Hadiri Konferensi Internasional, Direktur RBC UMM Beri Sumbangsih Atasi Ekstrimisme dan Terorisme

Direktur Program Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nafik Muthohirin, MA, Hum menjadi salah satu perwakilan Indonesia di konferensi internasional di Kairo, Mesir. Konferensi bertajuk “Religious Extremism: The Intellectual Premises and Counter-Strategies” tersebut menghadirkan perwakilan dari 42 negara yang terdiri dari pemimpin negara, mufti, ulama, serta akademisi dan peneliti. Adapun agenda tersebut berlangsung pada 7-9 Juni lalu. Konferensi tersebut membahas mengenai persoalan ekstremisme dan terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menurut Nafik, sapaan akrabnya, aksi terorisme dan ekstremisme terus mengalami transformasi gerakan. Bahkan, sejumlah kelompok ekstremis melakukan propaganda pemikiran dan strategi perekrutan melalui cara-cara yang lebih kontemporer, utamanya melalui media sosial. Ia menambahkan bahwa belakangan ekstremisme dunia semakin diperparah dengan kebangkitran populisme agama yang disulut sejumlah politisi tertentu demi kampanye politik. Pada sisi yang lain, kebencian terhadap Islam (Islamophobia) banyak terjadi di negara-negara Barat, terutama dimulai pasca serangan World Trade Center (WTC) dan Penthagon atau biasa disebut peristiwa 9/11. “Maka pada konferensi internasional inilah para perwakilan dari berbagai negara berkumpul untuk membahas strategi penanganannya. Alhamdulillah, saya menjadi salah satu delegasi Indonesia dari unsur peneliti dan akademisi,” ungkapnya. Forum tersebut juga menjadi ajang tukar pikiran terkait strategi masing-masing negara dalam keberhasilannya memerangi ekstremisme. Di samping itu juga bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai perdamaian dan koeksistensi berbagai komunitas keagamaan di dunia. Bahkan juga menjadi upaya membuka koneksi akademis dan riset terkait hal tersebut. Nafik menyebut bahwa perlawanan terhadap ekstremisme agama tidak bisa dilakukan secara sendiri. Untuk memeranginya, perlu aksi kolektif di antara pemimpin negara, pemimpin agama, dan akademisi/peneliti.  “Hal itu pula yang disampaikan Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Shawki Ibrahim Allam. Dia bilang kalau memerangi ekstremisme dengan pendekatan militeristik tidak cukup. Ada cara yang lebih humanis dengan memoderasi pemahaman dan perilaku keberagamaan pengikutnya,” kata Nafik yang juga dosen di Fakultas Agama Islam UMM. Adapun keterlibatan Nafik dalam konferensi tersebut merupakan afirmasi dari berbagai organisasi dalam Program Internasional Peningkatan Kapasitas Guru Madrasah atau Pesantren dan Ismuba dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Beberapa organisasinya ialah Institute Leimena, Ma’arif Institute, Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, dan RBC Institute A. Malik Fadjar UMM. (Wil)

Siap Dampingi UMKM, Halal Center UMM Cetak SDM Kuasai Produk Halal

Halal  Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan pelatihan Pendampingan Proses Produk Halal Batch 2. Rangkaian agenda tersebut dilaksanakan sejak 14 hingga 16 Juni dengan kombinasi pemateri dari guru besar, auditor halal UMM dan Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Membuka pelatihan, Wakil Rekor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi pusat peneliti dan produk halal UMM. Menurutnya, program tersebut sangat penting karena akan menjadi salah satu pertimbangan sosiologis masyarakat dalam memilih produk. Apalagi muslim menjadi mayoritas di Indonesia sehingga jaminan halal toyyiba menjadi aspek penting. “Tentu perlu adanya pengembangan dan fokus pada langkah bagaimana nanti bisa mengembangkan industri halal yang bukan hanya untuk pasar Indonesia tapi juga bisa dikembangkan ke negara-negara lain. Terutama negara-negara sekuler yang muslimnya minoritas. Tentu langkah ini adalah saslah satu upaya mengembangkan industri halal di sana,” tambahnya. Ia juga senang karena dalam waktu dekat program ini akan dikaitkan dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ia berharap, nantinya para mahasiswa bisa mengikuti rangkaian program pelatihan ini dan bisa dikonversi ke kurikulum setiap prodi. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. selaku ketua pusat studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM menjelaskan bahwa tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan sinergisitas. Utamanya antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) serta Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH KHT) Muhammadiyah dalam merespon UU JPH 2014 dan UU Cipta Kerja terkait “Self Declare” bagi UMKM. Lebih lanjut, pihaknya juga berupaya untuk meningkatkan kompetensi stakeholder UMM, kader Muhammadiyah, pondok pesantren, serta lembaga sekitar Malang dan Jatim. Menurutnya, pemahaman akan produk halal sangatlah penting. Dibarengi dengan kemampuan melakukan audit dan pendampingan UMKM dalam pengurusan sertifikasi halal. “Target dari program ini adalah menyumbang solusi inovatif berupa pendampingan dan penyediaan sumber daya manudia bagi umat Islam terkait perlindungan produk halal thoyib, terutama bagi UMKM se-Jatim,” ujarnya. Terakhir, ia juga ingin agar kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Baik itu berupa pameran produk halal, forum ilmiah skala nasional maupun internasional dan publikasi ilmiah bersama.  “Saya berharap melalui kegiatan ini, kita dapat melayani dan membuktikan slogan dari Muhammadiyah untuk bangsa,” pungkasnya. (Ros/Wil)

Potensi Menjanjikan Produk Halal Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Tepatnya berada di angka 240 juta. Hal itu memberikan banyak pengaruh, mulai dari kebijakan, pelayanan, hingga bahkan makanan. Dalam regulasinya, makanan halal kini harus memiliki tanda bahwa makanan tersebut halal. Sehingga memberikan kepastian dan kenyamanan bagi konsumen. Menurut Kepala Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. mengatakan bahwa potensi produk halal di Indonesia sangat besar. begitupun dengan pembuatan produk halal yang dinilai sangat baik untuk pasar. PTidak hanya bagi pasar Indonesia saja, tapi juga bagi pasar global. Apalagi melihat bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sebanyak lebih dari 200 juta. Bahkan mencapai 40% dari total penduduk Asean. Lebih lanjut, ia mnegatakan bahwa kehadiran sertifikat halal juga turut membantu dalam lancarnya produksi makanan halal dan keterjaminannya. Apalagi kini sertifikat halal sudah diakui oleh World Trade Organization (WTO). Kini, halal juga sudah menjadi gaya hidup banyak orang dan mendorong tumbuhnya ekonomi syariah. “Produk halal juga berefek pada rasa aman yang dimiliki oleh para konsumen muslim. Maka dari itu, pemerintah, pengusaha, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian harus mengupayakan percepatan pengembangan produk halal,” tambahnya. Elfi, sapaan akrabnya juga menjelaskan bahwa sampai saat ini terdapat 25% UMKM yang memiliki sertifikat halal, 58% mempunyai P-IRT, 38,24% memiliki MD namun belum melengkapi CPPOB (Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik). Maka dari itu, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM terus melakukan kegiatan penunjang sertifikasi halal. Maka dari itu, untuk melancarkan pengembangan makanan halal serta prosesnya, pendampingan menjadi salah satu hal yang penting. Salah satunya melalui pendampingan-pendampingan dan juga sosialisasi. Sampai saat ini, Pusat Kajian Makanan Aman-Halal UMM telah melakukan sederet kegiatan. Mulai dari Lokakarya “Keamanan dan Kehalalan Pangan”, pelatihan uji deteksi cepat bahan makanan berbahaya, pengabdian serta membuat kantin sehat. “Lebih dari itu kami juga selalu melakukan penelitian dengan luaran paten dan jurnal Nasional serta Internasional,” tutur Elfi. Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Utama Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Ec., Ph.D. Menurutnya, proses sertifikasi halal saat ini masih melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI). Adapun penilaian produk didasarkan pada titik kritis yang ada. Dimulai dengan pemeriksaan bahan yang terbagi menjadi bahan baku dan bahan tambahan. Keduanya harus bebas dari hal yang haram. Adapula bahan penolong yang diharuskan tidak berasal dari babi, anjing dan tubuh manusia. Titik kritis selanjutnya yakni dari segi proses. Hosen, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tempat dan proses produksi tidak boleh tercemar bahan najis. Kalaupun tercemar bahan najis selain mughalladhah, maka harus ada pencucian secara syar’i. Hal lain yang tidak kalah penting yakni kesucian alat serta bahan kemasan. Hosen juga menekankan hal lain yang perlu diperhatikan sebelum mengajukan sertifikasi halal. Salah satunya menghindari bahan makanan yang berasal dari tubuh manusia. “Kalau ditemukan, tentu saja ditolak karena bahan itu diharamkan. Yang mengandung babi itu juga akan ditolak. Adapun kalau cuma tercampur najis nutawassithah, itu bisa dipertimbangkan asal bisa dibersihkan lagi dengan baik,” pungkas Hosen menjelaskan. (wil)

Mahasiswa UMM Ajak Anak Muda Aktif Berkoperasi

Sebagian besar perguruan tinggi lebih sering menengok dan mempelajari lembaga keuangan modern seperti perbankan. Padahal masih ada lembaga keuangan non-bank yang seharusnya juga dipelajari, khususnya koperasi. Hal itu disampaikan oleh Yunan Syaifullah, M.Sc. selaku Dosen Prodi D-III Perbankan dan Keuangan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena itu mendorong pihaknya untuk mengunjungi Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) pada Rabu (15/6) lalu. Menariknya, para mahasiswa juga diajak untuk mengkampanyekan koperasi lewat tagline “Aku Berkoperasi”. Mereka dapat melakukannya melalui vlog Youtube, Tiktok, konten Instagram maupun media sosial lainnya. Rencananya, para mahasiswa akan bersama-sama mengunggahnya bersamaan dengan Hari Koperasi Nasional. Yunan, sapaan akrabnya mengatakan bahwa kunjungan itu senantiasa berupata melakukan edukasi yang berbagai cara. Utamanya dalam rangka menyelamatkan masa depan koperasi. Salah satunya dengan mengampanyekan koperasi kepada khalayak luas oleh para mahasiswa. “Kegiatan company visit ini juga menjadi rangkaian kegiatan akademis dari mata kuliah Manajemen Lembaga Keuangan berbasis industrial lead. Jadi, para mahasiswa diajak untuk mengunjungi realita dan lembaga keuangan secara langsung,” tambahnya. Menurut Yunan, cara ini membuat mahasiswa bisa melihat bagaimana cara kerja yang ada di lembaga keuangan. Baik iut bank maupun yang bukan bank. Dengan begitu, mereka juga bisa mengembangkan ide-ide baru yang solutif untuk bisa memajukan masyarakat. “Karena itu, company visit menjadi langkah yang tepat dalam menjembatani hal-hal yang dipelajari di bangku perkuliahan dan praktek secara nyata,” jelasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua I SBW Malang Reni Sukesiningsih. Menurutnya, anak muda merupakan pasar potensial koperasi. Namun pasar ini belum sepenuhnya digarap dengan serius. Koperasi lebih sering memfokuskan diri dan menggarap kelompok masyarakat usia mapan. Maka, kampanye “Aku Berkoperasi” diapresiasi dan disambut baik. Dalam kunjungan tesebut, Reni mengatakan bahwa koperasi yang memiliki anggota lebih dari 10 ribu ini sudah melebarkan pasarnya secara digital. Baik melalui market palce maupun aplikasi SBW Mart yang sudah bisa diakses dan diunduh dari Playstore. Hal ini sebagai upaya untuk mengimbangi perubahan pasar yang terus berubah. “Meski begitu, kami tetap melestarikan model tanggung renteng dalam penggalian dana dan pembiayaan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Upaya ini sudah kami lakukan sejak 1954 lalu hingga kini,” ungkap Reni mengakhiri. (Wil)

UMM-MIXPRO Siap Bangun UMM Metaverse

Tidak hanya menciptakan era baru web 3.0, metaverse juga mendorong dunia virtual yang immersive serta kemudahan akses di masa depan. Melihat perkembangan tersebut, Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat untuk ambil bagian dalam riset dan pengembangan metaverse di Indonesia. Pada awal Juni lalu, Prodi Informatika UMM melakukan kunjungan ke MIXPRO untuk melakukan pengembangan UMM Metaverse. Ketua Prodi Informatika UMM, Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom, M.Cs menjelaskan bahwa gebrakan teknologi metaverse ini lahir dari penggabungan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) yang kemudian banyak dikenal dengan istilah Extended Reality (XR). Dengan gebrakan baru tersebut, metaverse tak henti-hentinya menjadi perbincangan masyarakat global. Untuk mengikuti perkembangan teknologi, lahirlah proyek UMM Metaverse yang bertujuan untuk membuat landscape UMM dalam dunia virtual. “Kunjungan Prodi Informatika UMM ke MIXPRO bukan tanpa alasan, pasalnya perusahaan yang bergerak di bidang entertainment ini memiliki divisi khusus dalam mengembangkan teknologi metaverse. Dalam kunjungan tersebut, selain untuk melakukan pengembangan proyek UMM Metaverse, Kami juga berencana untuk merintis pendirian pusat unggulan atau Center of Excellence (CoE) Sekolah Metaverse” ungkap Galih. Lebih lanjut, Galih menjelaskan bahwa nantinya project UMM Metaverse ini akan dikembangkan oleh dua jurusan yaitu Prodi Informatika dari Fakultas Teknik dan Prodi Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Pelaksanaannya pun melibatkan dosen dan mahasiswa dari dua Prodi tersebut. “Secara garis besar, Informatika nanti akan menangani pengembangan metaverse dari sisi perangkat lunaknya, seperti unreal atau support dari sisi programmer. Sedangkan Prodi Ilmu Komunikasi akan ada di sisi dari narasi, skenario, konsep Metaverse dan juga 3D artist-nya. Namun, tidak menutup kemungkinan prodi lain bisa ikut berkolaborasi,” terang Galih. Galih berharap pengembangan proyek UMM Metaverse ini sudah dapat ditampilkan dalam gelaran Muktamar Muhammadiyah ke-48 di bulan November 2022 di Universitas Muhammadiyah Surakarta mendatang. Project tersebut juga diharapkan mampu memberikan vibrasi positif untuk proyek-proyek lanjutannya. Terkait perintisan CoE Metaverse, Galih mengatakan bahwa CoE tersebut ada sebagai tambahan kompetensi bagi mahasiswa yang tertarik untuk mengembangkan metaverse. “Sistem yang digagas berupa pelatihan selama satu semester untuk menguatkan sisi programming, virtual reality, dan augmented reality yang dinamakan Metaverse Academy. Kemudian mahasiswa akan mengikuti magang di metaverse project yang saat ini bermitra dengan MIXPRO. Harapannya, nanti mahasiswa yang sudah berpengalaman dalam mengembangkan produk di bidang metaverse atau bidang lainnya seperti SandBox serta dapat diserap oleh Industri bahkan sebelum lulus” tandasnya mengakhri. (Wil)

UMM-FILBA Undang Institusi Bahasa se-Indonesia, Kaji Standar Bahasa

Universitas Muhammadiyah Malang menjadi tuan rumah pertama dalam penyelenggaraan Workshop Nasional 1 FILBA tahun 2022. Workshop yang digagas oleh Forum Institusi Layanan Bahasa (FILBA) UMM ini bertujuan untuk menyatukan semua institusi layanan bahasa seluruh  Indonesia. Utamanya dalam melakukan sosialisasi pengujian bahasa, training dan penyuntingan bahasa pendidikan tinggi. Adapun para peserta yang hadir merupakan perwakilan lembaga bahasa dari seluruh universitas di Indonesia yang digelar pada 8 hingga 12 Juni 2022 lalu. Membuka agenda, Wakil Rektor I Kampus Putih UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyambut baik aktivitas workshop nasional tersebut. Menurutnya, hal ini dapat mendorong lembaga bahasa untuk berinovasi dan memberikan program baru. Ia berharap nantinya akan ada hasil konkret yang dapat memberi manfaat, khususnya bagi para anggota FILBA. “Salah satunya yang bisa dilakukan yakni dengan menggelar tes bahasa Inggris akademik, baik bagi anggota FILBA maupun masyarakat umum. Hal itu menjadi upaya kita untuk mendorong mereka dalam mempelajarid an menguasai bahasa internasional,” tambahnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusat Bahasa UMM Dr. Masduki, M.Pd. Ia mengatakan bahwa tujuan lain yang ingin dicapai workshop ini adalah untuk menyusun dan menyempurnakan draft standarisasi atau rancangan dokumen mutu pelatihan bahasa. Begitupun dengan pengujian dan penerjemahan melalui divisi penjamin mutu. “Saya sangat mengapresiasi atas partisipasi dan kontribusi dari para peserta. Apalagi mereka kan berasal dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Semoga seluruh peserta bisa ikut serta dengan aktif dan memberikan sumbangsih untuk menyusun rancangan standarsisi ini,” ungkap Masduki. Adapun kegiatan Workshop ini akan terus berlanjut dalam rangka mematangkan proses pengembangan standarisasi yang ada. Workshop serupa juga akan dilangsungkan pada bulan November mendatang di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Menariknya, dalam kegiatan tersebut terlihat sederet program dan unit dari UMM yang memiliki kaitan dnegan lembaga bahasa. American Corner, Australian Corner, Confusius Institute China, Learning Center dan Unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Tiap corner diatur sedemikian rupa layaknya pameran agar para peserta workshop bisa bertanya dan mengetahui program apa saja yang ada di UMM. Dengan begitu, Akan muncul potensi kemitraan yang bisa dijalin oleh pihak luar. “Terutama untuk menunjang atmosfer akademik yang ada di Indonesia. Jadi kita memang memberikan kesempatan bagi para corner untuk dapat mengekspos diri,” ujar Masduki mengakhiri. (zak/wil)

Ujian Doktor UMM Kaji Ritual Kematian Tedong Bonga dihadiri Direktur Utama dan Jajaran Pimpinan RRI

Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) Dr. I. Hendrasmo, MA. dan jajaran pimpinan RRI hadir di salah satu prosesi ujian doktoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka datang dan turut menyimak ujian doktor Kepala RRI Makassar Ferdy Kusno pada Rabu (15/6) lalu. Dalam ujiannya, Ferdy, sapaan akrabnya menyampaikan terkait makna sosial kerbau belang (tedong bonga) dalam ritual kematian masyarakat Tana Toraja. Dalam disertasinya, Ferdy mempertanyakan dua hal utama. Pertama, yakni terkait makna tedong bonga. Kemudian yang kedua mengenai pergeseran tata laksana ritual kematian di masyarakat Tana Toraja. Dalam pemaparannya, ia menyimpulkan bahwa tedong bonga merupakan simbol adat yang disakralkan dan dibentuk berdasarkan makna simbolik. Selain itu juga dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisi, agama, prestise dan ekonomi. Lebih lanjut, Ferdy mengatakan bahwa makna kematian yang penuh arti membuat manusia berlomba-lomba melakukannya dengan maksimal. Adapun simbol-simbol itu disakralkan dan diterapkan sesuai dengan kesepakatan bersama. Di samping itu simbol yang digunakan dalam ritual kematian tidak mendobrak tatanan adat. “Jumlah kerbau belang yang dikorbankan menggambarkan status sosial seseorang,” tambah Kepala RRI Makassar tersebut. Ferdy juga mengungkapkan bahwa menurut warga di Tana Toraja, kerbau belang merupakan kendaraan menuju nirwana untuk memulai kehidupan baru dengan roh apra leluhur. Tedong bonga juga dianggap sebagai simbol tertinggi dalam ritual kematian yang dipersembahkan sebagai wujud kasih sayang terhadap orang tua atau keluarga yang meninggal. Menariknya, disertasi Ferdy telah diterbitkan melalui beberapa karya. Salah satunya lewat buku yang diterbitkan oleh penerbit Bildung. Selain itu apa yang dibahas dalam disertasi juga sudah termuat di jurnal-jurnal internasional. Sementara itu, Hendrasmo turut mengapresiasi capaian Ferdy meraih gelar doktor. Menurutnya, hal itu dapat meningkatkan citra RRI karena senantiasa diisi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ia juga berharap staf lain juga mengikuti jejak Ferdy untuk bisa meningkatkan pendidikan. Dengan begitu, salah satu dampak yang bisa dirasakan adalah semakin baiknya kualitas konten yang disediakan oleh RRI. “Tentu promosi doktor Pak Ferdy ini bisa menjadi pelecut semangat bagi staf-staf lain untuk melanjutkan pendidikan. Seiring dengan itu, konten kita juga akan meningkat sehingga mampu memberikan hal yang bermanfaat dan berkualitas,” kata Hendrasmo mengakhiri. (wil)

KLHK Apresiasi Upaya UMM Rawat Hutan Hibah

Universitas Muhammadiyah Malang baru saja kedatangan tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada awal Juni lalu. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari monitoring untuk Kawasan Hutan Pujon yang merupakan hibah dari KLHK untuk UMM. Adapun Kampus Putih UMM telah mendapatkan Surat Keputusan tersebut sejak 2019 dan dipercayai untuk mengelola seluas kurang lebih 79 hektar hutan. Adapun kegiatan itu bertujuan untuk memonitoring aktivitas hutan sekaligus memberikan masukan. Rombongan KLHK yang dipimpin oleh Erfan Noor Yulian, S.Hut, M.Si. selaku Pengembangan Teknologi Pembelajaran Ahli Muda menilai jika UMM sudah bagus dalam aspek pengelolaan hutan. Ia juga memuji rancangan jangka panjang mapun jangka pendek dari Pujon Hill garapan Kampus Putih UMM. “Secara umum sudah sangat baik. Tinggal bagaimana secara holistik bisa dikerjakan secara nyata. Yang terpenting dari pengelolaan hutan yakni bagaimana pelaksanaan bisa sesuai dengan fungsinya,” jelasnya. Erfan, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tim KLHK menilai beberapa aspek seperti kesesuaian pengelolaan Kawasan hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Selain itu juga menilai apakah pelaksanaannya benar atau malah melenceng dari tujuan utama. “Jangan sampai pengelola melakukan hal yang menyimpang dan tidak sesuai fungsi. Hal itu tentu akan memberikan kerugian, apalagi jika digunakan untuk profit semata,” terangnya. Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan hutan tidak bisa dijalankan sendiri. UMM harus mampu melibatkan seluruh sivitas akademika yang dimiliki, utamanya fakultas. Dengan begitu, seluruh fakultas dapat menerapkan dan memanfaatkan hutan sesuai dengan kelimuannya. Keterlibatan masyarakat sekitar juga harus dilakukan. Sehingga Pujon Hill tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tapi juga masyarakat luas. “Selama ini pengelolaan UMM atas Pujon Hill sudah bagus. Perawatannya juga berjalan dengan baik. Meski kalau dilihat dari aspek topografi cukup curam, namun saya percaya Kampus Putih UMM dapat mereboisasi dengan baik untuk mencegah bencana longsor. Saya berharap UMM bisa memanfaatkan lahan yang telah dihibahkan sesuai fungsi pendidikan, pelatihan serta riset,” harapnya. Sementara itu, Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc. selaku Ketua pengelola Pujon Hill UMM mengatakan bahwa selama ini pihaknya sudah melakukan upaya besar. Salah satunya dengan melakukan tata batas di area hutan. Kemudian juga sudah menyusun Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP). Tatag, begitu ia kerap disapa, juga beryukur karena pihak KLHK mengapreasisi upaya dan usaha yang timnya lakukan. Pihak UMM juga memiliki keinginan besar dan rencana terstruktur untuk menjadikannya sebagai kawasan pendidikan. Begitupun dengan laboratorium sebagai sarana penelitian mahasiswa, dosen, maupun masyarakat. “Saat ini, kami juga sudah membangun rumah atsiri yang nantinya akan dijadikan sebagai kegiatan penelitian dan pengembangan,” tambahnya Terakhir, Tatag berharap semua rencana yagn sudah disiapkan bisa segera terealisasi. Utamanya hal-hal yang menebarkan manfaat luas serta mampu dan memberikan kesejahteraan bagi semua yang terlibat. Baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi. (Ros/Wil)

Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Kaji Peluang dan Tantangan Smart City

Teknologi, institusi, kebijakan dan peraturan menjadi faktor kesuksesan sekaligus tantangan bagi smartcity. Hal-hal tersebut dikaji lebih dalam di Seminar Nasional Teknologi Informasi Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Seminar bertajuk “Peluang dan Tantangan Pengembangan Smart City di Indonesia” ini mengundang sederet pemateri ahli pada Kamis (9/6) lalu. Di antaranya pembicara dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) RI Dwi Elfrida Martina, S.IP., MPPM, Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan (IP) UMM Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. dan Dosen FEB UMM  Djoko Sigit, S.E., M.Acc., P.hD. Membuka seminar, Dekan FISIP UMM Prof. Dr. Muslimin, M.Si., mengatakan bahwa para mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan literasi terkait smart city. Utamanya dalam upaya mengelola dan menggunakan teknologi informasi komunikasi. Di samping itu juga berupaya menyediakan layanan dan memberi solusi inovatif untuk masalah perkotaan. Di sisis lain, Dwi selaku koordinator layanan aplikasi pemerintah daerah menuturkan bahwa smart city bukanlah menjadi upaya pencitraan agar bisa disorot media. Namun yang paling penting adalah membangun citra kota atau wajah kota sebagai target dalam membangun kota cerdas. Kemudian diikuti dengan pembangunan infrastruktur, image,  dan layanan yang mumpuni. Diharapkan pembangunan tersebut juga diakui oleh nasional maupun internasional. “Smart city merupakan kawasan yang dapat mengelola berbagai sumber dayanya secara efektif dan efisien. Sehingga mampu menyelesaikan berbagai tantangan menggunakan solusi inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup warganya,” jelas Dwi. Di sisi lain, Tri Sulistyaningsih juga sempat menjelaskan beberapa komponen dan karakteristik sebuah smart city. Diawali dengan smart governance yang menjadi aspek penting dalam pembangunan smart city. Kemudian juga smart living hingga smart economy. Komponen atau karakteristik lain yang diperlukan yakni smart environment dan smart mobility. “Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah smart people. Orang-orang di kota tersebut juga harus pintar dan cerdas menggunakan teknologi dan memanfaatkan arus informasi. Akan sia-sia jika kotanya sudah smart tapi masyarakatnya tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi,” ungkap Tri. Hal tak jauh berbeda juga disampaikan Djoko. Menurutnya, ada sederet tantangan data yang harus dihadapi dalam smart city. Tantangan itu dapat berupa kebijakan dan peraturan, utamanya terkait kesiapan peraturan daerah. Aspek kelembagaan, pelaksanaan, dan teknologi juga menjadi hal yang tak bisa disepelekan. “Seperti akses dan juga investasi teknolog informasi dan komunikasi. Ada juga tantangan institusional berupa kepemimpinan dan birokrasi. Tak ketinggalan aspek regulasi, infrasturktur, kualitas data hingga budaya berbasis data,” ungkapnya menambahkan. Lebih lanjut, Djoko juga mengeaskan bahwa smart city bukan hanya fokus di aspke teknologi semata. Namun hal yang tidak kalah penting adalah cara untuk mengolah data. Menurutnya, smart city akan berhasil diwujudkan jika masyarakat mampu mengunakan data dengan baik dan bijak. (Zak/Wil)

Sinergisitas UMM-LLDikti-KORPRI Deklarasikan Kampus Bersih Narkoba dan Anti Kekerasan Seksual

Kampus Bersih dari Narkoba (Bersinar) dan anti Kekerasan Seksual merupakan suatu gerakan moral dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka menjujung tinggi nilai-nilai etika. Begitulah sambutan pembuka Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. pada acara Deklarasi Kampus Bersinar. Kegiatan yang diinisisasi oleh UMM, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur (Jatim), dan Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Jawa Timur ini diselenggarakan pada Sabtu (11/06) lalu. Selain Rektor Kampus Putih UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dan Ketua LLDikti Wilayah VII Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA., hadir pula para pengurus KORPRI Jawa Timur. Salah satunya dr. Ivan Rovian, MKP. selaku Kepala Bagian Umum KORPRI Jawa Timur. Ketiganya bahu membahu dalam membangun sinergisitas dalam menciptakan Kampus bersih narkoba dan anti kekerasan seksual. Lebih lanjut, pada sambutannya Fauzan mengatakan bahwa kampus merupakan suatu sistem akademik untuk menyiapkan generasi yang akan datang. Oleh karenanya, mencegah hal-hal negatif seperti narkoba dan kekerasan seksual merupakan salah satu tanggung jawab yang harus diemban oleh kampus. “Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan lembaga-lembaga terkait kepada UMM untuk melaunching program ini. Semoga kita dapat menjalankan amanah ini dengan baik ke depannya,” tandas Fauzan menegaskan. Senada dengan Fauzan,  Kassubag Umum Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang Yudha Wirawan, SE.,MM, menjelaskan bahwa Malang sebagai kota pendidikan, memiliki mobilisasi penduduk yang sangat tinggi. Saat kondisi normal sebelum pandemi Covid-19, ada ribuan mahasiswa yang datang ke Malang. Oleh karenanya, dengan adanya sinergitas ini, diharapkan dapat membantu BNN dalam pemberantasan narkoba dan kekerasan seksual. “Dengan banyaknya mobilisasi penduduk tersebut, kami tidak dapat maksimal dalam mencegah dan memberantas narkoba tanpa bantuan dari kampus. Harapannya, dengan berlangsungnya deklarasi ini, dapat turut memberantas narkoba dan kekerasan seksual di lingkungan kampus,” ungkap Yudha. Di sisi lain, kepala LLDIKTI Wilayah VII, Soeprapto mengucapkan selamat atas diresmikannya UMM sebagai kampus bersih narkoba dan anti kekerasan seksual. Meski begitu, menurutnya itu tak cukup. Soeparto berharap UMM juga dapat menjadi sebuah kampus yang bersih akan korupsi dan perundungan. Sehingga bisa melahirkan generasi emas penerus bangsa yang berkualitas. Adapun kegiatan deklarasi ini diikuti oleh karyawan dari UMM, LLDIKTI, KORPRI, BNN, mahasiswa UMM, bahkan mahasiswa asing yang ada di UMM. Tak hanya deklarasi, acara ini juga berisi edukasi pencegahan kekerasan seksual dan narkoba. Selain itu ada juga pemeriksaan pap smear atau pemeriksaan deteksi dini kanker serviks yang dilakukan oleh  tim laboratorium Bromo dan Rumah Sakit (RS) UMM. Menariknya, ada kegiatan jalan sehat yang diikuti ratusan peserta. Berangkat dari Helipad UMM, rombongan jalan sehat terus berjalan hingga bermuara di Taman Rekreasi Sengkaling, salah satu unit usaha yang dimiliki oleh Kampus Putih. Para peserta juga berkesempatan memenangkan hadiah yang sudah disiapkan oleh penyelenggara. (syi/wil)