Menko PMK dan Ketum PP Muhammadiyah Bekali Maba UMM

Mahasiswa baru (Maba) dari beragam daerah Indonesia turut hadir dalam gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2021. Uniknya, event tahunan ini mengangkat tema Harmony in Diversity yang mendorong sivitas akademika untuk senantiasa menghargai berbagai keberagaman yang dimiliki oleh Nusantara. Menyuguhkan berbagai penampilan, Pesmaba 2021 dilangsungkan selama lima hari sejak Selasa (21/9) dengan format daring dan luring di Hall Dome UMM menggunakan protokol kesehatan ketat. Pada hari kedua pelaksanaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. selaku Menko PMK sekaligus Ketua BPH UMM memberi selamat kepada para maba yang sudah diterima di Kampus Putih. Ia mendorong para mahasiswa baru untuk segera beradaptasi karena telah berada di fase transformasi diri. Yakni dari seorang siswa sekolah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. “Saudara harus bisa memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang Kampus Putih berikan. Jangan lewatkan satu detikpun untuk tidak belajar dan mencari pengalaman,” ungkapnya. Muhadjir juga sempat memberikan lima pesan bagi mahasiswa baru yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan. Pertama, ia berharap mereka memiliki kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan-kegiatan yang UMM sediakan. Pun dengan sikap kreatif dan inovatif yang nantinya akan berguna saat menghadapi beragam permasalahan. “Saya juga ingin agar saudara mampu memiliki keterampilan berkomunikasi dan berkolaborasi. Tak lupa juga saudara harus menjadi insan yang percaya diri,” tutur Muhadjir melanjutkan. Sementara itu, Prof. Haedar Nashir, M.Si mengungkapkan bahwa era ini tidaklah mudah karena kehidupan multikulturalisme semakin kompleks. Ditandai dengan adanya demokrasi, hak asasi manusia (HAM), toleransi, pluralisme, serta hubungan antar kelompok, bangsa dan negara. Maka menurutnya, mahasiswa tidak bisa lagi menghindar. Mereka harus senantiasa mawas diri agar tidak terbawa arus dan menjadi objek multikulturalisme. Menurutnya, saat ini juga menjadi era revolusi digital dan informasi yang mana memberikan kemudahan dan kecepatan. Meski begitu, jika tidak berhati-hati maka anak muda akan menjadi objek hingga terjembab di kehidupan yang tidak baik. “Hal itu bisa terjadi karena kurangnya penguasaan Iptek berdasarkan ilmu, etika dan nilai. Maka perlu adanya peningkatan diri untuk menguasainya dengan baik,” tegasnya. Haedar juga menyebut bahwa era ini juga menjadi era media sosial sebagai konsekuensi revolusi digital. Selain manfaat yang diperoleh, ia juga menyebutkan pelbagai dampak buruknya seperti hoaks, kebencian, berleha-leha dan lainnya. “Selain sukses dalam belajar, ananda juga harus memiliki akhlak yang mulia, cerdas, berilmu dan berkualitas tinggi serta menjadi orang yang berguna agar bisa menghadapi ketiga era tersebut,” tutur Haedar. Kemudian Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. pada pembukaan Pesmaba menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan event sakral untuk menyambut keluarga baru Kampus Putih, yakni para mahasiswa. Ia tak lupa memberikan selamat kepada maba karena mampu melanjutkan studi serta menjatuhkan pilihan tepat ke UMM. Fauzan menilai bahwa ketika sudah menginjak predikat mahasiswa, akan ada berbagai tanggung jawab yang harus dipikul. Pun dengan memberikan berbagai kontribusi dan manfaat bagi nusa dan bangsa. “UMM memiliki semboyan yang senantiasa terus menerus digaungkan yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Oleh karenanya, saudara tidak punya pilihan lain selain menempa dan menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan,” tegasnya. Di samping itu, Fauzan juga menyarankan para maba untuk menjadi aktivis kampus. Menurutnya, berkuliah tidak hanya cukup dengan mengejar nilai tetapi juga harus aktif di berbagai kegiatan. Sehingga mampu mendapatkan nilai-nilai kehidupan dan dapat menjadi sarjana harapan bangsa. Perubahan zaman yang cepat karena Covid-19 sempat disinggung oleh Rektor Fauzan. Keadaan ini dapat menjadi peluang yang besar untuk menegakkan tonggak sejarah. Perlu adanya pemantapan diri dan penentuan cita-cita sejak dini. “Memang tidak mudah, maka saudara harus segera memulai mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri agar mampu berjalan dengan lurus hingga menyelesaikan studi dengan baik,” ungkapnya. Terakhir, ia mengatakan bahwa para maba kini sudah menjadi bagian dari jas merah kampus putih. Maka semangat hidup mahasiswa harus terus menyala dan berapi-api. Dari hal itu, harapannya akan muncul para pemimpin masa depan sesuai passion dan karakter. “Kampus Putih telah menyiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bisa saudara ikuti. Kami juga akan membekali saudara agar tahan banting dan tangguh dalam menghadapi segala situasi,” jelasnya di akhir. Selain itu beragam penampilan memeriahkan gelaran Pesmaba UMM tahun ini. Tarian Mahakarya Galuh Sinopatih pun menjadi daya tarik tersendiri. Koreografi yang unik dan hentakan tari yang asyik menjadi lambang semangat juang yang diperagakan oleh UKM Sangsekerta. Pakaian adat yang berbeda juga mengisyaratkan kerukunan dalam keberagaman. Adapula atraksi menghibur dari tim tapak suci UMM yang menyuguhkan gerakan-gerakan silat menghibur serta memancing decak kagum. Pesmaba UMM 2021 ini juga memberikan hal unik dan berbeda yakni virtual campus tour. Mahasiswa baru diajak menjelajahi sudut-sudut kampus melalui video atraktif dengan sudut pandang pertama. Para maba dibawa menjelajahi ke kampus I, II hingga III. Terbang menyusuri Dome UMM, Masjid AR. Facruddin, kemudian danau hingga stadion sepak bola. (wil)
UMM Siap Adakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Semester Ini

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sigap menyikapi peraturan terbaru dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tentang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Kampus Putih telah menyiapkan skema pembelajaran baru untuk semester ganjil mendatang. Skema tersebut meliputi pelaksanaan pembelajaran secara daring-luring untuk para mahasiswa angkatan tahun 2020. Kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom), Ir. Suyatno, M.Si., mengatakan bahwa pelaksanaan PTMT ini dilakukan bagi para mahasiswa semester tiga yang sudah ada di Malang. Sementara bagi mereka yang berada di luar Malang dan terhalang untuk pergi ke kampus, akan tetap mengikuti pembelajaran secara online. “Ini merupakan salah satu upaya kami untuk membatasi kuota mahasiswa yang datang ke kampus. Selain itu, kami juga akan menentukan kuota maksimal untuk masing-masing kelas offline yang nantinya dilaksanakan,” ungkap dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) itu. Untuk mendukung skema baru tersebut, Suyatno mengatakan bahwa Infokom telah memfasilitasi para dosen dan mahasiswa dengan platform Learning Management System (LMS). Pembelajaran PTMT ini akan dibagi menjadi dua tipe yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pembelajaran langsung secara offline akan dilakukan di kampus dan secara online akan dilakukan dengan batuan zoom maupun google meet. “Sementara platform LMS berfungsi untuk pembelajaran tidak langsung seperti pemberian tugas, ujian, dan presensi mahasiswa. Terbaru, kami juga mengembangkan fitur baru yakni presensi untuk dosen dan durasi waktu mengajar ketika menggunakan LMS,” kata dosen asal Rembang tersebut. Disisi lain, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengatakan bahwa skema ini akan dilakukan secara bertahap dengan tetap memantau perkembangan Covid-19 di Malang. Selain itu, dalam pelaksanaan program PTMT kampus, UMM akan memberlakukan syarat yang ketat seperti surat izin dari orang tua, sertifikat vaksin tahap kedua, dan beberapa lainnya. “Saat ini, kita prioritaskan angkatan 2020 dulu. Jika nanti hasilnya bagus dan perkembangan Covid-19 semakin turun, kami mungkin bisa melanjutkan skema tersebut ke angkatan 2021 setelah Ujian Tengah Semester (UTS),” ujar Syamsul. Syamsul mengatakan bahwa protokol kesehatan sangat diutamakan dalam pelaksanaan PTMT terkait. Terutama keterjagaan jarak antar masing-masing mahasiswa. “Pelaksanaan program ini akan berjalan secara fleksibel. Jadi semua komponen harus siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi serta mendukung terlaksananya program ini. Kami tentu berharap PTMT ini dapat dijalankan dengan lancar dan pandemi ini dapat segera berakhir sehingga kita dapat beraktivitas secara normal kembali,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)
Harmony in Diversity Pesmaba UMM 2021

Mahasiswa baru (Maba) dari berbagai daerah Nusantara turut serta dalam gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Uniknya, event tahunan ini bertemakan Harmony in Diversity yang mengajak sivitas akademika untuk senantiasa menghargai berbagai keberagaman. Menyuguhkan beragam penampilan, Pesmaba 2021 dilangsungkan dengan format dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) di Hall Dome UMM dengan protokol kesehatan ketat pada Selasa (21/9) lalu. Paduan suara PSM Gita Surya dan juga iringan musik dari band Follow Bee mengawali kemeriahan Pesmaba tersebut. Kemudian Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan event sakral untuk menyambut keluarga baru Kampus Putih, yakni para mahasiswa. Ia tak lupa memberikan selamat kepada maba karena mampu melanjutkan studi serta menjatuhkan pilihan tepat ke UMM. Fauzan menilai bahwa ketika sudah menginjak predikat mahasiswa, akan ada berbagai tanggung jawab yang harus dipikul. Pun dengan memberikan berbagai kontribusi dan manfaat bagi nusa dan bangsa. “UMM memiliki semboyan yang senantiasa terus menerus digaungkan yakni Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Oleh karenanya, saudara tidak punya pilihan lain selain menempa dan menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan,” tegasnya. Di samping itu, Fauzan juga menyarankan para maba untuk menjadi aktivis kampus. Menurutnya, berkuliah tidak hanya cukup dengan mengejar nilai tetapi juga harus aktif di berbagai kegiatan. Sehingga mampu mendapatkan nilai-nilai kehidupan dan dapat menjadi sarjana harapan bangsa. Perubahan zaman yang cepat karena Covid-19 sempat disinggung oleh Rektor Fauzan. Keadaan ini dapat menjadi peluang yang besar untuk menegakkan tonggak sejarah. Perlu adanya pemantapan diri dan penentuan cita-cita sejak dini. “Memang tidak mudah, maka saudara harus segera memulai mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri agar mampu berjalan dengan lurus hingga menyelesaikan studi dengan baik,” ungkapnya. Terakhir, ia mengatakan bahwa para maba kini sudah menjadi bagian dari jas merah kampus putih. Maka semangat hidup mahasiswa harus terus menyala dan berapi-api. Dari hal itu, harapannya akan muncul para pemimpin masa depan sesuai passion dan karakter. “Kampus Putih telah menyiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bisa saudara ikuti. Kami juga akan membekali saudara agar tahan banting dan tangguh dalam menghadapi segala situasi,” jelasnya di akhir. Selain itu beragam penampilan memeriahkan gelaran Pesmaba UMM tahun ini. Tarian Mahakarya Galuh Sinopatih pun menjadi daya tarik tersendiri. Koreografi yang unik dan hentakan tari yang asyik menjadi lambang semangat juang yang diperagakan oleh UKM Sangsekerta. Pakaian adat yang berbeda juga mengisyaratkan kerukunan dalam keberagaman. Adapula atraksi menghibur dari tim tapak suci UMM yang menyuguhkan gerakan-gerakan silat menghibur serta memancing decak kagum. Pesmaba UMM 2021 ini juga memberikan hal unik dan berbeda yakni virtual campus tour. Mahasiswa baru diajak menjelajahi sudut-sudut kampus melalui video atraktif dengan sudut pandang pertama. Para maba dibawa menjelajahi ke kampus I, II hingga III. Terbang menyusuri Dome UMM, Masjid AR. Facruddin, kemudian danau hingga stadion sepak bola. Tayangan ini menjadi upaya UMM untuk mengenalkan berbagai area yang dimiliki oleh Kampus Putih. Begitupun dengan suasana-suasana yang tidak bisa dirasakan oleh para mahasiswa baru. Apalagi di tengah pandemi yang membuat para mahasiswa luar Malang tidak bisa datang dan mengunjungi UMM. “Mungkin sebagian mahasiswa sudah mengetahui beberapa bagian dari wilayah Kampus Putih. Namun kami ingin lebih menunjukkan seluk-beluk dan berbagai laboratorium serta fasilitas yang ada di di tiga kampus UMM,” tutur Rino Anugrawan, sutradara video pengenalan kampus tersebut. (wil)
Gandeng FASI, UMM Kukuhkan UKM Biru Flying Club

Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk mengembangkan potensi para mahasiswanya. Terakhir, UMM bersama pihak Landasan Udara Abd. Saleh serta Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) mengukuhkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Biru Flying Club. UKM ini merupakan tempat bagi para mahasiswa yang tertarik dengan dunia dirgantara. Adapun gelaran ini dilangsungkan di aula Binayudha Lanud Abd. Saleh pada Senin (20/9) lalu. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM merasa bersyukur atas lahirnya Biru Flying Club. Nantinya UKM bidang dirgantara tersebut akan melengkapi 60 UKM yang telah dimiliki oleh Kampus Putih. Menurutnya, saat ini anak-anak muda memiliki passion yang bermacam-macam. Maka dari itu, UMM yang memiliki lebih dari 34 ribu mahasiswa merasa bertanggung jawab untuk memfasilitasinya. “Tentu UKM ini akan kami buka seluas-luasnya bagi siapapun yang berminat. Apalagi mengingat prinsip kami yang menganggap bahwa pemimpin lahir tidak hanya dari satu pintu saja. Tetapi bisa melalui berbagai pintu yang ada, salah satunya dengan Biru Flying Club,” tegasnya. Fauzan menilai Biru Flying Club adalah UKM yang mempunyai tantangan tersendiri. Perlu adanya mahasiswa dengan nyali yang kuat dan tangguh. Pun dengan mereka yang senantiasa bersemangat untuk menjalankan aktivitas UKM terkait. “UMM secara konsisten terus menghargai segala kreativitas dan prestasi sivitas akademikanya. Hal itu tidak lepas dari jargon kami yakni tiada hari tanpa prestasi dan tidak ada prestasi yang tidak dihargai,” pungkasnya. Pada kesempatan yang sama, Marsma TNI Zulfahmi, S.Sos., M.Han. selaku Komandan Lanud Abd. Saleh memberikan selamat kepada UMM, khususnya para anggota Biru Flying Club yang telah dikukuhkan. Ia menegaskan bahwa kegiatan yang akan dilakukan nanti memiliki berbagai resiko yang tinggi. Maka dari itu, akan ada banyak aturan dan batasan. “Hal ini tidak lain untuk menjaga dan menjamin keamanan bagi para anggota dan pelaku dirgantara lainnya,” tambahnya. Meski begitu, Zulfahmi yang juga menjabat sebagai Ketua FASI Jawa Timur mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan supervisi dan pengawasan dengan baik. Dengan begitu, beragam aktivitas Biru Flying Club akan lebih aman dan lancar. Pelaksanaan yang rinci dan teliti juga menjadi kunci keselamatan bagi para pihak yang bersangkutan. Ia menambahkan telah ada empat olahraga dirgantara yang dimiliki oleh Lanud Abd. Saleh. Di antaranya terjun payung, paralayang, aero modelling dan terbang layang. Dengan hadirnya Biru Flying Club, akan ada satu penambahan olahraga lain yakni paramotor. “Saya berharap, hadirnya UKM ini mampu meningkatkan minat masyarakat khususnya para mahasiswa dalam olahraga dirgantara. Di samping itu juga agar Lanud Abd. Saleh bisa lebih luas dikenal serta dapat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya,” ungkap Zulfahmi melanjutkan. Ketua Biru Flying Club, Umar Faruq mengatakan bahwa antusiasme para mahasiswa akan UKM ini sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang sudah mendaftar. Terhitung, ada lebih dari 50 pendaftar yang ingin mengetahui lebih dalam terkait olahraga dirgantara. “Tentu kami akan menjalin komunikasi yang intens dengan pihak FASI dan Lanud Abd. Saleh agar kegiatan yang dilaksanakan bisa berjalan dengan aman dan lancar,” tuturnya. Umar, panggilan akrabnya berharap UKM tersebut bisa menemukan bibit-bibit berkualitas yang dapat mengembangkan olahraga dirgantara. Utamanya olahraga-olahraga yang akan disediakan oleh Biru Flying Club demi meningkatkan ketertarikan dan antuasiasme masyarakat untuk mendalami bidang ini. “Dengan meningkatnya ketertarikan mereka, akan besar pula kemungkinan untuk mengembangkan aktivitas ini,” pungkasnya mengakhiri. (wil)
Cetak Profesional, Kelas Unggas UMM Berangkatkan Peserta ke Pelaku Industri

Kelas Profesional Unggas Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberangkatkan 40 mahasiswanya untuk mengikuti magang profesi ke beberapa Dunia Industri (DUDI). Adapun pemberangkatan ini dimulai sejak 10 September lalu dan berlangsung selama enam bulan ke depan. Program ini menjadi bentuk komitmen UMM dalam menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Di samping itu juga bertujuan untuk menghasilkan alumni yang mempunyai kompetensi di bidang farm ayam petelur pullet dan layer. Koordinator Kelas Profesi, Dr. Ir. Abdul Malik, MP. IPU. mengatakan bahwa ada beberapa perbedaan antara magang pertama dengan yang kedua. Pada magang kali ini, para mahasiswa akan berada di lokasi industri selama enam bulan. “Kalau magang pertama dulu kan hanya tiga bulan. Untuk yang kedua ini akan berlangsung lebih lama,” tambahnya. Lebih lanjut, Malik menuturkan bahwa angkatan ini akan mendapatkan spesialisasi keahlian yang lebih banyak. Mereka diharapkan bisa memahami keahlian di bidang pengelolaan farm pullet (pembesaran ayam petelur) sistem close house dan keahlian di bidang manajerial farm ayam petelur layer (produksi telur). “Jadi sepulang dari magang, mahasiswa diharapkan sudah memiliki dua kompetensi keahlian sehingga mereka bisa menjadi lebih kompetitif saat memasuki dunia kerja nanti,” ungkapnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) PT Jatinom Indah Farm, Sigit Prastyo, SE. mengatakan bahwa pihaknya sudah siap menerima dan memperkuat kegiatan magang keals profesional unggas UMM. Mereka sudah menyiapkan sembilan lokasi dengan 20 kandang close house. Setengahnya akan digunakan untuk pembesaran ayam pullet, sementara yang lainnya untuk kandnag layer. Menurutnya, dengan mengikuti kegiatan magang ini, mahasiswa dapat langsung mengetahui bagaimana memanajemen pemeliharaan ayam. Tidak hanya secara teori saja, tapi juga langsung mengetahuinya di dunia nyata. “Para mahasiswa bisa belajar bagaimana berinteraksi, baik dengan karyawan lain maupun lingkungan masyarakat peternakan,” ujar Sigit. Terpisah, Apriliana Devi Agraini, S.Pt, M.Sc. selaku koordinator magang menjelaskan bahwa jadwal pemberangkatan serta penempatannya akan diserahkan sepenuhnya kepada pihak PT. Jatinom. Kedatangan mahasiswa akan disesuaikan dengan jadwal kedatangan ayam yang akan diurus. Dengan demikian, mereka akan bisa langsung dilibatkan sejak persiapan kandang, biosecurity serta manajemen produksi lanjutan. “Model penjadwalan seperti ini akan memudahkan mahasiswa dalam menyerap materi magang. Di samping itu juga mereka mampu mendapatkan kemampuan yang lebih lengkap dan siap menghadapi duni kerja nantinya. Program magang ini dijadwalkan akan selesai pada Maret 2022 nanti,” tambahnya. Terakhir, Suciyanti Fira, salah satu mahasiswa kelas unggas menyebutkan bahwa selama mengikuti program tersebut ia mendapatkan beragam pengalaman dan kemampuan. Padahal ia baru melaksanakan program magang selama delapan hari. “Ketika nanti masuk di dunia kerja, saya rasa kami tidak perlu lagi mengikuti training berkat program ini. Pengetahuan terkait persiapan kandang hingga cara mengaturnya sudah kami pahami ketika menyelesaikan magang nantinya,” pungkasnya mengakhiri. (*wil)
Perpustakaan UMM Raih Penghargaan dari Perpusnas RI

Kabar membanggakan kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini prestasi ditorehkan oleh perpustakaan UMM yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagah salah satu dari sepuluh kontributor data tertinggi portal Indonesia One Search (IOS). Adapun penghargaan ini diberikan oleh pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada Selasa (14/9) lalu dalam acara yang dilangsungkan melalui kanal Zoom. Dr. Asep Nurjaman, M.Si. selaku Kepala Perpustakaan UMM menjelaskan bahwa perpustakaan UMM sudah turut serta menjadi bagian dari IOS. Hal itu tidak lepas dari usaha UMM yang senantiasa mengembangkan digitalisasi perpustakaan. “Beberapa digitalisasi yang sudah dilakukan perpustakaan UMM seperti e-print serta digital library (Digilib). Keduanya berisi karya-karya para dosen dan mahasiswa yang sudah diubah menjadi bentuk digital,” tegasnya. Ia melanjutkan berkat perubahan ini, banyak karya yang bisa diakses dengan mudah. Tidak harus berada di lokasi perpustakaan, masyarakat juga bisa mengakses karya-karya tersebut dari manapun melalui beragam platform. Menurutnya, IOS menjadi salah satu platform penyedia karya tulis yang bisa diakses dengan mudah dan memberikan kontribusi yang cukup banyak di Indonesia. Asep, panggilan akrabnya juga mengapresiasi kebijakan UMM mengenai internasionalisasi. Hal ini tentu berdampak baik pada perkembangan setiap bagian yang ada di universitas, salah satunya perpustakaan. Pihaknya terus berusaha melakukan transformasi bentuk printed menjadi digital. Di samping itu juga membangun sistem elektronik yang bersifat open source demi mewujudukan universitas bertaraf internasional. Pelbagai aktivitas juga senantiasa dilakukan demi mengembangkan kemanfaatan dan penunjang produktivitas akademik. Sebut saja pendampingan yang dilakukan pustakawan dalam program sukses skripsi bagi para mahasiswa. Selain itu, adapula pendampingan penyusunan jurnal serta teknologi literasi seperti penggunaan Mendeley. “Ke depan, kami juga akan berusaha untuk membangun perpustakaan UMM yang lebih modern dengan meningkatkan kualitas pelayanan di semua aspek. Pun juga sebagai pendukung agar Tri Dharma perguruan tinggi bisa dilaksanakan dengan lancar serta baik,” ungkap dosen asal Bandung itu. Terakhir, Dosen Ilmu Pemerintahan UMM tersebut berharap sivitas akademika Kampus Putih bisa meningkatkan kolaborasi dan bersama-sama melangkah maju untuk mewujudkan perpustakaan yang berkontribusi. “Perpustakaan UMM sudah siap melangkah ke arah internasionalisasi sesuai dengan visi universitas yakni menjadi perguruan tinggi yang sejajar dengan universitas internasional lainnya,” pungkasnya menjelaskan. Selain UMM, ada sembilan universitas lain yang mendapatkan penghargaan serupa. Semua dianggap menjadi kontributor terbanyak di platform IOS. Selain itu, sederet perguruan tinggi tersebut dinilai telah berhasil meningkatkan kegemaran membaca masyarakat melalui pendayagunaan perpustakaan. (wil)
Mahasiswa FAI UMM Raih Juara LKTI Tingkat Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong mahasiswanya untuk terus berprestasi. Salah satunya melalui pengembangan dalam aspek kepenulisan. Hal tersebut ternyata membawa dua mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) UMM meraih juara satu Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) pada bulan September ini. Dua mahasiswa tersebut ialah Nurul Khotimah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Nabila Aprilia Rismara, mahasiswa Hukum Keluarga Islam (HKI). Adapun kedua mahasiswa FAI ini mengangkat tema konsep keadilan sosial dengan judul “Konsep Keadilan Sosial Serta Implementasinya Pada Masyarakat Islam (Perspektif Pancasila Sila Kelima dan Alquran). Fenomena korupsi dana bansos dan kedzaliman selama masa pandemi melatar belakangi Nurul dan Nabila mengambil tema ini. “Melihat banyaknya kasus korupsi dan ketidakadilan selama pandemi mengusik kami untuk menulis dan membahas tema terkait,”jelas Nabila Aprilia. Nabila, sapaan akrabnya memaparkan bahwa apa yang tertulis dalam KTI adalah implementasi keadilan sosial pada masyarakat Indonesia tidak setara dan belum seimbang. Baik dilihat dari prespektif Alquran maupun Pancasila. Menurutnya, saat ini keadilan hanya sekadar diucapkan dan masih minim dilakukan. Khususnya bagi para pejabat dan pemimpin di pemerintahan Indonesia, baik di tingkat regional maupun pusat. “Padahal seyogyanya mereka memberi contoh keteladanan dalam implementasi keadilan sosial, bukan malah sebaliknya,” tegasnya. Selain itu ia juga sempat menjelaskan akan makna keadilan dari dua prespektif tersebut. Pada prespektif Alquran, konsep keadilan bisa dilihat di QS Al-Maidah: 8. Ayat tersebut menjelaskan bahwa keadilan sama dengan menegakkan kebenaran dan kebaikan yang harus setara tanpa memandang status, jabatan. Semua manusia dianggap memiliki kedudukan yang sama. Sedangkan menurut perspektif Pancasila sila kelima, keadilan akan menciptakan kesejahteraan bersama, dituangkan pada etika serta moral masyarakat Indonesia. Selama perlombaan timnya sempat mengalami kendala. Salah satunya adalah mencari data valid untuk bahan analisis. Tetapi menurutnya, hal itu bukanlah suatu masalah yang besar. Adapun perlombaan tersebut di adakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Ia awalnya tidak menyangka akan meraih juara, namun berkat tekad yang kuat untuk memberikan yang terbaik. Timnya berhasil menyaber juara pertama. Mereka berdua mampu menyelesaikan LKTI ini dalam waktu 4-5 hari saja. Terakhir, mahasiswa HKI UMM ini berharap ia dan mahasiswa UMM lainnya tidak bosan untuk menulis, sehingga melahirkan karya-karya yang baru dan bermanfaat. Selain itu, ia juga ingin bisa terus berkembang dalam penulisan dan mengasah diri. “Semoga semangat saya terus membara untuk senantiasa menulis. Saya juga masih ingin menelurkan karya-karya yang punya dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (haq/wil)
Ariq, Alumni UMM yang Kini Berkarya di Tiktok Irlandia

Berawal dari keinginan-keinginan masa kecil, Ariq Suryo Wicaksono berhasil mengunjungi sederet negara empat musim dan berkarya di Tiktok Irlandia. Tumbuh besar dengan menonton kartun dan membaca komik luar negeri membuat alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut memiliki daftar kegiatan yang akan ia lakukan jika berhasil pergi ke luar negeri. Beberapa kegiatan yang ingin dicoba Ariq adalah merasakan salju hanya dengan memakai celana, melihat jam Bigbang secara langsung, dan mencoba ramen Jepang yang asli. “Belajar dari pengalaman, Impian-Impian kecil itu malah yang lebih mudah didapatkan. Menurut saya, impian-impian kecil itu lebih mendorong saya untuk menjelajahi negara empat musim dibandingkan jika saya memimpikan hal besar,” ungkap Ariq. Alumni prodi Ilmu dan Teknologi Pangan ini menceritakan bahwa keinginannya untuk pergi keluar negeri mulai terwujud ketika menempuh pendidikan di UMM. Pada semester awal, Ariq mencoba mendaftar program magang di salah satu perusahaan asing dan berhasil pergi ke Filipina. Kesempatan kedua Ariq untuk pergi ke luar negeri cukup unik. Di saat semua temannya melaksanakan Pelatihan Kerja Lapangan (PKL) di perusahaan dalam negeri, Ariq menantang dirinya untuk melaksanakan PKL di luar negeri. “Kesempatan ini saya dapat karena aktif di berbagai organisasi baik di dalam UMM maupun di luar. Salah satunya organisasi makanan halal bernama Ikatan Mahasiwa Peduli Halal (Imapela). Organisasi ini sering mengadakan kegiatan-kegiatan internasional seperti expo maupun simposium Internasional. Dari kegiatan-kegiatan Imapela saya dapat memperoleh berbagai channel perusahaan luar negeri dan berhasil melaksanakan PKL di China,” ujar Ariq. Tak selesai sampai disitu, setelah lulus dari UMM, alumni asal Jakarta ini berusaha mencari beasiswa strata dua (S2) di Irlandia. Pun di sela-sela mencari beasiswa, Ariq mendapat kesempatan magang di salah satu perusahaan makanan Jepang di bagian internasional marketing. “Sambil bekerja saya mencari beasiswa S2. Awalnya saya mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk S2, namun karena gagal di tahap wawancara jadi saya memutuskan untuk mencoba beasiswa lagi tahun depan. Saya sempat kewalahan mencari beasiswa karena terhalang Indeks Prestasi Akademik (IPK), namun pada tahun 2019 akhirnya saya mendapat Partial Scholarship dari University College Cork (UCC),” ungkap Ariq. Setelah menyelesaikan satu tahun masa kuliahnya, Ariq mulai bekerja di Facebook Irlandia dan beralih ke Tiktok Irlandia satu tahun setelahnya. Pekerjaan tersebut jelas berbeda dari keilmuan semasa kuliah, namun Ariq mengaku kalau ia menikmati pekerjaannya sekarang. Menurutnya, bekerja di Tiktok cukup menarik. Mulai dari jam pekerjaan yang fleksibel hingga kultur kerja yang santai. “Kalau dibandingkan dengan saat saya bekerja di Jepang, tentu berbeda. Apalagi saya orangnya sedikit panik, jadi lingkungan kerja yang santai menjadi tempat nyaman bagi saya,” imbuhnya. “Perjalanan saya untuk sampai ke sini membuahkan berbagai macam pelajaran. Salah satunya adalah pentingnya mengetahui value diri. Tak perduli seberapa besar IPK kalau misal seseorang tidak bisa menunjukan value dirinya di perusahaan, maka ia akan gagal. Untuk mengetahui value diri perlu mendalami keilmuan yang disukai. Ketika seseorang sudah bisa melampaui batasan diri dalam bidang tersebut, maka value dirinya juga akan meningkat,” pungkasnya. (syi/wil)
Dosen PGSD UMM Launching Aplikasi Android Cerita Anak

Perkuat pendidikan karakter melalui cerita anak, tim dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan aplikasi bernama Cerita Anak. Aplikasi ini telah dilaunching pada Kamis (09/09) melalui virtual zoom yang dihadiri oleh perwakilan guru dari delapan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Kabupaten Malang. Adapun aplikasi ini dapat diakses masyarakat umum melalui Play Store. Ketua tim, Murtyas Galuh Danawati, S.Pd, M.Pd menuturkan lahirnya aplikasi android ini berawal dari penelitian dan pengabdian di SD dan MI Kabupaten Malang. Murtyas menceritakan bahwa penggunaan media pembelajaran secara daring masih sangat terbatas di sekolah-sekolah tersebut. Sementara pandemi mengharuskan para siswa untuk belajar secara daring dari rumah. “Penelitian kami menunjukkan bahwa kelas enam SD/MI belum menggunakan media pembelajaran berbasis android sesuai kurikulum yang berlaku. Selain itu, media pembelajaran cerita anak berbasis penguatan pendidikan karakter juga belum ada. Padahal saat ini pemerintah tengah menggalakkan penanaman pendidikan karakter kepada siswa khususnya di sekolah dasar. Oleh karenanya, aplikasi ini berusaha hadir untuk mengisi kekosongan tersebut,” ungkap dosen asal Malang tersebut. Lebih lanjut, Murtyas mengatakan bahwa untuk mengakses aplikasi tersebut para siswa diwajibkan mendaftarkan diri dengan mengisi beberapa data. Di antaranya nama lengkap, Nomor Induk Siswa (NIS), asal sekolah dan username. Mereka juga diminta untuk membuat password yang akan dipakai serta tanggal lahir. “Aplikasi ini memuat beberapa menu seperti pre tes, materi, kurikulum, permainan TTS, evaluasi, hasil, dan umpan balik. Selain itu adapula kumpulan cerita anak berbasis penguatan pendidikan karakter meliputi nilai karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas,” jelas Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan itu. Pada Acara launching, salah satu anggota tim Innany Mukhlishina, M.Pd. berkesempatan untuk menjelaskan optimalisasi pembelajaran tematik menggunakan aplikasi android cerita anak. Innany memaparkan bahwa pentingnya penggunaan aplikasi sebagai bagian dari media pembelajaran berbasis teknologi. Utamanya untuk mengoptimalkan pembelajaran tematik di masa pandemi. Sementara itu, anggota tim yang lain Arinta Rezty Wijayaningputri, S.Pd, M.Pd berkesempatan untuk mengenalkan menu dan fitur-fitur aplikasi android cerita anak kepada para perwakilan sekolah. Arinta membahas lebih dalam terkait isi dari setiap menu dan fitur pada aplikasi yang disesuaikan dengan RPP kelas IV. Di akhir, tim dosen UMM memberikan arahan dan pendampingan praktik dalam penggunaannya. Perwakilan sekolah dibimbing untuk menggunakan aplikasi mulai dari download aplikasi di playstore hingga mencoba setiap menu dan fitur di dalamnya. “Saya berharap, melalui aplikasi android cerita anak berbasis PPK ini siswa dan guru dapat mengoptimalkan pembelajaran tematik di masa pandemi. Dengan begitu mereka bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara maksimal. Sehingga siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (syi/wil)
Smart Garden Karya Mahasiswa UMM Permudah Petani Taoge

Berawal dari kesusahan mencari taoge di pasar, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) permudah produksi taoge dengan menciptakan alat bernama Smart Garden. Berbeda dari Smart Garden yang telah ada, alat yang diproduksi mahasiswa Teknik Elektro dan Informatika ini dilengkapi oleh Internet of thing (IoT) dengan sistem pemberitahuan Telegram. Salah satu anggota tim, Fadhilah Mileanasari menceritakan bahwa ketertarikannya pada budidaya taoge berawal dari acara memasak rawon bersama teman-temannya. Saat itu Dhila, sapaan akrabnya, sangat kesusahan mencari taoge untuk bahan pelengkap rawon. Dari kejadian itu ia mengetahui bahwa proses pembuatan taoge lumayan rumit. “Beberapa masakan khas Indonesia seperti rawon dan pecel membutuhkan taoge sebagai bahan pelengkap. Namun sedikit orang yang mau membudidayakan taoge karena prosesnya yang rumit. Selain itu taoge lebih cepat layu dibanding sayuran lain. Sehingga para pedagang tidak mengambil banyak taoge dari pembudidaya,” ungkap mahasiswa asal Palangkaraya tersebut. Lebih lanjut, Dhila menjelaskan bahwa Smart Garden ini bekerja untuk menyesuaikan suhu serta kelembapan dengan menggunakan sensor ds18b20 dan yl69. Ketika dihidupkan, secara otomatis alat ini akan melakukan penyiraman pada bibit kacang hijau dan mempertahankan suhu serta kelembapan di atas 40%. Dilengkapi dengan kamera dan IoT membuat para pembudidaya hanya perlu memantau kondisi taoge melalui smartphone karena semua informasi dan gambar mengenai perkembangan taoge akan dikirim lewat Telegram. “Pada budidaya konvensional, para pembudidaya harus membuka tutup tempat taoge untuk melakukan penyiraman. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas taoge yang dihasilkan. Selain itu para petani juga kurang mengetahui suhu dan kelembapan yang bagus untuk perkembangan taoge. Karena hal tersebut, alat ini sangat membantu untuk meningkatkan kualitas taoge serta membuat siklus panen menjadi lebih cepat,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara tersebut. Adapun alat ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) dan berhasil mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti). Saat ini, Smart Garden telah digunakan oleh mitra tim yaitu kelompok tani budidaya taoge selama satu bulan dan mendapat hasil yang positif. Dalam pembuatan alat ini, Dhila ditemani oleh empat anggota lainnya yaitu Bellina Rahmamaulida Adeyani, Fia Anisa, dan Putri Khalifah Hilaliyah dari Teknik Elektro serta Wien Nurul Dewani dari prodi Informatika. “Kedepan kami akan melakukan perbaikan-perbaikan agar dapat meningkatkan kualitas serta kapasitas dari Smart Garden. Kami juga berencana untuk mengajukan Hak kekayaan intelektual (HaKI) pada Smart Garden ciptaan kami,” tandasnya. (syi/wil)