Sekjen Kementerian PUPR Resmikan New Book Store UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meresmikan unit usaha baru. Dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI Ir. Mohammad Zainal Fatah, Kampus Putih melangsungkan soft launching New Book Store (NBS) UMM pada Senin (20/6) lalu. Adapun toko buku ini berlokasi di sebelah Rayz Hotel UMM di jalan Tlogomas Nomor 50, Malang. Menariknya, NBS tidak hanya menyediakan buku-buku dari penerbit mayor, tapi juga menawarkan buku-buku indie yang jarang ditemukan di toko lain. Ada juga coffeshop yang nantinya bisa dijadikan tempat favorit membaca bagi para pengunjung. Pun dengan podcast corner yang bisa digunakan siapapun untuk mengembangkan potensi diri. Zainal, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia teringat masa-masa menjadi mahasiswa saat datang dan meresmikan NBS. Ia ingat bagaimana buku menjadi temannya di setiap kesempatan. Saat itu, buku-buku yang dibelinya bukan buku baru melainkan buku bekas yang dijajakan di pasar. “Saya memang tidak bisa dikatakan kutu buku, tapi dapat dipastikan saya membawa buku ke mana saja. Selain itu kalau kita lihat, kampus tentu memiliki perpustakaan. Tapi sepertinya sebagian besar mahasiswa lebih suka membeli buku langsung di toko buku,” tambahnya. Menurut Zainal, kehadiran NBS ini dirasa sangat tepat. Dengan begitu, para masyarakat dan mahasiswa bisa dengan mudah mendapatkan akses ke buku sebagai jendela dunia. Ia juga sempat mendorong agar kampus bisa memberikan beasiswa. Bukan hanya yang berupa finansial, tapi juga beasiswa buku sehingga para mahasiswa bisa menggunakannya dengan baik selama studi. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa kehadiran NBS ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya UMM dalam membangun iklim akademik. Utamanya bagi para sivitas akademika Kampus Putih. Di samping itu, Fauzan menilai bahwa NBS juga menjadi usaha pihaknya untuk memberikan kemudahan akan akses dan fasilitas literasi. Pun sebagai bagian dari ekosistem pendidikan berbasis buku, baik buku yang berbentuk hard maupun yang e-book. “Mudah-mudahan toko buku ini bisa menjadi objek dan destinasi masyarakat serta mahasiswa dalam mencari literatur. Sehingga wawasan dan pengetahuan mereka bisa bertambah seiring berjalannya waktu,” harap Fauzan. Nurul Hamidah, salah satu pengunjung NBS merasa nyaman dengan suasana yang diberikan oleh toko buku tersebut. Sederet buku yang disediakan juga ada, sehingga ia bisa dengan mudah mendapatkan karya-karya penulis favoritnya. Di samping itu, Mida, panggilan akrabnya juga mengaku senang karena NBS menawarkan alat-alat tulis kantor yang cukup lengkap. “Senang sekali rasanya ada toko buku yang dekat dan lengkap. Apalagi bagi saya yang memang suka membaca sejak lama. NBS tentu memberikan kemudahan bagi saya sebagai masyarakat. Begitupun juga bagi mahasiswa dan siswa yang mungkin membutuhkan buku untuk perkuliahannya,” kata perempuan asal Lumajang tersebut. Adapun NBS ini merupakan rebranding dari toko buku bookstore yang telah berdiri sejak 2005 lalu. Ini juga menjadi bagian dari upaya UMM untuk mendorong generasi muda menjadi generasi yang mencintai buku. Dibuktikan dengan tersedianya buku-buku edukatif dan sederet buku apik lainnya. Rangkaian soft launching tersebut juga dihadiri oleh berbagai penerbit yang turut berkontribusi menyalurkan buku-buku terbaiknya. (wil)
Hadir di Stadium General UMM, Sekjen Kementerian PUPR Bahas Krisis Air dan Pangan

Dunia internasional sedang menghadapi tantangan perubahan iklim, beberapa di antaranya adalah krisis air bersih dan krisis pangan. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah mulai melakukan mitigasi. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PUPR Ir. Mohammad Zainal Fatah pada acara Stadium General yang dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (20/6) lalu. Lebih lanjut, Zainal, sapaan akrabnya mengatakan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR), pemerintah mulai membangun beberapa infrastruktur untuk mengatur kecukupan pangan dan air di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan air global terus meningkat sebanyak 55% sampai tahun 2050 ke depan. Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan kebutuhan air tersebut, seperti perubahan sistem pertanian, tata kelola kota, dan juga gaya hidup. “Meskipun kebutuhan air meningkat, ketersediaan air bersih semakin menipis. Banyak sungai dan danau yang sudah tercemari. Secara keseluruhan Indonesia masih pada tahap aman yang dilambangkan dengan warna hijau. Namun untuk beberapa daerah seperti pulau Jawa dan Sulawesi sudah menjadi daerah berwarna kuning. Inilah yang perlu kita waspadai kedepannya,” ungkap pria asal Pamekasan tersebut. Untuk menanggulangi krisis air yang akan terjadi, Zainal mengatakan bahwa PUPR telah mambangun bendungan. Hujan yang terjadi di Indonesia dapat menghasilkan 2.73 triliun meter kubik air per tahun, namun air yang tertampung dan layak pakai hanya sebanyak 50 meter kubik air per tahun. Hal ini jelas tertinggal dari Amerika Utara yang mampu menampung cadangan air sebanyak 6000 meter kubik air per tahun atau Australia yang mampu menyimpan air sebanyak 4700 meter kubik air per tahun. “Pembuatan bendungan ini akan menjadi solusi pemerintah untuk menjaga ketersediaan air bersih di Indonesia. Saat ini kami telah menyelesaikan pembangunan 20 bendungan. Rencananya, kami akan membangun total 61 bendungan sampai tahun 2024 nanti. Selain itu, untuk menjaga ketersediaan pangan, pemerintah juga telah menetapkan daerah produksi pangan. Daerah ini bertujuan untuk menyokong kebutuhan pangan daerah maupun nasional,” kata Zainal. Terkait respon masyarakat mengenai pembangunan yang massif, Zainal menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia memiliki empat peran utama. Pertama sebagai lintas sejarah peradaban di masa yang akan datang. Kedua adalah sebagai peningkat daya saing dengan negara lain. Ketiga adalah sebagai pemerataan keadilan sosial di Indonesia. Terakhir, dengan banyak infrastruktur yang ada, diharapkan bisa memudahkan akses antar daerah dan mempererat persatuan bangsa. Di sisi lain Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd mengatakan bahwa dalam menyiapkan mahasiswa di masa mendatang, Kampus Putih UMM telah menyiapkan dua skema pembelajaran. Pertama, adalah pembelajaran akademik yang berlangsung selama perkuliahan. Kedua, yakni melalui kompetensi leadership yang dibangun di organisasi maupun kegiatan seperti stadium general ini. Potensi dan bakat mahasiswa juga terus didukung, salah satu caranya adalah dengan membentuk berbagai Center of Excellence (CoE). “Selain mendukung bakat mahasiswa, program CoE ini hadir dalam rangka meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan dunia industri. CoE ini dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa dan tak terbatas pada jurusan asal mahasiswa tersebut,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)
Satgas UMM Sigap Tangani Wabah Ternak PMK

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat atasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. Kampus Putih telah memiliki tim Satuan tugas (Satgas) khusus yang terjun dan membantu peternak dalam menangani wabah tersebut. Adapun tim ini berada di bawah koordinasi dari Dinas Peternakan atau dinas terkait yang ada di kabupaten maupun kota. Ketua satgas PMK UMM, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S. mengatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya juga sudah memberikan edukasi terkait PMK kepada para mahasiswa peternakan yang ada di Kampus Putih. “Banyak dari mahasiswa yang memang pekerjaan orang tuanya adalah peternak. Jadi mereka bisa memberikan pemahaman kepada warga sekitar yang ada di daerahnya agar ternak yang dimiliki tidak terjangkit virus ini,” tambahnya saat ditemui pada Sabtu (18/6). Timnya juga sudah memberikan konsultasi kepada peternak sekitar. Meski terbatas, bantuan tersebut dirasa bisa menjadi langkah untuk menekan angka penularan PMK. Lili, sapaan akrabnya, juga sering memberikan pemahaman dan arahan untuk menanggapi pertanyaan dari para mahasiswa atau warga yang ternaknya menderita penyakit ini. Adapun tim Satgas UMM tidak bisa bergerak langsung tanpa intruksi dari dinas peternakan. Hal itu karena penyebaran virus PMK yang mudah menular dan sangat cepat. Ditakutkan, penanganan tanpa koordinasi malah membuat penyebarannya semakin tidak terkontrol. “Memang ada larangan dari dinas untuk langsung turun tanpa koordinasi. Maka, kami menunggu intruksi dari dinas peternakan atau dinas terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Bahkan pihak yang boleh menangani langsung hanya dokter hewan. Para mahasiswa tidak dibolehkan untuk turut serta menangani. Hanya diperbolehkan untuk turut melakukan pencatatan dan juga handling,” tambahnya. Lebih lanjut, Lili mengatakan bahwa timnya yang terdiri dari dosen, dokter hewan, dan mahasiswa segera terjun langsung ke lapangan pada minggu depan. Dimulai dengan upaya melakukan vaksinasi bagi hewan ternak di beberapa daerah yang ada di Malang. Di samping itu, Kampus Putih UMM juga telah membuka call center dan layanan aduan penanganan PMK bagi masyarakat luar. Dengan begitu, para peternak bisa dengan mudah mendapatkan informasi dan cara menangani ternak yang tertular PMK. “Apalagi tim UMM telah diisi oleh para dokter hewan dan juga pakar yang memiliki pengetahuan mumpuni. Ini adalah bentuk konkret kami untuk membantu para peternak yang mengalami kesulitan dalam menangani ternak terjangkit virus PMK,” tambahnya. Terkait perawatan, anggota Satgas PMK UMM Dr. drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes. menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh peternak. Dimulai dengan menyemprotkan desinfektan di kandang tiap pagi dan sore. Pembatasan gerak masuk dan keluar untuk ternak serta orang juga harus dilakukan. “Penyakit ini disebabkan oleh virus, jadi tidak ada obat yang bisa membunuh virus tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan antibiotik untuk mencegah infeksius sekunder dan tidak berubah menjadi lebih parah. Memang perlu ketelatenan lebih dalam merawat luka-luka yang dialami hewan ternak,” jelasnya. Imbang, begitu ia kerap disapa, juga menyarankan agar peternak bisa menyempatkan untuk memberi vitamin serta mencekoki hewan dengan makanan-makan lembut. Sehingga nutrisi dan asupan gizi ternak masih bisa dilakukan meski terserang penyakit. Sekaligus sebagai cara agar ternak yang dimiliki memiliki tenaga. Berdasarkan data, sampai saat ini ada lebih dari 7.500 sapi yang terjangkit. 390 ekor di antaranya sembuh dan 44 ekor mati. “Wabah ini menyebabkan kerugian yang cukup besar. Berat badan ternak yang terjangkit bisa turun sebesar 10-15 persen. Sementara untuk sapi perah, produksinya bisa turun di angka 30-80 persen. Bahkan jika menyerang pedet, kemungkinan kematiannya menjadi lebih besar,” tuturnya mengakhiri. (Wil)
Tim UMM Juara Kontes Robot Puspresnas 2022

Kabar gembira kembali datang dari Tim Robot Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mampu merengkuh juara 2 pada Kontes Robot Indonesia 2022 Regional Wilayah II yang dilaksanakan pada 11-13 Juni 2022 secara daring. Tim kebanggaan UMM ini berhasil meraih kemenangan pada kategori Kontes Robot SAR (KRSRI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Adalah Salman Al-Farisi Ramadhani, Aditya Septiawan Dwi Andika dan Naufal Labib Althof yang menjadi orang-orang di balik robot Dome. Aditya mengungkapkan bahwa timnya tetap bersyukur walaupun meraih Juara 2 di tingkat regional. Apalagi dengan persiapan yang relatif singkat dan informasi yang mendadak. “Kami harus berusaha ekstra dalam latihan dan penyusunannnya agar robot tidak error saat perlombaan. Selain kerja keras, doa dari kedua orang tua juga menjadi hal penting yang melancarkan perjalanan kami,” tambahnya. Pada kompetisi tahun ini, kompetisi tersebut memberikan misi untuk memadamkan api di ruangan dan menyelamatkan korban. Aditya mengatakan keunggulan dari robot Dome terletak di segi desain dan strategi robot. Adapun proses perakitan memakan waktu lebih dari satu bulan. Belum lagi mereka harus mengalami kendala komponen yang susah ditemui. “Mungkin Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menjadi lawan yang cukup sengit dalam KRI tahun ini,” ujar Aditya. Disampaikan Adit, usai menang di regional, ia dan tim nantinya akan bertarung dalam Kontes Robot Indonesia (KRI). Ajang ini merupakan kompetisi tahunan dalam bidang rancang bangun dan rekayasa robotika bagi mahasiswa. Ada beberapa tahap yang harus dilewati Adit dan tim agar bisa hadir dan bersaing secara luring. Dimulai dengan pengiriman proposal kemudian dilanutkan dengan pengiriman video yang menampilkan perkembangan robot. Hingga akhirnya sampai pada tahap menampilkan robotnya melalui video conference. Dari situ, akan menghasilkan sederet tim yang akan diundang secara langsung pada KRI Nasional 2022 yang nantinya diadakan di Surabaya. Ia berharap, tim Dome UMM bisa mengulang raihan gemilang tahun lalu dengan menduduki juara pertama di kategori KRSRI. Selain itu juga mampu menjadi tim dengan desain dan strategi terbiak. “Untuk tingkat nasional, kami akan lebih menguatkan mental karena euforianya tentu akan berbeda. Pertandingannya dilaksanakan secara langsung dan semoga kita dapat menjuarainya seperti tahun lalu,” pungkasnya. (Zak/Wil)
Hadiri Konferensi Internasional, Direktur RBC UMM Beri Sumbangsih Atasi Ekstrimisme dan Terorisme

Direktur Program Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nafik Muthohirin, MA, Hum menjadi salah satu perwakilan Indonesia di konferensi internasional di Kairo, Mesir. Konferensi bertajuk “Religious Extremism: The Intellectual Premises and Counter-Strategies” tersebut menghadirkan perwakilan dari 42 negara yang terdiri dari pemimpin negara, mufti, ulama, serta akademisi dan peneliti. Adapun agenda tersebut berlangsung pada 7-9 Juni lalu. Konferensi tersebut membahas mengenai persoalan ekstremisme dan terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menurut Nafik, sapaan akrabnya, aksi terorisme dan ekstremisme terus mengalami transformasi gerakan. Bahkan, sejumlah kelompok ekstremis melakukan propaganda pemikiran dan strategi perekrutan melalui cara-cara yang lebih kontemporer, utamanya melalui media sosial. Ia menambahkan bahwa belakangan ekstremisme dunia semakin diperparah dengan kebangkitran populisme agama yang disulut sejumlah politisi tertentu demi kampanye politik. Pada sisi yang lain, kebencian terhadap Islam (Islamophobia) banyak terjadi di negara-negara Barat, terutama dimulai pasca serangan World Trade Center (WTC) dan Penthagon atau biasa disebut peristiwa 9/11. “Maka pada konferensi internasional inilah para perwakilan dari berbagai negara berkumpul untuk membahas strategi penanganannya. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu delegasi Indonesia dari unsur peneliti dan akademisi,” ungkapnya. Forum tersebut juga menjadi ajang tukar pikiran terkait strategi masing-masing negara dalam keberhasilannya memerangi ekstremisme. Di samping itu juga bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai perdamaian dan koeksistensi berbagai komunitas keagamaan di dunia. Bahkan juga menjadi upaya membuka koneksi akademis dan riset terkait hal tersebut. Nafik menyebut bahwa perlawanan terhadap ekstremisme agama tidak bisa dilakukan secara sendiri. Untuk memeranginya, perlu aksi kolektif di antara pemimpin negara, pemimpin agama, dan akademisi/peneliti. “Hal itu pula yang disampaikan Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Shawki Ibrahim Allam. Dia bilang kalau memerangi ekstremisme dengan pendekatan militeristik tidak cukup. Ada cara yang lebih humanis dengan memoderasi pemahaman dan perilaku keberagamaan pengikutnya,” kata Nafik yang juga dosen di Fakultas Agama Islam UMM. Adapun keterlibatan Nafik dalam konferensi tersebut merupakan afirmasi dari berbagai organisasi dalam Program Internasional Peningkatan Kapasitas Guru Madrasah atau Pesantren dan Ismuba dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Beberapa organisasinya ialah Institute Leimena, Ma’arif Institute, Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, dan RBC Institute A. Malik Fadjar UMM. (Wil)
Siap Dampingi UMKM, Halal Center UMM Cetak SDM Kuasai Produk Halal

Halal Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan pelatihan Pendampingan Proses Produk Halal Batch 2. Rangkaian agenda tersebut dilaksanakan sejak 14 hingga 16 Juni dengan kombinasi pemateri dari guru besar, auditor halal UMM dan Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Membuka pelatihan, Wakil Rekor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi pusat peneliti dan produk halal UMM. Menurutnya, program tersebut sangat penting karena akan menjadi salah satu pertimbangan sosiologis masyarakat dalam memilih produk. Apalagi muslim menjadi mayoritas di Indonesia sehingga jaminan halal toyyiba menjadi aspek penting. “Tentu perlu adanya pengembangan dan fokus pada langkah bagaimana nanti bisa mengembangkan industri halal yang bukan hanya untuk pasar Indonesia tapi juga bisa dikembangkan ke negara-negara lain. Terutama negara-negara sekuler yang muslimnya minoritas. Tentu langkah ini adalah saslah satu upaya mengembangkan industri halal di sana,” tambahnya. Ia juga senang karena dalam waktu dekat program ini akan dikaitkan dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ia berharap, nantinya para mahasiswa bisa mengikuti rangkaian program pelatihan ini dan bisa dikonversi ke kurikulum setiap prodi. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. selaku ketua pusat studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM menjelaskan bahwa tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan sinergisitas. Utamanya antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) serta Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH KHT) Muhammadiyah dalam merespon UU JPH 2014 dan UU Cipta Kerja terkait “Self Declare” bagi UMKM. Lebih lanjut, pihaknya juga berupaya untuk meningkatkan kompetensi stakeholder UMM, kader Muhammadiyah, pondok pesantren, serta lembaga sekitar Malang dan Jatim. Menurutnya, pemahaman akan produk halal sangatlah penting. Dibarengi dengan kemampuan melakukan audit dan pendampingan UMKM dalam pengurusan sertifikasi halal. “Target dari program ini adalah menyumbang solusi inovatif berupa pendampingan dan penyediaan sumber daya manudia bagi umat Islam terkait perlindungan produk halal thoyib, terutama bagi UMKM se-Jatim,” ujarnya. Terakhir, ia juga ingin agar kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Baik itu berupa pameran produk halal, forum ilmiah skala nasional maupun internasional dan publikasi ilmiah bersama. “Saya berharap melalui kegiatan ini, kita dapat melayani dan membuktikan slogan dari Muhammadiyah untuk bangsa,” pungkasnya. (Ros/Wil)
Potensi Menjanjikan Produk Halal Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Tepatnya berada di angka 240 juta. Hal itu memberikan banyak pengaruh, mulai dari kebijakan, pelayanan, hingga bahkan makanan. Dalam regulasinya, makanan halal kini harus memiliki tanda bahwa makanan tersebut halal. Sehingga memberikan kepastian dan kenyamanan bagi konsumen. Menurut Kepala Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. mengatakan bahwa potensi produk halal di Indonesia sangat besar. begitupun dengan pembuatan produk halal yang dinilai sangat baik untuk pasar. PTidak hanya bagi pasar Indonesia saja, tapi juga bagi pasar global. Apalagi melihat bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sebanyak lebih dari 200 juta. Bahkan mencapai 40% dari total penduduk Asean. Lebih lanjut, ia mnegatakan bahwa kehadiran sertifikat halal juga turut membantu dalam lancarnya produksi makanan halal dan keterjaminannya. Apalagi kini sertifikat halal sudah diakui oleh World Trade Organization (WTO). Kini, halal juga sudah menjadi gaya hidup banyak orang dan mendorong tumbuhnya ekonomi syariah. “Produk halal juga berefek pada rasa aman yang dimiliki oleh para konsumen muslim. Maka dari itu, pemerintah, pengusaha, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian harus mengupayakan percepatan pengembangan produk halal,” tambahnya. Elfi, sapaan akrabnya juga menjelaskan bahwa sampai saat ini terdapat 25% UMKM yang memiliki sertifikat halal, 58% mempunyai P-IRT, 38,24% memiliki MD namun belum melengkapi CPPOB (Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik). Maka dari itu, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM terus melakukan kegiatan penunjang sertifikasi halal. Maka dari itu, untuk melancarkan pengembangan makanan halal serta prosesnya, pendampingan menjadi salah satu hal yang penting. Salah satunya melalui pendampingan-pendampingan dan juga sosialisasi. Sampai saat ini, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM telah melakukan sederet kegiatan. Mulai dari Lokakarya “Keamanan dan Kehalalan Pangan”, pelatihan uji deteksi cepat bahan makanan berbahaya, pengabdian serta membuat kantin sehat. “Lebih dari itu kami juga selalu melakukan penelitian dengan luaran paten dan jurnal Nasional serta Internasional,” tutur Elfi. Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Ec., Ph.D. Menurutnya, proses sertifikasi halal saat ini masih melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI). Adapun penilaian produk didasarkan pada titik kritis yang ada. Dimulai dengan pemeriksaan bahan yang terbagi menjadi bahan baku dan bahan tambahan. Keduanya harus bebas dari hal yang haram. Adapula bahan penolong yang diharuskan tidak berasal dari babi, anjing dan tubuh manusia. Titik kritis selanjutnya yakni dari segi proses. Hosen, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tempat dan proses produksi tidak boleh tercemar bahan najis. Kalaupun tercemar bahan najis selain mughalladhah, maka harus ada pencucian secara syar’i. Hal lain yang tidak kalah penting yakni kesucian alat serta bahan kemasan. Hosen juga menekankan hal lain yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan sertifikasi halal. Salah satunya menghindari bahan makanan yang berasal dari tubuh manusia. “Kalau ditemukan, tentu saja ditolak karena bahan itu diharamkan. Yang mengandung babi itu juga akan ditolak. Adapun kalau cuma tercampur najis nutawassithah, itu bisa dipertimbangkan asal bisa dibersihkan lagi dengan baik,” pungkas Hosen menjelaskan. (wil)
Mahasiswa UMM Ajak Anak Muda Aktif Berkoperasi

Sebagian besar perguruan tinggi lebih sering menengok dan mempelajari lembaga keuangan modern seperti perbankan. Padahal masih ada lembaga keuangan non-bank yang seharusnya juga dipelajari, khususnya koperasi. Hal itu disampaikan oleh Yunan Syaifullah, M.Sc. selaku Dosen Prodi D-III Perbankan dan Keuangan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena itu mendorong pihaknya untuk mengunjungi Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) pada Rabu (15/6) lalu. Menariknya, para mahasiswa juga diajak untuk mengkampanyekan koperasi lewat tagline “Aku Berkoperasi”. Mereka dapat melakukannya melalui vlog Youtube, Tiktok, konten Instagram maupun media sosial lainnya. Rencananya, para mahasiswa akan bersama-sama mengunggahnya bersamaan dengan Hari Koperasi Nasional. Yunan, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kunjungan itu senantiasa berupata melakukan edukasi yang berbagai cara. Utamanya dalam rangka menyelamatkan masa depan koperasi. Salah satunya dengan mengampanyekan koperasi kepada khalayak luas oleh para mahasiswa. “Kegiatan company visit ini juga menjadi rangkaian kegiatan akademis dari mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan berbasis industrial lead. Jadi, para mahasiswa diajak untuk mengunjungi realita dan lembaga keuangan secara langsung,” tambahnya. Menurut Yunan, cara ini membuat mahasiswa bisa melihat bagaimana cara kerja yang ada di lembaga keuangan. Baik iut bank maupun yang bukan bank. Dengan begitu, mereka juga bisa mengembangkan ide-ide baru yang solutif untuk bisa memajukan masyarakat. “Karena itu, company visit menjadi langkah yang tepat dalam menjembatani hal-hal yang dipelajari di bangku perkuliahan dan praktek secara nyata,” jelasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua I SBW Malang Reni Sukesiningsih. Menurutnya, anak muda merupakan pasar potensial koperasi. Namun pasar ini belum sepenuhnya digarap dengan serius. Koperasi lebih sering memfokuskan diri dan menggarap kelompok masyarakat usia mapan. Maka, kampanye “Aku Berkoperasi” diapresiasi dan disambut baik. Dalam kunjungan tesebut, Reni mengatakan bahwa koperasi yang memiliki anggota lebih dari 10 ribu ini sudah melebarkan pasarnya secara digital. Baik melalui market palce maupun aplikasi SBW Mart yang sudah bisa diakses dan diunduh dari Playstore. Hal ini sebagai upaya untuk mengimbangi perubahan pasar yang terus berubah. “Meski begitu, kami tetap melestarikan model tanggung renteng dalam penggalian dana dan pembiayaan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Upaya ini sudah kami lakukan sejak 1954 lalu hingga kini,” ungkap Reni mengakhiri. (Wil)
UMM-MIXPRO Siap Bangun UMM Metaverse

Tidak hanya menciptakan era baru web 3.0, metaverse juga mendorong dunia virtual yang immersive serta kemudahan akses di masa depan. Melihat perkembangan tersebut, Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat untuk ambil bagian dalam riset dan pengembangan metaverse di Indonesia. Pada awal Juni lalu, Prodi Informatika UMM melakukan kunjungan ke MIXPRO untuk melakukan pengembangan UMM Metaverse. Ketua Prodi Informatika UMM, Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.Cs menjelaskan bahwa gebrakan teknologi metaverse ini lahir dari penggabungan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) yang kemudian banyak dikenal dengan istilah Extended Reality (XR). Dengan gebrakan baru tersebut, metaverse tak henti-hentinya menjadi perbincangan masyarakat global. Untuk mengikuti perkembangan teknologi, lahirlah proyek UMM Metaverse yang bertujuan untuk membuat landscape UMM dalam dunia virtual. “Kunjungan Prodi Informatika UMM ke MIXPRO bukan tanpa alasan, pasalnya perusahaan yang bergerak di bidang entertainment ini memiliki divisi khusus dalam mengembangkan teknologi metaverse. Dalam kunjungan tersebut, selain untuk melakukan pengembangan proyek UMM Metaverse, Kami juga berencana untuk merintis pendirian pusat unggulan atau Center of Excellence (CoE) Sekolah Metaverse” ungkap Galih. Lebih lanjut, Galih menjelaskan bahwa nantinya project UMM Metaverse ini akan dikembangkan oleh dua jurusan yaitu Prodi Informatika dari Fakultas Teknik dan Prodi Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pelaksanaannya pun melibatkan dosen dan mahasiswa dari dua Prodi tersebut. “Secara garis besar, Informatika nanti akan menangani pengembangan metaverse dari sisi perangkat lunaknya, seperti unreal atau support dari sisi programmer. Sedangkan Prodi Ilmu Komunikasi akan ada di sisi dari narasi, skenario, konsep Metaverse dan juga 3D artist-nya. Namun, tidak menutup kemungkinan prodi lain bisa ikut berkolaborasi,” terang Galih. Galih berharap pengembangan proyek UMM Metaverse ini sudah dapat ditampilkan dalam gelaran Muktamar Muhammadiyah ke-48 di bulan November 2022 di Universitas Muhammadiyah Surakarta mendatang. Project tersebut juga diharapkan mampu memberikan vibrasi positif untuk proyek-proyek lanjutannya. Terkait perintisan CoE Metaverse, Galih mengatakan bahwa CoE tersebut ada sebagai tambahan kompetensi bagi mahasiswa yang tertarik untuk mengembangkan metaverse. “Sistem yang digagas berupa pelatihan selama satu semester untuk menguatkan sisi programming, virtual reality, dan augmented reality yang dinamakan Metaverse Academy. Kemudian mahasiswa akan mengikuti magang di metaverse project yang saat ini bermitra dengan MIXPRO. Harapannya, nanti mahasiswa yang sudah berpengalaman dalam mengembangkan produk di bidang metaverse atau bidang lainnya seperti SandBox serta dapat diserap oleh Industri bahkan sebelum lulus” tandasnya mengakhri. (Wil)
UMM-FILBA Undang Institusi Bahasa se-Indonesia, Kaji Standar Bahasa

Universitas Muhammadiyah Malang menjadi tuan rumah pertama dalam penyelenggaraan Workshop Nasional 1 FILBA tahun 2022. Workshop yang digagas oleh Forum Institusi Layanan Bahasa (FILBA) UMM ini bertujuan untuk menyatukan semua institusi layanan bahasa seluruh Indonesia. Utamanya dalam melakukan sosialisasi pengujian bahasa, training dan penyuntingan bahasa pendidikan tinggi. Adapun para peserta yang hadir merupakan perwakilan lembaga bahasa dari seluruh universitas di Indonesia yang digelar pada 8 hingga 12 Juni 2022 lalu. Membuka agenda, Wakil Rektor I Kampus Putih UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyambut baik aktivitas workshop nasional tersebut. Menurutnya, hal ini dapat mendorong lembaga bahasa untuk berinovasi dan memberikan program baru. Ia berharap nantinya akan ada hasil konkret yang dapat memberi manfaat, khususnya bagi para anggota FILBA. “Salah satunya yang bisa dilakukan yakni dengan menggelar tes bahasa Inggris akademik, baik bagi anggota FILBA maupun masyarakat umum. Hal itu menjadi upaya kita untuk mendorong mereka dalam mempelajarid an menguasai bahasa internasional,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusat Bahasa UMM Dr. Masduki, M.Pd. Ia mengatakan bahwa tujuan lain yang ingin dicapai workshop ini adalah untuk menyusun dan menyempurnakan draft standarisasi atau rancangan dokumen mutu pelatihan bahasa. Begitupun dengan pengujian dan penerjemahan melalui divisi penjamin mutu. “Saya sangat mengapresiasi atas partisipasi dan kontribusi dari para peserta. Apalagi mereka kan berasal dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Semoga seluruh peserta bisa ikut serta dengan aktif dan memberikan sumbangsih untuk menyusun rancangan standarsisi ini,” ungkap Masduki. Adapun kegiatan Workshop ini akan terus berlanjut dalam rangka mematangkan proses pengembangan standarisasi yang ada. Workshop serupa juga akan dilangsungkan pada bulan November mendatang di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menariknya, dalam kegiatan tersebut terlihat sederet program dan unit dari UMM yang memiliki kaitan dnegan lembaga bahasa. American Corner, Australian Corner, Confusius Institute China, Learning Center dan Unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Tiap corner diatur sedemikian rupa layaknya pameran agar para peserta workshop bisa bertanya dan mengetahui program apa saja yang ada di UMM. Dengan begitu, Akan muncul potensi kemitraan yang bisa dijalin oleh pihak luar. “Terutama untuk menunjang atmosfer akademik yang ada di Indonesia. Jadi kita memang memberikan kesempatan bagi para corner untuk dapat mengekspos diri,” ujar Masduki mengakhiri. (zak/wil)