Mahasiswa UMM Ciptakan Sarung Tangan Pencegah Saraf Terhimpit

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan penyakit yang terjadi akibat terhimpitnya saraf yang ada di pergelangan tangan. Sindrom ini umumnya ditemui pada orang-orang yang sering menggunakan tangan secara berulang dalam bekerja. Dalam rangka mencegah CTS di kalangan pekerja, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan alat medical wristband untuk menanggulanginya. Salah satu anggota tim, Arif Kusuma Firdaus, mengatakan bahwa penyakit ini umumnya menyerang pegawai kantoran, pemetik daun teh, pelinting rokok, dan juga gamer professional. Hal ini disebabkan penggunaan tangan yang berulang dan dalam jangka waktu yang lama. Utamanya saat bekerja yang memakan waktu panjang. “Bagi para pekerja, penyakit ini cukup mengganggu produktivitas. Jika telah terkena sindrom ini, pergelangan tangan akan terasa sakit jika dipakai bergerak agak berat atau secara terus-menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari serta aktivitas di tempat kerja,” ungkap mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) itu. Arif menjelaskan bahwa medical wristband yang dirancang timnya ini berbentuk sarung tangan. Pada bagian tengah alat ditanamkan sensor untuk mendeteksi gerakan di pergelangan tangan. Khususnya gerakan ke arah ibu jari atau istilah medisnya radial deviasi. Informasi yang diperoleh dari sensor akan dikirim ke microcontroller Arduino untuk diproses. “Dari situ bisa ditentukan apakah jumlah gerakan tangan yang dilakukan akan beresiko menjadi CTS atau tidak. Jika beresiko, alat ini akan bergetar sebagai peringatan kepada si pemakai,” ujar mahasiswa kelahiran Malang tersebut. Perbedaan disiplin ilmu antara tim dan topik yang dibahas menjadi kendala terbesar ketika proses pembuatan alat. Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengatakan jika seluruh kelompoknya berasal dari bidang kedokteran sementara proses pembuatan alatnya lebih condong ke bidang elektronika. Oleh karena itu, tim ini bekerja sama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM untuk proses pembuatan alat. “Dalam proses pembuatan alat, kami mendiskusikan semua bahan dan komponen serta perancangan dengan LSO Robotika. Untuk bahan dalam pembuatan sensor, tim kami menggunakan fibroin dan laponite. Kedua bahan tersebut memiliki kelebihan yaitu ramah lingkungan. Sehingga lebih mudah untuk di daur ulang atau diuraikan kembali,” jelas Arif. Medical wristband ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta  (PKM-KC) dan berhasil memperoleh pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Dalam PKM ini, Arif tidak sendiri. Ia ditemani oleh tiga mahasiswa FK lainnya yaitu, Aurizan Adli, Agam Siswanto Hardoyo, dan Waldiyansyah Rizkyfi Makky. “Kami berencana melakukan pengembangan dan perbaikan lagi pada desain dan cara kerja alat ini. Kami berharap kedepannya alat ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sehingga dapat disebarkan dan bermanfaat bagi orang banyak,” pungkasnya. (syi/wil)

Webinar Internasional FAI UMM Kaji Tantangan Islamic Studies Pasca Pandemi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melaksanakan berbagai kegiatan internasional meski masih berada di situasi pandemi. Salah satu di antaranya yakni webinar internasional yang digelar oleh Fakultas Agama Islam (FAI) pada Selasa (31/8) lalu. Adapun gelaran yang membahas terkait Islamic Studies in the Post-Pandemic Covid-19 Era: Challenges and Critical Issues ini terbagi dalam dua sesi dan dilaksanakan secara daring. Webinar internasional itu turut mengundang para pakar dari berbagai negara. Beberapa di antaranya Assoc. Prof. Dr. Muhammad Ali dari The University of California Riverside-USA dan . Adapula Prof. Dr. Moncef Ben Abdel Jelel dari The University De Saosa, Tunisia dan Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dari Monash University- Australia. Pun hadir sebagai keynote speaker, Datin Prof. Dr. Rayhanah Bt Abdullah dari University of Malaya. Di samping itu turut hadir para pakar dari UMM seperti Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., Dr. Pradana Boy ZTF, Dr. Rahmat Hakim. M.MA . dan Dr. Abdul Haris, MA . Membuka acara, Prof. Dr. Tobroni, M.Si selaku dekan FAI UMM menilai bahwa pandemi juga berdampak pada perkembangan kajian keislaman. Maka dari itu perlu adanya diskusi untuk menemukan formula baru dalam kajian tersebut. “Di tengah situasi pandemi, semua bidang keilmuan berlomba-lomba mengambil peran untuk memberikan solusi atas masalah-masalah yang ada. Termasuk bidang kajian islamic studies,” tuturnya. Menurutnya, saat ini kajian Islamic studies masih berkisar tentang apa yang terjadi saat ini di masa pandemi. Belum ada kajian yang membahas dengan baik tentang bagaimana peran bidang kajian ini di masa setelah pandemi. Padahal, menurut Tobroni, hal ini sangat dibutuhkan para akademisi untuk dijadikan referensi keilmuan. “Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya untuk menggali, memetakan dan mendefenisikan kembali keilmuan tentang Islamic Studies khusunya dalam bidang Pendidikan Islam, Hukum Islam, dan Ekonomi Islam,” tegasnya. Sementara itu, Muhammad Ali dalam paparannya menjelaskan terkait Kajian Islam yang ada di Amerika.  Menurutnya, kini Islam tidak hanya dipelajari oleh kalangan muslim saja, namun juga oleh non-muslim.  Bagi para penganut Islam, kajian islam diharapkan dapat membuat mereka menjadi muslim yang lebih baik. Sementara bagi non-muslim, mereka ingin lebih tahu, memahami dan mengapresiasi terkait Islam yang sebenarnya. “Kajian Islam ini diharapkan dapat menghasilkan muslim-muslim yang lebih memahami Islam. Di samping itu juga dapat memberikan hubungan yang baik antar muslim dan organisasi. Lebih luas juga untuk mengusahakan hubungan baik dengan para non-muslim,” imbuhnya. Berbeda dengan Indonesia atau Malaysia, Amerika tidak mengatur keharusan atau pelarangan warganya untuk belajar agama. Maka dari itu ada berbagai institusi pendidikan Islam yang bisa ditemui di sana. Beberapa di antaranya adalah Seminar Islam, American Islamic College, Muslim Liberal Arts, hingga yang tersedia di higher education seperti universitas. Ali juga menjelaskan terkait berpikir kritis dalam kajian islam. Menurutnya berpikir kritis harus mampu memahami hubungan logis antar ide-ide, menyelesaikan masalah secara sitematis serta percaya pada akal ketimbang emosi sesaat. “Pun harus ada fakta dan bukti. Di samping itu, dalam kajian Islam kita juga harus open minded terhadap penjelasan alternatif yang ada,” tutur Ali. Pada kesempatan yang sama, Moncef menerangkan mengenai pengajaran berlapis bahasa Arab di kawasan Muslim. Menurutnya, penggunaan pendidikan daring sudah menjadi keharusan di era pandemi. Akan muncul berbagai tantangan seperti kurikulum yang dituntut interaktif, aksesnya, kemampuan para pendidik, kemampuan siswa berteknologi dan keterjangkauan. “Pendidikan juga akan lebih efisien jika menggunakan teks, debat, diskusi dan pendekatan kritis,” ungkapnya. Lebih lanjut, Moncef juga menganjurkan agar institusi seperti UMM dapat menggunakan dua metode dalam pengajaran bahasa arab. Pertama, yakni memulai kampung  bahasa arab yang diatur oleh kampus. Menurutnya, kampugn tersebut bisa menjadi aset yang baik. “Penggunaan twin teaching method yang disusun oleh para ahli bahasa arab dan Indonesia juga bisa dilakukan untuk memberikan hasil yang maksimal,” pungkasnya. Webinar internasional ini dibagi menjadi dua sesi utama. Pada sesi pertama, para pakar mengkaji mengenai “Islamic and Arabic Education in The Global Context: Learning Process, Technology and Characters”. Sementara sesi kedua lebih fokus pada “Maqashid and Sustainable Development Goals”. (wil)

Dosen UMM Ajak Warga Sragi Ubah Rambut Jagung Jadi Teh Herbal

Mengabdi dan menebar manfaat tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saja. Namun segenap sivitas akademika juga turut serta mengabdi untuk kebaikan negeri. Begitu pula yang dilakukan oleh Vritta Amroini Wahyudi, S.Si, M.Si. Bersama dua dosen lain, ia mendorong masyarakat Desa Sragi, Kabupaten Blitar untuk menciptakan teh herbal antioksidan dari rambut jagung. Adapun pelatihan pertama telah dilaksanakan pada Sabtu (28/8) lalu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Vritta, panggilan akrabnya mengungkapkan semua berawal dari permintaan untuk menjadi pemateri dalam agenda KKN yang mahasiswa lakukan. Dari situ, kemudian ia diminta untuk mengembangkan potensi yang ada di Desa Sragi. “Desa ini menghasilkan begitu banyak jagung, namun rambut jagungnya tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Maka dari itu, saya dan tim dosen ingin mencoba mengambil sampel dan mendapatkan hasil bahwa bahan ini memiliki antioksidan yang tinggi seperti teh hijau,” jelasnya. Temuan ini membuat Vritta yakin bahwa minuman seduh dari rambut jagung berpotensi untuk diajukan sebagai produk bernilai ekonomis. Di samping itu juga mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan karena memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Menurutnya, kandungan itulah yang akan membantu memperkuat sistem imun yang dibutuhkan di masa pandemi. Lebih lanjut, Vritta menuturkan bahwa pada dasarnya kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan terkait produk minuman fungsional serta menyediakan fasilitas pembuatan dan kemasan produk sampai menjadi teh celup. “Nantinya kami juga akan mengawal sampai produk ini siap dan memiliki syarat-syarat tertentu untuk mengajukan  perizinan,” tegasnya. Dosen Ilmu Teknologi pangan (ITP) ini berharap pengabdian ini bisa menjadi gerakan sinergisitas antara Kampus Putih dan masyarakat. UMM yang memilki akademisi dan mahasiswa diharapkan mampu memberikan ilmu praktis dengan alat-alat yang sederhana dalam mengembangkan potensi warga. “Dengan begitu, keilmuan yang kita miliki bisa diaplikasikan dan menjadi alat untuk menebar manfaat lebih luas,” imbuhnya. Sementara itu, Leni selaku Kepala Desa Sragi berterimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang atas terselenggaranya pelatihan ini. Dengan begitu, desa bisa menghasilkan produk dari hasil panen sendiri. “Rambut jagung yang awalnya hanya dianggap sebagai limbah, kini bisa dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekonomis dan berguna bagi kesehatan,” tuturnya. Terakhir, ia juga berharap pelatihan ini bisa menjadi langkah awal dalam membuat dan memasarkan teh herbal dari rambut jagung ke khalayak luas. Selain itu juga bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga yang ada di desa. “Program ini dapat menciptakan peluang usaha yang menarik. Saya yakin teh herbal ini bisa menjadi produk unggulan yang ada di Kabupaten Blitar,” pungkasnya. (wil)

Doktor HC UMM Priyo Iswanto: WNI Bebas Visa Berkunjung ke Antigua dan Barbuda

Warga Negara Indonesia kini dapat berkunjung tanpa visa selama tiga puluh (30) hari ke negara Antigua dan Barbuda (AB) mulai Agustus 2021. Menteri Luar Negeri AB, E. Paul Chet Green menandatangani instrumen  bebas visa bagi WNI pada Jumat (27/8) sebagai tindak lanjut dari keputusan sidang kabinet AB pada November 2019. Adapun mereka memutuskan untuk memberikan fasilitas bebas visa kepada semua Warga Negara Indonesia yang berkunjung ke negara tersebut. Keputusan pemberian bebas visa itu dilandasi pertimbangan atas asas resiprositas dan semakin membaiknya hubungan bilateral antara Indonesia dan AB. Adapun Pemerintah Indonesia telah memberikan kebijakan bebas visa kepada warga negara AB untuk mengunjungi Indonesia, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 21 tahun 2016. Sebelum menandatangani instrumen pemberlakuan bebas visa bagi WNI tersebut, Menlu Chet Green menyampaikan bahwa pemberlakuan bebas visa ini merupakan apresiasi kepada Indonesia dan Dubes Priyo Iswanto atas upaya meningkatkan kerjasama antara Indonesia dan Antigua dan Barbuda sejak tahun 2017. Sementara itu, Dubes Priyo Iswanto yang merangkap akreditasi untuk negara Antigua dan Barbuda menyatakan bahwa keputusan Pemerintah AB merupakan pemahaman yang sangat baik. “Insentif seperti ini tentu dapat lebih meningkatkan hubungan dan kerjasama antara kedua negara,” jelas Dubes yang mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. Pemerintah AB berminat untuk meningkatkan kerjasama yang lebih konkret dengan Indonesia di sektor perdagangan, pariwisata, pertanian dan kelautan, serta pendidikan. Dalam upaya mempererat kerja sama, Pemerintah Indonesia telah memberikan peningkatan kapasitas. Utamanya di bidang penanggulangan bencana serta menawarkan beasiswa bagi pelajar AB untuk belajar singkat di Indonesia. Selain itu, baru-baru ini Pemerintah Indonesia juga telah memberikan bantuan dana hibah kemanusiaan untuk mendukung proyek “Community Connect” senilai Rp1.274.696.800. Proyek tersebut merupakan bagian dari program “Build Back Better” yang dicanangkan Pemerintah Antigua dan Barbuda untuk daerah yang tertimpa bencana Badai Irma tahun 2017. Guna meningkatkan kerja sama dengan Indonesia, Pemerintah AB juga sudah menyetujui pengangkatan Mr. Paul E. Ryan sebagai Konsul Kehormatan Republik Indonesia di Saint John´s, Antigua. Penunjukan tersebut sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 November 2019. Adapun Paul E. Ryan telah memulai menjalankan tugasnya sebagai konsul kehormatan setelah menerima Surat Tauliyah (Exequatur) dari Gubernur Jenderal Antigua dan Barbuda yang bertindak atas nama Ratu Elizabeth II. Dengan pemberlakuan bebas visa bagi WNI oleh negara Antigua dan Barbuda, maka seluruh negara akreditasi di wilayah kerja Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bogota (Kolombia, Antigua dan Barbuda, Barbados, dan St. Kitts dan Nevis) telah memberlakukan bebas visa bagi WNI. Adapun Antigua dan Barbuda adalah sebuah negara kepulauan berpenduduk sekitar 95 ribu orang yang terletak di Laut Karibia bagian timur. Kepulauan ini adalah bagian dari Kepulauan Antilles Kecil, dan berbatasan dengan Guadeloupe di sebelah selatan, Montserrat di barat daya, Saint Kitts & Nevis di barat, dan Saint Barthelemy di barat laut. Indonesia dan Antigua & Barbuda mulai membuka hubungan diplomatik pada 23 September 2011. Indonesia memandang Antigua dan Barbuda sebagai mitra penting di kawasan Karibia. (*/wil)

E-Rice Detector: Aplikasi Pendeteksi Penyakit Padi Ciptaan Mahasiswa UMM

Penyakit pada padi menjadi momok tersendiri bagi petani. Faktor inilah yang seringkali membuat gagalnya panen dan berdampak nyata pada kerugian mereka. Melihat permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif memberikan solusi. Yakni melalui E-Rice Detector, aplikasi pemindai penyakit pada padi. Ulfah Nur Oktaviana selaku ketua tim menjelaskan bahwa aplikasi ini dapat mendeteksi dan mengklasifikasi penyakit pada padi. Didukung dengan Deep Learning sistem berbasis Artificial Intelegence (AI), aplikasi ini akan memudahkan petani dalam mendeteksi penyakit yang menjakiti padi. “E-Rice Detector dilengkapi dengan Sistem AI dengan metode Deep Learning. Dengan begitu, petani bisa mendeteksi adanya penyakit sehingga akan membantumencegah terjadinya gagal panen,” imbuhnya. Ulfah, sapaan akrabnya memaparkan bahwa E-Rice Detector memiliki empat fitur unggulan. Pertama, Pindai Penyakit Padi yakni fitur utama yang disediakan. Nantinya, pengguna hanya perlu mengambil gambar daun padi dan memilih tombol centang. Kemudian akan muncul hasil, klasifikasi, serta deteksi penyakitnya. Adapun pemindaian ini memilik akurasi mencapai 97%. Fitur berikutnya yakni Pesan Otomatis, semacam Chat Bot yang memberikan informasi terkait penyakit padi, penjual pupuk dan harga padi per-kecamatan. Selanjutnya ada fitur Daftar Penyakit yang menyediakan daftar dan informasi penyakit padi yang ada di setiap kecamatan. Selain itu terdapat pula fitur Berita yang menyajikan berita dan informasi terkini dari para pakar pertanian. “E-rice ini tidak hanya digunakan sebagai deteksi penyakit. Lebih dari itu, kami juga akan menyediakan bantuan informasi dan berita mengenai pertanian,” ujarnya melanjutkan. Mahasiswa Informatika UMM ini mengatakan dalam upaya mematangkan E-Rice Detector, timnya telah melakukan User Acceptance Test (UAT), yakni tahap uji coba aplikasi. Adapun aplikasi E-Rice Detector telah diuji coba di empat Kabupaten. Mulai dari Gresik ,Tulungagung, Lamongan, hingga Nganjuk. Menurut Ulfah, respon masyarakat sendiri senang dan merasa terbantu dengan E-Rice Detector. “Selain itu, kami juga telah melakukan uji coba blackbox untuk memastikan seluruh fitur bekerja sesuai dengan yang diinginkan,” tegasnya. Dalam pengembangannya, Ulfah tidak sendiri. Ia ditemani oleh Tiara Intana Sari, Naufaldi Izad Firmana, dan Ricky Hendrawan dari jurusan Informatika. Adapula Alfian Dwi Khoirul Annas, mahasiswa  Agroteknologi UMM. Adapun proyek E-Rice Detector ini telah diajukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil mendapatkan pendanaan. Proses perancangannnya memakan waktu tiga bulan dan kini sudah siap didaftarkan di Play Store pekan depan. Keberhasilan tim menciptakan aplikasi sendiri tidak lepas dari bimbingan Galih Wasis Wicaksono, S.kom,. M.Cs., selaku dosen yang membimbing. Terakhir, Ulfah dan kawan-kawan berharap aplikasi ini mampu menyelesaikan masalah kerugian pertanian karena penyakit. Selain itu dapat menjadi langkah baru revolusi industri di dunia pertanian. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya bisa digunakan untuk membantu pertanian dan mempermudah informasi dari pemerintah kepada petani. (haq/wil)

Harvest Day Farm: Bisnis Pertanian Ala Aktivis UMM

Menjadi aktivis tidak melulu berkutat pada urusan organisasi, tetapi juga bisa dibarengi dengan berbisnis. Hal itulah yang dilakukan oleh Harisuddin, mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain menjadi aktivis di Kampus Putih, ia juga telah membangun bisnis pertanian bernama Harvest Day Farm. Bersama UMMTalks pada Sabtu (21/08) lalu, ia menceritakan bagaimana membangun usaha di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan aktivis organisasi. Haris, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia mendirikan Harvest Day Farm sejak tahun 2020. Tepatnya saat awal pandemi Covid-19. Ia mengaku kegiatan kampus yang tidak begitu padat membuatnya berinisiatif menyusun dan membangun bisnis tersebut. Haris tidak sendiri, ia ditemani satu kawannya dalam merintis Harvest Day Farm hingga saat ini. Uniknya, pemberian  nama Harvest Day Farm tersebut berangkat dari ketertarikannya akan gim berjudul Harvest Moon yang ia mainkan saat kanak-kanak. Hal itu membuatnya termotivasi untuk terus menanam serta memanen seperti yang dilakukannya di dalam permainan. “Meski melakukan proses panen setiap hari belum bisa terealisasi, paling tidak saya ingin memanen pahala setiap hari melalui platform Harvest Day Farm ini,” imbuhnya. Mahasiswa kelahiran Lamongan ini menjelaskan Harvest Day Farm sendiri adalah platform yang berfokus pada edukasi dan penyediaan produk pertanian. Sehingga akan memuat informasi dan literatur terkait yang membahas pertanian pula. Lebih lanjut, Harvest Day Farm juga telah mengadakan kegiatan webinar dan pelatihan, seperti pertanian organik dan hidroponik. Pelatihan gratis bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat akan dunia pertanian. Sementara yang berbayar ditujukan kepada orang-orang yang ingin mengembangkan pertaniannya. Selain jasa, Harvest Day Farm juga menyediakan produk pertanian, yakni penyediaan bibit. Salah satu bibit tersebut ialah bibit stroberi. Adapun Haris telah menjalin kerja sama dengan para mitra petani yang berada di Batu. Ketertarikannya untuk menyediakan bibit juga berangkat dari permasalahan tengkulak yang seringkali memainkan harga. “Selain stroberi, kami juga menyediakan bibit pakcoy, selada dan bibit-bibit lain,” terangnya. Mahasiswa yang menjabat sebagai Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM ini memiliki tujuan untuk meningkatkan minat pertanian kepada milenial. Dengan begitu, angka petani muda dapat tumbuh pesat di Bumi Nusantara. “Melihat angka petani milenial yang berada di angka 8% membuat saya bersemangat untuk mengajak anak-anak muda untuk mengembangkan pertanian di Indonesia,” tutupnya. (haq/wil)

Magang Kelas Udang UMM Lahirkan Profesional dan Wirausahawan

Beragam kelas profesioanl telah disediakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bagi para mahasiswa. Tidak terkecuali kelas profesional udang yang ada di Program Studi (Prodi) Akuakultur, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). Kelas tersebut melepas para pesertanya untuk terjun langsung di dunia industri pada Rabu (25/8) lalu di Pantai Blado, Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Adapun Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd juga turut hadir mendampingi dengan memberikan dorongan moril kepada para peserta. Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. selaku ketua Prodi Akuakultur menjelaskan bahwa kelas profesional ini pada dasarnya terdiri dari dua tahapan. Tahapan pertama yakni penyampaian materi yang diberikan di kelas secara tatap maya. Setelah dua bulan mengikutinya, para peserta baru bisa dilepas dan ditempatkan di lokasi magang yang telah disediakan. “Pada tahapan kedua ini, mereka akan ditempa dan diberi pemahaman di tempat magang yakni di lokasi para mitra yang dimiliki oleh UMM. Hingga nanti di akhir akkan mendapatkan sertifikat kompetensi,” terangnya. Ganjar, panggilan akrabnya juga mengatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti kelas profesional ini akan ditempatkan di 16 mitra yang tersebar di berbabagai daerah. Mereka diharapkan dapat mengikuti satu siklus budidaya produksi udang. Dengan begitu, akan banyak ilmu yang diserap, tidak hanya secara teori namun juga praktik langsung di lapangan. Dijelaskan lebih lanjut, nantinya akan ada monitoring untuk melihat perkembangan kelas udang tersebut. Selain itu juga melakukan evaluasi menyeluruh agar ada peningkatan mutu dalam pelaksanaannya. “Proses evaluasi tidak hanya dilakukan oleh pihak UMM, tapi juga diselenggarakan bersama-sama dengan para mitra yang telah dimiliki,” imbuhnya. Terpisah, Dr. Ir. David Hermawan, MP. IPM. Selaku Dekan FPP UMM menilai kegiatan ini dapat menjadi pemacu mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Hal itu mengingat seluruh aktivitas tersebut dapat dikonversikan dengan mata kuliah yang relevan. Di antaranya aquapreneurship, penyuluhan dan komunikasi perikanan, KKN, serta PKL. Bahkan akan dipertimbangan untuk dijadikan skripsi. ”Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresisasi dan penerapan Merdeka Belajar Kampus Merdeka di UMM,” tuturnya. Terakhir, Fauzan mengapresiasi aktivitas kelas profesional udang ini. Ia berharap akan ada peningkatan dalam aspek dan kompetensi budidaya udang. Dengan begitu, para mahasiswa bisa menapaki karir di bidang udang atau bahkan mampu menjadi wirausaha di bidang tersebut. “Ini saatnya peserta Kelas Profesional Udang untuk senantiasa mengasah segala kecakapan, keterampilan, dan juga sikap kerja di dunia nyata”, tutupnya menjelaskan. (wil)

Sintia Rahmah, Mahasiswa UMM yang Miliki 17 Medali Taekwondo

Berawal dari keisengannya, kini Sintia Rahmah, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses raih belasan medali kejuaraan olahraga taekwondo. Sintia, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa ia telah mendalami taekwondo sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Pada saat itu, seni bela diri asal Korea ini sangat terkenal dan menjadi ektrakulikuler di sekolahnya. “Saya dasarnya memang anak yang aktif dan suka sengan bidang olahraga. Sebelum ikut taekwondo, saya sempat ikut sepak bola. Namun ketika seni bela diri taekwondo makin terkenal, semua orang ingin mencoba cabang olahraga tersebut. Bahkan kakak dan adik saya juga mendaftar taekwondo di sekolah masing-masing,” ujar mahasiswa asal Kalimantan Tengah tersebut. Sejak saat itu, Sintia mulai menekuni taekwondo dengan serius. Ia mulai mengikuti berbagai perlombaan taekwondo baik di tingkat provinsi,  nasional, sampai ke internasional. Apalagi saat ia menjadi mahasiswa di UMM. Berbagai info perlombaan yang melimpah dari UMM membuatnya terus menerus mengikuti kejuaraan satu persatu. Ia pun seringkali memenangkannya baik secara tim maupun individu. Sebut saja Bandung International E-Poomsae Tournament dan Online Indonesia International Biho President Cup yang ia raih pada tahun ini. Mahasiswa Fakultas Hukum ini juga sempat menceritakan pengalaman cederanya ketika mengikuti pertandingan. Saat itu pertandingan pertamanya sebagai seorang mahasiswa. Ia harus mengalami patah tulang di bagian hidung. Sintia harus menerima selama beberapa minggu agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. “Saat pertandingan saya bertemu dengan lawan yang lebih tinggi. Alhasil saya terkena pukulan di bagian hidung. Saat itu tulang hidung saya bengkok dan perlu perawatan dokter selama tiga minggu. Sampai sekarang pun hidung saya masih sensitif jika terkena sesuatu. Namun pengalaman tersebut tidak membuat saya berhenti dari taekwondo. Bagi saya cedera adalah salah satu konsekuensi dari seorang atlit,” kata anak kedua dari tiga bersaudara tersebut. Sampai saat ini, Sintia telah memperoleh 17 medali dari berbagai kompetisi. Mulai dari medari perunggu perak, dan emas pada tingkat provinsi sampai tingkat Internasioanal. Terbaru Sintia berhasil memperoleh medali emas di kejuaraan Bandung Internasional E-Poomsae Tournament 2021. Terakhir, Sintia mengatakan bahwa dukungan orang tua sangat berarti baginya. Menurutnya, dukungan mereka berdua membuatnya lebih bersemangat dalam menekuni hobi dan hal yang disukai. “Saya akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berkembang dan memperoleh medali di kejuaraa-kejuaraan selanjutnya. Tentu dengan doa dan dukungan ayah dan ibu, sehingga akan memudahkan jalan yang saya tempuh,” pungkasnya. (syi/wil)

Prodi Pendidikan Biologi UMM Resmikan Sekolah Unggul Budidaya dan Pemasaran Anggrek

Berbagai program pendukung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) telah dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya adalah Program Center of Exellence (CoE) Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Kali ini Prodi Pendidikan Biologi UMM sukses meresmikan Sekolah Unggul Budidaya dan Pemasaran Anggrek pada Rabu (17/08) lalu. Adapun Sekolah Unggul tersebut bertujuan untuk membentuk skill entrepreneur mahasiswa yang berbasiskan budidaya dan pemasaran anggrek. Dr. Iin Hindun, M.Kes., selaku Kepala Prodi Pendidikan Biologi UMM dalam sambutannya menyatakan bahwa kurikulum pada program ini mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreuner. Mereka yang mengkuti program ini akan menggenapi rekognisi mencapai 20 SKS pada semester V atau VII. Program magang kerja melalui CoE MBKM ini juga bertujuan untuk mewujudkan cita-cita kampus, yaitu mendorong mahasiswa lulus tepat waktu. “Sebagaimana cita-cita Kampus, mahasiswa diharapkan memperoleh kelulusan tepat waktu. Bahkan kalau bisa lulusnya lebih cepat dan nantinya juga bisa mendapatkan pekerjaan dengan waktu yang relatif singkat,” terangnya. Pada pelaksanaannya, prodi Pendidikan biologi bekerjasama dengan berbagai institusi. Sebut saja Dede Anggrek dan Mitra Flora. Keduanya diharapkan bisa membantu dalam menyiapkan kerangka pengembangan sekolah unggulan berbasis budaya dan pemasaran anggrek ini. “Adalah sebuah keuntungan bagi prodi karena bisa menggaet dua mitra yang sangat tepat dalam pelaksanaan sekolah unggul ini,” tuturnya. Dilanjutkan Iin, ada tiga pilar yang dilakukan demi mewujudkan cita-cita sekolah unggul ini. Pertama magang kerja yang sebenarnya sudah lama berjalan. Kemudian dikembangkan lagi melalui CoE MBKM. Pilar kedua yakni desa wisata anggrek yang menjadi impelentasi dari tridharma univesitas serta sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Terakhir yakni sekolah unggulan itu sendiri. Terakhir, Dr. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM menyampaikan bahwa prodi-prodi lain yang ada di UMM perlu memberikan terobosan baru dengan membuka diri dan bekerja sama dengan banyak pihak. Hal itu akan membuka beragam peluang seperti apa yang dilakukan oleh prodi Pendidikan Biologi. “Saya berharap semua dosen nantinya bisa terlibat dalam dinamika pengembangan kapasitas pribadi maupun institusi. Khususnya untuk mendukung perwujudan peran cerdas dalam memberikan kontribusi akan berbagai permasalahan bangsa. Apalagi di aspek  pekerjaan, pendidikan dan kewirausahaan,” ungkap Fauzan menutup. (haq/wil)

Mahasiswa UMM Ini Lulus tanpa Skripsi berkat Publikasi Jurnal

Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa tersebut cocok disematkan untuk tiga mahasiswa  Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). M. Fitrah Ashary Bangun, Andhika Rahmat, dan Igo Ilham Hilabi mampu lulus kuliah tanpa skripsi berkat publikasi ilmiah yang mereka rampungkan bulan lalu. Hal itu dapat terlaksana berkat kebijakan Prodi yang memperbolehkan mahasiswa untuk mengganti skripsi dengan publikasi jurnal bereputasi. Salah satu dosen pembimbing, Dr. R. Iqbal Robbie, S.E., M.M, mengatakan bahwa memperbanyak pilihan tugas akhir sudah dilakukan Prodi Manajemen sejak beberapa tahun lalu. Dalam proses pengajuan, tugas akhir jurnal hampir sama dengan skripsi yaitu mahasiswa harus mengajukan  Surat Keputusan (SK) pembimbing, melakukan bimbingan dengan dosen dalam proses pengerjaan jurnal, dan terakhir melakukan verifikasi ketika jurnal telah diterbitkan. “Perbedaan paling mencolok dari jurnal dan skripsi ada di bagian publikasi. Jurnal mengharuskan naskah penelitian mahasiswa untuk dipublish minimal pada jurnal akreditasi nasional peringkat (Sinta) dua dan jurnal internasional bereputasi. Dibanding skripsi, jurnal lebih ringkas dalam proses penulisan,” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Lebih lanjut, Iqbal mengatakan bahwa ada tiga mahasiswa yang jurnalnya terverifikasi dan berhasil lulus tanpa skripsi  dalam satu semester ini. Mereka mampu mempublish karyanya pad jurnal Shinta 2. Uniknya ketiga mahasiswa ini telah mempersiapkan jurnal jauh-jauh hari sebelum mereka memperoleh SK pembimbing. Hal tersebut mempersingkat proses pengerjaan yang mereka lakukan. “Keberadaan TA jurnal ini sangat bagus karena penelitian mahasiswa dapat teruji dengan baik. Oleh karenanya, kami mendorong mahasiswa untuk memproduksi jurnal sebelum menginjak semester akhir,” kata dosen kelahiran Pamekasan tersebut. Disisi lain, Andhika salah satu mahasiswa yang lulus tanpa skripsi mengatakan bahwa pegerjaan jurnal ini tergolong singkat. Penulisannya sendiri hanya memakan waktu dua minggu. Sementara proses publikasi dan verifikasi jurnal memakan waktu tiga bulan. “Saya tertarik mencoba tugas akhir jurnal karena konkret dan kritis dalam proses pengerjaan maupun hasilnya. Selain itu saya sudah mempelajari kasus untuk jurnal saya sejak menjadi mahasiswa baru. Hal tersebut memudahkan saya dalam proses pengerjaan TA,” ungkap mahasiswa asal Ternate tersebut. Kedepannya, Andhika berharap kampus bisa mendorong mahasiswa untuk berani berkarya melalui TA jurnal. Di sisi lain para mahasiswa juga diharapkan bisa mengerti bahwa menulis jurnal itu sangat menarik. “Jika kedua hal tersebut dapat tercipta, maka akan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Baik dalam penyelesaian tugas akhir kuliah maupun akreditasi jurusan,” pungkasnya. (syi/wil)