5 Dosen UMM Ikuti Program Erasmus ke Polandia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Erasmus baru saja memberangkatkan lima dosen UMM terbang ke Polandia. Melalui program Erasmus Staff Week, lawatan dosen UMM ke Polandia bukan semata-mata untuk kunjungan, tetapi melaksanakan pengajaran sekaligus workshop di Politechnika Lubelska, Lublin, Polandia. Kegiatan tersebut berlangsung pada akhir Juni lalu. Lima dosen tersebut terdiri dari Muhammad Salis Yuniardi, S.Psi, . M.Psi, Ph.D, dan Dr. Iswinarti, M.Si. dari Fakultas Psikologi, Dr. Fien Zulfikarijah, MM. dan Dra. Erna Retno Rahadjeng, M.M. dari Fakultas Ekonomi Bisnis dan satu dosen Fakultas Teknik Iis Siti Aisyah, ST., MT. Ph.D. Salis, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa hari pertama menginjakkan kaki di sana, ia diberi waktu untuk mengajar dan memaparkan psikologi lintas budaya. Ia bersama dosen dari Politechnika Lubelska saling bertukar pikiran dan ide. Utamanya terkait budaya masyarakat Indonesia. “Secara khusus saya menyampaikan materi mengenai dimensi budaya orang Indonesia. Saya menjelaskan menurut kajian psikologi lintas budaya. Di sana, saya juga membicarakan tentang beragam keunggulan budaya di Indonesia, salah satunya mengenai total bahasa yang mencapai 178 bahasa daerah,” ucapnya. Selain mengajar, ia juga mengikuti training yang membahas mengenai pengelolaan perpustakaan dan publikasi. Pun dengan penerbitan karya ilmiah dari para sivitas akademika. Menurutnya, perbedaan antara UMM dan Politechnika Lubelska hanya gaya manajemennya saja. Secara umum, pengelolaannya hampir sama. Selama di Polandia, mereka lebih banyak berbincang mengenai kerjasama. Di sana, ia juga sempat diundang oleh kepala International Relation Office (IRO) Politechnika Lubelska serta bertemu para kepala prodi untuk membahas kerjasama jangka pendek dan jangka panjang dengan Kampus Putih UMM. “Awal Juli kemarin, empat dosen dari Politechnika Lubelska juga datang ke UMM untuk melaksanakan kuliah tamu ke mahasiswa. Dari situ kita juga membicarakan kolaborasi jangkan panjang seperti riset bersama dan juga student exchange untuk mahasiswa UMM,” ungkapnya melanjutkan. Baginya, kunjungan ke Polandia sangat berharga dan memberikan banyak insight baru. Ia bertekad untuk membawa pengetahuan yang sudah ia dapat untuk dikembangkan dengan lebih baik lagi di UMM. “Salah satu yang menarik adalah perencanaan laboratorium. Sebenarnya laboratorium di UMM sudah sangat bagus, namun ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan dan dikembangkan. laboratorium di sana tidak main-main. Ketika kita bicara akademik, maka laboratorium merupakan inti akademik. Kalau kita ingin riset meningkat, maka laboratorium perlu ditingkatkan juga,” tambahnya. Terakhir, ia berharap selepas lawatannya ke Polandia bisa berguna untuk akademik di UMM. Ada tiga bekal yang ia bawa untuk dikembangkan ke UMM, yaitu peningkatan bahasa Inggris bagi seluruh sivitas akademika UMM, pertukaran kegiatan internasional, dan atmosfer riset akademik serta laboratorium. (Ros/Wil)
Mahasiswa Internasional UMM Didorong Pahami Budaya Indonesia

Dalam rangka merekatkan silaturahmi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajak mahasiswa internasionalnya untuk berdiskusi dan makan siang bersama di Rayz hotel UMM pada Selasa (19/7) lalu. Dalam agenda yang d, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengajak mereka untuk tidak hanya belajar dengan baik, tapi juga ikut dalam kegiatan masyarakat di masing-masing tempat tinggal. Pun dengan pengetahuan terkait budaya Indonesia, Khususnya Malang. “Nanti kantor International Relation Office (IRO) UMM bisa mengajak saudara-saudara untuk melakukan semacam studi tour budaya. Bisa mengunjungi objek-objek budaya seperti sanggar tari, topeng Malangan atau yang lainnya. Jadi saudara tidak hanya fokus belajar akademik, tapi juga mengetahui kultur Indonesia yang melimpah,” tegasnya. Fauzan juga menjelaskan terkait program UMM PASTI yang terus digalakkan Kampus Putih. Ia yakin, para mahasiswa internasional ini bisa mnejalani perkuliahan dengan baik dan lulus tepat waktu. Pun dengan menjadi seorang lulusan yang mandiri. Caranya yakni membekali diri dengan kemampuan akademik serta skill leadership yang mumpuni. Ia berharap agar proses belajar yang ada di UMM bisa membawa mahasiswa internasional ke masa depan yang lebih baik. Pun sebagai jalan untuk mengembangkan kerjasama internasional yang lebih luas. Utamanya melalui para mahasiswa asing serta alumni yang sudah berkarya di berbagai negara. Pada kesempatan yang sama, Kepala IRO UMM Dr. Latipun, M.Kes. melaporkan bahwa ada lebih dari 120 mahasiswa asing yang sedang menempuh studi sarjana, masgiter dan doktoral di UMM. 30 di antaranya sedang berada di Indonesia, sementara sisanya masih berkuliah secara daring. Adapun mereka berasal dari 30an negara seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Afganistan dan lainnya. Latipun mendorong para mahasiswa internasional untuk bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Dimulai dengan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) kemudian dilanjutkan dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. “Untuk sarjana, harus melalui satu tahun BIPA lalu empat tahun proses studi. Sementara untuk pendidikan magister juga harus ikut BIPA dilanjutkan dua tahun masa studi. Pun dengan doktoral yang ikut BIPA selama satu tahun dan mampu menyelesaikan studinya selama 3,5 tahun,” ungkap Latipun. Pihaknya juga selalu siap untuk membantu mahasiswa asing, utamanya terkait keimigrasian. Ia juga berharap mereka tidak takut untuk berkonsultasi atau bertanya jika terjadi sesuatu. Pun dengan komitmen untuk bisa belajar dan menyelesaikan studinya di Kampus Putih UMM. Hal menarik disampaikan oleh mahasiswa asing asal Iran, Farzaneh Gholamhossein. Menurutnya, UMM merupakan universitas besar yang teroganisir dengan sangat baik. Beberapa temannya bahkan menyarankannya untuk belajar di UMM karena reputasi internasional yang dimilikinya. Salah satunya raihan Universitas Islam Terbaik Dunia yang diraih Kampus Putih beberapa waktu lalu. “Ini juga menjadi kesempatan yang bagus untuk saya belajar banyak hal tentang Indonesia. Terutama budayanya yang melimpah. Tentu, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini dengan sia-sia. Saya akan sering berkunjung ke beberapa objek menarik yang ada di sini. Pun dengan tempat-tempat menarik lain di Indonesia,” tuturnya. (*wil)
Menwa UMM Lestarikan Budaya Lewat Lomba Permainan Tradisional
Kompetisi unik dilangsungkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada pertengahan Juli lalu. Mereka mengadakan lomba permainan tradisional bagi para mahasiswa sebagai cara merawat dan melestarikan budaya. Lomba tersebut menyedot animo tinggi karena berbeda dengan lomba-lomba biasanya. Alvin Hetri Awan selaku ketua UKM Menwa UMM menyampaikan bahwa pihaknya sengaja memilih lomba permainan tradisional. Ia ingin memberikan warna baru di rangkaian panjang kompetisi Rektor Cup tahun ini. Apalagi melihat perkembangan permainan tradisional yang beberapa di antaranya sudah menjadi sebuah olahraga yang dilombakan. “Tujuan khususnya yakni ingin mengenalkan kembali permainan tradisional kepada sivitas akademika UMM dan ingin melestarikan permainan tradisonal. Bahkan permainan ini sudah masuk di Pekan Olahraga Nasional (PON). Saya rasa hal ini sangat potensial untuk dikembangkan di Kampus Putih UMM,” kata Alvin. Senada dengan yang diucapkan Alvin, Akbar Adityhya Rustandi selamu ketua pelaksana menjelaskan bahwa Menwa secara khusus ingin mewadahi mereka yang punya kemampuan khusus di bidang permainan tradisional. Akbar, sapaan akrabnya menilai bahwa tak ada kegiatan tanpa kendala. Pun dengan lomba tersebut. Saat persiapan, tim Menwa harus melakukan riset terlebih dahulu terkait perihal cara main dan peraturannya. Dengan begitu, perlombaan bisa dilaksanakan dengan lancar dan profesional sesuai prosedur. “Banyak peserta yang tidak begitu paham dengan cara main dan peraturannya. Jadi, beberapa kali kami juga memberikan pengarahan terlebih dahulu sebelum lomba dimulai. Alhamdulillah mereka menikmati dna merasa senang. Sekalipun kalah, mereka mengaku bahwa permainan tersebut begitu seru. Salah satu peserta lomba egrang, Muhammad Bilal Rusady mengapresiasi perlombaan unik semacam ini. Ia melihat gempuran dunia digital membuat anak muda lupa dengan permainan tradisonal dan budaya-budaya yang sebelumnya sering dilakukan. Maka melalui lomba Rector Cup ini, mahasiswa bisa berkontribusi menjadi pengingat untuk generasi muda. Utamanya terkait kultur dan budaya. “Saya syok karena baru kali ini menemukan perlombaan tradisional. Saya tentu ingin hal-hal seperti ini bisa terus dilakukan agar menjadi sebuah trend kembali. Kalau dilihat, jarang sekali ada anak-anak yang bermain permainan tradisional. Mungkin selanjutnya bisa menambah di kategori lain seperti lomba hadang, dagongan, gobak sodor dan sumpit,” harapnya mengakhiri. (Ros/Wil)
Diploma Keuangan Perbankan UMM Asah Mahasiswa Multitalenta

Profesi keuangan di perbankan masih terbuka lebar dan tersedia banyak peluang. Hal itu disampaikan oleh Neny Desi Ariani, praktisi perbankan sekaligus dewan juri dalam acara Public Speaking and Service Excellent Competition 2022 pada pertengahan Juli lalu. Adapun ajang tersebut merupakan inisiasi dari oleh jurusan Diploma 3 (D3) Keuangan Perbankan Direktorat Vokasi universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui kompteisi itu, Kampus Putih UMM ingin mengasah keterampilan mahasiswa. Utamanya di bdiang keahlian profesi keuangan perbankan. Ada tujuh kategori keahlian perbankan yang dilombakan. Mulai dari speech, master of ceremony, debate dan marketing. Dua terakhir yakni kategori grooming dan customer service. Neny, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa sampai saat ini keluhan nasabah atas layanan keuangan perbankan sangat tinggi. Oleh karenanya, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) dengan keahlian profesi keuangan perbankan yang baik. Sehingga keluhan yang ada bisa turun dan melancarkan proses yang ada. “Dalam keahlian profesi keuangan perbankan, dibutuhkan beberapa kemampuan selain faktor jenjang pendidikan yang dimiliki. Beberapa keahlian tersebut meliputi ketangkasan, ketepatan, kecepatan dan ketelitian. Keempat hal itu menjadi skill pendukung yang sangat bermanfaat. Apalagi saat menangani nasabah,” ujarnya melanjutkan. Sementara itu, Kepala Laboratorium Keuangan UMM, Eris Tri Kurniawati, SE., MM.Ak., menjelaskan bahwa ajang ini diikuti ratusan peserta yang berasal dari mahasiswa UMM. Setelah mendapatkan pemenang di masing-masing kategori, mereka akan dikirim untuk bersaing di kompetisi di tingkat yang lebih tinggi, baik regional atau nasional. “Meski acara ini sudah dua tahun tidak berjalan karena pandemi, namun antusiasme mahasiswa sangat tinggi. Mereka bahkan menunggu-nunggu kapan Public Speaking and Service Excellent Competition kembali dilaksanakan,” ungkapnya. Lebih lanjut Eris, begitu ia disapa, mengatakan bahwa keahlian profesi keuangan perbankan bisa terbangun bila setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk belajar dan berlatih. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti acara perlombaan maupun praktikum di kelas. “Keikutsertaan para mahasiswa akan mempermudah dalam mendapat pekerjaan dan profesi di dunia keuangan perbankan. Oleh karenanya, saya berharap para mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik setelah mengikuti acara Public Speaking and Service Excellent Competition ini,” ujarnya mengakhiri. (Wil)
CoE Kelas Profesional Unggas UMM Lahirkan Mahasiswa Lulus Tepat Waktu dan Mandiri

Dalam rangka mencapai program UMM PASTI dengan memastikan lulus tepat waktu 3,5-4 tahun dan mandiri, maka Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menjalankan program-program konkret. Salah satu program yang digalakkan adalah Center of Excellence (CoE) sejak tahun 2017. Program CoE ini dipelopori oleh Program Studi Peternakan melalui CoE Kelas Profesional Unggas. Hingga saat ini, sudah ada tiga angkatan yang dihasilkan dengan kompetensi dan skill yang mumpuni di bidang perunggasan, khususnya ayam petelur. Koordinator CoE Unggas Dr. Ir. Abdul Malik, MP. menjelaskan bahwa Kelas Profesional Unggas ini sudah dijalankan sejak lama. Bahkan sebelum Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) meluncurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Hingga saat ini sudah berjalan tiga batch, yang masing-masing batch terdiri dari 40 mahasiswa. Khusus untuk batch ke-3, sebanyak 40 mahasiswa berhasil lulus tepat waktu secara bersamaan, yaitu 3,5-4 tahun. Total, sudah ada 120 mahasiswa peserta Kelas Profesional Unggas yang lulus dan memiliki skill sesuai dengan kebutuhan kualifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI)”, kata Abdul Malik. Para mahasiswa sekolah unggas akan mengikuti kelas bersama dosen praktisi dari DUDI selama enam bulan. Kemudian dilanjutkan dengan magang selama enam bulan pula di perusahaan-perusahaan bergengsi. Mereka juga bebas skripsi karena di akhir magang nanti ada proses uji kompetensi yang bisa dijadikan tugas akhir. “Sampai saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang bekerja sama dalam pengembangan sekolah unggas, yaitu PT. Jatinom Indah Agri, Charoen Pokphand Indonesia, Sanbe, Mensana, SKM, Big Dutchman, dan lain-lain. Saya bisa jamin mereka yang lulus dari sekolah unggas sudah memiliki kompetensi yang mumpuni. Masa tunggu dari kelulusan sampai mendapatkan kerja juga akan lebih pendek dan segera bisa terserap dunia kerja. Mereka bisa masuk di perusahaan atau bahkan bisa membangun usahanya sendiri,” tambah Malik. Setelah satu semester mengikuti kelas langsung dari DUDI, para peserta juga berkesempatan langsung terjun ke lapangan untuk magang selama enam bulan. Pada proses ini, mereka akan diberi tanggung jawab untuk mengatur 30.000 hingga 50.000 ayam dan 10-20 karyawan penjaga kandang. Para peserta akan mengelola kandang mulai dari persiapan hingga nantinya panen sehingga bisa mendapatkan ilmu yang utuh. “Kalau magang biasa itu kan hanya sebentar dan ilmunya juga setengah-setengah. Berbeda dengan magang CoE ini yang komprehensif. Adapun kegiatan selama mengikut kelas ini bisa dikonversikan ke mata kuliah mahasiswa. 20 SKS untuk materi di kelas dan 20 SKS untuk magang selama enam bulan di perusahaan. Jadi memang CoE ini tidak mengganggu proses perkuliahan mahasiswa, malah membantu mereka untuk lebih cepat lulus,” tegasnya. Menariknya, pada akhir program, para peserta akan mendapatkan banyak benefit. Mulai dari bebas skripsi hingga sertifikat DUDI yang akan memudahkan karir mereka ke depan. Untuk mendapatkan keduanya, peserta diharuskan lulus dari uji kompetensi yang terdiri dari uji skripsi selama satu jam dan uji kompetensi selama dua jam. “Pengujinya juga dihadirkan langsung dari perwakilan perusahaan sehingga benar-benar diuji secara ketat. Para peserta juga bisa bebas skripsi dan mempercepat kelulusan. Dengan begitu, program UMM PASTI bisa tercapai yakni mahasiswa pasti lulus tepat waktu selama 3,5-4 tahun,” ungkap Malik. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan terkait program UMM PASTI. program yang digalakkan sejak 2017 lalu itu berupaya memastikan kelulusan tepat waktu mahasiswa serta memastikan kemandirian mereka. Dua tujuan ini dapat dicapai dengan kegiatan-kegiatan konkret seperti CoE dan workshop-workshop lainnya. “Semoga berbagai terobosan dan inovasi CoE ini bisa memastikan kelulusan mahasiswa. Pun dengan beragam bekal agar bisa menjadi lulusan yang mandiri. Didukung dengan ratusan kerjasama dengan pihak DUDI, saya yakin dapat memberikan percepatan skill bagi mahasiswa serta peluang yang besar dalam keterserapan alumni di perusahaan-perusahaan yang ada,” tegas Fauzan mengakhiri. (*/wil)
Citayam Fashion Week Viral, Begini Penjelasan Dosen Sosiologi UMM

Citayam Fashion Week menjadi perbincangan yang hangat di kalangan pengguna sosial media akhir-akhir ini. Fenomena mengenai para remaja berpakaian nyentrik yang memadati kawasan Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat ini bahkan menarik minat media internasional seperti Tokyo Fashion. Melihat hal itu, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos, . M.Si, memberikan penjelasannya. Luluk mengatakan bahwa kepopuleran tersebut menuai banyak pro dan kontra. Sebagian masyarakat mengapresiasi cara kreatif para remaja mengekspresikan diri melalui fashion. Sebagian lainnya menilai bahwa aksi para remaja ini mengganggu dan membuat kumuh kawasan Sudirman. Menurutnya, Citayam Fashion Week merupakan fenomena yang wajar. Hal ini didasarkan pada naluri manusia sebagai makluk sosial untuk membentuk kelompok sesuai karakteristik dan tujuan tertentu. “Komunitas ini terbentuk oleh beberapa anak muda yang tingggal di daerah Sudirman, Citayam, Bojong Gede, dan Depok. Sebagai daerah penyangga ibu kota para anak muda ini memiliki kreativitas yang lebih di bidang fashion. Saya melihat bahwa keberadaan Citayam Fashion Week ini merupakan sarana para anak muda untuk mengungkapkan diri mereka secara jujur melalui sebuah fashion,” ungkap Kepala Program Studi (Kaprodi) Sosiologi tersebut. Selain perkembangan tren fashion, Luluk sapaan akrabnya menjelaskan bahwa perkembangan sosial media juga turut mempengaruhi keberadaan tren ini, utamanya TikTok. Para remaja di Citayam Fashion Week ini memanfaatkan sosial media untuk menjadi terkenal dan mendapatkan uang. Hal ini juga melahirkan banyak seleb Instagram dan seleb TikTok seperti Jeje, Bonge, Kurma, Roy,dan lainnya. “Masifnya keberadaan sosial media mempengarui cara para remaja untuk berkreasi dan Citayam Fahion Week menjadi wadah baru untuk mereka. Selain itu, dengan munculnya komunitas ini juga menjadi sebuah wacana baru bahwa fashion yang selama ini identik dengan kalangan atas, juga bisa dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah,” kata Luluk. Lebih lanjut, Luluk menjabarkan beberapa dampak positif lain dari kemunculan tren ini yaitu para remaja menjadi lebih memahami kehidupan bersosial. Kreatifitas para remaja sebagai content creator di media sosial juga meningkat. Selain itu, keberadaan para remaja ini juga meningkatkan penghasilan para Pedangan Kali Lima (PKL) yang berada di sekitar Sudirman. “Selain dampak positif, tentu saja hal ini juga menimbulkan beberapa dampak negatif seperti budaya buang sampah sembarangan dan cara berpakaian yg dinilai terlalu terbuka,” ujar dosen kelahiran Jombang itu. Luluk menjelaskan bahwa untuk melakukan pengurangan dampak negatif, perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak, utamanya pemerintah. Hal-hal yang bisa di lakukan adalah dengan mengedukasi, mengarahkan, dan pendampingan kepada para remaja agar komunitas ini tetap berlangsung namun dengan minim dampak buruk. “Secara keseluruhan saya memandang bahwa tren ini sebagai hal yang positif. Saya berharap Citayam Fashion Week dapat menjadi komunitas yang dikenal secara positif tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia Internasional. Saya juga berharap komunitas ini dapat menunjukkan sebuah budaya fashion baru yang memiliki karakter sendiri,” pungkasnya mengakhiri. (Syi/Wil)
Ahmad Fajrul, Mahasiswa Fikes UMM Juara Badminton Bhayangkara Cup

Setiap orang memiliki potensi yang akan menjadi sebuah keunggulan jika dilatih dengan baik. Hal tersebut juga dilakukan oleh Ahmad Fajrul Alim, mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas Kesetahan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia sukses mengalahlan puluhan peserta dan meraih Juara 2 Bhayangkara Cup yang diselenggarakan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan pada awal Juli lalu. Fajrul, sapaan akrabnya menceritakan bahwa kemenangan ini melanjutkan rententan pretasiny di badminton selama berkuliah di UMM. Sebelumnya, ia sukses meraih Juara 2 Ganda Putra di Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Jawa Timur 2019. Dalam persiapannya, ia memang sudah berlatih tiap minggu tiga kali. Kemudian intensitasnya ia tambah jadi tiap hari. “Saya dan teman-teman memang rutin berlatih. Tapi dua minggu sebelum lomba, pelatih memberi arahan lebih baik di fisik maupun teknik,” tegasnya. Adapun Fajrul telah meminati badminton sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak SMP hingga kuliah ia terus latihan dan meraih banyak prestasi dari tingkat regional hingga nasional. Hal tersebut terus berlanjut pada saat masuk perkuliahan. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badminton UMM ini kembali menjelaskan ada beberapa faktor kendala di setiap turnamen. Ia bahkan masih sering gugup dan tidak tenang sebelum bertanding. Tetapi, saat sudah di lapangan, ketegangan itu perlahan hilang dan berubah menjadi lebih fokus. “Gugup memang jadi penyakit saya selama ini. Bahkan tidak hanya badminton, tapi di banyak kegiatan. Namun seiring berjalan waktu, saya bisa mulai fokus dan seringkali memenangkan pertandingan,” ucapnya. Mahasiswa asal Banjarmasin itu berharap skill dan fisiknya bisa terus berkembang. Pemahaman akan strategi juga bisa ia kuasai sehingga dapat digunakan untuk mengalahkan lawan-lawannya. “Saya tentu masih haus belajar banyak aspek tentang badminton. Perlu banyak perbaikan dan kemajuan. Di samping itu, saya tentu harus bisa menyeimbangkan akademik dan non-akademik. Untuk teman-teman lain, tetap gali dan tajamkan potensi diri. Saya yakin prestasi juga akan mengikuri,” pungkasnya. (haq/wil)
UMM Launching Buku Syariah dan HAM Hasil Riset Belasan Tahun

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meluncurkan buku berjudul Sharia and Human Right pada Sabtu (16/7) lalu. Buku hasil riset selama belasan tahun itu berisi tulisan dari para pakar dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Indonesia, Norwegia, Malaysia dan sederet lainnya. Lena Larsen dari University of Oslo, Norwegia mengatakan bahwa buku ini merupakan kulminasi dari proyek penelitian terkait keselarasan dan ketidaklarasan antara dua sistem di ranah moral, hukum, dan politik dunia. Yaitu syariah atau hukum Islam dan Hak Asasi Manusia. Lena yang juga berkontribusi tulisan dalam buku cetakan Mizan tersebut menilai bahwa karya ini dapat menjadi pondasi dan dasar untuk bahan mengajar. Tidak hanya terbatas di UMM maupun Indonesia saja, tapi juga bisa melewati batas-batas negara. “Saya merasa sangat senang dan bahagia dalam proses penulisan hingga akhirnya menjadi sebuah buku. Saat saya mengunggah foto buku ini, banyak teman-teman dan peneliti dari Malaysia hingga Inggris yang tertarik untuk mendapatkannya. Apalagi nanti akan ada bentuk digital copy yang semakin memudahkan masyarakat mendapatkannya,” tambahnya. Turut hadir dalam launchig tersebut Nelly Van Door-Harder dari Wake Forest University USA dan Vrije Universiteit Amsterdam. Ia menilai isi dari buku itu sangat menarik, bahkan ada beberapa konten yang mirip dengan apa yang ia ajarkan di universitas. Menurutnya, selama ini banyak yang menganggap Syariah sebagai hal yang brutal padahal mereka belum mempelajarinya. Maka, buku ini menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk lebih memahami Syariah dan HAM. Nelly, sapaan akrabnya menegaskan bahwa buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi pemeluk Islam. Namun bisa juga dibaca dan dipelajari oleh non muslim sehingga bisa saling mengerti dan meminimalisir kesalahpahaman. “Setelah membaca buku ini, kita bisa lebih mengetahui Syariah dan HAM. Dengan begitu, kita bisa menciptakan harmoni di tengah masyarakat saat ini,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. senang karena setelah sekian lama tak bisa berkolaborasi secara langsung karena Covid, kini UMM bisa mengundang para pakar dan meluncurkan buku tersebut. Ia mengatakan bahwa sebelum pandemi, Kampus Putih UMM secara rutin menyelenggarakan agenda-agenda yang mengkaji HAM dan Syariah. Terakhir yakni pada akhir 2019 lalu. “Tentu kami senang bisa kembali berdiskusi lagi serta meluncurkan buku hasil proyek selama 11 tahun. Semoga bisa berkolaborasi di program-program maupun proyek lain di masa depan,” katanya mengakhiri. (wil)
PPG UMM Cetak Guru Persiapkan SDM Masa Depan

Mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) bukan hanya sekadar mendapatkan sertifikat dan formalitas saja. Tapi juga upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dalam menentukan masa depan Indonesia. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. dalam orientasi akademik PPG UMM, Senin (18/7) lalu. Pada kesempatan itu pula, PPG UMM juga melaunching 16 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) buah karya kolaborasi para mahasiswa dan dosen. Sederet HKI tersebut berupa poster, metode serta lembar kerja peserta didik. Ini menjadi bukti PPG Kampus Putih untuk terus berinovasi dan mengembangkan para mahasiwanya. Fauzan menilai bahwa sistem PPG yang ada memiliki tujuan untuk mengantarkan peserta agar memiliki kualifikasi yang tinggi. Pun dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan begitu, guru bisa meningkatkan kualitas SDM melalui pembelajaran. Utamanya dalam menyongsong bonus demografi yang dimulai pada 2030 nanti dan Indonesia emas di 2045 mendatang. “Suadara-saudara harus mampu memahami era di 20 tahun ke depan. Akan jadi seperti apa dunia kita nanti. Ini harus jadi bahan perenungan kita bersama sehingga kita mampu memberikan inovasi dan perubahan signifikan. Mau tidak mau kita juga harus berubah seiring perubahan zaman,” tegas Fauzan. Ia menegaskan bahwa program PPG ini harus bisa membentuk guru yang memiliki mindset bahwa pendidikan itu dinamis. Akan selalu berubah dan menyesuaikan dengan era yang ada. Menurutnya, investasi paling utama adalah investasi pendidikan, karena kualitas SDM akan menentukan warna peradaban yang akan dicapai Indonesia. Adapun mahasiswa PPG UMM dalam jabatan 2022 kategori I prodi PPG yang mencapai 945 orang. 35 di antaranya dari bdiang bahasa Indonesia, 35 bahaa Inggris, dan 35 PKN, dan sebanyak 840 dari bidang pendidikan guru sekolah dasar. Ratusan mahasiswa tersebut berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Terkait tingkat kelulusan, beberapa tahun belakangan PPG UMM berhasil mencapai lebih dari 85% yang berhasil lulus dari program ini. Sementara itu, Koordinator Pokja Inovasi dan Transformasi Asesmen PPG Ferry Maulana Putra, S.Pd. M.Ed. menjelaskan bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mendorong peserta didik agar aktif dalam mengembangkan potensinya. Maka perang seorang guru sangatlah signifikan atas upaya tersebut. “Maka, seorang guru harus mampu menjadi pendidik profesional yang mengajar, mendidik, membinbing, mengarahkan, melatih, menilai hingga mengevaluasi peserta didik. Harapannya, akan terlahir anak-anak muda pemangku tongkat yang kompeten di masa depan,” tuturnya. Fery, sapaan akrabnya mengatakan bahwa strategi utama Kemdikbud ialah membentuk sekolah-sekolah yang ada menjadi sekolah penggerak yang diisi oleh guru penggerak. Ada beberapa program utama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Di antaranya transformasi kepemimpinan pendidikan dan pengemabngan ekosistem belajar guru di setiap provinsi. “Di samping itu juga dengan mengupayakan pemberdayaan komunitas pendidikan secara gotong royong dan regulasi tata kelola SDM baik. Saya berharap proses PPG ini bisa menjadi salah satu alasan agar bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (wil)
Gaet Kings College London, UMM Perkuat Program CoE

Jaringan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus meluas. Kali ini, Kampus Putih UMM terima kunjungan dari tim King’s College London (KCL), Inggris pada Jumat (6/7) lalu. Kunjungan ini juga mempertegas komitmen UMM untuk menjadi universitas kelas dunia yang melahirkan hal-hal bermanfaat untuk memajukan masyarakat. Deputy Vice President Global Business Development KCL Helen Bailey merasa senang bisa mengunjungi berbagai universitas di Indonesia, khususnya UMM. Menurutnya, melalui proyek yang didanai oleh British Council ini, bisa memberikan berbagai opsi dan kesempatan dalam membangun kerjasama. Terutama kolaborasi dalam bidang-bidang yang potensial seperti pendidikan dan ekonomi. Dalam pertemuan tersebut, tim KCL, UMM dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari membahas mengenai berbagai peluang kerjasama. Tidak hanya terbatas pada pendidikan, tapi juga kesehatan. Helen, sapaan akrabnya mengatakan bahwa bidang teknik dan digital menjadi hal yang sangat mungkin dikerjasamakan. “Saya rasa kita bisa mengembangkan hal-hal terkait fintech maupun data science dengan baik. Bisa juga diadakan sederet short course, pengembangan kurikulum, dan bahkan pertukaran sivitas akademika. Dengan diskusi yang lebih panjang, saya yakin akan tercipta program yang meyakinkan seperti summerschool maupun joint research,” tambahnya. Helen menilai bahwa fasilitas dan kualitas UMM sangat impresif. Lingkungan pendidikan yang memadai serta kepuasan mahasiswa yang terlihat tinggi. Ia juga mengapreasiasi beragam inovasi yang ditelurkan Kampus Putih UMM, salah satunya Center of Excellence (CoE). Pun dengan keramahan yang ia terima, tidak hanya dari pejabat maupun pegawainya tapi juga dari para mahasiswanya. Ia juga menilai bahwa berbagai perbedaan yang ada merupakan sebuah hal yang menarik. Dari situ, akan muncul keingintahuan yang tinggi dari keduanya. Bagaimana perbedaan kultur, pola pikir, dan model solusi bisa berjalan beriringan dan akhirnya menciptakan sebuah inovasi solutif yang bermanfaat. “Menurut saya ada beberapa kata yang bisa mewakili UMM yakni inovatif, tak terduga, ramah, komunitas dan juga kampus yang hijau. Saya sangat menyukai kampus yang tidak hanya memiliki pembelajaran yang menarik dan sivitas akademika yang antusias, tapi juga kampus yang dihiasi dengan banyak tumbuhan seperti UMM ini,” ucapnya. Sampai saat ini, UMM telah memiliki lebih dari 2.600 kerjasama, termasuk kerjasama internasional yang tersebar di berbagai benua. Ada Erasmus Mundus di benua eropa yang mencakup sederet universitas seperti Universidad de Murcia Spanyol, Wrocalw University Polandia, Universidade Do Minho Portugel, dan lainnya. Adapula kerjasama di benua Amerika Selatan seperti Universidad Nacional de Colombia hingga Universidade Regional de Blumenau (FURB) Brazil. Kolaborasi serupa juga dimiliki UMM di kawasan Asia, Amerika Utara, hingga Afrika. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menilai bahwa pertemuan ini menjadi langkah strategis bagi masing-masing pihak. Ia ingin agar bisa segera ditindaklanjuti sehingga bisa mendorong akselerasi kemajuan perguruan tinggi, baik UMM maupun KCL. Apalagi melihat potensi kedua universitas yang sama-sama luar biasa, terutama di level internasional. “Pertemuan ini menjadi awal dari rentetan panjang program-program yang bisa dikolaborasikan. Apalagi sampai saat ini UMM sudah memiliki jaringan kerjasama internasional di lebih dari 35 negara. Tentu KCL akan menjadi salah satu partner yang bagus dalam mengembangkan berbagai kegiatan internasional,” ungkap Fauzan. Fauzan melihat, kunjungan KCL tersebut bisa memperkuat inovasi yang sudah UMM laksanakan. Utamanya CoE dan Center for Future of Work (CFW) yang diharapkan bisa melahirkan generasi masa depan yang memiliki skill mumpuni. Ia yakin kerjasama internasional akan memiliki efek yang signifikan pada lebih dari 20 CoE yang sudah diresmikan. Begitupun dengan CFW yang menyediakan kelas-kelas beroreintesi pekerjaan masa depan. “Semoga segera ada implikasi dan aplikasi konkret setelah pertemuan ini. Bagaimana kedua belah pihak bisa saling membantu dalam rangka memajukan dan mencapai target masing-masing,” harapnya mengakhiri. (wil)