Ujian Doktor UMM Kaji Ritual Kematian Tedong Bonga dihadiri Direktur Utama dan Jajaran Pimpinan RRI

Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) Dr. I. Hendrasmo, MA. dan jajaran pimpinan RRI hadir di salah satu prosesi ujian doktoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka datang dan turut menyimak ujian doktor Kepala RRI Makassar Ferdy Kusno pada Rabu (15/6) lalu. Dalam ujiannya, Ferdy, sapaan akrabnya menyampaikan terkait makna sosial kerbau belang (tedong bonga) dalam ritual kematian masyarakat Tana Toraja. Dalam disertasinya, Ferdy mempertanyakan dua hal utama. Pertama, yakni terkait makna tedong bonga. Kemudian yang kedua mengenai pergeseran tata laksana ritual kematian di masyarakat Tana Toraja. Dalam pemaparannya, ia menyimpulkan bahwa tedong bonga merupakan simbol adat yang disakralkan dan dibentuk berdasarkan makna simbolik. Selain itu juga dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisi, agama, prestise dan ekonomi. Lebih lanjut, Ferdy mengatakan bahwa makna kematian yang penuh arti membuat manusia berlomba-lomba melakukannya dengan maksimal. Adapun simbol-simbol itu disakralkan dan diterapkan sesuai dengan kesepakatan bersama. Di samping itu simbol yang digunakan dalam ritual kematian tidak mendobrak tatanan adat. “Jumlah kerbau belang yang dikorbankan menggambarkan status sosial seseorang,” tambah Kepala RRI Makassar tersebut. Ferdy juga mengungkapkan bahwa menurut warga di Tana Toraja, kerbau belang merupakan kendaraan menuju nirwana untuk memulai kehidupan baru dengan roh apra leluhur. Tedong bonga juga dianggap sebagai simbol tertinggi dalam ritual kematian yang dipersembahkan sebagai wujud kasih sayang terhadap orang tua atau keluarga yang meninggal. Menariknya, disertasi Ferdy telah diterbitkan melalui beberapa karya. Salah satunya lewat buku yang diterbitkan oleh penerbit Bildung. Selain itu apa yang dibahas dalam disertasi juga sudah termuat di jurnal-jurnal internasional. Sementara itu, Hendrasmo turut mengapresiasi capaian Ferdy meraih gelar doktor. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan citra RRI karena senantiasa diisi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ia juga berharap staf lain juga mengikuti jejak Ferdy untuk bisa meningkatkan pendidikan. Dengan begitu, salah satu dampak yang bisa dirasakan adalah semakin baiknya kualitas konten yang disediakan oleh RRI. “Tentu promosi doktor Pak Ferdy ini bisa menjadi pelecut semangat bagi staf-staf lain untuk melanjutkan pendidikan. Seiring dengan itu, konten kita juga akan meningkat sehingga mampu memberikan hal yang bermanfaat dan berkualitas,” kata Hendrasmo mengakhiri. (wil)

KLHK Apresiasi Upaya UMM Rawat Hutan Hibah

Universitas Muhammadiyah Malang baru saja kedatangan tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada awal Juni lalu. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari monitoring untuk Kawasan Hutan Pujon yang merupakan hibah dari KLHK untuk UMM. Adapun Kampus Putih UMM telah mendapatkan Surat Keputusan tersebut sejak 2019 dan dipercayai untuk mengelola seluas kurang lebih 79 hektar hutan. Adapun kegiatan itu bertujuan untuk memonitoring aktivitas hutan sekaligus memberikan masukan. Rombongan KLHK yang dipimpin oleh Erfan Noor Yulian, S.Hut, M.Si. selaku Pengembangan Teknologi Pembelajaran Ahli Muda menilai jika UMM sudah bagus dalam aspek pengelolaan hutan. Ia juga memuji rancangan jangka panjang mapun jangka pendek dari Pujon Hill garapan Kampus Putih UMM. “Secara umum sudah sangat baik. Tinggal bagaimana secara holistik bisa dikerjakan secara nyata. Yang terpenting dari pengelolaan hutan yakni bagaimana pelaksanaan bisa sesuai dengan fungsinya,” jelasnya. Erfan, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tim KLHK menilai beberapa aspek seperti kesesuaian pengelolaan Kawasan hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Selain itu juga menilai apakah pelaksanaannya benar atau malah melenceng dari tujuan utama. “Jangan sampai pengelola melakukan hal yang menyimpang dan tidak sesuai fungsi. Hal itu tentu akan memberikan kerugian, apalagi jika digunakan untuk profit semata,” terangnya. Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan hutan tidak bisa dijalankan sendiri. UMM harus mampu melibatkan seluruh sivitas akademika yang dimiliki, utamanya fakultas. Dengan begitu, seluruh fakultas dapat menerapkan dan memanfaatkan hutan sesuai dengan kelimuannya. Keterlibatan masyarakat sekitar juga harus dilakukan. Sehingga Pujon Hill tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tapi juga masyarakat luas. “Selama ini pengelolaan UMM atas Pujon Hill sudah bagus. Perawatannya juga berjalan dengan baik. Meski kalau dilihat dari aspek topografi cukup curam, namun saya percaya Kampus Putih UMM dapat mereboisasi dengan baik untuk mencegah bencana longsor. Saya berharap UMM bisa memanfaatkan lahan yang telah dihibahkan sesuai fungsi pendidikan, pelatihan serta riset,” harapnya. Sementara itu, Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc. selaku Ketua pengelola Pujon Hill UMM mengatakan bahwa selama ini pihaknya sudah melakukan upaya besar. Salah satunya dengan melakukan tata batas di area hutan. Kemudian juga sudah menyusun Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP). Tatag, begitu ia kerap disapa, juga beryukur karena pihak KLHK mengapreasisi upaya dan usaha yang timnya lakukan. Pihak UMM juga memiliki keinginan besar dan rencana terstruktur untuk menjadikannya sebagai kawasan pendidikan. Begitupun dengan laboratorium sebagai sarana penelitian mahasiswa, dosen, maupun masyarakat. “Saat ini, kami juga sudah membangun rumah atsiri yang nantinya akan dijadikan sebagai kegiatan penelitian dan pengembangan,” tambahnya Terakhir, Tatag berharap semua rencana yagn sudah disiapkan bisa segera terealisasi. Utamanya hal-hal yang menebarkan manfaat luas serta mampu dan memberikan kesejahteraan bagi semua yang terlibat. Baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi. (Ros/Wil)

Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Kaji Peluang dan Tantangan Smart City

Teknologi, institusi, kebijakan dan peraturan menjadi faktor kesuksesan sekaligus tantangan bagi smartcity. Hal-hal tersebut dikaji lebih dalam di Seminar Nasional Teknologi Informasi Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan Pengembangan Smart City di Indonesia” ini mengundang sederet pemateri ahli pada Kamis (9/6) lalu. Di antaranya pembicara dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) RI Dwi Elfrida Martina, S.IP., MPPM, Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan (IP) UMM Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. dan Dosen FEB UMM  Djoko Sigit, S.E., M.Acc., P.hD. Membuka seminar, Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslimin, M.Si., mengatakan bahwa para mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan literasi terkait smart city. Utamanya dalam upaya mengelola dan menggunakan teknologi informasi komunikasi. Di samping itu juga berupaya menyediakan layanan dan memberi solusi inovatif untuk masalah perkotaan. Di sisis lain, Dwi selaku koordinator layanan aplikasi pemerintah daerah menuturkan bahwa smart city bukanlah menjadi upaya pencitraan agar bisa disorot media. Namun yang paling penting adalah membangun citra kota atau wajah kota sebagai target dalam membangun kota cerdas. Kemudian diikuti dengan pembangunan infrastruktur, image,  dan layanan yang mumpuni. Diharapkan pembangunan tersebut juga diakui oleh nasional maupun internasional. “Smart city merupakan kawasan yang dapat mengelola berbagai sumber dayanya secara efektif dan efisien. Sehingga mampu menyelesaikan berbagai tantangan menggunakan solusi inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup warganya,” jelas Dwi. Di sisi lain, Tri Sulistyaningsih juga sempat menjelaskan beberapa komponen dan karakteristik sebuah smart city. Diawali dengan smart governance yang menjadi aspek penting dalam pembangunan smart city. Kemudian juga smart living hingga smart economy. Komponen atau karakteristik lain yang diperlukan yakni smart environment dan smart mobility. “Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah smart people. Orang-orang di kota tersebut juga harus pintar dan cerdas menggunakan teknologi dan memanfaatkan arus informasi. Akan sia-sia jika kotanya sudah smart tapi masyarakatnya tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi,” ungkap Tri. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Djoko. Menurutnya, ada sederet tantangan data yang harus dihadapi dalam smart city. Tantangan itu dapat berupa kebijakan dan peraturan, utamanya terkait kesiapan peraturan daerah. Aspek kelembagaan, pelaksanaan, dan teknologi juga menjadi hal yang tak bisa disepelekan. “Seperti akses dan juga investasi teknolog informasi dan komunikasi. Ada juga tantangan institusional berupa kepemimpinan dan birokrasi. Tak ketinggalan aspek regulasi, infrasturktur, kualitas data hingga budaya berbasis data,” ungkapnya menambahkan. Lebih lanjut, Djoko juga mengeaskan bahwa smart city bukan hanya fokus di aspke teknologi semata. Namun hal yang tidak kalah penting adalah cara untuk mengolah data. Menurutnya, smart city akan berhasil diwujudkan jika masyarakat mampu mengunakan data dengan baik dan bijak. (Zak/Wil)

Sinergisitas UMM-LLDikti-KORPRI Deklarasikan Kampus Bersih Narkoba dan Anti Kekerasan Seksual

Kampus Bersih dari Narkoba (Bersinar) dan anti Kekerasan Seksual merupakan suatu gerakan moral dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka menjujung tinggi nilai-nilai etika. Begitulah sambutan pembuka Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pada acara Deklarasi Kampus Bersinar. Kegiatan yang diinisisasi oleh UMM, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur (Jatim), dan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Jawa Timur ini diselenggarakan pada Sabtu (11/06) lalu. Selain Rektor Kampus Putih UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dan Ketua LLDikti Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA., hadir pula para pengurus KORPRI Jawa Timur. Salah satunya dr. Ivan Rovian, MKP. selaku Kepala Bagian Umum KORPRI Jawa Timur. Ketiganya bahu membahu dalam membangun sinergisitas dalam menciptakan Kampus bersih narkoba dan anti kekerasan seksual. Lebih lanjut, pada sambutannya Fauzan mengatakan bahwa kampus merupakan suatu sistem akademik untuk menyiapkan generasi yang akan datang. Oleh karenanya, mencegah hal-hal negatif seperti narkoba dan kekerasan seksual merupakan salah satu tanggung jawab yang harus diemban oleh kampus. “Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan lembaga-lembaga terkait kepada UMM untuk melaunching program ini. Semoga kita dapat menjalankan amanah ini dengan baik ke depannya,” tandas Fauzan menegaskan. Senada dengan Fauzan,  Kassubag Umum Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang Yudha Wirawan, SE.,MM, menjelaskan bahwa Malang sebagai kota pendidikan, memiliki mobilisasi penduduk yang sangat tinggi. Saat kondisi normal sebelum pandemi Covid-19, ada ribuan mahasiswa yang datang ke Malang. Oleh karenanya, dengan adanya sinergitas ini, diharapkan dapat membantu BNN dalam pemberantasan narkoba dan kekerasan seksual. “Dengan banyaknya mobilisasi penduduk tersebut, kami tidak dapat maksimal dalam mencegah dan memberantas narkoba tanpa bantuan dari kampus. Harapannya, dengan berlangsungnya deklarasi ini, dapat turut memberantas narkoba dan kekerasan seksual di lingkungan kampus,” ungkap Yudha. Di sisi lain, kepala LLDIKTI Wilayah VII, Soeprapto mengucapkan selamat atas diresmikannya UMM sebagai kampus bersih narkoba dan anti kekerasan seksual. Meski begitu, menurutnya itu tak cukup. Soeparto berharap UMM juga dapat menjadi sebuah kampus yang bersih akan korupsi dan perundungan. Sehingga bisa melahirkan generasi emas penerus bangsa yang berkualitas. Adapun kegiatan deklarasi ini diikuti oleh karyawan dari UMM, LLDIKTI, KORPRI, BNN, mahasiswa UMM, bahkan mahasiswa asing yang ada di UMM. Tak hanya deklarasi, acara ini juga berisi edukasi pencegahan kekerasan seksual dan narkoba. Selain itu ada juga pemeriksaan pap smear atau pemeriksaan deteksi dini kanker serviks yang dilakukan oleh  tim laboratorium Bromo dan Rumah Sakit (RS) UMM. Menariknya, ada kegiatan jalan sehat yang diikuti ratusan peserta. Berangkat dari Helipad UMM, rombongan jalan sehat terus berjalan hingga bermuara di Taman Rekreasi Sengkaling, salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Kampus Putih. Para peserta juga berkesempatan memenangkan hadiah yang sudah disiapkan oleh penyelenggara. (syi/wil)

Kelas Reporter hingga Medis, UMM Bagi Pengetahuan Baru Siswa Blitar

Roadshow Mobil Pintar dan Mobil Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlanjut. Kali ini tim UMM selenggarakan beragam kelas bagi siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Blitar pada Sabtu (11/6) lalu. Ada kelas medis yang memaparkan pertolongan pertama, kelas sosiologi dengan permainan ular tangga, kelas ilmu komunikasi dengan simulasi menjadi reporter dan kelas-kelas lainnya. Adapun kelas ini menjadi upaya mengenalkan jurusan di perkuliahan dan membekali siswa dengan skill yang belum mereka ketahui. Selain di kelas dan aula, tim UMM juga menyiapkan berbagai buku dan novel yang ada di Mobil Pintar. Selain itu juga menyiapkan permainan edukatif bagi siswa serta memberikan kenangan dan hadiah. Para siswa juga berkesempatan untuk mengetahui potensi dan minat melalui psikotes yang disiapkan oleh tim Kampus Putih. Perwakilan UMM, Faizin mengatakan bahwa pihaknya membawa rombongan besar bukan tanpa tujuan. Ia ingin agar para siswa bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru. Menemukan bakat, minat dan potensi yang selama ini belum terlihat. “Kami telah menyiapkan beragam kelas seperti kelas sastrawan, entrepreneur, tutor Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), dan reporter berita. Ada juga kelas lain yang tidak kalah menarik seperti kelas sosiologi dan tenaga kesehatan,” tambah Dosen Bahasa Indonesia tersebut. Ia berharap sederet agenda dan tim yang ada bisa memberikan manfaat bagi para siswa. Sekaligus memunculkan inspirasi baru bagi mereka. Pada kesempatan itu, tim UMM juga mengajak beberapa mahasiswa asing untuk berinteraksi dengan teman-teman siswa yang ada di MAN 2 Blitar. Di sisi lain, Syamsul Arifin selaku wakil kepala kurikulum MAN 2 Blitar berharap kunjungan ini dapat menjadi awal yang baik untuk agenda kerja sama selanjutnya. Ia juga mendorong siswa-siswi untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan maksimal. Dengan begitu, mereka bisa tahu banyak tentang dunia luar dan banyak hal. Di samping itu juga sebagai bekal untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus sekolah nanti. “Apalagi kualitas UMM tidak perlu diragukan lagi. Para pengajarnya profesional, bangunannya besar-besar, lingkungannya juga asri karena ada sungai besar serta danau. Jadi, adik-adik siswa harus mengikuti kelas-kelas ini dengan baik sehingga bisa membuka wawasan,” tambah Syamsul mengakhiri. Pada agenda tersebut, UMM Kampus Putih juga menyuguhkan perform mahasiswa yang menampilkan musikalisasi puisi di awal. Kemudian mereka juga turut mengajarkan para siswa untuk berkreasi melalui cara tersebut. Hingga kemudian dipilih beberapa siswa untuk maju dan menampilkan apa yang sudah diajarkan oleh tutor di masing-masing kelas. Para siswa juga menyambut kunjungan itu dengan antusias. Salah satunya Fatimah yang mengaku senang dengan adanya beragam kelas yang disediakan UMM. Menurutnya, hal ini sangat berguna bagi para siswa dalam mengembangkan minat dan bakat. Selain itu juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan sehingga bisa menentukan arah hidup usai menyelesaikan pendidikan MA dan SMA nanti. (wil)

Meriahkan Bulan Bung Karno, UMM Langsungkan Kegiatan Edukatif di Blitar

Perjalanan Mobil Bioskop Keliling (Bioling) dan Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlanjut. Kali ini tim UMM menyambangi kelurahan Bendogerit dan menyuguhkan sederet film serta penampilan pada Jumat (10/6) lalu. Menariknya, para warga dan anak-anak bisa mencoba menjadi news anchor yang sudah disiapkan laboratorium prodi Ilmu Komunikasi Kampus Putih UMM. Mereka berkesempatan untuk membaca berita di depan kamera dengan green screen dan langsung disiarkan melalui Youtube dan layar besar. Hal ini bertujan untuk mengenalkan dunia reporter dan news anchor kepada masyarakat Blitar. Ada beberapa anak dan warga yang mencoba membaca berita di hadapan kamera. “Ini upaya kami untuk menggali potensi masa depan anak-anak. Barangkali nanti dari Bendogirit lahir Najwa-Najwa Shihab baru yang bagus,” harap Widiya Yutanti, perwakilan UMM. Warga Bendogerit juga tak ketinggalan berkontribusi menampilkan berbagai ragam tari. Mulai dari tari Remo hingga Jejeg. Adapula perform band akustik membuka di awal acara. Widiya, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia beterimakasih karena pihak desa dan karang taruna serta UMM bisa saling bahu membahu agar acara ini terlaksana. Ia mengatakan bahwa agenda nonton bareng (nobar) film ini merupakan salah satu rangkaian roadshow UMM di Blitar. Sebelum ke Bendogerit, pihaknya telah mengunjungi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) kelas I Blitar. Adapun setelah Bendogerit, tim UMM akan datang ke MAN 2 Blitar untuk memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi siswa-siswi. “Kami juga sengaja mengajak adik-adik untuk mencoba menjadi news anchor. Semoga bisa menumbuhkan minat, bakat serta potensi mereka,” tambahnya. Di sisi lain, Lurah Bendogerit Sugiono menilai bahwa acara seperti ini sangat dibutuhkan. Karena bisa menumbuhkan karakter masyarakat yg hadir dan berpartisipasi. Utamanya anak-anak yang akan melanjutkan generasi di masa depan. “Acara hasil kerja sama warga Bendogerit, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar serta UMM ini juga dilangsungkan sebagai cara memperingati bulan Bung Karno,” imbuh Sugiono. Hal serupa disampaikan oleh M. Sidiq selaku Asisten bidang Perekonomian dan Kesra yang mewakili wali kota Blitar. Ia berharap agenda semacam ini bisa kembali dilaksanakan UMM tahun depan untuk memperingati Bulan Bung Karno. “Semoga tahun depan UMM bisa kembali hadir dengan acara yang lebih besar. Sehingga yang datang lebih banyak dan tentunya lebih meriah,” harapnya. Ia menghimbau agar masyarakat Blitar bisa menerima dan menyambut para tamu dengan baik. Apalagi akan ada banyak warga luar kota yang berkunjung ke Blitar untuk meramaikan Bulan Bung Karno. Dalam acara itu, adapula penampilan mahasiswa asing UMM asal Vietnam yang membacakan puisi tentang Bung Karno. Antusiasme penonton juga tinggi, terutama anak-anak. “Menyenangkan dan juga menghibur. Apalagi banyak penampilan dan film yang diputar. Ya kami tentu berharap acara seperti ini bisa sering dilakukan. Utamanya di Blitar,” ung

Adi, Mahasiswa FK UMM Juara Liga Mahasiswa Berprestasi PTMA

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum di kancah nasional. Kali ini Adie Prasetia Maulana Utama, mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM yang berhasil meraih Juara 2 Liga 1 Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) 2022. Adapun event ini berlangsung sejak bulan April dan pengumuman pemenang pada Sabtu (4/6) lalu. Adie, sapaan akrabnya menceritakan bahwa awalnya ia tidak menyangka jika ditunjuk untuk mewakili UMM pada ajang Pilmapres PTMA tahun 2022 ini. Selama event, ada beberapa tahap yang harus ia lalui. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi tahap satu, presentasi poster, dan diakhiri pengumuman dengan lima finalis terpilih. Di samping itu ada juga sederet berkas yang harus dilengkapi, dua di antaranya yakni poster prestasi dan poster gagasan yang akan dipresentasikan. “Mengingat kegiatan ini adalah event pemilihan mahasiswa berprestasi dari pergutuan tinggi Muhammdiyah dan Aisyiyah se-Indonesia, jadi perseingannya sangat ketat dan benar-benar harus menyiapkan mental secara matang,” tambahnya. Adapun poster gagasannya mengangkat judul “GEBRAK (Gerakan Aksi Bersama Peduli Kesehatan Mental)”. Ia berangkat dari kondisi pasca pandemi Covid-19 yang berdampak pada mental masyarakat. Apalagi kurangnya pengetahuan masyarakat akan hal itu. Maka, berbekal gagasan yang dimilikinya, ia ingin mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental melalui creative campaign. “Saya juga ingin melalui creative campaign ini bisa meningkatkan kepedulian antar sesama serta memberikan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan mental,” imbuhnya. Sebelumnya, mahasiswa FK angkatan 2019 ini telah meraih banyak prestasi. Baik di tingkat regional hingga nasional. Mulai dari juara tiktok edukasi kesehatan Jawa-Bali, juara poster kesehatan Jawa-Bali, hingga juara video edukasi kesehatan nasional, dan masih banyak lagi. Selain itu, ia juga pernah menjadi Duta Perubahan Perilaku Satuan dalam penanganan Covid-19 pada 2021 lalu. Adi percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Hal inilah yang mendorongnya untuk terus berprestasi. Menurutnya, menjadi mahasiwa sarjana hanya sekali seumur hidup, sehingga harus memanfaatkan waktu yang dipunya dengan sebaik-baiknya. Harus diisi dengan pengembangan skill, terus mengasah pemikiran dan tidak cepat puas dengan capaian dan prestasi. Selain itu, kegiatan organisasi juga dirasa membentuk tanggung jawab dan membiasakan manajemen waktu. “Pelecut semangat saya untuk terus berkembang adalah tidak cepat puas dan kesempatan yang tidak datang dua kali. Ketika kesempatan itu datang, maka semaksimal mungkin harus dimanfaatkan,” ucapnya. Mahasiswa asli Bojonegoro ini nyatanya masih ingin terus berprestasi dan membangggakan nama UMM. Ia ingin terus berkembang dan mengasah skill untuk membanggakan orang tua dan juga bangsa saat berlomba di kancah Internsional. (Haq/Wil)

Berbagi untuk Negeri, UMM Edukasi Anak-anak LPKA Blitar

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda Berbagi untuk Negeri. Kali ini Kampus Putih UMM menyambangi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar pada Jumat (10/6) lalu. Mengirim dua mobil andalan, Mobil Bioskop Keliling (Bioling) dan Mobil Pintar, UMM menyediakan beragam buku yang bisa dibaca serta permainan seru. Selain itu juga memberikan hiburan dan edukasi terkait pengenalan bahasa serta kelas public speaking. Dalam kesempatan itu pula, UMM memberikan donasi berupa buku agar anak-anak LPKA bisa menghabiskan waktu untuk membaca. Menariknya, ada beberapa mahasiswa asing yang turut serta membantu dan memberikan permainan asyik. Kepala Seksi Pembinaan LPKA Blitar Andik Ariawan menyambut baik kunjungan edukatif yang dilakukan UMM. Sebelumnya, sudah banyak mahasiswa Kampus Putih yang datang untuk mengabdi, membantu dan juga melakukan penelitian di LPKA tersebut. “Ada dari teman-teman Prodi Kesejahteraan Sosial hingga prodi Psikologi. Jadi sebenarnya hubungan LPKA dengan UMM memang sudah lama terjalin,” ungkapnya. Ia juga bercerita bahwa ada beberapa anak yang melanjutkan kuliah di UMM selepas menghabiskan waktu di LPKA. Maka Andik menghimbau agar anak-anak tidak berkecil hati dan terus menggali potensi diri. “Semua punya kesempatan yang sama. Jadi teman-teman harus semangat belajar untuk menggapai impian,” tegasnya. Di sisi lain, Koordinator Kegiatan UMM M. Isnaini mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta literasi. Di samping itu juga mendorong minat baca serta keingintahuan anak-anak LPKA. Pihaknya juga sengaja mengajak mahasiswa luar negeri untuk ikut agar anak-anak LPKA bisa bergaul dengan orang asing. Dengan begitu, bisa saling mengakrabkan diri dan mengenal satu sama lain. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang program UMM Berbagi untuk Negeri. Sebelumnya, Kampus Putih sudah mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Laki-laki, melangsungkan sederet acara di Lapas Perempuan Malang, serta membantu dan menghibur penghunj panti jompo. Tidak ketinggalan memberikan permainan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) beberapa waktu lalu. “Ini menjadi upaya kami untuk memberikan edukasi kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Semoga bisa terus terlaksana dan mampu menebar manfaat kepada sesama,” katanya mengakhiri. (Wil)

Guru Besar Komunikasi Tradisional UMM Jadi Pembicara di Forum Dunia Melayu Dunia Islam

Salah satu guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. diundang dan menjadi pembicara di simposium internasional Forum Dunia Melayu Dunia Islam yang diadakan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) di Kuala Lumpur Malaysia. Adapun acara ini merupakan inisiasi dari Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri dengan menghadirkan lebih dari 70 tokoh intelektual dari berbagai negara. Dalam simposium tersebut, Muslimin mengatakan bahwa bahasa melayu versi Indonesia telah membuktikan diri mampu menjadi bahasa nasional. Internasionalisasi juga terus dilakukan melalui banyak hal. Mulai dari mengirimkan guru ke berbagai negara untuk mengajarkan Bahasa Indonesia hingga menerima mahasiswa asing untuk belajar Bahasa Indonesia. Meski kans bahasa melayu versi Indonesia cukup bagus, namun ada beberapa syarat yang menurutnya perlu dipenuhi. Salah satunya yakni menerima dan memaklumi perbedaan yang ada. Baik itu dalam aspek intonasi, dialek dan juga kebiasaan. “Maka solusinya adalah perlu adanya tim yang berasal dari berbagai negara yang menggunakan bahasa terkait untuk menyamakan persepsi. Begitupun dengan upaya mengesampingkan polemik dan ego politik,” ungkapnya. Dalam kesempatan lain, Muslimin juga berbicara tentang kans bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa resmi ASEAN. Menurutnya, Bahasa Indonesia memiliki peluang cukup luas ketimbang negara ASEAN lainnya sebab pengguna bahasa ini di dunia sudah lebih banyak. Terhitung sudah ada lebih dari 50 negara di dunia yang membuka prodi Bahasa Indonesia. Apalagi jika menggunakan sistem voting, tentu saja bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa resmi ASEAN. Ia menyarankan untuk konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia di acara resmi maupun tidak resmi. Misalnya saja pemerintah yang mengirim surat ke negara lain dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan dilampiri terjemahan. Selain itu, ia mendorong masyarakat Indonesia untuk sebisa mungkin menggunakan semua platform media dalam memperkenalkan Bahasa Indonesia. Terakhir, Muslimin berharap Indonesia tidak omong doang alias harus ada aksi yang jelas dan konkret. Adapun Muslimin merupakan guru besar bidang komunikasi media tradisional. Ia menilai bahwa bidang ini tidak banyak yang melirik dan mendalaminya. Akhirnya, Muslimin meyakinkan diri dan mengambil kajian tentang media warisan. Menurutnya, salah satu faktor kenapa bidang ini tidak banyak yang mengkaji adalah karena kata “tradisional”. Kata tersebut dianggap kuno, tertinggal dan tidak memiliki nilai. “Padahal saya melihat bahwa media tradisional mempunyai pesan yang luar biasa akan kebajikan dalam kehidupan,” ujar Ketua Forum Dekan FISIP Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) itu. Bagi Muslimin, warisan merupakan budaya nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Hal itu tidak lepas akan perannya dalam meredam gesekan-gesekan sosial yang terjadi di masyarakat. (Ros/Wil)

Mahasiswa FH UMM Menang Debat Politik Tingkat Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi di ajang nasional. Kali ini kabar membanggakan datang dari Fakultas Hukum yang berhasil menyabet juara 1 Debat Nasional Political Event 2.0 yang diadakan oleh BEM FMIPA Universitas Negeri Semarang. Adalah Yogi Syahputra Al idrus, Ibnu Artafela dan Felisyah Herlinda Sari yang sukses memenangkannya. Ditambah lagi dengan penghargaan sebagai best speaker yang diperoleh Ibnu Artafela. Adapun ajang yang dilaksanakan pada 4-5 Juni itu diikuti oleh 32 tim dari berbagai universitas di Indonesia. “Kami sudah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Terhitung sejak awal Mei kami sudah berkumpul dan berlatih dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Yogi, salah satu anggota tim. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ajang debat itu mengangkat tema besar “Aktualisasi Nalar Kritis Generasi Milenal Dalam Merefleksikan Isu-Isu Nasional Ditengah Dinamika Politik Nasional”. Sistem yang digunakan juga menerapkan sistem gugur, di mana tim yang kalah otomatis tidak bsia melanjutkan proses kompetisi. Pada babak penyisihan, Yogi dan tim harus melawan tim dari Universitas Negeri Medan. Berbekal latihan dan materi yang banyak, mosi terkait “BPJS Kesehatan yang Memberikan Lebih Banyak Keuntungan daripada Kekurangan bisa diatasi dengan baik. Menariknya, pada babak selanjutnya mereka harus membahas mengenai Pejabat Rangkap Jabatan yang sering ditemui di berbagai daerah. Setelah beberapa tahapan, tim Kampus Putih UMM akhirnya mampu masuk ke semi final dan harus menghadapi Universitas Padjajaran (Unpad). “Menurut kami, lawan yang paling susah dari Unpad karena bahasannya yang cukup menarik dan menantang. Kami sempat merasa akan kalah, tapi Alhamdulillah ternyata menang dan lolos ke babak final,” ungkap Yogi menjelaskan. Di babak final, sudah ada Universitas Muslim Indonesia yang menunggu untuk memperebutkan posisi pertama. Adapun mosi yang harus dimenangkan terkait dengan Program Merdeka belajar kampus Merdeka MBKM. Tim UMM yang berada di posisi kontra nyatanya mampu memenangkan final dan menjadi juara pertama. “Tentu kami memberikan argumen yang logis beserta data yang akurat. Dengan begitu, kami bisa memberikan opini maupun bantahann yang mumpuni. Alhamdulillah sukses menjadi juara pertama di kompetisi debat ini,” tutur Yogi. Terkait kendala, menurutnya masalah terbesar yakni ada di aspek jaringan. Mengingat lomba tersebut dilaksanakan full daring. Selain itu, tidak ada kendala yang berarti. Apalagi dosen-dosen Fakultas Hukum UMM sangar mendukung dan memberikan banyak arahan. Adapun Yogi dan tim merupakan anggota komunitas yang ada di FH UMM yakni Komunitas Riset Debat (KRD). (Zak/Wil)