatakan kalau saya sedang puasa. Kebanyakan kaget dan malah balik bertanya balik mengenai puasa dan Islam. Jadi sebagai sarana dakwah tipis-tipis juga,” terangnya. Ramadan tahun ini memberikan kesedihan tersendiri bagi dirinya. Dimana kenikmatan berpuasa bersama keluarga tidak dapat ia rasakan. Namun menurutnya, makna Ramadan paling utama adalah bagaimana bsia menjalin hubungan dengan Allah dan juga manusia. Baik itu mereka yang muslim maupun yang non-muslim. Selain itu sebagai sebagai sarana memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. (zak/wil)
Ramadan Bikin Hemat atau Boros? Ini Kata Dosen Ekonomi UMM

Datangnya bulan Ramadan dengan kewajiban berpuasa bagi umat muslim, ternyata tidak membuat pengeluaran berkurang dan jadi lebih hemat. Sebaliknya, momen Ramadan kerap menjadi ceruk yang membuat masyarakat lebih boros lantaran sering tergoda berbagai kuliner jelang berbuka puasa. Terkait hal itu, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Happy Febrina Hariyani, S.P., M.Si. memberikan sederet tips agar tidak boros saat Ramadan. Menurutnya, saat menjalankan ibadah puasa, biasanya akan muncul banyak godaan untuk membeli berbagai menu yang diinginkan. Hal ini membuat masyrakat kalap dan membeli banyak menu, padahal tidak semuanya dibutuhkan dan dimakan. “Maka perlu ada pengendalian diri dan kesadaran bahwa membeli makanan tidak perlu berlebihan. Belilah makanan dan minuman dengan bijak agar tidak sampai terbuang kalau tidak habis,” urainya. Happy melanjutkan, untuk mengantisipasi hal serupa, umat muslim perlu hendaknya melakukan perencanaan keuangan. Selain menghindari membeli makanan yang tidak perlu, rencana keuangan juga akan menyelamatkan finansial dari keborosan lain. Seperti misalnya membeli minuman yang tidak perlu, barang yang tidak perlu, pakaian, dan lain sebagainya. Apalagi dengan kemudahan untuk membelinya secara daring. Pun dengan pembengkakan anggaran untuk agenda buka bersama. “Dari pada membeli makanan, lebih baik memasak sendiri agar lebih menghemat juga sehat. Menunya juga harus disesuaikan, tidak berlebihan membeli bahan masakan. Sementara untuk agenda buka bersama keluarga maupun rekan, bisa dipilih beberapa saja. Tidak semua acara buka bersama harus dihadiri,” tambahnya. Banyaknya buka bersama yang harus dihadiri membuat pengeluaran juga semakin membengkak. Maka ia berpesan agar memiliki beberapa saja untuk dihadiri. Yakni bukber yang memang penting dan paling nyaman untuk diikuti. Terakhir, Happy juga mendorong masyarakat untuk mengisi waktu Ramadan dengan berbagai aktivitas positif. Seperti olahraga, ikut kajian, membaca Alquran dan lainnya. Selain menyehatkan jiwa dan raga, banyaknya aktivitas juga bisa membuat kita tidak kepikiran untuk berbelanja. Baik itu dalam bentuk makanan, minuman, pakaian, atau barang lainnya. “Saya rasa kegiatan positif bisa menekan angka anggaran yang boros. Karena tidak ada waktu yang kosong dan membuat kita iseng buka market place atau mengunjungi mall dna toko,” pungkasnya. (*Aul/Wil)