Semarak Idul Adha Green Qurban UMM

Hal menarik tampak di proses kurban yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (9/7) lalu. Tak ada penggunaan plastik dalam distribusi karena Kampus Putih menerapkan Green Qurban UMM. Pun dengan upaya meminimalisir proses-proses yang mencemari lingkungan. Ketua panitia Idul Kurban UMM M. Arif Zuhri, Lc. M.HI. menuturkan bahwa pihaknya sengaja berupaya memulai green Qurban UMM. Salah satunya dengan penggunaan besek sebagai ganti plastik sebagai tempat distribusi daging. “Konsep ini memang ingin kamu mulai sebagai bentuk implementasi etika lingkungan. Dengan begitu, kita tetap bisa berkurban seperti biasa dan tidak mencemari lingkungan sekitar,” tambahnya. Arif, begitu ia kerap disapa, melanjutkan ada empat sapi dan enam ekos kambing yang dikurbankan di kampus III UMM. Sementara di kampus II UMM ada satu ekor sapi dan dua ekor kambing. Adapun daging yang ada dibagikan ke banyak pihak. Mulai dari para pegawai Kampus Putih, unit bisnis hingga masyarakat sekitar yang membutuhkan. Arif menegaskan bahwa pihaknya juga sudah memberikan satu ekor sapi hidup ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kota Malang. “Di samping itu kami juga berbagi dengan menyerahkan kambing ke Lapas Laki-laki. Tak lupa juga ke wilayah-wilayah yang membutuhkan di Malang Selatan dan sekitar UMM,” katanya. Pada proses kurban tersebut, Arif juga mengajak para mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) dan beasiswa yatim. Hal itu dilkukan agar para mahasiswa mendapatkan pengalaman menarik dalam distribusi hewan kurban. Sehingga nantinya saat terjun ke masyarakat, mereka tidak kebingungan dan sigap melaksanakannya Terkait hewan kurban, UMM memastikan bahwa sapi dan kambing yang ada sehat dari berbagai penyakit. Hal itu ditegaskan oleh pendamping tim kesehatan hewan kurban UMM Mahmud, S.Pt. M.Pt. Menurutnya, semua hewan kurban UMM sudah diperiksa dengan teliti. Pada saat pembelian, pihaknya juga membawa tim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Adapula surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang menjadi salah satu aspek dalam melihat keadaan hewan kurban. Baik itu sapi maupun kambing. “Sapi dan kambing ini sudah dinyatakan bebas dari cacing hati, antraks, dan bahkan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Saat dipotong dan dilihat, semua jeroan, hati, hingga paru juga bersih dan sehat. Jadi memang benar-benar bebas dari unsur-unsur bakterial dan parasit,” ungkap Ali mengakhiri. (wil)
Khutbah Idul Adha UMM: Kurban Miliki Nilai Religius dan Sosial

Kurban tidak hanya memiliki nilai religiusitas saja, tapi juga makna sosial yang dalam. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. pada khutbah Idul Adha di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (9/7) lalu. Pada momen ini, Syamsul mengatakan bahwa umat muslim tidak boleh menganggapnya sebagai ritual ibadah semata. Lebih dari itu juga bertujuan untuk memperkokoh iman dan memantapkan integrasi spiritual dan moral. Sementara tujuan sosial dari kurban ialah menumbuhkan cinta solidaritas dan penerimaan terhadap orang lain. Bagaimana umat muslim mau mengorbankan diri sendiri untuk kemaslahatan bersama. “Rasulullah pernah bersabda bawah tidak sempurna keimanan seseorang sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri. Kalau kita lihat, perintah pelaksanaan kurban di surat Alkautsar juga disandingkan dengan kata salat. Berarti, ritual ibadah saja masih belum cukup. Perlu adanya kebijakan keterlibatan sosial di masyarakat,” katanya. Syamsul, sapaan akrabnya melanjutkan bahwa meski peradaban Islam sudah berumur hampir 1500 tahun, namun belum ada sistem penanggalan yang satu. Hal ini tidak jarang mengakibatkan perbedaan tanggal untuk beribadah. Seperti awal puasa, waktu salat Idul Fitri hingga Idul Adha. “Hal ini terjadi bukan hanya karena perbedaan pendapat fiqh saja. Sebagian menganut rukyah, sebagian lainnya menganut hisab. Lebih jauh juga terjadi karena faktor alam itu sendiri seperti letak geografis. Semakin ke timur, semakin kecil kemungkinan rukyah. Sebaliknya, semakin ke barat semakin besar pula peluang untuk rukyah,” tambahnya. Menurutnya, secara teknis sistem penanggalan bukan tidak bisa disatukan. Namun ada perbedaan lain yakni terkait pandangan persatuan tanggal. Ada yang menekankan persatuan secara lokal, adapula yang menekankan persatuan penanggalan secara global. Syamsul mengatakan bahwa penyatuan ini memang membutuhkan waktu perenungan yang tidak singkat. Maka, masyarakat harus bijak menanggapinya dengan baik. Tidak ada pilihan lain selain meingkatkan toleransi antar umat beragama. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan bahwa Idul Adha akan terus datang setiap tahun dan tak akan berubah. Yang dituntut untuk berubah adalah umat muslim. Salah satunya dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, hal itu akan membuat hidup dan keimanan seorang muslim bisa lebih dinamis. Tidak terjebak di wilayah statis. “Mari kita petik banyak pelajaran dari kisah Ibrahim dan Ismail. Yakni tentang pengorbananan yang tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga saja. Tapi juga untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa,” ungkapnya mengakhiri. (wil)
UMM Bentuk Satgas PMK, Pastikan Kesehatan Hewan Kurban

Kesehatan hewan kurban menjadi hal krusial dalam perayaan Idul Adha. Maka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan langkah konkret dengan menurunkan tim satuan tugas (Satgas) Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak. Salah satu tugas tim ini adalah memastikan bahwa hewan yang akan disembelih sehat dan tidak berbahaya bagi umat. Ketua satgas PMK UMM Prof. Dr. drh. Lili Halizar, M.S. mengatakan bahwa pihaknya menerima beberapa permintaan pengawasan dalam pelaksanaan kurban. Mulai dari daerah Sengkaling hingga Kabupaten Lumajang. Lili, sapaan akrabnya juga telah menyiapkan peralatan, termasuk obat-obatan dan vitamin yang akan diberikan kepada hewan ternak maupun hewan kurban. “Selain dosen, kami juga akan dibantu oleh beberapa mahasiswa dalam upaya memastikan kesehatan hewan kurban yang akan disembelih. Dengan begitu, para masyarakat bisa lebih tenang dan mendapatkan edukasi yang lebih baik terkait virus PMK ini,” ungkapnya. Satgas UMM juga akan segera terjun ke daerah lain di Kabupaten Malang dan juga Lumajang. Lili, sapaan akrabnya menuturkan bahwa Senin (11/7) nanti Kampus Putih UMM akan mengirimkan tim PMK ke Tumpang. Kemudian dilanjutkan menuju Jabung, Pujon hingga Lumajang di hari-hari berikutnya untuk memberikan edukasi, bantuan obat dan vitamin, serta memotivasi para peternak yang saat ini sedang merasa pesimis. Terkait proses kurban, Lili juga mengingatkan agar para panitia yang ada di lokasi penyembelihan untuk lebih berhati-hati dan menerapkan sistem yang tepat. Sehingga virus PMK tidak menular ke ternak-ternak lain yang ada di wilayah tersebut. “Jangan sampai tempat penyembelihan malah menjadi tempat utama penularan PMK,” tegasnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh panitia. Dimulai dengan kesadaran bahwa setiap petugas bisa menjadi medium penularan virus PMK melalui tangan, pakaian dan sepatu. Pun dengan peralatan yang digunakan selama proses kurban seperti pisau dan plastik. Untuk alat-alat tersebut, Lili mengimbau untuk mencucinya dengan sabun dan disemprot desinfektan. Sementara untuk plastik, ia menganjurkan untuk membakarnya atau mencuci bersih sebelum dibuang ke tempat sampah. “Bayangkan jika plastik bekas kurban dibuang begitu saja. Ketika ada hewan ternak yang menjilatnya, maka sudah barang tentu akan tertular dan terus menularkannya ke ternak-ternak lain. Pun dengan proses pencucian jeroan yang biasanya dilakukan di sungai. Hal itu akan mencemari lingkungan serta meningkatkan risiko virus menjangkiti hewan ternak lain,” tambah Lili. Dosen asli Subang, Jawa Barat itu memberikan opsi dengan menggali tanah dan mencuci jeroan di dalamnya. Ketika selesai, lubang tersebut dapat dikubur kembali dan dituangi dengan kapur. Hal itu karena virus PMK akan mati saat terkena bahan asam maupun basa. Pembatasan masyarakat untuk datang ke lokasi penyembelihan juga harus dilakukan, paling tidak dengan memberi pagar agar warga tidak terlalu dekat. Pun dengan para panitia yang harus membersihkan diri dan disemprot desinfektan agar virus PMK mati. Dosen asal Subang, Jawa Barat tersebut kembali menjelaskan ciri-ciri ternak yang terjangkit PMK. Hal pertama yang bisa dilihat adalah ketidakmampuan ternak untuk berdiri tegak. Kemudian juga adanya pendarahan di daerah mulut, hidung serta rektum. Pun dengan keluarnya air liur yang berlebihan karena itu merupakan tanda adanya infeksi pada hewan terkait. “Meski begitu, menurut surat edaran menteri agama dan fatwa Muhammadiyah, hewan kurban yang terjangkit PMK boleh disembelih. Selama masih berada di tahap ringan dan tak mengkhawatirkan. Paling tidak masih bisa berdiri dengan baik dan tidak ambruk serta kuku-kukunya terlihat aman,” tuturnya. Terkait cara memasak dagingnya, Lili menekankan bahwa masyarakat bisa merebus daging minimal 70 derajat celcius dalam waktu 30 menit. Hal itu karena virus PMK akan mati jika dipanaskan di suhu dan jangka waktu tersebut. Lili menyampaikan bahwa sampai saat ini virus PMK ini tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. “Selama cara memasaknya sudah benar, daging yang dikonsumsi tentu akan aman-aman saja dan bisa dimakan seperti biasa,” katanya mengakhiri. (wil)
Robot Dome UMM Juara Dua Kontes Robot se-Indonesia

Setelah sebelumnya berhasil merengkuh juara 2 pada Regional Wilayah II, kini Tim Robot Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melesat ke tingkat Nasional dengan raihan juara 2 Kontes Robot Indonesia 2022 yang diadakan pada 29-3 Juli lalu. Capaian tersebut mereka dapatkan di kategori Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Pupresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tim Dome terdiri dari tiga mahasiswa teknik elektro angkatan 2020 yaitu Salman Al-Farisi Ramadhani, Naufal Labib Althof, dan Aditya Septiawan Dwi Andhika. Salman selaku ketua Tim Dome mengungkapkan rasa syukur atas raihan yang diperoleh. Terlebih dengan waktu yang singkat dan persiapan yang cukup mepet. Namun mereka mampu memaksimalkannya dengan sangat baik. “Biasanya lomba semacam ini memberi waktu sekitar dua bulan. Tapi khusus yang satu ini hanya ada satu bulan lebih sedikit. Dari regional ke nasional jangka waktunya hanya dua minggu,” tambahnya. Selain itu, Salam menceritakan bahwa timnya mendapatkan masalah yang belum diketahui sejak babak penyisihan. Mereka baru mengetahuinya pada babak semifinal. “Jadi ternyata da kabel yang hampir putus dan kami tidak mengira itu akan terjadi. Beruntung, kita sempat cek dan mengetahui lebih cepat serta berbenah dengan baik. Alhamdulillah kami bersyukur sekali, apalagi kita harus melewati semifinal dan babak final,” ungkapnya. Ia memahami bahwa dengan waktu yang singkat akan memberikan beragam masalah yang perlu dibenahi. Ia menilai bahwa kekompakan tim menjadi aspek penting dalam memenangkans etiap lomba. Adapun KRSRI tahun ini lebih menekankan pada misi pencarian dan penyelamatan bencana yang umum terjadi, khususnya di Indonesia. Implikasinya adalah memadamkan api sekaligus menyelamatkan korban kebakaran ke tempat yang aman. Lebih lanjut, ia menjelaskan jika robot yang dilombakan bernama Dome. Robot Dome tahun ini memiliki keunggulan dalam hal presisi dan kecepatan dibandingkan tahun lalu. Selain itu, perbaikan yang sekarang membuat robot dome lebih kompleks dalam menentukan suatu rintangan. “Saat event berlangsung, Robot Dome menuai pujian dari pihak penyelenggara. Bahkan robot kami merupakan yang tercepat ketimbang kelompok lain. Hanya saja karena perbedaan strategi, kami belum bisa meraih juara pertama,” terangnya. Salman berharap robot Dome ini bisa disempurnakan untuk persiapan tahun depan. Bisa dengan memperdalam riset ataupun menyiapkan strategi karena tiap tahun peraturannya berbeda. Dengan kedua hal itu, ia ingin tahun depan robot Dome UMM bisa kembali juara pertama seperti yang pernah dimenangkan tahun sebelumnya. Terakhir, ia berpesan kepada anak muda sekarang untuk meningkatkan rasa ingin tahu yang tinggi. Di samping itu juga mengupayakan kemauan belajar dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi. “Mengalahkan rasa malas memang tidak mudah, tapi dengan bekerja keras dan belajar cerdas, saya yakin anak-anak muda bisa memberikan manfaat luar biasa. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain,” pungkasnya. (ros/wil)
UMM-BNPT Komitmen Atasi Terorisme di Lingkungan Kampus

Aksi terorisme seringkali menjual narasi-narasi berkedok agama. Padahal pada kenyataannya terorisme dan agama sama sekali tidak berkaitan. Ucapan tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., pada kunjungannya ke Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (6/7) lalu. Lebih lanjut, Boy sapaan akrabnya, menjabarkan bahwa para teroris biasanya menggunakan agama agar politik yang mereka jalankan berhasil. Biasanya para teroris memasukan ideologi-ideologi yang tidak baik ini melalui beberapa kajian yang rutin diadakan. “Untuk menanggulanginya, kami bekerja sama dengan para ulama di Indonesia untuk mengatasi kesimpangsiuran nilai agama yang mereka bawa. Salah satu ulama yang selalu kami minta pendapat adalah Buya Syafii Maarif,” terang pria kelahiran Jakarta tersebut. Selain penyalahgunaan narasi agama, Boy juga menjelaskan beberapa karakteristik yang biasanya dibawa oleh para teroris. Karakteristik tersebut meliputi anti kemanusiaan, penggunaan kekerasan ekstrim dan transnational ideology. Pun dengan isu-isu intoleran, radikal, ekslusif, anti konstitusi negara dan ideologi Pancasila. “Para teroris juga memiliki beberapa pola propaganda yang biasanya mereka pakai. Pertama adalah sikap anti Pancasila yang menggiring pada ketidakteguhan akan dasar negara. Kedua yakni ajaran paham takfiri yang mengkafirkan orang-orang beda agama maupun ideologi. Ketiga ada sikap eksklusif terhadap lingkungan atau perubahan. Kemudian yang terakhir yakni adanya ajaran intoleransi terhadap keragaman dan pluralitas,” kata Boy. Lebih lanjut, Boy mengatakan menurut survei Urvey Alvara Research tahun 2020, sebanyak 30 Juta penduduk Indonesia berpotensi terpapar radikalisme. Oleh karena itu, selain meningkatkan peranan tokoh agama perlu juga adanya sinergitas antara semua elemen yang ada di masyarakat. “Penguatan nilai kebangsaan juga selalu kami upayakan, salah satunya dengan acara-acara yang diselenggarakan di sederet kampus. Kami yakin, narasi kerja sama yang kami bangun dengan UMM ini akan membuahkan hasil yang positif,” ujarnya mengakhiri. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa dalam menjalankan perguruan tinggi, UMM selalu melibatkan berbagai golongan masyarakat lintas agama. Kerja sama ini dibangun dalam rangka memupuk kesadaran pada mahasiswa maupun sivitas akademika bahwa Indonesia bisa maju dengan gotong royong yang baik antar golongan. “Untuk menghindari masuknya ideologi-ideologi yang negatif, kami juga telah mengupayakan beragam hal. Salah satunya adalah pendampingan terhadap kegiatan-kegiatan agama yang ada. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat untuk mendampingi mahasiswa dan melaporkan jika ada hal-hal atau aktivitas yang mencurigakan,” tegasnya mengakhiri. (syi/wil)
Dosen UMM Tanggapi Soal Pemekaran Wilayah Baru

Isu pemakaran di tanah Papua sudah sudah ada sejak kepemimpinan presidan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Isu ini kembali mencuat kembali baru-baru ini setelah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Daerah Otomi Baru di bumi Papua, pada akhir Juni lalu dalam rapat paripurna. Melihat akan hal itu, Yana Syafriyana Hijri, S.IP., M.IP. selaku dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi tanggapannya. Yana, sapaan akrabnya mengatakan bahwa akan ada tiga provinsi baru di Papua, yaitu Provinsi Papua Selatan dengan ibukota Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Tengah dengan ibukota Kabupaten Nabire. Kemudian yang terakhir yakni Provinsi Papua Pegunungan dengan ibu kota di Kabupaten Jaya Wijaya. Adapun dasar pemekaran provinsi ini yakni untuk pemerataan pembangunan dan juga mendekatkan layanan public bagi masyarakat. “Tentu yang menjadi dasar pemekaran daerah sejak dulu adalah pemerataan pembangunan dan pendekatan layanan publik” ucap Yana menjelaskan. Meski begitu, ia menuturkan bahwa adanya pemekaran daerah tidak menjamin pembangunan yang merata dan kesejahteraan masyrakat. Hal itu dapat dilihat dari beberapa kabupaten di Papua yang merupakan hasil pemekaran pada tahun 2002 dan 2008. Mayoritas kabupaten itu justru masuk di daftar daerah miskin pada 2020. Salah satu contohnya yaitu Kabupaten Deiyai yang memiliki persentase 41% masyarakat miskin dari total penduduk setempat. “Aspek yang membuat pemekaran tidak maksimal adalah sumber daya manusia (SDM) yang minim. Jika SDM yang ada tidak memadai, tentu pengelolaan pemerintahan daerah pemekaran akan tidak berjalan dengan semestinya. Bahkan malah akan mengarah pada indikasi korupsi. Di samping itu juga kurangnya persiapan dari pemerintah akan daerah pemerakan,” tegasnya. Terkait proses pemekaran, Yana menjelaskan bahwa sebelum 2004, secara administratif harus melalui Kementerian Dalam negeri (Kemendagri). Persyaratan yang perlu disiapkan juga beragam serta peninjauan yang cukup pelik. Hal itu membuat pengajuan pemekaran daerah hanya sedikit. Tetapi setelah 2004, proses pengajuan pembentukan daerah otonomi baru bisa melalui DPR RI. Menurutnya, hal ini memang memudahkan namun cenderung lebih politis. “Namun saya rasa hal ini cenderung lebih politis. Apalagi melihat sikap para pejabat kita saat ini,” imbuhnya. Dosen asli Serang, Banten ini berharap pemerintah pusat harus betul-betul memikirkan pemekaran agar tidak seperti sebelumnya yang justru mengalami kemunduran. Di samping itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan aspek SDM guna keberlangsungan provinsi baru yang bisa lebih berkembang. “Dengan begitu, masyarakat bisa benar-benar merasa sejahtera. Pun dengan pelayanan publik yang semakin baik. Maka dari itu, pemerintah pusat harus melakukan pendampingan sehinga daerah pemekaran bisa mengembangkan potensi yang ada,” pungkasnya. (haq/wil)
Jean, Mahasiswi UMM yang Wakili Bima di Ajang Puteri Indonesia NTB

Dalam sebuah band musik, posisi drummer biasanya diisi oleh seorang pria. Namun pendapat itu dipatahkan oleh Jean Fatiha Izma. Mahasiswi tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut telah mengisi posisi pemain drum sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Berkat salah satu kelebihannya tersebut, ia berhasil lolos sebagai finalis Putri Indonesia mewakili kota Bima pada tingkat provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Jean, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ketertarikannya pada dunia musik berasal dari lingkungan pertemanannya saat SMA. Bergaul dengan sekumpulan anak band, membuat Jean ingin mempelajari sebuah alat musik. Awalnya ia diajari untuk bermain gitar oleh seorang teman. Namun karena merasa tidak cocok, akhirnya ia beralih untuk bermain drum. “Awalnya sempat belajar nyanyi juga supaya bisa jadi vokalis grup band. Akan tetapi ternyata lebih seru untuk bermain drum. Meskipun menyenangkan, ada beberapa hal sulit yang pertama kali dilakukan ketika bermain drum. Salah satunya adalah menyeimbangkan otak kiri dan kanan. Hal itu terjadi karena ketika memainkan drum kedua tangan dan kaki kita harus bergerak bersamaan,” ungkap mahasiswa jurusan Akuntansi tersebut. Selain menampilkan kepiawaiannya dalam bermain drum, pada acara pemilihan Putri Indonesia di NTB, Jean juga menampilkan bakat akting dan keterampilannya dalam membuat sebuah waistbag dari kain tenun khas Bima. “Jujur ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan seperti ini dan saya tidak menyangka dapat mewakili Bima di tingkat provinsi. Meskipun tidak bisa maju ke nasional, namun saya bangga,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara itu. Jean mengaku sempat gugup saat akan mengikuti ajang pemilihan putri Indonesia. Pasalnya, selain kegiatan ini merupakan pengalaman pertama, Jean juga seorang anak yang pemalu. Ia menjelaskan bahwa dirinya baru mulai belajar untuk bersosialisasi dengan baik ketika masuk ke dunia perkuliahan. “Awalnya gugup sekali ketika akan ikut event ini. Namun ternyata orang-orang di acara pemilihan putri Indonesia sangat baik dan ramah. Selain itu, saya juga terbantu dengan skill komunikasi yang saya latih di UMM. Pada akhirnya keputusan mengikuti Pemilihan putri Indonesia ini adalah keputusan yang tepat. Saya juga berharap teman-teman yang lain juga mau keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru,” pungkasnya. (syi/wil)
Mahasiswa Vokasi UMM Turut Kerjakan Revaluasi Aset Bank BUMN

Direktorat Program Pendidikan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirim sederet mahasiswa untuk melaksanakan project based learning dari PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. Tercatat, sebanyak delapan mahasiswa diploma IV Bisnis Properti UMM ikut serta dalam proyek tersebut dan mengerjakan proyek penilaian terdiri dari 300 titik yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dr. Tulus Winarsunu, M. Si selaku Kepala Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi UMM melaporkan bahwa program ini akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Terhitung mulai Juli 2022 hingga September 2022 mendatang. Delapan mahasiswa vokasi UMM sementara akan diberangkatkan ke Yogyakarta untuk melaksanakan koordinasi proyek. Tulus, sapaan akrabnya senang dengan dipercayanya Vokasi UMM untuk melaksanakan proyek di luar Jawa Timur. Terlebih kegiatan tersebut selaras dengan konsep besar vokasi UMM yaitu link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia industri. Lewat program tersebut ia menilai dapat melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing luas. “Vokasi UMM telah dipercaya oleh banyak pihak. Salah satunya mengerjakan proyek di balaikota terkait penentuan nilai sewa lahan. Pernah pula mengerjakan projek rutinana dari Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP) penilaian untuk agunan dan proyek lainnya. Mahasiswa juga pernah diterjunkan untuk menentukan kontribusi nilai sewa Kapal Garden UMM, penentuan nilai lelang agunan bank BPN dan sekarang revaluasi aset bank BRI di DIY dan Jawa Tengah,” paparnya. Menurutnya, proyek ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik mahasiswa UMM maupun juga bagi perusahaan terkait. Mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman baru terkait bagaimana keadaan dan situasi bekerja di dunia nyata. Pun dengan segudang ilmu dari para profesional. Ia menambahkan jika proyek ini berhasil, delapan mahasiwa tersebut akan mendapatkan sertifikasi sekaligus menjadi anggota Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI). Dalam kesempatan yang sama, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menitipkan pesan kepada delapan mahasisa yang berangkat untuk tetap rendah hati dan tidak berpuas diri. Ia mendorong mereka untuk terus merasa haus pengetahuan dan ilmu sehingga bsia mendapatkan hasil yang komprehensif. “Jika sudah mendapatkan pengalamannya yang banyak, jangan lupa untuk berjejaraing. Penting untuk menunjukkan jika Vokasi UMM sejajar dengan kampus besar di Indonesia. Dalam bekerja di dunia profesional, mahasiswa UMM harus menunjukan ketelitian, komunikasi yang baik dan tidak pernah meremehkan siapapun meskipun meskipun berada di atas angin,” pungkasnya. (Ros/Wil)
DPPM UMM Raih Penghargaan Penerima Dana Pengabdian Terbanyak dari LLDikti VII

Dalam menegakkan tri dharma perguruan tinggi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu menebar kebermanfaatan bagi sesama. Salah satu caranya dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Berkat kerja keras yang selama ini dibangun, UMM berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) penerima dana abdimas tertinggi dan juga perguruan tinggi dengan jumlah judul abdimas terbanyak. Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah VII pada Juni lalu. Wakil direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si, menjelaskan bahwa kampus UMM telah melakukan sederet upaya agar proposal pengabdian yang para dosen buat dapat di danai dan dilaksanakan. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah klinik proposal bagi para dosen UMM. “Adanya klinik ini juga menjadi wadah untuk saling bertukar pikiran dan inovasi. Selain itu, adapula para pemateri yang akan memberikan masukan dan koreksi agar nantinya kualitas proposal yang dihasilkan menjadi lebih baik dan meningkat. Dengan peningkatan itu, akan semakin banyak pula pengabdian masyarakat yang terpilih untuk di danai. Tak hanya berpaku pada pemerintah, kami juga menjalin kerja sama dengan pihak lain agar pengabdian dan penelitian yang dilakukan para dosen dapat terlaksana dengan apik,” ujar dosen prodi sosiologi tersebut. Terkait penghargaan yang diberikan oleh LLDikti wilayah VII, Vina sapaan akrabnya mengatakan sangat berterimakasih karena kerja keras UMM selama ini dapat membuahkan hasil yang bagus. Apalagi dengan jumlah dana hibah yang mencapai 561.080.000, Kampus Putih UMM dapat membantu berbagai pengabdian ke masyarakat. Utamanya yang dilaksanakan oleh para dosen UMM. Ia menilai, raihan ini tidak lepas dari kinerja yang baik dari banyak pihak. Mulai dari tim DPPM, dosen, tim kelas pendampingan dan sivitas akademika lain yang turut mebantu. Ke depannya, DPPM berkomitmen untuk bekerja lebih keras agar lebih banyak program pengabdian yang dapat diselenggarakan. “Untuk mendapatkan dana hibah, kita harus bersaing dengan banyak perguruan tinggi. Oleh karenanya saya sangat bersyukur DPPM UMM dapat menggapai raihan ini. Untuk kedepan, kami akan mempersiapkan proposal-proposal pengabdian yang berkualitas, sehingga proses menebar manfaat yang dilakukan para dosen UMM bisa lebih baik lagi. Semoga dengan kerja keras yang kami lakukan, dapat membantu masyarakat di berbagai bidang yang ada,” ungkap dosen asal Bandung ini mengakhiri. (syi/wil)
UMM-IPM Beri Pemahaman Literasi Digital pada Pelajar

Literasi digital dan menjadi aktivis sukses harus menjadi salah satu tujuan anak muda saat ini. Hal itu disampaikan Staf Khusus Komunikasi Publik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga pada Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) Media, akhir Juni lalu. Adapun acara ini merupakan kolaborasi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) dengan Lembaga Media dan Komunikasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammdiyah (PP IPM). Lebih lanjut, Arya mengatakan bahwa untuk menjadi aktivis yang sukses, anak muda harus pintar memanajemen waktu. Begitupun dengan upaya untuk terus membagikan ilmu. “Paling tidak, kalau tidak bisa membanggakan orang tua, minimal jangan mengakhawatirkan mereka. Tapi saya yakin, teman-teman di sini punya potensi yang bisa dikembangkan agar bisa membagakan keduanya,” ungkapnya. Di sisi lain, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki menjelaskan bahwa ada tiga bekal yang harus dimiliki oleh pelajar. Pertama, yakni mampu mengantisipasi ketidakpastian. Utamanya di era yang cepat berubah seperti sekarang. Kedua, yakni mampi memimpin dimulai dari diri sendiri. Kemudian yang terakhir yang kepercayaan pada rekan yang nantinya bisa diajak kolaborasi. “Jika tiga aspek itu bisa dimiliki dan diimplementasikan dengan baik, saya yakin Indonesia tidak akan kekurangan generasi penerus bangsa yang mumpuni,” tegasnya. Terkait media, Eki, sapaan akrabnya mengatakan bahwa anak muda harus bisa memainkan media. Kalau tidak, media yang akan menggerus dan mengalahkan generasi baru. Menurutnya, saat bisa menggunakan media dengan baik, maka kepercayaan publik akan bisa didapat. Sementara itu, Nashir Efendi selaku Ketua Umum PP IPM mengatakan bahwa semua pelajar Muhammadiyah memiliki kesempatan untuk berkarya di media digital. Kader Muhammadiyah harus militan dan selalu berupaya memenangkan narasi Muhammadiyah di aspek digital. Diiringi dengan konsistensi buzzer yang positif dan influencer yang inspiratif. “Teman-teman disini memiliki kesempatan yang sama dalam rangka berkontribusi di media digital. Selamat untuk bersatu, berpadu menjalin ukhuwah dalam Kopdarnas 2022,” ucapnya. Adapun acara ini berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh puluhan peserta dari 13 provinsi. Tidak hanya materi, para peserta juga diajak untuk menyusun strategi media. Sederet pemateri dihadirkan untuk memberikan pemahaman terkait media plan, branding personal dan organisasi, serta data analyst. (haq/wil)