Mahasiswa UMM Juara Voli Pantai Porprov Jatim

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali cetak prestasi di bidang olahraga. Kali ini datang dari mahasiswa Prodi Farmasi, Ahmad Wibisana Dharmawan. Ia berhasi meraih juara 2 perorangan dan juara 3 beregu putra pada cabang olahraga voli pantai dalam kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Adapun kejuaran ini dilaksanaan bertempat di Watersport Jasalindo Situbondo pada akhir Juni hingga awal Juli lalu. Wibi sapaan akrabnya merasa sangat bangga bisa mewakili UMM dan Malang pada kejuaraan Porprov tahun ini. Apalag ajang ini menjadi Porprov terakhirnya. ”Jadi ada batas usia untuk mengikuti Proprov. Tentu, saya tidak akan melupakan berbagai memori di kejuaraan ini. Sudah banyak hal yang telah saya korbankan untuk mengikuti dan memenangkan kejuaran ini. Baik itu waktu, tenaga, bahkan pikiran,”ungkap Wibi. Wibi menjelaskan persiapan yang paling utama sebelum perlombaan adalah menjaga kondisi tubuh agar selalu fit. Proses latihan rutin yang dilakukannya kurang lebih enam bulan. Intensitasnya semakin tinggi pada tiga bulan terakhir. Wibi juga beberapa kali mengalami cedera selama proses latihan. Apalagi ia juga harus membagi waktu antara latihan dan kuliah. “Tiga bulan sebelum perlombaan, saya sempat mendapat cedera patah tulang kaki. Kemudian sebulan setelahnya saya juga mengalami cedera dislokasi ligamen pergelangan tangan kanan. Kedua cedera itu benar-benar menjadi kendala terbesar sebelum perlombaan. Bukan hanya harus mengembalikan kesehatan fisik, tapi juga harus bisa mengatasi trauma karena cedera,” tegasnya. Beruntung, berkat dukungan penuh teman-teman, kerabat dan orang tua serta UMM, Wibi mampu bangkit dengan baik. Bahkan bisa mempersembahkan juara. Ia menilai, doa orang tua adalah salah satu alasan kenapa dia bisa berprestasi. Motivasi yang diberikan orang tua juga membuatnya lebih kuat dan berhasil bangkit. Terkait dunia voli, ia bercerita bahwa telah menyukai voli sejak sekolah dasar. Awalnya terpaksa karena diminta orang tua. Namun lama kelamaan malah menjadi kegiatan favoritnya. Sebelumnya, Wibi juga sukses meraih berbagai juara. Mulai dari juara 4 Kejuaraan Provinsi Remaja Jatim 2018 hingga Juara 2 pada kejuaraan yang sama. Lebih lanjut, Wibi mengatakan perlombaan kemarin menjadi pertandingan yang sangat ditunggu-tunggu para atlet karena sudah lama vakum karena pandemi.  “Jadi saya memang ikut di duan kategori, yakni perorangan dan beregu. Keduanya terasa berbeda, terutama dari segi suasananya ya. Pertandingan lebih ketat di perorangan karena beberapa daerah memang kuat diperorangan,” ungkap mahasiswa asli Malang itu. Ia berpesan pada anak muda untuk selalu semangat. Boleh berhenti untuk beristirahat tapi tidak untuk terus berjuang. Ia percaya bahwa tiap orang punya bakat yang bisa disalurkan dna dimaksimalkan. Lebih-lebih jika bisa memanfaatkannya untuk kebaikan masyarakat. (zak/wil)

Jadi Universitas Mitra, UMM Dampingi SPMI 14 PTS Lain

Untuk menjaga mutu suatu perguruan tinggi, penetapan dan pengelolahan standart harus dilakukan secara  konsisten dan berkelanjutan. Halitu lah yang selalu di upayakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mejaga mutu pendidikannya. Berkat kerja keras yang selama ini dibangun, UMM terpilih menjadi mitra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk melakukan pembinaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) kepada perguruan tinggi terakreditasi Baik maupun C. Kepala Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) UMM Dr. Ainur Rofieq, M.Kes., menjelaskan bahwa selain UMM, ada tujuh perguruan tinggi terakreditasi A dan unggul lain yang menjadi mitra. Kedelapan universitas ini akan mendampingi kurang lebih 14 PTS untuk pembinaan SPMI. “Selain terakreditasi Baik maupun C, 14 PTS yang akan dibina ini ditunjuk langsung oleh Kemendikbudristek  karena belum pernah mengupload dokumen bukti implementasi SPMI di perguruan tingginya pada SIM SPMI Dikti,” ungkap dosen pendidikan biologi tersebut. Lebih lanjut, Rofieq sapaan akrabnya menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang akan dilakukan universitas mitra selama masa pendampingan. Pertama adalah mendampingi 14 universitas untuk menyusun dokumen utama SPMI. Selanjutnya adalah mendampingi pengelolaan survei tingkat kepuasan para stakeholder terhadap universitas terkait. Tahap selanjutnya adalah penyampaian best practice implementasi SPMI dari masing-masing universitas mitra. “Terakhir, kami akan melakukan sharing pelaksanaan manajemen Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan Standar Dikti yang biasa disebut sebagai PPEPP. Program ini akan berlangsung sejak awal bulan Juli sampai bulan November 2022 mendatang,” kata Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan (BAN-PT) itu. Terkait terpilihnya UMM sebagai mitra SPMI, dosen kelahiran 1965 ini mengungkapkan rasa syukurnya karena implementasi SPMI UMM telah dinilai baik oleh Kemendikbudristek sehingga dijadikan mitra. Ia berharap apa yang dilakukan ini akan membantu lebih banyak perguruan tinggi yang mengalami kendala. “Saya juga berharap setiap perguruan tinggi yang menjadi mitra UMM akan memiliki dokumen, pengelolaan, dan implementasi SPMI yang sesuai dengan harapan serta ketentuan Kemendikbudristek. Selain itu, saya juga berharap kedepan perguruan tinggi mitra akan dimudahkan untuk mengikuti proses akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN-PT ataupun oleh Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM),” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa HI UMM Lulus lewat Program Ekuivalensi Artikel Jurnal

Skripsi acapkali menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Oleh karena itu Fakutas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UMM memberikan alternatif mahasiswanya untuk lulus tanpa skripsi. Hal tersebut telah direalisasikan oleh Prodi Hubungan Internasional yang berhasil meluluskan puluhan mahasiswanya melalui program ekuivalensi artikel ilmiah jurnal. Kepala Prodi HI UMM Syaprin Zahidi mengatakan program ekuivalensi artikel ilmiah menjadi tugas akhir atau skripsi merupakan bentuk usaha untuk mendorong mahasiswa lulus tepat waktu. Dimana, tujuan dari program ini yaitu untuk memberikan alternatif kepada mahasiswa untuk lulus melalui jalur akademik lain. “Artikel ilmiah yang dapat disetarakan dengan skripsi haruslah melalui proses bimbingan dengan dosen, review oleh reviewer jurnal, revisi dan tahapan editorial yang memadai sesuai dengan standar dan aturan yang berlaku. Artikel yang berhasil terbit juga harus melalui proses ujian yang ketat oleh dosen penguji,” tegas Syaprin. Syaprin mengatakan semua kategori jurnal dapat diajukan sebagai pengganti penulisan skripsi. Mulai jurnal internasional, jurnal nasional Sinta 1 hingga Sinta 6, bahkan jurnal ber-ISSN non-Sinta. Lebih lanjut, Syaprin juga menjelaskan bahwa ada jalur lain selain program ekuivalensi artikel yang bisa mahasiswa coba. Salah satunya melalui program Kampus Merdeka. Prodi Hubungan Internasional juga telah melakukan ekuivalensi ke dalam nilai mata kuliah bagi mahasiswa yang memiliki pengalaman internasional dan nasional. Hal tersebut merupakan upaya Prodi untuk mempertahankan Akreditasi Unggul yang telah diraih. Di samping itu juga sebagai langkah mempersiapkan akreditasi internasional. Di sisi lain, salah satu mahasiswa yang berhasil mengambil program ini yaitu Oktavia Widya Kumalasari, lulusan Prodi Hubungan Internasional yang lulus pada Wisuda Periode II 2022 lalu. Ia berhasil menyelesaikan studi dengan menulis artikel di Jurnal Sinta 4.  “Lulus melalui konversi publikasi artikel lebih efisien dalam hal tenaga dan waktu. Karena kita tidak perlu menulis sebanyak menulis skripsi hingga ratusan halaman. Namun bukan berarti kita tidak menguasai penelitian dan topik yang kita tulis, karena proses tetap harus melalui bimbingan dengan dosen dan melewati proses review serta revisi,” ungkap Okta mengakhiri. (*/zak/wil)

Sambangi Caruban, Mobil KaCa UMM Bagi Keceriaan hingga Sunat Massal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sambangi Caruban dan berbagi keceriaan melalui kegiatan Mobil Kamis Membaca (KaCa) pada Rabu (13/7) lalu. Tidak hanya menyediakan bacaan dan mengajak anak-anak bermain games, UMM juga menyediakan pengobatan gratis, konsultasi kesehatan dan sunat massal bagi warga Caruban hasil kerjasama dengan Rumah Sakit Umum(RSU) UMM. Salah satu tim Mobil KaCa UMM Maharina Novi, M.Ikom. mengatakan bahwa acara ini memang menjadi agenda rutin Kampus Putih. Sebelumnya, mereka juga menyambangi berbagai kota dan kabupaten seperti Blitar, Kediri, Trenggalek dan lainnya. Ini juga menjadi upaya dalam memberikan edukasi serta menghibur anak-anak. “Ada hampir 600an buku yang bisa dibaca. Mulai dari dongeng, cerita bergambar, novel bahkan juga keislaman. Besar harapan kami, dengan datangnya mobil KaCa ini bisa meningkatkan minat dan literasi membaca generasi muda. Permainan yang disiapkan juga bertujuan untuk membangun mental dan memupuk kerjasama,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua tim kesehatan RS UMM dr. Wildan Firmansyah mengatakan bahwa sudah ada tim yang membantu warga untuk konsultasi kesehatan. Begitupun juga dengan pengobatan gratis yang diberikan pada lebih dari 150 warga. Menariknya, RS UMM juga melangsungkan sunat massal gratis bagi anak-anak Caruban. Terhitung, ada belasan anak yang hadir dan disunat secara gratis. Wildan, sapaan akrabnya menegaskan bahwa agenda ini menjadi salah satu cara syiar yang dilakukan Muhammadiyah. “Alhamdulillah, niat kami disambut baik oleh masyarakat. Banyak yang datang dan bertanya tentang kesehatan. Pun dengan orang tua yang membawa anak laki-lakinya untuk melakukan sunat gratis. Semua berjalan baik dan semoga bisa memberikan manfaat baik bagi sesama,” pungkasnya. Antusiasme tinggi ditunjukkan warga sekitar. Salah satunya Said Abdullah yang mengantarkan anaknya untuk sunat. Menurutnya kegiatan ini sangat bermanfaat mengingat biaya sunat yang kini mencapai 800 ribu hingga satu juta rupiah. Ia merasa terbantu dengan adanya sunat massal yang dilaksanakan UMM. “Tadi juga sempat mengobrol dengan orang tua lain. Mereka menyambut baik acara bermanfaat seperti ini. Mungkin hal ini bisa juga dilakukan di lokasi-lokasi lain,” harap Said. Kedatangan tim UMM ke Caruban, Madiun ini juga menjadi salah satu rentetan kegiatan peresmian Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Caruban oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. pada Kamis (14/7). Turut hadir Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta pengurus Muhammadiyah Jawa Timur, Madiun dan sederet cabang serta ranting. (wil)

UMM Gaet Toyo Jewellery and Craft, Bangun CoE Perhiasan dan Mineral

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggaet industri untuk meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusannya. Terbaru, UMM bekerjasama dengan Toyo Jewellery and Craft dalam mengembangkan Center of Excellence (CoE) Mineral dan Perhiasan pada Selasa (13/7) lalu. Sekolah unggulan ini menjadi salah satu dari puluhan CoE yang sudah berdiri dan terlaksana di UMM. Adapun Toyo Jewellery and Craft merupakan perusahaan yang berlokasi di Surabaya dengan sederet cabang. Perusahaan ini memproduksi perhiasan dan aksesoris dengan style dan kualitas terbaik. Dibuat oleh pengrajin pilihan, pasar konsumennya juga luas, yakni lokal hingga internasional. Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si. dari pihak UMM menjelaskan bahwa Kampus Putih senantiasa mengembangkan dan mencari peluang yang bagus. Utamanya untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. “Akan ada sederet fasilitas yang akan disediakan CoE ini. Mulai dari ruang workshop hingga laboratorium pengolahan mineral dan perhiasan,” tambahnya. Yudi, sapaan akrabnya mengatakan bahwa sekolah unggulan ini juga akan menyediakan dan membangun museum gemologi. Dengan begitu, para peserta dan mahasiswa bisa memahami terkait batu, permata alami, dan hasil pekerjaannya. Hingga akhirnya nanti bisa meningkatkan minat mahasiswa bahkan alumni untuk mendalami bidang tersebut. Menariknya, kedua belah pihak juga akan membuat galeri mineral dan perhiasan untuk menambah khazanah pengetahuan dan wawasan. “Ada banyak agenda yang sudah kami canangkan. Kami juga menyiapkan seminar tentang bidang ini, kemudian juga shortcourse serta workshop. Semoga sekolah unggulan ini bisa melahirkan alumni yang memahami perhiasan dan mineral dengan baik serta bisa memanfaatkannnya,” tegas Yudi. Di sisi lain, Suyoto selaku Direktur Utama Toyo Jewellery and Craft menilai bahwa sekolah unggulan yang dicetuskan UMM ini adalah inovasi yang baik. Menurutnya, para peserta yang ikut di CoE perhiasan dan mineral nanti pasti memiliki skill yang cocok dengan apa yang dibutuhkan industri. Maka, ini menjadi Langkah yang strategis dan menguntungkan untuk kedua belah pihak, baik bagi pihak industri maupun perguruan tinggi. “Tujuan Kerjasama ini tentu berusaha untuk peningkatan mutu mahasiswa dan alumni agar bisa menghadapi tantangan persaingan kerja yang semakin sengit. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat bagi banyak orang,” tambahnya. Sampai saat ini, UMM sudah memiliki lebih dari 20 CoE Sekolah Unggulan yang bergerak di berbagai bidang. Mulai dari sekolah produksi kokoa, sekolah unggas, sekolah udang, sekolah digital, dan lain sebagainya.  Adapun sekolah-sekolah ini menjadi upaya UMM untuk melahirkan generasi dengan skill terbaik sehingga mampu bersaing dengan SDM-SDM lain, baik dari dalam maupun luar negeri. (wil)

Mahasiswa UMM Jadi Duta Banyuwangi 2022

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum. Kali ini, prestasi datang dari ujung provinsi Jawa Timur, yaitu kabupaten Banyuwangi. Arifi Isqak Nurfian, Mahasiswa program studi (prodi) Ilmu Keperawat UMM berhasil menjadi Wakil 1 Thulik Banyuwangi 2022. Keberhasilan tersebut ia raih di ajang Banyuwangi Youth Festival 2022 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Arifi mengatakan bahwa semua berawal dari keinginannya untuk menggali dan memaksimalkan potensi diri. Selain itu juga sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Banyuwangi. “Sebagai generasi muda, saya tentu punya semangat untuk berkontribuai bagi daerah khususnya meningkatkan pariwisata untuk pihak luar,” ujarnya. Ia menjelaskan jika proses seleksi Duta Banyuwangi sangat ketat dan ladar. Dimulai dengan pendaftaran, tes tulis, tes wiraga dan tes wawancara ia ikuti dari Mei hingga Juni.  Setelah lolos sepuluh besar, ia dikarantina kurang lebih selama dua minggu di Disbudpar Banyuwangi untuk menentukan tiga besar. Selama proses itu pula ia belajar mengenai sejarah, kebudayaan dan pariwisata Banyuwangi. Selama mengikuti karantina, Arifi sempat kuwalahan dalam aspek menari. Apalagi ciri khas duta Banyuwangi adalah kemampuan menari yang bagus. Apalagi selama ini ia hobi berolahraga yang membuat tubuhnya lebih kaku. “Saya sendiri masih awam dengan menari. Jadi awal-awal gerakan saya seperti roboto dan kaku. Saya bahkan harus berlatih ekstra untuk belajar tari di waktu-waktu luang,” ungkap Arifi. Ia mengaku bahwa banyak persiapan yang ia lakukan untuk menunjang kualitas dirinya. Menyiapkan mental, fisik dan materi adalah beberapa di antaranya. Ia bahkan harus memaksa diri untuk terus belajar banyak hal, meskipun sudah lelah dan suntuk. Hal itu dilakukan agar ia bisa lancar dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Apalagi ia harus tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa. Mahasiswa asli Banyuwangi itu mengatakan jika peran UMM sangat besar selama proses seleksi. “Terutama kepala prodi yang memberikan dukungan dan izin dispensasi. Teman-teman dan dosen juga memberikan semangat dan solusi. Apabila dispensasi tidak diberikan, mungkin saya akan sangat kuwalahan,” terangnya. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda untuk tidak rendah diri. Mereka harus beranggapan bahwa semuanya mungkin selama tetap berusaha dan berdoa. Ia mendorong pemuda untuk terus menggali diri dan menggunakannya untuk kebaikan masyarakat. “Jangan sampai ada kata minder. Apapun keadaannya harus tetap berusaha dan berpikir positif serta optimis. Sebab sejatinya kita melangkah tiap hari bagaikan kertas kosong, yang mana kita harus selalu menulis goresan-goresan di atasnya menggunakan tinta,” pungkasnya. (ros/wil)

Satgas UMM Ajari Peternak Sapi Kecamatan Tumpang Atasi PMK

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak dengan sigap dalam membantu para peternak sapi yang menghadapi virus penyakit mulut dan kuku (PMK). Di antara usahanya yakni dengan mengirimkan tim satgas PMK ke beberapa daerah, salah satunya ke Desa Jeru, Kecamatan Tumpang pada Senin (11/7) lalu. Puluhan warga Jeru yang bermata pencaharian sebagai peternak sapi mengikuti penyuluhan tersebut sampai akhir dan berkonsultasi. Tim Satgas PMK UMM Ali Mahmud, S.Pt. M.Pt. meminta agar para peternak tidak merasa panik. Ia menjelaskan bahwa wabah ini tidak hanya menyerang Malang, tapi seluruh daerah di Indonesia. “Saya juga punya sanak saudara dan kerabat yang sapinya sakit hingga akhirnya mati. Momen ini memang berat, tapi ada beberapa langkah yang bisa bapak ibu lakukan untuk mengantisipasi dan merawat hewan ternak yang terjangkit PMK,” tegasnya. Ali, sapaan akrabnya menuturkan ada empat langkah yang bisa dilakukan oleh para peternak. Dimulai dengan deteksi mandiri. Menurutnya, ada beberapa ciri jika sapi sudah terkena virus PMK yakni air liur yang berlebihan, matanya lesu, pupil kurang baik karena tidak mau minum dan akhirnya dehidrasi. Peternak juga bisa memperhatikan bau yang ada di kandang karena sapi yang terkena PMK memiliki bau yang khas. Kemudian, langkah kedua yakni dengan penanganan dehidrasi dengan mencekoki cairan. Bisa juga dengan dicontang atau digelonggong. Pun dengan pemberian betadine atau obat biru di mulut sapi yang sakit serta mengobati kuku-kuku sapi yang terluka. Menurutnya, merawat sapi yang sakit PMK memang harus dilakukan dengan telaten dan rutin. “Paling tidak harus sering memberisihkan mulut sapi yang luka atau penuh nanah. Bisa menggunakan campuran bahan-bahan alami seperti air rebusan daun sirih. Kalau memiliki akses ke obat-obatan, bapak ibu juga bisa memberikan obat yang sesuai. Lalu langkah selanjutnya yakni penanganan medis dan membentuk tim kecil agar lebih mudah merawat sapi-sapi yang sakit,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S. juga menjelaskan bahwa PMK merupakan salah satu penyakit ternak yang ganas dan mudah menular. Tetapi peternak tidak perlu khawatir karena PMK nyatanya bisa disembuhkan. Namun pengobatannya tidak bisa hanya dilakukan sekali. Lili mengatakan bahwa virus PMK tidak tahan dengan asam, maka peternak bisa memberikan vitamin C. Virus itu juga tidak tahan basa sehingga bisa menyemprotkan air garam ke mulut dan kuku yang luka. “Bapak dan ibu bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah atau yang mudah didapat. Tetapi paling tidak sudah punya persediaan desinfektan dan vitamin,” tambahnya. Lili juga memberikan cara membuat desinfektan alami. Yakni dengan menggunakan daun sirih atau juga daun buah ceri. Berdasarkan pengamatannnya, dua bahan alami ini bisa digunakan dengan baik sebagai desinfektan alami. “Nanti jika ada proses vaksinasi, bapak dan ibu jangan menolak. Vaksin akan membuat ternak kita lebih kuat dan memiliki antibodi. Kita juga bisa meningkatkannya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada ternak yang kita miliki,” tambah Lili. Adapun Kepada Desa Jeru, Ahmad Saiful Hadi, berterimakasih karena UMM mau datang dan memberikan penyuluhan. Selama ini, belum ada yang memberikan penjelasan rinci tentang virus PMK cara-cara mandiri menanganinya. “Sejauh yang saya tahu, di desa sekitar juga belum ada penyuluhan semacam ini. Tentu ini sangat membantu para peternak sapi yang kebingungan dan awam tentang cara penanganan sapi terjangkit PMK,” tambahnya. Ia berharap para peternak sapi di Jeru bsia memanfaatkan pertemuan ini dengan maksimal. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya dapat membantu mereka dalam mengatasi virus PMK. Ia tidak ingin para warga diam saja dan akhirnya tetap tidak tahu langkah-langkah yang harus dilakukan. “Semoga agenda ini menjadi awal upaya dalma mengatasi virus PMK di Tumpang, utamanya Desa Jeru. Mungkin nanti pihak UMM bisa mengirimkan tim dokter atau juga mahasiswa dalam membantu peternak merawat dan menjaga kondisi sapi agar bisa lebih prima dan sehat. Sekali lagi kami berterimakasih banyak tim Satgas PMK UMM bisa datang,” pungkasnya. (wil)

Prodi HKI UMM Beri Cara Bangun Keluarga Kekinian

Keluarga bukan hanya dipimpin oleh seorang ayah, begitupun dengan urusan mendidik yang bukan menjadi beban ibu saja. Tetapi keduanya harus saling bahu membahu membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., P.hD. dalam sebuah Talkshow Keluarga Kekinian. Adapun acara ini diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kamis (7/7) lalu. Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Republik Indonesia (RI) itu menjelaskan bahwa saat ini, ibu masih menjadi pihak yang berkontribusi banyak dalam urusan mendidik anak. Sedangkan ayah sibuk pergi mencari nafkah. Padahal menurutnya, seorang anak memerlukan kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembangnya. “Tidak harus semua urusan rumah tangga dan mendidik anak diserahkan ke ibu. Harus ada campur tangan ayah sehingga bisa membangun hubungan hangat di antara anggota keluarga,” ucapnya. Di samping itu, ia juga menjelaskan bebarapa permasalahan keluarga kontemporer. Salah satunya tingginya gugatan cerai yang ada. Berdasarkan penelitiannya, banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di Indonesia. Di antaranya ketikdakharmonisan dalam keluarga, masih terbelenggu oleh budaya lama dan ancaman baru teknologi digital. Dengan perkembangan teknologi digital yang semakin maju, bukan berarti masalah akan hilang. Justru malah memunculkan masalah baru bagi keluarga masa kini. Mulai dari perundungan yang makin masif, pelecehan di media sosial, kecanduan, penipuan dan sederet lainnya. “Perkembangan teknologi bukan hanya memunculkan solusi dan cara baru, tetapi juga memunculkan problem baru. Coba kita lihat, bagaimana kini kedekatan orang tua dan anak terasa kurang dan malah lebih fokus pada gawainya masing-masing,” paparnya. Belum lagi adanya pandemi yang menambah beban dan masalah. Dapat dilihat dari beban pendidikan yang memberatkan ibu karena harus memahami semua mata pelajaran. Apalagi jika ia bekerja. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga juga terus meningkat 85% untuk perempuan dan 10% untuk laki-laki. Pun dengan naiknya persentase pernikahan anak di bawah umur. “Budaya patriarki di Indonesia belum bisa hilang. Masih banyak sang ibu memikul beban yang berat, hal ini masih terjadi karena kebanyakan laki-laki berpikir kodratnya hanya mencari nafkah, sedangkan perempuan menjadi ibu rumah tangga. Mindset ini perlu diubah, keduanya harus saling membantu agar keluarga yang dibangun menjadi lebih baik,” imbuhnya. Pada akhir pemaparannya, Alim memberikan tips untuk mengembalikan spirit berkeluarga yang sakinah. Salah satunya adalah dengan membuat fleksibel peran dari seorang ayah atau ibu sehingga bisa saling menutupi kekurangan dalam berkeluarga. Kemudian juga mampu menciptakan lingkungan yang ayaman sehingga dapat mencinptakan konsep baiti jannati. Menjadikan rumah sebagai hunian yang baik untuk kesehatan jasmania maupun rohani. Terakhir mampu memahami hobbi dan kesukaan setiap anggota keluarga yang ada. Sementara itu, Pradana Boy ZTF, MA., Ph.D. selaku pemateri kedua menjelaskan terkait kondisi keluarga masa kini yang memiliki banyak tantangan. Misalnya saja pandangan keluarga akan gaji istri yang lebih tinggi ketimbang suami. Pun dengan keluarga berjarak atau long distance marriage (LDM) dan sederet lainnya. Perubahan sosial juga mengubah perilaku masyarakat dalam berkeluargnya. Misalnya saja para orang tua yang kini lebih mementingkan dan fokus pada karir. Sementara anak-anaknya dititipkan. Meski sebagian menggapnya bukan masalah, tapi banyak keluarga yang harus menghadapi tantangan tersebut. “Apalagi perubahan sosial itu diiringi juga dengan perkembangan teknologi yang mengubah kebiasaan masyarakat. Pun dengan pemahaman ideologi baru. Maka, pemahaman ba

Informatika UMM Kembangkan Artificial Intelligence di Bidang Batik

Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap mengembangkan teknologi Artificial Intelligence (AI) di bidang batik. Hal itu diperkuat dengan kunjungan prodi ke Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad dan Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian Indonesia, Yogyakarta. Agenda dan diskusi itu berlangsung pada akhir Juni lalu. Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.Cs selaku Ketua Prodi Informatika UMM menjelaskan alasan pihaknya memilih batik untuk dikembangan ke dunia AI. Menurutnya, batik merupakan budaya asli Indonesia yang berasal dari perpaduan seni dan teknologi para leluhur bangsa. Batik juga telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. “Jadi tak ada salahnya kami mengembangkan AI di bidang batik ini. Apalagi . Apalagi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) secara resmi mengakui batik masuk ke dalam daftar representatif budaya tak-benda warisan manusia,” tambahnya. Terkait tujuan kunjungan ke PPBI, Galih, sapaan akrabnya mengatakan pihaknya ingin merintis kemitraan yang nantinya akan mengumpulan dataset untuk kebutuhan pengembangan AI. Tidak hanya untuk AI, data set ini juga akan digunakan untuk kegiatan pendidikan, pembelejaran di perkuliahan atau juga riset terkait batik. Lebih lanjut, PPBI Sekar jagad juga menyambut baik tawaran kemitraan dari Prodi Informatika UMM. Bahkan ada beberapa rencana kerja yang bisa segera dilakukan kolaborasi. Di antaranya dengan proses digitalisasi buku batik yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Galih menambahkan bahwa tujuan yang sama juga diemban saat datang ke BBKB Kementerian Perindustrian Indonesia. Mereka juga ingin lebih mengenal produk teknologi dari BBKB serta data set batik yang nantinya bisa digunakan untuk penyusunan AI yang lebih baik. Adapun beberapa kolaborasi yang bisa dilakukan adalah penelitian, magang, pengembangan data set AI yang nantinya bisa digunakan untuk riset atau proyek yang lebih mumpuni. Disampaikan Galih, BBKB saat ini telah memiliki aplikasi di bidang batik yakni Batik Analyzer dan Nadin. Aplikasi pertama digunakan untuk mengklasifikasi jenis batik tulis, cap, print, dan lain sebagainya. Sedangkan aplikasi Nadin diperuntukan untuk pencocokan warna atau color matching dari bahan pewarna alami, yang akan digunakan sebagai pewarna batik. “Berangkat dari hal ini, kunjungan ini membuka peluang para mahasiswa Informatika UMM untuk ikut serta dalam pengembangan aplikasi-aplikasi BBKB. Harapannya mereka bisa menambah pengalaman dan kompetensi mahasiswa serta memberikan inovasi solutif dalam pengembangan AI batik,” ucap Galih. (Wil)

Pujon Hill UMM Gelar Edukasi Kopi dan Hutan

Hal menarik dilakukan oleh Pujon Hill Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menggelar edukasi kopi dan hutan. Agenda yang dilaksanakan pada awal Juli lalu itu berusaha menyampaikan pengetahuan baru terkait kopi sekaligus memberikan alternatif sumber ekonomi bagi warga sekitar. Acara ini juga mendatangkan pemateri dari petani lokal Pujon serta pertunjukan langsung barista yang mengolah kopi menjadi minuman menarik. Salah seorang anggota tim UMM, Tatag Mutaqin, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa tim Kampus Putih UMM ini tidak hanya dari dosen tapi juga para mahasiswa. Kedua elemen tersebut tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) tematik. Tatag, sapaan akrabnya mengatakan bahwa budidaya kopi belum menjadi mata pencaharian utama masyarakat Pujon. Padahal potensinya cukup baik dan bisa dikembangkan lebih lanjut. “Sayang kalau potensi kopi ini tidak dimaksimalkan. Maka dari itu, kami ingin mengajak warga untuk lebih dalam mengetahui seluk beluk perkopian. Mulai dari budidayanya hingga memasarkannya. Ini juga menjadi usaha membantu petani desa untuk memperkenalkan Kopi hasil dari pertanian yang terletak di Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang,” ungkapnya menambahkan. Lebih lanjut, Tatag mengatakan bahwa ketinggian tanah di kecamatan Pujon sangat bagus dan memadai untuk dijadikan lahan pertanian kopi. Uniknya, Kopi Pujon juga pernah menjadi perwakilan kopi dari Indonesia dalam ajang Athens Coffee Festival di Yunani pada tahun lalu. Dengan berbagai keunggulan itu, tim UMM akhirnya ingin melakukan berbagai pembinaan. Terutama dalam rangka mendorong industri kopi di Pujon. Asyiknya, sederet acara tersebut senantiasa ditemani dengan live music yang ditampilkan oleh Morning Station. Pun dengan demo pembuatan kopi yang dilakukan oleh para barista yang hadir. “Selain memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat, kami juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membantu mereka untuk mencari alternatif sumber ekonomi lain. Apalagi di tengah kondisi yang tidak menguntungkan karena wabah PMK. Semoga upaya edukasi ini bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi yang hadir serta menjadi alternatif penghasilan lain,” ucapnya mengakhiri. (Wil)