Tim FH UMM Raih Juara Tiga Debat Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari Univesitas Muhammadiyah malang (UMM). Kali ini giliran mahasiwa Fakultas Hukum UMM yang sukses meraih juara tiga dalam kompetisi debat konstitusional tingkat nasional. Adapun kemenangan ini diraih pada pertengahn Februari lalu di Uiversitas Negeri Gorontalo. Salah satu anggota tim, Saiful Risky menilai prestasi ini tak lepas dari dukungan kampus UMM. Para dosen dan seniornya memberikan banyak masukan dan evaluasi. Sehingga mereka akhirnya bisa tahu kekurangan dan memperbaiki dengan cepat. Apalagi ketiganya juga tergabung dalam LSO Komunitas Riset dan Debat FH UMM. “Support dari UMM sangat banyak dan kami bersyukur akan hal itu. Ini juga bukan jalan yang mudah. Sebelum turut serta bersaing di kompetisi nasional, kami harus bersaing di tingkat FH UMM. Mencari siapa yang paling cocok dan memiliki skill agar bisa mengharumkan nama UMM di kancah tersebut,” katanya. Ada sederet topik yang dihadirkan kompetisi debat tersebut. Mulai dari pembahasan terkait jabatan ketua umum partai politik dua periode, pelegalan pernikahan satu kantor, dan teman menarik lainnya. Mau tidak mau, ia dan tim harus banyak membaca dan menganalisis masalah-masalah yang disajikan. “Topiknya menarik untuk dibahas dan didebatkan. Mau tak mau kami harus menyiapkan dasar hukum dan argumen yang jelas. Alhamdulillah bisa berada di posisi ketigia,” katanya. Ia mengatakan, meski harus melewati banyak kesulitan, namun mereka bersyukur bisa ikut bersaing di lomba debat itu. Apalagi ada banyak kenalan baru, ilmu baru, wawasan dan pengalaman baru. Dengan begitu, mereka bisa meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kompetisi debat bisa dijadikan tolak ukur kapasitas dan kapabilitas mahasiswa. Pun dengan proses mengasah ilmu serta tingkat pemahamannya. Kemudian bisa membandingkannya dengan keilmuan mahasiswa atau pemuda dari berbagai kampus se-nusantara. Risky tidak sendiri, piala juara ketiga diraih bersama dengan dua sahabatnya yakni Cintya Mei Puspitasari dan Moh. Riski Fadjar Romadhani. Ia juga mengajak anak muda lain utuk berani berkompetisi. Menuruntya, hal-hal besar terjadi pada mereka yang tidak berhenti percaya, berusaha, belajar, dan bersyukur. Orang yang jatuh dan bangkit lebih kuat dari orang yang tidak pernah mencoba. “Tak perlu malu untuk mencoba. Mahasiswa harus berani maju agar bsia mengetahui seberapa jauh kapabilitasnya. Kalaupun bagus dan berhasil menjadi juara, itu adalah bonus yang luar biasa,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Suka Makanan Pedas? Ini Bahaya dan Cara Mengatasinya ala Dosen UMM

Masyarakat Indonesia banyak yang menyukai makanan pedas, terutama kalangan milenial dan gen Z. Bahkan ada anggapan bahwa makananan akan terasa kurang jika tak ada sambal. Kini, ada banyak makanan pedas yang diolah dengan beragam cara, baik yang mengandung unsur cabai atau merica hingga zat capsaicin yang juga menimbulkan rasa pedas. Fenomena itu menarik perhatian Henik Tri Rahayu, S.Kep. Ns.MS. Ph.D selaku Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan pedas atau cabai sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun  jika dikonsumsi secara berlebihan akan menimbulkan kerugian bagi tubuh. Apabila dikonsumsi dengan takaran yang sesuai, cabai memiliki manfaat sebagai anti inflamasi dan menjadi salah satu sumber vitamin C tertinggi. Sayangnya manfaat cabai tidak bisa diterima oleh semua manusia karena perbedaan kebiasaan makan pedas. “Banyak contoh makanan pedas kekinian yang sering kita temui, misalnya macaroni dengan berbagai macam level. Apabila zat pedas dari makanan ini masuk secara berlebihan ke dalam saluran pencernaan, maka tentu saja bisa merusak pencernaan itu sendiri,” ucap Henik. Lebih lanjut, jika lambung seseorang tidak terbiasa mengonsumsi makanan pedas, akna timbul iritasi yang diawali dengan gejala diare. Kemudian jika iritasi terus menerus berlangsung dan berlebihan, akan menimbulkan ulkus atau luka pada dinding lambung. Bahkan sesekali juga memunculkan sensasi mual hingga muntah. “Zat capsaicin yang ada pada makanan pedas akkan tetap ada di lambung, meskipun makanan sudah menuju ke organ tubuh lainnya. Jadi, apabila zat ini terus menerus menumpuk, maka kemungkinan  bisa merusak pencernaan,” tegasnya. Henik juga memberikan beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan mengonsumsi makanan pedas. Salah satunya dengan mengganti makanan pedas olahan ke cabai yang segar. Ia menjelaskan bahwa cabai segar lebih pedas ketimbang cabai yang sudah dikeringkan. Sehingga tubuh akan lebih cepat merasa cukup dan tidak erus menerus memakannya. “Sementara itu, apabila merasakan pedas yang berlebihan, cara paling efektif untuk meredakannya dengan meminum minuman hangat. Hal itu dikarenakan rasa panas harus dilawan juga dengan panas. Air hangat dinilai lebih cepat menetralisir dibandingkan minuman dingin, sekalipun sudah ditambah dengan gula atau rasa,” katanya. Ia juga berpesan untuk mengurangi konsumsi makanan pedas. Apalagi saat ini makanan-makanan tersebut sudah diolah dengan beragam cara yang campurannya tidak diketahui dan jelas. “Segera kurangi kebiasaan makan makanan pedas demi menjaga kesehatan tubuh kita,” pungkasnya. (nia/wil)

Vokasi UMM Siap Kirim SDM Bidang Konstruksi ke Jepang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin melebarkan kerjasama dengan perusahaan Jepang OS Selnajaya. Hal tersebut terbukti dari penandatanganan kerjasama pada “Seminar Peluang Berkarir di Jepang di Bidang Konstruksi,” yang diadakan oleh Vokasi UMM pada 25 Februari 2023 lalu. Kegiatan yang diadakan secara hybrid tersebut dihadiri oleh ratusan peserta baik dosen, mahasiswa hingga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam kesempatan itu, Project Leader Japan Association for Human Resources, Shikano Naoya mnejelaskan tentang sistem spesified skill worker (SSW) di Jepang. ia menjelaskan bahwa per juni 2022 total penduduk Indonesia di Jepang sebanyak 83,169 orang. Dimana 47% atau 39.177 orang Indonesia di Jepang merupakan pegawai magang dan 11% atau 9.481 orang sebagai SSW. “Sebenarnya, sistem ini dibuat guna membantu permasalahan kekurangan sumber daya manusia (SDM) di Jepang. Yakni dengan menargetkan pekerja yang memiliki kemampuan, pengalaman serta pengetahuan yang cukup di bidangnya masing-masing. Adapun pekerja sebagai SSW memiliki status kependudukannya sendiri,” jelas Shikano. Lebih lanjut Shikano menjelaskan bahwa sejak April 2019, SSW terbag menjadi dua status kependudukan, 1 dan 2. Perbedannya adalah, kependudukan nomor 2 ialah pekerja yang memiliki kemampuan lebih baik ketimbang nomor 1. Mereka juga bisa memperpanjang periode tinggal serta dapat membawa keluarganya ke Jepang. “Adapun SSW di bidang konstruksi terbagi menjadi tiga jenis pekerjaan yaitu teknik sipil, arsitektur, utilitas dan fasilitas. Gaji yang didapat SSW rata-rata sekitar 230.000 yen atau setara dengan 26 juta rupiah per bulan. Namun untuk menjadi SSW, pekerja diwajibkan lulus ujian  bahasa Jepang (Japan Foundation Test) JFT level A2 dan ujian SSW nomor 1,” terang Shikano. Menariknya, turut hadir perwakilan lainnya dari asosiasi konstruksi Jepang sebagai pemateri di seminar tersebut. Mereka adalah Takaishi Tsune yang menjelaskan mengenai bekisting pada konstruksi, Nakamura Shinya yang menjelaskan mengenai besi tulangan, dan Kitaguchi Nobuo yang menjelaskan mengenai pengelasan pada konstruksi dengan tekanan gas. Pada kesempatan itu turut hadir President Director OS Selnajaya Jakarta, Satoshi Miyajiama yang mengatakan bahwa tujuan seminar ini untuk memperbanyak peluang kerjasama di Indonesia, khususnya dengan UMM. Dalam hal ini, Japan Association  Construction for Human Resource (JAC) mempercayakan UMM sebagai mitra dalam proses training dan seleksi untuk SSW. “Saya harap kedatangan JAC ini bisa menambah peluang pekerja Indonesia untuk berkarya di Jepang. Sehingga tujuan utama dari SSW bisa tercapai dengan maksimal,” harap Satoshi. Disisi lain, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM Dr. Tulus Winarsunu, M.Si  menilai bahwa kerjasama ini merupakan pengembangan dari skema yang sudah ada sebelumnya. Sejauh ini, sudah ada 29 perusahan Jepang yang telah berkolaborasi dengan vokasi UMM. “Melalui kerjasama ini, vokasi UMM ingin merubah pandangan orang Indonesia tentang bekerja di luar negeri. Mereka bisa bersaing dengan SDM lainnya selama punya tekad kuat dan belajar dengan baik. Sehingga mampu menjadi profesional yang resmi dan legal,” ungkap Tulus. (zak/wil) Shared:

Dekan FH UMM: Ada Banyak Pelajaran di Kasus Ferdy Sambo

Setelah terkuaknya kasus Kematian Brigadir Joshua, Ferdy Sambo ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tersebut. Hasil tersebut bukan berasal dari proses yang singkat, apalagi ada banyak fakta mengenai kejanggalan yang terjadi. Terkait kasus pembunuhan itu, Dekan Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Tongat SH., M.Hum. turut angkat bicara. Ia menilai bahwa kasus ini belum memasuki babak akhir, justru malah memasuki babak awal. Menurutnya, Ferdy Sambo bisa saja menempuh berbagai upaya hukum untuk meringankan hukuman dan putusan dari hakim. Banyak kesempatan yang bisa ia lakukan. seperti pengajuan banding ke pengadilan tinggi, hak asasi, hingga melakukan peninjauan ulang. Bahkan jika upaya tersebut ditolak, ia masih bisa mengajukan grasi kepada presiden secara langsung. “Memang ada peluang baginya untuk mengajukan banding, namun peluangnya tentu tipis. Hal itu dikarenakan prosesnya yang harus melalui indeks fakti. Sehingga tidak ada cela yang bisa dimasuki lagi,” tegasnya. Tongat, sapaannya, juga membahas beragam faktor yang mempengaruhi hukuman dari pihak pengadilan. Salah satu faktor utamanya adalah ikutnya masyarakat menyaksikan proses persidangan. Pun dengan tidak adanya i’tikad baik dari tersangka untuk membongkar dan menyingkap kebenaran kasus. Terkait hukuman mati, ia juga menjelaskan bahwa dalam sistem pidana, eksekusi mati baru bisa dilakukan jika pengajuan grasi sudah ditolak. Namun Ferdy Sambo bisa saja mengajukan upaya penundaan penegakan keadilan. Hal itu sesuai dan tertuang pada pasal 100 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penundaan jatuhan hukuman mati selama sepuluh tahun. Namun, untuk menggunakan pasal tersebut harus dituang secara eksplisit saat persidangan. Ia juga menilai ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kasus Sambo. Satu di antaranya adalah adanya transparansi proses persidangan dan hakim. Hal ini sekaligus bisa menghapus stigma buruk yang beredar di masyarakat. Putusan hakim memberikan harapan baru bagi masyarakat tentang keadilan yang harus ditegakkan. “Tak akan ada lagi paradigma bahwa hukum itu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Melalui kasus ini pula, muncul titik balik bahwa equality before the law masih bisa diperjuangkan. Tentu dengan catatan bisa dilanjutkan, dilakukan dengan serius serta pengawalan dari masyarakat. Jadikan momen ini sebagai bahan untuk intropeksi diri, khususnya bagi institusi kepolisian agar bisa mengembalikan citra baik di masyarakat,” pungkasnya. (tri/wil)

Dosen Ekos UMM: Biaya Haji Naik, Masyarakat Perlu Sosialisasi dan Transparansi

Kenaikan biaya haji pada awal tahun 2023 ini menyita perhatian sebagian besar masyarakat. Kini biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang awalnya Rp39,8 juta, naik menjadi Rp49,8 juta per jemaah. Sementara biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) berada di kisaran Rp90,05 juta per jamaah. Tidak sedikit masyarakat yang protes dan kecewa atas kebijakan ini. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi (Kaprodi) Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang Dr. Rahmad Hakim, S.HI., M.MA. mengatakan bahwa setiap negara memiliki ketentuan yang berbeda-beda dalam penetapan biaya haji. Dalam Biaya Penyelenggara Ibadah Haji (BPIH) disebutkan jika sistem lama diberlakukan, dikhawatirkan jemaah tidak bisa memperoleh nilai manfaat yang semestinya di tahun-tahun yang akan datang. “Biaya haji ini naik karena subsidinya diturunkan, karena porsinya keliru. Dulu 70 persen dibiayai pemerintah, sementara 30 persen dibebankan pada orang yang akan berhaji. Nah sekarang bengkak karena ditukar, 60 persen bagi orang yang akan haji, sedangkan subsidi pemerintah di angka 40 persen. Ini membuat masyarakat menganggap haji ini menakutkan. Pertama, karena biayanya mahal, lalu waktu tunggunya juga jauh dan lama. Selain itu sisi ketidakpastiannya juga jadi lebih tinggi,” ujar Rahmad. Menurutnya, kebijakan tersebut sah-sah saja karena terkait dengan kebijakan publik. Tetapi yang patut untuk dikritisi adalah pengumumannya yang terkesan mendadak dan spontan. Harusnya ada sosialisasi berkelanjutan karena momentum yang ada kurang tepat. Hal itu tidak lepas dari kondisi pasca Covid-19. Apalagi banyak yang mengalami pemutusan hubungan kerja serta banyaknya harga bahan-bahan pokok yang naik. Selain itu, Rahmad menegaskan bahwa harus ada transparansi dana, karena beberapa waktu lalu muncul wacana bahwa ongkos hadi di Saudi turun sebesar 30%. Untuk mengantisipasi kecurigaan, perlu adanya penjelasan rinci terkait biaya haji. Sehingga masyarakat juga bisa tahu nilai manfaat yang akan diterima serta kepastiannya. Tentu kebiijakan ini memunculkan banyak kekecewaan dari masyarakat. Namun, Rahmad mengingatkan kembali lagi ukuran kemampuan untuk berhaji. Haji hanya dilaksanakan oleh orang-orang dalam kondisi memiliki bekal secara finansial, baik untuk biaya perjalanan maupun biaya keluarga yang ditinggalkan. Pun harus menguasai pengetahuan manasik haji, hati yang ikhlas, sabar, syukur, tawakkal dan rendah hati, serta harus sehat mental dan fisik. “Banyak masyarakat yang merasa keberatan dengan kebijakan tersebut. Tapi jangan khawatir, jika sudah benar-benar dipanggil, maka Allah akan menunjukkan dan memudahkan jalannya,” pungkas Rahmad. (nel/wil)

Workshop Psikologi UMM, Intervensi VR Untuk Terapi Phobia

Campur tangan teknologi dalam segala lini memang tak bisa dihindari lagi. Berbagai metode dikembangan dengan basis teknologi untuk mempermudah manusia melakukan aktivitasnya. Tidak terkecuali di bidang terapi pada pasien. Hal ini juga yang sedang dikembangkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni terapi berbasis virtual reality. Terapi ini bertujuan untuk memudahkan terapi dan penanganan pasien. Maka dari itu, adanya workshop yang berlangsung di Rayz Hotel UMM pada 23 Februari 2023 menjadi langkah awal perkembangan teknologi virtual reality pada dunia psikologi. Seperti kata Adhiyatman Prabowo, S.Psi., M.Psi Kepala Laboratorium Psikologi UMM bahwa wokrshop ini juga mengkaji psychtechnology. Menariknya, inovasi ini akan dikembangkan spesifik pada kasus penderita phobia kucing. “Luaran workshop ini adalah untuk mengembangkan psychotechnology UMM ke arah virtual reality. Seperti yang kita lihat, teknologi masih belum banyak dikembangkan khususnya di daerah Malang,” tegasnya. Terkait phobia kucing yang digunakan secara spesifik, Adhiyatman menjelaskan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang memiliki phobia akan kucing. Denagn begitu, akan ada upaya yang lebih futuristik dalam menanganinya. Adapun workshop itu mendatangkan pakar psychotechnology ternama, Aulia Iskandarsyah, M.Psi., M.Sc., Ph.D. Dalam kajian tersebut, mereka membahas mengenai seberapa jauh capaian dari teknologi untuk dunia psikologi. Menurut Aulia, sapaannya, manusia tidak bisa lepas dari gawai yang ada di tangannya. Maka, sudah seharusnya teknologi menyasar berbagai bdiang, termasuk psikologi. Ia menerangkan bahwa psychotechnology bisa diterapkan pada pengguna umum terkecuali populasi rentan dan di bawah 17 tahun. Maksud populasi rentan adalah mereka yang lansia, anak-anak, dan lain sebagainya. Aulia menyampaikan, bahwa psikologi dapat dikembangkan dalam teknologi virtual reality (VR). Salah satunya dengan mengatur skenario yang bisa dirasakan oleh manusia. Adapun psychotechnology ini bisa diterapkan ke banyak orang. Bahkan pada mereka yang belum didiagnosa memiliki trauma terkait, namun sudah memiliki kecenderungan yang mengarah ke gangguan tersebut. “Nantinya kita bisa melakukan banyak hal. Misalnya seperti quisioner, mengecek masalah fungsi low, moderate atau high-nya, dan lain sebagainya,” tambahnya. Adapun teknologi VR untuk psikologi ini sudah dikembangkan dan saat ini berjalan 80%. Pengerjannya juga sudah dilakukan sejak enam bulan lalu. Salah satu contoh skenarionya adalah menggunakan basic video reality, di mana pengguna diajak untuk melihat secara 360 derajat keadaan yang ditakutinya. Sehingga, dengan pelatihan ini, diharapkan mereka akan menjadi lebih tenang dan relaks. Namun, canggihnya teknologi virtual reality juga mempunyai efek samping bagi penggunannya. Salah satunya adalah migrain yang diakibatkan oleh durasi penggunaan yang terlalu lama. Maka perlu adanya standart operation procedure yang jelas. Sehingga penggunaan VR di dunia psikologi bisa lebih maksimal. (tri/wil)

Dubes Polandia Ajak Wisudawan UMM Lanjut Studi ke Poland

Untuk menjadikan dunia yang lebih baik, manusia harus fokus pada kolaborasi bukan kompetisi. Hal tersebut ditegaskan oleh Duta Besar Polandia untuk Indonesia, HE. Mrs. Beata Stoczynka dalam acara wisuda ke-107 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara wisuda yang dihadiri oleh ribuan wisudawan itu dilaksanakan pada 23 Februari 2023 lalu. Lebih lanjut, duta besar yang akrab dipanggil Beata itu mengatakan bawa Polandia dan Indonesia memiliki beberapa kesamaan. Menurutnya Indonesia adalah negara pemimpin di Asia Tenggara dan negara yang besar bagian dari ASEAN. Begitu pula dengan Polandia yang merupakan bagian dari European Union. “Selain itu, kesamaan lainnya ada pada masyarakatnya. Orang Indonesia sangat ramah dan terbuka kepada orang lain. Oleh sebab itu, selama saya bekerja di Indonesia kurang lebih lima tahun, saya selalu mencoba untuk membuat orang-orang di sekitar saya selalu dekat,” ungkap Beata. Lebih lanjut Beata menyampaikan bahwa kedatangannya ke Kampus Putih yaitu untuk melakukan kerja sama terkait pendidikan. Ia berharap bisa membukakan lebih banyak peluang mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di Polandia. Baik di bidang  kemanusian, teknik maupun kesehatan. Tak lupa ia juga memberikan nasehat kepada para wisudawan. “Hari ini adalah momen yang penting di hidup anda. Kalian harus bangga karena lulus dari kampus  yang memiliki reputasi internasional. Namun ini sebenarnya adalah awal dari perjalananmu, maka jangan pernah berhenti belajar dan berusaha agar bisa memenangkan kompetisi,” tegas Beata. Menurutnya, bahwa pendidikan memang menjadi hal penting. Tapi ada yang lebih penting, yakni sikap menghormati dan menghargai orang lain di manapun berada. Dengan begitu jalan menuju kesuksesan akan dimudahkan. “Saya banyak belajar bagaimana cara toleransi dalam keberagaman dari Indonesia yang memiliki kekuatan pancasila di dalamnya. Saya berharap kalian juga belajar dari hal itu. Sukses untuk kalian semua, semoga mimpi-mimpi anda bisa tercapai,” harap Beata. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. berpesan kepada para wisudawan untuk menjadi pribadi yang sukses dan luar biasa di masa depan. Menurutnya, alumni UMM harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak biasa-biasa saja agar bisa menghadapi dunia yang tidak pasti di luar sana. “Oleh karena itu, jika saudara merasa belum cukup belajarnya dan masih ingin menambah ilmu, kami telah menyiapkan program Center of Excellence (CoE) berbasis bidang studi. Ini menjadi upaya kami untuk melahirkan sumber daya manusia unggul dan profesional,” terang Fauzan mengakhiri. (zak/wil)

Hanif, Wisudawan UMM yang sudah Miliki Bisnis Beromzet Ratusan Juta

Jurusan saat kuliah tidak membatasi Hanif Arfan Himawan untuk mengembangkan potensinya. Wisudawan Fakultas Hukum  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kini telah memiliki bisnis jual beli laptop yang dirintis sejak 2016 lalu. Saat itu, ia masih belajar dan menimba ilmu di UMM. Menariknya, omzet yang diperolehnya cukup tinggi yakni di angka lebih dari 700 juta rupiah tiap bulannya. Hanif, begitu ia kerap disapa, menceritakan, saat awal menjalankan usaha ia ditemani oleh beberapa teman yang membantunya. Mereka juga memiliki usaha masing-masing, ada yang terjun di dunia otomotif, adapula yang di bidang kuliner. Ia juga bergabung dalam organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). “Di sana, saya bertemu banyak pelaku bisnis, mulai dari yang baru membuka usaha hingga mereka yang sudah ahli dalam hal jual beli. Dari situ, saya juga banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman mengenai bagaimana mengembangkan sebuah bisnis. Utamanya di bidang elektronik laptop,” katanya. Bisnisnya juga tidak tiba-tiba menjadi besar. Banyak proses yang harus dilalui. Salah satunya saat menggunakan hasil penjualan laptop ayahnya untuk modal. Beruntung, ayahnya sangat suportif sehingga keuntungan penjualan laptop itu bisa ia gunakan sebagai modal awal, yakni sebesar tiga juta rupiah. Kembali dan mendapat keuntungan. “Apalagi waktu itu saya lihat pasar laptop sangat luas dengan banyaknya kampus dan mahasiswa di Malang. Hal itu semakin mendorong saya untuk terus mengembangkan jual beli laptop ini. Ditambah lagi pada 2016, hanya ada sedikti toko yang fokus berjualan melalui media daring dan market place. Jadi, saya pikir ini peluang yang besar bagi saya,” tegas Hanif. Setelah berjalan selama lebih dari tujuh tahun, kini ia sudah memiliki empat karyawan. Penualannya juga tidak hanya di sekitar Malang saja, tapi juga menyasar pasar di luar Jawa Timur, seperti Jawa tengah, Sulawesi, Maluku, Sumatera hingga Papua. Bahkan ia juga pernah mengirim barang ke luar negeri seperti Selangor, Malaysia. Meski ia bergelut di dunia yang tidak sesuai dengan jurusan kuliah, tapi Hanif masih menggunakan ilmu yang pernah ia dapat. Misalnya saja terkait pasal penadahan yang membuatnya berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya. “Tentu saja saya memperhatikan aspek hukum dalam menjalankan usaha laptop saya ini. Banyak ilmu dari FH UMM yang masih saya ingat dan gunakan sampai saat ini,” tegasnya. Hanif juga merasa bersyukur karena di UMM para mahasiswa didorong untuk mengembangkan potensinya. Sekalipun di luar bidang yang sedang dipelajari. Bahkan Kampus Putih juga menyediakan kelas kewirausahaan bagi mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship. “Lewat bisnis saya ini, saya juga ingin memotivasi para mahasiswa dan anak muda lain untuk memaksimalkan potensi dan peluang. Semua hal itu berawal dari diri sendiri, kalau kita percaya kalau kita bisa, maka kesempatan dan peluang akan terus bermunculan. Saat itulah kita harus memanfaatkannya dengan baik,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

UMM Talks Bahas Jahatnya Insecure bagi Perkembangan Karir

Seiring berkembangnya teknologi informasi, kini ruang ekspresi tidak lagi dibatasi. Sayangnya, hal tersebut menimbulkan efek negatif, termasuk suka membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga muncul rasa rendah diri dan insecure. Hal tersebut kembali dibahas dalam UMM Talks Episode 22 yang mengangkat tema “Jahatnya Insecure untuk Pengembangan Karir Masa Depanmu” bersama Devina Andiany, M.Psi, seorang psikolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun acara ini telah tayang pada 10 Februari lalu di platform YouTube UMM Campus. Devina, sapaan akrbnya, menjelaskan bahwa ada tiga penyebab utama orang merasa insecure. Pertama, yaitu pengalaman ketika dicampakkan dalam suatu fenomena. Sehingga berefek pada rasa percaya diri yang berkurang seiring berjalannya waktu. Kedua, kondisi sosial atau lingkungan sehari-hari yang terus memberikan tekanan yang tinggi. Kemudian yang ketiga berasal dari diri sendiri, yakni perasaan perfeksionis yang berlebih. “Tiga faktor itu menjadi hal yang paling sering dialami oleh anak-anak muda saat ini. Apalagi ditambah dengan pikiran membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Mereka malah akan sulit berkembang karena kecemasan yang berlebih,” katanya. Lebih spesifik, ia menjelaskan bahwa faktor lingkungan terutama keluarga dapat menjadi dua mata pisau. Keluarga bisa menjadi support sistem maupun sumber tekanan bagi individu. Keluarga selayaknya harus menjadi tempat pulang bagi anaknya, baik dalam keadaan susah maupun senang. Keluarga juga harus menjadi tempat di mana anggota keluarga dapat bercerita, khususnya anak. Sayangnya, tak jarang anak enggan pulang karena saat pulang malah mendapatkan tekanan. Pun dengan ucapan yang membandingkan sang anak dengan orang lain. Disampaikan Devina, pada dasarnya insecure merupakan hal yang normal ketika melihat kondisi orang lain. Tidak selalu dipandang negatif selama tidak berlebihan dan menjadi bahan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perempuan yang juga dosen Psikologi UMM ini memaparkan bahwa dalam mengendalikan rasa insecure bisa dimulai dari diri sendiri. Hal itu dikarenakan yang mampu mengubah rasa negarif ke hal positif adalah diri kita sendiri. “Kita juga bisa membantu mereka yang insecure dengan mendengarkan keluh kesah dan segala cerita yang teman ingin sampaikan. Meski remeh, tapi hal itu bisa membantu mereka untuk melepaskan kecemasan yang berlebih,” tegasnya mengakhiri. (haq/wil)

Ini Alumnus UMM yang Sukses jadi Entrepreneur dan Komisaris Perusahaan BUMN

Ali Muthohirin adalah salah satu alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan karir entreprenuer dan pergerakan yang apik. Ali, sapaannya kini tengah menjabat sebagai komisaris independen Adhi Persada Beton. Di samping itu, ia juga memiliki sederet usaha kuliner dan properti. “Motivasi terbesar yang membuat saya di berada si titik ini adalah berbagi kemanfaatan ke sesama,” jelasnya. Usaha yang ia bangun berawal dari niat mulia untuk memberikan lapangan kerja para mahasiswa. Ia yang dulu kesulitan biaya untuk kulia,h tidak ingin orang lain merasakan hal yang serupa. Maka dari itu, munculah berbagai ide usaha yang ia buka. Salah satunya yakni usaha kuliner yang bernama Sambal Genit Resto. Selain mempekerjakan mahasiswa, tarif yang ia tawarkan juga terjangkau. Sehingga para perantau tidak perlu merogoh kocek yang terlalu dalam dan bisa menggunakannya untuk keperlun lain. Pun dengan bisnis properti yang ia bangun. Tidak hanya satu, tapi dua usaha yakni Mangkujoyo Property dan Maharaya Property. Keduanya menjadi bekal Ali untuk menjadi pribadi mandiri dan bertekad membantu sesama. “Biasanya anak-anak mahasiswa kan sering diskusi dengan saya. Dulu, saya hanya bisa kasih masukan saja. Tapi dengan memberikan jalan keluar dan bantuan secara materiil tentu akan lebih bermanfaat buat mereka,” katanya. Ali, begitu ia kerap disapa, juga getol untuk turun ke ruang-ruang publik dan politik. Bahkan ia telah aktif di organisasi pergerakan sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah. “Keputusan saya untuk terjun ke ruang publik berawal dari pikiran bahwa anak muda tidak seharusnya menjadi generasi yang hanya bisa mencerca. Tapi juga harus berkontribusi dan berperan dalam mengambil kebijakan di ranah publik,” kata pria kelahiran Gresik itu. Ditanya mengenai inspirasinya, Ali menyebut nama Moeslim Abdurrahman, seorang intelektual yang juga turut berkontribusi di ranah publik. Ali yang dulu awalnya hanya terjun di dunia intelektual, akhirnya tergerak untuk terjun langsung. Berupaya agar bisa menjadi pihak yang mengambil kebijakan untuk kemanfaatan bersama. Ia bercerita bahwa sejak dulu dirinya memang aktif di wadah-wadah diskusi ilmiah seperti Jenesys, Young Political Leader, PPUT, hingga Tadarus Pemikiran Islam. “Saat tahu sosok Moeslim Abdurahman inilah, saya ingin mengikuti jejaknya. Menjadi cendekiawan sekaligus masuk di dunia politik. Harus bisa dirangkul bersama atau disinergikan,” katanya. Ali juga sempat memberikan pesan bagi para anak muda Indonesia. Di antaranya keikhlasan untuk menebar manfaat dan memiliki tujuan yang jelas serta menggapainya dengan konsistensi. Di samping itu harus mengasah passion masing-masing agar bisa sukses. “Tiap anak muda harus punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang fokus di entrepreneur, ada yang di politik, menjadi akademisi dan lainnya. Hal itu harus dimaksimalkan karena kita adalah masa depan Indonesia. Apalagi anak muda juga memiliki persentase cukup besar dalam aspek hak pilih dalam pemilu nanti, yakni sekitar 40 persenan,” tegasnya mengakhiri. (wil)