Kelas Reporter hingga Medis, UMM Bagi Pengetahuan Baru Siswa Blitar

Roadshow Mobil Pintar dan Mobil Bioskop Keliling (Bioling) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlanjut. Kali ini tim UMM selenggarakan beragam kelas bagi siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Blitar pada Sabtu (11/6) lalu. Ada kelas medis yang memaparkan pertolongan pertama, kelas sosiologi dengan permainan ular tangga, kelas ilmu komunikasi dengan simulasi menjadi reporter dan kelas-kelas lainnya. Adapun kelas ini menjadi upaya mengenalkan jurusan di perkuliahan dan membekali siswa dengan skill yang belum mereka ketahui. Selain di kelas dan aula, tim UMM juga menyiapkan berbagai buku dan novel yang ada di Mobil Pintar. Selain itu juga menyiapkan permainan edukatif bagi siswa serta memberikan kenangan dan hadiah. Para siswa juga berkesempatan untuk mengetahui potensi dan minat melalui psikotes yang disiapkan oleh tim Kampus Putih. Perwakilan UMM, Faizin mengatakan bahwa pihaknya membawa rombongan besar bukan tanpa tujuan. Ia ingin agar para siswa bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru. Menemukan bakat, minat dan potensi yang selama ini belum terlihat. “Kami telah menyiapkan beragam kelas seperti kelas sastrawan, entrepreneur, tutor Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), dan reporter berita. Ada juga kelas lain yang tidak kalah menarik seperti kelas sosiologi dan tenaga kesehatan,” tambah Dosen Bahasa Indonesia tersebut. Ia berharap sederet agenda dan tim yang ada bisa memberikan manfaat bagi para siswa. Sekaligus memunculkan inspirasi baru bagi mereka. Pada kesempatan itu, tim UMM juga mengajak beberapa mahasiswa asing untuk berinteraksi dengan teman-teman siswa yang ada di MAN 2 Blitar. Di sisi lain, Syamsul Arifin selaku wakil kepala kurikulum MAN 2 Blitar berharap kunjungan ini dapat menjadi awal yang baik untuk agenda kerja sama selanjutnya. Ia juga mendorong siswa-siswi untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan maksimal. Dengan begitu, mereka bisa tahu banyak tentang dunia luar dan banyak hal. Di samping itu juga sebagai bekal untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus sekolah nanti. “Apalagi kualitas UMM tidak perlu diragukan lagi. Para pengajarnya profesional, bangunannya besar-besar, lingkungannya juga asri karena ada sungai besar serta danau. Jadi, adik-adik siswa harus mengikuti kelas-kelas ini dengan baik sehingga bisa membuka wawasan,” tambah Syamsul mengakhiri. Pada agenda tersebut, UMM Kampus Putih juga menyuguhkan perform mahasiswa yang menampilkan musikalisasi puisi di awal. Kemudian mereka juga turut mengajarkan para siswa untuk berkreasi melalui cara tersebut. Hingga kemudian dipilih beberapa siswa untuk maju dan menampilkan apa yang sudah diajarkan oleh tutor di masing-masing kelas. Para siswa juga menyambut kunjungan itu dengan antusias. Salah satunya Fatimah yang mengaku senang dengan adanya beragam kelas yang disediakan UMM. Menurutnya, hal ini sangat berguna bagi para siswa dalam mengembangkan minat dan bakat. Selain itu juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan sehingga bisa menentukan arah hidup usai menyelesaikan pendidikan MA dan SMA nanti. (wil)

Meriahkan Bulan Bung Karno, UMM Langsungkan Kegiatan Edukatif di Blitar

Perjalanan Mobil Bioskop Keliling (Bioling) dan Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berlanjut. Kali ini tim UMM menyambangi kelurahan Bendogerit dan menyuguhkan sederet film serta penampilan pada Jumat (10/6) lalu. Menariknya, para warga dan anak-anak bisa mencoba menjadi news anchor yang sudah disiapkan laboratorium prodi Ilmu Komunikasi Kampus Putih UMM. Mereka berkesempatan untuk membaca berita di depan kamera dengan green screen dan langsung disiarkan melalui Youtube dan layar besar. Hal ini bertujan untuk mengenalkan dunia reporter dan news anchor kepada masyarakat Blitar. Ada beberapa anak dan warga yang mencoba membaca berita di hadapan kamera. “Ini upaya kami untuk menggali potensi masa depan anak-anak. Barangkali nanti dari Bendogirit lahir Najwa-Najwa Shihab baru yang bagus,” harap Widiya Yutanti, perwakilan UMM. Warga Bendogerit juga tak ketinggalan berkontribusi menampilkan berbagai ragam tari. Mulai dari tari Remo hingga Jejeg. Adapula perform band akustik membuka di awal acara. Widiya, sapaan akrabnya mengatakan bahwa ia beterimakasih karena pihak desa dan karang taruna serta UMM bisa saling bahu membahu agar acara ini terlaksana. Ia mengatakan bahwa agenda nonton bareng (nobar) film ini merupakan salah satu rangkaian roadshow UMM di Blitar. Sebelum ke Bendogerit, pihaknya telah mengunjungi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) kelas I Blitar. Adapun setelah Bendogerit, tim UMM akan datang ke MAN 2 Blitar untuk memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi siswa-siswi. “Kami juga sengaja mengajak adik-adik untuk mencoba menjadi news anchor. Semoga bisa menumbuhkan minat, bakat serta potensi mereka,” tambahnya. Di sisi lain, Lurah Bendogerit Sugiono menilai bahwa acara seperti ini sangat dibutuhkan. Karena bisa menumbuhkan karakter masyarakat yg hadir dan berpartisipasi. Utamanya anak-anak yang akan melanjutkan generasi di masa depan. “Acara hasil kerja sama warga Bendogerit, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar serta UMM ini juga dilangsungkan sebagai cara memperingati bulan Bung Karno,” imbuh Sugiono. Hal serupa disampaikan oleh M. Sidiq selaku Asisten bidang Perekonomian dan Kesra yang mewakili wali kota Blitar. Ia berharap agenda semacam ini bisa kembali dilaksanakan UMM tahun depan untuk memperingati Bulan Bung Karno. “Semoga tahun depan UMM bisa kembali hadir dengan acara yang lebih besar. Sehingga yang datang lebih banyak dan tentunya lebih meriah,” harapnya. Ia menghimbau agar masyarakat Blitar bisa menerima dan menyambut para tamu dengan baik. Apalagi akan ada banyak warga luar kota yang berkunjung ke Blitar untuk meramaikan Bulan Bung Karno. Dalam acara itu, adapula penampilan mahasiswa asing UMM asal Vietnam yang membacakan puisi tentang Bung Karno. Antusiasme penonton juga tinggi, terutama anak-anak. “Menyenangkan dan juga menghibur. Apalagi banyak penampilan dan film yang diputar. Ya kami tentu berharap acara seperti ini bisa sering dilakukan. Utamanya di Blitar,” ung

Adi, Mahasiswa FK UMM Juara Liga Mahasiswa Berprestasi PTMA

Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harum di kancah nasional. Kali ini Adie Prasetia Maulana Utama, mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM yang berhasil meraih Juara 2 Liga 1 Sarjana Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) 2022. Adapun event ini berlangsung sejak bulan April dan pengumuman pemenang pada Sabtu (4/6) lalu. Adie, sapaan akrabnya menceritakan bahwa awalnya ia tidak menyangka jika ditunjuk untuk mewakili UMM pada ajang Pilmapres PTMA tahun 2022 ini. Selama event, ada beberapa tahap yang harus ia lalui. Mulai dari tahap pendaftaran, seleksi tahap satu, presentasi poster, dan diakhiri pengumuman dengan lima finalis terpilih. Di samping itu ada juga sederet berkas yang harus dilengkapi, dua di antaranya yakni poster prestasi dan poster gagasan yang akan dipresentasikan. “Mengingat kegiatan ini adalah event pemilihan mahasiswa berprestasi dari pergutuan tinggi Muhammdiyah dan Aisyiyah se-Indonesia, jadi perseingannya sangat ketat dan benar-benar harus menyiapkan mental secara matang,” tambahnya. Adapun poster gagasannya mengangkat judul “GEBRAK (Gerakan Aksi Bersama Peduli Kesehatan Mental)”. Ia berangkat dari kondisi pasca pandemi Covid-19 yang berdampak pada mental masyarakat. Apalagi kurangnya pengetahuan masyarakat akan hal itu. Maka, berbekal gagasan yang dimilikinya, ia ingin mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental melalui creative campaign. “Saya juga ingin melalui creative campaign ini bisa meningkatkan kepedulian antar sesama serta memberikan pemahaman pentingnya menjaga kesehatan mental,” imbuhnya. Sebelumnya, mahasiswa FK angkatan 2019 ini telah meraih banyak prestasi. Baik di tingkat regional hingga nasional. Mulai dari juara tiktok edukasi kesehatan Jawa-Bali, juara poster kesehatan Jawa-Bali, hingga juara video edukasi kesehatan nasional, dan masih banyak lagi. Selain itu, ia juga pernah menjadi Duta Perubahan Perilaku Satuan dalam penanganan Covid-19 pada 2021 lalu. Adi percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Hal inilah yang mendorongnya untuk terus berprestasi. Menurutnya, menjadi mahasiwa sarjana hanya sekali seumur hidup, sehingga harus memanfaatkan waktu yang dipunya dengan sebaik-baiknya. Harus diisi dengan pengembangan skill, terus mengasah pemikiran dan tidak cepat puas dengan capaian dan prestasi. Selain itu, kegiatan organisasi juga dirasa membentuk tanggung jawab dan membiasakan manajemen waktu. “Pelecut semangat saya untuk terus berkembang adalah tidak cepat puas dan kesempatan yang tidak datang dua kali. Ketika kesempatan itu datang, maka semaksimal mungkin harus dimanfaatkan,” ucapnya. Mahasiswa asli Bojonegoro ini nyatanya masih ingin terus berprestasi dan membangggakan nama UMM. Ia ingin terus berkembang dan mengasah skill untuk membanggakan orang tua dan juga bangsa saat berlomba di kancah Internsional. (Haq/Wil)

Berbagi untuk Negeri, UMM Edukasi Anak-anak LPKA Blitar

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda Berbagi untuk Negeri. Kali ini Kampus Putih UMM menyambangi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar pada Jumat (10/6) lalu. Mengirim dua mobil andalan, Mobil Bioskop Keliling (Bioling) dan Mobil Pintar, UMM menyediakan beragam buku yang bisa dibaca serta permainan seru. Selain itu juga memberikan hiburan dan edukasi terkait pengenalan bahasa serta kelas public speaking. Dalam kesempatan itu pula, UMM memberikan donasi berupa buku agar anak-anak LPKA bisa menghabiskan waktu untuk membaca. Menariknya, ada beberapa mahasiswa asing yang turut serta membantu dan memberikan permainan asyik. Kepala Seksi Pembinaan LPKA Blitar Andik Ariawan menyambut baik kunjungan edukatif yang dilakukan UMM. Sebelumnya, sudah banyak mahasiswa Kampus Putih yang datang untuk mengabdi, membantu dan juga melakukan penelitian di LPKA tersebut. “Ada dari teman-teman Prodi Kesejahteraan Sosial hingga prodi Psikologi. Jadi sebenarnya hubungan LPKA dengan UMM memang sudah lama terjalin,” ungkapnya. Ia juga bercerita bahwa ada beberapa anak yang melanjutkan kuliah di UMM selepas menghabiskan waktu di LPKA. Maka Andik menghimbau agar anak-anak tidak berkecil hati dan terus menggali potensi diri. “Semua punya kesempatan yang sama. Jadi teman-teman harus semangat belajar untuk menggapai impian,” tegasnya. Di sisi lain, Koordinator Kegiatan UMM M. Isnaini mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta literasi. Di samping itu juga mendorong minat baca serta keingintahuan anak-anak LPKA. Pihaknya juga sengaja mengajak mahasiswa luar negeri untuk ikut agar anak-anak LPKA bisa bergaul dengan orang asing. Dengan begitu, bisa saling mengakrabkan diri dan mengenal satu sama lain. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang program UMM Berbagi untuk Negeri. Sebelumnya, Kampus Putih sudah mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Laki-laki, melangsungkan sederet acara di Lapas Perempuan Malang, serta membantu dan menghibur penghunj panti jompo. Tidak ketinggalan memberikan permainan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) beberapa waktu lalu. “Ini menjadi upaya kami untuk memberikan edukasi kepada mereka-mereka yang membutuhkan. Semoga bisa terus terlaksana dan mampu menebar manfaat kepada sesama,” katanya mengakhiri. (Wil)

Guru Besar Komunikasi Tradisional UMM Jadi Pembicara di Forum Dunia Melayu Dunia Islam

Salah satu guru besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. diundang dan menjadi pembicara di simposium internasional Forum Dunia Melayu Dunia Islam yang diadakan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) di Kuala Lumpur Malaysia. Adapun acara ini merupakan inisiasi dari Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri dengan menghadirkan lebih dari 70 tokoh intelektual dari berbagai negara. Dalam simposium tersebut, Muslimin mengatakan bahwa bahasa melayu versi Indonesia telah membuktikan diri mampu menjadi bahasa nasional. Internasionalisasi juga terus dilakukan melalui banyak hal. Mulai dari mengirimkan guru ke berbagai negara untuk mengajarkan Bahasa Indonesia hingga menerima mahasiswa asing untuk belajar Bahasa Indonesia. Meski kans bahasa melayu versi Indonesia cukup bagus, namun ada beberapa syarat yang menurutnya perlu dipenuhi. Salah satunya yakni menerima dan memaklumi perbedaan yang ada. Baik itu dalam aspek intonasi, dialek dan juga kebiasaan. “Maka solusinya adalah perlu adanya tim yang berasal dari berbagai negara yang menggunakan bahasa terkait untuk menyamakan persepsi. Begitupun dengan upaya mengesampingkan polemik dan ego politik,” ungkapnya. Dalam kesempatan lain, Muslimin juga berbicara tentang kans bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa resmi ASEAN. Menurutnya, Bahasa Indonesia memiliki peluang cukup luas ketimbang negara ASEAN lainnya sebab pengguna bahasa ini di dunia sudah lebih banyak. Terhitung sudah ada lebih dari 50 negara di dunia yang membuka prodi Bahasa Indonesia. Apalagi jika menggunakan sistem voting, tentu saja bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa resmi ASEAN. Ia menyarankan untuk konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia di acara resmi maupun tidak resmi. Misalnya saja pemerintah yang mengirim surat ke negara lain dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan dilampiri terjemahan. Selain itu, ia mendorong masyarakat Indonesia untuk sebisa mungkin menggunakan semua platform media dalam memperkenalkan Bahasa Indonesia. Terakhir, Muslimin berharap Indonesia tidak omong doang alias harus ada aksi yang jelas dan konkret. Adapun Muslimin merupakan guru besar bidang komunikasi media tradisional. Ia menilai bahwa bidang ini tidak banyak yang melirik dan mendalaminya. Akhirnya, Muslimin meyakinkan diri dan mengambil kajian tentang media warisan. Menurutnya, salah satu faktor kenapa bidang ini tidak banyak yang mengkaji adalah karena kata “tradisional”. Kata tersebut dianggap kuno, tertinggal dan tidak memiliki nilai. “Padahal saya melihat bahwa media tradisional mempunyai pesan yang luar biasa akan kebajikan dalam kehidupan,” ujar Ketua Forum Dekan FISIP Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) itu. Bagi Muslimin, warisan merupakan budaya nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Hal itu tidak lepas akan perannya dalam meredam gesekan-gesekan sosial yang terjadi di masyarakat. (Ros/Wil)

Mahasiswa FH UMM Menang Debat Politik Tingkat Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi di ajang nasional. Kali ini kabar membanggakan datang dari Fakultas Hukum yang berhasil menyabet juara 1 Debat Nasional Political Event 2.0 yang diadakan oleh BEM FMIPA Universitas Negeri Semarang. Adalah Yogi Syahputra Al idrus, Ibnu Artafela dan Felisyah Herlinda Sari yang sukses memenangkannya. Ditambah lagi dengan penghargaan sebagai best speaker yang diperoleh Ibnu Artafela. Adapun ajang yang dilaksanakan pada 4-5 Juni itu diikuti oleh 32 tim dari berbagai universitas di Indonesia. “Kami sudah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Terhitung sejak awal Mei kami sudah berkumpul dan berlatih dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkap Yogi, salah satu anggota tim. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ajang debat itu mengangkat tema besar “Aktualisasi Nalar Kritis Generasi Milenal Dalam Merefleksikan Isu-Isu Nasional Ditengah Dinamika Politik Nasional”. Sistem yang digunakan juga menerapkan sistem gugur, di mana tim yang kalah otomatis tidak bsia melanjutkan proses kompetisi. Pada babak penyisihan, Yogi dan tim harus melawan tim dari Universitas Negeri Medan. Berbekal latihan dan materi yang banyak, mosi terkait “BPJS Kesehatan yang Memberikan Lebih Banyak Keuntungan daripada Kekurangan bisa diatasi dengan baik. Menariknya, pada babak selanjutnya mereka harus membahas mengenai Pejabat Rangkap Jabatan yang sering ditemui di berbagai daerah. Setelah beberapa tahapan, tim Kampus Putih UMM akhirnya mampu masuk ke semi final dan harus menghadapi Universitas Padjajaran (Unpad). “Menurut kami, lawan yang paling susah dari Unpad karena bahasannya yang cukup menarik dan menantang. Kami sempat merasa akan kalah, tapi Alhamdulillah ternyata menang dan lolos ke babak final,” ungkap Yogi menjelaskan. Di babak final, sudah ada Universitas Muslim Indonesia yang menunggu untuk memperebutkan posisi pertama. Adapun mosi yang harus dimenangkan terkait dengan Program Merdeka belajar kampus Merdeka MBKM. Tim UMM yang berada di posisi kontra nyatanya mampu memenangkan final dan menjadi juara pertama. “Tentu kami memberikan argumen yang logis beserta data yang akurat. Dengan begitu, kami bisa memberikan opini maupun bantahann yang mumpuni. Alhamdulillah sukses menjadi juara pertama di kompetisi debat ini,” tutur Yogi. Terkait kendala, menurutnya masalah terbesar yakni ada di aspek jaringan. Mengingat lomba tersebut dilaksanakan full daring. Selain itu, tidak ada kendala yang berarti. Apalagi dosen-dosen Fakultas Hukum UMM sangar mendukung dan memberikan banyak arahan. Adapun Yogi dan tim merupakan anggota komunitas yang ada di FH UMM yakni Komunitas Riset Debat (KRD). (Zak/Wil)

Eduwisata Sengkaling UMM Ajarkan Energi terbarukan hingga Eco Enzyme

Tak hanya bergerak di bidang hiburan dan kuliner, Taman Rekreasi Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai melebarkan sayapnya ke bidang Wisata Edukasi (Eduwisata). Pengembangan eduwisata ini telah di terapkan mulai awal puasa lalu sampai saat ini. Ada tiga bidang eduwisata yang ditawarkan oleh Sengkaling yaitu proses pembuatan dan pemanfaatan energi terbarukan, eco enzyme, serta biota air. Ide pembuatan eduwisata ini berawal dari penelitian salah satu dosen pendidikan biologi yaitu Dr. Sukarsono, M.Si yang sudah dimulai sejak 1998. Secara keseluruhan, penelitian ini berfokus pada model pembelajaran berbasis konservasi atau Conservation Based Learning Model (CBL Model). Hasil akhir dari pembelajaran tersebut adalah anak-anak jadi lebih memahami lingkungan sekitarnya serta membangun perilaku ramah lingkungan. Model ini juga dapat membantu sekolah dalam penerapan adiwiyata. “Pada akhirnya, saya bekerja sama dengan yayasan Aksi Pengembang Sekolah Adiwiyata Indonesia (APSAI) untuk membangun sebuah eduwisata di Sengkaling sebagai produk akhir penelitian. Materi eduwisata disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan akan terus dikembangkan. Untuk kedepannya kami sedang menyiapkan eduwisata ini ke dalam skala internasional,” jelas dosen asal Linggarjati tersebut. Koordinator Marketing Taman Rekreasi Sengkaling UMM, Yeni Dwi Kurniawati,S.Sos. menjelaskan bahwa saat ini program eduwisata hanya dibuka secara terbatas untuk sekolah-sekolah di Malang. Proses pembelajarannya pun melalui registrasi terlebih dahulu. .“Jadi eduwisata Sengkaling ini memang belum bisa dinikmati secara komersial untuk masyarakat umum. Meskipun belum dibuka secara umum, sudah banyak sekolah-sekolah dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang melakukan kunjungan wisata adiwiyata ke sini. Ke depannya, tentu kami berencana membukanya untuk pengunjung umum,” ungkap perempuan asal Malang tersebut. Lebih lanjut, Yeni sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep penerapan wisata adiwiyata ini dikemas seperti outbond. Tahap awalnya, para siswa akan diajari tentang team building dan teamwork. Setelah itu, para siswa akan dipecah menjadi beberapa kelompok untuk mempelajari tiga bidang eduwisata yang ada di Sengkaling. Proses kegiatan ini berlangsung selama lima jam, yaitu dari jam delapan pagi sampai jam satu siang. Kegiatannya sendiri berpusat di danau dan gedung Iptek Sengkaling. “Bidang pertama adalah pembuatan dan pemanfaatan energi terbarukan. Anak-anak akan diajari mengenai sumber energi listrik terbaru yang berasal dari matahari, air, dan udara. Pada bidang ini juga akan dikenalkan sistem kerja kapal cepat, pembuatan roket air, serta cara kerja mobil listrik. Di bidang yang kedua ada eco enzyme. Para siswa akan diajari mengenai percampuran sampah organik yang bermanfaat sebagai pupuk kompos. Terakhir ada bidang biota air. Di sini siswa akan diajari mengenai kandungan potential hydrogen (pH) air serta cara membedakan air yang sehat atau tidak,” ujar Yeni. Tak hanya kepada siswa, Yeni mengatakan bahwa pada outbond ini para guru juga akan mendapat materi tentang pembelajaran pemanfaatan lingkungan hidup serta sertifikat. Untuk kedepannya, Yeni mengatakan bahwa Sengkaling akan melebarkan jangkauan eduwisata ini ke sekolah-sekolah di luar Malang. Yeni juga mengatakan keinginan Sengkaling untuk mengundang pemateri dari luar negeri yang khusus menjelaskan bidang adiwiyata dan pengelolaan lingkungan hidup. “Pengembangan eduwisata yang kami kerjakan bertujuan agar generasi muda lebih memperhatikan lingkungan dan menjaganya. Oleh karena itu, membentuk pola pikir tentang menjaga alam sejak dini adalah langkah yang baik. Kami berharap eduwisata ini tak hanya berfokus pada outbond dan reservasi saja tetapi juga dapat dinikmati oleh pengunjung secara umum,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)

Layanan Bimbingan Konseling UMM Atasi Masalah Kesehatan Mental

Memerhatikan kondisi mental memang penting tapi jangan sampai melakukan self diagnosis. Hal itu disampaikan oleh Kepala UPT. Bimbingan & Konseling, Hudaniah, S.Psi., M.Si. Menurutnya, mendiagnosis diri sendiri akan sangat berisiko. Sifatnya akan menjadi subjektif dan tidak ada lagi sudut pandang  orang lain. “Carilah orang yang profesional seperti psikolog atau datang ke psikiater. Bisa juga datang ke layanan bimbingan konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nanti akan kami bantu dan dampingi untuk menangani masalah psikis yang dialami oleh masyarakat,” tambahnya. Hudan menjelaskan bahwa ada beberapa pelayanan yang pihaknya sediakan. Mulai dari yang bersifat klasikal atau individual. Klasikal yaitu bimbingan yang bertujuan agar orang mampu mengenali potensi dirinya, memahami lingkungan dan mampu mengatasi hambatan atau permasalahan yang dapat berpotensi untuk masa depan. Sedangkan yang bersifat individual yaitu konseling yang didasarkan atas kemauan sendiri untuk memecahkan permasalahan atau trauma yang dimiliki. “Bimbingan yang bersifat klasikal biasanya diperuntukan untuk mahasiswa baru yang ingin mengenali potensi diri yang nantinya akan diarahkan untuk psikotes. Untuk yang individual biasanya berupa masalah pribadi terkait dengan keluarga ataupun dengan teman. Pun juga dengan kondisi emosi,” jelas Hudan. Ia menegaskan kembali bimbingan konseling akan jauh lebih efektif jika didasari atas kemauan sendiri. Berbeda dengan BK saat di sekolah, Konseling di kampus akan siap sedia jika ada keluhan yang didasarkan atas kemauan sendiri. Terutama jika memiliki masalah. “Pada intinya seseorang yang melakukan konseling karena butuh support dan ingin berbagi cerita dengan orang lain,” tegasnya. Hudan bercerita setiap masalah yang membutuhkan konseling memiliki keunikan sendiri-sendiri. Di UMM sendiri konseli (client) yang dihadapi juga dari latar belakang masalah yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari trauma dengan keluarga, masalah hubungan percintaan, masalah dengan tugas akhir dan juga merasa memiliki masalah dari dalam diri sendiri. “Di beberapa kasus trauma, ada yang membutuhkan lebih dari sepuluh kali pertemuan untuk bisa sembuh. Karena kondisi psikologis berbeda dengan fisik, seorang klien harus mempercayai penuh seorang konselor yang dipercayai untuk berbagi cerita,” tutur Hudan. Ia juga menilai bahwa sebagian masyarakat kita beranggapan negatif dengan mereka yang mengunjungi psikiater atau psikolog. Dianggap memiliki gangguan jiwa atau stress. Padahal, orang juga perlu penanganan lebih lanjut jika sudah merasa tak nyaman dengan diri sendiri. Meski begitu, ia mengakui bahwa mengubah cara pandang orang bukanlah perkara yang mudah. “Dulu, masyarakat kita kan tidak biasa dengan orang-orang yang memiliki perilaku berbeda. Bahkan ada yang dipasung karena memang belum mengenal apa itu psikiater dan psikolog. Tapi seiring waktu, masyarakat juga harus menyadari bahwa ada profesi-profesi yang dapat menangani kondisi seperti ini,” ungkapnya. Hudan juga mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya untuk mengedukasi berbagai lapisan masyarakat. Seperti orang tua dan remaja ataupun calon pasangan yg mau menikah. Materinya juga beragam, mulai dari seberapa pentingnya menguatkan mental anak, bahkan juga edukasi mengenai pra nikah untuk mempersipkan kesehatan mental orang tua. Mereka juga masih harus berupaya untuk mensosialisasikan peran psikolog. (zak/wil)

Miliki UKM E-Sport, UMM Siap Cetak Atlet E-Sport Profesional

Perkembangan pesat aspek digital memunculkan banyak kebiasaan baru, potensi baru, hingga cabang olahraga baru. Salah satunya yaitu aktivitas e-Sport (gim). Diiringi pandemi Covid-19 yang mengharuskan segala kegiatan menjadi online, membuat pertumbuhan aspek e-sport semakin pesat. Banyak turnamen yang bermunculan, mulai dari tingkat regional hingga internasional. Melihat akan hal itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendirikan dan meresmikan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berbasis e-Sport, yakni UMM E-Sport. Nizar Muttaqin selaku ketua UMM E-Sport menceritakan bahwa sebelum resmi menjadi UKM, UMM E-Sport ini berbentuk komunitas game Mobile Legend (ML) yang sudah ada sejak tahun 2019. Karena animo dan antusiasme para mahasiswa yang tinggi, akhirnya mereka berdiskusi dengan pihak kampus hingga hadirlah UKM itu. Adapun UMM S-sprot baru diresmikan pada bulan Februari lali. Menariknya, meski berawal dari gim Mobil Legend, tapi kini pihaknya sudah melebarkan divisi. Salah satunya yakni divisi PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG). “Setelah resmi menjadi UKM, kami melebarkan sayap ke game lain yaitu PUBG agar bisa menjangkau banyak mahasiswa lainnya. Lagipula ada banyak gim-gim kompetitif lain yang bisa dikembangkan,” imbuhnya. Nizar, sapaan akrabnya, menjelaskan lebih lanjut bahwa sudah ada sederet kegiatan yang dilaksanakan. Mulai dari pengadaan turnamen, fun match dan open recruitment. Terkhusus turnamen, UMM E-Sport telah banyak menjalin kerja sama, baik dari internal UMM seperti BEM dan juga eksternal. Mahasiswa asli Surabaya ini menuturkan bahwa ada dua bentuk divisi yang ada di UKM terkait. Di antaranya Divisi Pro- Scene dan Divisi Game. Adapun divisi pro-scene ini berfokus pada penyiapan atlet yang akan dilombakan untuk mewakili UMM di turnamen atau perlombaan. Sedangkan divisi game lebih kapada persiapan turnamen dan agenda. Ada juga latihan rutin yang selalu dilakukan. Intensitasnya akan bertambah jika sudah mendekati kejuaraan. Namun, jika berbentukran dengan perkuliahan, pihak UKM UMM E-Sport akan mengutamakan perkuliahan terlebih dahulu. “Untuk Pro-Scene kami berfokus pada tim yang akan mewakili UMM dalam perlombaan atau kejuaraan. Untuk saat ini ada dua game yang terus kami kembangkan yaitu PUBG dan ML.,” ujarnya. Mahasiswa informatika angkatan 2018 ini berharap ke depannya UMM E-Sport bisa beregenerasi dengan baik dan terus berlanjut. Begitupun dengan ekosistem dunia gim yang diharapkan bisa membaik dan produktif. Sehingga dapat melahirkan atlet-atlet e-sport yang membanggakan dan mengharumkan nama Kampus Putih. “Harapannya tentu kami ingin ada Atlet UMM E-Sport yang bisa mengharumkan nama UMM di kerjuaraan regional hingga internasional,” ucapnya. (haq/wil)

Dialog Kebangsaan BEM UMM Dorong Gerakan Filantropi Perdamaian

Baru-baru ini Indonesia digemparkan kembali dengan isu terorisme. Adapun isu tersebut mencuat karena ada mahasiswa di salah satu kampus di Malang yang terindikasi bagian dari jaringan ISIS. Melihat akan hal itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Cangkir Opini dan Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur melangsungkan dialog kebangsaan. Adapun seminar yang diadakan pada akhir Mei ini mengangkat tema “Gerakan Filantropi Perdamaian”. Dialog tersebut mengundang Ustadz Jack Harun, Drs. H. Supriyadi MM., Drh. Zainul Muslimin dan Hasnan Bachtiar S.Sy., MIMWADV. Diawali oleh Supriyadi selaku perwakilan dari Kementrian Agama (Kemenag) Jawa Timur yang menjelaskan bahwa perkembangan filantropi di Indonesia tidak lepas dari tiga poin yaitu amal syariah, aman regulasi, dan wakaf produktif. Adapun ketiga poin tersebut memiliki peran penting pembangunan ekonomi dalam gerakan filantropi di nusantara. “Adapun bentuk filantropi ini tidak terbatas pada gerakan perdamaian saja, tetapi juga harus bergerak dalam aspek eknomi,” ujar Supriyadi. Pada kesempatan yang sama, Zainul Muslimin selaku ketua Lazismu Jawa Timur mengungkapkan bahwa saat ini filantropi di Indonesia masih belum berhasil. Terus terang, ia mengatakan bahwa faktor kemiskinan menjadi salah satunya. Apalagi banyak dari masyarakat yang sudah terlarut dalam zona nyaman itu. Hal itu bisa dilihat ketika pada kenyataannya masyarakat masih miskin, namun mereka tidak mau dan enggan mengakui itu. Di samping itu, ia juga memaparkan tentang pemenangan narasi perdamaian di media sosial. Apalagi mengingat medsos saat ini menjadi kebutuhan pokok informasi. “Menurut saya, sudah saatnya anak muda untuk memenangkan narasi perdamaian di media sosial. Jangan hanya puas menjadi konsumen saja, tetapi harus bisa merubah perilaku sosial,” ucap Zainul. Sementara itu, Ustadz Jack Harun menceritakan bahwa ia adalah seorang mantan narapidana terorisme. Menurutnya, kelompok teroris di Indonesia memiliki tujuan untuk menandingi kekayaaan dan kesuksesan orang kafir (non-Islam). Tetapi cara yang dilakukan kelompok ini lebih menghalalkan segala cara, bahkan mengancam keselamatan rakyat. Menurutnya, apa yang ia lakukan pada masa lampau menjadi sejarah kelam bagi Indoneisa terutama agama Islam itu sendiri. “Alhamdulillah saat ini saya sudah kembali untuk membela NKRI. Tetapi ancaman tidak selesai begitu saja. Masih ada banyak orang yang fanatik fana dengan ekstrimis. Akan selalu ada dan terus mengancam orang-orang yang berpihak ke NKRI,” imbuh Jack. Akhir acara ditutup dengan pemaparan oleh Hasnan Bactiar selaku dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM. Ia menjelaskan bahwa dunia ini saling terhubung satu sama lain. Menurutnya negara dengan penduduk terbanyak selalu akan berpotensi melahirkan kelompok atau gerakan ekstrimisme. Terkait gerakan filantropi, ia mengatakan bahwa terkhusus di Indonesia, ada 20% orang kaya yang kekayaannya setara dengan 50% seluruh penduduk Indonesia. Sedangkan dari sepuluh orang terkaya di Indonesia hanya satu yang beragama Islam. “Dalam membangun filantropi perdamaian, upaya deradikalisasi harus dimasifkan. Terutama di tempat yang banyak bermunculan paham ekstrimis,” jelasnya. (haq/wil)