UMM Siapkan Belasan Skema Beasiswa

Beragam beasiswa selama studi tersedia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan jumlahnya ada belasan yang bisa diraih dan didapatkan oleh mahasiswa. Ini menjadi cara Kampus Putih UMM untuk mendorong anak-anak muda agar bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. “Jadi selain menyediakan beasiswa studi, ada beasiswa lain selama studi yang bisa dicapai oleh mahasiswa. Termasuk beasiswa hasil kerjasama UMM dengan pihak lain hingga beasiswa yang disediakan institusi lain untuk berkuliah di sini,” kata Kepala perekrutan mahasiswa baru (PMB) UMM Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd. Salah satu beasiswa tersebut adalah program Barista dari BRIN yakni bantuan pembiayaan dan riset bagi mahasiswa aktif tingkat akhir berbasis kerjasama riset. Adapula beasiswa Djarum bagi mahasiswa yang berprestasi yang sedang menempuh pendidikan sarjana dan diploma. Selain itu juga beasiswa lain yang menyasar ribuan mahasiswa aktif jenjang pendidikan sarjana dan vokasi. Beasiswa lain yang bisa diperoleh mahasiswa selama studi yakni beasiswa Bakti BCA, beasiswa BSI, beasiswa BPI, hingga LPDP. Sederet lainnya adalah beasiswa BAZANAZ yang diberikan oleh badan amil zakat nasional, beasiswa pemerintah daerah, Charoen Pokpand Foundation Indonesia, hingga beasiswa alumni UMM. Adapula beasiswa-beasiswa lain yang bisa diusahakan oleh mahasiswa ketika sudah menjadi mahasiswa nanti. Berbagai beasiswa ini menjadi salah satu bukti komitmen UMM untuk mendukung segala potensi dan kerja keras mahasiswa untuk bisa melanjutkan studi. “Semoga semakin banyak anak muda yang bisa melanjutkan pendidikannya, termasuk pada jenjang sarjana. Meraih ilmu, mendapat pengalaman, kemudian memberikan pengabdian bagi masyarakat. Tidak hanya ketika akan masuk kuliah saja, tapi bisa juga mendapat beasiswa di masa studinya,” kata Wahyu. Hal ini semakin membuka pintu pendidikan bagi para mahasiswa. Termasuk mereka yang tergolong dalam ekonomi tidak mampu. Ada banyak beasiswa yang bisa diusahakan dan diupayakan demi masa depan yang lebih baik. (wil)
Puluhan Mahasiswa UMM Digembleng di Daihatsu Jepang

Lebih dari 10 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diberangkatkan ke Kyushu, Jepang untuk menjalani program magang industri bersama Daihatsu, 23 Juni ini. Ini sekaligus menjadi komitmen kuat UMM sebagai kampus berdampak global melalui kolaborasi. Adapun program ini merupakan hasil kerjasama resmi antara UMM dan Daihatsu Jepang, ditandai dengan penandatangan MoU pada Desember tahun lalu. Ketua Prodi Teknik Mesin UMM Ir. Iis Siti Aisyah, M.T., Ph.D., IPM., menyebut magang berbasis bekerja selama satu tahun ini mencakup empat departemen utama yang sangat relevan dengan keilmuan mahasiswa Teknik Mesin UMM. Yakni welding, assembly, quality Control, dan molding (pembuatan dies/cetakan). Program ini sendiri dirancang terintegrasi kurikulum kampus melalui skema konversi SKS, sehingga mahasiswa tetap dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Dari ratusan mahasiswa yang mendaftar, 10 diantaranya berhasil lolos take- off ke Jepang. Sebelum berangkat, mereka terlebih dahulu sudah menjalani proses seleksi ketat yang meliputi psikotes, uji fisik, serta pelatihan intensif kelas bahasa Jepang hingga mencapai level N4. Pelatihan ini berlangsung selama lima bulan di UMM dengan menghadirkan tenaga ahli profesional. Kemudian, satu bulan setelahnya digunakan untuk pengondisian tambahan di Bandung. Program magang internasional UMM x Daihatsu Batch 1 dilangsungkan selama satu tahun, dimulai pada 6 Juli 2025 nanti. “Kami juga mempersiapkan mahasiswa dengan capstone design yang nantinya bisa mereka kembangkan menjadi Tugas Akhir (TA) saat kembali ke Indonesia di semester 8. Dengan begitu, pengalaman magang ini tidak hanya memperkaya wawasan industri mereka, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses akademik tanpa menghambat waktu kelulusan,” sambungnya. Lebih lanjut, Iis menyebut program ini adalah wujud bukti dari kurikulum berdampak. Tidak hanya memberikan manfaat akademik, namun juga membuka peluang global bagi mahasiswa untuk bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyakarat, dan bangsa. Di dalamnya, mereka tidak hanya saving experience, tetapi juga membangun portofolio internasional yang bernilai strategis di dunia kerja dan wirausaha. Sementara itu, program magang UMM x Daihatsu Batch 2 akan dilaksanakan September mendatang. Demi memastikan kesinambungan akademik, perkualiahan semester berjalan tetap berlangsung secara luring dan daring. Mahasiswa menyelesaikan 11 pertemuan secara tatap muka, sebelum beralih ke sistem project-based learning sebagai pendukung pelatihan bahasa dan persiapan keberangkatan. Sebelumnya, pihaknya sukses mengirimkan mahasiswanya ke industri nasional, seperti PT PAL, INKA, PTDI, dan lain sebagainya. Kini, Teknik Mesin UMM menapaki babak baru di level internasional, memperkuat eksistensi Kampus Putih di kancah global. Terakhir, meski menantang, program ini sangat layak untuk memperkuat posisi UMM di level internasional. (din/wil)
Kenalkan Keramik Lokal, Tim Mahasiswa UMM Adakan Pameran dan Diskusi

Mahasiswa public relation Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah malang (UMM) yang tergabung dalam Arutala langsungkan eksebisi dan pameran keramik bernama ‘Genggaman’. Agenda itu dibalut dengan sederet kegiatan yang sekaligus mengenakan keramik lokal dan bekerjasama dengan Matahati Ceramics. Menariknya, para pengunjung bisa melihat pameran itu dari 14 Juni hingga 14 Juli 2025 di studio Matahati Ceramics, Kota Batu. Mengangkat semangat kolaborasi, pameran ini turut menghadirkan karya dari sejumlah seniman terpilih yang berasal dari berbagai institusi ternama. Termasuk Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Negeri Malang (UM). Sederet kegiatannya juga menarik, mulai dari pembacaan puisi, akustik, dan art performance. Turut dihadiri juga oleh Ketua GEKTRAFS Kota Batu Yanuar Baihaqi yang sekaligus membuka agenda tersebut. Menurutnya, ini menjadi wadah agar masyarakat juga menyukai dan mengetahui bagaimana keramik dibuat. Bahkan juga sebagai cara mendorng pengembangan keramik Batu ker berbagai daerah. Di sisi lain, Ketua Arutala, Muhammad Rifqy menyampaikan bahwa pameran ini bukan hanya sebagai bentuk apresiasi seni, tetapi juga menjadi media komunikasi visual dan budaya yang diharapkan mampu mempererat jaringan antar kreator muda dari berbagai latar belakang. “Kami ingin memperlihatkan bagaimana seni keramik bisa menjadi ruang dialog antara tradisi dan inovasi. Kolaborasi ini adalah bentuk nyata peran mahasiswa Public Relations UMM dalam mengelola, mengomunikasikan, dan mengangkat nilai seni ke publik yang lebih luas,” tegasnya. Beberapa kegiatan yang bisa diikuti di antaranya sesi bincang santai yang dengan menghadiri seniman yang turut memamerkan karya dalam pameran. Adapula Pottery Class yang menjadi wadah untuk masyarakat umum yang ingin belajar untuk membuat keramik. Terakhir, yakni Art Talk bersama GEKRAFS. Salah satu pengunjung, Antika mengaku senang dan tertarik untuk melihat berbagai keramik. “Pertama kali menghadiri acara ini dan sangat meriah. Banyak kegiatan seru yang bisa diikuti dan unik,” katanya. (*/wil)
Mahasiswa Asing Mancanegara Tamatkan Belajar Bahasa Indonesia di UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Closing Ceremony program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada Sabtu, 21 Juni 2025 lalu. Acara ini menjadi penutup masa pembelajaran bagi mahasiswa asing penerima beasiswa Darmasiswa, KNB, SUMMIT, dan NAM yang telah belajar di UMM selama setahun terakhir. Suasana meriah terlihat sejak awal acara. Mahasiswa asing tampil memukau dengan beragam pertunjukan seni budaya Indonesia. Mereka menarikan tarian tradisional, membacakan puisi dan dongeng dalam bahasa Indonesia, menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia, memainkan gamelan, serta menyanyikan lagu-lagu daerah. Penampilan-penampilan ini menjadi bukti keberhasilan mereka dalam memahami bahasa dan budaya Indonesia secara mendalam. Terkait hal ini, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. mengungkapkan kebanggaannya terhadap para mahasiswa asing yang telah menyelesaikan program dengan semangat dan cinta terhadap Indonesia. “Penampilan hari ini adalah simbol keberhasilan kalian. Bahasa Indonesia bukan hanya dipelajari, tetapi juga dihayati. Kalian adalah duta-duta budaya Indonesia yang akan membawa cerita tentang bangsa ini ke dunia,” ujarnya. Adapun program BIPA UMM telah berlangsung sejak tahun 1990 dan resmi dikelola secara struktural pada 2006. Melalui program ini, mahasiswa asing mempelajari bahasa dan budaya Indonesia dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Beasiswa Darmasiswa dan KNB didanai oleh pemerintah Indonesia, sedangkan SUMMIT dan NAM merupakan program beasiswa internal UMM. Kurikulum yang digunakan seluruhnya seragam, berfokus pada penguasaan bahasa serta pemahaman budaya Nusantara. Kepala UPT BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., menyampaikan bahwa hingga kini ratusan mahasiswa asing telah mengikuti program tersebut. Ia menilai bahwa program BIPA menjadi wujud konkret kontribusi UMM dalam menginternasionalkan Bahasa Indonesia. “Kami tidak hanya mengajarkan bahasa, tapi juga menyampaikan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan Indonesia. Ini bukan sekadar proses belajar, tetapi jembatan antarbangsa yang memperkuat hubungan global,” kata Arif. Salah satu mahasiswa, Cici asal Vietnam, mengungkapkan rasa cintanya terhadap Indonesia. “Belajar di UMM sangat menyenangkan. Saya merasa sangat beruntung bisa belajar di sini. Saya suka guru-gurunya, teman-temannya, dan makanan Indonesia. Saya cinta Indonesia dan ingin kembali ke sini suatu hari nanti,” ujarnya. Melalui program ini, UMM tidak hanya membangun reputasi internasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia dapat menyatukan beragam latar belakang budaya. Penutupan program ini bukanlah akhir, melainkan awal dari jalinan diplomasi budaya yang akan terus tumbuh melalui bahasa Indonesia. (vin/wil)
Kisah Mahasiswa UMM diwisuda di Taiwan

Kabar membanggakan datang dari mahasiswa program studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tiga wisudawan sukses menyelesaikan sarjana di UMM pada 19 Juni dan langsung melanjutkan S2 National Formosa University Taiwan berkat program fast track UMM. Empat wisudawan itu adalah Mahammad Zahmil, Dwi Cahya putra, Fachri Aldin dan Naura alya Kamila. Adapun program ini merupakan kerja sama dari prodi Teknik Mesin UMM dengan National Formosa University Taiwan. Zahmil, salah satu mahasiswa fast track mengatakan, dia mengambil konsentrasi Green Smart Manufacturing dibawah naungan departemen Industrial. Kemudian, saat ini sudah menjalani program fast track selama satu semester, dan hal ini dapat langsung dikonversikan sebagai tugas akhir atau skripsi. Sehingga ia dan teman-temannya dapat segera melanjutkan proses lanjut studi. “Saat ini, kami sudah berada di Taiwan dan belajar menimba ilmu di progrma magister. Jadi kami wisuda secara daring,” katanya. Menurutnya, program ini sangatlah menarik karena ia bisa langsung belajar S2 berkat percepatan di program Teknik Mesin UMM. Ia juga mempelajari coding dan phyton yang dapat menjadi bekal penting dalam karirnya dimasa depan. Selain program fast track ini, Teknik Mesin UMM juga memberikan banyak pengalaman seperti studi budaya dan guest lecturer yang dihadiri oleh para pakar. Untuk bisa diterima, Zahmil bercerita sederet persyaratan yang harus dipenuhi. Mulai dari sertifikat bahasa Inggris hingga IPK yang mencukupi di atas 3.00 serta bahasa mandarin dasar. Selain itu, pengalaman internasional juga harus dimiliki. Sebelumnya, ia pernah mengikuti pertukaran pelajar selama satu semester dengan beasiswa Erasmus di Lublin University of Technology di Polandia. Dia juga menekankan pentingnya mengelola waktu dengan baik dan memprioritaskan hal yang penting untuk mencapai target akademik. Selain itu, saat sudah berada di kampus tujuan, adaptasi adalah kunci. Menutup kalimatnya, Zahmil berpesan agar mahasiswa semester awal dapat mempersiapkan diri untuk bisa turut bergabung di program fast track tanpa ada hambatan. Ia berharap akan ada banyak mahasiswa UMM yang mengambil kesempatan ini. “Pihak Teknik Mesin UMM sudah menyiapkan program ini dengan baik, maka mahasiswa harus bisa mengambil kesempatan ini. Kolaborasi UMM dan kampus Taiwan ini adalah salah satu jalan menuju kesuksesan yng harus diperjuangkan,” katanya. (nam/wil)
HIPMI di UMM Tumbuh Subur

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak wirausahawan muda tangguh melalui Divakara Expo 2025. Acara ini merupakan inisiasi dari HIPMI PT UMM berkolaborasi dengan Koperasi Mahasiswa UMM, serta melibatkan berbagai pihak internal dan eksternal kampus. Agenda bertajuk “Digitalisasi dan Dinamika Nilai Rupiah” dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan dilaksanakan pada 16 Juni lalu. Menghadirkan rangkaian acara seperti seminar nasional, expo UMKM, Business Model Canvas Competition, hingga perekrutan anggota baru, Kegiatan ini adalah bentuk nyata ekosistem kampus yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa di sektor ekonomi kreatif. Divakara Expo 2025 tercermin sebagai ruang aktualisasi generasi muda di bidang kewirausahaan dan inovasi. Sementara itu, Ketua Umum HIPMI Kota Malang Kartika menekankan pentingnya kompetisi sebagai wadah menguji model bisnis dan membentuk pribadi tangguh. Dalam agenda ini, Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan momentum ini untuk mengasah wawasan dan keterampilan bisnis. Ia juga mendorong semangat mahasiswa untuk aktif berorganisasi dan terbuka terhadap perkembangan digitalisasi. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor ini diharapkan terus berlanjut untuk mencetak generasi muda yang inovatif, tangguh, dan siap menjadi pelopor ekonami Indonesia di masa depan. ”Sinergi dunia usaha, startup, kampus, dan masyarakat adalah kunci penguatan ekonomi nasional,” ujarnya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya agenda ini. Ia menegaskan pentingnya semangat kewirausahaan di kalangan pemuda. Pondasi bangsa besar dibangun oleh anak-anak muda dengan semangat dan jiwa entrepreneur yang kokoh. Semangat kewirausahaan yang ditanamkan sejak 2017 mengantarkan cita-cita kuat anak bangsa untuk membawa Indonesia sejajar dengan bangsa dunia. UMM sendiri telah lama mengusung semangat kewirausahaan dalam berbagai lini, seperti sekotor kesehatan, pertanian, perhotelan, hingga intelektual pun ada. Nazar menekankan bahwa di era disrupsi dan ketidakpastian, mahasiswa perlu siap menerima kehidupan yang lebih baik (accept for the better life) sekaligus bersiap menghadapi situasi terburuk (prepare for the worst). Jiwa pemimpin di UMM, lanjutnya, harus dibangun dengan kepemimpinan berbasis kewirausahaan. Kampus putih terus mendukung pengembangan ekosistem bisnis mahasiswa, sejalan dengan berbagai unit usaha strategis kampus yang dikelola secara mandiri. “Bisnis yang baik adalah bisnis yang menyentuh kehidupan manusia,” tutupnya, sembari mendorong mahasiswa untuk terus adaptif dan berinovasi, baik di pasar domestik maupun global. (din/wil)
Begini Pesan Dubes RI untuk Mesir di Wisuda UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan ribuan mahasiswa dari jenjang vokasi, sarjana, hingga pascasarjana dalam Wisuda ke-118, 19 juni 2025 ini. Prosesi ini menjadi momen bersejarah bagi para lulusan dan keluarga mereka yang hadir dari berbagai daerah, sekaligus menandai langkah awal bagi kontribusi intelektual muda UMM di tengah masyarakat. Wisuda kali ini terasa istimewa dengan hadirnya Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Dr. (HC) Luthfi Rauf, M.A., yang menyampaikan orasi ilmiah. Didampingi oleh jajaran KBRI Mesir dan tokoh-tokoh pendidikan nasional, beliau menyampaikan pesan strategis tentang peran penting pendidikan dalam menjawab tantangan zaman global. “Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi juga pintu masuk menuju peradaban yang maju dan manusiawi. Dengan ilmu, manusia mendapatkan kunci untuk melewati kegelapan menuju pencerahan. Ilmu adalah obor peradaban,” ujarnya. Ia mengatakan bahwa kemuliaan orang-orang berilmu telah ditegaskan dalam Alquran surat Al-Mujadalah ayat 11. Dalam konteks itu, ia mengapresiasi langkah UMM sebagai institusi yang telah mengintegrasikan pendidikan umum dan agama ke dalam satu sistem yang terpadu. Menurutnya, UMM telah menjalankan amanat KH. Ahmad Dahlan bahwa agama harus membawa kepada kemajuan, bukan keterbelakangan. “Saya melihat pendidikan Islam yang holistik sangat penting, yaitu pendidikan yang menggabungkan aspek spiritual, moral, dan intelektual. Sistem pendidikan UMM telah menjelma menjadi kekuatan nasional yang tak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga berwawasan global. Melalui lembaga seperti Muhammadiyah Australian College di Australia, kita membuktikan bahwa nilai-nilai Muhammadiyah relevan di pentas dunia,” ujarnya. Luthfi tidak hanya menyoroti isu pendidikan, tetapi juga membahas berbagai tantangan dunia global, seperti rivalitas geopolitik, perubahan iklim, dan revolusi teknologi digital. Ia menilai bahwa kaum muda, termasuk para lulusan UMM, perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan peluang sekaligus menjawab berbagai tantangan tersebut. Ia juga berpesan bahwa saat ini adalah momentum bagi generasi muda untuk menjadi navigator perubahan, bukan sekadar pelintas pasif dalam arus zaman. “Pentingnya membangun ekosistem ekonomi syariah dan literasi digital untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global. saya berharap lulusan UMM tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pelaku perubahan di sektor pendidikan, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan. Wisuda ini bukan akhir. Ini adalah awal dari perjuangan membangun Indonesia yang lebih maju,” pungkasnya. Sementara itu, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kampus saat ini tengah mengembangkan ekosistem pendidikan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang hidup dan adaptif. Konsep ini disebutnya sebagai scientific living organism, kelanjutan dari Center for Future of Work yang telah dirintis selama satu dekade. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan quadruple helix agar lulusan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. “UMM terus berkomitmen mengembangkan scientific living organism, sebuah ekosistem saintek berbasis kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat. Saya harap lulusan dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut. Jadilah insan pembelajar seumur hidup dan agen perubahan di tengah masyarakat. Inilah makna kampus berdampak yang selalu kami gaungkan,” tutupnya. (vin/wil)
Viral Konten Menyimpang, Begini Kata Dosen Sosiologi UMM

Maraknya konten “kebebasan berekspresi” yang dianggap menyimpang oleh masyarakat Indonesia kembali memicu perdebatan publik saat ini. Termasuk penyimpangan seksual dan gender yang menyalahi fitrah. Sebagian besar netizen mengecam, sementara pelaku kerap berdalih berlindung menggunakan hak asasi manusia (HAM). Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Luluk Dwi Kumala Sari, M.Si mengungkapkan, fenomena ini tak lepas dari pengaruh budaya populer negara Barat yang tak tersaring, sementara masyarakat Indonesia masih kental dengan nilai-nilai timur berbasis agama dan moral. Luluk memaparkan, belakangan ini platform seperti TikTok dan Instagram ramai dengan konten-konten yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap “melanggar norma”. Mulai dari gaya hidup liberal hingga ekspresi gender non-tradisional. Dia menjelaskan, hal ini dapat terjadi karena generasi muda kerap tergiur oleh realitas budaya populer barat yang mengedepankan kebebasan individu. “Mereka menganggap tindakan mereka sudah benar dan tidak mau disalahkan, dengan mengedepankan hak asasi manusia (HAM). Akan tetapi mereka tidak melihat konteks budaya yang ada di Indonesia. Apalagi Indonesia menerapkan budaya Timur dan mengedepankan tradisi, moral, agama, kemudian mereka dengan percaya diri menguploadnya di media sosial dengan tujuan agar orang lain dapat melihat kebebasan berekspresi mereka” tambahnya. Tak hanya itu, lingkungan yang kurang harmonis seperti keluarga berantakan (broken home) atau pertemanan yang tidak sehat (toxic) juga dapat menjadi pemicu. Lalu, kapasitas spiritual yang rendah membuat mereka mudah terpapar. Sebaliknya, jika individu mempunyai hubungan keluarga dan pertemanan yang harmonis dan nilai spiritual yang baik, maka hal-hal tersebut tidak akan terjadi. “Orang-orang yang masih memegang konsep-konsep religius, tradisi, agama dan moralitas yang ada di lingkungannya, tentu tidak akan terpengaruh,” katanya. Selanjutnya, stigma masyarakat terhadap pelaku penyimpangan ternyata dapat memperparah keadaan. Masyarakat jadi tidak percaya, dan hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri pelaku. Menurut Luluk, pendekatan yang terbaik bukanlah penghakiman, melainkan asesmen dan rehabilitasi yang humanis. Ada beberapa tahap yang dapat digunakan untuk penyembuhan penyimpangan. Melakukan asesmen yakni identifikasi dulu sejauh mana masalahnya. Jika tidak parah, tak perlu direhabilitasi secara keras. Kemudian, lembaga keagamaan dan pendidikan bisa berperan sebagai teman diskusi, bukan menghukum. Karena, sebagai pendidik harus responsif dan humanis dan lembaga keagamaan juga perlu progresif dalam pendampingan. Luluk mengatakan, pada tingkat regulasi, UU ITE dinilai belum cukup efektif memfilter konten negatif. Dia menyarankan kolaborasi lebih ketat antara pemerintah dan platform digital untuk memperkuat sistem filterisasi. Kemudian perlu akan kegiatan penyuluhan dan penegasan aturan terkait konten yang bisa merusak moral. Tak kalah penting, dia mendorong birokrasi setempat untuk mengadakan lebih banyak kegiatan kreatif bagi anak muda. “Selama ini, kegiatan di desa didominasi ibu-ibu PKK. Anak muda butuh wadah agar tidak terjerumus ke konten negatif,” katanya. (nam/wil)
Kisah Mahasiswa UMM Dikawal Ketat Ngajar di Thailand

Di tengah bentangan alam yang hijau dan atmosfer religius di District Yaha, Provinsi Yala, Thailand Selatan, Camelia Najwa, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalani pengalaman menarik. Ia tidak sekadar ikut program magang, namun juga menjadi bagian dari program internasional yang menggabungkan aktivitas mengajar dan pengabdian masyarakat. Ini merupakan jasil dari kerangka kerja sama antara Asosiasi Muhammadiyah Indonesia dan Muhammadiyah Thailand. Adapun ia dan belasan mahasiswa UMM lain tengah mengajar di sana dari Mei-Juli 2025 ini. Program ini merupakan bentuk kerja sama lintas negara yang telah berjalan sejak awal tahun 2010-an, khususnya di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM. Dalam program ini, mahasiswa berkesempatan untuk mengajar di sekolah dasar yang berlokasi di Thailand Selatan, sebuah kawasan yang membutuhkan tenaga pendidik Bahasa Inggris karena minimnya warga lokal yang fasih berbahasa asing. Camelia ditempatkan di Asosiasi Muhammadiyah Thailand, tepatnya di wilayah Yaha. Ia mengajar di sekolah dasar berbasis English village. Tantangan pertama yang ia hadapi adalah hambatan bahasa. Bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat bukanlah bahasa Thai baku, melainkan bahasa lokal setempat, mirip seperti keberadaan bahasa Jawa atau Madura di Indonesia. Hal ini mendorong Ia untuk mempelajari bahasa Melayu kuno, yang digunakan sebagai alternatif komunikasi dengan siswa dan guru. Meski sulit, ia berkomitmen untuk tetap membangun komunikasi yang efektif dan hangat dengan para siswa. “Saya mau tidak mau harus belajar bahasa baru agar bisa memahami dan dipahami oleh mereka,” ujarnya. Pengalaman ini tidak hanya menantang dari sisi akademik, tetapi juga memberi pelajaran tentang rasa syukur dan semangat pengabdian. Sekolah tempatnya mengajar dikelola secara gratis oleh Muhammadiyah. Setiap pagi siswa mengikuti upacara, dilanjutkan dengan senam bersama, kemudian salat Dhuha berjamaah di musholla sekolah. Proses belajar mengajar dimulai pukul sembilan pagi dan seluruh siswa dari jenjang PAUD hingga SD mendapatkan makan siang secara cuma-cuma. Namun, keterbatasan tetap terasa, sehingga ia harus terus berpikir kreatif agar siswa tetap bisa belajar dengan semangat dan kegembiraan. Kondisi lingkungan sekitar sekolah juga tidak bisa dilepaskan dari konteks keamanan wilayah. Setelah waktu salat Isya, anak-anak diminta untuk tetap berada di dalam rumah karena kawasan tersebut memiliki sistem pengawasan ketat. Dalam radius satu hingga lima kilometer terdapat pos militer yang menjaga keamanan. Meskipun demikian, masyarakat tetap menunjukkan keramahan yang luar biasa. Ia bahkan sering dianggap sebagai warga lokal karena wajahnya dinilai mirip dengan penduduk sekitar. Kehangatan juga datang dari siswa-siswanya. Mereka selalu ceria dan penuh semangat saat belajar. Jika ia sedikit terlambat masuk kelas, para siswa langsung datang menjemputnya dengan antusias. Interaksi tersebut membangun ikatan emosional yang kuat antara pengajar dan murid. Ia pun merasakan bahwa keberadaan mahasiswa Indonesia sudah sangat familiar bagi masyarakat Thailand Selatan karena setiap tahun selalu ada mahasiswa yang datang dalam program serupa. Pengalaman ini menyadarkannya akan pentingnya nasionalisme dan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan. Ia menyadari bahwa cinta tanah air bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menurutnya, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membentuk fondasi moral dan intelektual generasi mendatang. Setelah nanti menyelesaikan program ini, ia ingin mengimplementasikan pengalaman dan keterampilan yang didapat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia juga berharap dapat terus mengembangkan kemampuan bahasa asing, berpikir kritis dan inovatif, serta memiliki pandangan global dalam melihat isu-isu pendidikan. Dari pelosok Thailand Selatan, Ia belajar bahwa meskipun berada di negeri orang, rasa cinta terhadap tanah air tidak pernah pudar. Ia menemukan makna dalam ungkapan ‘Indonesia is home’. Betapa pun nyamannya berada di negeri orang, ada kalanya kerinduan terhadap tanah kelahiran menguat. Maka seburuk apa pun keadaan di negeri sendiri, sebaik-baiknya manusia adalah yang berusaha memperbaiki. (bil/wil)
Gubernur NTB di Wisuda UMM: Siap Berkolaborasi untuk Pengabdian Terbaik

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Termasuk para anak muda yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada ribuan mahasiswa asal NTB yang bergerak di berbagai bidang. Hal ini diapresiasi penuh oleh Gubernur NTB (NTB), Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, M.Si. yang memberikan orasi ilmiah dalam prosesi wisuda UMM ke 118, 17 Juni lalu.Ia tidak hanya menyampaikan ucapan selamat, tetapi juga menggugah para wisudawan agar siap menghadapi dunia nyata dengan keberanian, mimpi besar, dan semangat pengabdian. Terkait banyaknya putra-putri NTB di UMM, ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB membuka diri seluas-luasnya bagi para alumni UMM yang ingin mengabdi dan membangun daerah. “Saya tidak ingin meminta apa-apa dari para alumni UMM asal NTB. Justru saya ingin tahu, apa yang bisa kami bantu agar kalian bisa memberikan pengabdian terbaik. NTB milik kita semua, dan saya siap fasilitasi,” ungkapnya. Lebih dari sekadar ucapan, ia mengajak wisudawan untuk segera menyadari bahwa dunia luar kampus menuntut ketangguhan dan keberanian mengambil risiko. Ia menyebut kegagalan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses menuju keberhasilan. “Jangan takut salah, jangan takut gagal. Hari ini kalian belum membawa siapa-siapa, maka gagal pun tidak akan merugikan banyak orang. Tapi saat kalian jadi pemimpin, satu kesalahan bisa berdampak besar,” ujarnya. Menurutnya, tantangan hidup tidak akan pernah berhenti, dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus belajar dan tidak malu memulai dari bawah. Lebih jauh, ia menyampaikan pentingnya membangun mimpi besar dan mengambil keputusan-keputusan penting meski berisiko. Ia mengibaratkan hidup sebagai samudera yang penuh badai, namun dengan niat dan arah yang benar, siapapun bisa mencapai pelabuhan impian mereka. “Pelaut hebat tidak lahir dari pantai yang tenang, tetapi dari laut lepas yang penuh gelombang. Siapkan perahu yang kuat dan arahkan layar ke tujuan yang tepat,” ujarnya. Di sisi lain, ia juga menyampaikan harapannya agar kampus tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menjadi pusat penyelesaian persoalan masyarakat. Ia menyebut UMM sebagai kampus yang mampu menjadi solution provider bagi daerah dan bangsa. “Ke depan, keberhasilan kampus diukur bukan dari berapa banyak wisudawan, tetapi sejauh mana solusi yang dihasilkan untuk persoalan nyata di masyarakat. Pemerintah NTB siap bekerja sama dengan kampus untuk menyelesaikan problem riil,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menyampaikan komitmen kampus untuk tidak sekadar menjadi institusi akademik, tetapi menjadi kekuatan transformasi sosial. Ia menyatakan bahwa UMM tengah bergerak menuju peran sebagai Scientech Living Organism—kampus yang hidup dan berdampak dalam ekosistem masyarakat. “Kami tidak ingin hanya mencetak lulusan, tapi membentuk karakter, kemampuan memecahkan masalah, dan semangat membangun negeri,” ujarnya. Ia juga menyambut baik ajakan Gubernur NTB untuk membangun kerja sama riset yang berdampak, sekaligus berterima kasih kepada orang tua mahasiswa atas kepercayaan yang diberikan kepada UMM. “Kami siap menjadi mitra strategis bagi pemerintah daerah dan nasional, demi menciptakan kemaslahatan yang lebih luas,” tutupnya. (vin/wil)