UMM-GPSM Bedah Buku Pemikiran Buya Syafii

Sosok Buya Syafii Maarif dikenal sebagai figur cendekiawan dan panutan bagi masyarakat Indonesia. Banyak karya buku dari sastrawan maupun  ilmuwan yang mengambil pemikiran-pemikiran Buya Syafi’i. Salah satunya buku berjudul “Berdiang di Perapian Buya Syafii” karya Riki Dhamparan Putra yang dibahas pada bedah buku garapan Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Diskusi yang dilaksanakan pada 18 Maret 2023 itu juga bekerjasama dengan Gerakan Pemikiran Syafii Maarif (GPSM). Menariknya ada sederet pemateri yang membahas dan membedah buku tersebut. Adapun penulis, Riki, mengatakan bahwa tulisan-tulisan dalam bukunya merupakan sudut pandang dirinya mencari kehangatan dari pikiran-pikiran dan juga gagasan-gagasan Buya Ahmad Syafii Maarif. Utamanya mengenai agama, bangsa, dan budaya. “Sudut pandang mengenai kebudayaan paling menonjol di buku ini. Karena saya melihat kebudayaan menjadi hal yang khas dalam pemikiran-pemikiran Buya Syafii. Atas  dasar itulah saya menyusun buku ini. Tentu harapannya bisa menjadi satu dari banyak rujukan untuk mendalami pemikira Buya Syafii,” terangnya. Dalam pemikiran Buya Syafii, menurut Riki, Indonesia berada pada kacamata kebudayaan dan visi yang masih terus berproses. Di mana Indonesia merupakan negara yang majemuk dan berusaha menyatukan masyarakatnya menjadi satu bangunan yang utuh. “Salah satu wujud utama dalam identitas keindonesiaan itu dibentuk dari agama. Sebelum Islam datang ke Indonesia, nenek moyang kita sudah memiliki ilmu teologisme sejak ratusan tahun lalu. Ilmu itu sudah ada dan membentuk jalur pemikiran mengenai alam semesta, walaupun tidak diwujudkan dalam bentuk kitab,” jelas Riki. Lebih lanjut Riki menjelaskan bahwa ilmu itu lahir dan terekspresi dalam bentuk kebudayaan yang diamalkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hal tersebutlah yang menjadi titik tekan Buya Syafii melihat keislaman dan keindonesian. Dalam kesempatan itu, hadir pula Dosen President University Dr. Abdullah Sumrahadi, S.IP, M. Sc sebagai pembedah buku. Abdullah mengatakan bahwa buku ini menjadi sebuah hadiah bagi kelompok yang ingin mendalami pemikiran-pemikiran Buya Syafii dari perspektif yang berbeda. Setidaknya dari sudut pandang kebudayaan dan literasi. “Islam itu harus membumi dalam gerakan-gerakannya. Dan salah satunya melalui kebudayaan,” ungkap Anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah tersebut. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan pembedah lainnya, dosen Hubungan Internasional UMM Muhammad Subhan Setowara, S.H.I., M.A. Menurutnya, selain dikenal dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama dan bangsa, Buya Syafii juga sangat dekat dengan para pemuda. Pun dengan upaya mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan. “Hal itu juga dituliskan dalam buku ini. Menariknya, tulisan bagian itu diberi sub judul yang cukup unik yaitu Muda Penjaga Layar Perahu. Saya rasa buku ini ditulis dengan ringan dan sederhana, sehingga pembaca bisa langsung memahami dan tidak merasa capek,” pungkasnya. (zak/wil)

110 Cabang Lomba Siap Diperebutkan di Rector Cup UMM

Dengan simbolis menyalakan obor, Rector Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dibuka pada 21 Maret 2023 lalu. Ajang kompetisi yang melibatkan sebanyak 2000-2500 peserta ini telah menyiapkan 110 cabang dari 34 unit kegiatan mahasiswa (UKM) lomba untuk dimenangkan. Adapun pembukaan tersebut juga dimeriahkan berbagai penampilan meriah dari mahasiswa dan guest star. Ada marching band, musik perkusi Kampung Cempluk, hingga penampilan band-band andalan Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama) UMM. Terakhir, Wahid Darjo yang menjadi guest star sukses membuat pembukaan rector cup meriah. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menegaskan bahwa rector cup adalah nafas dan budaya yang senantiasa dilaksanakan Kampus Putih. Hal itu tidak lepas dari peran rector cup dalam membentuk pribadi pemimpin dalam diri mahasiswa. Selain itu, ajang ini juga akan menguji ketahanan mental mahasiswa agar kuat dan mampu menghadapi tekanan. “Kompetisi ini harus bisa dijalankan dan diikuti dengan mental yang bagus. Tidak boleh marah dan emosi, namun harus dibarengi dengan besar hati. Menghadapi persoalan dengan pikiran yang tenang dan dingin,” katanya. Fauzan juga berpesan agar mahasiswa berani menghadapi tantangan, bukan malah lari darinya. Mahasiswa Kampus Putih juga harus menjadi pemecah masalah, bukan malah menjadi pihak yang membuat masalah. Sementara itu, salah satu mahasiswa Psikologi Nisrina Nabila Nasywa mengaku antusias untuk bisa meramaikan rector cup. Ia yang masih duduk di semester kedua ingin tahu bagaimana keseruan ajang ini. Apalagi akna ada lebih dari seratus cabang lomba, baik dari lomba keilmuan, olahraga, kesenian dan lainnya. “Kalau kata senior-senior sih asyik dan menyenangkan. Apalagi di cabang lomba olahraga seperti sepakbola, basket, hingga voli. Atsmosfer pendukungnya sangat ramai dan damai. Terbukti dari pembukaan hari ini yang meriah,” katanya. Riri, sapaan akrabnya, berharap kompetisi ini bisa  berjalan dengan baik. Pun dengan lahirnya talenta-talenta unggul dari mahasiswa yang mungkin saat ini belum terlihat. Sehingga nanti bisa semakin bersinar dan mengharumkan nama UMM di kancah nasional bahkan internasional. (wil)

Dosen UMM: Jangan Remehkan Gejala Meningitis

Penyakit meningitis menjadi salah satu momok yang menakutkan. Beberapa artis ternama juga menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit ini, diantaranya adalah Olga Syaputra dan Glenn Fredly. Maka perlu adanya pemahaman yang baik tentan ggejalanya. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ns. Anis Ika Nur Rohmah, M.Kep. Sp.Kep. MB. menyampaikan bahwa ada banyak hal yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit ini. Meningitis tuturnya, merupakan penyakit peradangan pada selaput otak yang diakibatkan oleh infeksi dari virus, bakteri, parasit dan jamur. Gejalanya diawali dengan rasa sakit kepala yang luar biasa dan terjadi terus-menerus. Hal ini jarang diperhatikan masyarakat, karena dinilai cukup umum seperti sakit kepala biasa. Mereka pun merasa tidak perlu konsultasi ke tenaga kesehatan. Hal ini seringkali membuat meningitis terlambat ditangani. “Penyebabnya beragam. Imunitas tubuh yang menurun menjadi salah satunya. Bila seseorang merasa kelelahan, imunitas tubuhnya akan menurun dan di saat bersamaan tidak sengaja berada di sekitar tempat yang terdapat virus atau bakteri penyebab meningitis. Penyakit tersebut bisa langsung menyerang individu yang bersangkutan,” jelas Anis. Maka masyarakat harus mengenal gejala awal penyakit tersebut. Misalnya saja demam tinggi secara mendadak, sakit kepala disertai mual dan muntah, susah konsentrasi, kerigat dingin serta leher yang kaku. Semakin terlambat disadari dan terdeteksi, maka semakin lama pula proses penyembuhannya. Hal ini karena penyebaran virus penyakit tersebut telah meluas. “Virus dan bakteri yang menyebabkan meningitis ini akan mudah menyebar melalui aliran darah lalu berpindah ke sumsum tulang belakang hingga otak. Banyak faktor penyerta yang dapat menyebabkan meningitis, tidak hanya berpatokan pada imunitas yang menurun. Contohnya seperti infeksi gigi yang tidak segera ditangani yang bisa menjalar ke otak,” lanjutnya. Penyakit meningitis dapat menyebabkan kematian karena inflamasi atau peradangan yang memunculkan pembengkakan. Kemudian akan membuat massa otak bertambah. Ketika salah satu bagian dari otak mengalami penambahan volume, hal tersebut akan menyebabkan peningkatan tekanan pada otak atau disebut dengan tekanan intrakranial. “Otak adalah pusat segalanya bagi tubuh. Apabila infeksi terhadap suatu penyakit menyebar, tentu akan berimbas pada pusat koordinasi,” tandasnya. Anis pun mengimbau apabila dirasa terdapat gejala yang tidak biasa dan terus menerus, masyarakat harus segera memeriksakan diri. Hal itu sebagai upaya untuk mendeteksi penyakit yang mungkin berbahay. “Jagalah kesehatan dan segera hubungi nakes jika ada sakit yang dirasakan terus menerus,” pungkasnya. (*nia/wil)

Prodi Agribisnis UMM Buka Kelas Profesional Ekspor Agrokompleks

Ada tiga bisnis yang tidak akan pudar hingga kiamat nanti. Ketiganya adalah kesehatan, pendidikan dan yang terakhir pangan. Hal itu disampaikan oleh Komisaris PT. MAS Group Sentot Joko Priyono dalam Kuliah tamu dan penandatanganan kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara yang dilaksanakan pada 20 Maret adalah kerjasama terkait Center of Excellence (CoE) Ekspor Agrokompleks garapan Agribisnis UMM. Sentot, sapaannya, melanjutkan bahwa ada banyak kesempatan dan peluang dalam bisnis pangan, termasuk agrokompleks. Hal itu tidak lepas dari kebutuhan manusia akan pangan yang harus dipenuhi. Maka, para mahasiswa harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Terkati CoE Ekspor Agrokompleks, ia menjelaskan bahwa basecamp kelas ini akan diletakkan di Pontiana. Hal itu tidak lepas dari pelabuhannya yang sangat mendukung, utamanya dalma hal regulasi ekspor. Para peserta CoE akan diajar langsung oleh stakeholder yang bergelut dalma kegiatan ekspor. “Jadi nanti yang memberikan pelatihan mulai dari petani omoditi, pengelola, bea cukai, bahkan hingga pembeli dari luar negeri. Pembelinya juga bermacam-macam seperti dari Malaysia, India, hingga Bangladesh. Jadi peserta bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pelatihan yang mumpuni,” tegasnya. Adapun kelas ini nantinya berisi 80% praktek dan 20% sisanya materi. Diharapkan muncul bibit-bibit unggul yang paham tentang ekspor dan segala yang berkaitan dengannya. Acara itu juga dihadiri langsung oleh Direktur utama PT. MAS Group, Anne Sri Arti. Ia bercerita tentang jatuh bangun memulai usaha ini serta mengajak anak muda untuk melihat peluang yang ada. “Saya mengawali semua ini dengan keluar dair zoan nyaman, kemudian menggaet beberapa peternak sapi perah. Dari sana, muncul berbagai ide dan usaha yang terus dikembangkan. Semua pasti ada hambatannya, tapi jika tekun dan bisa melihat peluang, saya rasa keberhasilan akan menunggu di akhir jalan,” katanya. Di sisi lain, Ketua Program Studi Agribisnis UMM Ary Bakhtiar, SP., M.Si. melihat bahwa peluang pengembangan pasar ke luar negeri terbuka lebar. Salah satunya yang berkaitan dengan bdiang agrokompleks yaitu tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Maka peluang ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Satu upaya yang bsia dilakukan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pengekspor produk ini. CoE ini juga diharapkan mampu membekali pengetahuan dan teknis terkait ekspor kepada para mahasiswa. bukan hanya mereka yang belajar di agribisnis, tapi juga lintas jurusan, fakultas bahkna universitas. “Pun dengan pemberian informasi tentang potensi dan tantangan ekspor produk agrokompleks, persiapan awal sebelum melakukan ekspor dan implementasi dalam kegiatan ekspor produk,” katanya. Terakhir, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa potensi ekspor sangat menjanjikan. Ia berharap mereka yang turut serta dalam CoE ini bisa menjadi pengekspor yang andal. Bukan hanya tahu produk mana yang bagus tapi juga mampu memahami regulasi dengan baik. Tidak harus menunggu lulus, tapi bisa dimulai sejak menginjak bangku perkuliahan. “Sampai saat ini ada lebih dari 40 CoE yang sudah berdiri dan berjalan. Mulai dari CoE unggas, koi, cokelat, welding inspector, anggrek, metaverse, dan lain sebagainya. Sudah banyak yang datang ke UMM untuk belajar tentang pengelolaan CoE ini. Bahkan ada yang ikut membuka program yang serupa,” pungkasnya. (wil)

Diskusi RBC UMM Kaji Situasi Politik Menjelang Pilpres 2024

Media sosial mampu memberikan ruang kepada para penggunanya untuk menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Termashk terkait politik dalam rangka mewujudkan demokrasi digital menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Aribowo, M.S. selaku Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi Muhammadiyah Jawa Timur dalam diskusi politik. Adapun diskusi yang dilaksanakan pada 15 Maret 2023 itu digelar oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih lanjut, Ariwibowo menilai bahwa lembaga survei memiliki peran penting untuk hadir di masyarakat. Apalagi paradaigma politik masyrakat Indonesia masih politik mobilisasi seperti masa orde baru. Padahal seharusnya sudah mengarah pada politik partisipasi. “Apalagi saat ini adalah era sosial media yang mendorong kebebasan publik untuk berpendapat,” katanya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa demokrasi sudah dikendalikan sedemikian besar oleh ekonomi. Aspek politik saat ini memang tidak bisa dilepaskan dari ekonomi. Maka perlu adanya peningkatan yang signifikan dari segi ekonomi. Adapun saat ini, Indonesia dituntut untuk menaikkan sumber  daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Pun dengan daya dorong produksi yang berbasis teknologi. Dengan begitu kemajuan ekonomi Indonesia akan bertambah dan berpengaruh positif bagi politik Indonesia. Sementara itu, Aminah Asminingtyas selaku Ketua KPU Kota Malang menilai bahwa tidak hanya survei dan ekonomi sana yang memengaruhi pesta demokrasi. Tapi juga narasi-narasi politik digital di media sosial. Narasi palsu dan hoaks sering beredar di masyarakat, terutama kepada pengguna media sosial yang notabene anak-anak muda. “Informasi di media sosial memang luar biasa. Ada yang menyebut pemilu mundur, padahal belum tentu kabar itu benar. Maka masyarakat harus bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah. Terutama pelajar dan mahasiswa yang cenderung emosional tanpa pikir panjang,” ucap Aminah. Terakhir, hal menarik disampaikan Dosen FISIP UMM, Dr. Salahuddin, M.Si. MPA. Ia menyebut bahwa media sosial sebagai pilar demokrasi berkontribusi besar. Terbukti pada tahun 2019 dan tidak jarang menyebabkan gesekan politik yang besar. “Jika didasari nilai kebangsaan yang agung, maka demokrasi akan tumbuh kembang dengan baik. Pada akhirnya kita dapat kepemimpinan yang baik demokratis, merakyat, dan visioner,” katanya mengakhiri. (*/wil)

Terbitkan Artikel Berkualitas, Jurnal FH UMM Sukses Terindeks Scopus

Penelitian dan publikasi menjadi sederet aspek yang selalu dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya lewat berbagai jurnal yang diterbitkan. Termasuk Legality, jurnal Fakultas Hukum (FH) UMM yang baru saja mendapatkan rekognisi internasional melalui pengindeks Scopus pada awal Maret 2023 ini. Capaian membanggakan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya FH dalam meningkatkan kualitas. Editor in Chief Legality, Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. menjelaskan bahwa akreditasi tersebut tidak diraih dalam waktu yang singkat. Pada awal 2019, jurnal tersebut baru mendapatkan indeks Sinta 4. Kemudian membutuhkan dua tahun untuk bisa mencapai Sinta 2 pada 2020. Upaya itu juga diteruskan oleh Fatih dan tim dengan menyiapkan artikel-artikel berkualitas untuk mendapatkan indeks Scopus. Hingga akhirnya mendapatkannya pada awal Maret 2023. “Jurnal Legality FH UMM ini menjadi jurnal pertama yang mendapatkan akreditasi Scopus di kalangan FH kampus swasta se-Indonesia,” tambahnya menegaskan. Dosen asal Gresik ini melanjutkan bahwa ada banyak benefit yang didapatkan jika jurnal yang diterbitkan sudah terindeks secara internasional. Misalnya saja terkait isi artikel yang makin banyak dibaca dan dikunjungi karena berada di dalam database jurnal terindeks Scopus. “Melalui jurnal ini, kami juga ingin mendorong para dosen untuk bisa melahirkan artikel ilmiah yang berkualitas dan mampu menembus jurnal internasional. Hal ini juga sekaligus memberikan jalan bagi mereka untuk bisa mencapai jabatan akademik sebagia guru besar. Apalagi publikasi ini juga menjadi syarat yang seringkali menghalangi para dosen,” katanya. Terakhir, ia berharap capaian ini juga memotivasi pengurus jurnal lain, utamanya yang ada di Kampus Putih UMM. Dengan begitu, akan makin banyak penelitian berkualitas yang dipublikasi dan meramaikan dunia akademik. Kemudian, penelitian itu juga bisa dilanjutkan menjadi sebuah produk atau metode dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. “Ini bukan tujuan akhir, tapi malah dari awal upaya menjaga kualitas penelitian dan menjalankan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, yakni penelitian,” pungkas Fatih mengakhiri. (*ri/wil)

Gelar Simposium, Upaya Fisioterapi UMM Temukan Solusi Masalah Kesehatan

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih mempercayai bahwa mandi malam dapat menyebabkan rematik. Padahal para ahli kesehatan sudah menyatakan bahwa hal tersebut adalah mitos. Kenyataannya, rematik dapat terjadi karena adanya peradangan sendi yang disebabkan oleh hormonal, genetik maupun traumatik. Hal tersebut dijelaskan oleh ketua prodi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dimas Sondak Irawan, Ph.D. dalam Simposium “Novel Physiotherapy Approaches and Physical Rehabilitation in Community Setting.” Adapun kegiatan tersebut berlangsung pada 13 Maret 2023 lalu dengan sistem blended. Dimas, sapaan akrabnya, juga menjelaskan hal lain terkait mitos dan fakta kesehatan yang berkembang di masyarakat. Mulai dari fakta bahwa tulang yang patah bisa menyambung sendiri hingga mitos membunyikan sendi (clicking) sehingga berbunyi ‘krek’ bisa menyebabkan pengapuran sendi. “Bunyi krek yang disebut dengan popping tidak berbahaya dan bukan penyebab pengapuran sendi. Kecuali, jika terjadi popping terdapat rasa nyeri pada bisa dikatakan terdapat indikasi,” ungkap Dimas. Ia juga memaparkan bahwa traksi dalam dunia kesehatan dapat menambah tinggi badan merupakan sebuah fakta. Dimana saat seseorang melakukan continues lumbal traksi selama 25 menit, bisa meningkatkan 8,60 mm tinggi badan. Namun pertambahan tinggi badan itu hanya bertahan selama sepuluh menit. Terakhir Dimas mengatakan bahwa sering membawa tas berat bisa menyebabkan skoliosis merupakan benar adanya. Namun hal tersebut hanya menyebabkan skoliosis non struktural, bukan skoliosis struktural. “Miskonsepsi terkait permasalahan kesehatan bisa terjadi di masyarakat karena adanya kebiasaan dan juga budaya yag berkembang di Indonesia. Oleh karena itu, para ahli kesehatan dan calon ahli kesehatan harus memberikan edukasi yang jelas dan baik kepada mereka. Sehingga miskonsepsi di masyarakat tidak terus berlanjut,” pungkasnya. Simposium yang diselenggarakan oleh prodi Fisioterapi UMM itu bekerjasama dengan Universitas Teknologi Mara Malaysia. Menariknya, ada banyak pemateri andal yang dihadirkan seperti Prof. Mayda, Dr. Mohd. Haidzir Abd. Manaf, Mr. Mohd. Azlan Bin Mohd. Shapie, hingga Mr. Mohd. Arif. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Dr.Sidik Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum. mengapresiasi kegiatan ilmiah tersebut. Menurutnya, acara itu menjadi salah satu cara menemukan solusi beragam persoalan. “Simposium ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan dan juga ide yang konstruktif . Sehingga seluruh masalah terkait kesehatan, khususnya di dunia  fisioterapi, bisa segera diselesaikan. Selain itu, ia juga ingin ada studi visit antar universitas baik itu dari kalnagan mahasiswa maupun dosen,” tegasnya mengakhiri. (*Zak/Wil)

Wakili Muhammadiyah, Dosen UMM Kaji Hukum Islam di Filipina

Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF, MA., P.hD, diundang menjadi pembicara di 1st National Summit on Shari’ah di Filipina. Mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia hadir pada 5-6 Maret 2023 pada acara yang diselenggarakan oleh Supreme Counts of the Republic of Philippines. Adapun pertemuan itu dilaksanakan di Mindanao yang menjadi 80% populasi muslim di Filipina. Boy, sapaannya, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan ikhtiar untuk membawa hukum Islam pada konteks yang lebih luas di masyarakat. Selain dari Indonesia, adapula dua pembicara dari Mesir dan Malaysia. “Sebenarnya hukum Islam telah berlaku di Filipina, tetapi institusi hukumnya baru ada di Mindanao. Maka, salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk menjamin keberadaan institusi hukum Islam di seantero Filipina. Terdapat tiga negara yang diundang, yaitu Indonesia, dalam hal ini Muhammadiyah yang diminta, Malaysia dan Mesir. Perwakilan dari Mesir cukup istimewa yakni Duta Besar Mesir untuk Filipina, karena kebetulan ia memang ahli hukum Islam,” katanya. Dalam diskusi itu, eks staf khusus Presiden Indonesia tersebut menjelaskan mengenai penerapan hukum islam di Indonesia. Ia memaparkan pengalaman Indonesia dalam menerapkan syariah dari masa ke masa. Mulai dari sebelum kemerdekaan hingga masa reformasi. “Hal ini tak lepas dari tujuan pertemuan ini yakni mempelajari pengalaman-pengalaman negara lain,” tambahnya. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa penerapan hukum Islam di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia Merdeka. Hal tersebut dibuktikan dari pelaksanaan hukum-hukum yang dilakukan oleh kesultanan-kesultanan Islam yang ada di nusantara. Misalnya saja di Jawa yang terdiri dari Demak, Banten, Mataram, Pajang, dan lainnya. Pun dengan Sumatera yang diisi dengan Kesultanan Palembang, Samudera Pasai hingga Kesultanan Aceh. Hal serupa juga terjadi di pulau lain bahkan hingga Kesultanan Bima. Maka menurutnya, hukum Islam sebenarnya telah berlaju di kesultanan-kesultanan dengan aneka variasi dan tingkatan. Namun, terdapat pasang surut dalam pelaksanaannya di Indonesia. Apalagi saat Belanda datang melalui VOC. “Pada saat itu, hukum Islam tetap diberlakukan karena VOC memberikan keleluasaan kepada umat Islam untuk menjalankan hukum Islam. Tetapi setelah keberadaan VOC digantikan oleh Kerajaan Belanda, hukum Islam mengalami dinamika yang pasang surut,” tegasnya. Hukum Islam kemudian berlaku bagi umat Islam secara formal pada masa Orde Baru melalui pengesahan Undang-Undang Perkawinan 1974, lalu pendirian Pengadilan Agama pada tahun 1989. Lalu penyusunan Kompilasi Hukum Islam pada 1991, dan banyak lagi. Sementara pada Era Reformasi, pemberlakuan hukum Islam lebih banyak pada wilayah ekonomi Islam. “Semoga paparann ini sedikit banyak dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan hukum Islam di Filipina. Berangkat dari pengalaman Indonesia dan belajar darinya,” pungkas Boy. (*Faq/Wil)

Mahasiswa UMM Rancang Facial Detector

Rumah sakit sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan seharusnya memberikan pelayanan yang baik. Namun faktanya, masih banyak rumah sakit yang mengalami kendala dalama proses administrasi. Berawal dari keresahan itu, tim mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang dan mengembangkan sebuah alat yang dinamai dengan Patient Facial Detector. Adalah Adam Nur Abrori, Bintang Arifin, Nadya Safa Regina Putri, Nur’aini Isnawati, dan Windy Puspika yang merancangnya. Mereka telah melakukan survey ke masyarakat dan beberapa fasilitas kesehatan terkait lambatnya proses administrasi. “Dari sana, kami mendapatkan ide untuk memaksimalkan teknologi digital untuk memudahkan manusia. Utamanya dalam adiministrasi di rumah sakit,” kata Adam. Adapun alat ini dilengkapi dengan komputer dan webcam untuk mendeteksi wajah. Kemudian diletakkan di bagian depan pendaftaran dan pasien harus scan wajah sebelum melakukan pemeriksaan ke dokter. “Cara kerja alat ini yakni pasien datang dan mengarahkan wajah ke webcam, lalu data diri pasien akan muncul secara otomatis. Data tersebut meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan nomor rekam medis pasien pada layar komputer dokter,” urainya. Fitur dari scan wajah sebenarnya sudah banyak dijumpai, namun Patient Facial Detector memiliki keunggulan yang istimewa yakni akan disinkronkan dengan e-KTP. Dengan demikian, data diri akan ditampilkan secara lengkap. “Biasanya media seperti ini hanya dapat untuk melakukan cek suhu saja, namun punya kami berbeda,” tambah Adam. Adam juga menjelaskan bahwa dalam proses merancang Patient Facial Detector ini dibutuhkan waktu selama beberapa minggu. Sekarang, mereka masih mengembangkan program dan inovasinya agar bisa segera digunakan. Meski belum rampung, tapi timnya sudah membuat prototipe yang dipamerkan dalam Pameran Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri UMM 2023 lalu. Inovasi Patient Facial Detector ini juga direncanakan untuk ikut di sederet perlombaan di berbagai kompetisi. “Tentu kami berharap inovasi ini dapat membantu proses dalma mendapatkan layanan kesehatan. Apalagi selama ini lamanya pelayanan kesehatan seringkali diakibatkan adiminstrasi yang rumit. Maka, dengan adanya Patient Facial Detector, proses itu bisa dipersingkat,” pungkasnya. (*Sep/Wil)

Perpustakaan UMM Juara Website Terbaik Nasional

Kabar membanggakan datang dari perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbekal inovasi yang baik, merka sukses meraih juara tiga website terbaik dalam kompetisi yang diadakan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA) di tingkat nasional. Perpustakaan UMM menerima langsung penghargaan pada Maret ini di Hotel Lombok Raya, Lombok. Terkait juara tersebut, Direktur Perpustakaan UMM Dr. Asep Nurjaman, M.Si. menjelaskan bahwa kompetisi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan berbagai perpustakana. Khususnya yang ada di wilayah kampus Muhammadiyah se-Indonesia. Sehingga bisa mencapai internasionalisasi di masa yang akan datang. Adapun perpustakaan UMM sudah mengembangkan websitenya dengan berbagai cara. Salah satunya menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai sarana internasionalisasi. Pun dengan sederet konten yang bisa menarik masyarakat untuk berkunjung. Berbekal hal itulah, UMM mampu menjuarai lomba perpustakaan. Lebih lanjut, dosen Ilmu Pemerintahan itu juga membeberkan poin penilaian yang dilakukan FPPTMA. Mulai dari performa kecepatan, tampilan website, jumlah konten, hingga kualitas konten. Jenis-jenis konten dan jumlah visitor juga menjadi pertimbangan lain. Perpustakaan UMM saat ini juga tengah berfokus pada konten-konten yang ada di media sosial non website. Menurutnya, hal itu bisa mendorong perkembangan perpustakaan, terutama bagi anak-anak muda. Perpustakaan UMM terus membuat konten di Facebook, Instagram, dan lainnya. “Kami juga tak lupa mengembangkan website tahap demi tahap,” tegasnya. Meski sukses meraih juara, Asep mengaku ada beberapa hal yang menjadi tantangan. Namun semua bisa teratasi berkat usaha keras tim perpustakaan UMM. Sumber daya manusia (SDM) yang ada nyatanya mampu mengatasinya. “Kami juga terus menambah berbagai konten dan bacaan menarik. Tidak hanya websitenya saja yang bagus dan berkualitas, kami juga akan terus menjaga kualitas koleksi buku dan pelayanan yang ada. Adapun website menjadi salah satu gerbang agar anak-anak muda dan masyarakat meningkatkan literasinya. Semoga perpustakaan UMM juga bisa lebih mudah diakses secara nasional maupun global,” pungkasnya berharap. (*Faq/Wil)