Mahasiswa UMM Raih Pendanaan Program Indofood berkat Penelitian Tanah Tercemar

Memulihkan kembali tanah yang tercemar logam dan pestisida bukan perkara mudah. Maka dari itu, mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mardhotillatil Umroh meneliti hal itu dan menghasilkan inovasi penggunaan vermiwash dan mikoriza untuk mengatasinya. Menariknya, penelitian itu sukses mendapatkan pendanaan program Indofood Riset Nugraha (IRN). Ini adalah program yang diadakan oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) untuk mengajak mahasiswa berinovasi, khususnya dalam diversifikasi pangan lokal. Adapun vermiwash adalah pupuk organik cair dari vermikompos yang di ektrak dari cacing tanah. Sedangkan mikoriza merupakan jamur yang mampu bersimbiosis dengan tumbuhan. Kombinasi yang dilakukan adalah dengan cara memberikan mikoriza saat waktu semai, kemudian selanjutnya disemprot menggunakan vermiwash. Ia melanjutkan, program penelitian tersebut ia lakuka selama enam bulan dan mencobanya di jagung. Dimulai dari persiapan hingga panen jagung. Jenis jagung yang digunakan adalah quality protein maize varietas srikandi putih dari bisi. “Pengembangan dan persiapan vermiwash dan mikorizanya dilakukan di laboratorium bioteknologi UMM. Sementera untuk menanam jagungnya berlokasi di lahan Rusunawa UMM,” tambahnya. Selama penelitian, ia harus mengumpulkan referensi dar berbagai jurnal internasional. Apalagi pemanfaatan vermiwash di Indonesia cukup jarang. Selama ini, pemakaian pupuk bekas kascing atau pupuk organik yang berasal dari kotoran atau feces cacing tanah masih menjadi dominasi utama. “Sudah banyak yang menggunakan kascing, karenanya saya coba inovasi yang lain. Selain itu, vermiwash juga dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga saya ingin melihat potensi apabila kedua bahan itu (vermiwash dan mikoriza.red) digabungkan. Sejauh mana keefektifannya,” urainya antusias. Saat ini, penelitian yang mendapat pendanaan sebesar 15 juta rupiah dan dimulai sejak Desember 2022 tersebut telah mencapai 45 persen. Gadis yang pantang menyerah ini optimis, terobosannya mampu memberikan kontribusi nyata untuk pengembangan pertanian Indonesia yang ramah lingkungan. “Ini tinggal uji hipovirulensi, tanam di lapang dan pengamatan saja. Setelah itu panen dan melakukan analisis data. Rencana saya setelah selesai penelitian ini, saya akan melanjutkan penyusunan skripsi, menyusun draft jurnal, karena publish jurnal juga salah satu syarat setelah lulus program IRN,” tutupnya. (*Nov/Wil)
Dosen FK UMM Beri Daftar Makanan yang Harus Dihindari saat Berbuka

Berbagai menu makanan berbuka puasa menjadi pilihan menggiurkan. Sayangnya, tidak semua makanan yang bercita rasa nikmat,tepat dikonsumsi saat berbuka. Bahkan beberapa penganan favorit masyarakat Indonesia seperti gorengan menjadi menu yang wajib dihindari. dr. Fatimah Masyhur, dosen Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Malang menyampaikan bahwa gorengan dapat menyebabkan gangguan dalam proses pemompaan darah. “Gorengan mengandung banyak tepung dengan kalori tinggi dan minyaknya tidak baik untuk tubuh. Dampak buruknya bagi kesehatan, jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan memengaruhi sistem kerja tubuh kita, seperti kardiovaskuler atau pemompaan darah,” jelasnya. Selain itu, Fatimah juga menekankan pentingnya menghindari makanan yang mengandung gula berlebih, kandungan lemak yang tinggi atau jenuh, serta makanan atau minuman yang mengandung kafein seperti teh dan kopi. Termasuk saat berbuka puasa. Menurutnya, menu yang seimbang dan mengandung cukup protein nabati dan hewani, sayur, buah, serta air putih sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Protein merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, termasuk otot, kulit, dan rambut. Selain itu, protein juga berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, membantu menghasilkan enzim dan hormon, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Fatima juga menekankan bahwa kebutuhan protein tiap orang berbeda. Tergantung usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengonsumsi protein dari berbagai jenis sumber, baik hewani maupun nabati dengan proporsi yang baik. Adapun mereka yang memiliki penyakit tertentu harus menghindari makanan-makanan pantangan. Sebagai contoh, penderita asam urat sebaiknya menghindari makanan seperti anggur, udang, nanas, dan kacang-kacangan. Sedangkan untuk orang yang menderita diabetes melitus, makanan yang mengandung glukosa yang tinggi harus dihindari. Demikian pula dengan fast food dan sejenisnya. “Kita juga perlu menghindari makanan modern seperti fast food atau junk food saat berbuka karena mengandung karbohidrat tinggi yang dapat meningkatkan glukosa darah dengan cepat. Maka pilihan tepat untuk berbuka yakni karbohidrat, protein, sayur, dna buah sesuai porsinya. Begitupun dengan citamin serta mineral,” katanya. Pilihan minuman saat berbuka juga harus banyak dipertimbangkan. Fatimah mengimbau agar masyarakat menghindari minuman berkafein seperti teh dan kopi. Kalaupun terpaksa dan tidak ad minuman lain, ia menyarankan untuk mengurangi porsi atau menyesuaikan waktu meminumnya. “Kafein di dalam perut akan menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi penderita asam lambung. Terakhir, bagi orang-orang yang mengkonsumsi obat rutin, jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai cara mengonsumsi obat selama berpuasa. Meski berpuasa, kesehatan harus tetap diutamakan,” pungkasnya. (rul/wil)
Kajian Ramadan UMM Bahas Langkah Berjihad Ekonomi

Jihad ekonomi merupakan cara untuk mencapai keadilan ekonomi di masyasrakat. Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Dr. Arif Budimanta Sebayang, M.Si. sebagai pemateri pada Kajian Ramadhan 1444 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dihadiri ribuan peserta itu berlangsung pada 25 Maret 2023 dengan menghadirkan sederet pemateri menarik. Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa tujuan utama akselerasi jihad ekonomi dalam konteks negara yakni meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi warga negara. Untuk mencapai tujuan itu, tentunya diperlukan strategi yang matang seperti mengharuskan adanya distribusi sumber daya ekonomi secara merata. Karena, ketidakadilan ekonomi dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial. Maka, diperlukan kerja sama yang progresif untuk mengatur ulang distribusi sumber daya atau kapital secara adil dan merata. Sehingga semua orang memperoleh kesempatan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar hidup ataupun hak-hak sosial masyarakat pada umumnya. Pun dengan upaya memastikan adanya kesempatan kerja yang layak. Disisi lain, Ketua Kamar Dagang Indonesia, M. Arsjad Rasjid PM. menjabarkan bahwa Muhammadiyah memiliki peluang dalam jihad ekonomi. Sekaligus membantu Indonesia mencapai visi indonesia emas 2045 dan keinginan Indonesia menjadi nomor empat ekonomi besar di dunia. Di antara organisasi masyarakat (ormas) yang ada, menurutnya, Muhammadiyah menjadi ormas terdepan yang selalu memberikan inovasi serta memberikan kontribusi ekonomi. Pun dengan kontirbusi aspek sosial yang luar biasa kepada bangsa dan masyarakat Indonesia. “Bisa dikatakan Muhammadiyah memiliki kontribusi yang besar di bidang pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Begitupun dengan aset dan valuasi ekonomi yang luar biasa. Hal ini tentu menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di indonesia. Bahkan banyak orang mengatakan sebagai organisasi Islam terbesar di dunia” ungkap Rasjid. Rasjid yang juga Ketua ASEAN-BAC itu menjelaskan, Muhammadiyah memiliki peluang untuk mendorong pengembangan industri halal di Indonesia. Misalnya saja di bdiang kuliner, fashion, kosmetik, hingga wisata. Bahkan juga keuangan syariah yang bisa dimanfaatkan untuk menggaet konsumen muslim berskala global. “Membangun Muhammadiyah social entrepreneurship hub menjadi solusi yangbisa dicoba untuk mendorong dan mengembangkan kewirausahaan sosial di Indonesia. Bisa juga dengan menjalin kemitraan inklusif closed-loop atau pendampingan melekat perusahaan besar pada UMKM dan petani daerah melalui transfer teknologi, transfer ilmu, akses pembiayaan dan pasar,” terang Rasjid. Senada dengan Rasjid, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. menyampaikan empat modal yang dimiliki muhammadiyah untuk menjalankan jihad ekonomi. Modal yang pertama yaitu modal spiritual teologis. Di mana Islam sebagai agama mendorong umatnya untuk menjadi manusia yang produktif, mandiri dan kreatif. “Kemudian modal yang kedua yaitu modal sosial kultural. Sejak berdiri, muhammadiyah sudah memiliki kewirausahaan di kalangan pribumi dan santri. Pun dengan modal yang ketiga yaitu modal jaringan, seperti yang kita ketahui Muhammadiyah mempunyai jaringan dengan amal usaha di berbagai bidang,” jelas Mu’ti Terakhir yaitu modal politik. Menurutnya, orang-orang muhammadiyah memang harus dekat dengan pemerintah. Banyak kebijakan negara yang bisa dikatakan tidak selalu positif dalam pemberdayaan ekonomi, misalnya ekonomi gap yang terjadi. “Dalam melakukan jihad ekonomi, Muhammadiyah perlu menumbuhkan kembali etos kewirausahaan dan kapitalisasi sosial entrepreneurship dalam filantropi islam. Selain tu, creative capitalism juga perlu kembali ditumbuhkan sehingga dapat mendorong unit usaha sosial menjadi unit usaha yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya. (*Zak/Wil)
18 Buku Menarik Diluncurkan dalam Kajian Ramadan UMM

Sebanyak 18 buku hasil karya anggota Muhammadiyah diluncurkan pada agenda Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Adapun buku-buku yang dilaunching pada 25 Maret 2023 tersebut merupakan jerih payah tulisan sederet tokoh, baik di tingkat wilayah maupun daerah. Menariknya tulisan dari daerah berfokus pada sejarah bagaimana Muhammadiyah di sana berdiri dan berkembang. Beberapa judul yang ada di antaranya Trilogi karya Nazaruddin Malik yang terdiri dari tiga buku Connected Leadership and Collaboration, Execution, Collaboration. Ada juga Senyummu Senyumku juga karya Nur Cholis Huda, Jeda Sebuah Rasa karya Arunika, hingga sederet sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah. Salah satu penulis, Nur Cholis Huda menyampaikan bahwa tradisi menulis sangat hidup di PWM Jatim. Hal itu tak lepas dari banyaknya buku yang diluncurkan pada kajian Ramadan setiap tahunnya. Namun, ada yang menarik dan berbeda di tahun ini, yakni tulisan yang berfokus pada sejarah Muhammadiyah di berbagai kota dan kabupaten. “Ada gerakan menulis sejarah lokal Muhammadiyah yang digalakkan di lebih dari 30 daerah. 15 belas diantaranya sudah rampung menulis dan diluncurkan pada hari ini. Mudah-mudahan PDM-PDM lain bisa menyusul untuk segera terbit,” katanya. Adapun dalam bukunya Senyummu Senyumku Juga, Cholis menuliskan berbagai potongan peristiwa singkat yang dilakukan para pemimpin. Mulai dari para Khufaur Rosyidin hingga tokoh-tokoh nasional. Di dalamnya juga berisi tentang inspirasi yang bisa digunakan dan diterapkan dalam kehidupan. Misalnya saja kisah Utsman bin Affan yang amal jariahnya 14 abad lalu berupa sumur tetap mengalirkan pahala dan harta sampai sekarang. Selain itu, trilogi karya Nazaruddin juga menarik untuk dibaca. Salah satunya buku Connected Leadership yang membahas bagaimana connected leadership mempraktikkan disiplin pengetahuan, belajar dan bekerja, serta berpikir kritis sekaligus rasa keingintahuan yang tinggi. Di dalamnya juga berisi apa sebenarnya mitos kepemimpinan, alasan mengapa harus mempelajari kepemimpinan dan lainnya. Buku ini juga dilengkapi oleh dua buku lainnya. Pertama, karya buku berjudul collaboration yang membahas tentang menariknya topik kolaborasi. Bagaimana bisa mencapai tujuan dengan bekerjasama dan lainnya. Sementara buku ketiga yakni executions yang membahas terkait bagaimana mengeksekusi strategi, peningkatan kualiats eksekusi dan lain sebagainya. (*wil)
Khofifah di Kajian Ramadan UMM: Pemprov Siap Sinergi dengan Muhammadiyah

Sinergisitas pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Muhammadiyah sangat bisa ditingkatkan, termasuk dalam aspek jihad ekonomi. Hal itu ditegaskan gubernur Jatim Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. pada kajian Ramadan Pimpinan Muhammadiyah Wilayah (PWM) Jatim di Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun agenda itu dilangsungkan pada 25 Maret dan mengundang Khofifah untuk memaparkan materi sekaligus menutup. Lebih lanjut, Khofifah menekankan penggalan ayat 41 surat At-Taubah terkait jihad dengan harta dan diri di jalan Allah. Ia juga menilai bahwa Muhammadiyah sudah memberikan kontribusi komprehensi dan senantiasa ditumbuh kembangkan, termasuk aspek ekonomi. Khofifah juga sempat menerangkan bahwa berdasarkan data dari managing diretor International Monetary Fund (IMF), ekonomi dunia pada 2023 akan suram cenderung gelap. Menariknya, hal itu diprediksi tidak terjadi di Indonesia. Namun, pemerintah dan warga Indonesia harus tetap waspada. Maka aspek ekonomi tentu harus terus diperhatikan dan dikembangkan. Ia juga menyinggung mengenai urgensi jaminan produk halal. Indonesia sebagai negara muslim terbesar harus bisa memanfaatkan dan memaksimalkan peluang. Apalagi populasi muslim di 2030 mencapai 2.158 milyar atau 26% dari populasi dunia. Pasar produk halal juga besar, di antaranya 62% di Asia-Pasifik, 15% di Afrika, 20% di timur tengah dan 3% di Eropa-Amerika. Hal itu didukung juga dengan pandangan dunia terhadap produk-produk halal. Misalnya fakta bahwa Tiongkok menjadi pengekspor baju Muslim tertinggi di Timur Tengah. Pun dengan Brazil yang menjadi pemasok daging unggas halal terbesar ke Timur Tengah. Menurut Khofifah, peluang ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, termasuk warga Muhammadiyah. Bagaimana strategi dan cara untuk bisa bersaing di kancah global. Utamanya di aspek produk-produk halal. “Muhammadiyah, khususnya PWM bisa bersinergi dengan pemprov untuk meningkatkan mutu dan kualiats produk halal. Misalnya saja di proses dan penguatan produk halal serta pendampingannya. Pun dengan pengembangan Sistem Informasi Produk Halal (SIPAHALA),” katanya. Khofifah juga menegaskan bahwa hal itu menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Momentum ini harus dimanfaatkan dan Muhammadiyah dinilai bisa membangkitkannya dan menguatkan ekonomi. “Apalagi jika dilakukan di bulan Ramadan, pahalanya berlipat, semangatnya berlipat, dan insyaAllah hasilnya juga akan berlipat,” pungkasnya. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PWM Jatim Dr. dr. Sukadiono, MM. berharap kebangkitan jihad ekonomi Muhammadiyah dapat diawali oleh warga Muhammadiyah di Jatim. Salah satu caranya yakni dengan kolaborasi da sinergi bersama pemprov. “Dengan semangat taawanu alal birri wattaqwa, kerjasama yang baik PWM dan pemprov Jatim tentu akan menghasilkan dan membantu kemajuan masyarakat. Sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan umat,” katanya mengakhiri. (*Wil)
Ingin Beli Rumah? Dosen Hukum UMM Ingatkan Sederet Hal

Rumah menjadi salah satu daftar utama bagi pasangan baru maupun keluarga yang sudah lama menikah. Bahkan juga bisa dijadikan investasi pribadi untuk masa depan. Namun, ,emiliki dana yang banyak tidaklah cukup. Jika ceroboh dan tidak hati-hati, maka risiko yang tidak diinginkan bisa saja terjadi, termasuk kehilangan hak milik karena bangunan atau tanah bermasalah. Maka, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Isdian Anggraeny, S.H., M.Kn. menguraikan beberapa hal yang harus disiapkan sebelum membeli properti, utamanya rumah. “Sebelum membeli rumah, kita harus memastikan apa metode pembelian rumah yang kita pakai, apakah secara tunai atau Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Keduanya memiliki cara pengurusan yang berbeda. Lalu kita juga harus mengetahui kepastian subjek dan kepastian objek dalam jual beli rumah,” jelas Isdian. Hal yang pertama adalah kepastian subjek. Subjek dalam hal ini dibagi menjadi dua yakni pihak pembeli dan penjual. Pembeli harus mengetahui identitas dan kepastian dari penjual aset tersebut. Apabila masih berstatus lajang atau belum menikah, maka harus dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. “Apabila sudah menikah, maka selain dua syarat tadi, akta nikah harus dibuktikan juga. Kecuali memang ada perjanjian pra-nikah yang membuktikan pemisahan harta suami-istri,” tambahnya. Setelah kepastian subjek, maka hal berikutnya adalah mengetahui kepastian objek. Objek rumah ini berdiri di atas hak atas tanah, maka dokumennya juga harus lengkap dan bisa dibuktikan. Dokumen tanah sendiri terdapat berbagai macamnya. Mulai dari Sertifikat Hak Miliki (SHM), Sertifikat Hak Guna (SHGB), hingga Sertifikat Hak Pakai (SHP). “Jangan sampai nama yang tertera diatas sertifikat hak atas tanah tersebut berbeda dan tidak bisa membuktikan bahwa penjual tersebut memanglah pemiliknya. Jika berbeda, maka wajib bagi kita untuk waspada,” ujar dosen yang sedang menempuh studi doktoral tersebut. Terakhir, calon pembeli hendaknya melakukan pengecekan status tanah kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Apabila tanah tersebut aman dan bebas dari sengketa, maka kantor pertanahan akan memberikan stempel legalitas bebas dari sengketa dan aman untuk diperjualbelikan. “Jika semua dokumen telah dicek dan dipastikan lengkap, maka transaksi jual beli bisa dilaksanakan antara kedua belah pihak. Masing-masing pihak dapat menyerahkan dokumen kepastian subjek seperti yang telah disampaikan di awal. Dengan begitu, properti yang dibeli bisa dipastikan aman dan dapat dibeli,” pungkas Isdian mengakhiri. (lib/wil)
Kajian Ramadan di UMM: Jihad Ekonomi, Peneguhan PWM, hingga Peluncuran Buku

Jihad ekonomi harus dilakukan secara masif, terstruktur, dan sistematik. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. saat membuka Kajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 25 Maret 2023 lalu. Dalam agenda itupula berlangsung peneguhan Pimpinan Wilatah Muhammadiyah (PWM) dan peluncuran belasan buku karya penulis-penulis Muhammadiyah. Termasuk mereka yang berasal dari daerah-daerah. Dalam kajian itupula, UMM menghadirkan pembicara andal yang sesuai dengan tema yakni ‘Membangkitkan Jihad Ekonomi’. Ada Ketua Umum Kadin dan Ketua Asean Business Advisory Council (BAC) Mohammad Arsjad Rasjid PM, Founder Lembaga Ekonomi Umat Sutrisno Lukito, Ekonom dan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Dr. Arief Budimanta S, M.Si. serta sederet tokoh lainnya. Lebih lanjut, Haedar mengapresiasi PWM Jatim dan UMM yang telah mempelopori kajian dalam aspek jihad ekonomi. Jihad aspek ini memang menjadi salah satu putusan dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar pada 2015 lalu dan terus dikembangkan. Misalnya saja dengan melangsungkan forum dan embrio pada gerakan saudagar Muhammadiyah dan revitalisasi amal usaha ekonomi yang sudah dirintis di daerah-daerah. Kemudian dibuat networking dan bisa terintegrasi. “UMM menjadi amal usaha yang sangat kuat praktek ekonominya. Terutama dalam hal unit bisnis yang saat ini menjadi yang terdepan,” kata Haedar. Adapun untuk bisa menjalankan jihad ekonomi yang baik, Haedar menegaskan perlu adanya reorientasi pada beberapa hal. Pertama yakni pada aspek teologis yang mendorong masyarakat muslim untuk juga meberikan perhatiannya pada dunia. Dengan begitu, umat muslim bisa memiliki ekonomi yang baik dan bisa memberikan sebagiannya kepada yang berhak melalui zakat maupun infaq sodaqoh. Kedua, yakni reorientasi strategi gerakan. Kemudian juga akselerasi praksis di mana modal yang sudah dibangun, seperti UMKM atau usaha, mulai dinaikkan kelasnya. Termasuk unit bisnis di amal usaha yang harus lebih dikapitalisasi. Dengan tiga hal itu, diharapkan jihad eknomi Muhammadiyah bisa bangkit dan ebrlangsung dengan baik. Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. menilai tema yang diusung cukup menyengat dan bisa menjadi tantangan yang bagus. Apalagi sudah ada sederet tokoh yang berkompeten pada aspek ekonomi. “Muhammadiyah sudah leading di aspek pendidikan dan kesehatan. Salah satu buktinya yakni saat menghadapi pandemi Covid 19 lalu. bagaimana Muhammadiyah sangat menonjol dalam kontirbusi mengatasinya,” tegas Muhadjir. Pun dengan antisipasi kebencanaan, di mana Muhammadiyah juga memberikan kontribusi besar. Tidak hanya di level nasional, tapi juga internasional. Misalnya dengan mengirimkan relawan ke bencana gempa di Turki beberapa waktu lalu. Bahkan juga membangun rumah sakit darurat di sana. “Maka Muhammadiyah juga perlu mengembangkan aspke ekonomi melalui jihad ekonomi,” tegasnya. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Kajian Ramadan tersebut memang menjadi acara yang dihelat rutin setiap tahun oleh PWM Jatim. Meski rutin, kajian ini tidak boleh terjebak pada mindset rutinitas. Harus ada ide dan hal yang dihasilkan dan memberikan dampak positif. Fauzan menilai, bonus demografi dan Indonesia emas 2045 sudah siap menyambut. Maka pertanyaannya adalah seberapa siap Muhammadiyah dalam memanfaatkan hal itu. Pun dengan bagaimana kontribusi yang akan diberikan oleh Muhammadiyah untuk mewujudkan Indonesia 2045. “Gedung Dome ini menajdi saksi bahwa Muhammadiyah akan melakukan jihad ekonomi dan berkontribusi bagi bangsa,” pungkasnya. (wil)
Terpilih Jadi Duta Wisata Balikpapan, Alumni UMM Jalankan Program Taichi dan Mantrawastra

Prestasi membanggakan diraih oleh alumnus prodi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Indah Furnama. Ia sukses ditasbihkan menjadi Wakil 1 Putri Duta Wisata Kota Balikpapan pada pertengahan Maret 2023 lalu. Meski kini ia masih sibuk menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Balikpapan, tapi hal itu tidak menghalanginya untuk berperstasi dan berkontribusi bagi masyarakat. Ia mengaku tidak mudah menjadi seorang Duta Wisata dengan berbagai kegiatannya. Bahkan saat proses pemilihan, ia harus memanfaatkan waktu dengan baik. Berangkat jam tujuh pagi hingga pulang pukul lima sore, kemudian langsung menuju tempat pra karantina duta Balikpapan. Ia juga rela memangkas waktu tidurnya menjadi 3-4 jam saja. “Cukup melelahkan tapi semua mimpi memang harus diiringi dengan pengorbanan bukan? Kini saya diamanahi dan ditugaskan untuk mempromosikan wisata yang ada di Balikpapan dan memberikan infomrasi positif bagi publik,” katanya. Indah, begitu ia kerap disapa, memang memiliki mimpi menjadi seorang duta sejak duduk di bangku SMA. Sayangnya, saat itu keinginannya tidak bsia tersalurkan. Ketika ia menginjak kota Malang, ia bersyukur UMM menyediakan kegiatan putra putri kampsu dan duta. Dimulai dengan masuknya ia dalma 10 besar putra putri kampus UMM. Kemudian terus berupaya dan belajar ke banyak senior hingga ia bisa mencapai titik ini. Ia menilai bahwa ada banyak manfaat ketika mendapatkan gelar sebagai duta. Masukan dan suaranya bisa didengar dengan mudah oleh pemerintah. Indah bahkan menawarkan salah satu program wellness tourism bertajuk ‘Sehat itu Indah’. Di dalamya, ia ingin mengajak masyarakat untuk tetap memperhatikan kesehatan meski berada di tengah kesibukan. “Untuk mempromosikan hal itu, saya juga menyusun program dengan nama Taichi with Duta Wisata Balikpapan. Jadi ada senam taichi yang sudah terjadwal dan bisa diikuti oleh banyak orang,” katanya. Ia menegaskan bahwa dalma ilmu kesehatan, Taichi dinilai dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi menjadi rendah. Hal itu cocok dengan data yang menunjukkan bahwa tingkat penyakit hipertensi di Kota Balikpapan cukup tinggi. Bukan hanya mereka yang sudah berumur, tapi juga menjangkiti anak-anak muda. “Pelan tapi pasti, program ini berjalan dengan cukup baik dan diterima oleh masyarakat. Mungkin kenalanya hanya cara menghafal gerakan-gerakan taichi-nya saja. Saya dan tim juga tengah membuat Mantrawastra, yakni program penggerak melestarikan kasi khas kalimantan,” ungkapnya mengakhiri. (*Ri/Wil)
Dosen FAI UMM: Hati-hati Dosa Kecil saat Puasa

Ramadan merupakan bulan suci yang penuh akan keberkahan dan ampunan bagi umat Islam. Meski berlimpah keistimewaan, bulan suci ini juga memiliki banyak tantangan, salah satunya saat menjalankan ibadah puasa. Tidak hanya sekedar menahan diri dari haus dan lapar, umat Islam juga harus menahan hawa nafsu dan juga amarah. Menurut Dosen Fakultas Agama Islam, Idaul Hasanah, S.Ag., M.HI., ada sederet hal-hal kecil yang nyatanya adalah dosa dan perlu dihindari saat bulan Ramadan. Satu di antaranya adalah menjaga lisan. “Sesederhana berhati-hati saat berbicara. Jangan sampai menyakiti orang dengan lisan kita. Dalma hadits juga sudah dijelaskan, misalnya saja berbicara kotor, berbohong, menggunjing yang banyak orang tidak menyadarinya,” ujarnya. Selain berhati-hati dengan lidah, Idaul juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga diri dari keburukan. Termasuk dari gawai yang senantiasa menemani di berbagai aktivitas. Misalnya saja memposting sesuatu yang bisa menyakiti orang lain. Pun dengan menghindari keinginan untuk browsing hal-hal yang bisa membangkitkan hawa nafsu. Menggunjing bersama teman lewat chat juga wajib dihindari. “Meski terlihat kecil, tapi dosa-dosa itulah yang seringkali membuat puasa kita tidak berkualitas dan berakhir menjadi puasa yang hanya menahan nafsu lapar dan haus semata,” tegasnya Idaul juga mendorong umat muslim untuk mengisi Ramadan dengan kesungguhan. Yakni dengan meningkatkan ibadah dan hubungan dengan orang lain. Jadi tidak hanya fokus ibadah, tapi juga beramal saleh. Dengan begitu, tidak hanya menambah pahala, tapi juga mendapatkan ampunan yang besar. “Bulan ramadan itu kan maghfirah dan Allah akan mengampuni semua dosa, entah itu dosa kecil maupun dosa besar. Asalkan orang yang berbuat dosa itu menyadari bahwa ia telah melakukan dosa dan juga mau bersistigfar sebanyak-banyaknya, maka ampunan akan diberikan,” tandasnya. Terakhir, dosen yang mengajar jurusan Hukum Keluarga Islam itu juga memberikan tips memanfaatkan Ramadan. Diawali dengan membuat perencanaan, yakni menambah kuantitas dan kualitas ibadah, mengkhatamkan Alquran, atau juga berusaha mendapatkan lailatul qodar. Pun dengan menjaga pola makan dan tidur sehingga bisa menjalankan puasa dengan tubuh yang sehat dan fit. “Seperti pesan Rasullullah bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin. Maka, Ramadan tahun ini juga harus lebih baik dari Ramadan kemarin dengan mencapai target-target tertentu dan mampu menjadi manusia bertaqwa ketika Ramadan usai,” pungkasnya. (nel/wil)
Lulus di Taiwan, Dosen UMM Jadi Doktor Pertama Fisioterapi Jawa Timur

Rakhmad Rosadi, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi doktor pertama bidang Fisioterapi di Jawa Timur. Kerja keras dan ketekunannya berhasil membawanya menjadi salah satu dari sedikit dosen yang menggeluti bidang tersebut. Keberhasilan Rakhmad patut diapresiasi, karena tidak banyak dosen di Indonesia di bidang fisioterapi yang sampai di jenjang S3. Bahkan di Indonesia belum ada universitas yang menyediakan jalur doktor bidang fisioterapi. “Alhamdulillah, saya senang bisa sampai di tahap ini. Keberhasilan ini juga berkat dukungan keluarga, istri, anak saya dan tentunya Kampus Putih UMM,” jelasnya. Pria kelahiran tahun 1987 ini mengatakan, alasan kuatnya melanjutkan studi ke jenjang doktor adalah ingin mengembangkan keilmuan di bidang ini. Apalagi ada arahan dan dukungan langsung dari UMM usai menyelesaikan studi masternya di Vincent Pol University Polandia. “Di awal perkuliahan, sempat terjadi kendala karena jurusan kuliah yang ada tidak sesuai dengan kompetensi saya. Akhirnya di tahun kedua, saya memutuskan pindah dengan beasiswa dari pemerintah Taiwan ke National Cheng Kung University (NCKU) Taiwan dan akhirnya tahun ini berhasil menyelesaikannya,” jelas Rakhmat. Dalam disertasi yang sudah rampung tersebut, Rakhmat menjelaskan meneliti tentang radang sendi pada lutut (knee osteoarthritis). Selama proses penelitian, ia sempat kesulitan mencari data karena masih berada di situasi Covid 19. Tapi semua itu dilalui demi mendapat gelar doktor dan terus berupaya mengembangkan keilmuannya. “Karena pandemi sudah mulai mereda dan studi saya juga sudah selesai, saya sudah memulai beberapa riset saya yang lain,” tambah pria asal Jember itu. Rakhmat yang juga wakil dekan III Fikes itu menegaskan sudah menjalankan berbagai program di jurusan fisioterapi UMM. Misalnya saja pusat rehabilitasi dengan teknologi canggih, khususnya untuk cedera tulang belakang dan cedera kepala. Menariknya, program itu menggandeng kerjasama dengan pihak Universiti Teknologi MARA (UiTM) dan Perkeso (Jamsostek Malaysia) “Saya rasa, pendidikan fisioterapi di Indonesia cukup bagus, baik secara kualitas maupun kuantitas. Namun, besar harapan saya agar dosen-dosen fisioterapi Indonesia dapat melanjutkan studi. Sehinhga semakin banyak mendapatkan pengetahuan baru yang bisa dibagikan di Indonesia,” harap Rakhmad mengakhiri. (zak/wil)