Teknik Mesin UMM Siapkan Kelas Welding Inspector melalui Kerjasama Industri

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan cita-cita center of excellence-nya. Pun dengan usaha meningkatkan kualitasnya sebagai universitas Islam terbaik dunia. Kali ini giliran Program Studi Teknik Mesin yang kembali menggaet beberapa pelaku dalam Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) melalui Memorandum of Understanding (MoU) dan lokakarya. Beberapa perusahaan yang digaet adalah PT. Spindo, PT. Barata Indonesia, PT. PAL dan Lloyd’s Register Asia. Adapun agenda tersebut digelar pada Sabtu (11/9) lalu di hotel Amarta Hills, Batu. Mengawali agenda, Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., P.hD. selaku ketua panitia menuturkan bahwa sebelumnya mereka telah berkoordinasi dan berkomunikasi sejak lama. Hingga akhrinya bersepakat untuk mendirikan centre of excellence di bidang welding inspector. “Pada semester lalu, dua di antara perusahaan sudah beberapa kali menjadi tandem mengajar dalam bidang ini. Rencananya, semester depan akan disiapkan kelas bersama mitra baru sebanyak 20 SKS,” tambahnya. Iis, panggilan akrabnya mengungkapkan bahwa kelas bidang ini dipilih karena teknik mesin sudah memiliki beberapa doktor yang mendalami welding inspector. Maka, perlu adanya support dari industri untuk mendekatkan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan industri. “Kelas ini juga menjadi jalan untuk mencapai target di Indikator Kerja Utama (IKU) MBKM 1 dan IKU 4 yakni keterserapan dan keterlibatan praktisi,” imbuhnya melanjutkan. Sementara itu, Dr. Fauzan, M.Pd. yang hadir menjelaskan dalam sambutannya bahwa para pimpinan bertekad untuk datang serta meresmikan kolaborasi untuk mengembangkan centre of excellence. Hal serupa juga dilakukan saat hadir di acara yang dilaksanakan prodi teknik mesin tersebut. “Kita harus sama-sama melihat masa dengan jeli akan kepastian masa depan mahasiswa. Salah satunya melalui kerjasama-kerjasama strategis seperti ini,” tambahnya. Ia juga menyampaikan bahwa UMM memiliki salah satu program yang bagus yakni UMM Pasti yang digalakkan sejak 2017 lalu. Program ini berusaha memastikan kelulusan para mahasiswa Kampus Putih. Di samping itu juga secara tidak langsung menjawab pertanyaan dari para orang tua. “Harus ada kepastian kelulusan mahasiswa di kisaran tiga setengah hingga empat tahun. Berkat program ini pula, ada beberapa perombakan dalam kurikulum pendukung,” tuturnya. Lebih lanjut, adapula tujuan lain dari program UMM Pasti yakni pasti kerja. Maka dari itu, menurutnya, program-program unggulan dan kerjasama seperti ini sangat membantu dalam mewujudkannya. Para mahasiswa juga akan memiliki banyak pengalaman serta peluang yang besar dalam keterserapan perusahaan-perusahaan yang ada. Terakhir, ia berharap aktivitas yang prodi teknik mesin lakukan ini tidak hanya berhenti pada kelas bidang welding inspector. Namun berkembang menjadi kelas-kelas yang lebih beragam serta menularkannya pada prodi lainnya. “Kita harus mengambil langkah futuristik dan strategis demi mendapatkan kemanfaatan demi kebaikan bersama,” tegasnya mengakhiri. (wil)

Dorong Masyarakat Mandiri, Mahasiswa UMM Manfaatkan Limbah Kedelai Jadi Abon

Limbah produksi masih menjadi momok tersendiri. Mulai dari kurangnya usaha daur ulang hingga perusakan lingkungan. Melihat masalah tersebut, tim mahasiwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lakukan pendampingan pemanfaatan limbah kulit kedelai kepada masyarakat Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Pengabdian ini dilakukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang telah lolos pendanaan dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu. Siti Mariyatul Qibliyah selaku ketua kelompok menceritakan bahwa Desa Tanjungtani menjadi salah satu sentral tempe dan tahu di Nganjuk. Sayangnya, limbah produksi yaitu kulit ari kedelai tidak dimanfaatkan dengan baik. Hanya segelintir orang saja yang melakukan pemanfaatan ulang. Ia dan yang melihat adanya peluang bagi warga setempat kemudian mencoba memanfaatkan kulit ari kedelai tersebut. “Kami melihat adanya peluang pada memanfaatkan kulit ari kedelai ini menjadi produk yang memiliki nilai jual,” imbuhnya. Adapun proyek PKM-PM ini mereka targetkan kepada ibu-ibu PKK sebagai mitra. Ia dan tim telah melakukan pendampingan sejak bulan Juni hingga Agustus. Terhitung sudah 18 kali mereka mendampingi dalam berbagai aktivitas.  Ibu-ibu PKK yang menjadi mitra diajarkan bagaimana memanfaatkan kulit ari kedelai hingga akhirnya menjadi abon dan mendapatkan label produk. Juga diajarkan bagaimana cara distribusi produk dan uji kandungan pada lembaga pemerintah. Selain materi teknis, adapula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-Ibu Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan pengeluaran dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depannya. Siti juga mencerikatan bahwa penadampingan yang dilakukan berefek positif pada masyarakat. Mereka dapat memproduksi dan memasaran secara mandiri. Adapun harga produk abon dipatok di kisaran Rp15.000-Rp20.000. “Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” tambahnya. PKM dengan judul “Penambahan Nilai Ekonomi Abon Kulit Ari Kedelai Sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Tanjungtani Prambon Nganjuk” ini digarap oleh Siti Mariyatul Qibliyah, Hanifa Rizky Rahmawati dan Allifia Nisa’ Cholida. Adapun mereka tergabung dalam dalam satu selompok. Siti yang juga mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi ini berharap bisa terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon, sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi desa Tanjungtani. (haq/wil)

Rector Cup UMM Dorong Mahasiswa Kreatif, Cemerlang dan Inovatif

Asah bakat para mahasiswa baru, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar Rektor Cup 2021. Kompetisi ini dibuka pada Sabtu (11/09) lalu dan akan dilaksanakan selama satu bulan penuh. Adapun Rektor Cup akan menyediakan 60 kategori perlombaan dari 30 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta diikuti oleh ribuan mahasiswa dari sepuluh fakultas yang ada dimiliki oleh Kampus Putih. Ketua Pelaksana Rektor Cup, Setiya Yunus Saputra, M.Pd, mengatakan bahwa mahasiswa harus dapat beradaptasi dengan baik, terutama di situasi pandemi seperti ini. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diharapkan bisa lebih inovatif dalam menghadapi berbagai masalah dan problematika yang ada. Maka dari itu, menurutnya, tema be creative, shine, and innovative sangat cocok dalam mendukung penyelenggaraan rektor cup 2021 tersebut. “Rektor Cup bukan hanya soal menang atau kalah. Ada hal lain yang lebih penting yakni bagaimana mahasiswa bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada. Gelaran ini juga menjadi pintu yang bagus bagi mereka untuk menjadi duta-duta universitas yang nantinya akan berlaga di kompetisi yang lebih tinggi dan prestisius,” tuturnya. Pada kesempatan yang sama, Dr. Fauzan, M.P.d selaku Rektor UMM mengungkapkan hal senada. Menurutnya, gelaran ini adalah event yang penting untuk melengkapi perjalanan pendidikan para mahasiswa. Rector Cup juga dianggap sebagai ajang untuk mengidentifikasi diri, khususnya dalam minat dan bakat yang telah mahasiswa miliki. “UMM sudah membukakan pintu yang lebar melalui Rektor Cup bagi mahasiswa. Maka, kami berharap para mahasiswa bisa masuk dan menjadi duta di tingkat regional, nasional maupun internasional nantinya,” tambahnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Kampus Putih senantiasa bertekad untuk mengantarkan mahasiswanya menjadi seorang pemimpin. Tidak hanya sebagai juara saja, namun lebih dari itu adalah terbentuknya sikap dan karakter tangguh, tidak mudah putus asa dan siap menghadapi beragam situasi. Terakhir, Fauzan berharap seluruh peserta tidak hanya mengejar kemenangan semata. Namun juga mencoba menggapai nilai kemanusiaan. Menurutnya, menang dengan beradab lebih mulia ketimbang menang tanpa adab. “Kalah dan menang adalah suatu realitas yang tidak bisa dihindari. Tidak hanya dalam gelaran Rektor Cup saja, tapi juga dalam kehidupan nanti. Maka, belajar berkompetisi adalah kunci sukses untuk menghadapi masa depan yang selalu dinamis serta berkembang. Semoga kita bisa melahirkan dan menemukan pemimpin yang baik dari gelaran ini,” pungkasnya mengakhiri. (syi/wil)

Tim Robotika UMM Berlaga di Kompetisi UAV Turki

Jiwa dan semangat kompetitif selalu ditanamkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada para mahasiswanya. Hal itulah yang mendorong tim Program Studi (Prodi) Teknik Elektro untuk terbang ke Turki pada Sabtu (11/9) lalu. Rombongan yang juga anggota LSO Robotika UMM itu akan bersaing dengan tim-tim mancanegara dalam gelaran Teknofest 2021 di Bursa, Turki. Adapun yang menyelenggarakan kompetisi tersebut adalah The Scientific and Technological Research Council of Turkey (TUBITAK). Muhammad Noer Jayadin selaku ketua tim mengatakan bahwa mereka harus melewati dua babak seleksi ketat sebelum akhirnya bisa maju dan berangkat ke Turki. Babak pertama yakni pengumpulan konseptual desain yang dimulai Februari lalu. Setelah dinyatakan layak dan lolos, ia dan tim diharuskan menyusun desain mendetail sebelum akhirnya terpilih dan berangkat ke Turki. “Kami mulai merakit pesawat ini sejak Juni lalu saat dinyatakan lolos ke tahap penerbangan. Mulai dari merakit bodi, menyiapkan kelistrikan dan menyusun mesinnya,” tambahnya. Ia bersama dua kawannya serta satu pembina akan bertolak ke lokasi perlombaan di Bursa. Dijelaskan Jaya, ada tiga kategori yang disediakan. Mulai dari rotary wings, unmanaged aerial vehicle (UAV), serta V-Tol. Adapun timnya akan ikut serta dalam kategori UAV pada 13-19 September mendatang. Persiapan Jaya dan tim tentu mendapat berbagai kendala. Ia mengatakan bahwa dua pesawat yang sebelumnya mereka buat mengalami masalah saat masa uji coba. Satu pesawat crash dan menabrak, sementara satu lainnya mengalami kebocoran baterai. Meski begitu, timnya tidak menyerah dan berhasil menciptakan pesawat yang aman dan siap diterbangkan. Ia berharap timnya bisa memberikan hasil yang maksimal saat bertanding nanti. Target utamanya yakni bisa menyelesaikan misi yang disiapkan dalam kompetisi Teknofest. “Tentu saja kami menargetkan juara. Namun kami harus tetap fokus agar bisa menyelesaikan  misi dan mendapat hasil terbaik,” tegas mahasiswa asal NTB tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh Khusnul Hidayat, S.T., M.T. selaku Pembina. Ia mengaku bahwa ada beragam kendala yang dihadapi. Bahkan saat awal-awal perakitan, pesawat sempat tidak bisa terbang. “Namun, berkat kerja keras bersama akhirnya kami berhasil menerbangkan rakitas pesawat dalam masa uji coba,” tuturnya. Khusnul berharap tim prodi elektro UMM bisa sampai dengan selamat dan tidak mengalami banyak masalah. Utamanya kendala teknis yang akan mengganggu proses penerbangan pesawat rakitan mereka. “Target utama kami adalah bisa menyelesaikan misi dengan tuntas . Kalaupun bisa memenangkan kompetisinya, itu adalah bonus yang luar biasa bagi kami,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Dosen UMM Kaji Krisis Industri Asuransi di FGD MPR-RI

Khazanah keilmuan yang dimiliki dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah diakui oleh berbagai kalangan. Salah satunya yakni Prof. Dr. Rahayu Hartini, S.H., M.Si., M.Hum yang didapuk menjadi pembahas dalam Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu (6/9) lalu. Adapun FGD tersebut dilaksanakan oleh Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia (MPR-RI) bekerja sama dengan BS Center. Dalam paparannya, ia membahas mengenai booming dan krisis industri asuransi dalam perspektif UUD 1945 dan Pancasila. Rahayu, panggilan akrabnya menjelaskan ketika terjadi booming industri asuransi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mau tidak mau harus memberikan skema perlindungan yang bervariatif. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa wewenang OJK terlalu luas. Mulai dari bidang industri jasa keuangan non bank termasuk industri asuransi yang berada di bawah pengawasannya. “Luasnya kewenangan tersebut bisa kita lihat dari berbagai pasal yang tertera di UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK. Ada berbagai tugas pengaturan dan pengawasan yang harus dilakukan terhadap kegiatan jasa keuangan perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga lainnya,” tegasnya.  Ia juga menilai OJK belum memiliki sumber daya manusia (SDM) dengan kapasitas dan kompetensi yang seimbang dengan pelaku industri. Ditambah lagi dengan keberagaman model bisnis dan keuangan yang luas. Di samping itu, menurutnya perlu adanya pembenahan terkait tenaga pengawas, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Lebih lanjut, dosen UMM tersebut juga menuturkan bahwa sebenarnya potensi industri asuransi cukup besar. Sayangnya, pemerintah belum memperhatikan dengan sepenuhnya. Ia juga sempata menyinggung mengenai hukum yang menurutnya masih carut marut. “Utamanya dalam hal permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) ataupun kepailitan,” ujarnya. Meski demikian, Rahayu juga memberikan beberapa solusi untuk masalah terkait. Pertama yakni membentuk lembaga jaminan polis sebagaimana tercantum dalam UU Asuransi. Kemudian membubarkan Unit Link untuk kebaikan bersama. Adapula yang ketiga yaitu OJK harus segenap tenaga menjalankan tugas dan wewenang sebagai lembaga pengawas. Terakhir, pakar hukum asuransi, kepailitan dan dagang tersebut berharap masalah-masalah tersebut bisa diselesaikan tidak hanya dengan UU Asuransi saja. Lebih dari itu juga harus melihat dari berbagai sisi dan aspek. Selain itu, perlu adanya perlindungan hukum yang maksimal dari pemerintah bagi masyarakat. “Pun dengan penguatan hukum sehingga hal-hal yang merugikan tidak terjadi kembali. Begitupun dengan putusan yang sudah inkrah harus segera dilaksanakan dengan baik,” pungkasnya mengakhiri. (wil)

Menimba Ilmu di Taiwan, Dosen UMM ini Teliti Manfaat Yoga bagi Menopause

Olahraga yoga ternyata dapat memberikan efek positif pada gejala menopause bagi wanita. Itulah yang diteliti oleh Ns. Henny Dwi Susanti, M.Kep., Sp.Kep.Mat., salah satu Dosen Fakultas Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berkat penelitian tersebut, ia berhasil meraih gelar doktor di Taipei Medical University, Taiwan. Menariknya, ia juga menjadi wakil para wisudawan untuk menyampaikan pidato saat prosesi wisuda bulan lalu. Disertasi dengan judul “Mediating Effects of Psychological Symptoms and Effects of Yoga on Menopausal Symptoms and Sleep Quality Across Menopause Status in Indonesian Women” ini membahas bagaimana pengaruh yoga pada gejala menopause. Lebih dari itu juga efeknya bagi kualitas tidur pada status menopause wanita Indonesia. Henny, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa olahraga yoga dapat memperlancar peredaran darah dan menjaga keseimbangan hormon. Sehingga dapat meredakan stress dan juga meningkatkan kualitas tidur. Utamanya bagi wanita yang berada di masa menopause. “Setiap gerakan yoga mampu memperlancar peredaran darah dan menyeimbangkan hormone. Hal ini dapat memberikan efek yang baik yakni meredakan depresi serta mengurangi gangguan tidur yang sering terjadi,” ujarnya. Ia kembali menjelaskan bahwa yoga menjadi olahraga yang banyak direkomendasikan di masa pandemi Covid-19. Khususnya dalam usaha menyehatkan dan menjaga tubuh. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa gejala menopause dapat menurunan kondisi badan. Tidak hanya dari aspek jasmani saja tapi juga rohani. Oleh karenanya, yoga bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi gejala menopause yang biasa dirasakan wanita di usia senja. Dosen kelahiran Pasuruan ini juga sempat bercerita bagaimana kiprahnya dalam melanjutkan studi doktoral. Berawal dari tuntutan kampus, membuatnya mencari cara agar bisa terus menimba ilmu. Akhirnya ia pun diterima di Taipei Medical University, Taiwan. “Alhamdulillah saya bisa diterima di Taipei Medical University dengan beasiswa selama empat tahun,” ungkapnya. Ia juga sempat mengalami culture shock saat awal-awal datang di Taiwan. Ia merasa bahwa kultur budaya Indonesia dan Taiwan sangat berbeda, terutama dalam hal makanan. Meski begitu hal tersebut tidak membautnya ragu untuk melanjutkan studinya di sana. Pengalaman bekerja sama dengan orang asing saat di UMM membantunya beradaptasi. Pun dengan program pengabdian dan penelitian yang membantunya dalam pembelajaran di Universitas. Terakhir, dosen Prodi Ilmu Keperawatan ini berharap dapat membagikan ilmu yang ia dapat selama di Taiwan. Ia juga ingin agar nantinya bisa mendapat kesempatan untuk memberikan yoga exercise secara online pada masa pandemi ini. “Jadi saya bisa turut membantu meringankan gejala yang biasa ibu-ibu menopause alami,” pungkasnya mengakhiri. (haq/wil)

Dosen Psikologi UMM Kaji Fenomena Perundungan

Tindak perundungan atau yang sering disebut bullying kerap terjadi di lingkungan masyarakat. Tidak hanya di tingkat sekolah saja, perundungan juga sering terjadi di lingkungan kerja. Terbaru, kasus perundungan  terjadi di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hal ini terkuak melalui twitter korban yang berinisial MSA pada beberapa waktu yang lalu. Ditanya ihwal tersebut, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Diana Savitri Hidayati, S.Psi., M.Psi., mengatakan bahwa kasus perundungan sering terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan kerja. Dalam prosesnya, ada tiga pihak yang terlibat, yaitu pelaku, korban, dan penonton. “Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan perundungan, namun yang pasti hal itu dapat terjadi karena kondisi yang memungkinkan,” ungkap dosen kelahiran Surabaya itu. Lebih lanjut, Didi sapaan akrabnya, membedah beberapa penyebab seseorang menjadi pelaku maupun korban dari tindak perundungan. Dari sisi pelaku, biasanya ia merasa dominan dan berhak untuk mengintimidasi pihak lain yang terlihat lemah atau tidak akan melawan. Pola asuh dan lingkungan yang salah juga dapat menyebabkan seseorang memiliki sifat demikian. Dalam kasus perundungan di kantor KPI, tingkat perkembangan usia para pihak yang terlibat adalah dewasa madya. Hal ini menunjukan bahwa pelaku dari kecil sudah biasa melakukan perundungan dan hal itu berlanjut hingga ke lingkungan kerja. “Kalau dari sisi korban, biasanya korban memiliki kepribadian yang lemah. Hal ini dapat berupa konsep diri yang negatif seperti selalu merasa dirinya salah atau merasa dirinya sudah biasa untuk dikalahkan. Hal ini dapat terbentuk dari pola asuh yang salah pula dari keluarga serta kritik yang tidak membangun,” ujarnya melanjutkan. Dijelaskan Didi, perundungan akan berdampak negatif pada kesehatan mental korban. Dampak terburuk yang dapat menimpa korban adalah gangguan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) hingga keinginan bunuh diri. Didi mengatakan ada dua hal yang mungkin terjadi ketika seseorang mengalami perundungan. Pertama, korban akan menyikapi perundungan tersebut dengan cara positif yaitu berani melawan baik secara fisik maupun secara hukum. Sementara yang kedua adalah korban mungkin akan menyikapi perundungan tersebut secara negatif sehingga tidak berani melawan. “Saya melihat dalam kasus KPI, MSA dapat menyikapi perundungan tersebut secara positif karena bisa berjuang dan melawan pelaku melalui berbagai cara. Butuh keberanian besar untuk mengungkapkan kejadian tersebut di sosial media. Namun MSA mengalami gangguan PTSD karena perundungan telah terjadi selama bertahun-tahun. Ditambah lagi berbagai cara yang ia lakukan untuk melawan balik berakhir gagal,” ujar Didi. Didi mengatakan ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi maupun mengatasi sebuah perundungan. Pertama, mencari dukungan sosial jika terjadi tindakan-tindakan tidak menyenangkan di sekolah maupun kantor. Kedua, selektif dalam mencari teman karena lingkungan pertemanan akan berpengaruh pada  perilaku maupun pola pikir seseorang. Ketiga, mampu membedakan ranah pekerjaan dan pertemanan sehingga dapat mengetahui lebih awal jika dirinya sedang dirundung. “Perundungan biasanya terjadi secara bertahap mulai dari yang ringan seperi disuruh membelikan makanan sampai ke tahap kekerasan dan pelecehan seksual. Korban pada awalnya juga tidak menyadari bahwa dirinya sedang dirundung. Hal ini terjadi karena sistem senioritas masih berlaku di Indonesia, sehingga korban merasa lazim ketika diperlakukan sebagai junior dan disuruh-suruh. Oleh karenanya, dukungan sosial serta membedakan ranah pekerjaan dan pertemanan menjadi poin penting untuk mengetahui lebih dini ketika perundungan ringan terjadi,” tandasnya. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Ubah Limbah Kardus Jadi Dekorasi Interior

Prihatin dengan menumpuknya limbah kardus di sekitar kediamannya, tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan terobosan baru. Mereka menyulap limbah-limbah tersebut menjadi produk dekorasi interior bernilai tinggi. Uniknya, hasil dari produk olahan limbah ini berupa kaca hias bernama Sunmirror yang dapat mempercantik ruangan. Salah satu anggota tim, Dewi Kristin Amalia Wijaya mengatakan bahwa ide ini terinspirasi dari naiknya minat masyarakat untuk mendekorasi rumah di saat pandemi. Utamanya yang berada di dekat rumahnya. Oleh karenanya, ia dan anggota tim lainnya akhirnya memutuskan untuk memilih beberapa produk limbah untuk di buat menjadi hiasan kaca ramah lingkungan. Tentunya dengan harga yang terjangkau bagi konsumen. “Dalam pembuatan sunmirror ini, kami berfokus ke tiga bahan yaitu kardus, kaca, dan tusuk kayu. Bahan bakunya kami dapatkan dari tukang loak, namun kedepannya kami ingin bekerja sama dengan bank sampah untuk mempermudah suplai bahan baku,” jelas mahasiswa Prodi Manajemen tersebut. Saat ini produksi Sunmirror telah mencapai tahap ke tiga. Adapun jumlah sunmirror yang telah diproduksi sudah sebanyak 37 produk. Dewi mengatakan bahwa target produksi untuk Sunmirror adalah 100 buah. Setelah target itu terpenuhi, sunmirror yang sudah siap akan dipasarkan ke masyarakat luas. “Untuk sekarang proses pengolahan limbah masih saya lakukan secara mandiri bersama anggota tim yang lain. Namun untuk kedepannya kami akan melakukan kerjasama dan memberdayakan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk mengolah dan mengelola proses produksinya agar bisa lebih efisien,” ungkap mahasiswa asal Blitar itu. Menariknya, produk ini telah diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dan lolos pada tahap pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen-Dikti). Dewi tidak sendiri dalam pengembangan produk terkait. Ia ditemani oleh dua anggota lainnya yaitu Wafiq Anggi Mausa Aini dan Hana Hanifah. Ketiganya bahu-membahu hingga akhirnya bisa membangun usaha ini dan mendapatkan pendanaan PKM-K. Terakhir, ia berharap Langkah-langkah selanjutnya bisa berjalan dengan lancar. Termasuk proses promosi serta distribusi ke masyarakat. “Kami juga ingin agar nantinya kami bisa menjalin kerjasama dengan para warga sekitar dalam menjalankan usaha ini. Semoga dengana danya inovasi ini dapat mengurangi limbah serta dapat membantu perkenomian di sekitar saya,” tandasnya mengakhiri. (syi/wil)

Perkuat Kelas Profesional Unggas, FPP UMM Jalin Kerjasama Pelaku Industri

Sebagai bentuk komitmen menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperbanyak kerjasama dengan dunia industri. Langkah itu diambil dalam rangka memperkuat kelas profesional unggas yang telah diselenggarakan. Setelah menjalin kerjasama dengan PT. Charoen Pokphand pada Februari lalu, FPP kembali menggaet industri melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) pada Sabtu (4/9) lalu di Hotel Grand Surya Kediri. Adapun beberapa perusahaan terkait yaitu PT. Sanbe Farma, PT. Mensana, dan PT. Sapta Karya Megah. Ketiganya bersedia untuk mendukung pelaksanaan Kelas Profesional Unggas baik sebagai tenaga pengajar maupun penyedia tempat magang bagi mahasiswa. Pada kesempatan tersebut, Dr. Fauzan M.Pd. selaku Rektor UMM juga turut hadir mendampingi proses penandatangan tersebut. Disampaikan Fauzan, kerja sama tersebut sangatlah penting dalam rangkan mengimplementasikan slogan UMM Pasti. Yakni mendorong mahasiswa untuk lulus pasti empat tahun dan pasti mendapatkan kerja dalam waktu yang relatif singkat. “Di samping sebagai komitmen melaksanakan MBKM, agenda ini juga dilakukan sebagai langkah strategis bagi para mahasiswa,” tegas Fauzan melanjutkan. Sementara itu, Dr. Ir. David Hermawan, MP. IPM. selaku Dekan Fakultas Pertanian Pertanian menjelaskan bahwa ketiga perusahaan tersebut juga dilibatkan dalam lokakarya praktikum mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksi materi yang disesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan oleh industri. “Harapannya output yang didapat dari praktikum nantinya bisa menjadi bekal mahasiswa sebelum mengambil kelas profesional unggas,” tuturnya. Ketiga industri juga mengapresiasi jalinan kerja sama tersebut. Mereka berharap langkah ini bisa menghasilkan lulusan kelas profesional unggas yang siap bekerja. Menurutnya, lebih baik memperbanyak program magang kerja daripada menambah pelatihan keterampilan yang belum tentu bisa terserap oleh dunia kerja. Dengan merekrut lulusan keals profesional ini akan memangkas waktu dan biaya yang biasanya dialokasikan untuk karyawan baru. Terakhir, Prof. Dr. Ir. Wahyu Widodo, MS. yang didapuk sebagai penanggung mengatakan implementasi lebih lanjut pasca kegiatan ini adalah mewujudkan kerjasama riset antara dosen dan industri. Utamanya untuk memecahkan permasalahan yang seringkali dihadapi. Selain itu, adapula pengembangan sistem informasi yang lebih baik lagi bagi ketiga industri terkait. “Tidak hanya tiga perusahaan ini saja, kami juga telah memiliki sembilan mitra lain yang siap bekerja sama untuk berkolaborasi,” pungkasnya menutup. (*/wil)

Mahasiswa UMM Bantu Pengidap Diabetes Lewat Beras Analog Umbi-Kulit Manggis

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus diabetes tertinggi. Dari tahun ke tahun, pravelensi diabetes terus mengalami peningkatan. Melihat fenomena tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Kretifitas Mahasiswa-Riset (PKM – RE) ciptakan beras analog sebagai pangan pengganti bagi penderita diabetes. Adapun proyek PKM ini digarap oleh Rizqi Zidhani Widya Iswara, Dwi Wahyu Lestari, Silvia Feby Rusantiyadi dan Anggita Yumadinda yang tergabung dalam satu kelompok. PKM dengan judul “Beras Analog Dari Umbi Talas Dengan Penambahan Kulit Manggis Sebagai Makanan Pengganti Bagi Penderita Diabetes” ini telah lolos pendanaan dari Direktorat Jendral Perguraan Tinggi (Dikti) pada bulan Mei lalu. Rizqi Zidhani selaku ketua tim menjelaskan bahwa masyarakt Indonesia tidak bisa lepas dari nasi sebagi makanan pokok. Oleh karenanya, beras analog yang mirip dengan nasi bisa menjadi pengganti makanan yang cocok bagi pengidap diabetes. “Beras analog yang mirip dengan beras pada umumnya bisa menjadi makanan pokok pengganti bagi mereka yang menderita diabetes,” imbuhnya. Adapun bahan-bahan pokok dari beras analog ini terdiri dari umbi talas dan kulit manggis. Rizqi, sapaan akrabnya memaparkan bahwa kandungan pada talas yang kaya akan serat cocok untuk pengidap diabetes. Pun dengan  nutrisi pada kulit manggis yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh bagi mereka yang mengonsumsi. DI samping itu juga dapat mencegah radiasi jahat dari luar tubuh. “Kandungan serat pada talas dan antioksidan pada kulit manggis sangat baik bagi penderita diabetes. Sekaligus bisa mempercepat penyembuhan yang biasanya menjadi masalah,” ujarnya melanjutkan. Adapun mereka telah melakukan riset terkait proyek PKM ini sejak bulan Mei hingga Agustus lalu. Pada awal riset, mereka telah mempersiapkan riset danbahan-bahan pokok. Dilanjutkan dengan proses pembuatan beras analog pada bulan Juni hingga Agustus. Rizqi menuturkan bahwa hasil riset ini nantinya akan dituangkan dalam jurnal penelitian. Mahasiswa Prodi Teknologi Pangan ini mengatakan bahwa hasil penelitian ini akan didaftarkan pada Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pun melakukan uji kelayakan pada beras sehingga aman untuk dikonsumsi dan dipasarkan. “Saya dan tim berharap beras analog hasil dari penelitian ini bisa menjadi pengganti bisa dikonsumsi secara luas bagi pengidap diabetes, sekaligus membantu proses penyembuhan,” ungkapnya di akhir. (haq/wil)