Muhammadiyah Groundbreaking Pabrik Infus Skala Industri Besar di Malang

MALANG (Panjimas.com)–Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi melakukan groundbreaking pembangunan pabrik PT Suryavena Farma Indonesia, Kamis (11/6), di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ketua Umum Haedar Nashir menyatakan pembangunan pabrik berskala industri besar ini merupakan langkah Muhammadiyah untuk meningkatkan kapasitas dan peran ekonomi umat. Menurutnya, kehadiran industri farmasi tersebut tidak menggeser fokus dakwah ekonomi Muhammadiyah yang selama ini juga berpihak pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Pembangunan pabrik ini memiliki ketersambungan dengan semangat menaikkan kelas ekonomi umat dan bangsa,” ujar Haedar. Ia menjelaskan, pembangunan PT Suryavena Farma Indonesia juga menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah membangun sirkulasi ekonomi yang lebih kuat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di lingkungan Persyarikatan. Pada tahap awal, pabrik tersebut akan menyuplai kebutuhan cairan infus bagi 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Ke depan, PT Suryavena Farma Indonesia tidak hanya memproduksi cairan infus, tetapi juga ditargetkan mengembangkan berbagai produk kesehatan lainnya, seperti obat-obatan, jarum suntik, serta kebutuhan medis lainnya. Langkah ini menandai semakin luasnya keterlibatan Muhammadiyah dalam sektor industri kesehatan nasional, sekaligus memperkuat kemandirian ekosistem layanan kesehatan yang dimiliki Persyarikatan.
Universitas Muhammadiyah Malang Bangun Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus memenuhi kebutuhan medis nasional yang terus meningkat, seperti dilansir dari Cahaya. Selain menyokong sektor kesehatan, proyek ini dirancang sebagai pusat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri. Fasilitas medis yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit maupun masyarakat luas. UMM menyediakan lahan seluas 14 hektare di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk mendukung pembangunan kawasan tersebut. Dari total area yang disiapkan, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi lokasi pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Konsep Socio-Religious Corporation Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus tersebut merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah. Organisasi keagamaan dinilai mampu berperan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” kata Haedar Nashir. Haedar Nashir menambahkan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan untuk mendukung layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Integrasi Pendidikan, Riset, dan Industri Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan kontribusi kampus tidak hanya sebatas penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan kegiatan industri dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” kata Ahmad Juanda. Kawasan tersebut dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” kata Ahmad Juanda. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta sejumlah undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan menjadi penopang penting rantai pasok alat kesehatan, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat secara luas.
PP Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Suryavena di Kabupaten Malang

JATIMTIMES – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan groundbreaking pembangunan pabrik infus PT. Suryavena Farma Indonesia di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang sebagai langkah memperkuat ekonomi kerakyatan menuju ekonomi yang naik kelas. Groundbreaking pembangunan pabrik infus Suryavena yang berada di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) seluas 14 hektare ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir; Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis dan Industri Halal Muhadjir Effendy; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Fauzan; Direktur Utama BPJS Kesehatan Letjen (Purn) Prihati Pujowaskito; Direktur Utama PT. Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Tatat Rahmita Utami Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib; serta jajaran tamu VIP lainnya. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, pembangunan pabrik infus Suryavena ini didasari oleh keinginan untuk memperkuat ekonomi keumatan dan kerakyatan. Ia mengaku PP Muhammadiyah selalu berkomitmen memperkuat ekonomi mikro, kecil dan menengah. “Dulu ketika kita mau merdeka dan awal kemerdekaan waktu itu berkembang spirit pribumi untuk bangkit, berwirausaha, berekonomi, itu identik dengan kekuatan rakyat. Kami tanpa memilah milah itu, semangat Muhammadiyah adalah membangun ekosistem ekonomi rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah dan ekonomi ke atas,” ungkap Haedar kepada JatimTIMES.com, Kamis (11/6/2026). Pihaknya pun menjelaskan tahapan-tahapan yang dapat dijalankan untuk mewujudkan ekonomi yang naik kelas. Pasalnya, tidak semua orang semata-mata hanya diberikan santunan maupun karir, tetapi juga harus diajak melangkah bersama untuk memperkuat ekonomi. Kemudian, Muhammadiyah sebagai persyarikatan yang lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah atau yang sekarang telah berusia 117 tahun ini memiliki sosial ekonomi keagamaan yang dapat bergerak di ekonomi bisnis kelas menengah dan ke atas. “Indonesia ke depan mempunyai cita-cita Indonesia Emas di mana satu di antaranya adalah Indonesia Mandiri. Itu tidak mungkin kalau kita menyerahkan pengolahan sumber daya alam termasuk hutan dan segala yang dimiliki kepada pihak asing, pihak lain. Bahkan Presiden Prabowo Subianto juga semangatnya mengimplementasikan Pasal 33 UUD 1945, Muhammadiyah berada di jalur itu,” jelas Haedar. Disinggung mengenai alasan Muhammadiyah memilih mengembangkan lini bisnisnya di bidang kesehatan, Haedar menyebut bahwa terdapat 130 lebih rumah sakit dan ratusan klinik yang berada di bawah naungan PP Muhammadiyah. “Kami punya 130-an rumah sakit dan ratusan klinik. Kalau tidak kami layani dengan kekuatan sendiri, biasanya akan menggunakan jasa pihak lain. Kemudian dengan pabrik infus ini kami memulai sesuatu yang paling bisa kami lakukan di ekosistem bisnis rumah sakit. Yang saya yakin ke depan juga kami akan bergerak di bidang obat dan lain sebagainya. Biasanya kalau sudah dimulai sesuatu, yang lain akan mengikuti,” beber Haedar. Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis dan Industri Halal Muhadjir Effendy mengatakan, manajemen dari pembangunan pabrik infus Suryavena ini berada di bawah kolaborasi antara Majelis Kesehatan dan Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah dengan nilai investasi sekitar Rp 800 milliar. Muhadjir mengatakan, dengan memproduksi cairan infus secara mandiri, maka akan jauh lebih efisiens dan kualitasnya dapat diawasi langsung secara ketat dan tentunya dapat menekan harga yang rendah. Sehingga nantinya cairan infus Suryavena akan diminati konsumen di luar pasar Muhammadiyah. “Maka dengan seperti itu peluang untuk berkembang produksi infus kami ini akan sangat besar. Nanti kami lihat sampai berapa permintaan dari luar Muhammadiyah,” tutur Muhadjir. Untuk pendistribusian infus Suryavena, PT. Suryavena Farma Indonesia untuk sementara waktu bekerja sama dengan Kimia Farma. Nantinya, ketika rantai pasok jaringan distribusi infus Suryavena sudah cukup luas, maka pihaknya akan membangun jaringan distribusi secara mandiri. Sebagai informasi, pada saat peluncuran PT. Suryavena Farma Indonesia pada April 2026 lalu, ditargetkan pabrik infus ini dapat memproduksi 15 juta botol cairan infus per tahun. Yakni sebanyak 13 juta botol akan diserap oleh jaringan rumah sakit dan klinik Muhammadiyah, sedangkan dua juta botol sisanya akan dipasarkan ke masyarakat luas. Ditargetkan pabrik infus suryavena sudah bisa beroperasi di akhir tahun 2027 atau awal 2028 mendatang.
UMM Bangun Pabrik Infus di Karangploso, Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional

MALANGVOICE – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional. Kampus Putih resmi memulai pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6). Pembangunan pabrik ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah. Di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, hingga Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik infus tersebut dibangun di atas kawasan aset lahan milik UMM seluas 14 hektare. Dari total lahan itu, sekitar tiga hektare disiapkan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Targetnya, fasilitas produksi ini mulai beroperasi pada 2027 dan menjadi salah satu penopang penting rantai pasok alat kesehatan nasional, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun kebutuhan masyarakat secara luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus ini merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan tidak hanya berperan dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar. Ia menambahkan, agama tidak hanya mengatur persoalan akidah dan ibadah, tetapi juga aspek muamalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri kesehatan dipandang sebagai bentuk pengabdian yang mengedepankan nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Hasilnya diharapkan dapat menopang berbagai layanan pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan kontribusi UMM dalam proyek ini tidak sebatas penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mengintegrasikan dunia industri dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Menurutnya, kawasan industri kesehatan ini akan menjadi ruang kolaborasi antara pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang diharapkan menjadi tonggak baru penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. Kolaborasi antara Muhammadiyah, UMM, dan dunia industri ini sekaligus menjadi pesan bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan untuk mendukung pembangunan bangsa.
Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus dan Obat Sendiri Pasok 135 Rumah Sakit, Perkuat Industri Farmasi Nasional

KALTIMPOST.ID, MALANG – Muhammadiyah memperluas kiprahnya di sektor ekonomi dan kesehatan dengan memulai pembangunan pabrik infus melalui PT Suryavena Farma Indonesia. Proyek tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama di kawasan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6). Prosesi groundbreaking dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dr Agus Taufiqurrahman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Ketua PWM Jawa Timur Sukadiono. Haedar menjelaskan, pembangunan fasilitas industri kesehatan tersebut merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat fondasi ekonomi umat sekaligus meningkatkan peran organisasi ke level usaha yang lebih besar dan berdaya saing. Menurutnya, langkah tersebut tidak berarti meninggalkan komitmen Muhammadiyah dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sebaliknya, keberadaan industri skala besar diharapkan dapat menjadi penggerak bagi terbentuknya ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan. “Selama ini Muhammadiyah terus mendampingi sektor ekonomi rakyat. Kini kami ingin memperkuatnya dengan masuk ke sektor industri yang memiliki dampak lebih luas,” ujarnya. Haedar menilai pembangunan pabrik infus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan kemandirian ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, potensi ekonomi bangsa harus dikelola oleh kekuatan dalam negeri agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas. Pada tahap awal, PT Suryavena Farma Indonesia akan memproduksi cairan infus untuk memenuhi kebutuhan jaringan layanan kesehatan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah yang tersebar di berbagai daerah. Saat ini Muhammadiyah memiliki sekitar 135 rumah sakit yang menjadi pasar utama produk tersebut. Dengan rantai pasok yang terintegrasi, organisasi berharap dapat membangun sistem ekonomi sirkular yang memperkuat kemandirian lembaga kesehatan di bawah naungannya. “Langkah pertama dimulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan rumah sakit. Ke depan tentu akan berkembang ke produk kesehatan lainnya,” katanya.
Dirikan Pabrik Infus di Malang, Muhammadiyah Perkuat Kemandirian Industri Medis Nasional

Malang (sigijateng.id) – Muhammadiyah terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen itu diwujudkan melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Pembangunan fasilitas medis ini, bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi bisnis, memperketat kontrol kualitas, serta menyediakan harga produk yang lebih kompetitif dibandingkan produk serupa di luar organisasi tersebut. Dari total 14 hektare aset lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Proyek tersebut resmi dimulai dengan dilakukannya peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Kamis (11/6/2026). Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas Muhammadiyah. Menurutnya, inisiatif tersebut membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik, bukan semata keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Haedar Nashir memaparkan bahwa proyek ini didasari oleh kehendak untuk memperkuat ekonomi rakyat dan umat agar bisa naik kelas menuju ekonomi menengah ke atas. “Muhammadiyah mengusung spirit naik kelas, spirit bangkit membangun ekonomi yang identik dengan kekuatan rakyat,” tuturnya. Langkah strategis membangkitkan ekosistem ekonomi tersebut dinilai berjalan beriringan dengan amanat Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia Emas yang mandiri dalam pengelolaan sumber daya alam. “Muhammadiyah berada di jalur itu. Saya yakin bertemu dengan spirit bangsa menjadi pilar kemajuan Indonesia ke depan,” tandasnya. Muhammadiyah Bangun Pabrik di Malang, Perkuat Kemandirian Industri Medis Nasional lanjut, Haedar menjelaskan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
UMM Bangun Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Malang

READERS.ID-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah strategis dalam memperkuat kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Fasilitas medis ini didirikan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti dikutip dari Cahaya. Pendirian pabrik tersebut diproyeksikan mampu memperkokoh rantai pasok alat kesehatan di dalam negeri. Selain itu, proyek ini berjalan demi menjawab lonjakan kebutuhan medis masyarakat secara nasional. Sentra produksi ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 mendatang. Kehadirannya dipersiapkan untuk menjadi penopang utama penyediaan perangkat medis bagi jaringan rumah sakit sekaligus publik secara luas. Pihak kampus menyediakan lahan seluas 14 hektare yang berlokasi di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Area ini disiapkan khusus guna menyokong pembentukan kawasan industri kesehatan. Dari keseluruhan lahan, area seluas tiga hektare dialokasikan secara spesifik untuk kawasan industri terpadu. Lahan tersebut menjadi tempat berdirinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia yang dijadwalkan beroperasi pada 2027. Wujud Konsep Socio-Religious Corporation Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan penegasan mengenai esensi pembangunan fasilitas medis ini. Menurutnya, proyek ini merupakan manifestasi nyata dari konsep socio-religious corporation yang diusung oleh organisasi. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Haedar Nashir mengutarakan bahwa ajaran agama tidak hanya terbatas pada persoalan akidah dan ibadah semata. Urusan muamalah dalam dinamika sosial dan ekonomi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Langkah Muhammadiyah merambah sektor industri medis dinilai sebagai implementasi pengabdian masyarakat. Gerakan ini mengedepankan nilai kemanusiaan, akuntabilitas, serta keberlanjutan guna menyokong sektor pendidikan hingga pemberdayaan umat. Integrasi Ekosistem Riset dan Sinergi Lintas Sektor Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, memaparkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada penyediaan lahan semata. Kawasan industri ini akan disinergikan langsung dengan institusi pendidikan. Ekosistem tersebut bakal diintegrasikan menjadi bagian dari Laboratorium Direktorat Saintek UMM. Langkah ini menghubungkan sektor manufaktur dengan implementasi tri dharma perguruan tinggi, termasuk riset dan pengembangan SDM. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujarnya. Ahmad Juanda menambahkan, pusat kolaborasi ini didesain guna menyatukan inovasi, pendidikan, dan praktik industri nyata. Pola tersebut diharapkan melahirkan tenaga kerja yang kompeten di bidang kesehatan. “Kolaborasi lintas sector ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujarnya. Proses peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus ini dihadiri langsung oleh Haedar Nashir bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM, Fauzan. Hadir pula Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, serta Direktur PT Suryavena Farma Indonesia.

MALANG, RADAR MALANG – Pemanfaatan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) kini resmi merambah pemutakhiran diagnosis medis noninvasif berakurasi 86 persen serta pengawasan energi surya otonom lewat pengukuhan dua guru besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III Kamis (11/6). Dua akademisi terbaik tersebut, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. dan Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. Meski bergerak pada subkepakaran yang berbeda, keduanya kompak mengintegrasikan algoritma pintar untuk memangkas batasan operasional konvensional. Prof. Lailis Syafa’ah, Guru Besar di bidang Rekayasa Biomedis, menggebrak lewat inovasi di ranah medis transdisipliner yang mengawinkan ilmu kedokteran dengan teknik elektro. Selama ini masyarakat, terutama ibu hamil dan pasien cuci darah (hemodialisis), harus menghadapi jarum suntik secara berkala hanya untuk memantau kadar hemoglobin (Hb). “Dengan rekayasa biomedis ini, pengecekan beralih total menjadi noninvasif alias tanpa rasa sakit,” ujarnya. Aplikasi besutannya memanfaatkan jepretan kamera smartphone pada bagian konjungtiva mata pasien. Melalui algoritma AI yang telah diuji klinis, sistem mampu menganalisis saturasi warna kelopak mata dalam hitungan detik. Akurasi prediksinya bahkan menembus angka 86 persen dibandingkan dengan hasil tes laboratorium konvensional. Teknologi tak kalah canggih juga diinisiasi oleh Prof. Machmud Effendy. Idenya bermula dari rapor merah indikator efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sempat anjlok dari 23 persen menjadi 15,85 persen pada tahun 2025. Ia menawarkan solusi nyata guna mengoptimalkan operasional pembangkit tersebut. Inovasi utama yang dipresentasikan Prof. Machmud adalah pengembangan Robot Pembersih Panel Surya Otonom terintegrasi AI dan Kamera Termal. Terobosan tersebut mendapatkan pendanaan dari DIKTISAINTEK melalui program hiliriset 2026. Selama ini, pembersihan panel surya di atas gedung masih mengandalkan tenaga manual manusia yang berisiko tinggi dan kurang konsisten. “Kamera ini berfungsi melacak adanya titik panas ekstrem kerusakan pada sel surya yang tidak kasat mata, sehingga penurunan daya bisa dideteksi sedini mungkin,” urainya. Selain robotik pintar yang didanai Dikti tersebut, riset jangka panjangnya juga berfokus pada sistem akurasi pembagian daya seimbang pada rangkaian panel dan sel baterai. Sistem ini diklaim mampu memperpanjang usia pakai komponen PLTS secara signifikan sekaligus menghindari beban berlebih (overload). Implementasi teknologi ini diharapkan membuat investasi energi hijau menjadi jauh lebih murah dan mandiri.
UMM Bangun Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Malang

KORAN MANADO-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti diberitakan oleh Cahaya. Pembangunan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus memenuhi kebutuhan medis nasional yang terus meningkat. Selain mendukung sektor kesehatan, proyek tersebut juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri. Pabrik infus yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit maupun masyarakat luas. Temukan lebih banyak UMM menyediakan lahan seluas 14 hektare di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk mendukung pembangunan kawasan tersebut. Dari total lahan yang disiapkan, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi lokasi pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Konsep Socio-Religious Corporation Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus tersebut merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan mampu berperan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” kata Haedar Nashir. Haedar Nashir menambahkan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan untuk mendukung layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Kawasan Industri Terintegrasi dengan Pendidikan dan Riset Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan kontribusi kampus tidak hanya sebatas penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan kegiatan industri dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujar Ahmad Juanda. Menurut Ahmad Juanda, kawasan tersebut juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Diharapkan Perkuat Industri Kesehatan Nasional Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujar Ahmad Juanda. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta sejumlah undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan menjadi penopang penting rantai pasok alat kesehatan, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat secara luas.
UMM Bangun Pabrik Infus di Lahan 14 Hektare di Malang, Target Beroperasi 2027